Selasa, 28 Agustus 2018

Asian Games, Bukti Jati Diri Bangsa di Hadapan Dunia


Rangkaian dentuman kembang Api dan permainan cahaya flood light menghiasi Gelora Bung Karno Senayan, seakan mengakhiri pesta Asian Games di Indonesia. Sebelumnya sudah ada pemadaman api kuadron serta penampilan menawan dari penyanyi dalam dan luar negeri memeriahkan malam penutupan. Aura suka cita atlet dari 45 negara dan penonton saling menyatu satu sama lain, menyalurkan Energi of Asia sesungguhnya.

Sejumlah pihak menilai Indonesia sukses menjadi tuan rumah yang baik dengan persiapan serba mepet. Indonesia sanggup menggantikan Vietnam yang harus mundur pada April 2014 karena menilai penyelenggaraan Asian Games membutuhkan dana sangat besar.


Citra Asian Games begitu kentara, ajang multi-cabang terbesar di Asia dan hanya kalah gengsi dengan Olimpiade. Jelas sebuah kehormatan bagi Indonesia bisa menjadi tuan rumah di ajang sarat gengsi di mata Asia dan Dunia.

Sebelumnya Indonesia pernah menjadi tuan rumah Asian Games di tahun 1962, saat itu negara kita baru saja merdeka. Namun dalam waktu yang relatif singkat bangsa kita bisa mendirikan kompleks olahraga mewah dan seakan menggambarkan bahkan bangsa kita adalah bangsa besar dengan kekuatan ekonomi saat itu.

Kini di era milenial Indonesia mencoba kembali peruntungan tersebut. Jelas tantangan menjadi tuan rumah saat ini lebih kompleks. Dulu negara yang ikut serta hanya 12 negara dengan 12 cabang yang diperlombakan. Kini ada sebanyak 45 negara yang ikut serta pada 462 pertandingan dari 39 cabang olahraga. Total ada 10 ribu atlet dan 5 ribu delegasi yang terlibat pada gelaran akbar tersebut.

Semua itu dianggap peluang dan tantangan besar, Indonesia tidak mau melewatkan momentum berharga ini sekaligus mengulang kembali memori indah Asian Games tahun 1962. Pasca mundurnya Vietnam banyak negara ASEAN yang tidak seberani Indonesia, Mulai dari Myanmar yang tidak mencalonkan Asian Games karena kekurangan orang ahli. Thailand yang menganggap waktu lima tahun terlalu singkat.

Malaysia pun ragu-ragu melaksanakannya sendiri dan ingin menggandeng Singapura dalam perhelatan Asian Games. Hanya Indonesia dan Filipina yang dinilai benar-benar siap kala itu. Hingga akhirnya keputusan akhir Dewan Olimpiade Asia (OCA) memilih Indonesia karena kesiapannya serta pengalamannya melaksanakan event besar sebelumnya.

Awal mulanya Asian Games digelar di tahun 2019, Indonesia menyiasatinya dengan menggeser setahun sebelumnya yaitu 2018 untuk menghindari tahun politik. Sudah waktunya mepet, Indonesia rela menggelar Asian Games jadi lebih cepat. Ini menandakan Indonesia begitu siap melaksanakan Asian Games dan masih ada ajang Asian Para Games yang melibatkan atlet disabilitas dari 42 negara dihelat bulan berikutnya.

Mengubah keraguan jadi kekaguman
Semua keraguan atas Indonesia mulai terjawab saat Opening Ceremony 18 Agustus 2018. Aksi tersebut dinilai mampu menyihir mata dunia, mulai aksi bak film laga dari Presiden Indonesia Joko Widodo hingga sejumlah aksi lainnya.

Semua acara bak ajang pertarungan beragam ide anak kreatif bangsa di mata dunia. Khas  Indonesia banget berhasil membuat semua pihak berdecak kagum. Seakan disusun dengan sedemikian rupa dan dinobatkan sebagai Opening Ceremony untuk saat ini.

Konsep panggung utama sulap sedemikian rupa menyerupai gunung berapi. Di sekitarnya terdapat air terjun setinggi 17 mengalir dengan beban 60 ton kubik air. Beratnya mencapai 600 ton dengan panjang 135 meter, lebar 35 meter, dan tinggi 27 meter yang dikerjakan oleh 350 pekerja. Seakan menggambarkan kontur daratan Indonesia

Pertunjukan kolosal dari pembukaan dari Tari Ratoeh Jaroe yang mengagumkan menyambat tamu dari negara Asian dan kontigennya. Melibatkan 1.600 siswa dari 18 SMA se-Jakarta. Penampilan khas Energi of Asia melibatkan 467 penari dari Tarian Hip Hop, Balet, Parkour, dan Kotemporer Cube bak spirit bagi bangsa Asia.

Ada tiga unsur dalam tarian yang mencerminkan bangsa Indonesia. Di mulai dari unsur Bumi yang menampilkan 19 tarian se-Nusantara. Air, lambang kebesaran Indonesia sebagai negara maritim di bawah komando kerajaan Majapahit. Serta unsur api, dalam tari kecak yang menjadi semangat generasi muda Indonesia.

Olahraga, Spirit kebangkitan Bangsa        
Peran olahraga dianggap sebagai salah satu cara membangkitkan sebuah bangsa. Indonesia sadar dalam pelaksanaan sebuah event punya peran dalam kemajuan sebuah bangsa. Target yang diharapkan masuk 10 besar dengan meraih 16 medali emas. Namun karena semangat nasionalisme dan dukungan fans, Indonesia seakan bisa berbicara banyak. Total ada 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu dari 25 cabang.

Mematahkan rekor emas sebelumnya yang sudah abadi selama 56 tahun. Kala itu Indonesia berhasil membawa pulang 11 emas dan berada di peringkat 2 klasemen akhir setelah Jepang. Momentum tuan rumah terasa begitu kentara dan mewujudkan Indonesia maju termasuk di bidang olahraga di tingkat Asia.

Atlet kita berhasil melewati ekspektasi yang diharapkan publik berkat semangat nasionalisme. Seakan menghilangkan rasa sakit dan kerja keras tanpa mengenal lelah. Menempa diri dalam berbagai training, try out dalam dan luar negeri. Supaya lagu kebangsaan dan bendera sang saka merah putih bisa berkibar di arena.

Membukti Kemajuan Bangsa dari Fasilitas Penunjang
Ada 2 kota terlibat dalam perhelatan  Asian Games yakni Jakarta dan Palembang. Keduanya bersolek menyambut begitu banyak tamu yang hadir Persiapan pun dilakukan, mulai dari pembangunan dan peremajaan venue kejuaraan yang dipertandingkan.

Paling menarik perhatian adalah peremajaan SUGBK yang sudah berusia lebih setengah abad. Perbaikan dilakukan dengan pergantian kursi kayu era Asian Games 1962 menjadi kursi modern canggih single seat.

Peningkatan kualitas pencahayaan dengan menggunakan LED  daya Lux 3.500 Lux, setara dengan stadion bintang enam Eropa. Permainan cahaya saat acara opening dan closing menawan hadir berkat renovasi besar-besaran tersebut.

Pembangunan sarana pendukung seperti akses menuju venue juga ditekankan pada kedua kota penyelenggara. Pemerintah menggenjot pembangunan LRT di Palembang dan mempercepat proses MRT di sejumlah titik pemberhentian di Jakarta. 
Tampilan LRT di Palembang
Tujuannya utamanya ialah memudahkan mobilitas pengunjung ke venue, tak ketinggalan dimanfaatkan sebagai membangun kedua kota penyelenggara lekat dengan teknologi. Indonesia selaku tuan rumah mengaplikasi 10 teknologi baru dan pastinya membuat para kontingen dan pengunjung nyaman saat pagelaran Asian Games.

Tak ketinggalan, pemerintah mempersiapkan Wisma Atlet bertaraf internasional yang berdekatan dengan arena pertandingan. Daya memuatnya mampu menampung lebih 5.000 atlet dari 44 kontigen negara. Pastinya dengan fasilitasnya kelas satu, termasuk tersedia dinning hall yang menyediakan beragam kebutuhan gizi para atlet. Bahkan sampai detail kecil tak luput dari perhatian. 

Sejumlah venue yang telah digunakan pada Asian Games juga bisa menggelar event lainnya. Misalnya saja Velodrome lintasan sepeda, bowling, pacuan kuda, dan banyak venue lainnya yang punya standar terbaik di dunia. Seakan Indonesia membuka peluang jadi tuan rumah perlombaan menarik lainnya di masa depan.

Bukan hanya pembangunan fasilitas semata, namun semangat sportivitas dan rasa santun saat menjadi tuan rumah. Selama 16 hari pelaksanaan, para penonton mampu menyalurkan animo luar biasa pada sejumlah atlet. Penonton juga menjunjung tinggi setiap kontigen yang melawan Indonesia bahkan berbaur dalam balutan Energi of Asia.

Asian Games pemompa denyut perekonomian
Dalam gelaran Asian Games, pemerintah menganggarkan dana hingga Rp 34 triliun. Angka ini sangat besar khususnya membangun sejumlah sarana dan prasarana olahraga. Walaupun begitu pemerintah Indonesia sadar bahwa ini peluang yang sangat besar. Mulai dari investasi jangka panjang, meningkatkan jumlah pariwisata sebagai devisa negara. Pastinya menganggap negara kita sebagai negara maju.

Pemerintah memprediksi bisa mendatangkan 200.000 wisatawan mancanegara ke tanah air. Mampu mendatangkan uang belanja wisata terhadap UMKM tanah air yang mencapai Rp 3,5 triliun dengan daya serap tenaga kerja lebih dari 57 ribu. Serta ada 45 triliun selama pelaksanaan Asian Games. Pemerintah menargetkan pertumbuhan pembangunan di angka 5-10% setelah Asian Games.

Indonesia sudah membuktikan bahwa gelaran Asian Games sebagai bukti kemajuan bangsa di mata dunia. Bukan hanya prestasi yang mengilap, tetapi fasilitas dan spirit mewujudkan mewujudkan Indonesia Maju. Karena Siapa kita...? Indonesia

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email