Monday, May 25, 2026

Delapan Tahun Mendampingi UMKM Bertransformasi

Tahun 2018 adalah langkah baru, waktu itulah pertama kali saya jadi bagian Pendamping UMKM Provinsi Aceh. Lokasi tugas saya berada di Meulaboh, Aceh Barat. Ada banyak perubahan sejak pertama kali saya bertugas di sana, saya menyaksikan banyak perubahan UMKM, mereka beradaptasi dengan tuntunan zaman. Awalnya hanya mengandalkan pelanggan sekitar atau pembayaran tunai, kini mereka melek akan teknologi. Dunia menghubungkan mereka pada ekosistem digital.

Saat proses pendampingan, saya bertemu banyak pelaku UMKM dengan beragam cerita pilu hingga inspiratif. Usahanya ibarat nyawa terakhir mereka buat bertahan, saya pun menilai kelayakan usaha hingga layak didampingi nantinya. Pendampingan ini sifatnya pilihan, ada banyak pelaku usaha yang punya semangat luar biasa, tetapi tidak semuanya mendapatkan pendampingan intensif. Ada kualifikasi yang harus dipenuhi meskipun harus menjelajah jauh ke pelosok negeri. 

Mencari UMKM tidaklah sulit, mereka ada di sekitar kita dan bahkan memenuhi pinggiran jalan dengan berbagai dagangan. Namun yang sulit menemukan UMKM yang punya ciri khas, apakah produknya, cita rasanya, hingga potensinya di masa depan. Apalagi ditingkat kabupaten, saya mengibaratkannya seperti mencari permata dari pekatnya lumpur.

Saya pun bercerita sedikit, saat pergi ke lokasi UMKM binaan bukan hal mudah. Tidak jarang saya harus menempuh jarak melelahkan hingga masuk ke pelosok desa. Ada sejumlah UMKM potensial yang punya produk unggulan tapi belum terekspos sepenuhnya. Setibanya di sana saya pun melihat kendala besar dari sejumlah UMKM. 

Masih banyak UMKM yang mampu menghasilkan produk dengan nilai jual baik, namun masih abai dalam proses pemasaran. Mereka masih begitu terbatas akan pengetahuannya terkait pengelolaan usaha, sistem pencatatan keuangan sampai penerapan teknologi. Barang yang mau dibeli harus menggunakan uang tunai akibat UMKM masih belum memiliki rekening. Iya, rekening saja ada yang belum punya apalagi M-Banking.

Dari proses pendampingan, saya paham akan tantangan yang harus dihadapi di lapangan. Makanya saya selalu membawa kertas mukjizat bernama rencana kerja. Lembaran itu akan saya sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing UMKM. Biasanya, urusannya berkutat dengan rencana usaha, pembiayaan, legalitas usaha sampai ke tahap mindset buat pelaku usaha. Saya sadar, waktu kami tidak banyak namun bisa memberikan dampak buat UMKM yang dibina selama enam bulan kedepan.

Menggali Potensi UMKM Sampai Pelosok Negeri

Pada setiap proses pendampingan, saya tidak pernah memulai dari pembahasan modal atau strategi pemasaran ini sudah ke tahap lanjutan. Saya mau hal sederhana dimulai kenapa pelaku usaha memulai bisnis sampai ke tahapan potensi apa yang buat produknya berbeda dibandingkan UMKM lainnya. Saya memastikan usahanya tidak asal ikutan tren karena sesuatu yang dimulai dari tren gampang redup.

Nilai tambahnya, UMKM yang mampu mengangkat keunggulan daerahnya. Apakah berjualan makanan khas lokal bercita rasa autentik sampai ke produk kerajinan unik. Potensi sudah ditemukan, kini berlanjut pada proses pendampingan rutin mingguan. Saya akan membantu kepengurusan usaha terkait mengenai legalitas usaha seperti NIB, perizinan, sertifikat halal sampai ke tahapan pendaftaran merek yang jadi branding buat dipasarkan.

Pelaku usaha harus go digital selain punya pengemasan produk yang rapi, caranya dengan berjualan di e-commerce. Melatih mereka melek teknologi dengan melibatkan langsung pada pelatihan peningkatan kapasitas UMKM sampai ke Ibukota. Selama pelatihan, mereka akan diajarkan banyak hal dari peningkatan kemasan, branding hingga pemasaran produk secara digital. Setelahnya saya memantau perkembangan sebagai bahan evaluasi dan catatan UMKM yang saya bina layak naik kelas.

Namun perubahan paling saya rasakan justru terjadi saat pelaku usaha mulai mengubah cara mereka bertransaksi. Saya ingat ketika UMKM Asoe Jaroe yang menjual Kue Khas Meulaboh, yakni Pak Murtala begitu kebingungan setiap kali pelanggan membayar menggunakan uang pecahan besar. Ia harus meminjamkan uang kembalian ke warung sebelah agar transaksi tetap berjalan.

Saya menyarankan pembayaran dengan QRIS sebab lokasi beliau jalan lintas yang banyak dilewati pelancong dari luar. Semenjak itulah, beliau dan UMKM serupa di daerah Peunaga sudah melek mengoptimalkan pembayaran digital melalui QRIS. 

Perubahan Kecil yang Mengantar UMKM Naik Kelas

Pengalaman saya mendampingi UMKM selama depan tahun seakan saya belajar satu hal, usaha yang berkembang tidak selalu berkat modal besar. Saya mengamati malahan yang berkembang adalah UMKM yang mau belajar, mau beradaptasi, dan siap mengubah kebiasaan lama yang lebih panjang umur. Bagi saya, perubahannya kecil tapi konsisten. Misalnya UMKM mau meningkatkan kualitas produk, mau mengurus legalitas usaha, memperbaiki kemasan, membangun identitas merek sampai mau terjun ke arah teknologi digital dalam menjalankan bisnis.

Menurut saya, permasalahan terbesar UMKM bukan mencari pelanggan tetap, melainkan kesulitan mengelola hasil penjualan usahanya. Alasan utama adalah kebiasaan lama yang sudah mengakar, banyak UMKM yang masih mencampur adukkan uang usaha dengan kebutuhan rumah tangga. Ketika saya bertanya mengenai omzet mingguan atau laba bulanan, jawabannya pelaku usaha hanya merujuk pada perkiraan. Ini krusial, sebab arus kas jadi fondasi sebuah usaha bisa berkembang dan naik kelas.

Saran yang coba saya berikan yakni pelaku usaha mau menggunakan transaksi digital. Setiap pembayaran yang masuk tercatat secara otomatis sehingga mereka dengan mudah bisa mengetahui kapan penjualan sedang meningkat, produk mana yang banyak peminat, bahkan pemasukan rata-rata harian. Sederhana dan perlahan UMKM paham membangun literasi keuangan yang selama ini sering diabaikan. Mereka tak hanya sebatas berjualan, mereka paham kondisi usaha dan rencana apa yang perlu dipersiapkan buat mengembangkan usaha.

Saya melihat hadirnya ekosistem digital seperti AstraPay punya peran besar dalam digitalisasi UMKM. Transformasi ini buat UMKM jadi terbiasa menggunakan QRIS bukan hanya dalam  sistem pembayaran semata tetapi sebagai pencatatan sistem keuangan usaha. Segala bentuk transaksi tercatat runut dan membantu sekali pelaku usaha buat paham akan arus kas usahanya. Mereka tidak lagi mengandalkan pencatatan manual menggunakan buku, melainkan sudah beralih sepenuhnya ke sistem aplikasi yang tersimpan otomatis.

Delapan Tahun, Ribuan Langkah, dan Satu Harapan untuk UMKM Indonesia

Delapan tahun mendampingi UMKM bukanlah waktu yang sebentar, pengalaman berharga itu mengajarkan akan perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Saya menyaksikan pelaku usaha yang awalnya belum memiliki merek, legalitas usaha dan masih mengandalkan transaksi tunai. Kini mereka perlahan bertransformasi dengan memanfaatkan teknologi digital dalam menjalankan usahanya.

Pengalaman berharga itu seakan buat saya yakin UMKM kita punya potensi luar biasa. Tidak hanya pendampingan atau akses permodalan, mereka butuh ekosistem yang membantu tumbuh. Semuanya beriringan dengan pemahaman bisnis dan literasi keuangan sebagai bekal buat naik kelas.

Di sinilah saya melihat peran AstraPay lebih dari sekadar aplikasi pembayaran. Melalui transaksi digital yang praktis dan terukur, AstraPay menjadi bagian dari langkah kecil yang membantu banyak UMKM Indonesia tumbuh, berkembang, dan naik kelas.


Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer