Menjadi warga Sumatra beberapa
bulan terakhir seakan sedang diuji kesabarannya. Bukan ujian kecil, melainkan
ujian yang benar-benar datang dalam wujud kegelapan nyata. Belum hilang dari
ingatan betapa panjangnya malam-malam gelap akibat banjir bandang yang merusak
infrastruktur kelistrikan di sejumlah provinsi akhir tahun lalu.
Kini cobaan itu kembali datang. Dalam waktu enam bulan, Sumatra mengalami dua tragedi blackout. Dua peristiwa berbeda, pemicu berbeda, tetapi meninggalkan luka yang sama: aktivitas berhenti, ekonomi lumpuh, dan jutaan orang duduk dalam gelap sambil bertanya-tanya kapan terang akan kembali.
Pertanyaan itu mungkin
terdengar sederhana. Tapi di baliknya tersimpan pertanyaan yang jauh lebih
besar, pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan sekadar menunggu teknisi PLN
memperbaiki kabel yang putus. Apakah sistem energi kita cukup tangguh untuk menghadapi
masa depan?
Dua
Malam Gelap yang Meninggalkan Pertanyaan Berbeda
Pemadaman pertama masih bisa
dipahami, setidaknya secara logika. Banjir bandang datang, infrastruktur
kelistrikan rusak, proses perbaikan butuh waktu. Ada sebab yang jelas, ada
proses yang bisa dijelaskan. Kita boleh kecewa, tapi kita tahu kenapa gelap itu
hadir.
Namun pemadaman kedua berbeda
cerita. Tidak ada banjir besar. Tidak ada badai yang meluluhlantakkan
tiang-tiang transmisi. Listrik tiba-tiba padam di berbagai wilayah, dari Aceh
sampai Lampung, seperti seseorang mematikan saklar raksasa tanpa peringatan.
Proses pemulihan memakan waktu puluhan jam, bahkan stabilisasi sistem
membutuhkan hampir sepekan penuh. Yang paling menyakitkan bagi saya pribadi,
peristiwa itu terjadi tepat saat sedang berkumpul bersama keluarga. Momen yang
harusnya hangat dan penuh cerita, berubah jadi keheningan yang sedikit canggung
diterangi cahaya ponsel yang sinyalnya pun mulai menghilang.
Belakangan terungkap bahwa
penyebab awalnya adalah gangguan pada ruas transmisi 275 kilovolt antara Muara
Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi. Satu titik kecil dari ribuan kilometer
jaringan transmisi yang membentang di pulau ini. Dan satu titik itu saja sudah
cukup untuk memadamkan enam provinsi sekaligus.
Di Bengkulu, warga terpaksa
menyalakan lilin dan bernavigasi di jalan tanpa lampu lalu lintas. Lalu juga
terjadi di Riau, mesin pembayaran elektronik berhenti bekerja dan transaksi
perdagangan lumpuh mendadak. Lebih tragis lagi, setidaknya lima orang
dilaporkan meninggal akibat keracunan asap genset yang terpaksa dinyalakan
warga sebagai sumber listrik darurat. Angka itu bukan statistik abstrak. Itu
nyawa, dari orang-orang yang tinggal di pulau yang sama dengan kita.
Ironi yang Sulit Ditelan
Ada sesuatu yang jadi ironi
nyata, dan sejujurnya cukup sulit untuk ditelan begitu saja. Ketika negara
sedang begitu semangat berbicara transisi energi di berbagai forum nasional dan
internasional, di seminar, di dokumen kebijakan, di pidato-pidato tentang net
zero emission 2060, di sisi lain masyarakat Sumatra masih menyalakan lilin di
malam hari dan menghadapi blackout yang tidak bisa dijelaskan dengan alasan
cuaca saja.
Kita berbicara tentang masa depan energi hijau, kendaraan listrik, panel surya di atap gedung-gedung mewah, dan target bauran energi terbarukan. Namun data berkata lebih jujur dari slogan:
Hampir 85 persen listrik nasional saat ini masih digerakkan oleh energi fosil, setara dengan 91,58 gigawatt. Energi terbarukan baru mengisi sekitar 15 persen, atau sekitar 16,26 gigawatt. Angka ini bukan hanya menunjukkan bahwa perjalanan menuju sistem energi bersih masih panjang.
Angka ini juga
menunjukkan bahwa sistem yang ada sekarang, yang sebagian besar masih bersandar
pada jaringan transmisi terpusat berskala besar, menyimpan kerentanan yang
nyata dan berulang.
Kajian dari Pertamina Energy
Institute pernah menegaskan hal ini: hambatan transisi energi Indonesia bukan
hanya soal teknologi atau dana, melainkan menyebar ke hampir semua lini, dari
infrastruktur, regulasi yang belum konsisten, sampai sumber daya manusia yang
belum siap. Blackout Sumatra adalah bukti paling telanjang dari sisi
infrastruktur itu. Sistem kelistrikan yang terlalu terpusat dan terlalu
bergantung pada satu jalur transmisi utama membuat satu gangguan kecil bisa
menjadi bencana berskala pulau.
Sistem
Lama yang Mulai Menunjukkan Batasnya
Selama puluhan tahun, kita
membangun fondasi kelistrikan dengan logika yang sederhana: bangun pembangkit
besar, tarik transmisi sejauh yang dibutuhkan, distribusikan ke seluruh
wilayah. Logika ini berhasil membawa listrik ke kota-kota di Sumatra, Jawa, Kalimantan,
dan sebagian pulau lainnya. Tidak bisa dimungkiri, itu adalah pencapaian
infrastruktur yang luar biasa.
Namun blackout berulang seakan
membunyikan alarm: sistem yang besar dan terpusat belum tentu cukup tangguh,
bahkan untuk gangguan yang relatif kecil sekalipun. Bahkan Rencana Usaha
Penyediaan Tenaga Listrik PLN sendiri mencatat bahwa transmisi listrik di
beberapa wilayah Sumatra, termasuk Aceh, Bangka, dan Lampung, masih menggunakan
sistem radial, jaringan yang hanya mengandalkan satu jalur utama tanpa cadangan
yang memadai. Ketika jalur itu terganggu, tidak ada jalur alternatif yang
mengambil alih. Yang ada hanya kegelapan yang menjalar dari satu provinsi ke
provinsi berikutnya seperti efek domino.
Ada dua pekerjaan rumah besar
yang tidak bisa lagi ditunda: memperkuat ketahanan energi hingga ke pelosok
negeri, dan mempercepat transisi energi yang benar-benar melibatkan banyak
pihak, bukan hanya dibicarakan di podium. Indonesia tidak kekurangan sumber
daya energi. Potensi surya, angin, panas bumi, air, dan bioenergi tersebar di
hampir seluruh wilayah kepulauan. Tantangannya adalah mengubah potensi itu
menjadi energi yang andal, merata, dan mudah diakses masyarakat, termasuk
mereka yang tinggal di daerah yang jauh dari pusat transmisi.
Arah
yang Mungkin Belum Kita Bayangkan Sepenuhnya
Mungkin sudah waktunya kita
mengubah cara pandang tentang seperti apa wujud masa depan energi yang kita
inginkan. Selama ini, energi identik dengan cerobong pembangkit listrik besar,
dengan tower transmisi tinggi yang berdiri di lereng-lereng bukit, dengan
kabel-kabel panjang yang membentang ratusan hingga ribuan kilometer sebelum
sampai ke stopkontak di rumah kita.
Tapi bagaimana kalau energi
masa depan justru hadir lebih dekat dari itu? Atap rumah yang menyimpan panel
surya dan menghasilkan listrik sendiri tanpa bergantung pada jaringan utama.
Halaman belakang sekolah yang memiliki sumber energi cadangan sehingga proses
belajar tidak terhenti saat blackout melanda. Kampus yang bukan hanya
mengonsumsi energi, tapi juga memproduksinya. Desa-desa di pegunungan yang
memanfaatkan aliran sungai kecil untuk menggerakkan mikrohidro dan menerangi
rumah-rumah warganya secara mandiri.
Bayangkan rumah sakit yang
memiliki sistem energi mandiri, sehingga ketika jaringan utama padam, operasi
tetap bisa berjalan, ventilator tetap menyala, dan pasien di ICU tidak terancam
karena kabel transmisi di provinsi sebelah putus. Bayangkan kawasan industri
yang menyimpan energi cadangan dari sumber terbarukan, sehingga produksi tidak
berhenti total dan kerugian ekonomi tidak perlu sebesar yang terjadi selama dua
hari blackout kemarin.
Ini bukan sekadar utopia.
Sistem energi terdesentralisasi semacam ini sudah terbukti mampu menciptakan
lapangan kerja berbasis lingkungan sekaligus mengurangi kemiskinan di tingkat
lokal. Riset dari berbagai lembaga energi mencatat bahwa sektor energi terbarukan
membuka peluang kerja baru yang nyata: teknisi instalasi panel surya, auditor
efisiensi energi, operator pembangkit listrik skala kecil, sampai peneliti yang
mengembangkan sistem penyimpanan energi. Inilah green jobs, pekerjaan hijau
yang bukan sekadar jargon, melainkan profesi nyata yang sedang tumbuh dan
membutuhkan tenaga muda yang terampil.
Pelajaran
dari Negara Lain: Bukan Mustahil
Kalau ada yang bilang sistem
energi terdesentralisasi dan tangguh itu mustahil dibangun di negara
berkembang, cukup lihat apa yang sudah dilakukan negara lain dengan kondisi
serupa. Brasil, misalnya, berhasil mendorong bauran energi terbarukannya hingga
86 persen, sebagian besar bertumpu pada energi hidro yang dibangun dan dikelola
secara bertahap selama beberapa dekade.
Vietnam bahkan lebih
mengejutkan: dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, negara itu berhasil
membangun kapasitas energi surya yang signifikan dan mendorong bauran energi
terbarukannya ke kisaran 44 persen, jauh melampaui pencapaian Indonesia dalam
rentang waktu yang jauh lebih singkat.
Kunci keberhasilan mereka
bukan pada keajaiban teknologi yang tidak kita miliki. Kuncinya adalah
keberanian kebijakan: memberikan insentif yang konsisten kepada pelaku industri
energi terbarukan melalui skema seperti feed-in tariff, yakni jaminan harga jual
listrik dari sumber terbarukan yang cukup menarik sehingga investasi mengalir
deras. Ketika investasi masuk, pembangunan kapasitas menjadi lebih cepat, harga
turun, dan lebih banyak masyarakat bisa mengakses energi bersih dengan harga
terjangkau.
Indonesia sebenarnya punya
semua modal untuk melakukan hal yang sama, bahkan lebih. Potensi panas bumi
kita adalah salah satu yang terbesar di dunia. Garis pantai yang panjang
membuka peluang energi angin lepas pantai yang belum banyak disentuh. Dan sinar
matahari yang menyinari kepulauan ini sepanjang tahun adalah sumber daya yang
tidak akan habis diambil sebanyak apapun. Yang belum hadir adalah keberanian
untuk mengutamakan potensi ini, dibanding terus mempertahankan kenyamanan
sistem lama yang sudah terbukti rapuh.
Biaya
Diam Lebih Mahal dari Biaya Berubah
Ada argumen yang sering muncul
setiap kali soal percepatan transisi energi dibahas: harganya mahal. Dan itu
tidak sepenuhnya salah. Membangun infrastruktur energi terbarukan, memperkuat
jaringan transmisi, mengembangkan sistem penyimpanan energi, semua itu
membutuhkan investasi yang tidak kecil.
Tapi pertanyaannya adalah:
dibandingkan dengan apa? Kalau kita hitung dengan jujur biaya dari dua blackout
yang terjadi dalam enam bulan ini, angkanya jauh dari kecil. Kerugian ekonomi
akibat produksi yang terhenti, perdagangan yang lumpuh, peralatan elektronik
yang rusak karena lonjakan listrik saat pemulihan, biaya bahan bakar genset
yang melonjak tiba-tiba, belum lagi biaya kesehatan dari mereka yang terdampak.
Dan itu belum menghitung biaya
yang lebih abstrak tapi tidak kalah nyata: kepercayaan investor yang goyah,
reputasi negara yang dipertanyakan, dan kerugian sosial yang dialami jutaan
keluarga yang terpaksa menghentikan segala aktivitasnya selama berjam-jam.
Kajian energi internasional
bahkan memperkirakan, jika biaya kesehatan dari polusi udara akibat penggunaan
energi fosil ikut diperhitungkan secara menyeluruh, potensi kerugian nasional
yang bisa dicegah melalui percepatan transisi energi bisa mencapai ratusan
triliun rupiah per tahun. Dalam perspektif itu, biaya investasi energi
terbarukan tiba-tiba tidak lagi terdengar mahal. Ia terdengar seperti asuransi
yang sudah seharusnya kita beli jauh-jauh hari.
Siapa yang Seharusnya Bergerak?
Di sinilah letak pertanyaan
yang menurut saya paling penting: siapa yang seharusnya bergerak duluan?
Pemerintah dengan kebijakannya? Industri dengan investasinya? Atau masyarakat
dan generasi muda dengan pilihan dan tindakan sehari-harinya?
Jawabannya, saya rasa, adalah
semua pihak, tapi dengan urgensi yang berbeda. Pemerintah perlu memastikan
insentif untuk energi terbarukan tidak kalah menarik dibanding subsidi yang
selama ini mengalir ke bahan bakar fosil. Regulasi yang konsisten dan memberi
kepastian hukum kepada pelaku industri energi bersih perlu segera hadir, bukan
terus tertunda dalam pembahasan yang tidak kunjung selesai. Infrastruktur
transmisi yang rapuh perlu diperkuat, bukan hanya di jalur-jalur utama, tapi
juga dengan membangun sistem cadangan yang tidak membuat satu gangguan kecil
menjadi bencana nasional.
Industri punya peran yang
tidak kalah besar. Investasi swasta di sektor energi terbarukan perlu diberi
ruang yang lebih luas, dengan kepastian regulasi yang cukup untuk membuat
kalkulasi bisnis jangka panjang menjadi masuk akal. Kolaborasi antara perusahaan
energi, lembaga keuangan, dan pemerintah daerah dalam membangun sistem energi
terdesentralisasi di wilayah-wilayah yang selama ini terlupakan bukan hanya
bisa memperkuat ketahanan energi nasional, tapi juga membuka pasar baru yang
selama ini belum digarap.
Di sisi lain, masyarakat dan
generasi muda juga tidak bisa terus berdiri di pinggir sambil menunggu
kebijakan turun dari atas. Setiap keputusan kecil, dari memilih menggunakan
perangkat hemat energi, mendorong sekolah dan kampus memasang panel surya, sampai
aktif mengawal agar Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan
benar-benar disahkan dengan substansi yang kuat, adalah bagian dari gerakan
yang sama. Gerakan yang tidak harus menunggu momen besar untuk dimulai.
Dari Gelap Menuju Sesuatu yang Lebih dari Sekadar Terang
Blackout berskala besar tidak
boleh lagi menjadi tragedi berulang yang kita terima begitu saja. Bagi negara
yang sedang bercita-cita menjadi kekuatan ekonomi besar, pemadaman listrik
massal adalah tamparan keras yang menunjukkan masih adanya kerentanan mendasar
dalam sistem energi nasional. Tapi di balik tamparan itu ada momentum, momentum
untuk berbenah, mengevaluasi apa yang selama ini kita anggap cukup padahal
ternyata tidak, dan mempercepat transformasi yang sudah terlalu lama tertunda.
Ada sinyal optimisme yang
mulai terlihat. Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memperbaiki mekanisme
penetapan harga listrik dari sumber terbarukan. Program kerja sama
internasional untuk mempercepat penghapusan pembangkit listrik berbasis batu
bara mulai berjalan, meski masih perlu lebih banyak dorongan dari dalam negeri
sendiri. Inovasi teknologi seperti sistem penyimpanan energi skala rumah tangga
dan jaringan listrik cerdas mulai mendapat perhatian serius dari berbagai
pihak.
Namun semua itu tidak akan
cukup kalau kita masih membangun sistem baru di atas logika lama: terpusat,
monolitik, dan rentan. Makna transisi energi yang sesungguhnya bukan sekadar
mengganti batu bara dengan panel surya di pembangkit yang sama. Ia adalah tentang
membangun sistem yang lebih tangguh, lebih adaptif, dan tidak mudah runtuh
hanya karena satu titik transmisi di Jambi terganggu cuaca buruk.
Masyarakat membutuhkan energi
yang bersih, tapi juga energi yang andal saat kondisi darurat. Bukan hanya
energi yang murah di tagihan bulanan, tapi energi yang masih menyala saat rumah
sakit paling membutuhkannya, saat operasi tidak bisa ditunda, saat anak-anak
masih belajar di malam hari.
Terang Itu Sedang Dibangun
Semuanya berjalan beriringan
sekarang, dan itu yang membuat saya tetap menyimpan harapan di balik semua
kekecewaan akibat blackout ini. Dari gelapnya malam yang tiba-tiba menyelimuti
Sumatra, hingga harapan akan sistem energi yang lebih tangguh dan lebih merata.
Terang itu belum sepenuhnya hadir, tapi fondasinya sedang dibangun,
pelan-pelan, oleh banyak tangan dari banyak arah.
Transisi energi bukan
pekerjaan satu malam. Ia butuh waktu, butuh investasi yang tidak sedikit, butuh
keberanian kebijakan yang tidak gampang datang, dan butuh kesabaran dari
masyarakat yang terlanjur lelah menunggu. Tapi ia juga bukan sesuatu yang bisa terus
ditunda dengan alasan kondisi belum sempurna, karena kondisi sempurna itu tidak
akan pernah datang sendiri. Ia hanya hadir ketika kita mulai bergerak, bahkan
di tengah ketidakpastian.
Pertanyaan yang tersisa bukan
lagi apakah kita perlu bertransisi. Itu sudah jelas jawabannya. Pertanyaannya
adalah apakah kita punya keberanian kolektif untuk memilih jalan yang berbeda
dari yang selama ini kita tempuh, dan apakah kita bersedia memulai dari hal-hal
kecil yang ada di depan mata sambil terus mendorong perubahan yang lebih besar
di level kebijakan dan sistem.
Pengalaman blackout di Sumatra
bukan hanya soal listrik yang padam. Ia adalah pengingat keras bahwa ketahanan
energi adalah urusan semua orang, bukan hanya urusan insinyur PLN atau menteri
ESDM. Semoga gelap yang sempat menyelimuti Sumatra dua kali dalam enam bulan
ini menjadi pelajaran berharga sekaligus titik balik menuju Indonesia dengan
sistem energi yang lebih andal, lebih tangguh, dan benar-benar berkelanjutan,
yang menerangi seluruh Nusantara, bukan hanya kota-kota besarnya, dan yang
tidak gampang padam hanya karena satu kabel di satu provinsi terganggu.
Semoga tulisan saya ini
menginspirasi kita semua, akhir kata Have a Nice Days.







0 komentar:
Post a Comment