Wednesday, September 30, 2020

Wajahmu Menyimpan Sejuta Data Pribadimu

Keamanan menjadi sebuah jaminan utama termasuk dalam perangkat elektronik yang digunakan. Semakin berkembangnya zaman seakan menuntut proses pengamanan ganda. Tidak hanya kode rahasia yang mampu mengunci ponsel Anda tapi proses penguncian rumit lainnya bernama Face Recognition.

 

Inilah yang mulai banyak diadopsikan dalam perangkat teknologi, tak hanya ponsel saja tapi kini laptop menerapkan hal serupa. Keamanan jadi hal utama karena hal iseng hingga proses pencurian data bisa saja terjadi.

Itulah seakan membuat perusahaan teknologi mencoba menerapkan sesuatu yang baru yaitu dengan keamanan ganda. Salah satunya adalah penerapan Teknologi Face Recognition, bila dulunya saja proses tersebut hanya bisa diakses oleh sejumlah sistem keamanan negara.

 

Namun kini sudah menjadi fitur wajib yang digunakan dalam proses Sign In dalam perangkat gadget. Proses keamanan makin berlapis dan beragam sehingga membuat pengguna bisa mendapatkan berbagai alternatif dalam pengamanan datanya.

 

Awal mulanya kita mengenal konsep keamanan yang paling lama digunakan yaitu menggunakan PIN dan mengisi password. Seiring dengan berjalannya waktu, PIN dan menuliskan password dianggap punya kelemahan dan gampang diretas.

 

Inilah yang membuat proses Face Recognition, Irish/Retina Recognition, dan Fingerprint dianggap lebih aman. Bisa dikatakan proses keamanan dengan analisa wajah atau karakter unik dari manusia seperti mata, hidung, dan bentuk khusus lainnya membuat data terjamin dari tangan jahil hingga peretas.

 

Proses identifikasi dalam mengetahui keunikan seseorang nyatanya ada dua cara. Dimulai dari pengenalan fisik seperti struktur wajah, retina mata, sidik jari, telapak tangan hingga DNA. Lalu yang cukup jarang tapi juga efektif yakni proses identifikasi secara fisiologis seperti Tanda tangan, suara atau bahkan gerak.

 

Pada Gadget ini jarang digunakan tapi lebih pada keamanan ganda seperti akses keuangan digital dan bahkan penerapan di smart home dengan suara. Tujuannya tetap sama yaitu mengirimkan informasi pada gadget akan akses informasi di dalamnya. Apalagi kini prosesnya lebih cepat bahkan jauh di bawah satu detik.

 

Tak perlu lagi menulis pasword yang lama atau bahkan membuat pola yang kadang sering error. Keamanan ganda tersebut buat pengguna teknologi aman akan teknologi yang ia gunakan disalahgunakan oleh orang tak bertanggung jawab.

 

Kenal lebih dengan Sistem Keamanan Biomterik

Kemunculan sistem biometrik awalnya hadir karena kegundahan akan sistem keamanan yang rentan. Selama ini kurang diperhatikan dan bahkan dianggap jadi celah buat siapa saja dalam mengganggu data seseorang hingga bahkan perusahaan besar.

 

Biometrik sendiri adalah proses pemindaian yang terkait beragam proses dari sidik jari, pemindaian wajah, retina mata hingga iris mata. Cara ini dianggap lebih aman dan eksklusif dibandingkan dengan keamanan lawas yang masih mengandalkan menekan tombol, memasukkan sandi atau PIN.

Biometrik seakan membuat keamanan jadi naik kelas dan bahkan bisa membantu banyak orang lainnya akan keamanan data. Termasuk dalam kecepatan akses dan tentu saja tidak perlu lagi mengingat lagi karena anggota tubuhmu adalah kuncinya.

 

Konsep biometrik beragam modelnya, paling pertama yang ingin saya jabarkan adalah fingerprint. Ini dianggap model paling murah dan terjangkau dalam sebuah gadget. Sebelum ketiga yang populer kini Face, Iris, dan Retina Recognition populer.

 

Ponsel dalam rentang 5-7 tahun terakhir mengawalinya dari sini, aksesnya bisa melalui touchbar di bagian bawah layar, di belakang body ponsel hingga kini di dalam layar (fingerprint display). Proses bacanya dianggap sangat cepat dan pastinya jarang delay.

 

Selain lebih lama, proses pengembangannya jauh lebih matang dan siap dari biometrik lainnya. Hanya saja fingerprint punya kelemahan, walaupun ada beragam opsi. Pertama kali adalah bisa menggunakan banyak jari untuk akses masuk (bisa digunakan banyak orang). Kemudian tanpa harus menatap layar, dan tentu saja tanpa menekan tombol.

Kekurangan paling mendasar saat jari Anda kotor, akses jadi solusi dan kadang tidak terbaca. Belum lagi saat kondisi tangan lembab atau keringatan. Sudah pasti proses log in terhambat, kondisi ini sering sekali terjadi dan sangat mengganggu.

 

Lalu pada konsep Face Recognition pada wajah pengguna. Basic data yang digunakan adalah dengan autentifikasi wajah yang sudah diverifikasi dengan wajah pengguna. Artinya wajah selain Anda tidak bisa mengaksesnya.

 

Kemudian alat scan yang mengandalkan inframerah dalam proses identifikasi wajah. Sistem kerjanya adalah dalam proses identifikasi titik-titik pada wajah yang menjadi karakteristik seseorang. Sebagai contoh sistem Face Recognition paling maju adalah milik Iphone, mereka menyebutnya dengan FaceID.

 

Pada konsepnya sendiri FaceID menggunakan proses pemindaian lebih dari 30 ribu titik yang seakan membuat peta kontur dari wajah penggunanya. Ini membuat kesalahan deteksi sangat minim bahkan untuk seseorang kembar identik sekalipun.

Keunikan dari pengguna jadi salah satu alasannya, mulai dari dalam mata, ukuran hidung, dagu, tonjolan alis dan beragam aksesoris unik dari wajah pengguna. Selain itu FaceID tidak bisa dikelabui, selama ini proses yang dilakukan adalah dengan menggunakan foto.

 

Hasilnya adalah negatif atau tertolak, karena foto sifatnya tidak 3 Dimensi dalam mendeteksi objek. Bahkan pada patung lilin yang menyerupai orang aslinya (cara ekstrem yang digunakan). Artinya Face Recognition sangat aman dalam proses biometrik.

 

Cara kerja dari Face Recognition tergolong kompleks, ada tujuh tahapan dalam proses kerjanya hingga kita bisa mendapatkan akses masuk. Mulai dari proses pendeteksian wajah, penjajaran data, pengukuran, representasi wajah, pencocokan, verifikasi hingga yang terakhir analisis tekstur wajah.

 

Pada tahapan terakhir dalam analisis wajah, diawali dengan kalibrasi wajah. Tujuan utamanya adalah memahami wajah penggunanya oleh algoritma. Nantinya data wajah akan digunakan dalam proses analisa dari algoritma. Termasuk di dalamnya titik nodal wajah seperti lebar mulut dan lubang mata.

 

Tahapan selanjutnya adalah cetakan wajah akan menghasilkan kode dari setiap titik nodal tersebut dan menghasilkan karakter alfanumerik. Otomatis wajah akan membentuk 3 Dimensi dari sudut tangkap sensor dari mana pun itu.

 

Terakhir tentu saja proses validasi wajah, ini tahapan akhir sebuah kamera untuk bisa masuk ke dalam sebuah gadget Anda. Bila data cocok, ia akan masuk bila tidak akan tertolak. Tingkat error pun sangat kecil kecuali ada faktor internal dari wajah Anda yang membuat Face Recognition tak bekerja optimal.

 

Hanya saja, ada kelemahan pada sistem ini yaitu buat pengguna yang mengalami perubahan wajah. Ada sejumlah kasus unik  yang pernah terjadi. Pengguna tidak bisa mengakses Iphone-nya akibat wajahnya berubah total setelah operasi plastik. Perubahan besar ini membuat kontur wajah berubah dan ia menolak akses penggunanya.

 

Nah itu belum lagi faktor cahaya yang kurang, terhalang akses seperti topi, kacamata, hingga resolusi membuat ia tidak bekerja secara optimal. Bila ada kondisi ini terjadi pada Anda, teknologi tidak salah tapi cara Anda mengubah diri yang membuat ia bingung.

 

Biometrik Cerdas dari Matamu

Lalu yang lebih efektif lainnya adalah dengan menggunakan Iris atau Retina Recognition. Sebenarnya ini hampir sama, hanya saja ada basis dasar dalam penerapan teknologi. Konsep retina yang ada di dalam mata. Berupa jaringan tipis dari neural sel pada bagian posterior mata. Bagian retina dianggap sangat kompleks apalagi setiap manusia punya keunikan sendiri bahkan yang kembar identik sekalipun.

 

Proses identifikasi retina dianggap kompleks khususnya proses pemindaian. Retina Recognition akan melakukan proses pemindaian dan membentuk pola khusus saat mengarah ke mana. Cara kerja pemindaian dianggap unik, melalui lemparan sinar inframerah ke mata pengguna.

Kemudian ia akan melacak pola yang ada di retina mata pengguna meskipun minim cahaya sekalipun. Ini kerap jadi kelemahan dalam Face Recognition apalagi saat digunakan di dalam gelap sekalipun. Hanya saja Retina Recognition punya kelemahan bila pola retina pengguna berubah.

 

Dalam studi kasus yang pernah terjadi, pola retina seseorang dapat berubah karena beberapa faktor seperti penyakit degeneratif seperti diabetes dan glukoma, serta operasi retina yang mengubah pola dari strukturnya.

 

Dalam hal medis, pemindaian retina sangat baik dalam aplikasi medis. Sejumlah penyakit umumnya dapat dilihat dari mata khususnya gejala awal. Bila ada perubahan pada retina mata, sangat cepat dideteksi. Proses deteksi retina membuat pengguna sadar akan kesehatan sejak awal.

 

Lalu, yang menjadi bagian luar mata adalah struktur melingkar bernama iris. Dalam hal ini iris bertujuan dalam proses menangkap cahaya dari kerja mata. Apalagi setiap mata manusia punya warna khas dari iris matanya.

 

Sebagai contoh, setiap ras dan bangsa punya warna mata sendiri. Ini seakan memberi pola khusus dari mata selain pola lainnya yang berbeda antar setiap penggunanya. Proses identifikasi biometrik cukup otomatis yang menggunakan teknik pengenalan pola matematika. Iris mata yang unik bisa diproses dengan cepat melalui kode unik. 

Kemudian pada template digital yang dikodekan dari pola pemindaian iris menggunakan algoritma matematika dan statistik sehingga mengurangi kesalahan proses identifikasi. Database tersebut menggunakan Machine Matcher yang mampu mengolah begitu banyak data.

 

Proses Iris Recognition sering digunakan dalam proses identifikasi untuk bisa masuk ke suatu negara. Penerapan ini dalam hal mencocokkan data setiap orang sehingga bisa mengetahui begitu banyak data pribadi. Dalam penerapan gadget, iris jarang digunakan karena ia membeda setiap orang dalam sebuah perbedaan.

 

Lalu muncul pertanyaan, apa perbedaan mendasar dari Iris dan Retina Recognition?

Iris lebih efektif karena iris tidak akan berubah dan stabil dibandingkan dengan retina yang terpengaruh oleh penyakit. Proses pemindaian iris tak jauh berbeda mengambil foto, sedangkan retina butuh jarak dekat karena proses pemindaian yang lebih dekat.

 

Kemudian persamaan keduanya cukup dekat, semuanya sama-sama menggunakan mata sebagai objek utamanya. Proses identifikasinya lebih cepat sehingga membuat akses lebih mudah dan cepat. Alasan utama adalah titik di mata pada retina dan iris lebih sedikit dibandingkan dengan Face Recognition yang lebih banyak.

 

Hanya butuh waktu kurang dari sedetik dengan sistem yang rumit tersebut, artinya ilmuwan bekerja keras hingga akhirnya semua terwujud. Menjadikan setiap anggota tubuh jadi biometrik yang berguna dalam akses data pengguna lebih cepat dari kedipan mata.

 

Potensi Besar Recognition dalam Proses log in di Masa Depan

Bukan suatu yang asing saat mendengar proses Recognition dalam akses teknologi. Bahkan ini dianggap gudang data pengguna yang bisa diterapkan dalam beragam lini kehidupan. Tak hanya sebatas di gadget saja tapi semua yang berhubungan dengan sistem keamanan.


Apakah itu dalam akses ke perbankan, smart home, medis, hingga bahkan sosial media. Tak perlu lagi menulis password atau bahkan mengingat PIN, sesuatu yang kadang membuat penggunanya lupa. Bahkan memperkecil pencurian data akibat bobolnya password.

 

Di sisi pemerintah juga dianggap lebih mudah dalam memverifikasi tindakan mata. Seperti dengan menangkap pelaku kejahatan dari Face recognition mereka. Dalam sekejap semua data pelaku didapatkan dan dengan mudah diringkus.

 

Nilai valuasi dari facial recognition meningkat besar, apalagi yang terkait algoritma terkait pengolahan data wajah, retina, dan iris wajah. Di tahun 2022 nilainya diprediksi meroket hingga 2,9 miliar dolar dan diyakini terus meningkat.

Mengapa nilai tersebut bisa meroket? Alasan pertama karena ada banyak teknologi yang mengadopsi teknologi ini. Perusahaan penyedia seakan kebanjiran orderan dan menjadi model bisnis baru. Kemudian dilanjutkan dengan proses pengawasan melibatkan pemerintah.

 

Selama ini pemerintah seakan sedikit paranoid terhadap masyarakat terkait dalam aksi kriminal, terorisme hingga terkait sikap anti pemerintah. Tak jarang cara mengawasinya tak hanya di sosial media tapi dalam segala gerak-gerik di dunia nyata.

 

Facial Recognition dianggap senjata yang tepat dalam mengawasi segala hal yang dilakukan manusia sampai pada hal terkecil sekalipun. Semuanya akan diadopsikan di dalam cctv dan menjadi bukti atau kredit poin. Bila dianggap melanggar dan punya bukti kuat, ini jadi modal dalam proses ke jalur hukum.

 

Mengerikan memang, apalagi ini semua terkait dengan privasi manusia. Bisa dikatakan di era modern, privasi jadi sesuatu yang sangat langka. Bahkan orang yang terlalu privasi dianggap punya potensi berbahaya.

 

Walaupun harus membayar mahal dalam teknologi, tapi facial recognitiona dan sistem pendeteksian lainnya dianggap solusi yang cukup baik. Gambar yang diambil kemudian akan diolah dalam perangkat lunak yang ada di dalam database komputer.

 

Lalu kemudian mencocokkan dengan beragam data wajah lainnya, bila dianggap sudah sesuai dengan target. Lalu tinggal melakukan proses identifikasi lebih lanjut dengan menuangkan gambar tersebut dalam bentuk faceprint.

 

Tinggal bagaimana kemudian pihak berwajib melakukan tindakannya, namun dalam berbagai hal facial recognition punya sejumlah masalah seperti salah mendeteksi target dan kurangnya pencahayaan hingga minimnya data. Ini mungkin bisa diperbaiki lebih lanjut di masa depan.

 

Isu Privasi dalam Penerapan Biometrik

Selama ini bias antara privasi dan teknologi sangatlah sempit. Bahkan dianggap teknologi terkait data sangat membutuhkan akses privasi pengguna. Mau tak mau kita harus menyerahkan data kita pada penyedia layanan, pemerintah atau bahkan layanan berkedok penipuan.

 

Artinya data bisa jatuh ke tangan yang benar dan salah, bahkan bisa diselewengkan untuk kepentingan pribadinya. Paling sering dari penyelewengan yang dilakukan pemerintah khususnya yang punya kekuatan rezim super power.

 

Penilaian rakyat dilakukan dengan hasil tindak-tanduknya yang terekam oleh data biometrik. Salah satunya yang dilakukan di Tiongkok, konsep mereka menggunakan kredit poin atas tindakannya di kehidupan sosial.

 

Bila dianggap melanggar, pelaku bisa mendapatkan sanksi sosial dan akses dari pelayanan publik dan pendidikan yang seharusnya ia dapatkan. Bisa dikatakan hidupnya jadi sulit, semuanya di bawah kontrol penuh. Namun cara ini di satu sisi bisa membuat masyarakat disiplin termasuk di kehidupan sosial.

Untung saja negeri kita tidak melakukan hal demikian, selain fasilitas teknologi yang masih kurang memadai. Butuh begitu banyak dana yang harus dikeluarkan dalam membuat database dan tentu saja kamera yang bisa melihat tindak-tanduk warganya.

 

Selain itu, pemerintah tidak bisa mengontrol penuh masyarakatnya karena kita negara demokrasi. Ada undang-undang yang mengatur kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Asalkan tidak bertentangan dan menyalahi aturan.

 

Malahan bila bisa diterapkan, ini sangat baik dalam memperbaiki tatanan masyarakat kita. Mulai dari pelanggaran berlalu lintas, tata krama, hingga aksi kriminal bisa dideteksi dengan cepat. Bahkan aksi berbau terorisme cepat tercium dengan cepat.

 

Akhir kata, tidak selamanya biometrik buruk terhadap privasi. Dalam banyak hal bisa membuat tatanan masyarakat jadi lebih baik. Memang dalam satu kondisi rentan disalahgunakan, tapi bila berada di tangan yang tepat semua akan menjadi sangat baik.

 

Teknologi diciptakan untuk mempermudah umat manusia termasuk juga menekan angka kejahatan yang semakin canggih untuk saat ini. Semoga tulisan ini memberikan inspirasi, akhir kata: Have a Nice Days.


Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Langganan via Email Yuk?

ASUS ROG Phone 3

//Sidebar 320x320