Sabtu, 30 September 2017

Panjat Sosial, Sebuah Jebakan Hidup

Jebakan Hidup Bernama Panjat Sosial
Hayo... siapa di sini yang setiap harinya melihat orang di dekatnya doyan pamer segala aktivitasnya?
Hati-hati, Anda bisa jadi termasuk kalangan Social Climber atau kaum panjat sosial. Sesuatu yang sedang marak akhir-akhir ini.

Sering kali Anda menemukan di media sosial dari teman-teman dekat yang sebenarnya tidak mampu mendapatkan atau yang ia beli. Mulai dari liburan ke tempat indah, nongkrong di tempat mahal, gadget atau mobil dan lainnya. 
Namun bila dilihat secara nyata, pendapatan mereka tak jauh beda dengan Anda. Mengapa sih mereka bisa seperti?
Bisa jadi para teman-temanmu sudah terjerumus dalam model kaum panjat sosial. Media sosial saat ini jadi cerminan dari hidup kita sebenarnya, mulai dari postingan dan ciutannya. 

Menurut Leon Festinger pada tahun, 1954 ia memperkenalkan teori perbandingan sosial. Dalam teori itu kita sering membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain yang lebih baik dari kita. Satu sisi mampu memotivasi kita menjadi lebih baik disebut dengan upword comparison.

Namun tak jarang malah jadi bumerang bagi diri kita sendiri andai tak terwujud seperti yang diidolakan. Akan muncul perasaan negatif dari dalam benak yang disebut dengan downword comparison. Akibatnya banyak orang yang mengambil jalan pintas seperti kaum panjat sosial.

Bagi kaum panjat sosial, status sosial hal yang paling menarik bagi kita salah satu mengukur status sosial dengan konsumsi. Kita akan lebih percaya diri dengan apa yang berhasil kita beli namun sebaliknya akan minder bila tak mampu dibeli. Kondisi ini disebut dengan conspicuous consumption yaitu kondisi untuk pamer.

Begitu banyak orang-orang yang membelanjakan uang hasil kerja kerasnya hanya untuk membelanjakan barang mewah. Cara ini dianggap sebagai bentuk kekuatan ekonominya secara terang-terangan kepada sekitar. Konsep inilah yang saat ini banyak dianut oleh kaum panjat sosial.

Paling ngenes adalah mereka yang konsumsi untuk pamer agar tak dipandang sebelah mata atau sebagai kesenangan bentuk hedonisme. Buruknya sifat ini yaitu mengabaikan membeli penting dan memprioritaskan membeli yang tak penting.

Sebenarnya apa itu kaum panjat sosial?
Kaum yang menggunakan segala cara untuk bisa naik status sosial lebih tinggi dan mendapatkan pujian dari sekitar atas statusnya tersebut. Caranya dengan menutupi ketidakmampuan dan kekurangan dalam hidupnya melalui gaya hidup hedon.

Kebiasaan yang digunakan kaum panjat sosial sering kali membuat diri dan orang terdekatnya geleng-geleng kepala. Misalnya saja kini zamannya kebutuhan akan ponsel pintar sudah jadi kebutuhan wajib. Hanya saja tujuan membelinya bukan karena kebutuhan tapi keinginan pamer yang besar supaya mampu menaikkan taraf hidup baginya.

Tak lain untuk buat pamer kepada teman-teman, uang yang dikeluarkan sangat besar bisa digunakan buat keperluan lainnya. Paling sulit diterima kadang harus nyicil berbulan-bulan dan bahkan minta duit orang tua hanya untuk keinginan pribadinya.

Coba diperhatikan usia punya pengaruh pada rentang panjat sosial, coba sih lagi duduk nongkrong sama teman. Di atas meja kamu dengan PD-nya menaruh Iphone di atas meja, beda ceritanya dengan ponsel merek Esia Hidayah. Serta PD-nya naik mobil namun pasti akan malu kalau naik motor butut. Fix... Anda punya bakat menjadi kaum panjat sosial susulan.

Kaum panjat sosial termasuk siapa saja?
Mereka tidak terikat gender, namun panjat sosial sering dilakukan wanita apalagi gaya hidup hedonis dan pamer yang sering melekat. Namun tidak menutup kemungkinan lelaki juga tak mau kalah melakukan hal serupa. Gaya hidup tak mengenal gender dan jangan sampai Anda terjerumus di dalamnya.
Para panjat sosial sering kali melampau hal yang kurang wajar hanya buat status sosial. Apalagi zaman Now makin dipermudah untuk menaikkan status sosial. Mulai dari meminjam uang, semua terlihat ringan dengan berbagai kredit. 

Semua dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kemudian dengan bekerja bertahun-tahun. Mulai dari berhutang, menjual barang-barang, harga diri dan bahkan bergabung dengan kaum sosial yang lebih tinggi.

Lebih baik mendapatkan pengakuan dari atas prestasi masyarakat atas dedikasi masyarakat dibandingkan mendapatkan pengakuan hanya bentuk pengakuan status sosial semata.

Seberapa berbahaya menjadi kaum panjat sosial?
Menurut saya cukup berbahaya apalagi pekerjaan yang banyak berkenaan dengan orang banyak. Misalnya saja pejabat negara, bisa saja dengan penyalahgunaan jabatan mulai korupsi, memperkaya diri, dan jual beli jabatan.

Bagi kaum panjat sosial, bagi mereka tidak memiliki atau terlihat miskin jadi sebuah aib. Sehingga ia akan sekuat tenaga untuk menutupi kekurangan di bidang materi. Ia bangga terlihat mampu, dan keren di mata orang lain.
Jebakan Hidup Bernama Panjat Sosial
Mereka golongan yang pas-pasan namun memaksa hidup mewah sehingga bisa besar pasak dari tiang. Jelas untuk mencukupi itu semua pasti dilakukan berbagai cara yang tidak benar misalnya berhutang, berbohong, hingga paling parah yaitu menipu untuk mencukupi hajat hidupnya.


Kadang juga merugikan diri sendiri, pola hidup yang besar berakibat jatuh ke jalan gelap. Misalnya terjun ke dunia prostitusi atau rela menggadaikan ginjalnya hanya buat sebuah gadget terbaru.

Menghabiskan duit jajan sekejap karena memenuhi kebutuhan konsumtif, berakibat harus menderita di sisa bulan. Misalnya duduk di Resto mahal, namun selama 2 Minggu harus makan mie instan hingga sariawan.

Jelas orang lain dirugikan dan bisa menimbulkan kecemburuan dan kecurigaan bagi orang lain. Sebaiknya kebiasaan pamer dan jadi golongan panjat sosial dihilangkan di dalam benak Anda.

Memamerkan barang hasil kerja keras bukan hal masalah asalkan bukan dengan jalan pintas dan mengorbankan kebutuhan di atas keinginan. Hidup sederhana setelah punya segalanya bukan masalah karena bila terlalu mengikuti keinginan maka tak akan pernah cukup.

Beda jauh dengan para panjat sosial yang suka mencari perhatian dari sekitar. Mulai dari norak, lebay hingga doyan pamer fasilitas yang ia miliki. Secara tak langsung orang yang masuk ke dalam zona kaum panjat sosial itu rada-rada tak PD. Padahal yang paling menggambar diri kita ada menjadi diri sendiri bukan mencoba menutupi segalanya dengan berbagai

Sebaiknya sih kita mengubah sikap yang bisa berbahaya dalam hidup. Memberikan hidup yang penuh warna dengan sikap, prestasi dan kemampuan yang ada bukan hasil dari pamer untuk naik status sosial.

Status sosial akan terbayar kerja keras bukan dari fasilitas yang ada. Ambil hal positif dari kerja keras bukan dari benda semata.

Zaman era digital pasti semuanya akrab dengan teknologi, salah satu penunjang itu semua ialah media sosial. Mulai dari Facebook, Instagram, dan Path memiliki ketergantungan untuk pamer yang sangat besar. Apalagi sejumlah fitur anyar yang tersemat di dalamnya hingga membuat ketergantungan bagi penggunanya buat pamer lagi dan lagi.

Penasaran dengan beberapa ciri dari kaum panjat sosial. Berikut ini sejumlah ciri-ciri dari panjat sosial terlihat jelas dari kebiasaan people zaman now. cekidot:

Postingan bermerk, Jelas media sosial punya andil besar dalam memamerkan status panjat sosial. Media sosial yang tujuan utamanya berbagai informasi, pengetahuan, keakraban dengan teman digunakan dengan cara lain oleh kaum panjat sosial.

Postingan segala yang mewah mulai dari lokasi nongkrong ternama hingga beragam barang bermerek jadi postingan wajib. Terserah apa itu punya sendiri, pinjam atau hasil mengambil gambar di internet. Yang paling penting ialah eksis, siap-siap orang yang lihat media sosialnya menjadi iri setengah mati.

Lokasi-lokasi favorit dan kekinian jadi tempat wajib selanjutnya. Sekarang cukup check in Path saat berada di lokasi mewah dan ternama, walaupun sekedar menumpang lewat sekaligus mengambil foto.

Andai merasa tak mampu juga, kini sudah ada aplikasi yang bisa menyamarkan lokasi anda berada, cukup diinstall di gadget anda masing-masing. Aplikasi itu bernama Fake GPS dan ada pula buatan dalam negeri, bernama Lokasi Palsu. Tinggal dipilih lokasi yang bisa dipalsukan hari.

Hasilnya tak perlu capek-capek harus keluar duit untuk ke tujuan destinasi. Cukup pindahkan pin kursor pada lokasi yang anda mau sesuka hati kalian. Hasilnya sambil duduk dan goyang-goyang kaki, tak terasa sudah keliling dunia.

Tak ayal pamer jadi salah satu cara identik untuk dianggap, paling takut ketinggalan zaman dan rela makan enak di tempat mewah dan kemudian makan mie instan seminggu di rumah. Walaupun kantong tipis tak masalah, asalkan keinginan dan hasratnya buat mengikuti zaman tetap jalan.

Ada rasa takut ketinggalan zaman yang banyak terlihat di sosial media, jadinya ingin terus update. Urusan perut lapar dan harus makan mie instan tak masalah, asalkan gaya hidup yang selangit terpenuhi dan tetap tertutupi.

Status Caper, Perhatian jadi salah satu alasan kaum panjat sosial bisa terus eksis. Ia memanfaatkan sosial media sebagai diary mencari perhatian.
Misalnya begini:
Waduh.. pengen jalan-jalan ke Eropa, tapi tiket first class malah habis. Yasudah, gantian jalan-jalan ke Amerika sebagai gantinya.
Lalu disusul dengan ribuan komentar dan like di sosial medianya, salah satunya ialah:
Wah.. kamu tajir banget!

Merahasiakan statusnya, Kaum panjat sosial sering kali menutupi kehidupannya di dunia nyata. Mulai dari di mana rumahnya atau bahkan bagaimana kehidupan sebenarnya. Ia tak mau dirinya terlihat tak mampu sehingga pujian pada dirinya hilang.

Semuanya rela dilakukan agar tidak terendus oleh orang lain bahwa tak mampu. Mau ditaruh ke mana muka kalau ketahuan. Makanya sebisa mungkin harus mempertahankan status tersebut, jangan sampai turun kasta.

Pose Menarik Perhatian, Kaum panjat sosial sering kali mengunggah foto yang seksi untuk perempuan dan bergaya parlente untuk lelaki. Cara ini dinilai ampuh buat menarik perhatian. Apalagi menambah like dan komentar. Tak hanya itu saja, pose bagi kaum lelaki juga memamerkan otot jadi salah pilihan yang diambil.

Blow up Prestasi, Kaum panjat sosial sering kali tak punya karya yang dipamerkan, salah satu caranya dengan pamer segala kemewahan yang ia miliki untuk menaikkan kelasnya. Prestasi yang biasa saja sering kali dibesar-besarkan hingga orang lain kagum.

Mengapa bisa tergabung dengan kaum panjat sosial?
Salah penyebabnya karena salah memilih teman dan pergaulan. Kebiasaan itu sering datang dari teman yang punya gaya hidup tinggi. Sedangkan Anda yang pas-pasan merasa minder karena terlihat lebih rendah.

Salah satunya berjuang untuk menyamai atau bahkan melebihi prestasi teman-teman agar mampu dianggap. Padahal yang paling utama itu kerja keras yang menghasilkan prestasi. Barulah kemudian orang menganggap Anda hebat bukan dari proses panjat sosial.

Cara terhindar dari gaya hidup kaum panjat sosial?
Kebiasaan yang salah karena sudah terjerumus pada kaum panjat sosial bisa dihilangkan. Apa beberapa cara yang dapat Anda coba di antaranya:

Pikirkan masa depan, Hidup bukan hanya hari ini saja namun juga esok. Sering kali kebutuhan yang tinggi mengaburkan masa depan. Capek-capek menyimpang tabungan untuk persiapan masa depan. Namun dalam sekejap ludes karena keinginan yang besar.

Nyata kemudian harus menyesal, hasil bekerja dan banting tulang habis tak bersisa sedikit pun. Makanya dari itu kontrol keuangan sangat dibutuhkan mengingat harus mendahulukan kebutuhan di atas pamer semata.

Atur pengeluaran, sering kali banyak orang yang memiliki pendapatan yang sangat besar namun kesulitan dalam mengatur keuangan. Malahan pendapatan yang besar dibarengi dengan gaya hidup yang besar pula. Akibatnya tak ada tabungan yang tersisa, ibarat besar pasak dari pada tiang.

Tidak Menuruti Keinginan, Hidup ini mudah tapi yang susah itu gengsi. Jeratan yang mendera kaum panjat sosial karena keinginan pamer tanpa henti. Ia seakan sulit keluar dari itu bayangan itu semua. Bila harus mengikuti keinginan pasti tak pernah habisnya, namun yang benar bagaimana mencakup kebutuhan di atas keinginan.

Jangan sampai karena status sosial, kita menjerumuskan diri kita sendiri ke masa depan yang buruk. Ingat tujuan hidup, keputusan yang kamu buat untuk hidupmu bukan dari penilaian fana orang lain.

Bila Anda punya pengalaman dan ceritanya mengenai kaum panjat sosial bisa di kolom komentar. Semoga memberikan pencerahan.
Share:

4 komentar:

  1. nice shering, memang jaman sekarang mendsosdijadikan sebagai ajang buat pamer dan saling menjatuhkan, bahka ada kebahagiaan ditentukan jumlah like setiap posting sesuatu di medsos.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. Walaupun kadang itu semua terlihat palsu

      Hapus
    2. kebetulan juga baru posting tentang social climber. Social climbing bukan cuma soal pamer sih sebenernya, tapi juga soal pengen keliatan kelas atas dengan cara masuk ke pergaulan kaum jetset walopun backgroundnya pas pasan.

      Hapus
    3. benar sekali mbak, hidup terlalu tinggi dan kadang ditutupi. Padahal isi kantong cekak

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis