Rabu, 07 Januari 2015

Passion Atau Sekedar Mengikuti Tren?

passion atau sekedar mengikuti tren?

Saat ini begitu banyak orang yang telah berhasil mengikuti passion dan bahkan mendapatkan penghasilannya mumpuni dari menggeluti passion. Begitu menarik memang, menjalankan apa yang sangat dicintai dengan sepenuh hati dan seakan tak ada rasa lelah apalagi bosan.

Passion kini telah menjadi tren bukan saja karena kemauan keras di dalam hidup tetapi proses ikut-ikutan di saat melihat orang lain bisa menjalankan passion. Walaupun sebenarnya belum tentu cocok dengan dirinya. Banyak orang yang rela mencari-cari passionnya di tengah gencarnya tren mengikuti sesuatu passion.

Ibarat mengikuti apa yang orang lain jalankan saat ia berhasil mengubah hasratnya tersebut. Sedangkan dirimu hanya bermodal nekat saja dan tak tahu masalah apa saja yang akan didapatkan saat menjalankan passion tersebut.

Passion juga ibarat melakukan sesuatu tanpa rasa capai dan berpikiran untuk esoknya. Seakan terdapat energi tak pernah habis. Namun bila hanya sekedar mengikuti tren semata, lelah akan datang dengan cepat di susul rasa bosan dengan seiring berjalannya waktu.

Ibarat diri ini mengikuti fase tak mengenakkan dan menyesuaikan sambil berharap orang lain berucap: kamu berhasil menjalankan passion sesuai keinginan, tak lebih dari itu. Saya mengamati begitu banyak hidup ini banyak yang terpengaruhi oleh kata-kata motivator yang berucap: 
Ayo segera temukan passion kalian dan ubahlah sebagai kekuatanmu di masa depan

Padahal itu adalah ucapan manis motivator agar ia mendapatkan tawaran tampilan, sedangkan realisasi sangat sulit untuk diwujudkan. Sebaiknya pertimbangkan masak-masak dalam menjalankan passion.

Saya pribadi sering menemukan beberapa hal yang sering terjadi kini dalam masyarakat kita, alurnya seperti ini: 
Melihat tren yang berkembang > ikut-ikutan bersaing > Merasa jengah saat gagal > menyerah > Mencari tren lain lagi

Terlalu muluk bukan, saat begitu banyak orang yang gagal mengikuti passion walaupun yang berhasil mengikuti passion belum tentu bahagia. Ia malah punya hasrat lain saat passion berjalan.

Nah dalam periode itu ada hal lain yang mau manusia raih dan passion tidak bekerja sepenuhnya. Ada pula yang sebaliknya, melakukan yang bukan passionnya tapi butuh passion atau hobi dalam hidupnya.

Saya mencontohkan seperti ini, seorang musisi ternama berhasil mengejar passion menjadi musisi ternama. Namun ia rela menyampingkan passion untuk melakukan hal berbeda di dunia musik, katakan saja ia suka fotografi. Ia melakukan sebagai cara melupakan passion di sejenak waktu.

Ada pula yang bekerja bukan sesuai passion tapi ia mengambil konsekuensi dan passionnya hanya di waktu luang. Ia menempatkan passion sebatas hobi semata bukan pekerjaan yang menghasilkan. Jadi passion tak harus dipaksakan.

Mau passion tercapai, syaratnya adalah semangat mengerjakan walaupun sulit dan tau dalam pemecahan masalahnya dan materi bukan tujuan utama dalam mencapai sukses. Namun dengan kerja keras dan dedikasi, materi bisa datang dengan sendirinya.

Namun jangan terlalu berharap passion kelaklah yang harus dijalani secara profesional sehingga meninggalkan pekerjaan anda. Itulah yang banyak salah diartikan, apalagi passion dan hobi berdekatan.

Ada kalanya hobi tidak bisa menjadi passion karena bukan waktunya lagi. Saya mencontohkan sebagai berikut:

Seseorang yang ingin menjadi atlet sepak bola profesional dan usianya tak muda lagi. Secara tak sengaja ia malah menyukai sepak bola dan rutin bermain bola. Secara kualitas sangat sulit mengasah potensi bukan pada usia dini dan untuk menjadi profesional.

Alhasil, sebagai hobi semata sudah lebih dari cukup karena untuk mencapai fase puncak waktunya sudah lewat dan kini adalah memetik hasilnya bukan menanam bakat lagi.

Namun segala kesenangan itu harus tetap dijalani agar hidup bisa lebih berharga dalam mengisi kebosanan hidup. Karena saat itu bukan disebut passion tetapi hobi berbeda yang telah menggeluti lebih lama.

Selain itu passion akan jadi berharga saat berhasil dibuktikan dan pengakuan orang lain bukan diri sendiri. Sama halnya dengan kemampuan bermain bola, saat orang lain yakin dapat percaya anda mampu itu layak dikatakan sebagai passion. Serta ia mencurahkan segala bentuk pikirannya tanpa terpecah. Itulah yang membuat banyak orang salah kaprah dan akhirnya terjerumus dengan kata-kata passion.

Ada banyak membuat kita sukses walaupun tidak mengerdilkan passion, berbagai faktor dari keluarga, teman, pergaulan, dan kecintaan lainnya malah membuat diri ini sukses tanpa mengikuti tren yang berkembang. Lebih baik konsisten apa yang ingin diperbuat tanpa terpengaruhi yang belum mengikuti

Dan bila ingin mengikuti passionnya, saya mengharapkan alur passion yang benar adalah: 
Yakin dengan potensi dan mau bekerja keras > Tidak merasa bosan dan ikut-ikutan > Ingin jadi yang terbaik > Tidak berhenti belajar walaupun sudah hebat > Mendapatkan hasil optimal.

Itu sedikit pencerahan dan dari penjelasan di atas mampu membukakan pikiran agar tak mendewakan passion dan bakat tapi kerja keras dan doa paling utama. Karena dari dua elemen itulah yang menjadikan manusia dapat mendapatkan hasilnya dan berucap: inilah passionku.

Semoga menginspirasi!!!
Share:

2 komentar:

  1. Sangat menginspirasi, walaupun passion-nya sudah dijalani dengan segenap hati. Kadngkala rasa jenuh juga ada.

    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, sebenarnya semuanya harus ada kadarnya dan seimbang. Terima kasih kembali

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis