Senin, 11 April 2016

Mencoba Memantaskan (Diri)

 memantaskan diri


Mau nyari istri cantik  jelita dan akhlaknya layak bidadari, tapi harus ingat juga lho. Kamu harus sediakan surga dulu biar dia merasa nyaman dan senang
Membaca kata-kata di atas sedikit menampar dan membuat panas-dingin diri penulis. Sering banget kita perhatikan, mau minta jodoh yang serba baik akhlaknya, berparas tampan/cantik, menarik dan rezekinya berkecukupan lagi halal.  Tanpa disadari yang minta doa sedikit lupa intropeksi diri dan memantaskan diri apakah dirinya layak ataukah tidak. Ibaratnya seperti si cebol merindukan bulan, mau ke sana jauh dan ngga ada usaha nyata alias mimpi semata.
Maunya yang baik akhlaknya tapi akhlak sendiri buat orang mengerit dahi, sinis mata dan menghindar dari kamu. Mau yang berparas menarik tapi wajahmu kurang mumpuni, walaupun wajah bisa disamarkan dengan karyamu yang membuat dirinya takjub, status sosial, pendidikan, ekonomi dan agama punya peranan memuluskan dirimu bisa setara dengannya. Well... memang cinta itu tidak bisa hanya saling menyempurnakan satu insan dengan insan yang lain, tapi saling bekerja sama mencapai tujuan hidup keduanya dalam lingkar tali pernikahan.

Hmmm... bagaimana caranya agar semuanya bisa terjalin?

Caranya dengan memantaskan diri, banyak yang sedikit bingung dan kurang paham apa sebenarnya dari memantaskan diri. Ini adalah cara terbaik membuat dirimu lebih baik, setara dengan orang yang kamu idam-idamkan selama ini. Bagaimana bidadari mau singgah coba, apabila tempat yang kamu sediakan “gubuk reot nan kumuh” bukan surga yang bikin dirinya betah berlama-lama dan buat dia tersenyum bahagia.

Klise perumpamaan di atas gambaran harus adanya kesetaraan antara iman dan hati. Segi pendidikan, kekayaan, dan status akan kalah dengan dua makna penting tadi. Namun faktor-faktor itu ngga selamanya buat kamu nyaman setelah pantas dengan si “dia”. Kadang faktor pendidikan, kekayaan, dan status semata yang setara malah pantas diri belum cukup, karena semua bermuara pada hati masing-masing.

Nah.... dengan intropeksi diri dan memantaskan diri ke arah lebih baik, jodoh yang akan datang dengan sendirinya. Ngga perlu kejar sana, kejar sini. pamer sana-sini untuk bisa dilirik serta digubris. Cukup perbaiki diri bukan mengobral diri dengan nilai dan norma yang salah serta memaksa. 
Walaupun butuh proses lanjut dan waktu yang lama, ngga ada salahnya sembari menunggu ada baiknya memperbaiki diri. Memperbaiki diri ke arah lebih baik bukan sebaliknya dan ingatlah saat kamu sedang memperbaiki diri, orang yang kamu idam-idamkan pula melakukan hal yang sama. Ngga mungkin seorang yang bercermin lupa atau tidak mengenali rupanya saat bercermin.

Menganggap segala kekurangannya juga kekuranganmu, karena melengkapi itu lebih baik dibandingkan merasa diri paling sempurna satu sama lain. Hidup itu ibarat puzzle yang masih teracak susunannya dan kini saatnya bersama-sama saling menyusun bersama-sama untuk menyiapakan serta tau gambar apa yang ada dari puzzle tadi, kamu dan pasanganmu ibarat dua sisi mata uang yang berbeda tapi saling melengkapi satu sama lain. Coba saja cinta itu lahir dari hal sama-sama misalnya karena kesamaan profesi, hobi, dan status. Maka ngga bakal ada perbedaan, dan Allah Maha Adil dengan segala perbedaan buat dua insan manusia saling menghargai dan mengasihi bukan saling saling tangkap siapa yang hebat dan punya ego yang paling tinggi.
Baca juga: Kegundahan Hati Wanita
Mencari yang sempurna itu tidak ada, seakan-akan membuat dirimu tersiksa dan tertekan akibat tidak pernah menemukan apa yang kamu cari. Ngga selamanya berbagai kesamaan menjamin kemulusan  hubunganmu cukup saja memantaskan diri. Kadang segala kriteria yang kamu patok selama ini untuk jodohmu akan kalah dengan rasa jatuh cinta dan kasih sayang tak terduga. Hal-hal yang rasional akan kalah dengan rasa ngga rasional yang semua itu bermuara dari hati, bukan dari logika. Matematika itu punya nilai pasti tapi akan kalah dengan rasa intuisi dua insan.

Orang yang punya seabrek jam terbang di dunia perpacaran ngga menjamin bisa dapat jodoh cepat akan tetapi mereka akan kalah dengan orang yang memantaskan diri walaupun tanpa jam terbang dan hanya bermodalkan pengenalan karakter semata. Fokus ke diri sendiri (me time) itu lebih penting dari terlalu fokus dengan orang lain dengan kata lain membanding-bandingkan dengan orang lain. Di satu sisi membandingkan diri dengan orang lain perlu agar kita semakin motivasi lebih baik tapi bila hal yang kita banding-bandingkan tidak kesampaian atau punya target terlalu tinggi bisa menambah stres.
Percaya kepada kemampuan sendiri serta melihat orang lain sebagai motivasi bukan sebagai kompetisi yang bikin iri. Itulah kunci!!

Cara terbaik yakni dengan meningkat kualitas diri secara bertahap, bila dulunya salatnya jarang berjamaah sekarangnya jadi berjamaah, bila dulunya pakaian dan jilbabnya masih nanggung sekarang sudah menutupi serta lebih islami. Bla dulunya ngajinya ibarat kambing jalan di atas bebatuan, kini ngajinya ibarat jalan padang rumput. Perubahan sedikit namun lama-kelamaan jadi berarti, daripada perubahan signifikan hanya karena ada moment sesuatu akan tetapi setelah moment itu berlalu malah kembali seperti sedia akal.

Berdoa berharap yang terbaik, karena ngga ada istilah jodoh yang ketukar paling sementara masih beluum keliatan aja. Karena yang ketukar hanya cuman terjadi di dunia sinetron yang ngejar rating semata. Makanya modalnya cukup sabar. Bila juga ngga kunjung datang datang sedangkan kamu sudah begitu ngotot agar dia datang malah yang kamu temui malah bukan orang yang tepat di waktu ngga tepat. Yang butuhkan kini yakni orang yang tepat di waktu yang tepat dan cepat atau lambat itu masalah waktu seberapa baik kamu memantaskan diri dan orang yang memantaskan dirinya untukmu kelak.

Cinta itu bukan rumus matematika dan juga spesifikasi ibarat produk, bila diibaratkan seperti itu banyak orang yang jago matematika dan pintar dalam membandingkan antara spesifikasi satu dengan yang lain. Ia akan menang banyak dan gampang banget dapat jodoh yang dia inginkan. Nyatanya hal seperti ngga ada. Cinta ngga hanya mencari yang terbaik untuk yang merasa diri yang terbaik, tetapi bisa saja cinta melengkapi diri yang sangat baik untuk pribadi yang masih jauh dari kata baik.

Apakah dengan tidak memantaskan diri, akankah jodoh datang?                    

Jodoh sudah diatur oleh Allah SWT, tapi bila segala perjuanganmu tidak sekuat dan setangguh mendapatkan pujaan hati, malah kamu dapat yang tidak sesuai dan bikin menyesal serta sakit hati. Dan jodoh itu gampang, cuma diri kita saja yang menganggap sulit misalnya dengan galau dengan orang yang salah, mikirin orang yang ngga mikirin balik dan nganggap diri ngga laku karena tampang kurang meyakinkan dan duit pas-pasan. Nah saat diri kita kurang bisa jadi waktu yang baik buat memantaskan diri bukan pesimis diri dari segala kekurangan. Malah kekurangan membuat kita tau segala yang kurang bila dimanfaatkan malah bernilai lebih.

Memang dunia ini dipenuhi segala sesuatu yang kita inginkan tapi yang kita inginkan tidak tertarik dengan kita. Sebuah paradoks nyata dan kompleks. Seperti itu pula bila kita benar-benar memantaskan diri sebaik mungkin, apa yang kita sukai malah mempertimbangkan diri kita untuk yang terbaik buat dirinya. Paradoks apa yang kita sukai namun tidak menyukai kita bisa sedikit tertolong dari rasa pantas diri dan mempersiapkan diri lebih baik.
Share:

4 komentar:

  1. Semangat terus yaa untuk selalu memantaskan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. pribadi yang pantas butuh kerja keras kedua belah pihak biar tak ada yang kecewa saat merajut masa depan

      Hapus
  2. sangat menginspirasi M.iqbal, jodoh itu siapa siap dia dapat, bukan siapa cepat dia dapat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm.... tapi dilema kini banyak yang gregetan saat melihat temannya dulu dan berujar dalam hati: aku kapan ya!!

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis