Senin, 21 Agustus 2017

Ayo Batasi Penggunaan Teknologi Pada Anak

Ayo Batasi Penggunaan Teknologi Pada Anak
Seperti biasa, akhir pekan jadi waktu yang tepat buat main game bersama sahabat dekat sekaligus pembuktian diri. Bagi kaum lelaki, akhir pekan salah satunya menghabiskan waktu dengan bermain game ke rental. Saya pun mengajak beberapa teman untuk adu ketangkasan bermain game dan sekaligus menambah rivalitas. Pasti akrab dengan percakapan seperti ini:
Bro... Minggu pagi tanding FIFA yok? 
Oke, jangan ada alasan kalau kalah ya? 
*OTW rental game*
Setiba di sana ada sesuatu yang tidak mengenakkan, rental PS dipenuhi anak-anak kecil yang datang bergerombolan memenuhi setiap layar TV. Mereka sudah siap mengantre dan mengisi setiap televisi di rental hingga petang hari, jelas-jelas harus antre lama dan para bocah telah menginvasi teknologi. 

Baiklah... saya pun putar jauh ke masa lalu. Saat saya masih kecil, anak-anak mungkin sangat dengan teknologi khususnya Playstation, Warnet, dan TV. Saat pulang sekolah pasti anak-anak langsung menyalakan TV dan menonton, apalagi saat itu TV jadi primadona yang tidak tergantikan. Sedangkan PS dan Warnet pantang pulang sebelum dipanggil emak pulang.

Zaman sudah berubah, anak-anak saat ini makin canggih dan Anda bisa saja kalah gaya saat mengeluarkan ponsel dari saku celana. Saya pun tidak terkejut dengan bocah saat ini punya gawai yang lebih canggih dan bikin iri.

Harus diketahui, anak-anak saat ini berada pada generasi Alfa, generasi yang lahir di tahun 2000-an awal dan sejak kecil mereka sudah akrab dengan teknologi. Penggunaan gawai khususnya ponsel anak membuat diri sang anak jadi hiperaktif, apalagi banyak orang tua yang menggunakan ponsel untuk menenangkan anak yang membandel. Cukup berikan gawai, sang anak langsung duduk diam.

Selain itu orang tua sering kali mengalihkan pemandangan pada ponsel dan itu jelas membuat anak-anak melakukan hal serupa. Bapak buka Youtube, Ibu buka Instagram, pembantu main Facebook dan si anak malah main Bigo.. sungguh terlalu!
Ayo Batasi Penggunaan Teknologi Pada Anak
Tak perlu disangsikan, menurut hasil dari Databooks di tahun 2016 didapatkan hasil penetrasi internet Indonesia di berbagai kalangan meningkat tajam. Tercatat 132 juta dari masyarakat Indonesia dari lintas usia jadi pengguna internet aktif terutama dalam kegiatannya sehari.
Penetrasi pengguna internet tanah air
Ada jumlah kelompok umur yang paling banyak mengakses internet dan angkanya mencapai 75,5% dari pengguna total. Mereka berada di rentang umur tertentu yaitu direntang usia 10 – 24 tahun. Saya menganggap mereka berada generasi Z dan generasi Alfa generasi yang melek teknologi.

Angka tersebut hanya kalah tipis dengan yang rentang usia yang lebih matang yaitu kelompok usia 25 – 44 tahun yaitu di angka 75,8%. Rentang umur yang lebih panjang melebihi 20 tahun dari mereka umumnya tergolong generasi X dan Y karena lahir di awal 70-an sampai dengan awal 90-an.

Apalagi internet yang diakses khususnya anak-anak sangatlah tidak aman. Salah satunya yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia). Hasilnya didapatkan dari 1.250 responden yang terlibat didapatkan hasil 76,4 % merasa anak-anak tidak menggunakan internet secara aman. Hanya 22,9% yang aman menganggap hal tersebut aman.
Survei apakah internet aman bagi anak
Apalagi banyaknya konten negatif yang bertebaran dan dengan mudah diakses dengan pesatnya khususnya untuk anak-anak dan remaja tanah air. Alasan yang mendasar karena aksesnya yang sangat mudah, pemerintah tidak saja diam salah satunya yang dengan melakukan pemblokiran situs yang sifatnya tidak optimal.

Kepintaran anak saat ini jangan ditanya, mereka mungkin mengetahui celah dalam mengakses “lewat jalur belakang” bisa dengan menggunakan Proxy dan VPN. Butuh kolaborasi berbagai pihak mulai dari orang tua, sekolah, dan pemerintah. Agar anak-anak diberi batasan dalam menggunakan teknologi secara bijak dan benar.

Berbagai efek pasti dirasakan, anak-anak yang terlalu dekat dengan teknologi pasti tidak baik dalam tumbuh kembangnya. Selain itu teknologi sudah masuk ke sekolah-sekolah, anak-anak punya kemampuan belajar yang beragam tidak hanya dari dalam kelas, seperti adanya kelas belajar online atau mengunduh tugas yang dikirimkan oleh guru mereka via email.

Saat itulah peran internet sebagai materi tambahan atau lanjutan saat anak-anak tidak menangkap informasi secara lebih baik di internet. Makanya banyak anak-anak yang memanfaatkan mencari minat yang ia sukai.

Mulai dari tulisan, suara, hingga video mampu diakses oleh anak-anak saat ini. Makanya jangan heran mereka rela tidak makan hanya karena keasyikan main game dan malas bergaul dengan anak-anak sekitar karena sibuk dengan gawainya masing-masing.

Ada beberapa syarat yang membuat anak-anak bisa berinteraksi dengan teknologi. Pengalaman pribadi saya saat masih kecil yaitu orang tua saya membatasi teknologi salah satunya game saat itu. Walaupun belum sebanyak dan menarik seperti sekarang, tetap saja efek candu ada.

Salah satu pembatasannya ialah dengan penerapan saat di akhir pekan atau dengan peraturan ketat. Cara ini membuat anak-anak akan terbatasi geraknya dengan interaksi dengan teknologi dan rasa candu. Apalagi kontrol kuat yang dilakukan oleh orang tua sangat diharapkan agar anak tidak menyalahi teknologi yang berlebih.

Data yang dihimpun oleh media analisis, Tirto didapatkan bahwa kecanduan teknologi khususnya gawai pada gawai anak karena peran orang tua. Ada 61% dari orang tua yang memberikan kepada anaknya dengan alasan memudahkan asuh anak dan membuat anak lalai. Dampak berbahaya itu kemudian datang yaitu penyalahgunaan dari anak.

Persentase terbesar yang membuat anak gunakan dalam mengakses gawai yaitu dengan bermain mengambil foto dan menonton video. Angka itu menyentuh 79% dan mengalahkan angka bermain game yaitu 72 %.

Alasannya karena akses internet yang menyediakan berbagai siaran video sehingga sang anak dengan mudah bisa berselancar di dalamnya. Platform tersebut salah satunya Youtube, sering kali anak-anak lepas dari pengawasan orang tua karena Youtube yang digunakan bersinggungan dengan konten orang dewasa.

Bagi orang tua yang Youtube sebagai salah satu media digital pembelajaran anak, jelas cara ini sangat membantu terutama untuk tumbuh kembang anak anda. Jadi anda tak perlu khawatir saat anak anda menonton sejumlah video yang ada di Youtube Kids.
Tampilan dari Youtube Kids
Namun bila masih tetap anak anda mengakses Youtube konvensional, caranya ialah dengan memberi kontrol atau menghidupkan fitur Safe offline pada menu Youtube. Nantinya anak-anak hanya bisa mengakses konten Youtube pilihan dari orang tuanya dan tidak tersasar ke siaran khusus dewasa.

Selanjutnya ialah game yang mencapai 72%, nilai ini lebih kecil dikarenakan untuk bermain game dari level sederhana hingga menengah butuh proses belajar yang lama. Kebanyakan butuh waktu dan tidak semua anak-anak cukup cakap dalam bermain game berbeda dengan menonton dan memotret. Cukup kemampuan dasar saja.

Sebaiknya batasi anak anda dalam penggunaan gawai, apalagi anak-anak kini sampai membawa ponselnya ke tempat tidur. Gawai yang paling sering ada di tempat tidur yaitu TV.

Menurut penelitian terhadap yang dilakukan terhadap 80 anak usia 4 – 7 tahun di Buffalo, New York. Kehadiran TV di kamar berdampak jumlah menonton hingga 9 jam/harinya. Angka itu jelas berlebihan dan mempengaruhi mental sang anak.

Salah satu dampak yang langsung terasa ialah efek obesitas dan gangguan tidur yang terjadi. Apalagi sang anak kurang mendapat kontrol karena di kamarnya telah tersedia TV, orang tua saja bisa saja luput dalam mengontrolnya.
Ayo Batasi Penggunaan Teknologi Pada Anak
anak-anak yang sulit lepas dari gawainya
Selanjutnya ialah bermain game yang berlebihan, pasti Anda sering melihat anak-anak yang rela bolos sekolah hanya untuk nongkrong di warnet untuk bermain game online. Mungkin kini jumlah sedikit karena mereka sudah punya gawai masing-masing.

Duduk dengan wajah tertunduk bermain game di sudut sekolah, saat makan, hingga kadang lupa tidur hanya untuk menamatkan game tersebut. Salah satunya karena rasa penasaran untuk menamatkan dan hingga menjadi maniak game di usia muda.

Memang salah satu manfaat game ialah melatih kepekaan, pemecahan masalah hingga kemampuan berpikir kritis. Namun tidak berlebihan karena akan banyak dampak buruk yang didapatkan khususnya untuk anak-anak yang masih belia. Apa sajakah dampak tersebut, berikut ulasannya.

Daya tahan tubuh menurun, bermain game sering membuat lupa waktu termasuk waktu istirahat, makan hingga kadang interaksi sosial. Efeknya terasa saat turunnya daya tahan tubuh sang anak karena tidak adanya keseimbangan waktu.

Itu ditambah dengan efek radiasi dari gawai yang relatif lama, membuat mata gampang lelah dan tubuh jadi lemas. Untuk tubuh jelas dapat berdampak pada obesitas, duduk lama akrab dengan cemilan. Sehingga dapat membuat berat badan bertambah dan jempol juga jadi capek atau cantelan karena terlalu sering buat menekan tuts dari berbagai gawai.

Pengaruh mental, bermain game pasti ada beberapa hal yang tidak menyenangkan, tidak hanya selalu menang bisa saja kalah atau tidak beruntung yang membuat frustrasi. Selain itu banyak dari game yang mempengaruhi mental sang anak seperti aksi kekerasan kriminalitas dan kebebasan.

Tak jarang dicontohkan dalam kehidupan nyata dan berakibat sangat fatal. Tak cukup sampai di itu, pengaruh kata-kata kotor dan mengumpat jadi alasan terutama saat bermain dan menjadi sebuah kebiasaan.

Boros, bermain game memang punya efek boros seperti dukungan gawai yang mumpuni, bila dahulu uang jajan dihabiskan dengan pergi ke warnet andai tidak memiliki perangkat yang cukup di rumah.

Mulai dari uang jajan yang tersisih dan hal lainnya, kini anak-anak lebih banyak mengandalkan paket data yang habis setiap harinya. Sudah pasti itu sangat menguras kantong dan tidak jarang sang anak akan menghabiskan uang tabungannya hanya untuk bermain game.

Sulit Konsentrasi, di luar jam bermain game sudah banyak anak-anak yang sering berhalusinasi atau konsentrasinya gampang pecah. Apalagi dengan godaan bermain game setelah pulang sekolah. Terpenting ialah pengawasan orang tua dalam pembatasan bermain game untuk anak.

Begadang, waktu bermain game sering memangkas berbagai waktu, tak hanya waktu belajar, makan, dan bahkan waktu tidur sang anak juga terpangkas habis. Tidak jarang anak yang kurang kontrol dari orang tua akan rela begadang. Akibatnya waktu tidur berkurang dan harus bangun kesiangan.

Mengapa anak-anak CEO teknologi membatasi teknologi?
Mungkin bukan hal yang asing saat Anda mendengar bahwa CEO ternama teknologi membatasi pengguna teknologi pada anak-anaknya di kehidupan sehari-hari. Mengherankan bukan, apalagi mereka dengan mudah bisa mendapatkan produk tersebut.

Saya pun mencari tahu mencari tahu alasannya mendasarnya, salah satunya ialah efek-efek negatif yang ditimbulkan dari gawainya tersebut. Malah seperti mendiang Steve Jobs melarang keras dan pesaing utamanya Bill Gates juga melakukan hal serupa terhadap anak-anaknya.

Tujuan utamanya ialah menciptakan interaksi yang kuat antara orang tua dan anaknya. Bukan hal yang mengejutkan saat ini anak-anak dan bahkan orang tua sibuk dengan gawainya masing-masing.

Selain itu karena anak-anak akan menggunakannya secara berlebihan dan berakibat buruk dalam kehidupan sosial mereka. Walaupun begitu tak semua CEO teknologi setuju dengan pimpinan CEO ternama dunia tersebut.

Salah satunya datang dari CEO Twitter yaitu Dick Costolo, cara itu membuat anak-anak tertekan dan mencari celah untuk menggunakan gawai waktu jauh dari orang tua mereka. Apalagi teman-temannya memiliki akses yang mudah, jelas akan memunculkan kecemburuan.

Sebaiknya ada kompensasi pengguna misalnya di hai libur atau setelah di usia tertentu. Apalagi kemampuan mengejar melek teknologi tidak butuh waktu yang lama. Malahan di usia yang sudah cukup matang, anak-anak yang jarang atau tidak bersentuhan dengan teknologi akan memiliki interaksi sosial yang lebih tinggi.

Itu berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh California University, anak-anak tersebut tidak canggung dalam berinteraksi dengan sosial karena terbiasa hidup tanpa gawai saat masih kecil khususnya di masa tumbuh kembang. Walaupun awal mulanya sedikit mengalami depresi temporer akibat sedikit akses dengan gawai.

Namun depresi itu hilang saat usianya beranjak dewasa berbanding terbalik dengan anak-anak yang sejak kecil bebas dengan teknologi. Salah satunya kemampuan interaksi sosial dan komunikasi yang rendah.

Teknologi tidak selamanya buruk terhadap anak-anak
Masa kecil membuat tumbuh kembang dan pemahaman jadi lebih mudah paham. Itu didukung dengan rasa ingin tahu yang sangat besar dari anak-anak makin memudahkan mereka tahu tentang teknologi.

Mereka tak kalah kreatif, banyaknya video anak-anak yang viral dan mengundang banyak penonton karena aksi-aksi yang mereka tampilkan. Tak heran anak-anak tersebut mampu terkenal dan menghasilkan pendapatan besar di usia yang masih belia.   

Salah satunya ialah EvanTubeHD, channel khusus anak-anak yang punya puluhan juta viewer dan jutaan subscribe. Temanya mulai dari ulasan mainan dan game dan pasti sangat digemari anak-anak seusianya.
Channel Youtube Evan yang digemari anak-anak
Evan dan beberapa saudaranya masih belia dan belum menginjak usia 10 tahun. Namun pundi-pundi pemasukannya sangat besar hasil hobi dan kreativitas dari memanfaatkan teknologi. Semuanya tetap berada di bawah kontrol kedua orang tuanya dalam mengedit video ke channel Youtube.

Tak hanya itu saja, banyak geek (orang yang sangat obsesi dengan teknologi) karena terbiasa dengan teknologi sejak dini. Hal itulah yang membuat mereka berhasil mendirikan perusahaan teknologi ternama saat dewasa.

Teknologi tidak selamanya salah dan atas batasnya, jadi kita seperti harus belajar dengan membatasi anak-anak dari teknologi. Sering kali teknologi bisa jadi pisau bermata dua yang sering sekali salah digunakan bukan saja pada anak bahkan orang dewasa.

Sebagai penutup dan kesimpulan, ayo batasi anak-anak dengan teknologi. Karena hidup dengan membatasi dari teknologi terasa menyenangkan. Tidak terkungkung dengan colokan, kouta, hingga baterai melemah.

Share:

18 komentar:

  1. Iya bener gan teknologi emang baik..tapi kadang bisa dimanfaatkan oleh salah oleh generasi muda jaman skrg..jd penurut ane sih enakan jaman dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya gan. Apalagi anak-anak sekarang berhasil memanfaatkan kemampuannya di bidang teknologi jadi hobi seperti youtuber atau bahkan selebgram

      Hapus
  2. terjadi dikalangan masyarakat, anak cenderung lebih suka berkelahi apabila berkumpul dan bermain bersama, berbeda dengan apabila mereka sedang asik main game
    hal ini terbuktu bahwa anak yang terlalu banyak menggunakan teknologi kurang dapat bersosialisasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. padahal interaksi sosial sangat diperlukan bagi sang anak saat dewasa kelak, bila sudah terbiasa dengan gawainya masing-masing pasti makin sulit membangun komunikasi kelak. terima kasih komentarnya gan

      Hapus
  3. Setuju saya soal ini. Dunia anak adalah dunia bermain di dunia nyata bukan di Gadget. Orangtua juga berperan penting dalam hal ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. peran orang tua sebagai pengawas yang utama, kalo orang tua saja tak memberikan larang jelas anak akan leluasa menggunakan gawainya tanpa kenal waktu dan tempat. terima kasih komentarnya gan.

      Hapus
  4. Bener banget mas, ulasannya sangat keren ini. Perlu pertimbangan matang saat memberikan anak dalam menggunakan teknologi. baik buruknya perlu untuk diperhatikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, kasihan anak-anak harus terenggut waktu dan kehidupan sosialnya karena terlalu sering akrab dengan gawainya

      Hapus
  5. wah, bagus ni, izin share ya gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan gan dengan senang hati sekaligus bentuk berbagi

      Hapus
  6. Pelajaran penting banget nih buat kita2... Moga anak2 kita nanti bisa diatur dengan kehadiran teknologi yang semakin canggih lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peran penting orang tua yang utama mas, biar anaknya banyak gerak bukan banyak duduk dan nunduk.

      Hapus
  7. wah gak nyangka yang paling banyak sekitar umur 10 -24 gan, nice info nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya gan, karena usia itu yang maniak dengan gawai dan mereka masuk generasi Z dan generasi alfa

      Hapus
  8. Ngeri juga bang iqbal kalau lihat data - data sekaligus dampaknya pada anak - anak. Informasi yang bagus sekali. Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas kreatif, cocok buat bidang mas yang bergerak di matemtika sehingga anak-anak lebih banyak menggunakan gawainya untuk belajar bukan untuk bermain semata.

      Hapus
  9. Tantangan yang berat untuk para orang tua di zaman digital begini @_@

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo bang, persiapkan dan bentengi anak sejak Dini dari teknologi

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis