Selasa, 15 Agustus 2017

Makna Kemerdekaan bagi Anak Muda Kekinian

Makna Kemerdekaan bagi Anak Muda Kekinian
Warna merah dan putih di setiap sudut jalan dan itu pertanda Hari Kemerdekaan RI sudah dekat. Pengumuman dari setiap rumah diwajibkan memasang bendera di depan rumah dari desa masing-masing makin mempertegas itu semua. Bila ngeyel, siap-siap saja disemprot habis polisi yang rutin berkeliling.

Di zaman saat ini akses terasa begitu mudah, Anda dapat bisa tahu segala aktivitas secara langsung dengan cepat. Bisa secara streaming atau livetweet, dalam sekejap, semua berita yang diinginkan hadir dalam genggaman termasuk berita tentang kemerdekaan.

Mencolok banget dibandingkan zaman dulu, berhubung tidak lama lagi kita akan merayakan Hari Kemerdekaan RI. Saya pribadi ingin bercerita sedikit cerita menyambut kemerdekaan dahulu, saya mendengarkan cerita lawas dari kakek saya.

Saat itu informasi masih dikuasai oleh penjajah, media seperti surat kabar dan radio masih berada di bawah kendali penjajah Jepang. Para pejuang mengakali dengan membuat pemancar radio, surat kabar tandingan dan menyebarkan melalui selebaran.

Perjuangan yang begitu berat dan niat tulus pejuang terdahulu lakukan, sehingga kini kita bisa goyang-goyang kaki sambil minum kopi tanpa harus jadi anggota Romusha. Saya kadang berpikir di luar nalar, andai sosial media sudah ada kala itu, langsung deh komandan bertanya seperti ini kepada follower selaku pasukannya:

Lapor komandan!!! Menurut informasi yang beredar, para penjajah mulai mendekati markas. Oke, Segera Sebarkan!!! Jangan berhenti di kamu! 
Yang siap ikutan menyerang penjajah RT dan yang nyalinya kecil silakan di report spam. 
Biar gampang dicari saat perang, kita bikin hastage seperti: #PejuangSejati #RelaMati #PasukanBambuRuncing

Baiklah.... menyambut kemerdekaan pasti kita ingat jasa para terdahulu, mulai beragam pahlawan, ada Pahlawan Nasional, Pahlawan Kemerdekaan Pahlawan Kesiangan hingga Pahlawan Revolusi. 
Saat kini apakah masih ada para pahlawan?

Tak perlu khawatir, kini pahlawan era millenial telah berganti kerjanya. Tak perlu mencari mencari bambu runcing buat diasah jadi senjata buat menusuk penjajah. Cukup dari gawai yang mereka punya masing-masing, sudah cukup menusuk bagi yang melihatnya.
gambar via blog.thomasnet
Di era digital saat ini, strategi berperang sudah berbeda. Hampir semuanya didukung salah satunya dari kemampuan meleknya anak muda terhadap teknologi. Informasi ibarat bambu runcing. Berbagai jenis gawai harus dioptimalkan dengan semaksimal mungkin agar tak terjajah dengan perubahan zaman dan terpengaruh informasi hoax yang bisa memecah belah.

Kemampuan melek teknologi itu melahirkan anak-anak muda yang menyebarkan makna-makna positif dan kreativitasnya, salah satu di sosial media. Bagi yang menyukai dunia tulis-menulis dapat menyalurkan melalui platform seperti Blog, Facebook, Twitter, dan sebagainya.

Anak muda yang menyukai aktivitas mengabadikan setiap momen melalui foto dapat dengan menggunakan platform seperti Instagram, Google+, Flicker dan sejenisnya. Suka mengabadikan sejumlah video, dapat menggunakan platform Youtube. Terakhir yang suka mengapresiasikan dalam bentuk suara dapat menggunakan Soundcloud. Tinggal sentuhan akhir dari pemilik akun menyampaikan makna kemerdekaan yang jauh dari kesan kaku ala anak muda.

Kemerdekaan jadi refleksi dan momentum yang tepat dalam sudut pandang pahlawan masa kini yang kekinian. Syarat menjadi pahlawan saat ini mengacu akan kreativitas, inovasi, dan kerja keras dipadukan oleh bakat minat.

Pahlawan kini diisi oleh anak muda yang kreatif dan melek teknologi, apalagi semangatnya yang membara untuk mengejar mimpinya. Tak lupa pula berbalut rasa kepatriotan yang mendarah daging, pahlawan kekinian siap bersaing dengan bangsa lain dalam segala bidang.

Apalagi Putra Fajar, Bung Karno pernah berujar:

Seribu para tetua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia

Pahlawan kekinian hadir dari kalangan anak muda, yang melek dengan teknologi. Saat para orang tua hanya bisa duduk di kursi roda dengan sejuta mimpi yang gagal dicapai saat masih muda,  anak muda hanya dengan satu mimpi mampu memberikan sejuta kemampuan dan kemudahan bagi masyarakat.

Anak muda harus jadi garda terdepan membela negara dari minat dan bakat yang ia punya. Melawan gerusan kemajuan bangsa lainnya. Tolak ukur sekarang bukan siapa yang paling kuat mengangkat senjata, tetapi segenap prestasi yang ditorehkan.

Kini bukan hal yang asing saat mendengar hasil buah tangan anak muda mampu mendirikan perusahaan secara global yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja. Para pengembang perusahaan bermula dari perusahaan perintis di dunia digital yakni Startup ternama yang mengharumkan Indonesia di mata dunia.

Berawal dari minat dan melihat kebutuhan masyarakat inginkan, mereka terdorong menyalurkan ide-ide segar yang kemudian jadi trendsetter. Mereka layak dianugerahi pahlawan kekinian.

Anak muda kekinian selanjutnya yakni ilmuwan dengan segudang riset terkemuka yang ia lakukan, bahkan ia menuntut ilmu negeri nan jauh. Namun, saat mendengar atau melihat sesuatu mengenai Indonesia, dirinya tergugah dan rela kembali ke tanah air mengabdikan segala ilmu yang didapatkan. Segudang prestasi di negeri orang buat semua orang bangga, dan dia layak masuk jajaran pahlawan kekinian.

Pahlawan kekinian selanjutnya ialah atlet-atlet yang serius mengembangkan bakatnya pada olahraga yang ia jalani. Berlatih begitu keras, melewati proses trial dan error yang melelahkan, dan tak gampang puas atas segala torehan yang ia capai.

Tujuannya mulia, mengharumkan nama bangsa dan saat lagu kebangsaan diputar setelah pengalungan medali. Rasa bangga menjadi anak negeri sangat kentara, mengalahkan atlet-atlet terbaik dari negeri lain hanya ingin negeri jaya. Mereka pun layak masuk dalam kategori pahlawan kekinian.
Ada pula seorang penghasil karya dari buah pikir dan tangannya, mereka anak bangsa yang layak dianggap sebagai pahlawan masa kini yaitu penulis dan seniman. Penulis yang bersahaja akan tulisannya yang menuliskan kehidupan bangsa hingga saat karya meledak di pasaran, semua ikutan membaca termasuk bangsa asing. Saat itulah bangsa kita terkenal akan kebudayaan dan kaya akan karya dari penulis anak bangsa.

Di sisi lain ada pula para seniman yang menghasilkan karyanya yang diakui oleh dunia. Indonesia selaku negeri yang kaya akan beragam budaya pastinya banyak seniman kondang dalam menghasilkan mahakarya yang menjual. Memamerkan hasil seni ke pentas dunia dan mendapatkan sanjungan dari dunia luar, seniman anak negeri layak masuk jadi pahlawan kemerdekaan kekinian.

Pahlawan kemerdekaan terakhir ialah anak negeri yang mengabdikan ilmu dan pengetahuannya ke daerah pedalaman. Meninggalkan segala bentuk kenyamanannya yang ada di perkotaan untuk berbagi kepada saudara-saudaranya di pedalaman.

Ia ingin menularkan semangat kepada anak-anak negeri yang kurang beruntung untuk menggapai mimpinya akibat keterbatasan sarana dan prasarana. Ia pun rela bekerja tanpa pamrih dengan meluruskan niat berbagi. Ia layak masuk ke dalam pahlawan kekinian.

Terakhir.... semua anak bangsa bisa menjadikan dirinya pahlawan, siapa saja yang bisa bermanfaat untuk orang lain termasuk pahlawan, karena gelar dan pencapaian lain itu hanya masalah titel semata. 
Kini bukan saja berharap seberapa banyak manfaatkan yang didapatkan dari sekitar tapi seberapa banyak memberikan manfaat pada sekitar.

Jadi tunggu apalagi, ayo ambil bagian menjadi pahlawan kemerdekaan kekinian. Ini ceritaku tentang makna menjadi pahlawan, apa ceritamu? Silakan berbagi di kolom komentar.
Share:

2 komentar:

  1. semoga semangat kemerdekaan juga bisa dirasakan oleh anak muda masa kini

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak muda sekarang semangat kemerdekaannya tetap menggebu-gebu sesuai zamannya

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis