Tuesday, April 20, 2021

Refleksi Hari Bumi dalam Melawan Perubahan Iklim

 

“Perubahan iklim itu nyata dan mengancam kita dan lingkungan sekitar kita”

 

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan berbagai bencana alam yang menimpa negeri. Ada banyak pemukiman yang rusak hingga menelan banyak korban jiwa. Perubahan iklim yang sebelumnya hanyalah isu yang tak menarik seakan jadi headline di mana-mana. Kerusakan lingkungan dan bencana alam jadi pemicu utamanya.

 

Beberapa waktu lalu  badai bersama air hujan lebat dan gelombang laut menimpa NTT.  Badai siklon yang diberi nama Seroja tiba-tiba muncul di Laut Flores menuju selatan memasuki Laut Timor dan Selat  Dubai, lalu menghantam daratan kepulauan di bagian timur dari NTT.

 

Menghasilkan banjir, tanah longsor hingga kerusakan rumah warga yang ada di seluruh pulau-pulau di NTT. Korban jiwa yang jatuh pun ada ratusan jiwa dengan ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Belum pernah ada badai laut yang begitu merusak sebelumnya terjadi.

 

BMKG menyatakan, bahwa baru pertama kali ini siklon 'Seroja' menghantam daratan dikarenakan terjadinya perubahan iklim dunia setiap pergantian musim (pancaroba). Namun bencana awal bulan tersebut itu nyata dan ada di sekitar kita.

 

Berbicara masalah banjir besar di awal tahun, Kalimantan Selatan mengalami banjir terbesar dalam sejarah. Bahkan lokasi banjirnya sampai ke Ibu Kota baru RI yaitu Penajam Paser Utara. Luas wilayah yang terendam 183 ribu Hektar yang merendam 11 daerah di Kalsel yang berdampak pada 27 ribu rumah warga.

 

Mungkin selama ini kita mengira banjir Jakarta tahun 2020 sangatlah besar dan luas dampaknya. Nyatanya banjir di Jakarta yang tercatat paling besar tersebut hanya merendam 15,6 ribu Hektar saja. Atau bisa dikatakan ukurannya 12 kali lebih kecil dari apa yang terjadi Kalsel.

 

Penyebabnya adalah curah hujannya tinggi, banyaknya hutan yang berubah fungsi menjadi lahan sawit, permukiman warga hingga kerusakan di sepanjang hulu sungai. Alhasil saat musim hujan, banjir besar terjadi dan berdampak luas bagi masyarakat.

Indonesia sendiri jadi negara yang cukup banyak kehilangan tutupan hutan selama 20 tahun terakhir. Total ada 30 juta Hektar hutan yang berubah fungsi. Lokasi terbanyak berada di Kalimantan dan Sumatera, berakibat pada rusaknya ekosistem dan berdampak pada bencana alam.

 

Mungkin itu gambaran perubahan iklim dan kerusakan hutan yang berdampak di daerah Indonesia. Lalu Ibu Kota RI Jakarta kita juga sedang berpacu dengan waktu. Penurunan permukaan tanah berlangsung sangat cepat di sejumlah daerah.

 

Bila kita ada menonton salah satu channel Youtube Vox dan BBC seakan menjelaskan dengan nasib Jakarta saat ini. Banjir rob dan penurunan tanah terjadi sangat masif di sejumlah daerah. Paling parah yang terjadi di Jakarta Utara, penurunan tanah terjadi hingga 25 cm setiap tahunnya. Bahkan diprediksi Jakarta akan tenggelam di tahun 2050.

Faktor utama adalah rusaknya iklim, penggunaan air tanah yang sangat besar terjadi di Ibu Kota. Sulitnya mendapatkan air bersih yang layak membuat masyarakat Ibu Kota mencari cara alternatif dengan membuat sumur sendiri untuk mengambil air tanah. Pipa-pipa tersebut menyedot air dalam jumlah besar dan berlangsung bertahun-tahun.

 

Memang air tanah bisa tergantikan dengan air hujan, hanya saja banyak bangunan dan beton membuat air hujan lari ke laut tanpa sempat terserap ke dalam tanah kembali. Proses ini berlangsung bertahun-tahun dan penurunan tanah terus terjadi.

 

Belum lagi kenaikan muka air laut menjadi bencana besar berupa air rob, kini tanggul raksasa adalah solusi. Namun biaya membuatnya cukup besar hingga US$ 40 Miliar dan baru selesai 30 tahun lagi, itu artinya sebagian besar wilayah Jakarta telah tenggelam.

 

Peliknya Perubahan Iklim yang Mendera Negeri

Indonesia sejak dulu terkenal dengan laut yang indah, hutan yang luas, satwa endemik yang khas hingga ragam panorama alam lainnya. Perubahan iklim yang cepat membuat semuanya mulai memudar satu persatu.

 

Indahnya laut kita kini harus rusak akibat pencemaran lingkungan, belum lagi ancaman badai yang dulunya sangat sulit terjadi. Hutan yang luas kini telah berubah fungsi menjadi hunian yang tidak sesuai dengan Amdal. Satwa endemik pun serupa, hutan yang hilang membuat naik mereka di ujung tanduk.

Semua ragam keindahan itu kini hanya ada di buku bergambar, tidak lagi bisa dilihat. Masyarakat pun yang kini dalam masa sulit saat pandemi pun harus bertarung dalam banyak hal. Termasuk bertarung dengan alam yang mulai tidak ramah.

 

Sebagai gambaran besar, dari 6 dari 10 bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana hidrometereologi yang terkait langsung dengan perubahan iklim. Bencana alam seakan bisa terjadi kapan saja, hujan deras bisa saja banjir dan tanah longsor mendera. Lalu saat musim kemarau, kekeringan bergantian mendera.

 

Kejadian ini sudah sering terjadi dan tersebar di tanah air. Negeri yang kaya akan air dan hutan kini sedang menghadapi krisis, dibutuhkan perubahan besar untuk mengatasi itu semua. Salah satunya melalui hutan seperti yang ada di Indonesia karena hutan Indonesia salah satu solusi dalam mitigasi perubahan Iklim untuk saat ini.

 

Menjaga Bumi dalam Wujud Perayaan Hari Bumi

Bumi kita ibaratnya sedang sakit parah, ia digerogoti parah oleh manusia yang melukai setiap bagian tubuhnya. Terutama hutan yang makin lama makin menipis jumlah, dampaknya perubahan suhu tubuh bumi yang naik drastis.

 

Ia ibarat wanita tua rentan yang terkulai lemah di ranjang Rumah Sakit, pengobatan dan penyembuhan adalah cara terbaik menjaganya tetap baik. Melalui pelaksanaan Hari Bumi adalah wujud nyatanya untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap bumi. Perhatian utama adalah meningkatkan kesadaran manusia akan pentingnya kelestarian lingkungan buat kita hingga anak cucu kelak.

 

Faktor seperti krisis pangan, kekeringan, wabah penyakit baru, gangguan ekologi, dan masalah lainnya menjadi dampak dari perubahan iklim. Maraknya berbagai permasalahan lingkungan itu tentu menjadi momok yang menakutkan bagi semua orang untuk keberlangsungan hidup yang akan datang.

 

Semua belum lagi aktivitas seperti penggunaan bahan bakar fosil, penggundulan hutan, dan pembuangan gas industri sembarangan yang akan mempengaruhi perubahan iklim. Inilah seakan membuat masyarakat dunia resah, salah satunya caranya dengan mencegahnya melalui aksi nyata. Kini menyampaikan aksi tak terbatas harus turun ke jalan, sebab sosial media dan blog jadi sarana yang tepat menyampaikan aspirasi.

Alhasil lahirlah Hari Bumi, peringatannya jatuh pada tanggal 22 April. Gagasan ini lahir dari salah seorang pengajar lingkungan Gaylord Nelson asal Amerika Serikat di tahun 1970. Ia ingin nantinya masyarakat dunia peduli akan isu lingkungan yang terkait dengan bumi terutama sekali terkait keberlangsungan hidup manusia kelak.

 

Lalu banyak yang bertanya mengapa tanggal 22 April yang dipilih?

Jawabannya karena tanggal tersebut di negara empat musim, tanggal sebut bertepatan dengan waktu musim semi di belahan bumi utara dan musim gugur di belahan bumi bagian selatan. Awalnya memang masih minim dukungan karena pada masa itu isu lingkungan belum menjadi isu yang serius.

 

Namun kini isu lingkungan jadi sesuatu yang mengancam, alhasil kini mendapatkan dukungan sehingga berdirilah Environmental Protection Agency (EPA). Kontribusinya berupa pengesahan sejumlah Undang-undang terkait dengan Udara bersih, Peningkatan Kualitas Air, Spesies Terancam Punah, dan terkait isu lingkungan lainya.

 

Dunia pun bertindak dalam mengatasi perubahan iklim misalnya saja jadi isu yang dibahas di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT). Tahun 1992 di Rio de Janeiro di Brazil  untuk pertama kalinya akibat isu pemanasan global dan isu lingkungan lainnya.

 

Hasilnya adalah melahirkan Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai perubahan iklim (UNFCCC). Di pertemuan tahun ke-3 (COP3) yang diadakan di Kyoto, Jepang menghasilkan Protokol Kyoto yang bertujuan mengatur tingkat emisi gas rumah kaca dalam rangka mengatasi masalah pemanasan global, khususnya bagi negara-negara maju.

 

Cara Blogger dalam Melawan Perubahan Iklim dan Keberlangsungan Hutan

Bila tingkat negara peduli sudah melakukannya , kini giliran kita dalam mewujudkan di dunia maya. Kampanye ini melibatkan banyak elemen terutama sekali dalam menyambut Hari Bumi. Gebrakan kecil yang dilakukan sudah pasti berdampak besar.

Konsepnya adalah Gathering Online yang melibatkan banyak Blogger Nasional dengan Tajuk: Earth Day Gathering yang berlangsung Pada 14 April 2021 silam. Para Blogger tidak sendirian dalam kampanye ini karena mengajak kolaborasi para eksper di bidang lingkungan.

 

Pihak yang terlibat dalam Gathering Online Eco Blogger mulai dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), LTKL (Lingkar Temu Kabupaten Lestari), HII (Hutan Itu Indonesia), BPN (Blogger Perempuan Network).

 

Perwakilan yang menyampaikan materi datang dari Yuyun Harmono selaku Manajer Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional WALHI, Gita Syahrani selaku Kepala Sekretariat LTKL dan Christian Natali selaku Manajer Program HII.

 

Nah... selama 120 menit lebih para mentor kece tersebut menyampai sejumlah materi yang terkait dari isu lingkungan hingga pengembangan lingkungan menjadi sentra bisnis tanpa merusaknya. Materinya padat dan membuka mata kita bahwa kini alam kita dalam kondisi kritis dan mulai berbuatlah kini. 

Sebagai contoh adalah setiap para blogger diberikan berupa Marchandise berupa Sago Pancake Mix yang merupakan makanan asli Papua dan tentu saja Kopi aroma khas menggoda dari NTT. Ini membuktikan makanan daerah Indonesia punya nilai dan semuanya didapatkan dari hutan.

 

Setelah itu, seakan selama ini materi terkait lingkungan dan hutan memang jangan dibahas oleh para Blogger. Mulai dari sulit menemukan data, bahasannya berat, hingga konteks terkait dengan hutan yang cenderung berat dipahami oleh pembaca.

 

Nyata dari ketiga pemateri yaitu Mas Yuyun Harmono, Mbak Gita Syahrani dan Mas Christian Natali punya cara unik dalam menyampai materi sehingga para Blogger yang umumnya datang dari berbagai latar belakang bisa paham akan masalah lingkungan dan hutan.

 

Cara yang pemateri lakukan adalah dengan visualisasi gambar, itu tercermin dari setiap slide yang ditampilkan memberikan gambaran akan bumi saat ini. Pertama kali bahasa tersebut datang dari Mas Yuyun Harmono yang membahas perubahan iklim dan peran para komunitas menjaga hutan agar supaya tetap lestari menjadi bagian solusi penting dalam upaya untuk mengatasi krisis iklim.

 

Paling kentara adalah pemanasan global yang terus naik hingga 1,5°C menurut IPCC. Faktor utama adalah emosi global yang sudah melewati batas bahkan di atas 1,5°C di tahun 2040. Ini sangat tak baik karena bisa menaikkan suhu bumi. Mulai dari kenaikan permukaan air laut yang otomatis berdampak pada hilangnya kota-kota yang ada di pinggir laut atau sungai.

 

Bahkan habitat di laut pun akan mengalami bleaching (pemutihan karang) yang dikarenakan tingkat kadar asam laut meningkat akibat suhu bumi. Terumbu karang yang jadi sebagai barrier (pelindung) di laut tidak ada sehingga gelombang bisa kapan saja menerjang. Belum lagi ekosistem terumbu hilang dan membuat nelayan kesulitan dalam mencari ikan.

Menurut Mas Yuyun Haryono sendiri saat ini sudah banyak dibahas sebenarnya soal krisis iklim ini, bagaimana iklim ini mempengaruhi temperatur bumi kita rasanya sangat penting untuk diketahui kondisi bumi kita saat ini.

 

Tak hanya itu juga, dalam perubahan iklim harus ada transisi berkeadilan terkait dengan urusan Pangan dan hutan.  Saat ini masyarakat juga harus mengetahui mitigasi dalam menghadapi bencana alam yang semakin akibat kerusakan alam dan perubahan iklim.

 

Sebagai contoh nyatanya adalah sebuah desa kecil di daerah Dusun Silit Desa Nanga Pari, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat mereka sudah mendeklarasikan sebagai kampung mandiri energi. Punya luas wilayah yaitu 5.200 Hektar dan memiliki 80 kepala keluarga membuat masyarakat berpikir kreatif dalam menjaga dan memanfaatkan hutan.

Melalui program  pengajuan pengakuan hutan adat bernama “Siberuang” ke pemerintah pusat, sedangkan di pemerintah daerah mereka sudah diakui sebagai kampung mandiri negeri dengan hutan adatnya. Masyarakat mulai dari memanfaat hasil hutan non kayu hingga menjamin ketersediaan sumber air. Sumber airnya pun ada yang dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik untuk menerangi kampung mereka sendiri.

 

Visi Menyelamatkan Bumi dan Menyejahterakan Manusia

Dalam hal ini Mbak Gita Syahrani selaku Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). Kita semua didorong untuk bisa berkolaborasi untuk memastikan semua kabupaten terdapat industri pengolahan yang berbasis masyarakat.

 

Masyarakat pastinya sangat bersemangat mengolah sumber ekosistem nilai konservasi tinggi dengan bijak dan tidak mengganggu fungsi lingkungan. Selama ini untuk bisa menghasilkan ekonomi haruslah merusak atau mengorbankan hutan. Nyatanya tidak, melalui proses konservasi dan cara yang tepat masyarakat bisa menghasilkan produk dengan nilai tinggi hingga ke batas ekspor.

Nah... ada 4 sektor secara valuasi untuk bisa menghasilkan produk berbasis alam seperti kesehatan, food and beverage, kecantikan dan teknologi. Tentunya semua ini jika dimaksimalkan akan meningkatkan kesejahteraannya daerah tersebut dan menurunkan tingkat kemiskinan di masyaarakat di sekitar hutan.

Selama ini juga masyarakat yang tinggal di dekat hutan adalah masyarakat desa dengan penghasilan rendah. Adanya konsep ini bisa meningkat kesejahteraan dan ekonomi masyarakat sekitar. Selain itu masyarakat kita harus terbiasa membeli produk lokal, karena kontribusi besar tersebut berdampak dalam ekonomi.

Bila dibandingkan potensi hasil alam hutan kita malah dilirik oleh asing sehingga lebih pada mengenyangkan para korporat asing. Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang tidak hanya bangga dengan produk Indonesia tapi juga bangga dengan produk yang ramah lingkungan. Cara yang digunakan tersebut sesuai dengan Visi Ekosistem Lestari 2045.

 

Jawaban dari Segala Krisis Iklim: Berdayakan Hutan

Saat ini dunia internasional melalui sebuah kesepakatan yaitu Paris Agreement 2015 menghasilkan sebuah pernyataan. Berupa kesepakatan itu bertujuan dalam menurunkan emisi GRK sebesar 29% pada tahun 2030 atau 41% dengan dukungan internasional NDC (Nationally Determined Contribution). Angka berupa 29% tersebut adalah berupa kontribusi dari sektor kehutanan yaitu 17,2%.

 

Itulah yang disampaikan oleh Mas Christian Natalia selaku pihak  Program Hutan Itu Indonesia (HII).  Selain juga terkait dengan berbagai kampanye dalam hal mendekatkan hutan menumbuhkan cinta yang lebih berkelanjutan. Tentu melibatkan banyak pihak sebagai bentuk kepedulian kita pada hutan

Sebut saja dengan program kampanye akan hutan, cerita dari hutan, adopsi pohon, produk hutan non-kayu hingga jalan-jalan ke hutan. Cara ini dinilai bisa menumbuhkan rasa cinta sama hutan, selama ini hutan akrab dengan tempat angker atau jauh dari manusia. Melalui pemahaman ini bisa membuat para peserta cinta dan ingin menjaga hutan.

 

Ada juga berbagai event terkait hutan seperti: Ku Lari ke Hutan 2019, Musika Foresta, Hutanku Napasku dan program lainnya. Kegiatan tersebut juga diimbangi dengan kerja sama berbagai sektor atau komunitas seperti komoditas pangan, komoditas kerajinan dan pengelola jasa lingkungan. 

Nah... dari ketiga pemateri tersebut seakan kita belajar banyak hal dalam mengetahui akan iklim, ekonomi yang berkesinambungan dengan hutan dan masyarakat serta program terkait menumbuhkan kecintaan pada hutan.

 

Konsepnya adalah Gathering Online tentunya menyambut Earth Day yang ke 51 tahun sejak pertama kali digaungkan di tahun 1970. Tak hanya itu saja, melalui program yang berlangsung selama sembilan bulan ini akan membuat kita akan belajar banyak tentang hutan dan berbagai pengetahuan pada banyak orang. Peduli hutan berarti peduli akan lingkungan.

Di akhir sesi, para peserta Gathering Online berfoto bersama dengan Marchandise berupa Sago Pancake Mix yang merupakan makanan asli Papua dan tentu saja Kopi aroma khas menggoda dari NTT cocok buat dijadikan sebagai makanan berbuka. Tentunya akan ada banyak hal serupa yang akan dilakukan ke depan, pastinya banyak kejutan lainnya bersama Eco Blogger Squad.

 

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi untuk kita semua, akhir kata: Have a Nice Days

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer