Rabu, 25 Januari 2017

Jangan Jadi Traveller Salah Kaprah


Travelling kini sudah menjadi gaya hidup ala modern. Menikmati destinasi menarik dari lokal hingga ke mancanegara jadi salah satu pilihan orang saat ini. Dahulu travelling belum setenar seperti saat ini. Berkat begitu banyak acara yang menyajikan tempat dan pengalaman menarik travelling seakan mampu menarik animo masyarakat.

Selain bisa mengenal lebih jauh tentang keindahan alam, budaya, dan adat setempat. Travelling jadi sesuatu yang mengasyikkan, siapa yang mau menolak andai diberikan tiket jalan-jalan gratis dan tempat tersebut ada lokasi yang anda idam-idamkan.

Tak hanya itu saja, naiknya para wisatawan sebanding dengan maraknya istilah para travelling coba-coba. Harus disadari bahwa sosial punya andil yang cukup besar pada perkembangan lokasi wisata. Promosi yang dilancarkan secara gratis ini mampu menyedot animo pengunjung.

Mereka umumnya travelling terdorong dari sosial media menjadi traveller. Tujuannya salah satunya ingin memenuhi daftar koleksi terutama IG stories dengan berbagai foto di spot-spot menarik.

Akibatnya kadang mereka lupa memikirkan risiko kelak, misalnya rela naik ke puncak gunung hanya untuk sebuah jepretan foto. Padahal untuk proses persiapan ke sana membutuhkan bekal dan mental yang kuat. Risikonya bisa mengancam nyawa mereka sendiri.

Tak hanya itu saja, andai saja spot yang menarik yang dibagikan di sosial media, tak lama kemudian langsung booming. Spot yang begitu natural tersebut kedatangan banyak pendatang yang kurang kesadarannya menjaga. Hanya untuk hasil jepretannya, namun merusak keindahan yang ditawarkan oleh tempat tersebut.

ada pula hal miris yang menurut saya pribadi cukup aneh, ialah mereka para pemburu moment bukan penikmat moment. Menghabiskan begitu banyak uang, menyisihkan waktu, dan menguras fisik untuk bisa sampai ke tujuan. Lalu itu semua hanya untuk mengabadikan moment yang menyita waktu sehingga saat ingin menikmati moment liburan, waktunya sudah habis. Cukup disayangkan.

Sebenarnya mengapa kita harus travelling?
Alasan mengapa banyak yang tergiur travelling salah satunya ialah karena butuh refreshing. Pekerjaan yang berat dan beban pikiran memuncak jadi alasan kuat peri travelling.

Menurut penelitian, setiap sekali travelling atau liburan, efeknya dapat meredam stres hingga kurang lebih 6 bulan ke depan. Tetapi kalau kelamaan travelling juga bikin stres, karena duit habis dan kehilangan pekerjaan karena keburu dipecat. Hehe!!

Sebenarnya travelling itu bukan pemborosan, asalkan bisa mengatur mulai dari keuangan dan waktu bisa efisien. Asalkan tidak kelabakan setelah pulang, semua sah-sah saja. Travelling juga memberikan berbagai memberikan sejumlah manfaat yang tak diduga. Apa sajakah itu, berikut ulasannya:

Merasakan sesuatu yang baru, Menjadi traveller pasti akan akrab hal yang baru bisa saja suka dan duka. Misalnya bisa berkenalan dengan sejumlah orang atau teman baru, pengalaman salah naik kendaraan, hingga tersesat tak tahu jalan pulang. Semua itu bisa dirasakan salah satunya saat travelling

Mendapatkan kepuasan tersendiri, Siapa yang tidak senang saat tujuannya bisa tercapai mulai dari mempersiapkan keberangkatan hingga kepulangan. Sudah pasti sangat-sangat menguras pikiran, kantong dan tenaga.

Namun dibalik itu semua ada nilai kepuasan dan kesenangan tersendiri yang didapatkan. Bagaimana mengatur itu semua jadi lancar, apalagi moment tersebut jarang-jarang bisa kembali terulang.

Keluar dari zona nyaman, Bepergian ke tempat yang jauh dan asing seakan memberikan suasana baru. Perbedaan budaya dan bahasa serta ditambah dengan rasa sabar seperti waktu-waktu menunggu keberangkatan. Itu butuh perjuangan berat dan itu semua tak mengenakkan.
Dalam hati kecil sering berujar: 
Ngapain haruspergi  jauh-jauh, lebih enak di rumah dan aman.

Keluar dari zona nyaman itu lumayan berat, namun ada sisi positif terutama dalam menghadapi dan memecahkan masalah saat melakukan traveller. Semua akan terbayar lunas setelah liburan tersebut sukses berjalan.

Menambah wawasan baru, Secara tidak langsung pergi travelling memberikan sesuatu wawasan tentang suatu daerah yang dikunjung. Pengunjung bisa mengenal lebih jauh tentang keindahan alam, budaya, dan adat setempat. Ini jadi pengalaman berharga yang dirasakan.

Beberapa lembar jepretan mungkin hanya sebagai kenangan semata, tetapi bertambahnya jadi modal berharga andai melakukan travelling serupa di lokasi yang berbeda. Selain itu timbul rasa akan keberagaman dan perbedaan punya nilai unik yang diambil.

Apa yang sebaiknya jangan dilakukan saat travelling?
Bagi sebahagian orang saat tiba di lokasi yang tujuan adalah lupa untuk menjaga yang sudah ada. Sering kalimat seperti ini terlontar. 
Ahh... nanti ada yang bersihkan itu sampah, ngapain harus repot-repot segala. 
Tak apa pipis sembarangan, apalagi cuma saya sendiri. Nyatanya banyak yang melakukan hal yang sama dan ikut-ikutan apa yang ada lakukan. 
Ngga apa-apa nginjak taman ini, yang penting anglenya dapat, lumayan buat koleksi di IG histories. Nanti pasti ada yang perbaiki kok.

Kalimat-kalimat sini seperti ini sering terdengar terutama sekali oleh sejumlah yang mengatakan dirinya traveller sejati. Harus disadari itu bukan hanya tugas petugas kebersihan setempat tetapi juga pengunjung. Kesadaran sangat dibutuhkan supaya spot tersebut tetap terjaga.

Jangan ada lagi golongan traveller yang datang dan merusak setelah ia puas menjamahi keseluruhan. Para traveller yang baik bukan menjarah tetapi menikmati dan merasakan sensasi baru yang tidak ada di tempatnya berasal. Bukan hanya diri kitalah yang bisa merasakan, namun orang lain setelah ia pulang merasakan sama halnya yang ia rasakan.

Travelling menyenangkan ialah yang tak salah kaprah dengan menomorsatukan kenyamanan bersama. Traveller yang hanya ditinggalkan adalah jejak dan tak mengambil apapun kecuali foto. Termasuk di dalamnya menambah atau mengurangkan saat anda datang ke tempat tersebut.

Well.. semoga sedikit tulisan akan menjadi traveller bijak yang menjaga situs  atau destinasi terbaik agar bisa tetap menarik di masa depan. Ingat... jangan jadi traveller salah kaprah tapi yang selalu terarah.

Salam hangat, Ciao!!
Share:

4 komentar:

  1. yeye... kenikmatan setelah travelling itu luar biasa. kalo kata anak kekinian,"jak piknik mangat beuk pungo."

    haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoii.. Apalagi setelah capek kerja dan dapat waktu piknik. Pasti sangat menyenangkan!!

      Hapus
  2. Iya, Iqbal. Semestinya para pewisata harus sadar keindahan. Jaga kelestarian.
    Jadi teringat saat saya liburan ke KL. Di salah satu taman yang kami kunjungi, terpampang pamplet bertuliskan "jangan tinggalkan apa-apa selain jejak langkah"
    Itu artinya, dilarang tinggalkan sampah di situ. Kan gitu. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. Jangan tinggal apa2 kecuali jejak misalnya ngga buang sampah sembarangan. kasihan yang datang belakangan. Spotnya ngga Indah lagi, mereka cuma dapat sisa spot yang kata orang sebelumnya menakjubkan.

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis