Senin, 08 Juni 2015

Membanding-Bandingkan Adalah Kesalahan Besar

membanding-bandingkan adalah kesalahan besar

Wah..... itu abang anaknya teman mama sudah mapan dan dalam waktu dekat akan segera menggelar pernikahan. 
Itu anak tetangga yang satu kelas dengan abang sudah lanjut kuliah S2 sedangkan kuliah saja masih banyak ngulang. 
Kamu tampang cakep, tapi kok sampai saat ini ngga punya pacar? Mungkin jodohnya belum lahir!

Kumpulan dari sejumlah anggapan di atas pasti kalian serring alami di kehidupan nyata. Masa saat dibanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain oleh orang terdekat. Itu ditambah lain perasaan membanding-bandingkan keberhasilan orang lain dengan diri pribadi. Itu sebuah kesalahan besar, apalagi keberhasilan orang lain membuat beban pada diri sendiri.

Andai saja tindakan itu dilakukan oleh kalangan terdekat dari keluarga, saudara, dan teman maka kamu yang melakukan tindakan ini secara ngga langsung sama dengan membully. Kebiasan membully bukan hanya kontak fisik tetapi sekedar sindiran halus atas segala pencapaian yang belum optimal tercapai oleh korban. Itu sangat berpengaruh dan mengganggu pencapaian yang ia jalanin walaupun belum memenuhi ekspektasi.

Bagi orang yang memberikan nasihat, memberikan perbandingan orang yang selangkah lebih mau bisa jadi nasehat yang manjur. Akan tetapi bagi yang menerima nasihat tersebut akan merasa jatuh semangat, minder, frustasi dan kadang menyerah sebelum tujuan.

Tanpa disadari dari niatnya menasehati tanpa solusi, bentuk candaan dan mengarah bully akibatnya malah jadi dendam bagi korban. Ia seakan-akan menjadi orang yang bersalah akibat pencapaian yang belum sesuai harapan. Apalagi itu berlangsung terus-menerus, pasti jengah dan kadang berefek fatal.

Dibandingkan dengan orang lain termasuk bully kah?
Iya.. secara tidak langsung itu berefek ngga baik bagi yang menerimanya apalagi berulang kali dan sifatnya ejekan persuasif. Dan apalagi secara terus-terusan membandingkan apa yang kita alami dengan orang lain lebih ngga sehat. Niat awal sebagai pelecut agar mampu selevel dengan yang kita bandingkan.

Apakah itu berupa prestasi, kesuksesan, pangkat hingga harta. Namun bila bertolak belakang atau pun gagal, kamu malah depresi. Kebanyakan mimpi terlalu besar tapi kecil dalam usaha sama saja gagal dan berujung depresi berat.

Jadi apa yang bisa dilakukan?
Terpenting adalah menghargai pencapaian kecil setiap orang lakukan, walaupun belum optimal karena ia sedang berusaha. Toh selama berada di jalan yang benar, bukan hal yang salah. Namanya saja sebuah proses dan menghargai kerja keras serta proses bukan melihat hasil yang telah orang lain raih.

Ibarat sebuah fenomena gunung es, jelas saja yang ingin dilihat adalah yang tampak saja dan mengabaikan tak tampak termasuk keberhasilan orang lain raih. Seperti itu pula yang sedang dibangun oleh yang kini sedang dibullly. Ia bak ibarat sedang membangun gunung es terbawah yang tak tampak ke permukaan air.

Cara terbaik adalah memberikan motivasi terbaik dan memberi akses (cara) menggapainya. Semua pencapaian membutuhkan orang terdekat dalam mendukung. Saat itulah jadi cara terbaik mencapai tujuannya dan bahkan melebihi orang yang dibanding-bandingkan terlebih dahulu.

So... bila kalian sering melakukan tindakan bully, ganti dengan cara seperti ini. Jangan sampai hubungan kekerabatan rusak karena bully-an membanding-bandingkan, tetapi dipupuk dengan saling memotivasi dan mengingatkan.

Sebagai penutup, semoga tulisan ini memberikan secerah inspirasi. Sampai berjumpa di tulisan lainnya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis