Sunday, January 5, 2020

Palapa Ring, Jembatan Koneksi Seantero Negeri

Membangun bangsa yang tangguh tak selamanya selalu berhubungan dengan infrastruktur fisik saja. Pergeseran di era saat ini begitu kentara khususnya pada perkembangan yang sifatnya non-fisik. Khususnya di era digital, peran yang paling dalam kemajuan bangsa sangat eranya dengan internet.

Semua transaksi sudah beralih ke arah digital tanpa terkecuali, inilah mendorong lahirnya anggapan: Semakin cepat akses internet, berbanding lurus dengan kemajuan sebuah bangsa. Memang ini menjadi sebuah tantangan tersendiri yang harus dihadapi. Selama ini Indonesia dicap punya kualitas internet yang cukup buruk, khusus perbandingan antara di perkotaan pun punya jurang yang sangat jauh.

Ada gap besar yang selama ini merentang karena internet telah jadi sebuah keharusan semua pihak. Segala akses dan sudah terkoneksi dengan internet, telat berarti kehilangan begitu banyak kesempatan. Ini yang coba dibangun pemerintah dalam menyatukan Indonesia dalam wujud internet.

Memang tak salah akses jalan, jembatan, pelabuhan, dan bandara tak kalah penting. Tak itu akan percuma terisolasi dari dunia luar. Internet seakan mampu melihat dunia dari sudut mana pun, tak perlu menempuh ribuan kilometer dengan berkendara, mengarungi samudra atau terbang menggunakan burung besi.

Lalu muncul pertanyaan, mengapa internet di Indonesia kalah jauh dengan negara di Asia Tenggara?
Alasan pertama karena luas area yang harus dicakup, Indonesia punya daerah yang luas dengan tantangan dan cakup begitu kompleks. Letak geografis dan bentang alam khas kepulauan seakan menjadi tantangan yang tak sebanyak negara tetangga.
Suku, budaya, dan bentang alam kompleks di nusantara
Itu belum lagi dengan biaya super mahal yang harus siapkan, membangun infrastruktur teknologi butuh budget sangat besar. Ada banyak anggaran yang harus dipersiapkan dan waktu merealisasikannya. Itu coba diwujudkan dengan proyek bernama Palapa Ring, proyek menyatukan Indonesia dalam wujud internet.

Proses dalam mengejar bangsa yang sudah maju dalam sektor pembangunan jelas butuh waktu puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun. Mereka sudah punya sistem yang dibangun begitu lama dan turun-temurun, mengajar itu semua hampir mustahil. Tapi tidak dengan teknologi, ia bisa dikejar dalam waktu singkat melalui koneksi internet.

Kita pun bisa membangun shortcut-shortcut dari setiap bidang yang punya. Misalnya saja seseorang punya keahlian membuat kerajinan, meskipun berada di daerah dengan adanya internet mampu menjangkau pasar global. Bahkan menyamai kerajinan mapan dari negara maju, artinya internet memberikan porsi yang sama pada siapa pun.

Membangun Indonesia dalam Wujud Internet
Seperti yang saya katakana tadi, bangsa kita tertinggal cukup jauh dan cara menyamainya melalui shortcut: Internet salah satu jawabannya. Sebagai gambaran, semua peradaban dimulai dari munculnya pertanian. Masyarakat butuh makan dalam menyambung hidup dan kemudian mengekstrak setiap bahan makan dalam bertahan hidup.

Saat fase ini sudah melewati, lahirlah beragam industri karena masyarakat sudah tidak kelaparan lagi. Industri dianggap sebagai penghubung kemajuan sebuah bangsa dan daerah. Ada banyak akses yang tercipta dari jalanan, pelabuhan, bandara dalam proses produksi industri yang dibuat.
Terakhir adalah sektor jasa, negara maju sudah pasti akrab dengan sektor tersebut. Mereka menghidupkan segala kebutuhannya dengan jasa karena fase sebelumnya sudah cukup mapan. Di sinilah lahir berbagai startup yang kemudian jadi perusahaan digital, iklim yang mendukung sehingga sektor jasa berkembang pesat.

Lalu kemudian muncul pertanyaan, di mana posisi Indonesia untuk saat ini?
Saat ini Indonesia berada di masa peralihan dari sektor pertanian ke sektor industri. Ada banyak kota besar di Indonesia mulai hidup dari industri berbeda dengan dekade sebelumnya yang masih mengandalkan sektor pertanian.

Untuk bisa sampai ke tahap sektor jasa butuh namanya akses internet yang cukup baik. Di tahapan ini internet yang punya koneksi baik akan mampu menumbuhkan sektor jasa. Marketplace, go-ride hingga aplikasi serupa akan punya banyak pelanggan. Bahkan mereka menjadi mitra di dalamnya, menawarkan jasa yang dulunya masih bersifat konvensional ke arah digital.

Belum lagi ada banyak ilmu dan informasi baru yang didapatkan tanpa harus ikut kursus. Sekaligus membuka mata masyarakat akan yang terjadi di dunia menit ini dalam waktu singkat. Semuanya karena adanya internet.

Membangun jaringan internet yang dibutuhkan masyarakat
Pemerintah sudah menyiapkannya melalui proyek bernama Palapa Ring, proyek yang sempat terkendala beberapa kali hingga akhirnya terealisasi. Salah satu alasan harus segera dilanjutkan karena desakan, Indonesia butuh shortcut dan internet adalah jalan pintas meraih itu semua.

Meskipun butuh waktu dan dana yang besar, semuanya ibarat investasi jangka panjang. Siapa yang tak senang saat masyarakat yang berselancar di pelosok hutan Papua punya koneksi sama kencang di Jakarta, tapi tetap dengan harga yang menjangkau semua lapisan. Pemerataan tersebut dilakukan dengan membangun kabel telepon, tiang pemancar bahkan kabel serat optik di dasar laut.

Apalagi saat ini kecepatan akses internet Indonesia jauh tertinggal dengan negara tetangga. Menurut data yang dihimpun dari Hootsuite tahun 2018, kecepatan internet rata-rata di tanah air adalah sekitar 9,82 Mbps. Masih jauh dari kecepatan rata-rata internet di dunia yang berada di kisaran 22,16 Mbps.
Dirancangnya Program Palapa Ring akan menghubungkan sistem telekomunikasi nasional yang menggunakan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) dan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO). Membentang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Harapan itu akhirnya terwujud setelah lebih dari dua dekade mengambang, proyek Palapa Ring terwujud dalam meningkatkan kualitas internet di Indonesia. Di penghujung tahun 2019 jadi bukti dan akhirnya terealisasi, membentang dari barat hingga timur Indonesia.

Total ada sebanyak 12.148 km yang terbentang di daratan dan dasar laut. Terbagi dalam tiga paket yaitu paket, barat, tengah, dan timur. Masing-masing panjangnya yaitu 2.275 km di barat, 2.995 km di tengah, dan 6.878 km di timur. Sejumlah pulau besar di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTB-NTT, Maluku, dan bahkan Papua.
Proses pemasangan kabel optik di dasar laut
Bukan hanya kabel serat optik saja, di Papua yang masih punya jangkau yang cukup sulit tersedia radio transmisi. Gunanya dalam mentransmisikan gelombang atau panggilan di setiap BTS. Total ada sebanyak 4.000 BTS yang terpasang hingga akhir tahu ini, target utama adalah daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh Palapa Ring. Daerah yang diprioritas adalah daerah susah sinyal (blank spot) seperti di pelosok.

Sejumlah Kabupaten dan Kota di Indonesia dilalui jalur serat optik, total ada sebanyak 514 dari Aceh hingga Papua. Kecepatan yang dihasilkan pun cukup konstan dan akan terus meningkat, awal mulanya ditargetkan yaitu 40 Mbps pada proses mengunduh (download), dan 7 Mbps pada proses mengunggah (upload). Nilai ini bisa bertambah hingga 100 GB/detik, sesuai dengan kebutuhan bahkan penerapan 5G di masa depan.

Selama ini biaya pembangunan sering dibebankan pada operator khususnya yang ada di pelosok. Proses mendirikan BTS serta proses pembuatan jaringan kabel optik. Adanya Palapa Ring bisa menekan sejumlah biaya yang mahal dari operator. Konsumen pun mendapatkan manfaat karena bisa mendapatkan kouta internet lebih besar tapi dengan biaya lebih murah.

Bukan hanya itu saja, proses koneksi jadi lebih cepat dan membuat akses internet mampu menjangkau desa paling ujung dan terjauh sekalipun dengan internet. Selain itu mempercepat shotcut dari berbagai bidang bila kebutuhan internet sudah terpenuhi.

Peluang Indonesia di Era Digital
Sarana dan prasarana sudah siap, kini saatnya beraksi dan memberikan perubahan. Kita mempersiapkan sentra jasa sebagai bentuk negara maju, menghasilkan begitu banyak startup atau perusahaan teknologi. Semuanya memang berawal dari hal kecil, koneksi internet yang sama baik pun akan menghasilkan banyak konten kreator.
Selama ini konten kreator hanya berkutat di perkotaan, sangat jarang ada di pedesaan. Mereka sulit mengunggah konten atau bahkan tidak tahu perkembangan teknologi yang sedang berkembang pesat saat ini. Kini peluang itu sama besar dan tinggal bagaimana mengasahnya.

Lalu UKM dan bisnis lokal sangat terbantu, mereka pun beralih ke konsep go online dalam proses transaksi. Tidak harus punya toko fisik karena membebani biaya dalam memulai usaha, bahan sifatnya 24 jam tanpa terpengaruhi oleh waktu. Otomatis peluang wirausaha terbuka sangat lebar, mungkin kita bisa merasakan masakan atau kerajinan daerah A yang dulunya harus ke sana.
UKM pun siap go international karena mereka sudah punya akses untuk ke sana, selain itu dunia internet menekan biaya pemasaran bahkan sampai 40%. Selama ini pemasaran hanya dimiliki oleh pemilik media atau yang ada di lingkaran tersebut. Masyarakat sangat sulit untuk tempus ke sana, bila tembus ke sana,  harus merogoh kocek sangat dalam.

Pemasaran di internet akan memudahkan masyarakat, biayanya pun lebih murah dengan target sesuai dengan pasar bahkan meningkat hampir tiga kali lipat. Sejumlah mesin pencari atau platform punya algoritma khusus yang mampu targetnya. Tidak seperti media konvensional yang kadang menyasar semua target.

Itulah sejumlah cara pemerintah terapkan dalam menyongsong ekonomi digital. Rasanya bukan hal yang tidak mungkin di tahun 2020 Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Startup dan perusahaan teknologi milik Indonesia
Bisnis digital jadi ceruk yang sangat menguntungkan di masa depan. Itu terbukti ada begitu banyak startup buatan anak negeri. Awal mulanya berdiri lahir dari berbagai kegundahan dan pemecahan masalah di masyarakat. Setelah berkembang dan menjawab solusi, ada banyak startup yang kemudian kedatangan investor.
Startup tanah air yang siapjadi calon unicorn
Mereka siap mencari pelanggan sebanyak-banyaknya dalam proses “bakar duit”. Bila sudah yakin dan punya pengguna yang cukup besar, saat itulah melantai di bursa saham (IPO). Di tahapan itulah, startup berubah besar jadi perusahaan teknologi, hal serupa dari yang dilakukan oleh perusahaan teknologi dunia dulu.

Bisnis internet seakan mendorong itu, ditambah lagi Indonesia adalah negara dengan jumlah startup terbanyak kelima di dunia, total ada 2.190 startup buatan anak negeri. Koneksi internet yang bagus dari Palapa Ring seakan mendorong lebih banyak lagi startup khususnya dari daerah.
Kota-kota besar begitu banyak menyumbang startup, pemerataan internet seakan mampu mengurangi gap tersebut jadi lebih kecil. Mungkin saja ada startup buatan anak daerah yang mengglobal karena bisa menjawab solusi di masyarakat.

Kesimpulan Akhir
Internet seakan memberikan peran penting, secara fisik jalan, pelabuhan, dan bandar udara penghubung setiap provinsi di ibu pertiwi. Tapi internet juga mampu menghubungkan setiap manusia melalui koneksi super cepatnya.

Manusia bahkan mampu menjawab solusi di sekitar, mengembangkan kemampuan hingga sampai menjelajah dunia. Sebelumnya pemerataan akses belum ada, adanya revolusi jaringan melalui kabel serat optik berhasil terhubung. Palapa Ring adalah jawaban dari kemajuan itu.

Semoga tulisan ini memberikan pengetahuan dan Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Langganan via Email Yuk?