Monday, December 14, 2020

SpaceX: Mending Rakit Roket

 

Mimpi ke luar angkasa seakan berhasil manusia lakukan setengah abad lalu saat Apollo 11 mendarat dengan heroik di tanah bulan yang tandus. Dua dari tiga astronaut NASA berhasil menginjakkan kakinya di Bulan. Penancapan bendera seakan menegaskan bahwa manusia sudah menciptakan sejarah baru.

 

Perang dingin antara USA dan Soviet seakan berbuah hasil bahwa manusia pernah mencapai titik tertinggi yaitu mencapai bulan. Setelah itu ada begitu banyak penjelajah serupa dilakukan bukan hanya mendaratkan manusia ke bulan tapi ke sejumlah planet yang tersebar di tata surya.

 

Tujuan utama misi yang dilakukan NASA beragam, mulai dari pamer teknologi keantariksaan hingga misi mencari planet baru yang layak dihuni oleh manusia. Kondisi bumi yang mulai tak sehat seakan manusia mencoba mencari planet terdekat yang mana tahu bisa dijadikan bumi kedua.

 

Misi yang bisa dikatakan mustahil tapi bukan berarti tidak ada peluang. Berbagai riset tersebut berhasil dicoba dan salah satu planet terdekat punya potensi terbesar adalah Mars. Planet merah yang memisahkan hingga 200 juta km,

 

Jarak yang terlalu jauh untuk ke sana apalagi untuk memberangkatkan manusia. Beda dengan jarak Bumi dan Bulan yang hanya berada di angka 384 ribu km saja. Itu setara dengan 42 kali pulang pergi Bumi dan Bulan. Butuh waktu yang berbulan-bulan ke sana dan tentunya wahana yang punya bahan bakar ekstra.

 

Dunia antariksa pun erat dengan NASA di USA, ada ROSCOSMOS, CNSA milik Tiongkok, ESA milik Uni Eropa dan berbagai lembaga antariksa milik berbagai negara di dunia. Seakan pemerintah punya sokongan dan dana tak terbatas dalam memulai misi keantariksaan.

 

Namun rasanya dinding besar itu bukan hanya milik negara saja tapi swasta mencoba hadir. Mendobrak jurang antariksa jadi jauh masuk akal dan manusia biasa bisa berminta terbaik ke luar angkasa. Bukan hanya orang pilihan dari lembaga antariksa negara saja yang bisa ke sana.

 

Mimpi Besar SpaceX di Jagat Antariksa

Sebuah perusahaan transportasi luar angkasa swasta yang dirikan pada 6 Mei 2002 oleh seorang pengusaha muda asal USA, Elon Musk. Sukses dengan bisnis sebelumnya yaitu Paypal dan berhasil dibeli oleh eBay sebagai salah satu marketplace besar di USA sebesar US$ 1,5 miliar.

 

Guyuran uang yang didapatkan pun cukup besar yaitu US$ 165 juta karena Elon punya saham 11% di dalamnya. Mungkin anak muda yang baru berusia 30-an tahun, uang sebanyak itu sudah bisa dijadikan dana pensiun tanpa perlu bekerja.

 

Elon punya pemikiran berbeda, ia punya mimpi tak bisa terutama misi mewujudkan perjalanan luar angkasa. Sesuatu yang terdengar fana tapi ia yakin akan terwujud, uang yang ia dapatkan semuanya ia investasi ke sebuah perusahaan yang kini dikenal dengan SpaceX. Sisanya digunakan dalam mendirikan Tesla dan bisnis masa depan Elon.

 

Duit US$ 100 juta rasanya sangat besar dalam memulai bisnis lain tapi tidak dunia antariksa. Mungkin dana tersebut saja jangan untuk riset saja, untuk membeli roket bekas saja begitu berat. Itu belum lagi NASA pun alokasi dana yang cukup besar dari pemerintah. Sedangkan Elon hanyalah anak muda dengan mimpi besar.

 

Bahkan di awal berdirinya, SpaceX punya roadmap yang disusun dan diberi nama dengan Oasis Mars. Proyek ini digunakan sebagai bentuk menggambarkan ide dengan mendaratkan manusia ke Mars serta laboratorium kaca kecil yang bisa dijadikan lokasi bercocok tanam.

 

Pada awal 2000-an minat penjelajahan ke luar angkasa seakan berkurang, tak ada lagi keberangkatan manusia ke sejumlah objek seperti satelit. Berbanding terbalik dengan era 70-an saat ada banyak astronaut mendarat di bulan.

 

Anggapan skeptis para penganut teori konspirasi seakan mempercayai pendaratan manusia ke bulan hoaks makin mengemuka. Seakan adanya penjelajahan luar angkasa bisa menutup mulut para penganut teori konspirasi.

 

Gaung besar yang SpaceX berikan berupa penjelajahan luar angkasa hingga pendaratan ke Mars di masa depan seakan bisa jadi jawaban kebenaran tersebut. Masyarakat sipil bisa merasakan sensasi berada di luar angkasa.

 

Cara SpaceX Bersaing di Dunia Antariksa

Selain itu, SpaceX dianggap mencoba menciptakan model baru dalam bisnis terbatas. Urusan budget boleh pas-pasan tapi bisa jadi solusi di dunia antariksa. Selama ini monopoli dari NASA seakan membuat dunia antariksa seakan jalan di tempat.

 

Eksplorasi luar angkasa hanya pencapaian saja tapi minim laba, sebagai perusahaan swasta pastinya SpaceX mencari cara. Peluang bisnis ini malahan bila dihitung-hitung bisa mendapatkan laba berkali lipat. Bahkan itu sekali keberangkatan saja.

Sesuatu diabakan oleh NASA dan badan antariksa lainnya, lalu masalah coba dipecahkan didapatkan kesimpulan bahwa alasan perjalanan ke luar angkasa sangat mahal karena komponen yang dibuat berasal dari banyak perusahaan.

 

Sebagai industri yang paling mahal, merakit roket bukan seperti merakit PC karena Anda bisa menemukan bahan rakitan di toko komputer terdekat. Membangun roket butuh banyak riset dan melibatkan banyak perusahaan di dunia.

 

Saat semua komponen sudah berhasil disatukan jadi satu komponen besar, saat itulah roket berhasil beroperasi dengan optimal. Namun setiap perusahaan tersebut nyatanya menerima pesanan dari perusahaan lainnya, ini mengakibatkan biaya produksi meningkat.

 

Contoh sederhananya adalah ponsel, tak ada perusahaan ponsel yang menciptakan ponsel dari nol tanpa bantuan perusahaan lainnya. Tapi ada banyak perusahaan yang mencoba melepaskan diri dan mencoba membuat sendiri komponennya.

 

Bahkan software sendiri yang mampu menekan biaya dan tentu saja tidak kekurangan komponen. Hasilnya ia bisa menjual lebih murah tapi dengan keuntungan lebih besar. Bisnis roket malahan NASA meminta pesanan dari banyak pabrikan. Ini membuat perusahaan penyedia mendapatkan keuntungan besar dengan menaikkan harga tak wajar. 

Bagi perusahaan swasta seperti SpaceX, ini memberatkan dan bahkan jadi kesempatan memangkas harga jadi lebih murah. Memang butuh riset lebih lama, tapi ini bisa membuka peluang biaya perjalanan luar angkasa jadi lebih murah.

 

Cara ini pernah dicoba pada Tesla saat awal mulanya mobil listrik pertama mereka hadir. Bisa dikatakan mobil listrik bukan barang baru. Bahkan bisa dikatakan mobil listrik jadi mobil pertama hadir di dunia di abad 19.

 

Hanya saja tidak dikembangkan dan ditambah lagi sampai akhirnya mobil bertenaga bahan bakar lahir. Ini makin menandakan manusia melupakan mobil listrik dan sulit untuk dikomersialkan. Hingga akhirnya Tesla hadir dan memberikan inovasi.

 

Salah satunya yang paling penting adalah inovasi baterai, komponen yang dianggap paling vital dalam jarak tempuh mobil listrik. Kini Tesla bahkan berhasil menciptakan 85% atau sekitar 5300-an komponen secara mandiri. Termasuk strategi dengan menggaet Panasonic dalam bisnis joint-venture dalam pengadaan baterai Tesla.

Cara serupa yang diterapkan dalam bisnis SpaceX, menekan harga dengan menyediakan komponen dalam merakit roket hingga 85%. Mereka riset, buat, dan pasang sendirinya secara mandiri. Mengajak banyak ilmuwan, insinyur hingga mantan antariksawan bergabung ke SpaceX.

Alhasil ini bisa menekan biaya dalam merakit roket, bahkan dianggap bahwa industri antariksawan tidak semahal yang diperkirakan banyak orang.

 

Betapa Menguntungkan Bisnis Antariksa

Terjunnya SpaceX di ranah antariksa awal mulanya dianggap mimpi yang terlalu tinggi. Tapi nyatanya ada perubahan besar yang mereka lakukan terutama dalam proses peluncuran roket. SpaceX menciptakan sesuatu yang berbeda tapi masuk akal yaitu reusable rocket (roket isi ulang).

 

Selama ini biaya yang paling besar adalah biaya launcher dan propellant rocket, guna kedua benda tersebut mendorong roket hingga batas atmosfer bumi. Kebanyakan dari beda tersebut hanya sekali pakai, bisa saja jatuh ke laut dan tidak dipakai lagi. Alasannya karena sudah rusak dan hanya bisa dipakai sekali.

 

Itulah yang NASA dan berbagai badan antariksa milik negara lain, biaya ini sangat besar dan mahal. Sebagai NASA selama ini memberikan tender dalam peluncuran roket pada salah satu rekan bisnis yaitu The United Launch Alliance.

 

Biaya yang harus pemerintah USA keluarkan pun dirasa kurang masuk akal yaitu US$ 400 juta untuk kepentingan militer dalam peluncuran satelit. Biaya untuk kepentingan sipil sedikit lebih murah 10-20% dari biaya tersebut.

 

Inilah yang dianggap buat SpaceX sebagai peluang besar karena keberhasilan mereka dalam proses reusable rocket buatan SpaceX. Sebagai catatan, proses uji coba reusable rocket mengalami banyak kegagalan yang pertama kali dimulai September 2013 hingga akhirnya berhasil pada Desember 2015.

 

Ada puluhan roket yang gagal dan meledak dan jutaan dolar melayang. Tapi SpaceX menganggap ini sebagai arah baru dalam dunia antariksa, kegagalan mereka akan berakhir manis di masa depan. Hingga akhirnya kini reusable rocket dianggap sebagai model baru dalam peluncuran roket.

 

Hadirnya reusable rocket dari SpaceX ternyata memberikan warna baru dan tentu saja menekan harga. Bahkan pemerintah USA bisa merasakan perbedaan yang mana sebelumnya tender mereka dipegang oleh The United Launch Alliance biayanya buat peluncuran satelit militer memakan biaya US$ 400 juta. Tetapi SpaceX bisa menekannya hingga US$ 40 juta saja.

 

Mengapa bisa semurah itu? Pertama karena reusable rocket dan kedua tentu saja semua komponen mereka yang buat. Jadi biaya ditekan hingga 85% lebih murah, berarti akan ada banyak peluncuran roket dan tentu saja tender. Siapa yang tidak tertarik dan bahkan negara ketiga menjadikan jasa SpaceX sebagai prioritas utama.

 

Jangan heran SpaceX namanya melambung tinggi karena berbagai kesuksesan tersebut. Bahkan NASA memberikan data dan akses antariksa mereka pada SpaceX. Bisa dibilang meringankan operasional NASA yang lebih fokus dalam riset Universe termasuk proyek Artemis ke Bulan sedangkan SpaceX sebagai jasa angkutan luar angkasa. 

Beberapa waktu lalu SpaceX bisa dibilang mendapatkan tender menarik dari pemerintah USA khususnya dalam memberangkat manusia dan berbagai keperluan para astronaut di stasiun ISS. Nilainya mencapai US$1,6 miliar dan akan ada banyak kontak jumbo yang menyusul.

 

Terbaru adalah pengembangan kapsul baru untuk membawa astronaut, dalam kontrak ini SpaceX dibayar US$ 3,1 miliar dalam pengembangan kapsul yang kini kita mengenalnya dengan Crew Dragons Capsul. Bahkan SpaceX dibayar lagi bila berhasil menerbangkan setiap satu astronaut yaitu US$ 55 juta. Menggiurkan sekali bukan?

 

Proyek ambisius lainnya yang dilakukan oleh SpaceX adalah Starlink, tugas utama dari proyek ambisius ini adalah pengadaan internet ke seluruh dunia. Selama ini akses internet yang kita dapatkan dari kabel serat optik yang ditransmisikan pada BTS terdekat.

 

Namun kini SpaceX menawarkan sesuatu yang beda yaitu internet melalui satelit dengan kecepatan yang lebih cepat dan lebih murah. Bahkan menjangkau wilayah paling terpencil yang dulunya sulit dijangkau oleh akses teknologi. Pada konsepnya ada sebanyak 4.425 satelit yang akan terhubung dengan konstelasi broadband dari Starlink dan hingga satu juta stasiun bumi satelit tetap dalam mengakomodir internet.

 

Kecepatan yang ditawarkan tidak main-main, salah satunya bisa bermain game hingga resolusi 4K. Itu artinya cukup cepat dan bersaing dengan internet yang dibumi. Jumlahnya cukup banyak di orbit membuat persebaran latency internet jadi lebih rendah dan tentu saja merata.

 

Bisa dibilang ini merupakan ide yang menarik para investor, apalagi menawarkan harga yang murah dan dianggap salah satu ide SpaceX yang menghasilkan banyak uang. Satu ide yang paling gila dan makin dekat terwujud adalah perjalanan ke luar angkasa bahkan mewujudkan mimpi Mars Oasis dalam waktu dekat.

 

Mimpi Berwisata ke Luar Angkasa di Depan Mata

Mungkin bagi sebagian orang, perjalanan ke luar angkasa adalah mimpi yang fana termasuk Elon Musk sendiri. Namun perlahan-lahan dengan hadirnya SpaceX seakan mimpi itu makin dekat. Dunia antariksa bukan semata-mata kaitannya dengan militer dan hanya orang tertentu yang bisa mengaksesnya.

 

Tapi kini semua orang bisa mengaksesnya, bahkan SpaceX akan menciptakan wahana khusus bertamasya ke luar angkasa. Apakah itu mengitari orbit bumi, menjelajah bulan, hingga paling fenomenal adalah menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki ke Mars.

 

Antrean dari orang berduit dan ingin merasakan sensasi tersebut seakan bukan isapan jempol belaka. Nyatanya ada begitu banyak orang yang ingin terlibat dalam perjalanan luar angkasa. Mungkin diawali dengan misi mengitari orbit bumi yang akan dimulai 2022, lalu menjelajah bulan di tahun berikutnya dan tentu saja eksplorasi ke Mars tahun 2025.

 

Sudah ada roket khusus yang siapkan untuk berbagai keperluan, terkait urusan akomodasi dan wahana peluncur roket komersial reusable. SpaceX mengandalkan sangat mengandalkan Falcon yang kini sudah sampai pada generasi 9.

 

Tahun ini tepatnya 30 Mei 2020, SpaceX berhasil melakukan loncatan besar dari roket mereka Falcon 9. Berhasil membawa selamat dua astronaut NASA yaitu Doug Hurley dan Bob Behnken di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Kedua astronaut tersebut ditempatkan di kapsul Crew Dragon dan bisa dibilang ini jadi tonggak sejarah buat SpaceX.

 

Buat yang masih bingung, kapsul Crew Dragon dianggap lebih futuristik dalam hal interiornya. Berbagai proses pengaktifan tidak lagi memerlukan tombol fisik, semuanya sudah berupa layar sentuh berukuran besar. Termasuk juga desain baju astronaut yang lebih modis dan lebih ergonomis digunakan.

 

Konsep yang digunakan dari kapsul Crew Dragon juga relatif aman andai saja ada gangguan pada roket tidak membahaya astronaut yang ada di dalamnya. Letaknya beragam di moncong dan menyerupai kapsul era Apollo buatan NASA.

 

Sebelumnya seri roket Falcon sudah terlebih dahulu meluncurkan Falcon Heavy yang berhasil membawa wahana yang tak terduga yaitu Mobil Tesla Roadster di tahun 2018 beserta robot manusia di dalam setir kemudinya. Mobil tersebut dibawa menuju objek matahari dan uniknya adalah pada bagian mobil tertulis: Made in Human.

 

Kini misi lanjutan berlanjut yaitu ambisi siap menerbangkan empat orang turis ke antariksa pada akhir 2021. Walaupun menurut saya bisa molor karena ada masalah teknis, tapi itu semua bisa terjadi dalam waktu dekat.

 

Perjalanan ke luar angkasa ini dipatok harga US$52 juta per orang. Menurut rencana, turis akan diterbangkan dengan pesawat ruang angkasa buatan Rusia dari Pelabuhan Antariksa Cape Canaveral, Florida, AS. Empat orang turis yang terpilih nanti akan menjalani pelatihan selama beberapa minggu.

 

Misi luar biasa ini disebut akan berlangsung selama lima hari. Berbeda dengan misi NASA yang memungkinkan turis tinggal di ISS, penerbangan SpaceX ini hanya akan membawa turis mengorbit mengelilingi Bumi dan setelahnya kembali mendarat ke bumi.

 

Harganya memang sangat mahal, tapi itu masih peluncuran perdana dan hanya orang beruntung yang bisa menjadi orang pertama. Meskipun begitu, harga tersebut akan turun bila ada banyak peminat dan ada banyak roket yang tersedia.

 

Merakit Wahana Khusus Menjelajah Mars

Pergi ke Mars tidak semudah menerbangkan astronaut ke ISS atau bahkan perjalanan keliling orbit bumi. Bisa dibilang ini tantangan besar bukan hanya SpaceX tapi NASA, pergi ke sana sangat jauh dan ada banyak tantangan.

Untuk membawa robot saja ke sana, NASA mengucurkan banyak dana dan butuh waktu berbulan-bulan hingga akhirnya mendarat. Sedangkan kini, Mars Oasis Proyek SpaceX ingin mendaratkan manusia dalam jumlah besar. Pada percobaan pertama mereka ingin menerbangkan hingga 100 penumpang ke planet merah.

 

Sudah jauh, biaya mahal, dan yang harus diberangkatkan adalah manusia. Kendala terbesar adalah roket, jumlah sebanyak ini pastinya butuh ukuran pesawat ukuran besar. Bahan bakarnya pun harus efisien dengan mengandalkan banyak sumber daya.

 

Namun dengan ambisi besar dan berbagai percobaan yang SpaceX sudah lewati, menciptakan wahana berukuran besar yang cepat dan aman bisa terwujud. Itu semua tinggal menunggu waktu karena rancangan itu sudah hadir melalui wahana Starship dan Super Heavy Roket.

 

Konsepnya adalah perjalanan ke planet merah memang rumit, tapi saya mencoba menjelaskan secara detail dari mekanisme kerja wahana yang membawa manusia pertama ke sana. SpaceX sedang mengembangkan wahana roket yang mereka beri nama Starship.

Baca juga: Starship, We are coming Mars 

Hanya saja sebelum roket itu benaran jadi, lahirlah Starhopper. Ia menjadi prototype yang diuji oleh SpaceX. Ada banyak pengujian yang dilakukan terhadap Starhopper, mulai dari uji terbang, uji kecepatan hingga uji pendaratan. Saat ini sedang diuji dan hasilnya cukup positif, sampai pada tahap pengembangan Starship.

 

Buat yang belum tahu, Starship terbagi atas dua bagian besar yaitu bagian utama yang mengangkut penumpang bernama Starship dan Roket pendorong yang SpaceX sebut: Super Heavy Roket. Kedua bagian tersebut bisa sifatnya bisa digunakan ulang untuk proses penjelajahan lanjutan. Serupa dengan konsep roket sebelumnya buatan SpaceX: Series Falcon.

 

Ukuran dari Starship bisa dikatakan roket terbesar yang manusia pernah buat untuk eksplorasi. Starship setinggi 50 meter dengan diameter 9 meter dan dilengkapi dengan 6 mesin generasi Raptor tercanggih  generasi ke-6 diperkirakan mampu membawa 100 orang penumpang.

 

Belum lagi ditambah dengan roket pendorong dari Super Heavy Rocket yang punya panjang hingga 70 meter dan diameter hingga 9 meter. Starship nantinya akan terlepas dari roket Super Heavy setelah sampai di ruang angkasa.

 

Starship akan menempuh perjalanan dengan kecepatan lebih dari 40 ribu kilometer per jam selama enam bulan sebelum menyentuh permukaan Planet merah. Namun SpaceX mengklaim waktu tersebut bisa dipersingkat menjadi dua bulan saja. Itu semua coba dimatangkan dan mencari titik koordinat terdekat Bumi dengan Mars sehingga jarak bisa dipangkas.

 

Bagaimana Mekanisme Mengeksplorasi dan Mendarat ke Mars?

Misi bisa mengeksplorasi Mars tinggal di depan mata, setelah proses merakit wahana selesai. Masalah yang harus dihadapi adalah proses mendarat di sana, selain jarak tempuh yang cukup jauh. Masalah datang saat proses pendaratan yang tidak bisa mengandalkan parasut.

 

Sebagai informasi, atmosfer di Mars sangat tipis dibandingkan planet lainnya di tata surya. Ini membuat parasut tidak bisa bekerja optimal. Apalagi dalam proses pendaratan melibatkan begitu banyak manusia di dalamnya. Salah sedikit saja ada begitu banyak korban yang jatuh, makanya butuh persiapan sangat matang.

 

Namun tak perlu khawatir, SpaceX sudah mempertimbangkan berbagai hal dan ada begitu banyak uji coba yang dilakukan. Paling sering dilakukan SpaceX adalah uji coba ini dinamakan static fire. Prosesnya dengan mesin roket dinyalakan dengan kondisi roket tetap di darat dan beberapa percobaan darat.

 

Roket Starship akan melakukan manuver belly flop (manuver memutar balikan badan roket) untuk memperlambat kecepatan selama pendaratan dalam beberapa menit lalu mesin roket akan dinyalakan kembali, yang akan membuat roket mendarat dengan posisi ke atas. Cara ini yang paling masuk akal dan aman, termasuk dalam mengatasi kecilnya tekanan atmosfer di Mars.

 

Selama dua tahun terakhir ada begitu banyak uji coba yang dilakukan SpaceX dalam proses pendaratan. Pertama kali adalah proses pengujian Starhopper melakukan uji terbang sebanyak tiga kali di tahun 2019. Mulai dari jarak terbang 1 meter, 20 meter, dan 150 meter dengan durasi waktu terlama adalah 59 detik.

 

Di tahun 2020 dilakukan proses pengujian terbang SN5 dan SN6 sejauh 150 meter selama 45 detik dan mendarat secara vertikal. Paling fenomenal tentu saja pada 9 Desember lalu dengan ukuran roket lebih besar yaitu Starship SN8. Melakukan uji terbang sejauh 12,5 km dengan durasi 6 menit 42 detik dan melakukan pendaratan belly flop.

 

Proses ini dianggap berhasil meskipun prototype dari Starship SN8 harus meledak saat mendarat karena masalah bahan bakar. Namun ini dianggap langkah besar buat SpaceX, mereka bisa mendapatkan data untuk pengembangan lebih lanjut.

 

Akan ada begitu banyak uji coba serupa yang akan dilakukan selama 5 tahun ke depan, sampai pada akhirnya Starship sebenarnya berhasil menjalankan misinya. Mengeksplorasikan Mars beserta awak penumpang yang menjadi manusia pertama dalam misi kolonisasi Mars.

 

Persiapan Penting Sebelum Mendaratkan Manusia ke Mars

Menciptakan pesawat saja tidaklah cukup, ada begitu banyak tahapan yang harus dilalui SpaceX. Bahkan bila Anda menonton video tentang proses persiapan yang tergolong rumit namun masuk akal. Pendaratan ke Mars bukan hanya sebatas kunjungan singkat seperti pendaratan manusia ke Bulan. Namun bisa dibilang menciptakan koloni baru di sana.

 

Pengiriman manusia bisa dianggap setelah proses berbagai akses penting berhasil dilakukan. Pertama sekali SpaceX harus terlebih dahulu mengirimkan roket kargo yang berguna menyediakan air dan listrik. SpaceX berencana mengirim terlebih dahulu BFR  tak berawak dalam pemenuhan tersebut.

 

Di dalam peralatan kargo yang dikirim, sudah pasti berupa alat penting seperti sejumlah panel surya dan alat tambang selama di Mars. Untuk alat tambang sendiri dianggap punya peran sentral sebagai cikal bakal pabrik propelan yang berguna untuk memproses pasokan CO2 dan air yang ditemukan di Mars.

 

Prosesnya menggunakan Sabatier untuk membuat Oksigen dan Metana yang kemudian dicairkan. Termasuk menjadi bahan baku yang bisa digunakan para astronaut untuk kembali ke bumi. Bila tahapan ini berhasil, saat itulah mengirimkan manusia ke Mars dimulai.

 Baca juga: Mengapa Manusi Berambisi Menginvasi Mars?

Tetapi tunggu dulu, dalam proses pengiriman membutuhkan banyak kargo, SpaceX menargetkan 4 kapal kargo yang mana terdiri dua untuk logistik dan dua lainnya untuk para astronaut. Mereka yang pertama kali tiba tidaklah sebanyak asumsi awal yaitu 100 penumpang. Namun hanya beberapa astronaut saja, tujuannya adalah menyiapkan basis tempat tinggal.

 

Bentuk basisnya belum jelas, apakah di atas tanah atau di bawah tanah. Apalagi mempertimbangkan berbagai hal seperti badai, radiasi intens hingga cuaca ekstrem di Mars. Elon Musk selaku CEO SpaceX juga punya perusahaan lainnya yakni Boring Company yang terpercaya dalam proses penggalian terowongan dan bisa membantu membuat koloni di Mars.

 

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana cara mendapatkan pasokan makanan selama di sana?

Pertama dengan menggunakan makanan vakum seperti yang sudah biasa digunakan astronaut di ISS. Sampai pada waktunya menciptakan lahan pertanian dalam rumah kaca sendiri di Mars. Ini akan menambah pasokan makanan tambahan selama di sana.

 

Masalah lainnya penyediaan wahana eksplorasi untuk menjelajah Mars. Kendaraan tersebut bisa mengangkut banyak astronaut, bentuknya berbeda dengan wahana saat menjelajah Bulan. Namun punya versi tertutup (kabin) dan bisa memuat banyak orang dekat rute lebih jauh.

 

Itulah mekanisme yang SpaceX lakukan dalam proses eksplorasi dan kolonisasi di Mars. Semuanya berawal dari ide gila menciptakan startup teknologi berbasis antariksa. Namun kini startup teknologi ini menjadi berharga, termasuk semakin dekat dengan mimpi menciptakan koloni di Mars.

 

Tinggal menunggu waktu manusia menciptakan sejarah baru di dunia antariksa, sekaligus membuktikan bahwa dunia antariksa sudah berkembang jauh sejak 50 tahun pendaratan manusia bulan pertama sekali. Kini SpaceX sudah berhasil membuktikannya dan semua menunggu setiap kejutan dari mereka.

 

Semoga tulisan ini menginspirasi Anda semua mengenai dunia antariksa, akhir kata: Have a Nice Days.

Share:

1 comment:

  1. Hastagaaah lu anak muda nulis tentang mars aja panjang beud kaya gini. Salut gue mah

    ReplyDelete

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer