Rabu, 12 September 2018

Kenali Teknologi Tepat Guna Buat Anak


Sore itu sebuah sudut cafe saya terpaku lama melihat anak-anak. Usia mereka masih cukup kecil, tertawa cekikan sambil tertunduk dengan gawai di tangannya masing-masing. Orang tuanya pun tak menggubris anaknya, mereka menganggap dengan ponsel si anak tidak hiperaktif dan tidak lari ke sana ke mari.


Si anak dengan polosnya larut dalam ponselnya, ia tanpa pengawasan ketat membuka apa pun yang ia tahu hingga akhirnya ia kecanduan dengan teknologi. Makanya jangan heran anak balita sudah lihai memainkan ponsel. Saya pun tidak terkejut dengan anak-anak saat ini punya gawai yang lebih canggih yang bikin iri.

Harus diingat juga peran orang sangat besar dalam mengontrol tindak-tanduk si anak dalam menggunakan gawai. Intensitas yang tinggi jelas mengganggu aktivitas dan membuat candu. Termasuk mengontrol sang anak jauh dalam mengakses konten negatif.

Orang tua kini malah bangga saat anaknya sudah begitu mandiri dalam menggunakan gawai padahal tidak baik buat tumbuh kembangnya. Gawai sifatnya candu dan membuka peluang sang buah hati buat mengakses hal-hal negatif. Gawai dan koneksi internet gerbang yang paling mudah mempengaruhi perilakunya.

Teknologi dan anak begitu akrab dengan generasi alfa. Ciri-ciri utama generasi alfa yakni lahir di tahun 2000-an awal dan sejak kecil mereka sudah akrab dengan teknologi dan bahkan lebih mahir dibandingkan generasi sebelumnya.

Sebagai data penguat, di tahun 2017 lalu didapatkan hasil penetrasi internet Indonesia di berbagai kalangan meningkat tajam. Tercatat 142 juta dari masyarakat Indonesia dari lintas usia jadi pengguna internet aktif terutama dalam kegiatannya sehari.

Pada kategori tersebut ada jumlah kelompok umur terbanyak mengakses internet berada di rentang umur tertentu yaitu direntang 10 – 24 tahun. Angkanya mencapai 75,5% dari pengguna total keseluruhan. Mereka datang generasi Z dan generasi Alfa generasi yang  pastinya akrab dengan teknologi.

Angka tersebut hanya kalah tipis dengan yang rentang usia yang lebih matang yaitu kelompok usia 25 – 44 tahun yaitu di angka 75,8%. Rentang umur yang lebih panjang melebihi 20 tahun dari mereka umumnya tergolong generasi X dan Y karena lahir di awal 70-an sampai dengan awal 90-an.

Menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia). Hasilnya didapatkan dari 1.250 responden yang terlibat didapatkan hasil 76,4 % merasa anak-anak tidak menggunakan internet secara aman. Hanya 22,9% yang aman menganggap hal tersebut aman.

Apalagi banyaknya konten negatif yang bertebaran dan dengan mudah diakses dengan pesatnya khususnya untuk anak-anak dan remaja tanah air. Alasan yang mendasar karena aksesnya yang sangat mudah, pemerintah tidak saja diam salah satunya yang dengan melakukan pemblokiran situs yang sifatnya belum terlalu optimal. Memang pemerintah sudah berusaha dengan memblokir semua media dan bahkan pencarian bermuatan negatif yang ada di internet.
Hasil gambar untuk children and technology
Namun ingatlah, anak-anak saat ini lebih pintar mencari jalan belakang atas apa yang ia cari. Apalagi rasa ingin tahu mereka besar sekali. Kepintaran anak saat ini jangan ditanya, mereka bisa tahu celah dalam mengakses situs yang ia ketahui “lewat jalur belakang”  apakah itu dengan menggunakan mengganti Proxy atau VPN.  

Butuh kolaborasi berbagai pihak mulai dari orang tua, sekolah, dan pemerintah. Agar anak-anak diberi batasan dalam menggunakan teknologi secara bijak dan benar.

Mengedukasi Anak dengan Teknologi
Pemblokiran dan pelarangan bukan solusi tepat akan tetapi mengedukasikan teknologi adalah cara terbaik buat anak. Ada berbagai efek pastinya dirasakan oleh anak-anak yang terlalu dekat dengan teknologi, termasuk masa tumbuh kembangnya.

Selain itu teknologi sudah masuk ke sekolah-sekolah. Anak-anak punya kemampuan belajar yang beragam tidak hanya dari dalam kelas, seperti adanya kelas belajar online atau mengunduh tugas yang dikirimkan oleh guru mereka via email.

Peran internet sebagai materi tambahan atau lanjutan saat anak-anak tidak menangkap informasi secara lebih baik di internet. Makanya banyak anak-anak yang memanfaatkan mencari minat yang ia sukai dari internet. Mulai dari tulisan, suara, hingga video mampu diakses oleh anak-anak saat ini.

Salah satu pembatasannya ialah dengan penerapan saat di akhir pekan atau dengan peraturan ketat termasuk di rumah dan sekolah. Cara ini membuat anak-anak akan terbatasi geraknya dengan interaksi dengan teknologi dan rasa candu. Apalagi kontrol kuat yang dilakukan oleh orang tua sangat diharapkan agar anak tidak menggunakan teknologi yang mengurangi waktunya bermain di dunia nyata.

Kapan anak-anak perlu dikenalkan teknologi?
Kebutuhan akan teknologi sudah jadi kebutuhan wajib bagi siapa saja termasuk anak-anak yang tak mau kalah dalam mengakses teknologi. Memang bukan hal yang mengherankan saat anak-anak sudah akrab sejak dini dengan gawai.
 
Harus ada usia yang tepat memperkenalkan teknologi kepada mereka. Sebagai contoh, para CEO teknologi ternama di dunia punya aturan ketat dalam penggunaan gawai pada sang buah hatinya. Mereka melarang penggunaan gawai sebelum usia yang tepat dan yaitu berusia > 13 tahun dengan alasan beragam.

Tidak disarankan orang tua memperkenalkan anak dengan teknologi terlalu dini. Apalagi sejumlah fungsi organ tubuh sedang proses perkembangan dan belum dirasa dengan pantas dengan usia mereka.

Pembelajaran terbaik dengan cara interaksi dan pengalaman dunia nyata. Seperti interaksi rutin dengan orang terdekat dan bermain dengan teman-temannya untuk mengasah kemampuannya di usia dini. Barulah para ahli sepakat saat menjelang usia sekolah anak mulai diperkenalkan dengan teknologi sebagai alat bantu belajar bukan media bermain penuh.

Anak-anak dari raksasa teknologi di kawasan elit Silicon Valley malah menyekolahkan di sekolah sederhana tanpa teknologi seperti di Waldorf School of the Peninsula. Mereka diasah dengan aktivitas melibatkan fisik, kreativitas, dan keterampilannya. Semuanya jauh dari segala perangkat teknologi. Kertas dan pulpen jadi senjata andalan dalam menulis serta menggambar.

Cara CEO teknologi membatasi penggunaan teknologi pada Anak
Mungkin bukan hal yang asing saat Anda mendengar bahwa CEO ternama teknologi membatasi pengguna teknologi pada anak-anaknya di kehidupan sehari-hari. Mengherankan bukan, apalagi mereka dengan mudah bisa mendapatkan produk tersebut.

Penyebab utama karena efek negatif yang ditimbulkan dari gawainya tersebut lebih besar. Malah seperti mendiang Steve Jobs melarang keras penggunaan teknologi hingga usia tertentu. Bahkan Bill Gates juga melakukan hal serupa terhadap anak-anaknya, pada jam tertentu anaknya disuruh tidak bersentuhan dengan teknologi.

Landasan utamanya ialah menciptakan interaksi yang kuat antara orang tua dan anaknya. Bukan hal yang mengejutkan saat ini anak-anak dan bahkan orang tua sibuk dengan gawainya masing-masing. Mereka tidak ingin hal tersebut terjadi dalam lingkungan keluarga. Selain itu karena anak-anak akan menggunakannya secara berlebihan dan berakibat buruk dalam kehidupan sosial mereka.

Walaupun begitu tak semua CEO teknologi setuju dengan pimpinan CEO ternama dunia tersebut. Salah satunya datang dari CEO Twitter yaitu Dick Costolo, ia menganggap cara itu membuat anak-anak tertekan dan mencari celah untuk menggunakan gawai waktu jauh dari orang tua mereka. Apalagi teman-temannya memiliki akses yang mudah, jelas akan memunculkan kecemburuan.

Sebaiknya ada kompensasi pengguna misalnya di hari libur atau setelah mencapai usia tertentu. Apalagi kemampuan mengejar melek teknologi tidak butuh waktu yang lama. Malahan di usia yang sudah cukup matang, anak-anak yang jarang atau tidak bersentuhan dengan teknologi akan memiliki interaksi sosial yang lebih tinggi.

Itu berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh California University, anak-anak tersebut tidak canggung dalam berinteraksi dengan sosial karena terbiasa hidup tanpa gawai saat masih kecil khususnya di masa tumbuh kembang. Walaupun awal mulanya sedikit mengalami depresi temporer akibat sedikit akses dengan gawai.

Namun depresi itu hilang saat usianya beranjak dewasa berbanding terbalik dengan anak-anak yang sejak kecil bebas dengan teknologi. Salah satunya kemampuan interaksi sosial dan komunikasi yang rendah.

Membentengi anak dari konten negatif
Teknologi sudah jadi kebutuhan wajib karena kemudahan yang ditawarkan, namun tidak menjadi kebutuhan wajib untuk anak-anak. Alasan terbesarnya karena banyak konten negatif yang dapat berpengaruh buruk pada sang anak khususnya internet.

Generasi yang berbeda membuat pola pikir anak dan orang tua jelas berbeda dalam konteks pemahaman teknologi. Anak yang sudah candu dengan teknologi memang cukup sulit disembuhkan, harus ada tahap tertentu hingga sang anak bisa mengurangi intensitasnya dan terhindar dari konten negatif. Salah satu cara yang dapat dicoba yaitu dengan penerapan internet ramah anak.

Berikut cara yang dapat orang tua gunakan dalam membentengi anaknya dari konten negatif yang berseliweran di jagat internet, cekidot:

Mode pengamanan, Banyak cara sederhana yang dapat dicoba dalam memblokir sejumlah konten yang berbahaya bagi anak. Di mulai dari memblokir di mesin pencari yaitu Google pada pada filter SafeSearch. Nantinya sejumlah konten negatif yang ingin akses oleh sang buah hati tidak terdapat di mesin pencarian Google.
Tak Usah Khawatir, Internet (Cukup) Ramah buat Anak
Tak hanya itu saja, fitur filter juga berlaku pada sharing konten terbesar saat ini yaitu Youtube. Di Youtube sangat sering ditemukan video yang tidak ramah anak, cara membatasinya dengan penggunaan fitur mode on yang ada di pengaturan Youtube. Nantinya anak-anak tidak akan menemukan konten yang tidak sesuai dengan umurnya. Terutama konten yang ditonton dilakukan secara online.

Bagi orang tua, ada beberapa cara menghindarinya, mulai dari membuat offline Youtube saat sang anak mengaksesnya. Video yang telah dipilih oleh orang tua hanya dapat ditonton oleh sang anak. Lalu ada juga dengan cara pengaktifan mode terbatas pada Youtube.
Tak Usah Khawatir, Internet (Cukup) Ramah buat Anak
Nah.. dengan begitu saat sang anak mengakses konten negatif, maka tidak dapat ditemukan. Video yang punya pengaruh negatif pun tidak akan muncul walaupun berhasil duduk di peringkat trending topic Youtube.

Mengunci Pencarian Situs dan Play Store, tak hanya melalui mesin pencarian dan video sharring saja. Anak sangat mudah candu pada game. Banyak orang tua yang tak sadar sang anak dengan mudah menginstal dan menguninstal program.
Tak Usah Khawatir, Internet (Cukup) Ramah buat Anak
Cara mengantisipasinya dengan mengunci Play Store dengan metode seperti di bawah ini. Nantinya sang anak tidak dapat mengunduh, apalagi semakin banyak mengunduh aplikasi dapat membuat saat anak lalai apa yang harus ia kerjakan.
Tak Usah Khawatir, Internet (Cukup) Ramah buat Anak
Cara paling mudah lainnya dengan mengunci situs tidak bisa dijelajahi sang anak. Salah satu aplikasi yang dapat dicoba yaitu Blocksite. Pada aplikasi ini Anda dapat memilih situs apa saja yang ingin diblokir dan rawan andai diakses oleh sang buah hati. Andai tidak menggunakan lagi, Anda dapat menonaktifkannya kapan saja.

Pengawasan pada histori pencarian, Anak-anak tak sadar bahwa segala sesuatu hal dari penjelajahan di mesin pencari konvensional akan tetap tersimpan. Makanya orang tua harus memeriksa segala pencarian yang dirasa tidak sesuai. Tak hanya itu saja, orang tua mampu mengenai situs yang tepat dan direkomendasikan buat si anak.

Tahu tentang aksesnya, mungkin segala akses internet membutuhkan akun dan semuanya bisa terwujud dari alamat email dan password yang digunakan. Memang terkesan sangat protektif, itu baik karena mampu menyaring segala aktivitas sang anak. Lebih baik lagi menggunakan akun yang khusus orang tua buat dan kontrol di belakang layar.

Perangkat lunak penyaring konten, Tak selamanya orang tua bisa mengontrol sang anak secara penuh selama 24 jam. Salah satu opsi ialah dengan pengawasan menggunakan perangkat lunak pilihan yang menyaring konten negatif.
Tak Usah Khawatir, Internet (Cukup) Ramah buat Anak
Ada beberapa perangkat lunak khusus anak-anak, mulai dari Qustodio, Kurupira Web Filter, dan K9 Web Protection. Anda dengan mudah bisa mengunduhnya sebagai proteksi pada anak Anda. Aplikasi mampu memberikan akses unduh secara gratis bagi penggunanya.

Pembatasan waktu pakai, orang tua butuh tindakan tegas dalam penggunaan gawai. Ada waktu-waktu tertentu sang anak mengaksesnya, jangan mengganggu aktivitasnya. Pembatasan bisa dilakukan saat jam belajar, interaksi dengan orang tua, dan teman-teman. Cara ini mampu membuat anak tak kecanduan gawai secara berlebihan dan anak menganggap gawai bukan segalanya.

Teknologi tidak selamanya negatif buat anak-anak
Masa kecil membuat tumbuh kembang dan pemahaman jadi lebih mudah paham. Itu didukung dengan rasa ingin tahu yang sangat besar dari anak-anak makin memudahkan mereka tahu tentang teknologi.

Mereka tak kalah kreatif, banyaknya video anak-anak yang viral dan mengundang banyak penonton karena aksi-aksi yang mereka tampilkan. Tak heran anak-anak tersebut mampu terkenal dan menghasilkan pendapatan besar di usia yang masih belia.

Salah satunya ialah EvanTubeHD, channel khusus anak-anak yang punya puluhan juta viewer dan jutaan subscribe. Temanya mulai dari ulasan mainan dan game dan pasti sangat digemari anak-anak seusianya.

Apalagi Evan dan beberapa saudaranya masih belia dan belum menginjak usia 10 tahun. Namun pundi-pundi pemasukannya sangat besar hasil hobi dan kreativitas dari memanfaatkan teknologi. Semuanya tetap berada di bawah kontrol kedua orang tuanya dalam mengedit video ke channel Youtube.

Tak hanya itu saja, banyak geek (orang yang sangat obsesi dengan teknologi) karena terbiasa dengan teknologi sejak dini. Hal itulah yang membuat mereka berhasil mendirikan perusahaan teknologi ternama saat dewasa.

Teknologi tidak selamanya salah dan atas batasnya, jadi kita seperti harus belajar dengan membatasi anak-anak dari teknologi. Sering kali teknologi bisa jadi pisau bermata dua yang sering sekali salah digunakan bukan saja pada anak bahkan orang dewasa.

Teknologi Itu Mudah Diaplikasi
Banyak orang tua yang takut anaknya gawai saat dewasa. Beragam cara dilakukan dan di antaranya adalah dengan memberikan gawai sejak usia dini. Nyatanya pada ahli teknologi sudah mewanti-wanti bahwa teknologi itu sangat mudah dipelajari oleh siapa pun.

Para program sudah menyusunnya jadi sedemikian rupa agar mudah dipahami oleh siapa saja tanpa terkecuali, asalkan jadi pembiasaan dan mau belajar. Salah satunya dengan pengenalan kelas teknologi yang diberikan oleh DUMET School.

Pembelajaran paling menarik pastinya beragam mulai dari anak usia dini. Salah satunya Kursus Pemrograman Komputer pada anak yang dinilai jadi pekerjaan atau profesi menjanjikan di masa depan.

Saat ini pun begitu banyak bahasa pemograman yang perlu diketahui dalam pengembangan bakat si anak. Khususnya dalam melatih skill yang ia miliki jadi lebih berkembang termasuk paduan dasar dalam pemograman dasar.

Di DUMET School akan ada tutorial buat si anak bisa berkembang lebih cepat dalam mempelajari dunia baru khususnya komputer. Ia akan diajarkan dengan sistem menarik dan membuat daya serapnya jadi cepat. Kelas yang diajarkan pun beragam, mulai dari web master, web programming, digital marketing, dan desain grafis. 

Tak hanya itu saja, banyak kelas yang bisa ia coba termasuk pengembangan bakatnya secara berkelanjutan di masa depan. Tak tertutup kemungkinan ia akan jadi programmer handal di masa depan dengan pembelajaran efektif di usia dini.

Apalagi DUMET School punya jadwal yang fleksibel buat waktu si anak dan proses belajarnya bisa semi privat. Tujuannya agar si siswa bisa paham terhadap materi yang diajarkan. Tak hanya itu saja, siswa yang sudah lulus akan mendapatkan bimbang dan konsultasi dalam proses pembelajaran.
Segala kemudahan yang ditawarkan DUMET School
Sebagai penutup, mari batasi anak-anak dengan teknologi khususnya dalam melatih kemampuannya. Teknologi sangat mudah dipelajari dan tidak ada kata terlambat dibandingkan masa kecilnya terkungkung dengan gawai yang buat ia melewatkan masa kecil penuh kenangan.

Semoga menginspirasi dan silakan pendapatnya di kolom komentar.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email