Jumat, 20 April 2018

Belajar Banyak dari Kasus Kebocoran Data Facebook



Beberapa pekan yang lalu jagat maya dihebohkan dengan kampanye #DeleteFacebook yang menjadi trending sosial media. Perusahaan besar pun merespons hal tersebut dengan menutup akun Facebook milik mereka karena khawatir dengan gelombang tersebut, seperti yang dilakukan oleh Space X dan Tesla milik Elon Musk.

Penyebab utama adalah kebocoran data pelanggan yang kemudian disalahgunakan oleh konsultan kampanye Donald Trump, Cambridge Analytica dalam kampanyenya di tahun 2017. Hingga akhirnya berhasil memenangkan Donald Trump sebagai Presiden USA ke 45.

Muncul pertanyaan, data pribadi apa saja yang disimpan oleh Facebook dan bagaimana data tersebut bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab?

Baiklah... Bila Anda punya atau pernah punya akun Facebook. Silakan Anda masuk ke laman utama Facebook dan pilih setting/pengaturan. Kemudian masukkan password serta download a copy of your Facebook data.
 
Proses pengunduhan data
Tak berapa lama kemudian Facebook akan mengumpulkan data Anda secara keseluruhan, memang bagi yang belum pernah download data pasti membutuhkan waktu yang cukup lama. Akhirnya data yang terkumpul berhasil dihimpun dan jumlahnya cukup besar yaitu mencapai 124 MB. Walaupun saya pribadi sangat jarang menggunakan Facebook (bisa hitungan minggu atau bulan).

Saat data sudah berhasil di download, semua data tentang Facebook. Mulai dari kapan Anda membuat akun Facebook, email yang pernah digunakan, segala status, percakapan dengan siapa saja, like yang pernah Anda berikan hingga komentar ada di akun lainnya. Facebook juga menyimpan nomor ponsel dari teman-teman Anda, jelas ini sangat detail tersimpan rapi.

Selain itu, Facebook juga mengaitkan iklan-iklan yang Anda like dan kemudian dikunjungi di Timeline termasuk perusahaan yang punya kontak kita. Terakhir adalah aplikasi pihak ketiga yang terhubung dengan akun Facebook kita. Ia akan tahu segala tentang Anda karena kebiasaan dan kegemaran Anda. Sedikit menakutkan memang, apalagi jatuh ke tangan pihak yang salah.

Bagaimana data pengguna bisa bocor?
Skandal bocornya data pengguna Facebook berawal dari bocornya aplikasi pihak ketiga yang sering berseliweran di Timeline Anda. Semua itu berawal di tahun 2014, seorang peneliti bernama Aleksandr Kogan membuat aplikasi bernama This is My Digital Life. Aplikasi seperti kuis-kuis Facebook ini tidak hanya mengambil data 270 ribu data penggunanya saja, akan tetapi mengambil data teman-teman si pengguna tanpa perlu meminta izin.


Inilah yang menjadi alasan bocornya 50 juta pengguna Facebook dan 1,26% datang dari Indonesia. Data yang bocor sebanyak itu kemudian digunakan oleh Cambridge Analytica untuk membantu kampanye Donald Trump. Tujuan utamanya menyebarkan konten-konten yang tepat kepada penduduk USA dan global sesuai data pribadi yang mereka dapatkan. Supaya nantinya mereka memiliki Trump di tahun 2017 kemarin. Hasilnya Trump menang, mengalahkan kandidat tunggal Partai Demokrat, Hillary Clinton.

Analogi sederhananya seperti ini..
Seseorang pria rahasia mengagumi seorang wanita di dunia maya berawal dari begitu cantiknya wanita tersebut. Alhasil ia berupa sekuat tenaga mencari tahu informasi si wanita serta segala tindak tanduknya di dunia maya. Mulai dari temannya, percakapannya, hobi, dan kegemarannya. Mungkin si wanita tidak sadar bahwa di luar sana ada orang yang mencuri fotonya, mengoleksi videonya, lokasi nongkrongnya hingga mengetahui alamat rumahnya.

Hingga akhirnya si lelaki misterius bisa mengirim bunga atau makanan kesukaannya supaya si wanita bisa tertarik dengannya. Hingga akhirnya ia mengajak ketemuan sebagai bukti cinta. Jelas ini sesuatu yang sangat risih dan mengganggu bagi seorang wanita. Orang asing yang tiba-tiba datang, tahu segalanya dan seakan mengganggu privasi. Memang bisa jadi lelaki misterius itu mencinta secara tulus, tetapi ini sudah melanggar batas privasi di dunia maya.

Hampir sama dengan kasus Cambridge Anaytica, bisa saja banyak pengguna Facebook yang digunakan datanya mendukung Trump. Namun cara yang mereka gunakan salah karena melanggar privasi pengguna. Korban akan risih dan awalnya suka malah menjadi benci karena aksi menguntit yang terlewat batas.

Belajar dari pengalaman Facebook
Segala yang ada di dunia maya tidak semuanya aman, pasti ada celah (bug)....

Itulah mengapa kita semua harus berhati-hati dalam menggunakan sosial media. Ada pihak jahat yang mencoba mencuri atau bahkan perusahaan tersebut yang menjual aset pengguna kepada orang lain.

Di zaman saat ini data sangat berharga, apalagi menggunakan aplikasi yang cuma-cuma (gratis). Untuk bisa menghidupkan sebuah perusahaan, mereka mencari cara termasuk menjadikan data penggunanya sebagai mesin uang.

Saya pun ingat idiom yang dipopulerkan oleh Koran New York Time tahun 1872: Tidak ada makan siang gratis (There No Aint’t Such Things as a Free Lunch). Saat itu Bar di daerah Crescent City (New Orleans) memberikan makan siang gratis, namun mereka harus bayar untuk minum. Jelas saja, pengguna akan minum lebih banyak dibandingkan makan.

Sama halnya dengan perangkat sosial media dan mesin pencari yang kita gunakan saat ini. Memang kita tidak membayar saat menggunakannya, tetapi kita memberikan banyak informasi data pribadi kita yang punya nilai jual begitu berharga bagi mereka.

Kemunculan era baru bernama Blockchain
Era baru dimulai pada millenial jilid 2 (2010-an) saat Blockchain mulai hadir melalui kemunculan fenomenal mata uang kripto bernama Bitcoin. Blockchain yang transparan dan tidak ada data yang disimpan secara sentralisasi seakan kita tidak bisa menyalahkan sebuah perusahaan atas keteledorannya.

Namun ia hadir dengan konsep baru yaitu desentralisasi, pengguna punya tanggung jawab masing-masing atas data yang mereka buat di jagat maya. Segala catatan digital berada di tangan kita, baik dan buruk akan terlihat jelas dari tindak tanduk Anda.

Adanya Blockchain seakan pencurian data pengguna sangat sulit dilakukan, karena semua pihak punya tugas mengawasi jaringan dan tindakan mencurigakan lainnya. Itulah mengapa kehadiran Blockchain menghadirkan Smart User dan Smart Content adalah modal utama, khususnya membuat Anda punya catatan digital yang baik.

Inilah yang membuat banyak media desentralisasi morat-marit akibat gebrakan Blockchain. Tak tertutup kemungkinan mereka harus beralih atau bahkan kalah dengan media yang sudah murni memakai konsep blockchain, memberikan data penuh pada pengguna sedangkan media saat ini hanya khusus menjaga jaringan saja.

Dan pelajaran penting yang kita petik, segala sesuatu yang gratis kita gunakan pastinya Anda memberikan akses data Anda untuk dijual oleh perusahaan tersebut. Pengguna ibarat barang yang dijual dalam kemajuan perusahaan tersebut atau bahkan ada pihak-pihak tak bertanggung jawab yang mengintai data pengguna. Sehingga membuat apa yang dahulu Anda anggap rahasia, kini jadi konsumsi publik dan pengembang. 

Bagaimana pendapat Anda, silakan komentarnya.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email