Saturday, March 21, 2026

Claude AI, Anthropic, dan Keterlibatannya pada Perang Modern

Tanggal 28 Februari 2026 jadi sebuah saksi nyata. Saat ada banyak pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Iran. Bukan serangan kecil-kecilan, ini kampanye militer dengan lebih dari 2.000 target yang sudah diidentifikasi.

 

Markas Garda Revolusi Islam, gudang rudal, pusat komando, semuanya masuk daftar. Hanya dalam 24 jam pertama saja, lebih dari 1.000 target sudah diprioritaskan, dianalisis, dan dihancurkan. Semuanya tak bersisa, seakan membuat iran tak berdaya.

 

Yang bikin ini beda dari semua perang sebelumnya?

Daftar targetnya tidak dibuat oleh manusia. Setidaknya, tidak sepenuhnya. Di balik layar sebuah sistem bernama Maven Smart System, ada AI yang namanya cukup terkenal dan merupakan racikan Claude buatan Anthropic. Perusahaan yang selama ini justru terkenal karena menolak AInya dipakai untuk berbau kejahatan perang.

 

Ada satu hal yang perlu kita ingat, ini bukan film. Ini bukan episode Black Mirror. Ini kejadian nyata, tiga bulan lalu. Dan kita hampir tidak membicarakannya, sudah bisa sebab karena sifat manusia yang gampang pelupa.

 

Anthropic Perusahaan AI yang Lahir dari Rasa Takut

Supaya kamu bisa ngerti betapa ironisnya situasi ini, kita perlu balik ke awal dulu. Anthropic berdiri tahun 2021. Pendirinya adalah Dario Amodei, Daniela Amodei, dan beberapa orang yang sebelumnya kerja di OpenAI.

 

Mereka nggak keluar karena gaji lebih kecil atau kantornya nggak enak atau tak betah. Seakan rasa takut bahwa OpenAI bergerak terlalu cepat, terlalu ugal-ugalan, tanpa cukup memikirkan konsekuensi dari teknologi yang sedang mereka bangun. Jadi mereka mendirikan Anthropic dengan satu misi utama: membangun AI yang tidak hanya cerdas, tapi juga aman.

 

Claude, model AI buatan mereka, dari awal dirancang bukan cuma untuk pintar  jadi AI yang baik. Mereka membangun apa yang disebut dengan istilah guardrails yang mencegah Claude digunakan untuk tujuan tertentu. Bukan sekadar tulisan di syarat dan ketentuan yang tidak dibaca siapa pun ini betul-betul dikodekan ke dalam cara kerja model itu sendiri.

 

Salah satu pembatas paling keras yang mereka pasang, Seakan Claude tidak boleh digunakan untuk senjata otonom atau untuk memata-matai warga sipil secara massal. Selama bertahun-tahun, prinsip itu mereka pegang. Bahkan ketika uang besar mulai mengetuk pintu.

 

Dari Startup Kecil ke AI yang Dipercaya Dunia

Membangun AI yang benar-benar andal itu tidak semudah membuatnya pintar. Banyak AI bisa menjawab pertanyaan. Tapi tidak banyak yang bisa dipercaya untuk mengerjakan hal-hal yang benar-benar penting dengan risiko yang sangat besar.

 

Inilah yang jadi obsesi Anthropic sejak hari pertama. Mereka memulai dengan sesuatu yang terdengar sederhana tapi ternyata sangat sulit: membuat AI yang jujur. Bukan hanya akurat, tapi jujur apa yang ingin didengar pengguna kalau itu tidak benar.  Di dunia AI, ini disebut calibrated uncertainty yakin kamu terhadap sebuah informasi sebelum menyampaikannya.

 

Untuk dunia militer dan intelijen, ini bukan sekadar fitur yang bagus. Ini syarat mutlak. Bayangkan seorang analis intelijen yang membaca laporan dari Claude. Kalau Claude dikatakan sebagai depot senjata. Padahal datanya tipis adalah AI yang berbahaya di tangan siapa pun, apalagi di medan perang.

 

Claude Bukan Sekadar Chatbot

Satu hal yang sering disalahpahami orang adalah menganggap Claude sama seperti chatbot biasa. Apa yang kamu tanya, dia jawab, selesai. Claude dirancang berbeda. Anthropic membangun sesuatu yang mereka sebut sebagai Constitutional AI.

 

Cara melatih AI dengan seperangkat prinsip yang tertanam langsung ke dalam cara berpikirnya, bukan hanya aturan yang ditempelkan dari luar. Artinya, Claude tidak hanya mengikuti aturan karena diperintahkan , dia memahami mengapa aturan itu ada.

 

Dalam praktiknya, ini berarti Claude bisa mengerjakan tugas yang kompleks dan berlapis tanpa kehilangan konteks. Dia bisa membaca ratusan dokumen, mensintesis pola yang tersebar di seluruh sumber, dan menghasilkan analisis yang k tetap transparan soal batas kemampuannya.

 

Jelas ini membuat Claude menonjol di antara model-model AI lainnya. Bukan hanya pintar, tapi bisa diandalkan untuk pekerjaan serius dan berbahaya. Ia seakan berada di level berbeda untuk sebuah AI saja.

 

Cara Anthropic Membangun Kepercayaan Publik

Anthropic tidak langsung diterima di mana-mana. Butuh waktu.

Mereka mulai dengan membuktikan diri di sektor yang permintaannya tinggi tapi risikonya juga tinggi: hukum, kesehatan, dan riset ilmiah. Di bidang-bidang ini, kesalahan punya konsekuensi nyata.

 

Firma hukum besar mulai menggunakan Claude untuk menganalisis kontrak dan dokumen pengadilan. Lembaga riset kesehatan memakainya untuk mensintesis literatur medis. Perusahaan keuangan mempercayainya untuk menganalisis risiko.

 

Setiap kali Claude berhasil mengerjakan tugas-tugas ini dengan akurat dan konsisten, reputasinya tumbuh. Bukan reputasi sebagai AI yang jago, tapi reputasi sebagai AI yang bisa dipercaya ketika taruhannya tinggi.

 

Perusahaan teknologi yang sudah lama bermitra dengan badan intelijen Amerika, namanya Palantir. Ini memperhatikan bahwa mereka sudah bertahun-tahun membangun sistem analisis data untuk CIA, NSA, dan militer. Setelah evaluasi panjang terhadap berbagai model, mereka memilih Claude.

 

Bukan karena Claude yang paling baru atau paling banyak dibicarakan. Tapi karena Claude yang paling konsisten, paling transparan soal keterbatasannya, dan paling sulit untuk dibohongi oleh data yang buruk atau tidak lengkap.

 

Masuk ke Dunia yang Paling Ketat

Bergabung dengan ekosistem intelijen militer Amerika bukan hal yang bisa dilakukan sembarangan. Ada lapisan demi lapisan verifikasi, audit keamanan, dan uji coba sebelum sebuah sistem AI boleh menyentuh data terklasifikasi.

 

Claude harus melewati semua itu.

 

Anthropic bekerja sama dengan Amazon Web Services untuk menyiapkan infrastruktur cloud yang memenuhi standar keamanan tertinggi militer Amerika  yakni Top Secret/SCI compliant. Ini bukan sekadar server yang lebih aman dari biasanya. Ia jadi sejenis ekosistem komputasi yang terisolasi sepenuhnya dari internet publik, dengan kontrol akses yang sangat ketat, dan audit trail yang mencatat setiap interaksi.

 

Di dalam ekosistem itulah Claude mulai bekerja. Awalnya untuk tugas-tugas yang relatif tidak kontroversial: merangkum laporan intelijen yang panjang, menerjemahkan dokumen dari bahasa asing, mengidentifikasi pola dalam data terbuka. Pekerjaan yang membosankan bagi manusia tapi krusial bagi pengambil keputusan.

 

Hasilnya cukup konsisten. Kecepatan analisis melonjak drastis. Kualitas ringkasan melampaui apa yang bisa dihasilkan analis manusia dalam waktu yang sama. Perlahan-lahan, kepercayaan tumbuh dan hasilnya lingkup tugas Claude diperluas.

 

Ketika Kepercayaan Bertemu Kebutuhan Darurat

Yang mengubah segalanya adalah skala dan kecepatan yang dibutuhkan dunia modern.

Konflik bersenjata di era ini tidak berkembang lambat seperti Perang Dunia II, di mana ada waktu berbulan-bulan untuk merencanakan setiap langkah. Situasi berubah dalam hitungan jam. Data intelijen mengalir masuk setiap menit dari ribuan sumber berbeda. Jendela waktu untuk mengambil keputusan semakin sempit.

 

Manusia, sebriliant apa pun, punya batas. Ada batas berapa banyak dokumen yang bisa dibaca dalam sehari. Ada batas berapa banyak variabel yang bisa dipertimbangkan secara bersamaan. Ada batas seberapa lama seseorang bisa berkonsentrasi penuh sebelum membuat kesalahan.

 

Claude tidak punya batas-batas itu dan itu membuat ia jadi sangat mengerikan....

 

Inilah yang membuat militer Amerika melihat Claude bukan sekadar alat bantu yang nyaman namun punya keunggulan strategis yang tidak boleh dimiliki musuh lebih dulu. Di era di mana kecepatan pengambilan keputusan adalah selisih antara menang dan kalah, AI yang andal bukan lagi kemewahan. Ia menjadi keharusan.

 

Ini seakan membuat Claude dengan rekam jejak keandalannya yang sudah terbukti di berbagai sektor paling dibutuhkan di dunia. Ia menjadi primadona termasuk di ranah militer yang punya nilai eksklusif.

 

Bagaimana Tepatnya AI Ini Bekerja di Medan Perang?

Banyak yang salah bayangan soal ini. Maven Smart System bukan robot killer yang jalan sendiri. Bukan Terminator. Bukan mesin yang memutuskan siapa yang mati tanpa campur tangan manusia. Dia punya prinsip kerja yang jauh berbeda.

 

Cara paling mudah membayangkannya adalah seperti ini: bayangkan kamu punya asisten yang bisa membaca jutaan halaman dokumen dalam hitungan detik, menghubungkan titik-titik informasi dari ratusan sumber berbeda, dan menyajikannya dalam bentuk yang mudah dipahami.

 

Dalam konteks perang, begini cara Maven-Claude bekerja....

Maven mengumpulkan data dari mana-mana secara bersamaan. Sinyal radar yang tertangkap, foto satelit yang diambil setiap menit, rekaman video dari ribuan drone, komunikasi elektronik yang disadap, laporan dari agen intelijen di lapangan. Semua itu masuk dalam jumlah yang mustahil diproses manusia bahkan oleh tim analis besar sekalipun.

 

Claude kemudian mengerjakan semua data itu. Dia bisa mengenali pola, menghubungkan informasi dari sumber yang berbeda-beda, dan mengelompokkan target berdasarkan kriteria yang ditetapkan: ini stasiun radar, ini gudang rudal, ini pusat komunikasi, ini lokasi komandan senior.

Setiap target lalu diurutkan berdasarkan seberapa penting secara strategis, dan dibuatkan paket informasi lengkap yang sudah termasuk sudut serangan yang disarankan dan jenis senjata yang direkomendasikan.

 

Pekerjaan yang normalnya butuh berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, oleh tim analis manusia. Semua bisa selesai dalam beberapa jam.

 

Dalam 24 jam pertama serangan ke Iran, sistem ini menghasilkan sekitar 1.000 target yang sudah diprioritaskan dengan data operasional lengkap. Seorang laksamana pensiunan, Mark Montgomery, mengkonfirmasi bahwa militer AS kini bisa memproses sekitar seribu target per hari dengan waktu penyelesaian di bawah empat jam. Tidak ada kampanye militer dalam sejarah yang pernah bergerak secepat ini.

 

Setiap serangan masih butuh otorisasi manusia. Claude hanya memberi rekomendasi; yang menekan tombol tetap manusia.

 

Setidaknya, secara formal begitu.

Yang jadi pertanyaan besar: kalau AI menghasilkan 1.000 rekomendasi dalam semalam, seberapa dalam seorang komandan bisa betul-betul memeriksa setiap rekomendasi itu? Kalau waktu yang tersedia hanya beberapa menit per target, apakah keputusan manusia itu masih bermakna atau sudah cuma jadi formalitas?

 

Pertanyaan ini bukan abstrak. Ia menjadi sangat konkret ketika serangan AS menghantam sebuah sekolah perempuan di Iran dan membunuh lebih dari 170 orang, yang menyakitkannya sebagian besar anak-anak perempuan. Pentagon mengakui sedang menginvestigasi apakah sistem AI berkontribusi pada kesalahan itu.

 

Israel, Lavender, dan Preseden yang Sudah Ada

Amerika Serikat bukan yang pertama.

Israel sudah menggunakan sistem AI targeting bernama Lavender sejak perang Gaza. Sistem itu bekerja dengan prinsip serupa: menganalisis data intelijen dalam jumlah besar, mengidentifikasi orang-orang yang dicurigai sebagai militan, dan menghasilkan daftar target yang sangat panjang dengan sangat cepat.

 

Hasilnya kontroversial dan mematikan. Investigasi media melaporkan bahwa Lavender menghasilkan daftar hingga 37.000 orang sebagai target potensial, dengan tingkat akurasi yang dipertanyakan. Korban sipil Gaza yang sangat tinggi sebagian dikaitkan dengan keputusan berbasis AI yang prosesnya berlangsung terlalu cepat untuk diverifikasi manusia.

 

Sekarang teknologi serupa bahkan lebih canggih digunakan di Iran. Dan Israel kembali terlibat, kali ini bersama Amerika Serikat, dalam operasi yang skalanya jauh lebih besar.

Apa yang terjadi di Gaza adalah peringatan. Kita tidak mendengarkannya.

 

Perang Model AI: Siapa yang Masuk, Siapa yang Tersingkir

Kembali ke Silicon Valley. Begitu Anthropic dilarang, ada kekosongan besar yang terbuka. Dan OpenAI bergerak cepat mengisinya.

 

Sam Altman, CEO OpenAI, langsung mengumumkan kesepakatan baru dengan Pentagon untuk menggunakan alat-alat mereka di jaringan terklasifikasi militer. Tidak ada syarat ketat seperti yang dipasang Anthropic. Tidak ada pembatas yang rumit. Lebih mudah, lebih fleksibel, lebih kompetitif.

Tapi ada ironi besar yang terjadi di balik layar: Claude tidak betul-betul pergi. Karena begitu dalamnya Claude sudah terintegrasi ke dalam sistem Maven yang sedang berjalan aktif di tengah operasi perang.

 

Ini bukan cuma ironi. Ini adalah bukti seberapa dalam AI sudah tertanam ke dalam infrastruktur militer modern, sampai-sampai tidak bisa dicabut bahkan ketika ada perintah langsung dari presiden.

 

Anthropic kini sedang kembali bernegosiasi dengan Pentagon untuk mencari kesepakatan baru. Sementara itu, OpenAI, Google, dan xAI berlomba memperluas posisi mereka. Ini sudah bukan lagi sekadar persaingan bisnis biasa.

 

Ini adalah perang model AI yang sesungguhnya, di mana kontrak pertahanan bernilai miliaran dolar jadi taruhannya, dan siapa yang menang akan menentukan bagaimana perang-perang berikutnya dijalankan.

 

Dua Dimensi dalam Melihat Anthropic

Ada dua cara berbeda untuk menilai apa yang dilakukan Anthropic dalam seluruh episode ini. Dan keduanya, secara mengejutkan, bisa benar pada saat yang sama.

 

Pandangan pertama: mereka naif. Mereka membangun teknologi paling canggih di dunia, lalu menaruhnya di tangan militer lewat kontraktor seperti Palantir, dan kemudian terkejut ketika ternyata digunakan untuk keperluan militer.

 

Mereka menciptakan kondisi di mana Claude bisa diakses untuk perencanaan perang namun diprotes keras ketika betul-betul dipakai untuk itu. Pada akhirnya, pembatas teknis mereka terbukti tidak cukup kuat. Claude tetap dipakai, dengan atau tanpa izin mereka. Pandangan kedua: mereka benar secara moral, tapi kalah secara struktur.

 

Mereka mencoba menegakkan prinsip di industri yang tidak punya ruang untuk prinsip. Termasuk mencoba memperlambat masuknya AI ke dalam kill chain di saat semua orang lain berlomba mempercepatnya. Dan untuk upaya itu, mereka dihukum: dilarang, dicap radikal, dan disingkirkan.

 

Kita Sudah di Sini. Dan Tidak Ada Jalan Kembali

Ada satu fakta yang perlu kita terima dengan tenang: AI dalam perang bukan sesuatu yang akan datang di masa depan.

 

Lebih dari 11.000 serangan di Iran dilaporkan melibatkan sistem yang ditenagai Claude dan Maven. Lebih dari 25.000 akun militer aktif di seluruh komando tempur Amerika Serikat kini menggunakan Maven sebagai bagian dari infrastruktur standar mereka.

 

Pentagon sudah menetapkan Maven sebagai Programme of Record yang bisa dihentikan kapan saja. Ini sudah menjadi doktrin. Bagian tetap dari cara Amerika berperang. Dan negara-negara lain sedang menonton. Mencatat. Mengembangkan versi mereka sendiri.

 

China sudah mengembangkan sistem AI militer mereka sendiri selama bertahun-tahun. Rusia juga. Negara-negara yang lebih kecil pun mulai berlomba. Para ahli menyebut ini sebagai AI arms race (perlombaan senjata AI) yang jauh lebih berbahaya dari perlombaan nuklir di era Perang Dingin.

 

Kenapa? Karena AI berkembang jauh lebih cepat dari kemampuan hukum internasional, etika militer, atau pengawasan demokratis untuk mengikutinya.

 

Konferensi Review PBB tentang Senjata Otonom Mematikan dijadwalkan November 2026. Lebih dari 120 negara mendukung negosiasi untuk membuat aturan baru yang mengikat. Tapi sementara para diplomat berdebat di Geneva soal pasal-pasal yang akan ditulis, sistem AI sudah aktif berjalan di Iran. Sudah menentukan target. Sudah berkontribusi pada kematian.

 

Hukum selalu tertinggal dari teknologi. Tapi jaraknya belum pernah sejauh ini.

 

Penutup, Bahayanya Ketika AI Masuk ke Ruang Perang

Masalah terbesar dari AI militer sebenarnya bukan soal seberapa canggih teknologinya. Masalah terbesarnya adalah ketika keputusan hidup dan mati mulai terasa terlalu mudah dibuat.

 

Bayangkan situasinya seperti ini: sebuah sistem AI menandai sebuah bangunan sebagai target. Data masuk cepat. Analisis muncul dalam hitungan detik. Komandan melihat layar, memberi persetujuan, lalu serangan dilakukan. Tapi beberapa jam kemudian dunia tahu bahwa yang hancur ternyata sekolah. Korbannya anak-anak.

 

Lalu pertanyaannya jadi mengerikan: siapa yang bertanggung jawab?

 

Apakah pilot drone? Komandan yang menekan tombol persetujuan? Programmer yang melatih algoritma? Perusahaan teknologi yang menjual sistemnya? Atau negara yang membiarkan semuanya berjalan?

 

Di titik itu, tanggung jawab jadi kabur. Semua terlibat, tapi justru karena terlalu banyak pihak yang terlibat, akhirnya tidak ada satu pun yang benar-benar berdiri paling depan untuk mengatakan: “ini kesalahan kami.”

 

Dan di sinilah cerita tentang Anthropic jadi menarik.

 

Mereka mencoba memasang batas. Mencoba bilang bahwa ada wilayah-wilayah tertentu yang seharusnya tidak disentuh AI. Mereka memilih berhati-hati ketika banyak perusahaan lain justru berlomba masuk ke industri pertahanan.

 

Tapi dunia tidak berjalan seideal itu.

 

Ketika kepentingan militer, politik, dan teknologi sudah duduk di meja yang sama, suara kehati-hatian sering terdengar seperti hambatan. Orang yang bicara soal etika dianggap memperlambat inovasi. Yang minta pembatasan dicap anti-kemajuan. Dan pada akhirnya, sistem tetap berjalan.

 

Di situlah letak bahayanya.

 

Karena AI bukan lagi sekadar chatbot lucu yang membantu bikin caption Instagram atau merangkum tugas kuliah. Teknologi ini pelan-pelan mulai masuk ke ruang yang jauh lebih sensitif: pengawasan, penentuan target, analisis perang, sampai keputusan strategis negara.

 

Dan sejarah manusia sudah berkali-kali membuktikan satu hal: teknologi yang sangat kuat hampir selalu akan dipakai sejauh mungkin sebelum aturan berhasil mengejarnya.

 

Masalahnya, hukum internasional soal AI masih tertinggal jauh. Regulasi masih lambat. Pengawasan sering cuma formalitas. Sementara perkembangan teknologinya melesat tiap beberapa bulan.

 

Itulah kenapa diskusi tentang AI hari ini tidak bisa cuma berhenti di pertanyaan “fiturnya keren atau tidak.” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: siapa yang mengendalikan teknologi ini, untuk tujuan apa, dan siapa yang akan menanggung akibatnya ketika semuanya gagal?

 

Sebab kalau tidak ada batas yang jelas, kita sedang hidup di masa ketika mesin bukan cuma membantu manusia mengambil keputusan tapi perlahan mulai menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang tidak.

 

Dan mungkin itu bagian yang paling menakutkan: ketika teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada nurani manusia yang menggunakannya. Semoga tulisan ini bermanfaat, akhir kata Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer