Minggu, 27 Mei 2018

Leuser, Pengalaman Ekowisata Tanpa Batas


Pengalaman tak terlupakan itu dimulai menginjakkan kaki di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Hamparan alam dengan pemandangan hutan hujan tropis dengan aliran sungai bebas dari aktivitas manusia. Udara yang sejuk dan belum tercemar sedikit pun seakan merasakan indahnya surga dunia. Melihat pemandangan khas warga desa dengan aktivitas seperti bertani dan berkebun, semua itu mampu menyajikan potensi besar bernama Ekowisata.

Sekilas dari KEL sendiri miliki luas cakupan mencapai 2,63 juta hektar yang membentang di 7 kabupaten di dua provinsi. Dengan seluas 2,25 juta hektar terbentang luas di daerah Aceh. Menjadi penopang utama bagi 4 juta masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Keanekaragaman dari KEL pun sangatlah beragam dan bahkan tidak ditemukan di tempat lain. Ada sekitar 380 spesies burung, 205 spesies, dan 89 spesies langka. Termasuk empat satwa kunci yang ada di KEL berupa gajah, harimau, orangutan, dan badak.

Saatnya hilangkan stigma hutan sebagai tempat menakutkan namun, tempat yang begitu ramah dan menakjubkan. Begitu banyak anggapan yang mengatakan bahwa hutan digambarkan sebagai lokasi yang menakutkan. Hewan-hewan buas yang mengintai dan tempat sejumlah roh halus bersemayam. Belum lagi akses dari hutan yang sangat jauh dari perkotaan dan minim infrastruktur. Pastinya berwisata ke hutan adalah pilihan terakhir dari segala tempat wisata.

Stigma itu tidaklah benar, namun hutan jadi lokasi pilihan berlibur paling tepat. Semua itu tersedia di daerah ekowisata KEL. Anda bisa merasakan sensasi yang sangat berbeda di bandingkan dengan tempat liburan mainstream lainnya.

Potensi wisata yang bisa ditawarkan dari KEL
Potensi besar bisa datang dari KEL, salah satu cara dalam peningkatan lokasi menjadi daerah lestari. Pilihan itu jatuh pada ekowisata, yaitu kegiatan alam yang mampu bertanggung jawab penuh pada proses penjagaan alam dan lingkungan tetap lestari. Serta mampu meningkat kesejahteraan masyarakat setempat tanpa mengubah alam tersebut.

Tak hanya itu saja, ekowisata mampu menggali potensi masyarakat setempat seperti budaya dan mata pencaharian. Nantinya mampu menjadi penunjang dalam pendapatan masyarakat yang berkesinambungan.

Mengapa ekowisata punya potensi besar?
Aceh memang lebih dikenal beragam potensi wisata yang mampu menarik para wisatawan untuk datang. Salah satunya adalah  potensi KEL yang bisa dijadikan sebagai lokasi ekowisata paling menarik. Anda bisa merasakan sensasi satu tempat dengan pengalaman, mulai dari tracking, penelitian, berburu, menikmati alam hingga potensi hasil kebun masyarakat.

Leuser saat ini dianggap sangat tepat dalam proses persiapan ekowisata yang ada di Sumatera. Ada berbagai aspek yang dinilai cukup menarik yang ditawarkan dari KEL pada masyarakat. Berkat sejumlah ekowisata menarik yang datang dari KEL:

Wisata pemandangan alam, Leuser merupakan taman nasional yang memiliki berbagai objek yang yang mengagumkan. Anda bisa melihat hutan yang masih murni terbentang sangat luas. Untuk jalur pendakian membutuhkan waktu yang paling panjang dibandingkan lokasi pendakian lainnya yang ada di Indonesia. Jelas saja ini menjadi pemantik para pendaki dalam maupun luar negeri untuk menjajal kemampuannya.

Pemandangan yang menakjubkan dan lokasi masih sangat asri dikelilingi oleh hutan hujan tropis yang memanjakan mata. Pendaki akan merasakan perjalanan tidak terlupakan untuk bisa sampai ke puncak Gunung Leuser.
 
Pemandangan menakjubkan yang sulit dilupakan
Berbagai flora dan fauna langka ataupun endemik dengan mudah ditemukan. Seakan pendaki bisa melihat berbagai biota tersebut saat perjalanan menjelajah Leuser. Kemudian Leuser menawarkan wisata petualangan alam tanpa batas. Seakan jadi penjalanan dan pengalaman tak terlupakan seumur hidup.

Kunjungan ke kawasan Leuser untuk pertama sekali seakan pengalaman tidak terlupakan. Jauh dari hingar-bingar perkotaan, ke daerah hutan hujan tropis yang menenteramkan jiwa. Suara desir air sungai ibarat simfoni yang tak pernah berhenti.

Ada banyak rasa lega dan pastinya seakan membuat kita menjadi sadar akan pentingnya menjaga kelangsungan hutan untuk anak cucu kelak. Serta menumbuhkan rasa sadar tentang potensi besar hutan, jauh dari tindakan tangan-tangan jahil yang merusak ekosistem Leuser.

Wisata air, Anda yang menyukai tantangan alam seperi hiking dan arum jeuram? Leuser adalah tempatnya. Alamnya menawarkan pilihan yang tepat buat pecinta alam dalam menjelajah alam. Hutan hujan yang masih terjaga jadi tantangan dalam menaklukkannya. Belum lagi aliran deras dari Sungai Alas yang mengalir membelah hutan hujan tropis Gunung Leuser. Seakan pasokan air tidak ada habisnya.

Tercukupinya pasokan air tersebut mampu menghidupi masyarakat yang hidup di sekitar KEL. Wisata air tersebut mampu menawarkan sejumlah potensi seperti arum jeram, river tubir, hingga lokasi pemandian. Semua ada dan sangat terjangkau di KEL. Pastinya airnya masih sangat jernih dan jauh dari aktivitas manusia.

Wisata penelitian, Leuser ibarat surga untuk observasi berbagai flora dan fauna. Begitu banyak peneliti dari berbagai dunia yang datang ke Leuser untuk melakukan riset dan penelitian biota di dalamnya. Seakan-akan peneliti sedang berada di dalam laboratorium alam.

Banyaknya flora dan fauna endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Dengan mudah bisa ditemukan di Leuser. Tak hanya itu saja, wisata penelitian mampu menawarkan proses pendataan terhadap kerusakan alam yang terjadi di lokasi tersebut.

Tak terkecuali Leuser pun mengalami hal serupa, ia seakan harus kehilangan sejumlah lahan akibat deforestasi hutan oleh pihak tak bertanggung jawab. Proses pendataan setiap kerusakan alam  seperti pendataan hutan yang beralih fungsi, pencemaran air dan kerusakan lainnya jadi pertimbangan. 

Selain itu wisata penelitian juga berperan serta melakukan konservasi terhadap hutan dengan berbagai tindakan yang dilakukan. Mulai dari aksi reboisasi hutan serta lokalisasi berbagai pencemaran yang terjadi. Berikut ini infografisnya:


Agusen, Desa tersembunyi kaya potensi ekowisata
Agusen merupakan salah satu desa yang berada paling akhir dari Kabupaten Bener Meriah, berada tepat berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Desa yang dihuni lebih dari 200 kepala keluarga ini mulai berbenah.


Bila dahulunya merupakan desa yang terkenal dengan catatan hitam, banyak oknum yang memanfaatkan suburnya lahan dari TNGL untuk menanam tumbuhan haram bernama ganja (Cannabis sativa).  Kini label hitam itu coba dihapus perlahan dengan menata ke arah yang lebih baik.

Salah satunya adalah program dari ekowisata yang digalakan oleh Yayasan Java Learning Centre (Javlec). Agusen terpilih dari empat desa lainnya untuk berbenah jadi desa dengan pengelolaan hutan kolaboratif berbasis potensi ekowisata.

Masyarakat setempat dilatih dan diberdayakan dalam mempromosikan desanya sebagai lokasi ekowisata potensial di Gayo Lues. Selain itu mengubah lahan yang dahulunya sering digunakan sebagai menanam ganja ke arah tanaman produktif untuk kesejahteraan masyarakat.

Saat kunjungan saya ke Desa Agusen bersama teman-teman INFIS, masyarakat setempat mulai menanam berbagai tumbuhan produktif seperti tanaman kopi, serai wangi, cabai, tomat, dan beras merah. Tak hanya itu saja, Javlec melatih masyarakat setempat akan besarnya potensi ekowisata di Agusen.
 
Hasil alam dari masyarakat Agusen
Program yang sudah berlangsung sejak 2016 tersebut mampu melatih masyarakat menjadi pemandu wisata khususnya sebagai pemasukan tambahan selain hasil pertanian dan perkebunan. Potensi besar yang paling menguntungkan di Agusen dalam DAS Sungai Alas yang bisa dimanfaatkan sebagai wahana river tubir.

Pengunjung dapat merasakan sensasi yang memacu adrenalin berselancar dengan ban karet mengarungi anak Sungai Alas. Saat hari libur, berbagai pengunjung datang ke Agusen merasakan salah satu wahana tersebut. Tak hanya itu saja, pengunjung mampu mandi di air sungai yang masih sangat jernih dan dingin.

Berbagai ekowisata lainnya yang ditawarkan adalah rute hiking. Pengunjung dapat memilih lokasi mana yang ingin dijelajahi. Lokasi hiking bisa dengan menyusuri jalan di sepanjang anak Sungai Alas dan menaiki perbukitan terjalan untuk bisa melihat Desa Agusen dari ketinggian.

Selain potensi wisata air yang ditawarkan, Agusen mampu menghadirkan wisata berjalan-jalan ke kebun kopi. Bila dahulunya Anda hanya bisa menikmati kopi, kini Anda dengan mudah dapat berkeliling di perkebunan kopi milik warga yang tumbuh bebas di pinggir perbukitan.

Potensi terakhir yang dimiliki oleh daerah ekowisata Agusen adalah wisata. Gayo Lues sejak dulu terkenal dengan Tarian Saman yang telah mendarah daging. Terbukti bahkan Tarian Saman yang dilaksanakan tahun 2017 berhasil memecahkan rekor dengan melihat 12.262 ribu penari. Tahun ini, pemerintah setempat ingin menyelenggarakan pagelaran serupa pada Hari Saman yang jatuh 12 November, melibatkan lebih dari 15 ribu penari Saman Gayo.

Potensi budaya yang kental dari Saman Gayo seakan menjadikan tarian penyambut berbagai tamu yang datang ke Desa Agusen. Tarian saman akan terus dilestarikan hingga ke anak cucu kelak sebagai warisan budaya masyarakat Gayo.

Peluang Ekowisata, Pemantik Kesejahteraan Warga
Masyarakat yang ada di daerah pegunungan dianggap masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah. Mereka masih menilai hasil pertanian dan perkebunan belum menguntungkan. Tak banyak masyarakat yang pendek akal melakukan pendekatan dengan menanam tumbuhan terlarang ganja buat memperbaik taraf hidup.

Bukannya menghasilkan untung malah berakhir buntung. Banyak masyarakat yang harus merasakan tidur di dalam jeruji besi dengan hukuman sangat berat. Proses pemberdayaan masyarakat menjadi masyarakat produktif dan kreatif terus digalakkan.

Setelah proses pelatihan dan pembinaan yang dilakukan, kini warga Agusen mulai terampil. Mereka mulai memanfaatkan lahan mereka dengan berbagai sentra menguntungkan. Itu pun didukung dengan akses jalan yang lancar tanpa perlu khawatir memasok hasil pertanian dan perkebunannya.

Masyarakat mulai tahu bahwa sentra kopi dari Agusen dinilai sangat baik dibandingkan yang dihasilkan di Takengon. Itu mendorong masyarakat untuk bisa menghasilkan lahan kopi yang mampu memasok kopi. Kini tinggal peluang besar ekowisata perkebunan terbentang luas. Masyarakat bisa menata ekonomi lebih baik dari hasil alam di tanah bak hamparan surga.

Masyarakat Agusen tidak perlu khawatir andai hasil alam mereka terganggu, mereka punya potensi lainnya yang bisa dimanfaatkan. Kini gaung dari Agusen menyebar ke mana-mana, mampu menyihir media cetak dan elektronik untuk menuliskan cerita tentang desa tersembunyi di kaki Gunung Leuser.

Masyarakat mulai berbenah dengan potensi besar tersebut, mulai dari penyedia lokasi wisata, lokasi penginapan memadai hingga menjual berbagai hasil alamnya. Misalnya menjajakan kopi khas Agusen dan bahkan mendirikan kedai kopi di tengah hamparan kedai kopi. Sungguh syahdu ngopi di tengah hamparan kebun kopi dan Agusen menawarkannya.

Kini Desa Agusen terus berbenah, dari desa penghasil ganja dan terpencil di tengah hutan Leuser, menjadi desa yang paling kaya akan potensi ekowisata.

Yuk liburan ke Agusen

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email