Wednesday, September 16, 2026
Sunday, August 23, 2026
Jelajah Gunung dan Laut, Insto untuk Mata Nyaman
Dalam setahun terakhir saya punya hobi baru yang selama ini terpendam yakni menjelajahi alam. Memang itu cita-cita, dulu di masa kuliah memang sering dan sudah jadi rutinitas. Tetapi semenjak hampir sepuluh tahun bekerja rasanya menjelajah alam terasa begitu eksotik. Jadi kami punya target dalam dua kali sebulan bisa pergi ke sejumlah tempat hidden gem yang selama ini tidak terjamah. Lokasinya tak perlu jauh tetapi memberikan nuansa dan cerita baru di dalamnya.
Namun, ada satu masalah: semakin ke sini, banyak teman yang sudah tidak bisa ikut lagi. Rata-rata mereka sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Hari libur lebih sering dipakai untuk berkumpul bersama keluarga atau sekadar istirahat total di rumah. Bagi mereka, rasanya tidak masuk akal harus capek-capek mencari lokasi hidden gem, menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan, sementara besoknya sudah harus kembali bekerja. Waktu istirahat itu sekarang mahal, begitu kira-kira alasan beberapa teman yang akhirnya berhasil kami ajak ikut.
Saturday, August 15, 2026
Merdeka di Atas Tanah yang Kehilangan Akarnya
Saya besar dengan cerita bahwa
Aceh adalah tanah yang tidak pernah benar-benar takluk. Ada narasi panjang
tentang perlawanan, tentang otonomi yang diperjuangkan lewat darah dan
negosiasi bertahun-tahun sampai lahir status Otonomi Khusus. Saya percaya cerita
itu. Sampai awal tahun ini, saya berdiri di depan rumah yang setengah
tenggelam, menyaksikan gelondongan kayu hanyut bersama lumpur ke halaman
tetangga. Bukan pohon tumbang alami. Ada bekas potongan gergaji mesin di
batangnya.
Di titik itu saya sadar ada lubang dalam kemerdekaan yang saya rayakan setiap 17 Agustus. Kita merdeka dari penjajah. Namun cara kita memperlakukan tanah yang menghidupi kita sendiri, seakan kita ikut menjajah hutan itu sendiri, mengubahnya jadi lahan produksi tanpa sisa, tanpa pernah bertanya apa yang akan terjadi kalau ia tidak lagi sanggup menahan air.
Saturday, July 4, 2026
Ketika Dompet Tipis Membuat Hidup Lebih Praktis di Era Cashless
Ada satu benda yang hampir selalu saya bawa saat bepergian yakni dompet. Letaknya berada di saku belakang celana. Rasanya lebih maskulin. Tanpa tas, cukup selipkan dompet di saku belakang celana lalu berangkat seharian menjalani hari. Mungkin kebiasaan saya dan jutaan pria lainnya di dunia, bawa dompet seakan tumbuh seiring dengan waktu.
Monday, June 29, 2026
Membangun Basis Pajak Dimulai dari Membangun Kepercayaan
Pernah kita bertanya, mengapa ada negara yang
warganya rela dipotong penghasilannya hampir separuh hanya untuk pajak, uniknya
tidak terdengar demonstrasi besar karena pajak. Sementara di negara lain,
Ketika tarif pajaknya jauh lebih rendah, masih banyak orang yang berusaha
menghindar, menunda, atau bahkan tidak merasa perlu membayarnya. Perbedaannya
ternyata bukan sesederhana angka pada tarif pajak. Ada sesuatu yang jauh lebih
mahal daripada uang yang dibayarkan setiap tahunnya pada negara.
Bayangkan dua negara. Di negara pertama, hampir setengah gaji hasil bekerjanya masuk ke kas negara melalui pajak. Namun sebagian besar warganya tetap membayar dengan sukarela bahkan menganggap sebagai bagian dari kontribusi mereka pada negara. Sementara di negara kedua, tarif pajak jauh lebih rendah. Namun masih banyak wajib pajak yang harus memilih menghindar, tidak melapor, atau sekadar merasa pajak bukan urusan yang penting. Negara pertama adalah Denmark sedangkan yang kedua yakni Indonesia.





