Friday, June 11, 2021

Hari Lingkungan Sedunia, Solusi Cegah Karhutla dan Hentikan Pandemi

Bencana terjadi karena kita tidak menghormati alam. Kita tidak menghormati satwa atau makhluk lain yang juga tinggal di planet Bumi."


Akhir-akhirnya ini isu lingkungan kembali merangkak naik kembali, kasus yang menjadi persoalan pelik selain masalah pandemi dan ekonomi. Banyak negara mencoba mencari solusi di tengah krisis dengan mencari banyak cara, salah satunya mengeksploitasikan hasil alam.

 

Negara yang kaya akan alam memang diuntung pada suatu sisi, mereka punya segala. Bisa saja menjualnya, mengelolanya atau bahkan mengajak pihak lain bekerja sama dengan mereka. Hanya saja kadang mereka lupa atau bahkan kecolongan, hutan yang rusak itu artinya merusak begitu banyak ekosistem yang ada di dalamnya.

 

Perubahan lahan nyata memberikan dampak yang besar, dari sisi ekonomis tak sebanding dengan kerusakan di masa depan. Hutan ibarat pusat kehidupan yang memberikan banyak ruang hidup berbagai makhluk hidup di dalamnya. Hanya karena tawaran menggiurkan, banyak pihak bermain untuk bisa segera melakukan deforestasi hutan tanpa henti.

Bila tak ada cara menjegal, perlahan nilai daya hutan yang tinggi dikorbankan untuk kepentingan segelintir tanpa memikirkan aspek keberlangsungan hidup di dalamnya. Banyak negara membabat habis hutan lindung demi keuntungan besar dari industri pertanian.

 

Nyaris tak ada sisa untuk, taruhlah, dua atau tiga generasi mendatang. Salah satu negara tersebut adalah Indonesia, punya hutan yang sangat luas bahkan menjadi negara dengan hutan hujan tropis terluas di dunia setelah Brazil. Satu hal yang wajib dibanggakan namun juga menjadi miris karena banyak dari hutan yang beralih fungsi dalam waktu sekejap saja.

 

Jaga Bumi dalam Wujud Refleksi Hari Lingkungan Sedunia

Sejak awal peradaban manusia dimulai, saat itulah bumi mulai dieksploitasi secara terus-menerus. Bila dulunya manusia mengeksploitasi bumi hanya sebatas keperluan bertahan hidup. Namun di era modern bumi dieksploitasi untuk kebutuhan bisnis dalam sekala besar dan masif.

 

Efeknya terlihat dengan banyaknya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Bila dulunya kayu yang digunakan manusia hanya itu kebutuhan dapur saja. Kini hutan kayu dibabat habis untuk kebutuhan industri skala besar dan bahkan menghilangkan begitu banyak lahan buat satwa liar di dalamnya.

 

Proses mengubah lahan pun dilakukan dengan sangat ekstrem dalam hal menghemat biaya. Dibandingkan dengan proses menggunakan alat berat dalam pembukaan lahan. Para pembuka lahan dari sejumlah perusahaan kayu melakukan proses membakar hutan. Selain lebih cepat, proses ini lebih menghemat biaya terutama saat musim kemarau tiba.

 

Dampaknya pun bukan hanya mengganggu masyarakat sekitar tapi juga menjadi gangguan ke negara lainnya. Tiap tahunnya kita selalu mengekspor asap dari kebakaran ke sejumlah negara jiran. Langit yang berwarna biru menjadi kemerahan dari dampak kebakaran hutan. Itu terus berlangsung setiap tahun.

 

Di dalam asap kebakaran gambut yang terbakar setiap tahunnya membawa sampai 90 senyawa gas berbahaya buat paru-paru manusia. Misalnya saja Furan dan Hidrogen Sianida. Apalagi masa pandemi belum selesai, artinya masyarakat di daerah yang rentan kebakaran hutan menghadapi gangguan masalah pernapasan dari virus dan kebakaran hutan.

 

Maraknya berbagai permasalahan lingkungan itu tentu menjadi momok yang menakutkan bagi semua orang untuk keberlangsungan hidup yang akan datang. Terutama sekali mahalnya udara sehat yang dibutuhkan oleh banyak orang. Sedangkan bagi satwa, mereka kehilangan begitu banyak habitat yang telah berubah.

 

Segala kendala itu nyata membuat semua orang di dunia tergerak akan peduli terhadap lingkungan. Kerusakan lingkungan sudah terjadi sejak dulu, namun di era modern terasa sangat besar. Inilah yang membuat lahirnya hari khusus terhadap lingkungan.

 

Bermula dari deklarasi Stockholm pada 05 Juni 1972 seakan jadi awal motor penggerak. Organisasi terbesar dunia yaitu PBB sebelumnya tidak terlalu tertarik dengan masalah lingkungan. Namun sejak itulah soal lingkungan besar dibahas dan kadang menjadi agen wajib dalam pertemuan banyak negara dunia.

 

Misalnya saja di tahun 2021 ini tema baru kembali diangkat, terutama merestorasikan lingkungan hidup yang mulai rusak. Setiap tahunnya ada negara yang menjadi tuan rumah agen wajib hari lingkungan. Pakistan pun bersedia menjadi tuan rumah yang diadakan di salah satu lokasi Jinnah Convention Center.

Dalam acara tersebut dilakukan proses penyelesaian 1 miliar pohon yang menjadi bagian dalam 10 miliar pohon dan tentu saja pengumuman inovasi terkait dengan flotasi obligasi hijau. Pakistan pun jadi negara pertama yang mendapatkan jaminan tersebut.

 

Kemudian ada yang bertanya, Flotasi Obligas hijau itu apa?

Itu sejenis surat berharga jaminan akan dana yang digunakan untuk membiayai atau memperbaiku ulang kegiatan usaha terkait lingkungan. Tujuannya adalah melindungi, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas dari lingkungan hidup sekitar yang pernah rusak.

 

Indonesia mungkin ke depan bisa mendapatkan hal tersebut karena banyak hutan yang rusak dan bisa dijamin dananya sehingga bisa diperbaiki dan mendatangkan nilai ekonomis di dalamnya. Apalagi PBB yang menjamin dana tersebut ke pada negara tuan rumah, menarik bukan!.

 

Kembali ke topik lagi, kala pandemi tiba, manusia lebih banyak berdiam diri di dalam rumah. Cara ini nyatanya bisa membuat alam memperbaiki dirinya setelah tidak pernah rehat dari ulah manusia. Waktu yang cukup panjang hingga mulai kembali bergeliat di tahun ini, bisa dibilang tahun lalu adalah masa memperbaiki diri sang alam.

 

Mungkin hanya pada saat Flu Spanyol 1 abad silam yang membuat manusia mengisolasikan diri mereka. Setelah itu manusia bisa melakukan apa pun, tak ada pandemi sebesar Covid-19 yang membuat kembali mengisolasi diri sehingga mengurangi aksi merusak hutan.

 

Tanggal 05 Juni jadi cara dunia merefleksi itu semua, Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dicanangkan PBB kini menjadi hari wajib akan kesadaran semua orang akan lingkungan. Selain itu bukti bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Menjaganya berarti menjaga kelangsungan hidup manusia jadi lebih panjang.

 

Lalu banyak yang bertanya mengapa tanggal 05 Juni yang dipilih?

Jawabannya karena tanggal tersebut sudah masuk pada awal musim panas. Waktu yang sering terjadi perubahan cuaca di sejumlah negara. Untuk di negara tropis waktu ini krusial karena sering terjadi kebakaran hutan karena minimnya curah hujan dan tingginya intensitas panas.

 

Artinya ini jadi pertanda bahwa kita bisa mewanti-wanti dari efek perubahan iklim saat pergantian musim. Apalagi di musim kemarau sangat identik dengan kekeringan, kebakaran hutan, gagal panen hingga polusi udara dari kebakaran hutan.

 

Momen yang hadir di awal bulan tersebut jadi pertanda manusia dalam mencegah sebelum puncak musim kemarau tiba. Ibarat istilah sedia air sebelum lahan gambut terbakar hebat!.

 

Gathering sekaligus Mengetahui Efek Karhutla dan Pandemi

Bila tingkat negara peduli sudah melakukannya, kini giliran kita dalam mewujudkan di dunia maya. Kampanye ini melibatkan banyak elemen terutama sekali dalam menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

 

Pastinya ini even global yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1972 dan menjadi agenda rutin mengampanyekan peduli pada dunia. Konsepnya adalah Gathering Online yang melibatkan banyak Blogger Nasional dengan Tajuk: Environment Day Gathering dengan judul :Cegah Karhutla, Cegah Pandemi yang berlangsung Pada 04 Juni 2021 silam.

 

Para Blogger tidak sendirian dalam kampanye ini karena mengajak kolaborasi para eksper di bidang lingkungan dan medis yang tahu banyak mengenai kerusakan hutan dan hubungan dengan pandemi.

 

Selama ini jarang membahas masalah tersebut karena dianggap penyebab kerusakan hutan akibat ulah manusia sedangkan pandemi karena satwa yang termakan atau terkontaminasi dengan manusia. Nyatanya kerusakan hutan membuat satwa liar makin dekat dengan manusia akibat rusaknya habitatnya.

 

Ada dua sisi yang ditonjolkan dalam kasus tersebut, pertama kali adalah bidang lingkungan yang berdampak langsung pada manusia. Kemudian dilanjutkan dengan medis yang banyak penyakit datang dari satwa liar yang hidup kemudian terkontaminasi dengan manusia.

 

Pihak yang terlibat dalam Gathering Online Eco Blogger mulai dari Auriga Nusantara dan Klinik Alam Sehat Lestari (Yayasan ASRI). Melalui pihak Auriga Nusantara diwakili oleh Dedy P. Sukmara selaku Direktur Informasi dan Data yang fokus membahas Karhutla di sejumlah wilayah di Indonesia.

 

Sedangkan dari Yayasan Asri diwakili oleh dr. Alvi Muldani yang fokus membahas materi terkait dengan efek zoonesis dan wabah yang disebabkan hewan. Khususnya satwa liar yang terkontaminasi dengan manusia akibat rusaknya hutan.

 

Nah... selama 150 menit lebih para mentor kece tersebut menyampai sejumlah materi yang terkait dari isu lingkungan hingga medis hingga wabah yang diakibatkan dari rusaknya hutan. Materinya padat dan membuka mata kita bahwa kini alam kita dalam kondisi kritis dan mulai berbuatlah kini.

 

Sebagai contoh adalah setiap para blogger diberikan berupa Marchandise berupa Tumblr keren yang dipamerkan di akhir acara. Sudah didesain dengan sangat apik dan ciamik dengan motif khas hutan dan tentu saja dengan logo Eco Blogger Squad.

 

Cara yang pemateri lakukan adalah dengan visualisasi gambar, itu tercermin dari setiap slide yang ditampilkan memberikan gambaran akan  hutan untuk saat ini. Pertama kali bahasa tersebut datang dari Mas Dedy P. Sukmara yang membahas tentang kebakaran hutan yang terjadi di hutan Indonesia khususnya di Kalimantan dan Sumatra.

 

Tahun 2019 bisa dibilang tahun yang kelam, dalam satu dekade terakhir kebakaran hutan di tahun 2019 jadi yang terparah. Malahan mengalahkan tahun 2019 yang disinyalir jadi terparah sepanjang sejarah Republik ini berdiri. Ada sebanyak 1,6 juta hutan dan lahan yang terbakar, menghasilkan begitu banyak karbon ke atmosfer, membunuh satwa hingga masalah pernapasan parah pada manusia.

Sering kali kita berpikir bahwa kejadian ini dianggap puncak musim kemarau yang terjadi di tengah tahun. Faktor seperti El-Nino dianggap sebagai salah satu pemicu kebakaran hemat di nusantara. Namun nyata itu hanya faktor semu dan kecil. Semua itu terjadi nyatanya ada pengaruh besar manusia di belakangnya. Mengubah lahan dengan cepat dan murah dari dan dengan cara membakar.

 

Bila ditotal dalam 5 tahun terakhir saja, ada 5,7 juta lahan yang terbakar dengan kerugian ditaksir hingga 73 triliun. Melepaskan miliaran zat karbon ke Atmosfer dan tentu saja menaikkan iklim global bila tak ditanggulangi secara tepat. Luas hutan yang terbakar itu bahkan mengalahkan kebakaran hutan yang ada di Amazon dan Australia di tahun 2020.

Mengenai Pulau yang paling banyak diterpa Karhutla, Sumatera dan Kalimantan jadi yang terdepan menyumbang daerah yang terbakar. Sedangkan di Papua, Sulawesi, dan Jawa relatif sedikit karena berbagai hal.

 

Misalnya saja di Papua dan Sulawesi masih minim aktivitas yang mengarah pada kebakaran hutan. Di sana lebih identik dengan penambangan dan eksploitasi hasil alam. Sedangkan di Jawa dipengaruh dengan minimnya lahan yang bisa diubah oleh para perusahaan atau instansi yang terkait dalam eksploitasi lahan dan hutan.

 

Fokus mereka umumnya datang di Sumatera dan Kalimantan yang mana daerah hutan tropis yang masih luas. Sehingga hutannya pun mudah dibakar, apalagi banyak kasus hutan terbakar ulang dan terjadi setiap tahunnya.

Sejak tahun 2020, upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada kemarau tahun ini tampaknya mendapatkan tantangan cukup berat. Pandemi COVID-19 mengakibatkan terjadi pemotongan anggaran. Anggaran Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hanya Rp34 miliar dari Rp56 miliar. Terjadi penyusutan hingga 39% dari semula.

 

KLHK fokus penanggulangan Karhutla pada tujuh provinsi prioritas, yakni, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Sedangkan sejumlah lokasi lainnya terabaikan, dengan dana yang minim namun harus menghadapi Karhutla yang makin menjadi-jadi setiap tahunnya.

 

Ada sebanyak 7 Provinsi yang sangat sering terjadi kebakaran berulang dan terjadi di lokasi titik semula. Terbanyak dan terluas ada di Kalimantan Barat yang hampir 14 ribu titik. Artinya disinyalir sejumlah pihak bermain dan memanfaatkan musim kemarau untuk membakar hutan. Umumnya lokasi yang menjadi daerah rawan terbakar dari hutan adalah daerah gambut.

Proses pemadamannya pun sangat sulit, apalagi ditambah medan yang jauh dan sulit menemukan sumber air membuat proses kebakaran lahan bisa berminggu-minggu untuk dipadamkan. Dapur asap gambut sangat sulit dipadamkan hanya mengandalkan air. Terkadang butuh rekayasa hujan buatan atau menunggu musim penghujan tiba.

 

Lalu ada yang bertanya, memangnya dengan kerusakan hutan yang sangat luas tersebut apakah merusak lahan produktif?

Jawabannya ia, ada 3 pengelompokan dari hutan yang ada di sejumlah wilayah. Mulai dari Hutan Tanaman Industri (HTI), areal sawit, dan hutan kawasan konservasi. Nah.. dari ketiga wilayah tersebut, yang paling banyak berdampak adalah Hutan Tanaman Industri (HTI). Puncaknya di tahun 2015, ada lebih 500 ribu areal yang terbakar.

 

Mengejutkannya adalah banyak korporasi yang bermain di sini, mengincar hutan yang masih segar dan ekosistemnya masih bagus. Agar bisa diubah menjadi area eksploitasi, itulah mengapa Hutan HTI dan Konservasi jadi sasaran empuk.

 

Selain itu korporasi kini sedang mencari provinsi-provinsi yang kaya akan hutan. Selama ini yang kentara adalah hutan di Sumatera dan Kalimantan. Jumlah kebakaran hutan pun meningkat besar di sana dalam dua dekade terakhir.

 

Perlahan tapi pasti kini para elit korporasi sedang mengincar hutan ke arah timur Indonesia. Itu terlihat dengan angkanya yang terus naik. Hutan di Sulawesi dan Papua dulunya hanya identik dengan daerah tambang, kini mencoba untuk dijadikan lokasi pembukaan lahan baru.

 

Itu ditambah lagi dengan terbitnya Permen No. P.24/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2020 terkait dengan Penyediaan Kawasan hutan untuk Pembangunan Food Estate. Sudah pasti mengincar banyak lokasi hutan hijau yang ada di Indonesia timur.

 

Bila tidak dihentikan atau ada regulasi khusus, bisa saja dalam beberapa dekade ke depan kita kehilangan banyak hutan di nusantara. Berbagai gagasan coba diterapkan mulai dari moratorium lahan dan gambut, penegakan hukum yang setimpal tanpa pandang bulu, restorasi hutan, hingga pemberian insentif ekonomi terhadap pihak tertentu agar tidak membakar hutan.

 

Bila itu berhasil terwujud, urusan pembakaran hutan bisa dicegah dengan seksama. Apalagi Karhutla bisa merugikan ekonomi masyarakat yang terdampak. Saat Karhutla terjadi, masyarakat tidak bisa beraktivitas secara normal.

 

Karhutla sesuatu yang berulang, tapi kita bisa mencegahnya, apalagi kini data sudah membuka mata bahwa urusan hutan adalah kepedulian semua pihak di dalamnya. Di akhir pemaparan dari Dedy P. Sukmara mengingatkan kita bahwa kepedulian hutan bukan hanya urusan provinsi yang terdampak. Tapi isu global yang wajib digaungkan terutama dengan yang tepat dari Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

 

Awal Mula Wabah dan Pandemi dari Deforestasi Hutan

Masalah wabah dan pandemi sering sekali dikaitkan dengan urusan medis saja. Nyatanya ada pemicu yang membuat banyak wabah zoonesis yang kemudian menular antar manusia. Materi itulah yang disampaikan oleh dr. Alvi Muldani yang membahas efek zoonesis dan wabah yang disebabkan satwa liar di sekitar manusia.

 

Peradaban dunia sudah lama mengenal keberadaan penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Istilahnya zoonoses, berasal dari bahasa Yunani yang berarti "binatang" dan "penyakit". Kala itu manusia membutuhkan makanan yang tersedia di alam.

 

Apakah itu dari hewan dan tumbuhan, sifat manusia awal yang suka berburu berbagai binatang liar tak jarang membuat berbagai bakteri dan virus terkontaminasi ke manusia.

Penyakit itu kadang menyebar dari satu manusia yang memakan satwa liar ke manusia lainnya. Berdampak dengan banyaknya manusia yang harus jatuh sakit dan bahkan meninggal. Kala itulah wabah mulai muncul, nyatanya virus kadang dari hewan peliharaan yang dekat manusia.

 

Saat era bercocok tanam yang menggantikan era berburu, manusia sadar bahwa berburu saja tidak bisa diandalkan sebagai bertahan hidup. Saat era bercocok tanam dan beternak manusia pun mulai menanam tumbuhan sebagai sumber karbohidrat dan hewan ternak sebagai sumber protein hewani.

 

Sejumlah hewan yang dulu buruan mendadak berhasil dijinakkan. Apakah itu sebagai hewan ternak dan hewan peliharaan. Antara kedua hewan itu lahirnya hewan pengerat yang mengganggu hasil pertanian dan hasil ternak manusia. Dalam kasus ini manusia menamai mereka dengan sebutan hewan pengerat.

 

Tak jarang hewan membawa sumber penyakit pada sejumlah akses manusia seperti hasil pertanian, sumber air bersih hingga bahkan termakan oleh hewan ternak. Pada tahapan lanjutan hewan ternak tersebut dimakan oleh manusia, akibatnya virus berkembang biak dengan cepat.

 

Di era modern, satwa liar hidup secara soliter dan jauh dari manusia. Ada banyak aktivitas deforestasi yang berdampak pada satwa liar. Alhasilnya muncul virus baru yang menyerang manusia, kebanyakan adalah spesies langka atau hampir punah. Tepatnya, hewan dengan populasi yang terus menurun akibat eksploitasi manusia.

 

Di Asia tenggara sendiri, hal tersebut sempat terjadi di medio 90-an saat virus Nipah yang berasal dari kelelawar pemakan buah. Kelelawar yang masih disantap oleh sejumlah masyarakat pedalaman berdampak pada penyebaran virus Nipah. Efek kematian cukup tinggi hingga 75% kasus, namun berhasil diredam sebelum menjadi pandemi global.

 

Selanjutnya, menurut laporan Program Lingkungan PBB yaitu UNEP, menegaskan bahwa 60 persen penyakit menular yang diderita manusia berasal dari satwa. Angka itu bertambah hingga 75 persen jika memasukkan penyakit varian baru. Sudah pasti jauh berbahaya dan mematikan, semuanya terjadi dalam beberapa dekade terakhir.

 

Jenis satwa yang berbagi virus dengan manusia kebanyakan adalah spesies langka atau hampir punah. Tepatnya, hewan dengan populasi yang terus menurun dan kehilangan habitat akibat eksploitasi manusia. Belum lagi kebiasaan sejumlah masyarakat yang menyukai makanan ekstrem tersebut sebagai menu wajib kuliner mereka. Berdampak proses perpindahan virus bisa berlangsung sangat cepat.

 

Beberapa virus populer dari Ebola berasal dari kelelawar pemakan buah, HIV berasal dari hewan simpanse di Afrika, flu burung  berasal dari unggas, Zika berasal dari nyamuk di daerah tropis di hutan hujan Brazil. Lalu MERS berasal dari unta di semenanjung Arab dan tentu saja SARS yang menjadi turunan Covid-19 yang berasal dari kelelawar.

Ada sejumlah kemunculan penyakit zoonesis tersebut nyata banyak sebabnya dari perubahan lingkungan atau gangguan ekologi dampak aktivitas manusia. Misalnya saja pengubahan hutan menjadi lahan pertanian, pembakaran hutan, menghilangkan sumber makanan satwa, dan lain sebagainya.

 

Skala yang terjadi bukan hanya satu wilayah saja, tapi meluas dan terjadi di seluruh dunia. Akibatnya terjadi benturan antar spesies yang menjadi korban. Misalnya satwa liar jumlahnya menipis dan cenderung punah. Sedangkan manusia bisa merasakan dampak tak kasat mata, salah satunya kontaminasi penyakit jenis baru.

 

Salah satu pangkal masalahnya adalah deforestasi. Hutan ditebas demi membuka lahan pertanian atau peternakan intensif. Habitat tergusur, memaksa satwa liar masuk jalan hidup manusia. Saat itulah tabrakan terjadi antara manusia dan satwa liar. Lalu juga hewan peliharaan kerap jadi penghubung perpindahan patogen dari satwa liar ke manusia.

 

Semua itu dilanjutkan dengan urbanisasi dan fragmentasi habitat antar spesies. Belum lagi banyak jasad hewan purba yang punah jutaan tahun lalu kembali terlihat jasadnya. Akibat perubahan iklim besar-besaran di daerah kutub yang kemudian jasad tersebut terkontaminasi ke sejumlah hewan.

 

Nantinya hewan tersebut bisa saja tertangkap, dipelihara atau bahkan disantap. Selamat datang virus baru, dalam sekejap menyebar dari sekedar wabah lalu membesar hingga sampai ke tahap ini. Inilah yang terjadi di akhir tahun 2019 saat pasar buah dan hewan di Kota Wuhan membawa virus jenis baru.

 

Kesimpulan akhir dari berbagai zoonesi yang terjadi nyatanya sangat erat dengan perpindahan penyakit dari hewan ke manusia. Untuk itu manusia harus belajar dan pengalaman terdahulu karena pandemi menjadi kasus yang serius sama halnya dengan masalah ekonomi.

Andai semua manusia sakit dan terpapar, segala roda kehidupan akan terhenti dan korban jiwa akan berjatuhan satu sama lain. Dibutuhkan proses penyeimbangan dari produksi makanan, komoditi hutan, dan tentu saja menjadi hutan sebagai sumber penghidupan makhluk hidup di dalamnya.

 

Di akhir sesi, para peserta Gathering Online berfoto bersama dengan Marchandise berupa Tumblr keren yang dipamerkan di akhir acara. Sudah didesain dengan sangat apik dan ciamik dengan motif khas hutan dan tentu saja dengan logo Eco Blogger Squad.

 

Tentunya akan ada banyak hal serupa yang akan dilakukan ke depan, pastinya banyak kejutan lainnya bersama Eco Blogger Squad. Apalagi membahas isu lingkungan tidak pernah ada habisnya, isu yang dulunya terlihat berat dan kaku, menjadi isu yang seksi dan menarik.

 

Semoga tulisan ini menarik dan memberikan pengetahuan kita terkait dengan isu lingkungan. Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer