Tuesday, February 18, 2020

Merindukan Kelatnya Buah Rumbia dari Hutan

Mendengar nama Buah Rumbia, langsung terbesit di dalam pikiran saya akan buah tradisional yang begitu digemari oleh orang-orang tua terdahulu. Saya pun seakan ingat nenek saya asalkan pulang ke Meulaboh, buah tangan berupa Buah Rumbia wajib dibawanya.

Setiba di rumah, beliau langsung memasukkan tumpukan Buah Rumbia dalam timba berisikan air garam. Merendamnya beberapa hari dan kemudian menjadikan berbagai menu makan dan pencuci mulut. Saya berpikir, orang dahulu sangat kreatif dalam mengolah tumbuhan hasil alam menjadi menu makanan yang menggoyang lidah.

Beda dengan anak muda kekinian saat ini, ada banyak yang tidak mencicipi dan bahkan tidak tahu bentuknya. Masuknya buah impor dan beragam buah popular lainnya seakan membuat anak muda tidak pernah lagi melihat Buah Rumbia. Itu ditambah lagi dengan langkanya. Seakan Buah Rumbia jadi buah langka lagi terlupakan.

Yuk Kenalan dengan Rumbia!!
Tahukah teman-teman, tumbuhan Rumbia yang punya nama latin Metroxylon Sagu, dianggap tumbuhan yang punya segudang fungsi yang dimanfaatkan manusia. Alasan itulah yang buat yang buat saya akan mengulas Rumbia, batangnya sebagai penghasil makanan pokok (sagu), daunnya digunakan atap rumah, batangnya untuk pakan ternak, dan tentu saja buahnya sebagai sumber pangan.

Lalu tumbuhan Rumbia tergolong dalam tumbuhan monokotil dari keluarga Palmae. Bisa digolongkan aneka jenis palem yang tumbuh subuh di pinggiran sungai dan rawa. Sebagai contoh yaitu Aceh Barat punya sejumlah syarat Rumbia tumbuh bebas di sana. Faktor dari kontur tanah, banyaknya rawa serta faktor cuaca yang lumayan lembap membuat tumbuhan Rumbia tumbuh subur.

Masyarakat Aceh mengenalnya dengan sebutan Bak Meuria, ini daya pikat dari setiap pelancong yang menjadikan buah tangan wajib saat berkunjung ke Aceh Barat. Di sana Pohon Rumbia tumbuh subuh di sepanjang rawa atau bahkan lahan pertanian warga. Bahkan masyarakat sengaja tidak menebang Pohon Rumbia karena menjadi lokasi berteduh saat pergi ke sawah.

Bicara mengenai bentuk buahnya, ia punya ukuran kurang lebih sebesar segenggam orang dewasa diameter antara 40 – 50 mm. Bentuk buahnya menyerupai kulit salak namun tidak bersisik, didominasi oleh warna hijau dan agak kuning kecokelatan bila telah tua. Setiap tandan dari buah Rumbia dilindungi oleh pelepah dan dahan berduri.

Bagian kulitnya cukup keras dan padat, kontur luar buah tersebut menyerupai bola golf. Uniknya pada mantel pelindung buah di bagian dalam sangat lembut, fungsi melindungi isi buah tetap utuh pada kondisi apa pun. Makin keras kulitnya, rasa yang dihasilkan lebih enak tanpa harus diasinkan terlebih dulu,
Buat yang belum tahu, rasanya Buah Rumbia yang masih muda sangat kelat dan sepet. Bila makin tua buahnya, rasa memudar rasa kelatnya, bercampur dengan rasa manis saat dicicipi pada ujung lidah. Buah Rumbia juga memiliki biji yang keras, dulunya masyarakat Aceh menjadikan biji Rumbia sebagai bahan baku membuat gasing dan bahkan aneka perhiasan seperti cincin.

Media Tumbuh Terbaik Buah Rumbia nan Ranum
Berkunjung ke Aceh Barat, masih kurang lengkap tanpa membawa pulang buah tangan yang masyarakat setempat menyebutnya Salak Aceh. Para tetua terdahulu tahu bahwa di bawah luasnya hamparan sungai dan rawa di Aceh Barat, Pohon Rumbia jadi penyeimbang ekosistem sekitar khususnya dari banjir dan pasang surut air laut di estuaria.
Hamparan luas Pohon Rumbia
Pada musim tertentu, Pohon Rumbia yang ranum dan menghasilkan buah di setiap tangkainya. Tersembunyi di balik pelepah dan dahan-dahan Pohon Rumbia, kadang saat sudah masak ia akan jatuh sendiri dari pohonnya.

Kondisi dan topografi alam yang didominasi oleh begitu banyak rawa serta sungai kecil mendukung pasokan air cukup tersedia. Inilah yang membuat Pohon Rumbia bisa ditemukan di sejumlah wilayah. Pada susunan komposisi hutan, Pohon Rumbia tergolong penghalang pertama sebelum masuk ke dalam hutan.

Seperti yang teman-teman tahu, Rumbia tergolong dalam jenis tanaman monocarpic. Jenis tumbuhan dengan siklus hidup yang pendek khususnya setelah proses reproduksi. Bisa saja sekali dan kemudian mati, kecuali biji yang dihasilkan terus berkembang. Tipe tumbuhan pangan seperti Rumbia mampu menyimpan sebagian besar biomassanya dalam bentuk buah ataupun bijinya.

Kini buahnya mula langka ditemukan, di Aceh Barat ada sejumlah kecamatan yang dulunya jadi sentra Buah Rumbia yaitu Kecamatan Samatiga dan Arongan Lambalek, sepanjang jalan begitu banyak ditemui Pohon Rumbia. Tumbuhannya pun kebanyakan tidak terawat bahkan sudah tertutupi oleh semak-semak dan ilalang.
Masyarakat kini hanya memanfaatkan daunnya, untuk dijadikan atap rumah berbahan Rumbia (Buboeng Oen). Sedangkan Pohon Rumbia yang masih muda sering dimanfaatkan dalam membuat sagu. Seperti pembuatan tepung sagu dan opak.

Semenjak peristiwa Gempa Bumi dan Tsunami 2004 silam, lalu disusul berbagai bencana alam seperti kebakaran hutan berapa tahun terakhir, si Buah Rumbia begitu sulit didapatkan. Andai saja ingin panen, terlihat putik buah, namun banyak yang rontok sebelum menjadi buah.

Terjadi perubahan kontur tanah, seperti tinggi kandungan fosfor di dalam tanah yang tak berimbang akibat didominasi oleh nitrogen. Faktor eksternal seperti intensitas cahaya, curah hujan, ketersediaan air, suhu, dan kelembaban udara mengalami perubahan akibat perubahan iklim. Berujung pada transformasi perkawinan serbuk sari dan putik yang berujung tidak menghasilkan buah.

pembukaan lahan secara besar-besar, alih fungsi menjadi lahan sawit, dan penebangan di sepanjang hulu dan lahan gambut berpengaruh secara tak langsung. Lokasi yang dulunya sering ditumbuhi Pohon Rumbia, membuat Buah Rumbia jadi sangat langka.

Untuk bisa membuktikannya, saya pun mencoba mencari buah tersebut di pasar. Petualangan saya dimulai dengan mencari di pasar Inpres buah dan sayur di Kota Meulaboh. Dari sekian banyak pedagang yang menjajakan beragam aneka buah dan sayur, saya hanya bisa menemukan beberapa lokasi yang menjual Buah Rumbia. Itu pun dengan harganya tergolong cukup mahal.
Penuturan dari pedagang yang menjualnya, Buah Rumbia langka dan umumnya dipasok oleh petani tertentu. Harganya pun relatif mahal dan hanya orang tertentu yang rela membelinya untuk melepaskan rasa hawa. Untuk bisa membawa pulang 1 kg Buah Rumbia mentah, Anda harus merogok kocek hingga Rp50.000.

Jadikan Buah Rumbia Sebagai Cemilan Sehat dan Enak
Meskipun mahal dan langka, tetap saja ada peminatnya khususnya menjadi cemilan sehat. Ada cara tersendiri dalam menikmati Buah Rumbia salah satunya sebagai asinan dan manisan. Pada proses menjadi asinan, cara diasinkan bisa dengan menggunakan garam atau kadang air laut selama beberapa hari.
Sedangkan membuat manisan Buah Rumbia, bisa dengan menggunakan rendam gula pasir atau dengan gula aren. Hasilnya, Boh Meuria Boh Meuria begitu syahdu untuk dinikmati. Anda pilih yang mana? Asinan atau manisan?

Di sejumlah tempat bisa ditemui Buah Rumbia khususnya yang telah menjadi asinan. Seperti yang ada pada Desa Peuribu, Kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat. Ada beragam aneka buah-buah dan makanan yang bisa dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke Aceh Barat. Paling unik bagi saya dan jarang ditemukan pada tempat lain hanyalah, asinan Boh Meuria.
Sudah diletakkan pada wadah khusus berupa timba ataupun ember yang telah direndam air garam. Proses pembuatannya cukup gampang, cukup dengan mencampurkan dengan air garam saja dan direndam beberapa hari. Buah yang dinikmati tersebut bisa langsung dikonsumsi, cukup merogoh kocek Rp60.000/kg dari Boh Meuria yang sebagai buah tangan untuk sanak keluarga.

Salah satu penjual yang saya temui adalah Ibu Salbiah yang berjualan di pasar buah Peuribu. Menurut penuturan beliau, dulu ada begitu banyak Buah Rumbia yang dijual pada pasar aneka buah yang ada di desanya.

Menurut penuturan beliau, mendapatkan Boh Meuria begitu sulit. Malahan ia mendapatkan dari sejumlah petani di desa mereka saat membuka lahan. Jumlahnya sedikit dan sering kali pasokan barang sering kosong khususnya penikmat buah yang dijuluki Salak Aceh tersebut.

Meskipun kini sudah tergolong langka, Buah Rumbia tetap dijadikan berbagai pengganti pangan. Di Aceh sendiri atau sejumlah aneka makanan yang menggunakan Buah Rumbia. Misalnya saja dijadikan bahan baku membuat rujak berbahan Buah Rumbia.
Cita rasanya dibandingkan dengan rujak lainnya ada campuran bumbu kacang dan cabai yang dilumuri oleh saus gula merah. Potongan aneka buah segar dan salah satunya adalah Buah Rumbia di dalamnya. Langkanya Buah Rumbia, para pedagang rujak kadang mengakalinya dengan menggunakan Pisang Batu (Pisang Bheung) karena sama-sama punya rasa kelat dan sepet.

Aneka pangan lainnya yang bisa diolah adalah menjadi keripik.  Rasa yang dihasilkan begitu gurih dan lezat, tidak ada lagi rasa pahit, kelat, dan keset di lidah setelah digoreng. Bahkan menyerupai rasa keripik pisang pada umumnya.

Buah Rumbia dan Segudang Manfaat yang Didapatkan
Tergolong buah langka dari hutan, Buah Rumbia punya segudang manfaat yang didapatkan untuk tubuh. Berbagai zat yang dibutuhkan oleh tubuh seperti karbohidrat, kalsium, kalium, magnesium, serta vitamin A dan C di dalam sebuah Buah Rumbia. Berikut info gizi yang bisa Anda ketahui:

Sejumlah kandungan yang didapatkan dari sebuah Buah Rumbia seperti Polifenol dan antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas. Kandungan zat besi produksi sel darah merah, menurunkan darah tinggi, dan melancarkan sirkulasi darah Serta menambah daya tahan tubuh dari penyakit karena kandungan Beta Karoten yang mampu mengaktifkan Kelenjar Timus saat mengonsumsinya.
Masyarakat sering menjadikan Buah Rumbia untuk menyembuhkan penyakit diare sekaligus mengembalikan cairan tubuh yang terkuras habis. Kandungan serat yang tinggi tersebut bukan hanya menyembuhkan diare, tapi juga mampu melancarkan pencernaan khususnya dalam meningkatkan metabolisme tubuh.

Bagi saya pribadi, Buah Rumbia punya peran penting dalam meningkatkan kepadatan tulang dan otot. Kandungan kalsium untuk usia saat ini, mampu meningkatkan kekuatan otot dan mencegah osteoporosis. Bahkan bisa mengurangi potensi cedera dan mempercepat proses penyembuhan otot.

Selama ini, saya pun sering mengonsumsi Buah Rumbia sebagai ganti obat asam amino dalam Program Fitnes. Ini dinilai lebih herbal dan bebas efek samping karena di dalam satu Buah Rumbia mengandung Asam Askorbat khususnya untuk meningkatkan masa otot. Apalagi setelah dikonsumsi sebelum atau sesudah latihan.
Bahkan setelah mengonsumsi sekitar dua Buah Rumbia juga mampu menunda lapar dan menurunkan berat badan. Ini sudah saya coba dengan mengganti pil BCAA (Branched-Chain Amino Acids) yang sering saya minum dalam proses pembentukan otot.

Selain lebih alami, rasa kelat dan keset Buah Rumbia bisa menekan nafsu makan terutama setelah latihan selesai. Metode ini bisa teman-teman coba, apakah yang ingin menjalankan menambah masa otot atau bahkan sekalian dengan menurunkan jumlah lemak Buah Rumbia jadi opsi terbaik.

Mengapa Kita Harus Tahu Banyak Buah Rumbia?
Alasan pertama karena Rumbia tergolong dari tumbuhan yang hidup subur sejumlah negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Nah… Makin Indonesia lagi nama akhir ilmiah yang digunakan sangat Indonesia yakni Metroxylon Sagu.

Alasan selanjutnya adalah mencari Pohon Rumbia yang berbuah ranum sangat sulit. Butuh pohon dan kontur lokasi yang tepat untuk bisa langsung melihat tumbuhan ini berbuah. Apalagi Rumbia tergolong tumbuhan asli Indonesia yang harus dilestarikan keberadaannya.
Kemudian di daerah yang punya lahan gambut dan rawa, Rumbia jadi pengontrol air yang ada di sungai tetap stabil. Makin banyak tumbuhan Rumbia yang ada di area gambut, ini mampu menyerap air kala banjir dan menyimpan banyak air kala kemarau tiba. Alasan tersebut yang menjadikan Pohon Rumbia sering ada di sekitar persawahan warga.

Terakhir tentu saja sebagai bahan pangan pengganti, Buah Rumbia sering dijadikan aneka makanan dari hutan. Mulai dari asinan rujak, asinan, manisan, hingga bahan baku pembuatan keripik berbahan Buah Rumbia. Ini bisa jadi referensi Anda pecinta kuliner dalam mencoba aneka kreasi makanan berbahan Buah Rumbia.

Kesimpulan Akhir
Itulah sejumlah penjelasan, manfaat hingga proses olahan dari Buah Rumbia. Menjaga ekosistemnya tetap terkendali berarti menjaga buah tersebut tetap ada di masyarakat dan para penikmatnya. Termasuk di dalamnya menjaga dan pemanfaatan bahan Pangan Dari Hutan yang berkelanjutan untuk masyarakat.

Akhir kata, segala makanan pangan yang ada di hutan menjadi referensi tetua kita dulu dalam meracik makanan nan lezat di lidah. Melestarikan hutan sama dengan menjaga aneka tumbuhan langka tetap hidup di dalamnya termasuk menjadi sumber pangan untuk manusia.

Semoga postingan ini memberikan inspirasi dan sumber referensi dalam mengelola pangan dari hutan, Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Langganan via Email Yuk?