Sunday, October 11, 2020

Apa yang Mempersiapkan dari Disrupsi Teknologi?

Dunia berubah begitu cepat, ibarat kereta cepat yang menembus waktu. Dalam sekejap penumpang yang ada di dalamnya seakan berada di lokasi lainnya. Ia sebelumnya naik di pemberhentian dan dalam sekejap sudah berada di pemberhentian lainnya.

 

Itulah yang terjadi kini, zaman bergerak cepat karena pengaruh teknologi. Tak jarang menggerus siapa saja yang tak siap dan mau berubah. Itulah yang terjadi saat ini, ada banyak pekerjaan dan bahkan sesuatu yang tak terpikirkan di zaman sebelumnya.

 

Namun di zaman saat ini dianggap sebagai sesuatu kewajaran, itulah yang menjadi dasar dari sebuah disrupsi. Semua yang ada di lingkaran tersebut harus siap beradaptasi, bila tak siap akan tergerus dan tergantikan.

 

Kini kita sudah memasuki suatu era baru dalam teknologi yaitu Revolusi Industri 4.0. Di sejumlah negara malahan sudah memasuki era kelima dari generasi industri tersebut. Semuanya berubah begitu cepat dan bahkan melahirkan model baru di semua sendi kehidupan dan pekerjaan.

 

Awal Mula Disrupsi Datang

Selama sejarah peradaban manusia, tercatat sudah begitu banyak disrupsi yang terjadi. Bagaimana masyarakat yang hidup saat itu? Apakah tersingkir atau bahkan kehilangan pekerjaan?

 

Jawabannya jelas ia, hanya saja manusia saat keadaan tersebut itu datang. Ia harus keluar dari zona nyaman dan melihat peluang baru. Semuanya untuk mengisi bejana perut yang kosong dan apa pun dilakukan. Termasuk menerima disrupsi sebagai peluang baru.

 

Contoh paling kentara terjadi sebelum abad 19, paling segar untuk dinikmati saat musim panas adalah es. Hanya saja mendapatkan es kala itu tidak mudah seperti membuka freezer di kulkas Anda. Pengorbanan ini menjadikan bisnis yang kedengaran aneh saat ini yaitu “Jasa Potong Es” di kutub.

Yups.... lokasi paling terjangkau dalam mendapatkan es yaitu di kutub. Atau harus naik ke puncak gunung hanya untuk mendapatkan sebongkah es segar. Inilah yang membuat jasa potong es sebagai bisnis paling menjanjikan.

 

Ada begitu banyak kapal uap yang bersandar di lingkar kutub saat musim panas. Bermodal dengan gergaji besar dan panjang, para buruh bekerja keras memotong es. Memasukkannya ke dalam kapal dan kemudian di bawa ke daratan tempat mereka tinggal.

 

Sudah ada begitu banyak permintaan dari kalangan atas yang menginginkan es. Sudah pasti karena biaya untuk mengambilnya mahal, harganya selangit. Para pengusaha es kutub begitu kaya kala itu. Tak berapa lama berselang mesin ditemukan yang mengawali Revolusi Industri tahap pertama.

 

Mesin seakan mulai menggantikan peran manusia termasuk dalam proses pelayaran yang kini mulai menggunakan kapal uap. Prosesnya jadi lebih cepat dan tentunya harga es kutub mulai turun, bisnis ini dianggap makin berkembang pesat karena sudah menjadi kewajiban.

 

Para buruh seakan berbondong-bondong menjadi pekerja di bidang es kutub. Apalagi bisnis ini tak hanya berkembang di Eropa saja tapi sampai ke benua Amerika. Bahkan ada lahir begitu banyak lahir pengusaha es kutub.

 

Disrupsi pun dimulai saat Revolusi Industri 2.0 hadir. Kekuatan terbesar dari pada era inilah adalah peralihan uap ke listrik. Sudah pasti di era ini berangkat ke kutub bermodal kapal uap dan kemudian membawa pulangnya ke daratan begitu rumit.

 

Listrik mampu melakukannya saat benda bernama pabrik es lahir. Mengubah air berupa benda cair menjadi benda padat bernama es. Dari dalam pabrik es yang terjangkau bisa didapatkan es berharga mahal. Air yang dihasilkan lebih steril dan tentu saja es bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Jasa impor es kutub mendadak hilang, mereka satu dari sekian banyak bisnis yang bangkrut. Para buruh dirumahkan atau beralih ke profesi lainnya. Jasa potong es kini jadi kenangan termasuk para pengusaha di dalamnya.

 

Namun yang cepat menyadari Revin 2.0 hadir, bermodal uang yang didapatkan dari jasa potong es kutub. Malahan bisa mendirikan pabrik es. Namun bila telat, siap-siap harus meratapi masa lalu yang indah. Kini era pabrik es yang mampu melahirkan bisnis baru.

 

Bagaimana nasib para buruh kala itu?

Jelas pertama kali terjadi jelas kebingungan, ke mana harus mengadu. Selain itu impor es tidak terlalu seksi lagi. Namun setelah itu lahir bisnis baru yang tak terduga hanya dari es. Mulai dari jasa pengawetan ikan dengan es, restoran membutuhkan es hingga pabrik es krim.

 

Para buruh yang dulunya harus mabuk laut dan kedinginan saat memotong es di kutub. Bekerja di sektor yang lebih manusiawi termasuk jasa baru saat pabrik es ditemukan. Selain itu ekonomi lebih merata berkat listrik dan es. Tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

 

Loncatan kembali saat kulkas ditemukan, pabrik es terlalu skala besar dan hanya dimiliki oleh pabrik. Kulkas ibarat penyimpanan kecil di setiap rumah tangga. Selama ini bahan baku yang dimiliki tidak bisa disimpan lama. Terlanjur busuk dan mengharuskan jumlah konsumsi terbatas.

 

Saat kulkas hadir dan diproduksi secara massal, saat itulah beban pabrik es berkurang. Tugas yang diambil saat Revin 3.0 adalah perusahaan teknologi. Nama Toshiba, Samsung, Sharp, LG hingga Panasonic terdengar familiar saat kini.

 

Lalu bagaimana nasib buruh, mereka harus kembali terdisrupsi oleh zaman. Jumlah pabrik es berkurang dan hanya tersedia khusus seperti di bidang perikanan. Semuanya tergantikan oleh perusahaan teknologi yang membuat kulkas.

 

Buruh pun demikian, skill mereka yang hanya mencetak es atau  proses distribusi ke pelanggan. Kini beralih dengan kemampuan lebih soft skill. Merakit kulkas-kulkas yang kemudian dipasok ke pelanggan yang ada di seluruh dunia.

 

Siapa yang malas meningkatkan keahlian dan kemampuan, siap-siap harus ketinggalan dan tidak terima oleh pabrik. Tak hanya itu saja, ada bisnis lain yang tak terduga seperti bisnis makanan dan minuman. Bisnis makanan kaleng, softdrink hingga es krim dianggap lahir karena kulkas hadir.

 

Artinya peluang para pekerja makin melebar dan tentu saja makin beragam. Bahkan bisa dikatakan bisnis minimarket yang ada sekarang rasanya tak jauh sama pasar tradisional andai tak ada kulkas di dalamnya.

 

Lalu kita loncat ke era kini dan masa depan dari sebuah es. Kini es bisa didapatkan dari dalam kulkas, bentuknya bertransformasi lebih digital bahkan menjadi struktur dalam Smart Home. Pengguna bisa mengatur suhu kulkasnya dari ponsel masing-masing bermodal Internet of Things (IoT).

Mengetahui jumlah makanan, kapan waktu yang layak dimakan. Konsumsi daya hingga kapan esnya mengeras dan bisa dinikmati bersama softdrink. Pada tahapan ini, lahir bisnis startup teknologi. Menawarkan cara baru dari sebuah es menjadi minuman yang enak.

 

Menjualnya pun bermodal aplikasi antar jemput katanya seperti Go-Food. Pelanggan yang hanya dari rumah atau kantor bisa dengan mudah menerima pesanan. Di sini lahir pekerjaan baru bernama driver berbasis aplikasi teknologi dan tentu saja startup minuman yang kekinian.

 

Semua itu berawal dari es, dari yang sulit didapatkan di ujung lingkar kutub hingga kini bisa didapatkan dari kulkas masing-masing serta melahirkan startup teknologi berbasis minuman. Sesuatu yang tak diduga sebelumnya hanya dari es saja.

 

Inti yang bisa kita ambil dari sini adalah disrupsi mengubah cara berpikir manusia dalam melahirkan pekerjaan baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan peluang baru, bila di era sebelumnya hanya sebatas buruh pabrik es. Namun saat melihat peluang besar, ia bisa jadi CEO startup teknologi berbasis minuman.

 

Apa yang perlu dipersiapkan dari Disrupsi?

Di era disrupsi, yang paling pertama dipersiapkan adalah kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Bukanlah seseorang paling kuat dan cerdas yang mampu bertahan, tapi yang siap menerima perubahan. Bila tidak akan siap tergerus dengan zaman.

 

Seperti zaman saat ini, saya contohnya pada blog. Dulunya blog hanya berisikan kemampuan oleh tulisan saja. Tapi saat sosial media yang kaya gambar dan video bermunculan, dunia blog seakan redup. Banyak yang kehilangan trafik dan bahkan kehilangan pembaca.

 

Tetapi yang siap menerima perubahan sebagai tantangan malah menghasilkan blog berkualitas dengan skill baru. Misalnya saja sang blogger bisa mendesain gambar, membuat video, memahami SEO hingga faktor lainnya hingga ia mampu bertahan.

 

Well.. kembali ke topik kita kembali. Secara garis besar disrupsi sebuah keuntungan bagi yang siap dan petaka bagi yang tak siap perubahan. Di lingkungan industri akan terjadi berbagai hal, mulai dari gejolak, ketidakpastian, rasa kebingungan hingga perbedaan pengambilan keputusan.

 

Keempat aspek ini berdampak besar dalam keberlangsungan sebuah industri dan orang di dalamnya. Bila tak siap, maka gulung tikar adalah pilihan terbaik. Cara terbaik yang dibutuhkan lainnya ialah 4C, seperti Critical Thinking, Creatibity, Communication Skills, dan Collaboration.

 

 Revin 4.0 Awal Langkah Disrupsi Baru

Bisa dikatakan bahwa gaung Revin 4.0 baru saja terasa di Indonesia. Saat negara lain sudah selangkah lebih maju dengan Society 5.0. Negara yang sudah siap ke tahap Society 5.0 adalah Jepang. Ada beragam sektor mengalami disrupsi yang menyesuaikan konsep Society 5.0.

 

Bidang tersebut dimulai dari transportasi, kesehatan, logistik, pertanian, konstruksi, keuangan, hingga ketenagakerjaan. Semuanya lebih efisien, bersifat desentralisasi, dan tentu saja ramah lingkungan. Tak masalah, proses Revin 4.0 sedang dirajut dari semua lini supaya bisa jalan serempak.

 

Hal paling diperlukan dalam disrupsi pastinya SDM, tenaga manusia yang andal sangat dibutuhkan. Bonus yang Indonesia miliki adalah urusan pekerja usia produktif Indonesia juaranya. bonus demografi yang ada di negeri kita, jumlah yang besar ini harus dimanfaatkan dalam menyambut masa depan.

 

Kualitas SDM harus jadi sorotan karena semuanya akan terintegrasi dengan teknologi. Dibutuhkan keterampilan dan kemampuan di bidang teknologi sejak bangku sekolah. Ini akan mendorong masyarakat tidak awam lagi dengan pekerjaan aneh di masa depan. Sehingga tidak shock batin saat disrupsi terjadi.

 

Sistem pendidikan pun harus diubah ke arah modern, istilah kerennya harus link and match antara dunia sekolah/kampus dengan dunia kerja. Di awali kurikulum berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics) hingga proses adaptasi dengan dunia kerja.

 

Guru selaku kuasa di sekolah diberikan pelatihan dan sarana dalam mendukung prosesnya ke arah teknologi. Jadi para guru sangat melek di bidang teknologi dan bisa melihat potensi anak didiknya di masa depan sesuai bidang industri yang ia gemari.

 

Terakhir dan paling penting adalah kemampuan dalam kolaborasi. Kini bukan lagi mengedepankan kompetisi dalam berbisnis tapi kolaborasi dengan semua pihak. Tujuannya adalah saling mendapatkan keuntungan yang adil (Win-Win Solution).

 

Sebagai contoh adalah bisnis taksi konvensional yang harus kalah bersaing dengan taksi online. Sebuah bisnis taksi konvensional harus punya semuanya, dimulai dari taksi, pangkalan, driver hingga proses perizinan yang berbelit-belit.

 

Beda dengan taksi online yang tidak punya satu unit taksi pun, mereka berkolaborasi dengan pemilik kendaraan dalam konsep sharing economy. Alhasil ada banyak taksi online tak terlihat yang menunjang pelanggan dengan harga terjangkau.

 

Era Revin 4.0 yang mengedepan kolaborasi, jangan heran ada banyak bisnis yang lahir dari dasar kolaborasi di masa depan. Mirip dari contoh yang pertama penulis katakan tentang bisnis es. Awalnya hanya dimonopoli oleh satu orang saja. Saat disrupsi dan era industri baru datang, ada banyak roda ekonomi dan bisnis kolaborasi yang lahir.

 

Membangun Indonesia dari Disrupsi Teknologi

Proses dalam mengejar bangsa yang sudah maju dalam sektor pembangunan jelas butuh waktu puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun. Mereka sudah punya sistem yang dibangun begitu lama dan turun-temurun, mengajar itu semua hampir mustahil.

 

Namun tidak dengan teknologi, ia bisa dikejar dalam waktu singkat melalui koneksi internet. Bisa dikatakan internet jadi disrupsi baru yang tak terduga. Saat pertama kali 4G sampai ke Indonesia, ada banyak pekerjaan lama yang tergerus tergantikan dengan pekerjaan baru. Bahkan saat 5G nanti tiba, siklus itu kembali terulang.

 Baca Juga: Kapankah Jaringan 5G Masuk ke Indonesia

Sebagai gambaran, semua peradaban dimulai dari munculnya pertanian. Masyarakat butuh makan dalam menyambung hidup dan kemudian mengekstrak setiap bahan makan dalam bertahan hidup. Saat fase ini sudah melewati, lahirlah beragam industri karena masyarakat sudah tidak kelaparan lagi.

 

Industri dianggap sebagai penghubung kemajuan sebuah bangsa dan daerah. Ada banyak akses yang tercipta dari jalanan, pelabuhan, bandara dalam proses produksi industri yang dibuat. Lalu sektor jasa, negara maju sudah pasti akrab dengan sektor tersebut.

 

Mereka menghidupkan segala kebutuhannya dengan jasa karena fase sebelumnya sudah cukup mapan. Di sinilah lahir berbagai startup yang kemudian jadi perusahaan digital, iklim yang mendukung sehingga sektor jasa berkembang pesat.

 

Lalu kemudian muncul pertanyaan, di mana posisi Indonesia untuk saat ini?

Saat ini Indonesia berada di masa peralihan dari sektor pertanian ke sektor industri. Ada banyak kota besar di Indonesia mulai hidup dari industri berbeda dengan dekade sebelumnya yang masih mengandalkan sektor pertanian.

 

Mirip dengan analogi pekerjaan membelah es di kutub, tahapan bangsa kita masih di level 2 yaitu pabrik es ke arah membuat kulkas. Saat negara lain sudah berlomba menciptakan kulkas yang punya teknologi IoT.

 

Itu artinya ada banyak waktu yang perlu dilakukan hingga bisa bersanding dengan bangsa lainnya. Salah satunya inovasi termasuk memperbanyak produksi kulkas. Dalam hal nyatanya adalah gebrakan dengan memperbanyak. Bisa dikatakan startup besar tanah air adalah kulkas yang bisa bersaing dengan kulkas bangsa lain.

 

Toh itu terlihat dengan banyaknya startup buatan anak negeri dan kita menduduki negara penghasil startup terbesar ketiga di Asia dan kelima di dunia. Semangat ini membuat ada banyak lahan pekerjaan baru lain. Bahkan bisa mengubah pola pikir masyarakat.

Di sisi pemerintah pun tak mau kalah dengan  mempersiapkan Making Indonesia 4.0 dalam lima sentra industri. mulai dari bidang minuman dan makanan, tekstil, otomotif, kimia, dan elektronik. Sentra industri ini jadi andalan yang bangsa kita punya.

 Baca Juga: Apa yang Perlu dipersiapkan Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Nantinya dari semua itu akan berkolaborasi dengan teknologi AI, IoT, Werables, Drone, hingga 3D Printing. Alasannya karena bidang ini sangat sesuai dengan kebutuhan pasar, investasi hingga jumlah transaksi perdagangan.

 

Jangan heran disrupsi yang awalnya sesuatu yang menakutkan berhasil diubah menjadi sinyal positif layaknya matahari di pagi hari. Semoga tulisan ini menginspirasi kita semua, akhir kata: Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer