Tanggal 28 Februari 2026 jadi sebuah saksi nyata. Saat
ada banyak pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat dan Israel meluncurkan
serangan besar-besaran ke Iran. Bukan serangan kecil-kecilan, ini kampanye
militer dengan lebih dari 2.000 target yang sudah diidentifikasi.
Markas Garda Revolusi Islam, gudang rudal, pusat komando, semuanya masuk daftar. Hanya dalam 24 jam pertama saja, lebih dari 1.000 target sudah diprioritaskan, dianalisis, dan dihancurkan. Semuanya tak bersisa, seakan membuat iran tak berdaya.
Yang bikin ini beda dari semua perang sebelumnya?
Daftar targetnya tidak dibuat oleh manusia. Setidaknya,
tidak sepenuhnya. Di balik layar sebuah sistem bernama Maven Smart System, ada
AI yang namanya cukup terkenal dan merupakan racikan Claude buatan Anthropic. Perusahaan
yang selama ini justru terkenal karena menolak AInya dipakai untuk berbau
kejahatan perang.
Ada satu hal yang perlu kita ingat, ini bukan film. Ini
bukan episode Black Mirror. Ini kejadian nyata, tiga bulan lalu. Dan kita
hampir tidak membicarakannya, sudah bisa sebab karena sifat manusia yang
gampang pelupa.
Anthropic Perusahaan AI yang Lahir dari Rasa Takut
Supaya kamu bisa ngerti betapa ironisnya situasi ini,
kita perlu balik ke awal dulu. Anthropic berdiri tahun 2021. Pendirinya adalah
Dario Amodei, Daniela Amodei, dan beberapa orang yang sebelumnya kerja di
OpenAI.
Mereka nggak keluar karena gaji lebih kecil atau
kantornya nggak enak atau tak betah. Seakan rasa takut bahwa OpenAI bergerak
terlalu cepat, terlalu ugal-ugalan, tanpa cukup memikirkan konsekuensi dari
teknologi yang sedang mereka bangun. Jadi mereka mendirikan Anthropic dengan
satu misi utama: membangun AI yang tidak hanya cerdas, tapi juga aman.
Claude, model AI buatan mereka, dari awal dirancang bukan
cuma untuk pintar jadi AI yang baik.
Mereka membangun apa yang disebut dengan istilah guardrails yang mencegah
Claude digunakan untuk tujuan tertentu. Bukan sekadar tulisan di syarat dan
ketentuan yang tidak dibaca siapa pun ini betul-betul dikodekan ke dalam cara
kerja model itu sendiri.
Salah satu pembatas paling keras yang mereka pasang,
Seakan Claude tidak boleh digunakan untuk senjata otonom atau untuk
memata-matai warga sipil secara massal. Selama bertahun-tahun, prinsip itu
mereka pegang. Bahkan ketika uang besar mulai mengetuk pintu.
Dari Startup Kecil ke AI yang Dipercaya Dunia
Membangun AI yang benar-benar andal itu tidak semudah
membuatnya pintar. Banyak AI bisa menjawab pertanyaan. Tapi tidak banyak yang
bisa dipercaya untuk mengerjakan hal-hal yang benar-benar penting dengan risiko
yang sangat besar.
Inilah yang jadi obsesi Anthropic sejak hari pertama. Mereka
memulai dengan sesuatu yang terdengar sederhana tapi ternyata sangat sulit:
membuat AI yang jujur. Bukan hanya akurat, tapi jujur apa yang ingin didengar
pengguna kalau itu tidak benar. Di dunia
AI, ini disebut calibrated uncertainty yakin kamu terhadap sebuah
informasi sebelum menyampaikannya.
Untuk dunia militer dan intelijen, ini bukan sekadar
fitur yang bagus. Ini syarat mutlak. Bayangkan seorang analis intelijen yang
membaca laporan dari Claude. Kalau Claude dikatakan sebagai depot senjata. Padahal
datanya tipis adalah AI yang berbahaya di tangan siapa pun, apalagi di medan
perang.
Claude Bukan Sekadar Chatbot
Satu hal yang sering disalahpahami orang adalah
menganggap Claude sama seperti chatbot biasa. Apa yang kamu tanya, dia jawab,
selesai. Claude dirancang berbeda. Anthropic membangun sesuatu yang mereka
sebut sebagai Constitutional AI.
Cara melatih AI dengan seperangkat prinsip yang tertanam
langsung ke dalam cara berpikirnya, bukan hanya aturan yang ditempelkan dari
luar. Artinya, Claude tidak hanya mengikuti aturan karena diperintahkan , dia
memahami mengapa aturan itu ada.
Dalam praktiknya, ini berarti Claude bisa mengerjakan
tugas yang kompleks dan berlapis tanpa kehilangan konteks. Dia bisa membaca
ratusan dokumen, mensintesis pola yang tersebar di seluruh sumber, dan
menghasilkan analisis yang k tetap transparan soal batas kemampuannya.
Jelas ini membuat Claude menonjol di antara model-model
AI lainnya. Bukan hanya pintar, tapi bisa diandalkan untuk pekerjaan serius dan
berbahaya. Ia seakan berada di level berbeda untuk sebuah AI saja.
Cara Anthropic Membangun Kepercayaan Publik
Anthropic tidak langsung diterima di mana-mana. Butuh
waktu.
Mereka mulai dengan membuktikan diri di sektor yang
permintaannya tinggi tapi risikonya juga tinggi: hukum, kesehatan, dan riset
ilmiah. Di bidang-bidang ini, kesalahan punya konsekuensi nyata.
Firma hukum besar mulai menggunakan Claude untuk
menganalisis kontrak dan dokumen pengadilan. Lembaga riset kesehatan memakainya
untuk mensintesis literatur medis. Perusahaan keuangan mempercayainya untuk
menganalisis risiko.
Setiap kali Claude berhasil mengerjakan tugas-tugas ini
dengan akurat dan konsisten, reputasinya tumbuh. Bukan reputasi sebagai AI yang
jago, tapi reputasi sebagai AI yang bisa dipercaya ketika taruhannya tinggi.
Perusahaan teknologi yang sudah lama bermitra dengan
badan intelijen Amerika, namanya Palantir. Ini memperhatikan bahwa mereka sudah
bertahun-tahun membangun sistem analisis data untuk CIA, NSA, dan militer. Setelah
evaluasi panjang terhadap berbagai model, mereka memilih Claude.
Bukan karena Claude yang paling baru atau paling banyak
dibicarakan. Tapi karena Claude yang paling konsisten, paling transparan soal
keterbatasannya, dan paling sulit untuk dibohongi oleh data yang buruk atau
tidak lengkap.
Masuk ke Dunia yang Paling Ketat
Bergabung dengan ekosistem intelijen militer Amerika
bukan hal yang bisa dilakukan sembarangan. Ada lapisan demi lapisan verifikasi,
audit keamanan, dan uji coba sebelum sebuah sistem AI boleh menyentuh data
terklasifikasi.
Claude harus melewati semua itu.
Anthropic bekerja sama dengan Amazon Web Services untuk
menyiapkan infrastruktur cloud yang memenuhi standar keamanan tertinggi militer
Amerika yakni Top Secret/SCI compliant. Ini
bukan sekadar server yang lebih aman dari biasanya. Ia jadi sejenis ekosistem
komputasi yang terisolasi sepenuhnya dari internet publik, dengan kontrol akses
yang sangat ketat, dan audit trail yang mencatat setiap interaksi.
Di dalam ekosistem itulah Claude mulai bekerja. Awalnya
untuk tugas-tugas yang relatif tidak kontroversial: merangkum laporan intelijen
yang panjang, menerjemahkan dokumen dari bahasa asing, mengidentifikasi pola
dalam data terbuka. Pekerjaan yang membosankan bagi manusia tapi krusial bagi
pengambil keputusan.
Hasilnya cukup konsisten. Kecepatan analisis melonjak
drastis. Kualitas ringkasan melampaui apa yang bisa dihasilkan analis manusia
dalam waktu yang sama. Perlahan-lahan, kepercayaan tumbuh dan hasilnya lingkup
tugas Claude diperluas.
Ketika Kepercayaan Bertemu Kebutuhan Darurat
Yang mengubah segalanya adalah skala dan kecepatan yang
dibutuhkan dunia modern.
Konflik bersenjata di era ini tidak berkembang lambat
seperti Perang Dunia II, di mana ada waktu berbulan-bulan untuk merencanakan
setiap langkah. Situasi berubah dalam hitungan jam. Data intelijen mengalir
masuk setiap menit dari ribuan sumber berbeda. Jendela waktu untuk mengambil
keputusan semakin sempit.
Manusia, sebriliant apa pun, punya batas. Ada batas
berapa banyak dokumen yang bisa dibaca dalam sehari. Ada batas berapa banyak
variabel yang bisa dipertimbangkan secara bersamaan. Ada batas seberapa lama
seseorang bisa berkonsentrasi penuh sebelum membuat kesalahan.
Claude tidak punya batas-batas itu dan itu membuat ia
jadi sangat mengerikan....
Inilah yang membuat militer Amerika melihat Claude bukan
sekadar alat bantu yang nyaman namun punya keunggulan strategis yang tidak
boleh dimiliki musuh lebih dulu. Di era di mana kecepatan pengambilan keputusan
adalah selisih antara menang dan kalah, AI yang andal bukan lagi kemewahan. Ia
menjadi keharusan.
Ini seakan membuat Claude dengan rekam jejak keandalannya
yang sudah terbukti di berbagai sektor paling dibutuhkan di dunia. Ia menjadi
primadona termasuk di ranah militer yang punya nilai eksklusif.
Bagaimana Tepatnya AI Ini Bekerja di Medan Perang?
Banyak yang salah bayangan soal ini. Maven Smart System
bukan robot killer yang jalan sendiri. Bukan Terminator. Bukan mesin yang
memutuskan siapa yang mati tanpa campur tangan manusia. Dia punya prinsip kerja
yang jauh berbeda.
Cara paling mudah membayangkannya adalah seperti ini:
bayangkan kamu punya asisten yang bisa membaca jutaan halaman dokumen dalam
hitungan detik, menghubungkan titik-titik informasi dari ratusan sumber
berbeda, dan menyajikannya dalam bentuk yang mudah dipahami.
Dalam konteks perang, begini cara Maven-Claude bekerja....
Maven mengumpulkan data dari mana-mana secara bersamaan.
Sinyal radar yang tertangkap, foto satelit yang diambil setiap menit, rekaman
video dari ribuan drone, komunikasi elektronik yang disadap, laporan dari agen
intelijen di lapangan. Semua itu masuk dalam jumlah yang mustahil diproses
manusia bahkan oleh tim analis besar sekalipun.
Claude kemudian mengerjakan semua data itu. Dia bisa mengenali pola, menghubungkan informasi dari sumber yang berbeda-beda, dan mengelompokkan target berdasarkan kriteria yang ditetapkan: ini stasiun radar, ini gudang rudal, ini pusat komunikasi, ini lokasi komandan senior.
Setiap target lalu diurutkan berdasarkan seberapa penting
secara strategis, dan dibuatkan paket informasi lengkap yang sudah termasuk
sudut serangan yang disarankan dan jenis senjata yang direkomendasikan.
Pekerjaan yang normalnya butuh berhari-hari, bahkan
berminggu-minggu, oleh tim analis manusia. Semua bisa selesai dalam beberapa
jam.
Dalam 24 jam pertama serangan ke Iran, sistem ini
menghasilkan sekitar 1.000 target yang sudah diprioritaskan dengan data
operasional lengkap. Seorang laksamana pensiunan, Mark Montgomery,
mengkonfirmasi bahwa militer AS kini bisa memproses sekitar seribu target per
hari dengan waktu penyelesaian di bawah empat jam. Tidak ada kampanye militer
dalam sejarah yang pernah bergerak secepat ini.
Setiap serangan masih butuh otorisasi manusia. Claude
hanya memberi rekomendasi; yang menekan tombol tetap manusia.
Setidaknya, secara formal begitu.
Yang jadi pertanyaan besar: kalau AI menghasilkan 1.000
rekomendasi dalam semalam, seberapa dalam seorang komandan bisa betul-betul
memeriksa setiap rekomendasi itu? Kalau waktu yang tersedia hanya beberapa
menit per target, apakah keputusan manusia itu masih bermakna atau sudah cuma
jadi formalitas?
Pertanyaan ini bukan abstrak. Ia menjadi sangat konkret
ketika serangan AS menghantam sebuah sekolah perempuan di Iran dan membunuh
lebih dari 170 orang, yang menyakitkannya sebagian besar anak-anak perempuan.
Pentagon mengakui sedang menginvestigasi apakah sistem AI berkontribusi pada
kesalahan itu.
Israel, Lavender, dan Preseden yang Sudah Ada
Amerika Serikat bukan yang pertama.
Israel sudah menggunakan sistem AI targeting bernama
Lavender sejak perang Gaza. Sistem itu bekerja dengan prinsip serupa:
menganalisis data intelijen dalam jumlah besar, mengidentifikasi orang-orang
yang dicurigai sebagai militan, dan menghasilkan daftar target yang sangat
panjang dengan sangat cepat.
Hasilnya kontroversial dan mematikan. Investigasi media
melaporkan bahwa Lavender menghasilkan daftar hingga 37.000 orang sebagai
target potensial, dengan tingkat akurasi yang dipertanyakan. Korban sipil Gaza
yang sangat tinggi sebagian dikaitkan dengan keputusan berbasis AI yang
prosesnya berlangsung terlalu cepat untuk diverifikasi manusia.
Sekarang teknologi serupa bahkan lebih canggih digunakan
di Iran. Dan Israel kembali terlibat, kali ini bersama Amerika Serikat, dalam
operasi yang skalanya jauh lebih besar.
Apa yang terjadi di Gaza adalah peringatan. Kita tidak
mendengarkannya.
Perang Model AI: Siapa yang Masuk, Siapa yang Tersingkir
Kembali ke Silicon Valley. Begitu Anthropic dilarang, ada
kekosongan besar yang terbuka. Dan OpenAI bergerak cepat mengisinya.
Sam Altman, CEO OpenAI, langsung mengumumkan kesepakatan baru dengan Pentagon untuk menggunakan alat-alat mereka di jaringan terklasifikasi militer. Tidak ada syarat ketat seperti yang dipasang Anthropic. Tidak ada pembatas yang rumit. Lebih mudah, lebih fleksibel, lebih kompetitif.
Tapi ada ironi besar yang terjadi di balik layar: Claude
tidak betul-betul pergi. Karena begitu dalamnya Claude sudah terintegrasi ke
dalam sistem Maven yang sedang berjalan aktif di tengah operasi perang.
Ini bukan cuma ironi. Ini adalah bukti seberapa dalam AI
sudah tertanam ke dalam infrastruktur militer modern, sampai-sampai tidak bisa
dicabut bahkan ketika ada perintah langsung dari presiden.
Anthropic kini sedang kembali bernegosiasi dengan
Pentagon untuk mencari kesepakatan baru. Sementara itu, OpenAI, Google, dan xAI
berlomba memperluas posisi mereka. Ini sudah bukan lagi sekadar persaingan
bisnis biasa.
Ini adalah perang model AI yang sesungguhnya, di mana
kontrak pertahanan bernilai miliaran dolar jadi taruhannya, dan siapa yang
menang akan menentukan bagaimana perang-perang berikutnya dijalankan.
Dua Dimensi dalam Melihat Anthropic
Ada dua cara berbeda untuk menilai apa yang dilakukan
Anthropic dalam seluruh episode ini. Dan keduanya, secara mengejutkan, bisa
benar pada saat yang sama.
Pandangan pertama: mereka naif. Mereka membangun
teknologi paling canggih di dunia, lalu menaruhnya di tangan militer lewat
kontraktor seperti Palantir, dan kemudian terkejut ketika ternyata digunakan
untuk keperluan militer.
Mereka menciptakan kondisi di mana Claude bisa diakses
untuk perencanaan perang namun diprotes keras ketika betul-betul dipakai untuk
itu. Pada akhirnya, pembatas teknis mereka terbukti tidak cukup kuat. Claude
tetap dipakai, dengan atau tanpa izin mereka. Pandangan kedua: mereka benar
secara moral, tapi kalah secara struktur.
Mereka mencoba menegakkan prinsip di industri yang tidak
punya ruang untuk prinsip. Termasuk mencoba memperlambat masuknya AI ke dalam kill
chain di saat semua orang lain berlomba mempercepatnya. Dan untuk upaya itu,
mereka dihukum: dilarang, dicap radikal, dan disingkirkan.
Kita Sudah di Sini. Dan Tidak Ada Jalan Kembali
Ada satu fakta yang perlu kita terima dengan tenang: AI
dalam perang bukan sesuatu yang akan datang di masa depan.
Lebih dari 11.000 serangan di Iran dilaporkan melibatkan
sistem yang ditenagai Claude dan Maven. Lebih dari 25.000 akun militer aktif di
seluruh komando tempur Amerika Serikat kini menggunakan Maven sebagai bagian
dari infrastruktur standar mereka.
Pentagon sudah menetapkan Maven sebagai Programme of
Record yang bisa dihentikan kapan saja. Ini sudah menjadi doktrin. Bagian tetap
dari cara Amerika berperang. Dan negara-negara lain sedang menonton. Mencatat.
Mengembangkan versi mereka sendiri.
China sudah mengembangkan sistem AI militer mereka
sendiri selama bertahun-tahun. Rusia juga. Negara-negara yang lebih kecil pun
mulai berlomba. Para ahli menyebut ini sebagai AI arms race (perlombaan
senjata AI) yang jauh lebih berbahaya dari perlombaan nuklir di era Perang
Dingin.
Kenapa? Karena AI berkembang jauh lebih cepat dari
kemampuan hukum internasional, etika militer, atau pengawasan demokratis untuk
mengikutinya.
Konferensi Review PBB tentang Senjata Otonom Mematikan
dijadwalkan November 2026. Lebih dari 120 negara mendukung negosiasi untuk
membuat aturan baru yang mengikat. Tapi sementara para diplomat berdebat di
Geneva soal pasal-pasal yang akan ditulis, sistem AI sudah aktif berjalan di
Iran. Sudah menentukan target. Sudah berkontribusi pada kematian.
Hukum selalu tertinggal dari teknologi. Tapi jaraknya
belum pernah sejauh ini.
Penutup, Bahayanya Ketika AI Masuk ke Ruang Perang
Masalah terbesar dari AI militer sebenarnya bukan soal
seberapa canggih teknologinya. Masalah terbesarnya adalah ketika keputusan
hidup dan mati mulai terasa terlalu mudah dibuat.
Bayangkan situasinya seperti ini: sebuah sistem AI
menandai sebuah bangunan sebagai target. Data masuk cepat. Analisis muncul
dalam hitungan detik. Komandan melihat layar, memberi persetujuan, lalu
serangan dilakukan. Tapi beberapa jam kemudian dunia tahu bahwa yang hancur
ternyata sekolah. Korbannya anak-anak.
Lalu pertanyaannya jadi mengerikan: siapa yang
bertanggung jawab?
Apakah pilot drone? Komandan yang menekan tombol
persetujuan? Programmer yang melatih algoritma? Perusahaan teknologi yang
menjual sistemnya? Atau negara yang membiarkan semuanya berjalan?
Di titik itu, tanggung jawab jadi kabur. Semua terlibat,
tapi justru karena terlalu banyak pihak yang terlibat, akhirnya tidak ada satu
pun yang benar-benar berdiri paling depan untuk mengatakan: “ini kesalahan
kami.”
Dan di sinilah cerita tentang Anthropic jadi menarik.
Mereka mencoba memasang batas. Mencoba bilang bahwa ada
wilayah-wilayah tertentu yang seharusnya tidak disentuh AI. Mereka memilih
berhati-hati ketika banyak perusahaan lain justru berlomba masuk ke industri
pertahanan.
Tapi dunia tidak berjalan seideal itu.
Ketika kepentingan militer, politik, dan teknologi sudah
duduk di meja yang sama, suara kehati-hatian sering terdengar seperti hambatan.
Orang yang bicara soal etika dianggap memperlambat inovasi. Yang minta
pembatasan dicap anti-kemajuan. Dan pada akhirnya, sistem tetap berjalan.
Di situlah letak bahayanya.
Karena AI bukan lagi sekadar chatbot lucu yang membantu
bikin caption Instagram atau merangkum tugas kuliah. Teknologi ini pelan-pelan
mulai masuk ke ruang yang jauh lebih sensitif: pengawasan, penentuan target,
analisis perang, sampai keputusan strategis negara.
Dan sejarah manusia sudah berkali-kali membuktikan satu
hal: teknologi yang sangat kuat hampir selalu akan dipakai sejauh mungkin
sebelum aturan berhasil mengejarnya.
Masalahnya, hukum internasional soal AI masih tertinggal
jauh. Regulasi masih lambat. Pengawasan sering cuma formalitas. Sementara
perkembangan teknologinya melesat tiap beberapa bulan.
Itulah kenapa diskusi tentang AI hari ini tidak bisa cuma
berhenti di pertanyaan “fiturnya keren atau tidak.” Pertanyaan yang jauh lebih
penting adalah: siapa yang mengendalikan teknologi ini, untuk tujuan apa, dan
siapa yang akan menanggung akibatnya ketika semuanya gagal?
Sebab kalau tidak ada batas yang jelas, kita sedang hidup
di masa ketika mesin bukan cuma membantu manusia mengambil keputusan tapi
perlahan mulai menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang tidak.
Dan mungkin itu bagian yang paling menakutkan: ketika
teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada nurani manusia yang
menggunakannya. Semoga tulisan ini bermanfaat, akhir kata Have a Nice Days.
.png)



0 komentar:
Post a Comment