Saya besar dengan cerita bahwa
Aceh adalah tanah yang tidak pernah benar-benar takluk. Ada narasi panjang
tentang perlawanan, tentang otonomi yang diperjuangkan lewat darah dan
negosiasi bertahun-tahun sampai lahir status Otonomi Khusus. Saya percaya cerita
itu. Sampai awal tahun ini, saya berdiri di depan rumah yang setengah
tenggelam, menyaksikan gelondongan kayu hanyut bersama lumpur ke halaman
tetangga. Bukan pohon tumbang alami. Ada bekas potongan gergaji mesin di
batangnya.
Di titik itu saya sadar ada lubang dalam kemerdekaan yang saya rayakan setiap 17 Agustus. Kita merdeka dari penjajah. Namun cara kita memperlakukan tanah yang menghidupi kita sendiri, seakan kita ikut menjajah hutan itu sendiri, mengubahnya jadi lahan produksi tanpa sisa, tanpa pernah bertanya apa yang akan terjadi kalau ia tidak lagi sanggup menahan air.



.png)
