Thursday, July 16, 2020

Mengapa Produk dan Layanan Amazon Tak Familiar di Indonesia?

Siapa sih tak kenal Amazon?
Marketplace dan berbagai gurita bisnis digital untuk saat ini. Nama besar mereka seakan memberi jalan pemiliknya Jeff Bezos jadi orang terkaya versi majalah Forbes.

Segala kesuksesan itu tidak datang dalam semalam, butuh proses panjang hingga sampai ke tahap itu. Uniknya barang yang pertama kali dijual dan meyakinkan pelanggan ialah buku secara online.
Mungkin menjual buku dan sukses sedikit terdengar janggal. Tapi Bezos berhasil menggabungkan ide toko buku dan internet menjadi sebuah marketplace yang menjual beragam buku.

Malahan internet dianggap sebuah revolusi baru dalam proses berbelanja dan berbisnis di masa depan. Kepercayaan inilah yang membuat Amazon tak berhenti menjual buku fisik saja, kini mereka berhasil menciptakan Kindle sebagai e-Reader pengganti buku yang lebih fleksibel.

Hingga akhirnya bisnis di bidang menjual buku jadi batu loncatan dalam bisnis lanjutan Amazon. Bahkan bisa dikatakan Amazon sebagai raksasa serba guna, tanda panah A sampai Z menandakan mereka punya segalanya.

Mengapa Amazon Bisa Sukses Besar?
Saat era website dengan nama dot-com booming di akhir 90-an, Amazon salah satunya yang ada di sana. Meskipun hanya dot-com bubble, Amazon berhasil mencuri hati pengguna akan masa depan internet dan inovasi.
Pada e-commerce, Amazon punya pabrik sendiri yang memasok sejumlah barang yang mereka punya. Beda dengan marketplace sebelah yang sifatnya hanya Middle-Man. Ini membuat Amazon menjamin produk yang sampai ke tangan pelanggan adalah yang terbaik.

Di Amazon Warehouse pun tak main-main, semuanya sarat dengan teknologi dan AI. Seperti mempekerjakan robot sebagai staf yang bekerja di gudang logistik. Tujuannya adalah menekan angka human error serta proses packing jadi lebih cepat dan rapi.
Proses pengantar barang begitu modern dan tidak mengandalkan tenaga manusia lagi tapi Drone dan bahkan Floating Warehouse berbasis AI. Tujuannya agar waktu pengiriman dan tentu saja emisi karbon bisa ditekan.

Meskipun banyak mengantarkan AI, Amazon juga tetap mengacu pada pelayanan terbaik. Mulai dari kualitas barang, teknologi yang diberikan hingga kenyamanan pengguna. Memang secara harga Amazon lebih mahal dari kompetitor, tapi saat semua hal di atas sudah dimiliki. Urusan harga urusan belakangan.
Itu bisa dibilang hanya satu dari sekian banyak hal yang Amazon lakukan. Kunci sukses mereka beragam selain sebatas inovasi saja tapi juga manajemen perusahaan dan kerja yang begitu rapi.

Paling unik adalah sistem rapat minimalis yaitu istilah rapat dengan dua Pizza. Maksud di sini sangat implisit karena hanya ada kurang dari 16 orang saja yang terlibat dalam rapat besar Amazon.

Tujuannya adalah supaya ide bisa mudah terserap dengan baik, selain itu rapat model ini membuat semua peserta rapat jadi bisa mengeluarkan idenya. Alhasil manajemen Amazon cukup baik dan buat perusahaan mereka melonjak jauh di lantai saham.
Tentu saja yang paling sering Amazon lakukan lainnya yakni berani mengambil sikap dan cepat melakukan eksekusi. Saat pesaingnya masih ragu-ragu, Amazon sudah lebih terjun. Tak heran banyak hal jadi menjadikan mereka pionir.

Mengapa Amazon Tak Terkenal di Indonesia?
Nama besar Amazon di Amerika dan Eropa seakan kurang gaungnya di tanah air. Mungkin beberapa perusahaan besar di USA cukup terkenal di tanah air, tapi Amazon tidak. Malahan yang masih cukup asing, untuk level e-commerce asing. Nama Shopee, Lazada, Alibaba yang mungkin terlintas.

Mengapa hal itu bisa terjadi, bahkan secara produk tak kalah jauh. Malahan Amazon punya banyak kerajaan bisnis di lintas bidang. Alasan pertama karena faktor iklan, Amazon seakan tidak melirik dan memasang iklan di pasar tanah air.

Tidak ada iklan di media apa pun itu, karena tak ada iklan otomatis tidak ada promosi yang ditawarkan. Alhasil impresi tidak ada dari masyarakat luar. Kalau belanja, mending pakai e-commerce lain saja.

Permasalahan yang cukup besar lainnya ada faktor bahasa, Yupss.. Amazon masih menggunakan Bahasa Inggris untuk segala proses belanjanya. Memang ada divisi AWS yang sudah ada di Indonesia dan punya website berbahasa Indonesia.

Sedangkan unit bisnis utama seperti e-commerce masih belum. Padahal ada banyak masyarakat yang melirik atau mencoba-coba berbelanja di Amazon.
Tak berhenti di situ saja, kendala lainnya adalah proses pembayaran yang masih mengandalkan kartu kredit Master Card dan Paypal. Jarang sekali masyarakat yang menggunakan kombinasi pembayaran seperti itu.

Tak ada pembayaran yang menggunakan bank lokal atau kartu debit. Bahkan saja ada yang tidak memiliki rekening bank dan lebih memilih COD. Ini membuat belanja di Amazon hanya itu orang kalangan berduit dan barang yang dicari tak ada di e-commerce lokal.
Terakhir yang cukup menguji kesabaran adalah waktu pengiriman. Lokasinya yang jauh dan dikirimkan langsung dari USA membuat waktu pengiriman bisa sangat lama. Bila yang hanya hitungan hari, kini memakan waktu dua minggu hingga empat minggu.

Sudah prosesnya sulit, pembayarannya pun menggunakan kartu kredit, ditambahkan lagi pengiriman yang lama. Berbelanja di Amazon harus berpikir berulang kali, terkecuali terdesak.

Jadi... apakah Amazon mencoba membuka diri dengan Indonesia?
Secara peluang bisnis, pangsa Indonesia sangatlah besar dan menjanjikan. Jumlah penduduk dan penetrasi internet yang terus bertambah setiap tahunnya tak langsung membuat Amazon langsung berinvestasi besar.
Memang ada bisnis yang sudah dikembangkan Amazon yaitu divisi AWS (Amazon Web Service). Bahkan usianya hampir genap dua tahun dan bisa saja dianggap sebagai awal baru.

Tapi Amazon tidak sembarangan memilih bisnis. Jumlah penduduk dan penetrasi internet saja tak cukup, mereka juga mempelajari tingkah laku masyarakat Indonesia.

Untuk bisnis e-commerce, Amazon menawarkan harga terbaik dengan kualitas terbaik. Mereka seakan memiliki sendiri pabrik khusus sebelum nantinya disalurkan pada pengguna di seluruh dunia.

Alhasil lebih mahal dibandingkan pesaingnya, ini yang tak disuka dari perilaku pengguna tanah air. Mereka suka mengejar diskon, cash back atau bahkan giveaway. Duit perusahaan e-commerce banyak dihabiskan dengan cara bakar duit.
Amazon punya prinsip berbeda, mereka lebih suka mengembangkan teknologi dibandingkan bakar duit hanya memuaskan pengguna. Ada banyak teknologi yang dilibatkan dalam setiap produk Amazon.

Inilah mengapa Indonesia kurang dilirik dan diutamakan, apalagi negara kita masih berkembang yang membuat ekonomi belum semapan negara maju. Sudah pasti daya beli masih rendah, ibaratnya: Lihat aja tapi beli kaga.

Sangat jarang ada barang mirip di Amazon yang menjualnya, beda dengan e-commerce umumnya yang menjual barang miring (cost negative) khususnya dari e-commerce asal China.

Well... tak perlu berkecil hati, Amazon sudah mengutus AWS di tanah air. Ini sesuai dengan kriteria Indonesia yang sedang pesatnya membangun bisnis digital yang membutuhkan penyimpanan awan (cloud).
Angkanya investasinya tak main-main, hingga mencapai angka US$ 2,5 miliar atau setara 35 triliun. Amazon melihat potensi besar khususnya pengembangan data dan jasa konsultasi perusahaan di tanah air.

Mulai dari skala UKM hingga perusahaan besar serta sektor publik jadi sasaran Amazon. Bagaimana, menarik bukan yang Amazon lakukan, apalagi melihat bertambahnya pengguna internet di Indonesia dan aktivitas bisnis.

Ini jadi lahan mengembangkan data dan melihat prospek bisnis yang layak disasar Amazon di masa depan. Itu belum lagi startup, perusahaan digital, hingga konten kreator yang butuh penyimpanan awan.
Saya rasa Amazon selangkah lebih maju dalam hal ini dibandingkan pesaingnya dari USA yang telah lama menapak di Indonesia. Proses pengolahan jadi lebih cepat dibandingkan mengandalkan hardware device yang bisa saja bermasalah atau rusak. Kini tinggal meraut untung ledakan pengguna cloud di masa depan.

Selain itu yang dijual AWS tak terbatas dengan layanan cloud saja. AWS juga memberikan layanan penyimpanan dan jaringan. Bahkan memperkenalkan produk andalan mereka berbasis AI dan Machine Learning dengan layanan pay-as-you-go dan on demand.

Sejumlah Produk Andalan Amazon yang Tak populer di Indonesia
Bisa dikatakan hampir semua produk fisik yang Amazon miliki tidak terlalu terkenal di Indonesia. Bahkan bisa dibilang bukan pangsa yang empuk melihat kebiasaan dan perilaku.
Produk Amazon yang sudah cukup lama adalah Kindle, bisa dibilang ini bisnis pertama yang coba dikembangkan sebelum bisnis lainnya lahir. Berawal dari mengubah buku fisik menjadi buku digital dalam sebuah Kindle.
Penjualan Kindle di sejumlah negara sangat signifikan dan banyak orang yang mulai beralih membaca dan membeli buku dengan Kindle. Tapi di Indonesia, gaungnya kurang dan bahkan tidak terdengar. Membeli produknya susahnya minta ampun.

Saya pribadi mempunyai Kindle, bentuknya tidak impresif dan hanya bisa diandalkan buat membaca. Bagi yang tak tahu malah mengira itu hanyalah sebuah tablet lawas.

Permasalahan lainnya timbul adalah sulitnya menemukan buku berbahasa Indonesia. Ini bisa jadi membuat minat membeli dan membaca jadi berkurang. Kalau pun ada, proses mendapatkan bukunya begitu sulit.
Layanan digital streaming pun serupa, Netflix, HBO, dan Apple Tv mungkin begitu terkenal sedangkan Amazon Prime tidak. Padahal dari secara kualitas, jumlah tayangan hingga fitur tidak kalah. Malahan di sejumlah tayangan Amazon Prime unggul.

Terakhir adalah mesin pencari, Amazon seakan membangun ekosistem digital yang kompleks. Salah satunya adalah Silk Browser, mesin pencari buatan mereka yang tertanam di produk dari Kindle, Fire HD, dan Fire TV.
Bekerja sama dengan open source Chromium milik Google, performa Silk Browser cukup cepat di perangkat milik Amazon. Bila melihat spesifikasi, perangkat Amazon tidak terlalu bertenaga tapi mendukung segala sistem yang dijalankan tanpa lag termasuk Silk Browser.

Produk Inovatif Buatan Amazon
Tak berhenti di situ saja, Amazon punya segudang produk lainnya dan bahkan punya sentuhan teknologi. Mulai dari Amazon Go selaku konsep swalayan tanpa kasir. Penerapannya juga menggunakan AI, sensor kamera, dan proses pembayaran peer to peer.
Segala aktivitas belanja akan tercatat di Amazon Go. Mesin akan tahu barang apa yang diambil dari rak dan mendeteksi harga, bila tak jadi diambil dan diletakkan kembali ke rak, mesin akan menyadari barang tak jadi di beli.

Di swalayan Amazon Go, pengguna hanya bermodal mengunduh aplikasi Amazon Go pada App Store dan terhubung ke kartu kredit untuk menagih jumlah belanjaan.
Makin nyaman di rumah saja dengan Amazon Echo, speaker yang bertransformasi jadi asisten pribadi. Amazon Echo menangkap suara dari penggunanya. Melakukan tugas mulai dari mengunci rumah secara IoT, asisten pribadi hingga sebagai hiburan layaknya Alexa.

Nah... uniknya Amazon Echo bisa bekerja sama dengan Amazon Keys khususnya dalam mengantarkan paket hingga ke dalam rumah. Tak hanya pilihan mengantarkan dengan drone, Amazon menciptakan Amazon Key khususnya mengantarkan paket saat tidak ada orang di rumah.
Nantinya akan ada fitur Amazon Key yang terpasang di pintu rumah, pengantar paket bisa membuka rumah pelanggan dan meletakan pada tempat yang aman.

Bahkan bisa membuka pintu rumah dengan menggunakan Smart Key Home, siapa saja bisa mengakses rumah Anda dan kita bisa melakukan tracking. Bahkan mengunci rumah dari jarak jauh, tak perlu takut lagi rumah lupa terkunci.

Produk Inovatif Masa Depan dari Amazon
Kecerdasan buatan (AI) dianggap punya peran besar di masa depan. Amazon sadar bisnisnya tidak hanya terpaku pada satu bidang usaha saja. Salah satunya yang cukup dikembangkan saat ini adalah konsep AI pada Amazon Web Services.
Ada sejumlah kelebihan dan tentu saja pasar baru yang hadir di masa depan. Memang saat ini Machine Learning hanya sebagai simulasi saja, tapi Amazon membuat pengembangan dan kompetisi yang mengasahnya jadi lebih baik.

Baru-baru ini Amazon menghadirkan ketiga varian unik yakni AWS DeepRacer, AWS DeepLens, dan AWS DeepComposer. Konsepnya menggunakan Machine Learning lebih berkembang di masa depan bahkan ada kompetisi khusus yang melibatkan sejumlah Machine Learning bertarung.
DeepRacer yang berupa mobil remote control yang full autonomous berbasis Machine Learning. Memiliki kemampuan mendeteksi objek di lintasan, kapan menyalip lawan, dan tentu saja mengalahkannya untuk bisa sampai ke garis akhir.
Baca Juga: Tak Ada Kata Berhenti Berinovasi dari Amazon
DeepRacer menggunakan kamera untuk melihat trek dan model penguat untuk mengontrol keseimbangan dan kemudi. Mobil akan menunjukkan bagaimana model yang dilatih dalam lingkungan simulasi dapat ditransfer ke dunia nyata. 
Lalu produk lainnya ialah AWS DeepLens, berupa kamera video aktif dalam pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan pembelajaran mesin mereka melalui tutorial visi komputer langsung. Contohnya dalam melatih koding dan model pra-bangun.

Bermodal sebuah kamera SageMaker dalam berbagai mendeteksi objek dan aktivitas. Nantinya kamera Sagemaker akan terhubung pada perangkat komputer Anda dan akan melakukan proses screening mulai dari objek, makanan, hewan peliharaan, deteksi wajah dan kepala hingga pengembangan proyek komunitas.
Buat yang masih bingung, contoh sederhananya adalah berikut, katakan saja Anda punya hewan peliharaan seperti kucing. Aktivitasnya memang sulit ditebak apalagi saat di luar rumah, ia bisa keluar masuk jendela rumah kapan saja.

Untuk itu, AWS DeepLens bisa mendeteksi wajah dan tentu saja aktivitasnya hewan peliharaan. Salah satunya akses masuk dari jendela yang bekerja secara IoT. Mirip konsep Face Recognition pada perangkat gawai.
Bila saja kucing atau hewan lain mencoba masuk, akan terhalang atau terkunci. Ini membuat pemilik rumah jadi aman. Segala aktivitas hewan peliharaan bisa terekam dan akan masuk ke dalam aplikasi AWS DeepLens.

Teknologi terakhir yang dikembangkan ialah AWS DeepComposer, alat ini berupa serupa dengan keyboard musikal pada umumnya, hanya saja ada sentuhan AI di dalamnya.

Proses belajar yang melibatkan Machine Learning dalam menggabungkan skill pengguna dengan keyboard kemudian hasilnya akan terkoreksi pada aplikasi Amazon. Sesuai dengan selera dan genre musik pengguna. 
Machine Learning pun bisa mengubah nada tersebut dalam bentuk Synth, bass, drum, atau gitar sesuai keinginan pengguna. Semua data tersebut akan tersimpan rapi di dalam AWS.

Machine Learning akan menyesuaikan pada keinginan sang musisi sesuai dengan selera. Satu hal lagi yang menurut saya cukup istimewa adalah semua orang akan menjadi diskriminator (pembeda) sedangkan AI jadi generator (pengubah) musik sesuai selera kita.

Sudah begitu banyak kolaborasi manusia dengan AI yang sebelumnya mengandalkan aplikasi khusus, hanya saja Amazon lahir dengan menggabungkan perangkat fisik (Keyboard) dengan cloud computing milik mereka.

Pengguna bisa mengubah dan menyesuaikan musik sesuai dengan seleranya tanpa harus repot lagi memproduksi musik, sekaligus bisa bertambah produktif. Teknologi sebanding dengan produktivitas karya.
Unik-unik bukan berbagai inovasi dari Amazon, rasanya sayang banget bila tidak diketahui masyarakat Indonesia. Di era modern, berbagai konsep tersebut kemudian besar bisa digunakan dalam mempermudah hidup atau bisa jadi sarana hiburan.

Semoga tulisan ini membuka cakrawala kita akan teknologi dan akhir kata, Have a Nice Days.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Langganan via Email Yuk?