Monday, June 10, 2019

Podcast, Syahdunya Nguping Secara Digital

Kini ramai-ramai para konten kreator membuat Podcast, sinar benderangnya jadi lahan basah untuk berkarya. Mendengarkan musik atau debat sudah jadi sesuai yang menjemukan. Podcast hadir buat para pendengar yang merasa radio mulai ketinggalan dan tak menjawab kebutuhan masyarakat modern yang urban.

Podcast seakan jadi cara baru menikmati konten secara audio. Tujuannya banyak seperti halnya radio, tanpa iklan dan bahkan bermodalkan kouta internet atau Wi-Fi.  Kita seakan bisa mendengarkan langsung dari ahlinya sesuai dengan tema yang disuka.


Semuanya bisa mengunduh dan mendengarkannya secara offline. Layanan bisa berlangganan sehingga pendengar bisa mengikuti setiap episode baru atau topik menarik selanjutnya. Pengguna tinggal mengunduh dan menontonnya secara offline.
Menurut laporan yang disampaikan oleh The Smart Audio dari Edison Research menunjukkan data bahwa: para pengguna gawai saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berbagai aktivitas di antaranya 65% untuk mendengarkan musik, 29% untuk berita, 20% untuk Podcast, 18% untuk audiobook. Jumlah Podcast makin meningkat karena ada banyak channel menarik dibandingkan hanya memutarkan music atau mendengarkan berita secara audio.
Semua itu jelas terlihat, apalagi dunia on air berubah arah, radio dianggap saat ini makin berkurang interaksi dan mementingkan musik dan iklan. Mungkin banyak yang belum tahu atau bahkan mengabaikan pentingnya Podcast untuk saat ini. Konsep yang ditawarkan mungkin menyerupai radio dengan adanya host yang membahas konten secara ringan melalui audio.

Ada banyak perbedaan mendasar dari keduanya, misalnya saja Podcast yang bisa menggunakan layanan Offline sedangkan Radio yang bersifat live dan mengandalkan sinyal pemancar dalam proses jangkauan. Jangan heran konsep Radio terbatas pada suatu daerah atau wilayah saja tergantung kemampuan frekuensinya.

Awal mula era Podcast dimulai
Mungkin saat ini bagi para pengguna internet Indonesia merasa tidak asing saat mendengar Podcast. Ada banyak orang mulai dari orang biasa, penyiar hingga Youtuber banting setir menjajal jadi Podcaster. Ada banyak penikmat audio yang sudah terlalu bosan dengan konten visual. Imajinasi mereka tak bisa bermain atau menerka-nerka seperti konten audio khas radio dan kini bernama Podcast.

Pertanyaan yang menyeruak saat ini, apa itu Podcast dan mengapa mulai mengambil alih dunia penyiaran khas millennial?
Jawabannya, bisa saja, mungkin saat pertama sekali mendengar Podcast, pasti terbayang seperti halnya mendengarkan radio. Ia… konsepnya serupa tapi ada beberapa yang jauh berbeda. Sama-sama mengusung dan menawarkan audio pada pendengarnya.

Namun ada juga para Podcast yang menggunakan video dalam proses penayangannya seperti di siaran Youtube. Misalnya saja sifat radio yang on air sehingga bila pendengar tidak sempat mendengarnya, itu berarti tidak ada pengulangan.

Sifat Podcast adalah offline sehingga bisa didengar kapan saja dan pastinya bebas dari iklan seperti halnya sering ditemui pada radio. Iklan jadi sebuah rintangan buat kita mendengarkan informasi audio tanpa henti, konsep on demand service menerapkan seperti itu.

Sejarah Panjang Sejarah Podcast
Awal mula kemunculan Podcast dari dua orang Adam Curry selaku VJ MTV dan Dave Winer yang terkenal dalam pengembangan perangkat lunak. Itu sejalan dengan perkembangan perangkat lunak dan internet yang makin pesat.
 Image result for adam curry  podcast
Mereka punya ide tersendiri dalam cara mendengarkan audio yang terkoneksi dengan perangkat lunak secara offline. Berbeda dengan cara mendengarkan secara radio yang bersifat on air dan kaset yang offline. Pengguna bisa mendengarkan kapan saja topik yang mereka sukai.

Kerja keras mereka akhirnya melahirkan sebuah program yang bernama iPodder, pengguna bisa mengunduhnya secara otomatis internet radio pada iPod milik masing-masing.  Podcast telah lama muncul setelah awal mula media Mp3 muncul, pelopor utama adalah Apple melalui aplikasi yang ada di IPod kala itu.

Kelahiran Ipod 2001 yang diperkenalkan Steve Job jadi dimensi baru kelahiran perangkat audio digital. Steve Job melihat peluang musik berbayar bisa menyelamatkan para musisi dari pembajakan hak cipta terhadap hasil karya mereka.
 Image result for steve jobs ipod
Kejayaannya mulai hadir di tahun 2005 hingga akhirnya kemunculan smartphone semakin memperkuat Podcast mampu bersaing dan menggantikan Radio. Memang saat ini ada Podcast yang bukan hanya sekedar menawarkan audio suara tapi video juga.

Tahun 2005 jadi awal perkembangan dari Podcast hingga akhirnya di tahun 2007 Podcast mulai familiar oleh kebanyakan oleh pengguna. Sedangkan kala itu internet sudah cukup baik dan salah satu aplikasi terkenal di dalam iTunes adalah iPodcast. Seakan peluang baru host mudah mencari eksistensi melalui audio.
 Image result for podcast
Nama Podcast pun serupa dengan produk anyar Apple yaitu iPod, adalah hasil gabungan dari iPod dan Broadcasting. Saat itu media yang serius dengan audio masih sangat sedikit dan Apple jadi perusahaan pionir yang melakukan hal tersebut. Hingga kini sudah mulai berkembang di berbagai platform sudah menyediakan layanan Podcast sesuai dengan keinginan.

Konsep unik yang ditawarkan Podcast
Mungkin setiap Radio punya kesamaan dalam hal mengabarkan berita, info hingga bahkan iklan yang ditawarkan. Beda halnya Podcast yang menawarkan perbedaan yang sangat mencolok. Perbedaan terlihat pada infografis berikut: 
Di era saat ini, ada banyak disrupsi yang terjadi dan salah satunya adalah yang terjadi pada proses penyiaran dan topik yang ditawarkan sesuai dengan pilihan kita. Bukan lagi harus memilah lagi mana yang ingin didengarkan dan kapan waktu harus mendengarkannya.

Podcast jadi media yang ingin menyampaikan pandangan dan pengalaman secara autentik dan tanpa Batasan. Berbeda jauh dengan yang disampaikan pada konferensi terlalu struktur dan kaku. Perkembangan tersebut membuat Podcast tumbuh subur di sana, bahkan menjadi tren yang akan berkembang di masa depan.

Podcast dan segudang kelebihannya
Podcast ada banyak kelebihan yang ditawarkan sehingga ia mampu menggantikan peran radio konvensional. Berikut sejumlah kelebihan yang dimiliki oleh Podcast dan menjadi media audio masa depan, berikut ulasannya:

Beragam pilihan channel, Saat ini ada banyak kategori dari Podcast baik dalam maupun luar negeri sesuai dengan pilihan kita. Coba dibandingkan dengan frekuensi radio kota Anda atau yang terkemuka saat ini, jelas jumlahnya kalah banyak. Belum lagi itu tidak cocok dengan Anda.

Salah satu channel yang saya sukai adalah milik pembawa acara kenamaan USA, Joe Rogan. Ia terkenal sebagai Podcaster dan host andal UFC yang mengundang beragam bintang tamu. Mulai dari selebriti, olahragawan, hingga bos perusahaan teknologi. Pembawaannya yang santai dan suaranya yang khas jadi ciri khasnya. 
Bahkan CEO kenamaan seperti Mark Zuckerberg saja memiliki Podcast pribadi yang khusus membahas bidangnya yaitu teknologi dan sosial (Tech & Society Podcast). Ada banyak episode yang ia ulas sehingga kita bisa tahu pandangan teknologi dari perusahaannya.
 Image result for mark zuckerberg podcast
Artinya Podcast mampu melahirkan konten menarik dari berbagai kalangan, jangan salah ada banyak beragam profesi dan minat Podcaster yang dituangkan pada Podcastnya. Kita seakan dapat ilmu baru dan pencerahan di dalamnya.

Sedang di tanah air, memang belum banyak yang saya ketahui, akan tapi ada beberapa channel yang saya sukai khususnya dalam membahas materi olahraga dan teknologi. Channel seperti box2boxID dan CeritaKumparan jadi pilihan, membahas olahraga khususnya sepak bola dengan cara berbeda. Serta berbagai cerita dan isu yang sedang hangat
 Image result for box2box podcast
Ada juga asumsi.co dengan pembahasan politik hingga Kaskus Podcast yang menawarkan beragam topik menarik kekinian ala anak muda. Serta Raditya Dika dengan channel Podcast-nya di Youtube, bukan hanya di channel Podcast tapi ia juga menyiarkan via Youtube.
 Image result for podcast raditya dika
Raditya Dika melihat peluang besar Podcast yang asyik sembari mengajak bintang tamu buat diajak bincang-bincang hingga sejam lamanya. Materinya beragam khususnya profesi dari sang bintang tamu, mirip dengan strategi yang digunakan oleh Joe Rogan dalam setiap Podcast-nya.
Image result for inspigo
Selain itu kini sudah ada Channel Podcast yang merangkum begitu banyak narasumber menjadi sebuah aplikasi Podcast yang menarik. Namanya adalah Inspigo, lahir dari tiga orang anak muda yang keren yaitu Tyo Guritno, Eva Ditasari, dan Yoris Sebastian. Mereka bertiga melihat peluang besar di dunia digital khususnya audio. Apalagi sistem on demand berbasis audio yang sedang tumbuh pesat.
Image result for inspigo
Atas dasar itulah Inspigo lahir dan berhasil mewawancarai dan sharing pengalaman dari tokoh ternama saat ini. Berbagai tema berhasil diangkat, mulai dari pengetahuan, kepemimpinan, bisnis, olahraga, seni hingga musik. Konsepnya pun dibagi dalam berbagai part kecil dengan judul yang menarik, sehingga tidak bosan untuk didengarkan. Inspigo tersedia dalam bentuk gratisan dan premium, sekaligus bisa mengajak teman atau kolega bergabung ke Inspigo

Sampai jumpa iklan yang mengganggu, iklan bukan hanya berupa tampilan visual saja tapi berupa audio. Sesuatu yang paling sering ditemui saat mendengarkan radio. Mulai dari iklan promosi hingga iklan konten politik. Bahkan lagu bisa dianggap iklan sembari topik yang ingin didengarkan, jelas menjemukan karena ada banyak waktu yang ditunggu. Podcast bebas iklan dan membuat pendengar fokus pada konten bukan selingan yang mengganggu dan memecah fokus.

Di era saat ini, iklan jadi momok yang mengganggu, era multi tasking yang serba cepat dan minim iklan. Seakan pendengar ingin langsung sampai pada konten. Salah satunya disrupsi dan perubahan pola menikmati konten audio yang tak ada iklan membuat namanya mulai naik daun.

On Demand service nan fleksibel, mendengarkan Podcast layak menonton layanan offline kapan waktu tersebut bisa Anda miliki dan manfaat. Jadi tidak terpaku waktu dan membuat kita harus menyisihkan waktu tapi menyesuaikan waktu luang.

Adanya tombol mempercepat dan memperlambat akan membantu Anda Skip bagian yang kurang menarik untuk mengambil inti sari. Anda bisa mendengarkannya berulang kali dan kapan saja tanpa harus menunggu jadwal dan iklan seperti halnya radio.

Podcast dengan beragam episode, setelah diunduh kita akan bisa mendengarkan Podcast lanjutan tanpa harus memindahkannya dari komputer atau PC ke file smartphone. Ada fitur download otomatis jika berlangganan sebuah channel tanpa harus mengunduh secara manual.

Serta Podcast yang telah didengarkan bisa dihapus supaya tidak membebani memori ponsel Anda. Selain itu sifatnya yang cloud pada platform membuat ia lebih ringan dibandingkan simpanan Mp3 di ponsel kalian.

Serial atau episode ini seakan menarik, ada banyak Podcaster yang bercerita atau memberikan tutorial bersambung. Layak diikuti dan bahkan dengar, apalagi dengan pembawaan yang dikemas semenarik mungkin.

Sang Podcaster pun tidak ingin menyelesaikan dalam satu episode, ia seakan memberikan jeda pada episode selanjutnya. Selain itu pendengar seakan dibawa hanyut dengan rasa penasaran dengan kelanjutannya. Ibarat menonton drama atau sinetron. Kelebihan Podcast yang fleksibel karena berupa audio, pendengar bisa mendengar di tengah rutinitasnya sekalipun.

Siapa saja bisa punya Podcast,  Ingin punya channel Podcast tidak harus punya studio dan perlengkapan memadai. Cukup dengan peralatan sederhana seperti ponsel, headset hingga Wi-Fi dalam mengakses aplikasi Podcast. Karena yang didengar adalah audio bukan tampilan dari studio, memang ada Podcast yang bersifat layanan video yang tayang di Youtube. Tapi tidak semua orang sempat menonton karena hanya fokus pada pembicaraan.

Layanan cuma-cuma (Gratis), untuk membuat Podcast adalah gratis, paling modalnya adalah alat perekaman yang harus dimiliki. Modal yang digunakan dalam membuat channel Podcast tidak semahal membuat video. Itu artinya semua bisa membuat Podcast dan hanya butuh jam terbang dalam mengedit audio dan kemampuan berbicara. Selanjutnya tinggal eksekusi ide…

Menemukan channel Podcast yang kita inginkan pun tidaklah sulit, tidak harus seperti radio dengan teliti menangkap frekuensi radio. Kita tidak tahu radio tersebut membahas apa, sedangkan Podcast kita langsung tahu dari judul episodenya hingga tema yang diangkat. Selanjutnya tinggal subscribe sesuai dengan keinginan kita.

Ayo Jadi dalam Bagian Podcaster
Demam Podcast sudah menjalar buat para anak muda, ada banyak channel Podcast yang lahir. Bila dulunya hanya dikenal di Amerika dan Eropa saja, kini sudah sampai ke Indonesia. Ada banyak mantan penyiar radio hingga Youtuber yang punya channel Podcaster.
Podcast bukan saja sebagai channel yang digunakan mengekspresikan hobi dengan bercakap-cakap. Tapi sebagai penyambung lidah perusahaan ternama saat ini. Dulunya kita hanya bisa mendengarkan seminar mahal yang langsung dari CEO ternama dengan bayaran mahal pula, kini semua bisa didengarkan Podcast. Bagi perusahaan, ini caranya mendekatkan diri dengan pelanggan sekaligus mengenalkan ide baru yang nantinya akan dieksekusi.

Siapa yang tak kenal dengan Nadiem Makarim CEO GOJEK startup decacorn pertama tanah air, ia punya channel Podcast. Melalui channel-nya: GO-Figure. Memberikan kiat sukses dan urusan dapur dari Gojek hingga menjadi startup bernilai kini. Kini sudah banyak konten yang dilahirkan, lima konten yang keseluruhannya berbahasa inggris. Konten pertama yang mengulas tentang Growing Pains of Becoming a Decacorn.
 Image result for go-figure gojek
Ini sangat tepat karena di Indonesia pangsa yang paling menarik adalah hiburan, bisnis, dan teknologi. Konten Podcast seperti ini sangat menarik dan sifatnya membagikan pengalaman pada pendengarnya. Hadirnya Gojek seakan menambah daftar perusahaan startup hingga reviewer teknologi bermain di Podcast.

Podcast seakan jadi media yang tepat buat mereka berbicara lebih dibandingkan di media seperti Blog atau Youtube. Tak perlu khawatir karena ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam membangun Podcast, berikut sejumlah pertimbangan utama:

Sesuaikan dengan niche Podcast, Saat ini ada banyak Podcast dari beragam genre lahir di publik. Tugas utama para Podcaster pemula adalah menentukan topik yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Nantinya Podcast andai akan digolongkan pada kategori tertentu.

Jelinya melihat niche yang Anda mampu kuasai, sebaiknya satu genre saja buka gado-gado. Karena ini akan membangun personal branding Anda. Serta lihat juga genre yang masih minim dan saat itulah Anda kembangkan ide yang menarik pendengar. 
Baca juga: Membangun Personal Branding di Internet

Alat pendukung dalam proses perekaman, Alat perekaman buat pemula cukup sesuatu yang sederhana, tak perlu harus punya alat perekaman lengkap atau bahkan studio sendiri. Tujuan dari punya Podcast adalah untuk bisa berbagi dengan pendengar lainnya. Alat tersebut wajib ada dan dengan smartphone milik Anda bisa melakukan perekaman.
 Related image
Itu sebagai modal awal, nanti bisa sudah mudah rezeki dan Podcast Anda mengalami kemajuan berarti. Saat itulah upgrade ke perekaman lebih baik. Terpenting konten yang diberikan tepat sasaran dan menarik minat pendengar.

Menghasilkan konten, Podcast jadi salah satu media yang digunakan dalam menghasilkan konten. Nah.. konten utama yang dihasilkan adalah audio, memang ada juga Podcast yang menampilkan video dan bukan hanya tayang di Podcast tapi juga Youtube. 
Sebaiknya bagi pemula, gunakanlah teks dalam berbicara supaya pembicaraan tidak out of the box sesuai dengan konten. Apalagi Podcast terkenal dengan episodenya yang beragam dengan sejumlah kelanjutannya. Adanya teks akan membuat sang Podcaster tahu kapan membicarakan satu topik hingga topik selanjutnya.

Mengedit dengan baik menggunakan software, ada banyak pilihan yang dapat digunakan dalam perekaman suara yang baik digunakan. Sebagai pengguna setia Windows, pilihan Sound Recorder adalah salah opsi terbaik sebelum disimpan sebagai audio. Tinggal mengubahnya dalam format pemutaran yaitu Mp3.

Desain cover yang menarik, Podcast akan terlihat hambar tanpa adanya cover atau judul yang menyertai. Ada baiknya desain dengan sebaik mungkin, ada banyak aplikasi yang bisa digunakan dalam mengedit cover menarik. Salah satunya adalah Canva yang menyediakan beragam desain, tinggal mencari gambar gratisan di internet dan kemudian mengeditnya di Canva.
 Related image
Apalagi cover berpengaruh kuat pada rasa penasaran para pendengar, itu didukung dengan judul episode. Sama halnya seperti menulis judul yang menarik perhatian pembaca dan pastinya diiringi dengan isi konten yang sesuai dan berbobot juga.

Sisi menguntung dari Podcast
Ada sejumlah manfaat Podcast dari pendengar dan Podcaster (konten kreator). Keuntungan ini tidak dapat ditemukan pada brodcasting konvensional salah satunya seperti radio. Keuntungan yang didapatkan mulai dari mudah diakses melalui berbagai layanan Podcast dan menemukan topik yang sesuai dengan passion dan selera Anda.

Tak perlu lagi larut atau menukar channel hanya karena iklan yang mengganggu. Sifatnya juga fleksibel yang ditawarkan Podcast serupa dengan radio sehingga bisa didengarkan saat beraktivitas atau mengarungi kemacetan lalu lintas jalan raya.

Karena berupa konten yang berbasis audio, pengguna tidak perlu terpaku pada layar smartphone dalam menyaksikan konten. Kelebihan inilah yang membuat Podcast lebih fleksibel sesuai dengan keinginan pengguna. Pastinya rekaman yang sudah didengar bisa diputar berulang kali layaknya playlist musik baik secara online dan offline.

Kemampuan mendengar dianggap sangat baik dalam mengasah imajinasi. Pendengar hanya bisa dengar Podcast dari hostnya, kini tinggal memainkan imajinasi dengan membayangkan bentuk, rasa, dan rupa atas sensasi topik yang Podcaster bicarakan. Mirip dengan bacaan, audio akan lebih banyak membuat pendengarnya berpikir dan memainkan imajinasinya.

Ada banyak penyedia Podcast yang dibisa diinstal di smartphone Anda, tinggal mencari channel Podcast sesuai dengan keinginan. Nama-nama besar penyedia layanan seperti Spotify, Soundcloud, Apple Podcast, Anchor, Inspigo, dan Google Podcast jadi media yang menerima Podcast.
 Image result for podcast indonesia statistics
Bagaimana dengan para kreator di jagat podcaster?
Menjadi Podcaster jauh lebih murah dibandingkan Youtuber, karena para kreator hanya bermodal audio dan perekaman sederhana dalam proses produksi. Bahkan hanya bermodalkan ponsel pintar, headset, dan aplikasi sederhana membuat Podcast. Ruang kamar malahan bisa dijadikan sebagai lokasi melakukan perekaman, pastinya jauh dari kebisingan agar tidak mengganggu rekaman audio.

Tak perlu proses mengedit yang lama dan melelahkan seperti menghasilkan video, sehingga jauh lebih produktif. Tinggal membuat naskah atau bahasan topik yang dipilih sesuai dengan seleranya. Karena semuanya berdasarkan audio, jadi tidak harus mencari tempat shooting yang baik layaknya Youtuber. Cukup memulai Podcast mulai dari ruangan kamarmu pribadi.

Kata siapa Podcast tidak dapat menghasilkan duit?
Podcast kini jadi ladang penghasilan buat para Podcaster profesional dan pemula, mereka yang telah merintis karier dan terkenal bahkan akan mendapatkan penghasilan dari Podcast mereka. Memang di awalnya belum, namun sesuai dengan kepopuleran di kalangan pendengar, akan banyak brand dan agency yang beriklan pada Podcast-mu. Bentuknya berupa ad-lib berbayar dengan durasi dan cara pembawaan menarik.
 Related image
Andai saja belum ada brand dan agency yang beriklan pada Podcast-mu, jangan berkecil hati. Karena ini bisa digunakan sebagai ladang uang yang menjanjikan mempromosikan produk milikmu atau milik teman-teman Anda.

Sebagai contoh adalah keuntungan yang didapatkan pada Podcast. Hitungannya berupa CPM (Cost per M yaitu hitungan 1000 penayangan). Biaya yang didapatkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan TV, Radio bahkan Blog sendiri.

Sebagai contoh yang dikutip dari New York Magazine, CPM Podcast ada di angka US$ 20 – 45 setiap 1.000 CPM. Radio di angka US$ 1 – 18, TV US$ di angka 5 – 20, dan blog hanya di angka US$ 1 – 20. Walaupun data yang saya gunakan di atas adalah pendapatan yang didapatkan Podcaster di US, jelas tertera dari data di atas nilai Podcast jauh lebih tinggi.

Podcast pun punya cela
Setiap platform atau aplikasi pasti punya cela, satu sisi ia menawarkan fleksibilitas pada konten kreator dan pendengarnya. Hanya saja ada banyak alasan di balik kekurangannya, berikut ini ulasannya:

Banyak channel kacangan, Pembuatan Podcast yang mudah seakan membuat siapa saja bisa punya channel Podcast. Otomatis ada banyak konten kreator dari level profesional hingga amatir. Tidak ada salahnya memang, hanya saja ada banyak Podcast yang kurang berbobot dari materi hingga host yang membawakan Podcast.

Channel tak sesuai konten, ada banyak channel Podcast yang tidak sesuai dengan niche dan judulnya. Kebanyakan clickbait khususnya channel amatiran, tujuannya adalah mencari pendengar. Jelas ini sangat mengganggu dan mengecoh pendengar. Penyebabnya tak ada penyaringan dari platform tersebut, sehingga harus jeli melihat channel yang tepat dan punya nama besar.

Tanpa Filter, karena ada beragam Podcast, sudah pasti ada yang tidak dikonsumsi oleh semua orang. Bisa saja konten yang dibicarakan tidak layak seperti pembicaraan kasar tanpa di filter hingga konten dewasa yang bisa saja didengarkan oleh anak di bawah umur.
 Image result for podcast no filter
Belum ada filter khusus yang disediakan oleh aplikasi Podcast, sehingga bisa diakses siapa saja. Ini sebuah kekurangan dari Podcast dan menjadi perhatian khusus. Serta berpeluang lahirnya channel yang nyeleh dan bahkan menyimpang dengan sosial kultur masyarakat di negara tersebut.

Melihat masa depan Podcast di Tanah Air
Perkembangan aplikasi sharing kini sudah jadi sesuatu yang terdepan, bila dahulunya kita dimanjakan dengan konten visual dan video. Saat ini pasar digital mulai beralih ke gaya lama, pembawaan khas radio namun berwujud audio tanpa henti. Semua itu adalah dalam diri Podcast.... 

Meskipun sudah lama hadir, perkembangannya di Indonesia terbilang lambat dibandingkan platform foto dan video. Salah satu alasannya karena ekosistem digital yang belum terbentuk dan ditambah lagi dengan belum meratanya penetrasi internet seakan membuat nama Podcast tidak terlalu dikenal.

Podcast akan laris bak kacang goreng ke depan, memang Indonesia sering terlambat dalam perkembangan platform. Saat negara lain sudah menghasilkan konten kreator jempolan, Indonesia baru saja memulainya. Menurut data jumlah Podcast Indonesia meningkat tajam dari hanya 80-an channel di tahun 2018. Meningkat tajam ke angka 300-an di tahun 2019. Angka ini akan terus bertambah karena banyak influencer dari berbagai platform akan membuat Podcast-nya. Kita tunggu saja gebrakannya.

Alasannya karena belum menguntungkan dan sepi peminat, tapi kini sudah banyak yang mulai melirik dan melihat peluang tersebut. Banyak para konten kreator terkenal sudah terjun ke Podcast, melihat pangsanya akan besar dan sangat menjanjikan. Ada segudang penyedia layanan yang menjadi layanan Podcast, tinggal bagaimana cara mengembangkan konten dan pemainnya. Pasarnya akan datang dengan sendirinya.

Perkembangan Podcast pun berbanding lurus dengan pengguna Spotify, umumnya pengguna tanah air menggunakan media music on demand dari platform tersebut. Sinarnya kini seakan membuka pintu Podcast jadi santapan menarik selain hanya sekadar mendengarkan musik semata. Obrolan santai dari berbagai materi seakan mampu menarik minat semua kalangan.

Adanya Podcast seakan jadi lahan berkreasi buat konten kreator, ada lahan basah dan media lainnya yang tak kalah menguntungkan. Indonesia jadi pangsa pasar yang besar, tinggal memoles dengan konten menarik. Bisa saja kejayaan Podcast sama seperti Radio, bersaing dengan Youtube yang dulunya dirajai oleh TV.

Bagaimana, Anda siap menjadi membagikan pemikiran dan ide di Podcast? Semoga saja postingan ini bermanfaat dan Have a Nice Days Guys.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer