Sabtu, 22 September 2018

Unsyiah dan Peran Besarnya Mengubah Wajah Pendidikan Aceh

Seakan memutar kembali waktu 57 tahun silam tepatnya tanggal 2 September 1961, jadi hari bersejarah  berdirinya kampus berjuluk Jantoeng Hatee Rakyat Aceh, Unsyiah.  Peran berdirinya Unsyiah sangat besar, menggabungkan dunia akademisi di Aceh yang menggabungkan disiplin ilmu alam dan agama menjadi satu padu.

Kini pamor dan nama Unsyiah begitu kemilau, ibarat magnet buat para calon mahasiswa mempertaruhkan kursinya di jurusan terbaik di sana. Pertarungan bukan hanya terjadi lingkup Aceh namun se-Nusantara. Unsyiah kini dianggap sebagai kampus unggulan tanah air yang berada di ujung Sumatera.

Itu bukan isapan jempol semata, karena banyak lulusan terbaik yang mampu membangun negeri dan mengambil peran di masyarakat. Jangan heran saat hari wisuda semua wajah sumringah dan bahagia sambil menatap masa depan cerah setelahnya. Setelan baju toga dan para keluarga serta teman seakan jadi momen berharga tak terlupa.

Harus diketahui bahwa setiap periode ratusan dan ada ribuan alumni yang dihasilkan di Unsyiah dari seluruh jurusannya. Menjadi bagian dari alumni Unsyiah bak sebuah kebanggaan, bersama ratusan lulusan lainnya punya mimpi besar setelah hari wisuda berlangsung.

Seakan memori itu kembali terputar ke arah belakang tepat 3 tahun silam, menyandang gelar sarjana di salah satu kampus Unsyiah. Perjuangan panjang mendapatkan titel berakhir sudah. Penantian selama 5 tahun yang sulit berakhir bahagia di hari wisuda.

Rektor kala itu mengatakan, setiap lulusan harus bisa kreatif tidak menggantungkan nasibnya di instansi pemerintah, namun membuka peluang kerja baru yang mampu menyejahterakan masyarakat. Kata-kata itu begitu menyengat dan menjadikan motivasi begitu banyak lulusan. Seakan kini tugasnya mengabdikan segala ilmu yang didapatkan untuk masyarakat.

Meningkatkan mutu pendidikan dengan pendidik terbaik
Selaku kampus tertua yang ada di Aceh, Unsyiah sadar bahwa perannya sangat besar dalam mendidik generasi Aceh. Segala pembenahan dimulai dengan peningkatan kualitas pengajar. Saat ini ada sekitar 1.062 jumlah pengajar dan 462 yang bergelar doktor. Ada sekitar 80% di antaranya merupakan jebolan dari kampus di luar negeri. Jumlah tersebut masih di bawah 50% dari total pengajar.

Alasan tersebutlah yang mendorong Unsyiah melalui rektornya, Prof Dr Samsul Rizal M.Eng akan meningkatkan jumlah pengajar pendidik Unsyiah menjadi 700 doktor di tahun 2020. Nantinya Unsyiah akan dipenuhi berbagai pendidik bergelar doktor dengan spesialisasi kemampuan terbaik di bidangnya. Peningkatan pengajar berpengaruh pada mutu Unsyiah dalam bersaing dengan kampus ternama di tanah air.
 
Doktor yang disekolahkan akan menyerap ilmu terapan di tempat mereka mengambil studi. Proses upgrade ilmu bagi para pendidik secara tak langsung meningkat dosen ke level tertinggi di bidangnya. Jangan heran akan banyak ilmu baru yang mereka serap dan bagikan pada mahasiswa dan masyarakat. Pengalaman berharga mereka jadi bukti Unsyiah serius meningkat mutu pendidikan.

Hasil itu berbuah manis di tahun 2015 silam, melalui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) tertera dalam SK BAN-PT No. 736 tahun 2015. Unsyiah mendapatkan akreditasi tertinggi sebuah kampus yaitu akreditasi A. Prestasi tersebut coba terus dipertahankan dengan meningkat mutu pendidikan yang berkelanjutan.

Menurut Rangking Web dari Webometrics, Universitas Syiah Kuala menduduki peringkat lima kampus terbaik yang ada di tanah air di tahun ini. Sedangkan menurut Kementrian Riset dan Teknologi Unsyiah menduduki peringkat ke 27 dari 100 universitas terbaik di tanah air untuk tahun 2017. Itu semua berkat pembenahan Unsyiah yang pernah terpuruk dan kemudian bangkit dari keterpurukan.

Dukung lain yang terus ditingkatkan adalah sarana dan prasarana sebagai pelengkap proses belajar para mahasiswa dan dosen. Unsyiah mendapatkan sejumlah bantuan yang mendukung berupa pembangunan bangunan fakultas baru. Gedung terdahulu serta alat pendukung sudah mulai dimakan zaman. Serta bertambahnya jumlah mahasiswa mau tak mau Unsyiah harus melakukan penambahan ruangan dan fasilitas laboratorium.

Kini sedang dilakukan proses perampungan tiga kampus di lingkup Unsyiah. Mencakup Fakultas Kelautan dan Perikanan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan Fakultas Kedokteran Hewan dengan areal seluas 30.000 meter. Total dana yang keluarkan dalam proyek raksasa ini sebesar 314, 7 miliar.

Sebuah kebanggaan bagi Unsyiah sendiri, apalagi Unsyiah termasuk dalam proyek 7 in 1 yang didanai oleh sejumlah donatur seperti Islamic Development Bank (IDB) bersama Saudi Fund for Development (SFD) di bawah koordinasi Belmawa Kemristekdikti. Proyek ini dinamai dengan 7 in 1 karena melibatkan tujuh universitas terpilih di Indonesia dan Unsyiah masuk dalam proyek prestisius tersebut.

Mencetak jebolannya yang berbicara banyak
Pasca tamat, para jebolan Unsyiah yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Peluang para jebolan menjajal keilmuannya yang telah ia tempuh di Unsyiah. Apakah itu sebagai erat dengan dunia pemerintahan, dunia kreatif, dan dunia entrepreneur.

Dunia pendidikan tidak hanya sebatas pendidikan yang ada di bangku kuliah atau teori semata. Ada banyak kemampuan yang bisa dilatih dalam meningkat pendidikan di dunia kampus. Saat ini Unsyiah sangat peduli dengan masalah ini, salah satu program dalam melatih kemampuan softskill yang selaras dengan bidang ilmu atau bakat lainnya yang terpendam.
Close-up of Human Hand
Kampus mencoba mengubah paradigma yang hanya sekedar mengejar nilai IPK yang tinggi dengan tujuan mudah mendapatkan pekerjaan. Nyatanya dunia kerja sangat jauh berbeda dengan dunia kampus. Apa yang selama ini dikejar tidak sesuai dengan ekspektasi, jangan heran mereka yang punya pendidikan tinggi sekalipun harus rela menganggur.

Melatih kemampuan softskill dan hardskill sering diabaikan, nyatanya peran sangat besar. Bagaimana mahasiswa nantinya bukan hanya ahli teori dari buku semata tetapi mati kutu saat disuruh bekerja. Kemampuan ini seakan menghadirkan lulusan siap pakai di masyarakat, tak jarang kemampuan membantu pengaplikasian pada masyarakat.

Minimnya lowongan pekerjaan di dunia pemerintahan seakan membuat Unsyiah sadar para mahasiswa harus didik dalam mengembangkan kemampuannya. Membuang jauh-jauh anggapan harus bekerja di instansi pemerintah. Bukan hanya berpagi rapi tapi yang bisa membuat perubahan berarti.

Jebolan Unsyiah tersebut mampu mengembangkan sejumlah kreativitas dan minatnya, mulai dari sebagai pelaku bisnis, entrepreneur, motivator, hingga penulis. Hasilnya Unsyiah sendiri yang diuntungkan, berkat mereka nama Unsyiah harum di mata dunia. Lulusan yang dicetak sesuai dengan keinginan zaman yang saat ini bergerak ke arah digital.

Unsyiah sadar potensi kegiatan organisasi dan UKM sangat membantu mahasiswa setelah tamat kuliah nantinya. Jebolan Unsyiah mampu berbaur dan bekerja sama dengan masyarakat sambil mengasah kemampuan softskill-nya. Pendidikan yang sifat ekstrakulikuler terus ditingkatkan termasuk diadakan sejumlah event terkait.

Itu semua berkat Unsyiah yang mampu menstimulasikan para mahasiswa untuk aktif berkreasi sejak bangku kuliah, bukan menunggu setelah tamat. Di mulai dari dengan adanya pelajaran yang membuat mahasiswa mau berwirausaha dan menghasilkan karya kreatif. Saat ini hampir setiap minggunya Unsyiah mengadakan seminar yang mampu memotivasi mahasiswa untuk melakukan hal yang kreatif pula.

Tak hanya itu saja, para lulusan mampu dengan mudah membagikan ilmu kepada para mahasiswa untuk aktif di bidang kreatif. Dengan begitu para lulusan mampu mengajak lulusan terpelajar yang banyak menganggur untuk bekerja sama dalam bidang kreatif yang digeluti.

Sejumlah acara seperti halnya seminar internasional, kunjungan tamu luar, dan agenda lainnya. Unsyiah tak perlu kesulitan dalam mencari penampilan sejumlah UKM untuk unjuk gigi dan organisasi dalam membantu acara.

Selain itu, sejumlah mahasiswa mampu mengharumkan nama Unsyiah berkat peran aktifnya di organisasi dan UKM. Kini Unsyiah pun memberikan ganjalan yang setimpalan kepada mahasiswa yang mengharumkan nama Universitas di berbagai ajang. Salah satunya pemberian penghargaan hingga pembebasan biaya kuliah.

Melatih mahasiswa dengan program KKN
Unsyiah rutin melaksanakan KKN setiap tahunnya sejak 2014 dan sudah menjangkau hampir ke seluruh pelosok Aceh. Mahasiswa-mahasiswa yang sudah di penghujung masa bakti kampus digembleng selama sebulan dengan masyarakat pelosok.

Stigma mahasiswa hanya ada di dunianya perlahan luntur, mereka mencoba untuk berbaur dengan masyarakat. Memecahkan masalah yang ada di masyarakat sekaligus sebagai medan yang tepat mengaplikasi ilmu terapan.

Pendidikan KKN secara tak melatih para lulusan tidak gagap saat terjun ke masyarakat, peran mereka sangat dibutuhkan dalam kemajuan daerah dan membangun karakter individu. Pendidikan bukan hanya berdasar teori semata namun memberi bukti dengan kerja nyata yang mahasiswa lakukan.

Inovasi yang dahulunya hanya sebatas laboratorium atau retorika seakan berhasil diaplikasi. Pengalaman ini mengingatkan saya akan hasil riset pengujian pemberantasan hama siput yang berhasil dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Hasil uji laboratorium berhasil implementasikan secara luas di daerah KKN.

Gerbang Unsyiah Menyambut Sebagai BLU
Kini Unsyiah mencoba mandiri dan kompeten dalam hal membangun sendi-sendi kampus. Salah satu program sedang dimatangkan ialah menjadikan Unsyiah sebagai BLU (Badan Layanan Umum) dan PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum). Unsyiah akan punya kewenangan sendiri dalam menentukan nasibnya ke depan, apakah dalam masalah keuangan, aset, hingga keorganisasian mereka.

Di 57 tahun rasanya sudah cukup saatnya Unsyiah berinovasi dengan mengajak segala jajarannya memutar otak tanpa harus berpangku tangan penuh dengan pemerintah. Segala aset yang dimiliki dirasa sangat menjanjikan dalam pengelolaannya.

Unsyiah lebih leluasa lagi dalam bekerja sama dengan berbagai pihak, bukan hanya pemerintah dan swasta. Jelas ini sangat menguntungkan karena Unsyiah punya kontrol lebih dalam menunjang kemajuannya. Tak heran akan ada perusahaan besar yang mengajak mahasiswa atau alumni untuk magang atau bekerja. Kualitasnya yang sudah menyandang status akreditasi A baik jadi tolak ukur bahwa peran Unsyiah sangat besar.

Sejumlah aset vital yang punya nilai jual dan bahkan bisa dikelola langsung oleh lulusan terbaiknya. Mereka tidak harus bersusah-payah mencari pekerjaan atau mengaplikasikan ilmunya selama ini di lingkup Unsyiah. Salah satu aset yang dimiliki saat ini seperti Rumah Sakit Prince Nayef yang bisa dimanfaatkan oleh tenaga medis lulusan Unsyiah.

Kebijakan BLU seakan membuat Unsyiah mengusung konsep Class World Campus pertama di Aceh. Perannya bukan hanya mencetak lulusan terbaik namun juga peran menganalisa permasalahan masyarakat saat ini, menjadi pelopor usaha, dan menciptakan lapangan pekerjaan baru buat masyarakat.

Pendidikan yang menjangkau semua kalangan
Bicara mengenai dunia pendidikan saat ini begitu mahal, biaya kuliah di kampus negeri banyak pihak yang tidak bisa menjangkaunya. Kenaikan itu sangat drastis terjadi setelah Unsyiah mulai menyandang status BLU. Banyak calon mahasiswa terbaik yang mengurungkan niatnya kuliah atau memilih kampus lainnya dengan kualitas lebih rendah.

Itu wajar dengan naiknya akreditasi dan kualitas mutu yang ditawarkan Unsyiah berpengaruh dengan biaya kuliah meningkat. Biaya dan uang pembangunan di sejumlah kampus favorit naik, banyak orang tua yang mengeluh.  Apalagi ekonomi masyarakat Aceh tidak semuanya baik dan mendukung masuk kuliah.

Walaupun ada sejumlah beasiswa yang ditawarkan tidak menjangkau semuanya dan ada proses seleksi ketat. Seakan kini kesan pendidikan sangat mahal dan hanya dirasakan oleh para elit saja. Kini kuliah dianggap hanya gaya hidup bukan sebagai bukti mampu memecahkan masalah yang ada di masyarakat.
blur, book, chairs
Semua pihak berharap Unsyiah bisa menyelaraskan pendidikan yang menjangkau masyarakat Aceh. Mengubah stigma pendidikan bukan hanya dinikmati oleh mereka yang berduit tetapi buat masyarakat.

Di usia yang ke 57 tahun, Unsyiah bertransformasi ke arah yang lebih baik sebagai pusat pendidikan di Aceh. Perannya sangat besar dalam mencetak para lulusan terbaik Aceh tidak diragukan lagi. Kini Unsyiah telah bertransformasi menjadi BLU dan terus melanjutkan tongkat estafet dalam mengubah wajah pendidikan Aceh jadi lebih baik.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Kumpulan Tulisan