Friday, May 14, 2021

Mengapa Manusia Rela Pergi Jauh Menginvasi Mars?

Melintasi lautan Atlantik yang ganas dan dingin dilakukan oleh Christopher Columbus di abad 15. Di bawah bendera Spanyol mendaratkan kaki ke sebuah daratan baru yang terpisah oleh jauhnya Samudra luas.  Hingga akhirnya rombongan berhasil mendarat di sebuah kepulauan di Karibia, Columbus menamai ini sebagai penemuan dunia baru.

 

Beberapa abad kemudian, pada akhir abad 17 sebuah benua baru ditemukan oleh salah seorang pelaut Inggris bernama James Cook. Dilanjutkan beberapa tahun kemudian dengan berhasil ditemukannya Benua terakhir yaitu Antartika oleh Edward Bransfield.

 

“Artinya sebelum memasuki abad ke 18, manusia sudah berhasil menemukan semua benua yang sebelum itu tidak terjamah oleh manusia. Hanya ditinggali oleh masyarakat pribumi dan satwa, penemuan kecil itu nyatanya berdampak pada manusia dan tentu saja perpindahan penduduk di masa depan”.

 

Mungkin sejak dulu kita mengenal peradaban kuno sudah ada di 3 benua di dunia, mulai dari Asia, Afrika, dan Eropa. Sedangkan 4 benua lainnya sangat minim akan peradaban dan baru terekspos saat manusia melakukan perjalanan mencari benua baru.

 

Bila saja  para pelaut dan pedagang hanya fokus ketiga benua tersebut, mungkin saja kini peradaban dan persebaran manusia masih sangat terbatas. Keberanian dan keingintahuan manusia seakan membuat daratan baru ditemukan. Bahkan melawan batas manusia yang dulunya masih sangat minim akan kemampuan dalam pelayaran.

Namun segala masalah itu berhasil dipecahkan, dari membuat kapal yang kuat, pasokan makanan yang cukup, kru kapal yang andal hingga petaan lokasi yang selama ini membuat mereka penasaran. Saat rute sudah berhasil ditemukan, kini cara baru dilakukan yaitu melakukan proses invasi dan eksplorasi.

 

Rasa Ingin Tahu Manusia pada Tempat Baru dan Asing

Sejak dulu manusia suka mengembara, mencari lokasi baru dengan berbagai tujuan. Bisa saja menghindari konflik, menciptakan koloni baru, memperluas ekspansi hingga mencari tempat hidup yang layak. Pengalaman tersebut membuat persebaran bisa merata ke seluruh dunia.

Awal mulanya hanya bermodalkan hewan ternak, namun seiring perkembangan teknologi. Kapal berhasil diciptakan dan bahkan membuat manusia bisa menjelajah tempat jauh yang tak terjamah. Itu ditambah dengan teknologi membaca bintang, mengetahui arah angin dan tentu saja pasokan makanan hingga bisa sampai ke dunia baru.

 

Pengalaman masa lalu itu coba dilakukan kembali di era modern, bermula dari perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Gengsi perang secara langsung tidaklah berlangsung namun hanya sebatas perang dingin antara kedua blok.

 

Dampaknya ke berbagai sektor unggulan termasuk menjelajah luar angkasa, di kubu Blok Barat Amerika memulai gebrakan dengan NASA sedangkan Uni Soviet dengan RosCosmos memulai aksi dan misi luar angkasa. 

Di awal gebrakannya, RosCosmos seakan menang dalam banyak hal, ada banyak pencapaian kosmonot mereka Seperti keberhasilan Yuri Gagarin yang berhasil menjelajah luar angkasa dan mengitari bumi. RosCosmos memang kala itu sangat dominan ditambah kekuatan komunis yang sangat kuat di UniSovyet.

 

Pencapaian ini membuat Amerika panas dan memulai proyek yang lebih prestisius yaitu menjelajah Bulan. Saat itulah dana riset dialihkan begitu banyak dalam misi luar angkasa, itu karena dianggap sesuatu yang baru dan bisa merevolusi umat manusia.

 

Selain itu RosCosmos punya misi yang cukup gila kala itu dengan mendaratkan wahana di Planet lain, planet terdekat yang jadi pilihan tersebut jatuh pada Venus. Misi ini dianggap luar biasa karena kala itu manusia baru bisa mendaratkan diri di sebuah satelit berupa Bulan.

 

Sedangkan UniSoviet terlebih dahulu dengan mencoba ke wahana lainnya berupa planet Venus. Saat itu berbekal dengan informasi yang sangat sedikit dan Venus dianggap cukup dengan Bumi. Soviet sendiri menamai misi tersebut dengan sebutan Venera. Misi berlangsung dari awal tahun 60-an hingga pertengahan tahun 80-an.

Bisa dianggap Soviet berhasil dengan berhasil mendaratkan sejumlah Probe di sana dan mengambil foto permukaan dari Venus. Memang kita ketahui Venus punya permukaan yang sangat tidak bersahabat dengan manusia. Suhunya rata-ratanya saja bisa mencapai 471 derajat celcius, sangat jauh dari kata ideal.

 

Hingga akhirnya Mars tiba dikemudian hari. Apalagi suhu di Equator di kisaran 20 derajat celsius. Masih berada di taraf normal layaknya bumi. Berbeda jauh dengan bulan yang punya perbedaan suhu sangat signifikan antara siang dan malam hingga 300 derajat celcius, sudah pasti astronaut akan kesulitan hidup atau membuat koloni di sana.

 

Kemudian Mars berputar dengan kecepatan yang hampir sama dengan bumi. 1 harinya lebih dari 24 jam, tentu ini lebih baik jika dibandingkan bulan yang 1 harinya sama dengan 28 hari bumi. Selanjutnya ialah atmosfer dari Mars yang masih ada meskipun tipis, beda dengan bulan yang tidak memiliki atmosfer sedikit pun. 

Terakhir adalah massa dan gravitasi yang sangat lemah di bulan, sehingga manusia punya massa yang sangat rendah di sana. Bahkan ¼ dari di bumi, sedangkan Mars punya massa berat dari di bumi. Gravitasi yang baik bisa membuat manusia bisa beraktivitas dengan normal termasuk masa tulang astronaut yang aman bila tinggal lama di sana.

 

Mimpi Besar Membangun Koloni di Mars

Mimpi mengarungi Mars telah ada sejak dulu bahkan sejak era 60-an. Kala itu manusia mengirimkan sejumlah wahana yang menyelidiki tentang Planet Merah tersebut. Awal mulanya ada dengan mencoba melintasi orbit Mars, Mariner 9 milik NASA berhasil melakukan tugas dan mengirimkan data ke bumi.

 

Meskipun begitu, wahana pertama yang mendarat di Mars adalah dua Probe milik Uni Soviet yang mereka beri nama Mars 2 dan Mars 3 tepatnya pada tahun 1971. Setelahnya makin banyak wahana yang sampai ke sana hingga saat ini.

 

Meskipun sangat sering mengorbit dan bahkan mendaratkan wahana di sana, Namun hanya separuh dari misi yang berhasil. Total ada lebih 60 misi yang sudah mendarat ke sana terhitung hingga tahun 2020, namun makin ke sini, jumlah keberhasilan meningkat. Manusia sudah tahu cara mengukur pendaratan wahana ke sana termasuk mengirimkan teknologi mutakhir.

Dalam waktu dekat, para lembaga antariksa ingin mengirimkan manusia ke sana, apalagi survei yang dilakukan di Mars sudah dirasa cukup. Setidaknya paling cepat di tahun 2026 misi ini akan terwujud melalui perusahaan swasta SpaceX.

 

Berbagai percobaan rutin dilakukan, tujuannya adalah menciptakan roket yang layak membawa manusia ke sana. Proses uji coba rutin dilakukan oleh SpaceX sehingga bisa dibilang tanpa halangan apa pun, di dekade ini manusia bisa menginjakkan kaki ke Mars.

 

Wahana raksasa yang sedang dipersiapkan sejak sekarang adalah Starship. Punya ukuran yang cukup besar hingga 122 Meter dan mampu mengangkut para Astronaut yang nantinya akan menginjakkan kaki di Mars. 

Baca Juga: Starship: We are coming, Mars

Di dalamnya juga termasuk proses pendaratan tak biasa yang menggunakan konsep Belly Flop (manuver membalikkan badan roket) saat tiba di Mars. 

Apalagi sebelumnya ada sejumlah Rover canggih yang terlebih dahulu dikirim ke sana. Mulai dari Curiocity dan dilanjutkan dengan Perseverance. Tujuannya adalah meneliti kandungan air, kehidupan mikroorganisme hingga batuan di Mars. Nantinya akan dikirimkan pada misi selanjutnya, sebagai bekal ilmu pengetahuan dan kolonisasi Mars.

 

Kendala Terbesar Manusia dalam Eksplorasi Mars

Menciptakan pesawat saja tidaklah cukup, ada begitu banyak tahapan yang harus dilalui SpaceX. Bahkan bila Anda menonton video tentang proses persiapan yang tergolong rumit namun masuk akal. Pendaratan ke Mars bukan hanya sebatas kunjungan singkat seperti pendaratan manusia ke Bulan. Namun bisa dibilang menciptakan koloni baru di sana.

Pengiriman manusia bisa dianggap setelah proses berbagai akses penting berhasil dilakukan. Pertama sekali SpaceX harus terlebih dahulu mengirimkan roket kargo yang berguna menyediakan air dan listrik. SpaceX berencana mengirim terlebih dahulu BFR  tak berawak dalam pemenuhan tersebut.

 Baca juga: SpaceX: Cara Merakit Roket ke Mars

Di dalam peralatan kargo yang dikirim, sudah pasti berupa alat penting seperti sejumlah panel surya dan alat tambang selama di Mars. Untuk alat tambang sendiri dianggap punya peran sentral sebagai cikal bakal pabrik propelan yang berguna untuk memproses pasokan CO2 dan air yang ditemukan di Mars.

Prosesnya menggunakan Sabatier untuk membuat Oksigen dan Metana yang kemudian dicairkan. Termasuk menjadi bahan baku yang bisa digunakan para astronaut untuk kembali ke bumi. Bila tahapan ini berhasil, saat itulah mengirimkan manusia ke Mars dimulai.

 

Tetapi tunggu dulu, dalam proses pengiriman membutuhkan banyak kargo, SpaceX menargetkan 4 kapal kargo yang mana terdiri dua untuk logistik dan dua lainnya untuk para astronaut. Mereka yang pertama kali tiba tidaklah sebanyak asumsi awal yaitu 100 penumpang. Namun hanya beberapa astronaut saja, tujuannya adalah menyiapkan basis tempat tinggal.

 

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana cara mendapatkan pasokan makanan selama di sana?

Di dunia antariksawan, konsep makanan yang akan dikonsumsi oleh astronaut berupa makanan vakum seperti yang sudah biasa digunakan astronaut di ISS. Makanan ini akan banyak dibawa sebagai persediaan selama di sana, sampai pada waktunya menciptakan lahan pertanian dalam rumah kaca sendiri di Mars.

Masalah lainnya penyediaan wahana eksplorasi untuk menjelajah Mars. Kendaraan tersebut bisa mengangkut banyak astronaut, bentuknya berbeda dengan wahana saat menjelajah Bulan. Namun punya versi tertutup (kabin) dan bisa memuat banyak orang dekat rute lebih jauh. Apalagi suhu di Mars sangat dingin dan sering terjadi badai, kendaraan tertutup bisa melindungi para astronaut.

 

Itu belum lagi kondisi Mars yang sangat berbeda dengan bumi terutama sekali medan magnet yang dimilikinya. Sebagai perbandingan, Bumi mampu memantulkan partikel berbahaya yang sebagian besar adalah angin matahari. Itu berupa arus partikel bermuatan dari matahari yang mampu mengionisasi lapisan atmosfer bumi sehingga semua makhluk hidup tetap aman.

 

Faktor utama adalah kurangnya magnetosfer dan tipisnya atmosfer jadi sebuah tantangan. Berbeda dengan bumi, di permukaan planet ini tidak banyak terjadi perpindahan panas layaknya Bumi. Penyekatan terhadap angin surya pun sangat rendah, sementara tekanan atmosfer Mars tidak cukup untuk mempertahankan air dalam bentuk cair.

 

Akibat tipisnya magnetosfer dari atmosfer di Planet Mars, membuat air akan langsung menguap. Itu belum lagi paparan radiasi yang menembus Mars dalam jumlah besar. Ini bisa mengakibatkan risiko kanker, kerusakan genetik hingga kematian. 

Meskipun ada kandungan air di Mars, tapi itu jauh lebih sedikit daripada di Bumi dan alih-alih cair, ternyata air di Mars itu adalah es. Atmosfer Mars hanya rata-rata 0,63 kpa.  Ini membuat air tidak dapat bertahan di permukaan Mars, karena tekanan atmosfernya yang sangat rendah.

 

Itu membuat es yang membeku di sejumlah cekungan yang ada di Mars, menurut prediksi es yang membeku mengandung garam. Untuk bisa mengambil air yang ada di dalam perut Mars butuh banyak karbon, beda dengan di Bumi yang butuh mengurangi karbon tapi di Mars hal itu dibutuhkan.

 

Alasannya karena Karbon yang banyak dihasilkan di Mars akan membuat lapisan atmosfer Mars menebal. Itu membuat suhu permukaan naik dan membuat kandungan air yang berupa es di lapisan Mars bisa muncul ke permukaan.

 

Memprediksi Kehidupan di Mars

Bagi yang menyukai film Sci-Fi, mungkin film Martian menjadi salah satu role model film luar angkasa terkhusus Mars paling realistik. Memang yang namanya film sudah pasti punya segudang ketidakakuratan dan berbagai bumbu cerita di dalamnya agar para penonton takjub.

 

Hal pertama yang cukup menarik saat, Mark Watney yang diperankan oleh Matt Damon yang menanam kentang untuk bisa bertahan hidup. Ia tertinggal dari para astronaut lainnya menyelamatkan dari badai di Mars. Alhasil ia mencoba menanam kentang bermodalkan ilmu pertanian yang ia pelajari selama di Bumi.

Secara tak langsung scene ini sangat menarik dan membuat ia bisa bertahan hidup. Apalagi ia melakukannya bukan di Bumi tapi di Mars. Tapi faktanya, tak semudah itu. Alasan pertama karena tanah di permukaan Mars mengandung zat berbahaya bernama Kalsium Perklorat dengan kadar 0,5-1% dengan PH tanah sebesar 7,7.

 

Harus kita ketahui. kadar tersebut sudah cukup untuk meracuni makhluk hidup apalagi buat menanam tanaman. Kandungan yang terlalu tinggi tersebut hanya dapat hidup pada tanaman tertentu dan kentang tidak masuk kriteria tersebut. Tumbuhan yang tahan akan kandungan Kalsium Perklorat tinggi hanyalah Eceng Gondok.

 

Di bumi saja, bila suatu ekosistem perairan sudah tercemar hebat, eceng gondok akan tumbuh subur hingga ia mampu menetralisir tanah. Bila saja tanah di Mars ingin bebas dari Kalsium Perklorat itu artinya dibutuhkan begitu banyak bibit eceng gondok.

 

Selain itu belum lagi kandungan air yang umumnya berupa garam beku yang berada di bawah permukaan tanah. Kandungan garam sudah pasti tidak bisa digunakan oleh manusia dan harus mengandalkan proses Sabatier untuk membuat Oksigen dan Metana yang kemudian dicairkan.

 

Banyaknya astronaut yang akan ke sana jelas metode ini tidaklah cukup, minimal manusia harus membuat rumah kaca yang menjadi sumber makanan dan air bersih selama di sana. Termasuk sumber bahan bakar yang nantinya menjadi modal kembali ke bumi.

 

Radiasi dan Kondisi Ekstrem di Mars

Bukan rahasia umum bahwa radiasi yang ada di luar angkasa jadi tantangan terbesar untuk bertahan hidup. Astronaut akan menghadapi beragam radiasi besar mulai dari sinar kosmik galaksi, partikel matahari, dan sabuk Van Allen. Efeknya bisa merusak susunan DNA dari para astronaut dalam sekejap saja dan mengubah bentuk seluler.

Itu masih dalam perjalanan, belum lagi saat tiba ke Mars yang tak kalah berbahaya. Namun pihak NASA dan SpaceX telah menyiapkan Shelter khusus yang menjadi pelindung para astronaut dari radiasi. Itu juga termasuk fielding untuk transportasi, kendaraan, habitat, dan pakaian antariksa yang sudah mutakhir.

 

Segala update ini dilakukan karena manusia akan hidup lama di Planet Mars, sudah pasti astronaut yang pertama tiba di sana harus diberikan perangkat terbaik untuk memulai misi berat dalam membangun koloni. Dalam rombongan pertama bisa dikatakan, para astronaut harus membangun semuanya dari nol.

 

Memangnya seberapa besar radiasi di Mars?

Untuk saat ini radiasi yang paling besar didapatkan adalah 22 millirad/hari atau 8 rad/tahunnya. Mereka yang merasakan radiasi sebesar ini adalah para astronaut yang menetap di ISS. Lalu nyatanya jumlah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan di Mars. Jumlahnya bisa 2,5 kali lebih besar hingga mencapai 60 millirad/hari. 

Sangat jauh dengan manusia yang rasakan saat tinggal di Bumi, karena manusia hanya terpapar radiasi sebesar 0,62/tahun atau hanya 2 millirad setiap harinya. Cara melawan radiasi adalah kemampuan dari baju astronaut yang cukup baik. Serta tempat berlindung yang aman dari terpaan radiasi selama bertugas di Mars.

 

Selanjutnya adalah urusan suhu di sana yang cukup ekstrem, bisa dikata Mars punya suhu di bawah titik minus. Rata-rata suhu Mars menyentuh angka -60°C, bila di Bumi suhu ini identik dengan suhu di Kutub Utara bumi. Sudah suhunya sangat dingin, Mars juga tak punya atmosfer yang menahan panas. Ini jadi tantangan berat setiba di sana.

Namun begitu, ada sejumlah lokasi di Mars yang punya suhu yang cukup normal yaitu yang berada di dekat Equator. Lokasi ini bisa dibilang cukup layak untuk manusia membangun koloni awal. Apalagi di lokasi ini suhunya bisa berada di 35°C kala siang hari dan jadi 0°C saat malam tiba.

 

Salah satu lokasi yang cocok tersebut adalah di  Hellas Planitia, yakni sebuah kawah raksasa dengan kedalaman 7,1 km dengan diameter 2.300 km. Didasar kawah tersebut tekanan atmosfer mencapai 1,15 kpa, yang mana tekanan tersebut mendukung syarat triple poin air. Sehingga koloni baru bisa dimulai dari sana, apalagi ilmuwan sudah memperkirakan banyak lokasi lainnya dan Hellas Planitia yang paling bagus.

Memang cukup ekstrem, namun begitu ini sudah lumayan baik dibandingkan dengan suhu Bulan yang bisa sangat dingin di malam hari dan sangat panas di siang hari. Perbedaan yang tidak terlalu signifikan ini masih dalam kata wajar karena ada sejumlah lokasi di Bumi yang punya perbedaan mencolok antara siang dan malam layaknya Mars.

 

Faktor lainnya adalah badai debu, mungkin scene film Martian bercerita mereka kabur ke orbit Mars untuk menyelamatkan diri karena datangnya badai besar di Planet Mars. Sehingga akhirnya membuat Mark Watney yang diperankan oleh Matt Damon harus tertinggal di Mars.

Memang benar adanya, badai di Mars sangatlah mengganggu terutama badai abu yang bisa berlangsung berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Itu belum lagi ditambah dengan rendahnya atmosfer sehingga membuat partikel debu di Mars yang terbang lama untuk turun.

Sudah pasti debu ini sangat menghambat pasokan cahaya dan proses fotosintesis andai para astronaut menciptakan lahan pertanian mengandalkan cahaya. Memang siklus badai di Mars terjadi dalam jangka waktu 5-6 tahun sekali, ini bisa diakali pada tahun tersebut untuk menyimpan pasokan makanan.

 

Terakhir adalah faktor Armstrong Limit sebagai batasan tubuh bertahan tanpa alat bantu. Rendahnya tekanan di luar angkasa jelas membuat manusia membutuhkan alat bantu berupa baju khusus astronaut. Di Mars punya batas Armstrong Limit sangat rendah yang mengharuskan baju khusus harus digunakan, bila tidak nyawa astronaut bisa terancam.

 

Menghadapi Tantangan yang Besar Eksplorasi Mars

Terkait segala tantangan akan hadapi dalam mengeksplorasi dan membangun koloni di Mars. Para ilmuwan seakan sudah mempertimbangkan semua hal itu. Awal mulanya ada membuat kendaraan yang bisa sampai ke sana, karena Mars punya jarak tempuh hingga 6 bulan perjalanan.

Salah satu perusahaan yang cukup getol melakukan misi tersebut adalah SpaceX. Malahan SpaceX tidak melangkah sendiri karena ada banyak lembaga riset negara hingga swasta yang bekerja sama agar misi tersebut berhasil.

 

Urusan melawan radiasi yang sangat berbahaya dari Planet Mars, para ilmuwan  telah menyiapkan Shelter khusus yang menjadi pelindung para astronaut dari radiasi. Semuanya sudah termasuk fielding untuk transportasi, kendaraan, habitat, dan pakaian antariksa yang sudah mutakhir.

 

Bahkan peralatan pekerja dalam membangun koloni baru, bisa dibilang astronaut yang tiba di sana bukanlah berlibur tapi khusus membangun koloni. Itu semua tujuannya adalah menciptakan 1 juta koloni sebelum 2050. Setiap rombongan yang tiba akan membantu proses pembuatan lokasi tinggal baru.

Alhasil bisa dibilang proyek ke Mars seakan mengejar waktu, bahkan ide gila Elon Musk yang ingin mendaratkan 1 juta manusia sebelum 2050 seakan tambah gila. Memang untuk sampai ke sana masih sangat sulit, namun dari segala persiapan yang dilakukan seakan jelas Mars jadi planet yang cukup layak huni dan berada di tata surya kita.

 

Jumlah manusia yang dibawa sebanyak itu membutuhkan begitu banyak roket, kapasitas roket yang terbatas tersebut hanya 100 astronaut. Itu artinya butuh 10 ribu roket agar misi tersebut berhasil termasuk yang kemudian kembali ke bumi untuk mengangkut rombongan selanjutnya.

 

Agar ke sana pun harus butuh waktu yang tepat, bentuk lintasan Mars yang berbentuk eclipse membuat jaraknya kadang sangat jauh dari Bumi bahkan hingga 400 juta km. Sedangkan jarak terdekat berada di 55 juta km dan terjadi 26 bulan sekali.

 

Artinya terhitung tahun 2025 hingga 2050 ada 12 kali waktu terdekat Bumi dan Mars. Bila ada 10 ribu penerbangan ke sana, itu Artinya ada 833 penerbangan setiap waktu terdekatnya, bila tidak target 1 juta manusia sebelum 2050 tidak bisa terwujud.

 

Urusan oksigen yang selama ini sulit didapatkan pun sudah berhasil dipecahkan yaitu dengan mengubah kandungan karbon dioksida yang ada di Mars menjadi oksigen yang dibutuhkan astronaut. Alat bantu itu disebut dengan nama MOXIE (Mars Oxygen ISRU Experiment).

Proses pengembangannya juga relatif lama dan diuji berulang kali, salah satunya yang dilakukan oleh Jet Propulsion Laboratory selaku pengembangnya. Konsep terlihat sederhana yaitu dengan cara memisahkan kandungan karbon dioksida (CO2) hingga akhirnya menghasilkan oksigen secara molekul yang dialirkan melalui SOXE (Solid Oxide Electrolyzer). Inilah yang dihirup astronaut selama di Mars.

 

Alat ini sudah pasti tersedia banyak karena minimnya oksigen di Atmosfer Mars. Malahan jumlah buangan rumah kaca yang selama ini bisa menaikkan suhu di Bumi. Namun beda di Mars karena zat ini sangat berguna khususnya menebalkan atmosfer Mars.

 

Teknik ini dikenal dengan istilah terraforming, proses penebalan atmosfer berguna untuk menaikkan suhu Mars jadi stabil di suhu 20°C. Saat ini suhu Mars masih di bawah 0°C, ada banyak cara gila yang dipikirkan. Mulai dari meledakkan bom nuklir, mengarahkan asteroid jatuh Mars dan berbagai skema lainnya.

Tujuannya adalah membuat atmosfer menebal karena panas yang dihasilkan sehingga bisa menghasilkan air dan gas terperangkap di Atmosfer Mars. Cara ini baru bisa digunakan saat manusia sudah benar-benar sampai ke sana dan memulai kehidupan baru.

 

Urusan stok energi selama di sana ada dua energi alternatif selama di sana. Pertama adalah dengan menggunakan panel surya yang dibawa astronaut bersama dengan perkenalan lainnya. Nantinya akan dipasang pada permukaan Mars sebagai stok energi berupa penerangan dan sebagainya.

 

Hanya saja panel surya tidak bisa bekerja sepenuhnya karena berbagai faktor salah satunya badai pasir setiap 3 sampai 5,5 tahun sekali di Mars. Opsi kedua adalah menggunakan perangkat energi bertenaga nuklir yang mampu memasok energi terbatas hingga energi dari Mars bisa didapatkan.

 

Urusan makanan dan pasokan oksigen berkelanjutan adalah dengan membangun BioDome, yaitu berupa rumah kaca yang mampu menghidupkan berbagai tumbuhan dan pasokan oksigen. Ukurannya sangat besar dengan mengandalkan sumber karbon dioksida dari Mars.

Memang segala tantangan itu punya kesulitan level tinggi, sama halnya dulu manusia mengarungi lautan luas untuk mendapatkan pulau hingga benua baru. Semua berawal dari rasa keingintahuan dan tentu saja terus belajar, proses ini membuat manusia bisa berkembang hidup di seluruh dunia.

 

Kini proses penjelajahan dilakukan dalam level tata surya yang jauh lebih sulit dan menantang. Bukanlah tantangan ombak kencang yang menerjang namun berbagai benda langit hingga radiasi mengintai selama perjalanan.

 

Namun manusia sadar bahwa rasa ingin tahu dan penjelajahan seakan membuat perjalanan itu mulai terlihat jelas di depan mata. Kini tinggal menunggu manusia pertama yang menjejakkan kaki ke Mars. Sama halnya dulu manusia menjejakkan kaki di pulau dan benua baru, untuk menciptakan kehidupan dan koloni baru.

 

Semoga tulisan ini menginspirasi kita semua dan akhir kata, Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer