Friday, October 9, 2026

Gunakan AI Tak Hanya Buat Hiburan, Tapi Buat Diajak Kerja

Dalam dua bulan terakhir sedang tren di sosial media yang begitu kencang. Sesekali saya melihat lewat di lini masa, tren mengubah ala retro 80 an, Rambutnya mengembang, ada gradasi ungu-jingga di latar belakang, dan cahaya gemerlap lampu sorot yang seakan diambil dari kamera roll tempo dulu. Itulah tren yang lagi naik saat ini, apakah sudah ikutan?

Seakan saya melihat hampir semua teman saya berbondong-bondong memakai pose tersebut. Seakan era 80-an terlahir kembali nan kece. Inilah yang sedang diinisiasikan aplikasi AI seperti ChatGPT biar semua pada ikutan. Caranya gampang, cukup dengan unggah satu foto, tulis prompt singkat, tunggu beberapa detik. Selesai. Dalam hati bergumam, wow kerennya kalo aku hidup di era itu seakan hidup di era orang tua terdulu  sedang keren-kerennya.

Share:

Tuesday, October 6, 2026

Yuk Jaga Pola Hidup Sehat Sejak Muda!

Beberapa waktu ini saya merasakan satu hal yang cukup pilu, ada banyak teman yang merasakan sakit padahal usianya masih muda banget. Ada yang cuci darah, ada yang punya riwayat darah tinggi hingga asam urat yang menjadi-jadi. Rasanya sakit yang dulu identik dengan orang usia kepala lima, kini malah menyerah kepala tiga awal bahkan pertengahan kepala dua.

Lalu kemudian membuat saya berpikir, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Kenapa semakin banyak orang yang masih muda justru sudah harus berhadapan dengan masalah kesehatan yang cukup serius? Padahal di usia seperti ini, mestinya kita masih sibuk memikirkan pekerjaan, mengejar mimpi, jalan-jalan, atau sekadar nongkrong bersama teman tanpa harus terlalu banyak memikirkan buat antre berobat inap atau jalan di RS.

Saat usia muda, kita sering merasa tubuh masih bisa diajak kompromi. Begadang semalam, besoknya masih bisa beraktivitas. Makan sembarangan hari ini, besoknya juga tidak langsung terasa apa-apa. Jarang olahraga berbulan-bulan pun seakan tidak memberikan dampak yang berarti. Padahal, mungkin bukan tubuh kita yang baik-baik saja, tetapi tubuh kita yang sedang menahan semuanya sambil menunggu waktunya untuk mengingatkan.

Masalahnya, kita sering baru sadar ketika tubuh sudah benar-benar memberikan sinyal. Mulai dari mudah lelah, berat badan yang terus bertambah, tidur yang tidak lagi nyenyak, sampai munculnya berbagai keluhan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Di saat seperti itu, kita baru mulai bertanya-tanya, kenapa dulu tidak lebih peduli? Kenapa olahraga selalu ditunda, kenapa makan tidak pernah dijaga, dan kenapa tidur selalu dianggap sebagai sesuatu yang bisa dikorbankan demi pekerjaan atau kesenangan?

Masa Muda, Masa Kita Sering Mengabaikan Kesehatan

Ironisnya, usia muda justru sering menjadi masa ketika kita paling tidak peduli dengan kesehatan. Saat tubuh masih kuat, justru di situlah kita paling sering memaksanya bekerja tanpa banyak berpikir. Tidur larut dianggap biasa, makan seadanya tidak masalah, jarang olahraga juga tidak terasa sebagai persoalan. Toh, besok pagi tubuh masih bisa diajak bangun dan beraktivitas seperti biasa. Kita pun merasa semuanya baik-baik saja.

Padahal, tubuh punya cara sendiri untuk mengingat setiap kebiasaan yang kita lakukan. Ia mungkin tidak langsung protes ketika kita sering begadang atau terlalu banyak makan dan jarang bergerak. Tapi bukan berarti semuanya hilang begitu saja. Ada kebiasaan yang terus berulang, menumpuk, lalu perlahan mulai meninggalkan dampaknya. Seakan membuat kita sering tidak sadar adalah karena prosesnya berjalan pelan dan tidak selalu memberikan tanda yang jelas.

Coba lihat orang-orang di sekitar kita. Dulu, ketika mendengar ada orang yang terkena darah tinggi, diabetes, atau masalah jantung, kita mungkin langsung membayangkan orang yang usianya sudah tua. Sekarang ceritanya mulai berbeda. Ada teman yang belum genap tiga puluh tahun sudah harus rutin memeriksa kesehatan, ada yang mulai menjaga makanan karena kadar gula darahnya naik, bahkan ada yang harus menjalani pengobatan untuk kondisi yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan akan dialami di usia semuda itu.

Kita baru menganggap kesehatan penting setelah tubuh mulai memberikan peringatan. Sebelum itu, semuanya terasa seperti urusan nanti. Nanti kalau sudah menikah, nanti kalau sudah punya anak, nanti kalau sudah tidak sibuk bekerja, atau nanti ketika usia sudah mulai tua. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu kapan tubuh akan mulai meminta perhatian lebih. Bisa jadi saat kita merasa masih punya banyak waktu, sebenarnya tubuh sudah lebih dulu bekerja keras menanggung kebiasaan yang selama ini kita anggap sepele.

Mungkin karena itulah menjaga kesehatan sejak muda menjadi penting. Bukan karena kita harus takut dengan penyakit atau hidup dengan penuh kekhawatiran, tetapi karena kita tidak pernah tahu seperti apa tubuh yang akan kita bawa dua puluh atau tiga puluh tahun lagi. Apa yang kita lakukan hari ini mungkin belum terasa hasilnya sekarang, seiring berjalannya waktu barulah penyakit itu hinggap di tubuh.

Sedentary Lifestyle, Musuh dalam Diam Bagi Kawula Muda

Penyebab paling nyata di balik fenomena ini adalah gaya hidup mager atau sedentary lifestyle. Banyak anak muda menghabiskan sebagian besar waktunya duduk atau rebahan, entah di depan laptop untuk kerja dan kuliah, atau di depan gawai untuk hiburan. Ini kedengarannya sepele, tapi sebenarnya bahaya banget buat tubuh.

Tubuh kita memang didesain untuk banyak bergerak, bukan untuk diam berlama-lama. Otot, sendi, jantung, hingga sistem peredaran darah, semuanya bekerja optimal justru saat tubuh aktif. Ketika gerak menjadi barang langka dalam keseharian, tubuh perlahan kehilangan fungsi optimalnya. Kerusakan ini jarang terasa instan, ia menumpuk perlahan seperti karat yang menggerogoti besi dari dalam, dan kita baru sadar ada masalah ketika gejalanya sudah muncul ke permukaan.

Kini, sedentary lifestyle semakin sulit dihindari adalah karena hampir semua kemudahan zaman sekarang justru mendukung kita untuk tetap diam. Mau makan tinggal pesan lewat aplikasi tanpa perlu beranjak dari kasur. Mau kerja, cukup buka laptop tanpa perlu banyak berpindah tempat. Mau hiburan, tinggal buka layar dan scroll tanpa henti. Semua serba dekat, serba instan, dan tanpa sadar kita kehilangan aktivitas fisik yang dulu terjadi secara alami dalam rutinitas harian, seperti jalan kaki ke warung atau naik turun tangga.

Efek dari gaya hidup semacam ini bukan cuma soal berat badan yang naik. Duduk terlalu lama secara terus-menerus terbukti berkaitan dengan menurunnya sensitivitas insulin, melemahnya otot punggung dan inti tubuh, hingga meningkatnya risiko nyeri sendi di usia yang seharusnya masih jauh dari kata rentan. Semua ini terjadi diam-diam, tanpa gejala mencolok, sampai akhirnya menumpuk menjadi masalah yang lebih besar.

Ironisnya, semakin canggih teknologi yang memudahkan hidup kita, semakin sedikit pula alasan tubuh untuk bergerak. Dulu, orang harus berjalan ke pasar, mencuci pakaian dengan tangan, atau naik turun tangga karena belum ada lift, dan semua itu tanpa sadar menjadi bentuk aktivitas fisik harian.

Sekarang, hampir semua pekerjaan itu bisa diselesaikan sambil duduk atau bahkan sambil berbaring. Kemudahan ini bukan hal yang perlu disesali, tapi perlu disadari, supaya kita bisa menggantinya secara sengaja dengan aktivitas fisik lain yang setara.

Kebiasaan Buruk di Usia Muda, Akan Menetap Seumur Hidup

Otak manusia, terutama di usia remaja hingga dua puluhan awal, masih dalam fase yang sangat plastis. Jalur-jalur saraf yang berkaitan dengan kebiasaan masih mudah dibentuk dan diperkuat. Semakin sering kita mengulang sebuah perilaku di usia ini, entah itu olahraga rutin atau justru rebahan tiap hari, semakin kuat pula perilaku itu tertanam dan sulit diubah di kemudian hari.

Ini yang menjelaskan kenapa orang yang terbiasa hidup sehat sejak muda cenderung mempertahankan gaya hidup itu hingga tua, sementara orang yang terbiasa hidup serampangan akan kesulitan luar biasa saat mencoba berubah di usia empat puluh atau lima puluh tahun. Bukan karena mereka tidak punya kemauan, tapi karena kebiasaan lama sudah begitu mengakar, seperti jalan setapak yang sudah terlalu sering dilalui hingga menjadi jalan utama di dalam otak kita, sementara jalan baru menuju kebiasaan sehat harus dibangun dari nol.

Maka dari itu, momentum terbaik untuk membangun fondasi hidup sehat bukan nanti, bukan pula ketika dokter sudah memvonis ada masalah, melainkan sekarang, selagi otak dan tubuh masih paling mudah diajak beradaptasi. Semakin lama kita menunda, semakin besar juga usaha yang dibutuhkan untuk membongkar kebiasaan lama dan menggantinya dengan yang baru.

Cara Saya Jaga Kesehatan Sampai Tua

Saya punya cara tersendiri dalam menjaga tubuh tetap sehat, apalagi sudah memasuki kepala tiga. Jelas saya tak mau diantar jeruk atau salak karena sedang sakit dan mendapatkan ucapan agar segera sembuh. Saya jelas tidak mau itu terjadi pada saya. Bukan karena saya tidak suka jeruk atau salak, tetapi saya lebih suka menikmatinya dalam kondisi sehat daripada harus menerimanya ketika sedang terbaring sakitt

Salah satu cara yang saya lakukan adalah rutin berolahraga. Saat ini saya berusaha menyempatkan diri pergi ke gym sekitar empat hari dalam seminggu. Tidak selalu mudah memang, apalagi ketika pekerjaan sedang banyak atau badan sedang malas diajak bergerak. Tapi kalau menunggu sampai benar-benar punya waktu luang, rasanya olahraga tidak akan pernah menjadi kebiasaan.

Latihan saya juga tidak hanya mengejar bentuk tubuh. Saya mencoba mengombinasikan latihan kekuatan atau strength training dengan latihan kardio. Di gym, saya lebih banyak melakukan latihan beban untuk menjaga dan membangun kekuatan otot. Di hari lain, saya menyelinginya dengan boxing sebagai salah satu bentuk kardio. Jadi, tubuh tidak hanya dilatih untuk kuat, tetapi juga diajak untuk tetap aktif dan memiliki daya tahan yang baik.

Buat saya, olahraga sekarang bukan lagi sekadar urusan ingin terlihat lebih berisi atau menjaga berat badan. Ada kesadaran yang perlahan tumbuh bahwa otot, kekuatan, dan kebugaran yang saya bangun hari ini mungkin akan sangat berguna ketika usia saya nanti tidak lagi muda. Saya ingin tetap bisa naik gunung, jalan jauh, bepergian, atau sekadar melakukan aktivitas sehari-hari tanpa harus terlalu bergantung kepada orang lain hanya karena tubuh sudah tidak sanggup diajak bergerak.

Mungkin terdengar sederhana, tetapi saya melihat olahraga sebagai salah satu bentuk investasi untuk diri sendiri. Saya memang belum tahu akan seperti apa kondisi tubuh saya dua puluh atau tiga puluh tahun lagi. Tapi setidaknya, saya ingin melakukan sesuatu dari sekarang agar ketika usia itu datang, saya tidak menyesal karena dulu terlalu malas merawat tubuh sendiri.

Pada akhir pekan, saya biasanya menyempatkan diri untuk bersepeda atau hiking ke sejumlah gunung. Selain sebagai cara untuk menikmati alam dan melepas penat setelah menjalani rutinitas selama sepekan, aktivitas seperti ini juga menjadi latihan fisik tambahan. Hiking misalnya, membuat saya harus berjalan berjam-jam dengan kondisi jalur yang tidak selalu mudah. Tanjakan, turunan, dan medan yang berubah-ubah cukup menguras tenaga, tetapi justru dari situ saya bisa merasakan sejauh mana tubuh masih mampu diajak bekerja.

Buat saya, aktivitas seperti ini sangat membantu. Latihan di gym membuat tubuh lebih kuat, boxing melatih kardio dan daya tahan, sementara bersepeda dan hiking membuat kekuatan itu benar-benar digunakan dalam aktivitas yang lebih panjang. Rasanya berbeda ketika kekuatan otot yang dilatih di gym kemudian harus dipakai untuk menaklukkan tanjakan atau berjalan jauh di jalur pendakian.

Mungkin inilah yang membuat saya sekarang lebih menikmati olahraga. Saya tidak lagi melihatnya hanya sebagai kewajiban untuk menjaga bentuk tubuh, tetapi sebagai cara untuk mempersiapkan diri menghadapi usia yang terus berjalan. Saya ingin ketika nanti usia bertambah, tubuh masih cukup kuat untuk membawa saya ke banyak tempat, bukan malah menjadi alasan kenapa saya harus berhenti mengeksplorasi.

Kesehatan, Wujud Investasi yang Sering Diabaikan

Saya suka menganalogikan urusan kesehatan ini dengan urusan menabung uang. Semakin dini kita mulai menabung, semakin besar pula hasil yang bisa dinikmati di kemudian hari, berkat efek bunga berbunga yang terus terakumulasi seiring waktu. Prinsip serupa ternyata juga berlaku untuk kesehatan. Setiap kebiasaan baik yang kita lakukan hari ini sebenarnya sedang kita "tabung" untuk dinikmati hasilnya bertahun-tahun kemudian.

Ada satu hal yang sering luput dari perhatian banyak orang sudah rajin berinvestasi uang sejak muda, disiplin menabung, membeli reksa dana, atau merintis bisnis, tapi lupa berinvestasi pada kesehatannya sendiri. Akibatnya, begitu usia bertambah, tabungan yang susah payah dikumpulkan selama bertahun-tahun malah habis untuk berobat, bukan untuk dinikmati sebagaimana mestinya. Semua rencana pensiun yang sudah dirancang matang, bisa buyar hanya karena tubuh tidak lagi sanggup menopang rencana tersebut.

Sehat itu sebenarnya juga bentuk investasi, bahkan bisa dibilang investasi paling mendasar sebelum investasi lainnya. Saat orang-orang seusia kita mulai sakit-sakitan, harus bolak-balik rumah sakit, atau harus membatasi banyak aktivitas karena kondisi fisik yang menurun, kita yang sejak muda menjaga pola hidup masih bisa bebas eksplorasi banyak hal di usia senja, berkat adanya tabungan kesehatan yang dikumpulkan sejak muda.

Kita bisa tetap bepergian, tetap aktif bersama keluarga, dan tetap menikmati hasil kerja keras yang sudah dibangun bertahun-tahun, tanpa harus terkendala oleh tubuh yang sudah lebih dulu rapuh.

Sebaliknya, mengabaikan kesehatan di usia muda sama saja dengan berutang pada tubuh sendiri. Utang itu memang tidak langsung ditagih, tapi bunga pinjamannya terus berjalan, dan suatu hari nanti, cepat atau lambat, tagihan itu pasti datang, biasanya dalam bentuk yang jauh lebih menyakitkan dan mahal dibanding jika kita mencegahnya sejak awal.

Kalau dipikir lebih jauh, biaya untuk mencegah selalu jauh lebih murah dibanding biaya untuk mengobati. Waktu tiga puluh menit sehari untuk olahraga, atau biaya tambahan sedikit untuk memilih makanan yang lebih bergizi, tidak ada apa-apanya dibanding biaya rawat inap, obat-obatan jangka panjang, atau waktu produktif yang hilang karena harus berjuang melawan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

Orang baru menyadari nilai dari pencegahan setelah merasakan sendiri mahalnya proses pengobatan.

Hidup Sehat Cukup Bergerak Rutin dan Kurangi Gula Buatan

Kabar baiknya, hidup sehat sebenarnya tidak harus serumit yang kita bayangkan. Tidak perlu langsung diet ketat, beli berbagai macam suplemen, atau olahraga sampai badan remuk setiap hari. Mulai saja dari hal-hal sederhana yang bisa dilakukan dan yang paling penting, bisa dipertahankan. Karena percuma semangat olahraga tiga hari kalau setelah itu kembali rebahan selama berminggu-minggu.

Salah satu yang paling mudah adalah bergerak lebih banyak. Tidak harus selalu ke gym. Jalan kaki, bersepeda, naik turun tangga, bermain bola, hiking, atau olahraga apa pun yang kita sukai juga bisa menjadi pilihan. Rekomendasinya sekitar 150 menit aktivitas fisik dalam seminggu, atau kalau dibagi rata kurang lebih 30 menit selama lima hari. Kedengarannya tidak banyak, kan? Persoalannya sering kali bukan pada durasinya, tetapi pada kemauan untuk benar-benar memulainya.

Selain bergerak, saya juga mulai lebih memperhatikan apa yang masuk ke tubuh. Salah satunya adalah mengurangi gula, terutama dari minuman manis yang sering kali kita konsumsi tanpa merasa sedang makan gula dalam jumlah banyak. Es kopi susu, teh manis, minuman kemasan, atau sekadar menambahkan beberapa sendok gula ke minuman memang terasa sepele kalau hanya sekali. Tapi kalau hampir setiap hari, tentu ceritanya berbeda.

Hal berikutnya yang menurut saya tidak kalah penting adalah menjadikan olahraga sebagai kebiasaan, bukan hukuman. Jangan olahraga hanya karena merasa bersalah setelah makan banyak. Jangan juga baru lari ketika berat badan mulai naik. Kalau sudah menjadi rutinitas, olahraga justru terasa seperti bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika beberapa hari tidak melakukannya, tubuh sendiri biasanya mulai terasa berbeda.

Saya juga belajar bahwa kita tidak perlu menunggu punya waktu luang untuk mulai hidup sehat. Kalau menunggu pekerjaan selesai, menunggu mood bagus, atau menunggu punya perlengkapan olahraga lengkap, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar mulai. Jalan kaki tiga puluh menit hari ini jauh lebih berarti daripada rencana olahraga dua jam yang hanya tersimpan di kepala.

Lalu jangan lupakan tidur. Percuma olahraga rutin kalau setiap malam masih tidur terlalu larut. Tubuh juga butuh waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri setelah seharian diajak bekerja. Sesekali memeriksa kondisi kesehatan juga bukan berarti kita sedang sakit. Justru lebih baik tahu kondisi tubuh ketika masih baik-baik saja daripada baru memeriksakannya ketika sudah muncul masalah.

Sebab kesehatan bukan dibangun dari satu keputusan besar, tetapi dari banyak keputusan kecil yang kita ulang terus-menerus. Konsisten itu perlu sekali karena kita bisa melakukan hal tidak disukai menjadi rutinitas baru.

Pada Akhirnya, Tubuh Ini Akan Kita Bawa Sampai Tua

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, sebenarnya kita tidak pernah tahu kapan tubuh mulai meminta perhatian lebih. Bisa saja hari ini kita masih merasa kuat, masih bisa begadang, makan sembarangan, duduk seharian, lalu besok kembali beraktivitas seperti biasa. Tapi tubuh punya batas. Dan saya rasa, kita tidak perlu menunggu sampai batas itu benar-benar terlewati untuk mulai peduli.

Saya sendiri juga masih jauh dari kata sempurna. Masih ada hari ketika malas ke gym, masih ada makanan yang sebenarnya tidak terlalu sehat tetapi tetap saya makan, atau tidur yang kembali berantakan karena pekerjaan. Namun setidaknya sekarang saya mulai lebih sadar bahwa kesehatan tidak bisa terus ditempatkan di urutan paling belakang. Ada pekerjaan yang bisa ditunda, ada rencana yang bisa diubah, tetapi tubuh yang sudah rusak tidak selalu bisa dikembalikan seperti semula.

Saya ingin tetap bisa naik gunung ketika usia sudah tidak lagi muda. Masih bisa bersepeda, bermain bersama keluarga, bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi, dan menjalani hari tanpa terlalu banyak dibatasi oleh kondisi tubuh sendiri. Karena buat saya, hidup panjang saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa tetap sehat dan mandiri ketika umur terus bertambah.

Mungkin itu sebabnya sekarang saya lebih suka melihat olahraga bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai cara sederhana untuk berterima kasih kepada tubuh sendiri. Empat hari di gym, boxing, bersepeda, atau sesekali mendaki gunung mungkin terlihat seperti aktivitas biasa. Tapi siapa tahu, semua yang kita lakukan hari ini sedang mempersiapkan tubuh untuk menghadapi usia yang akan datang.

Pada akhirnya, kita semua sedang menua. Bedanya hanya bagaimana kita mempersiapkan diri untuk sampai ke sana. Jadi, kalau hari ini tubuh masih sehat, mungkin tidak ada salahnya mulai menjaganya sedikit lebih baik. Tidak harus langsung berubah drastis. Jalan kaki sebentar, mengurangi minuman manis, tidur lebih awal, atau mulai rutin berolahraga juga sudah cukup sebagai langkah pertama.

Karena tubuh ini hanya satu. Tidak ada versi cadangan. Dan jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya tubuh yang sehat setelah tubuh itu tidak lagi bisa diajak melakukan banyak hal.

Semoga tulisan ini menginspirasi kita semua, akhir kata Have a Nice Days.


Share:

Friday, September 25, 2026

Dari Rimba Bakau, Mama-Mama Friwen Merajut Ketahanan Pangan

Kalau nama Raja Ampat disebut, yang muncul di kepala kebanyakan orang pasti laut. Air sebening kaca, terumbu karang warna-warni, ikan berkelompok seperti awan yang bergerak, atau kalau beruntung, pari manta melintas pelan di bawah perahu. Saya sendiri begitu, setiap kali dengar nama itu, bayangan yang muncul selalu bawah laut, bukan daratannya, apalagi hutan bakaunya.

 

Tapi ternyata, ada cerita lain yang jarang sampai ke brosur wisata. Cerita itu bukan datang dari kedalaman laut, melainkan dari balik pagar hijau rapat yang selama ini cuma dianggap pembatas antara darat dan laut: mangrove. Di sebuah kampung kecil bernama Friwen, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, hutan bakau justru jadi tempat lahirnya sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar pemandangan indah, yaitu ketahanan pangan.

Share:

Wednesday, September 16, 2026

Kipas Angin Bikin Rumah Nyaman Meskipun Tanpa AC

Jujur ya, akhir-akhir ini cuaca bikin bingung. Pagi kadang mendung, siangnya matahari terasa menyengat, sore turun hujan deras, malam malah terasa pengap. Katanya Indonesia mulai dipengaruhi La NiƱa yang identik dengan curah hujan lebih tinggi. Tapi anehnya, rasa gerah itu justru sering masih bertahan, apalagi kalau udara sedang lembap.

Aku sendiri termasuk orang yang kurang tahan dengan ruangan pengap. Mau kerja jadi susah fokus, duduk sebentar sudah berkeringat, bahkan malam pun kadang susah tidur karena udara di dalam rumah terasa seperti tidak bergerak. Rasanya ingin menyalakan AC terus, tapi setiap ingat tagihan listrik, niat itu langsung surut. 
Share:

Sunday, August 23, 2026

Jelajah Gunung dan Laut, Insto untuk Mata Nyaman

Dalam setahun terakhir saya punya hobi baru yang selama ini terpendam yakni menjelajahi alam. Memang itu cita-cita, dulu di masa kuliah memang sering dan sudah jadi rutinitas. Tetapi semenjak hampir sepuluh tahun bekerja rasanya menjelajah alam terasa begitu eksotik. Jadi kami punya target dalam dua kali sebulan bisa pergi ke sejumlah tempat hidden gem yang selama ini tidak terjamah. Lokasinya tak perlu jauh tetapi memberikan nuansa dan cerita baru di dalamnya.

Namun, ada satu masalah: semakin ke sini, banyak teman yang sudah tidak bisa ikut lagi. Rata-rata mereka sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Hari libur lebih sering dipakai untuk berkumpul bersama keluarga atau sekadar istirahat total di rumah. Bagi mereka, rasanya tidak masuk akal harus capek-capek mencari lokasi hidden gem, menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan, sementara besoknya sudah harus kembali bekerja. Waktu istirahat itu sekarang mahal, begitu kira-kira alasan beberapa teman yang akhirnya berhasil kami ajak ikut.

Share:

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer