Tuesday, June 9, 2020

Tak Ada Kata Berhenti Berinovasi dari Amazon

Berawal hanya website sederhana menjual aneka buku daring, dalam sekejap Amazon bertransformasi jadi marketplace paling berharga di dunia. Amazon bukan sekedar menjual barang saja tapi melakukan inovasi tanpa itu. Kunci mereka bertahan dan tumbuh besar....

Jeff Bezos selaku CEO pun sadar bahwa persaingan di dunia  e-commerce semakin berat. Muncul berbagai pesaing yang siap mengambil pelanggan setia saat sedikit saja lengah. Itulah yang membuat Amazon berinovasi agar terus menjadi leader di marketplace dunia. Memang saat ini Amazon menargetkan sejumlah negara maju sebagai lahannya, beda dengan eBay atau Alibaba yang menargetkan negara berkembang seperti Indonesia.

Jaringan bisnisnya pun penuh inovasi, saat marketplace lain bermain dengan perang harga dan bakar duit. Amazon memulainya dengan perang teknologi, di era Revolusi industri 4.0 sangat dibutuhkan inovasi yang membuat pengguna puas. Sedikit lebih mahal tidak masalah, ada fitur dan teknologi membuat pelanggan jadi lebih setia dan tahu bahwa perang harga saja akan kalang dengan perang teknologi.

Bermula dari Menjual Buku
Mungkin menjual buku dan sukses sedikit terdengar janggal, bagaimana dari menjual buku dengan harga murah di internet mampu menghasilkan bisnis marketplace di dunia. Bahkan sang CEO dinobatkan sebagai orang terkaya di jagat saat ini.

Itulah yang menjadi awal mula Jeff Bezos terkenal, kecintaannya pada buku dan menggabungkannya dengan internet ternyata berbuah manis. Saat era website dengan nama dot-com booming di akhir 90-an, Amazon salah satunya yang ada di sana. Meskipun hanya dot-com bubble, Amazon berhasil mencuri hati pengguna akan masa depan internet di masa depan.
Website atau perusahaan yang tidak jelas konsepnya satu persatu harus gugur, sedangkan Amazon tetap pada prinsip menjual buku dengan harga murah. Alhasil saat dot-com dianggap sebuah kewajaran seperti kini, nama Amazon melambung jauh ke angkasa bahkan menjadi perusahaan dengan valuasi besar semenjak melantai di NASDAQ tahun 1997.

Menggabungkan ide toko buku dan internet terdengar sebuah lelucon konyol, tapi nyata Bezos mampu mewujudkannya. Bermodal dengan kemampuan matematika dan programmingnya saat mengambil jurusan komputer sains di Princeton University. Visi dan misinya tajam dalam melihat peluang bisnis kala itu yang masih mengandalkan penjualan secara offline, menjual buku secara daring pasti jadi daya tarik.
Internet dianggap sebuah revolusi baru dalam proses berbelanja dan berbisnis di masa depan. Hingga akhirnya bisnis di bidang menjual buku jadi arah lanjutan ke bisnis yang lebih beragam. Kepercayaan inilah yang membuat Amazon tak berhenti menjual buku fisik saja, kini mereka berhasil menciptakan Kindle sebagai e-Reader pengganti buku. Itu semua hadir berkat buku fisik akan tergantikan dengan e-Reader.

Mengapa Amazon Bisa Sukses Besar?
Saat awal berdiri, Amazon tidak sendirian karena sudah ada Walmart yang berdiri sendirian dan paling dekat usianya adalah eBay. Pertarungan paling ketat saat awal ledakan dot.com adalah dengan eBay, sedangkan kini Amazon semakin berkembang dan menjadi pesaing Walmart.
Walmart hanya menang penjualan secara offline, sedangkan Amazon menang telak di dunia maya. Ia bahkan membuat pesaingnya tersebut kelimpungan karena penerapan teknologi. Untuk eBay sendiri hanyalah yang di dalamnya ada lapak dan terjadi transaksi, sedangkan Amazon memiliki semuanya sendiri tanpa pihak ketiga dari level penyedia, gudang, divisi pengiriman hingga toko.

Lalu dalam bisnis online yang paling penting adalah kepercayaan, inilah yang dibangun semenjak awal berdiri. Amazon menanggung segala kecacatan dan kerusakan pada barang pelanggan. Beda dengan eBay yang rentan penipuan dan penjual nakal berakibat Anda rugi. Lalu mereka gencar di internet dan ini membuat penjualan lebih luas ke seluruh dunia, ini yang membuat Walmart keteteran karena banyak mengandalkan offline.

Terakhir adalah kelebihan Amazon dalam memanjakan pengguna dengan Gift Card, nantinya bisa ditukarkan dengan sejumlah barang sesuai harga yang tertera di Gift Card. Tak hanya itu saja, Gift Card bisa didapatkan dan digunakan dalam berbelanja online dan offline di setiap retail Amazon. Ini membuat pelanggan tertarik buat mengoleksinya karena mendapatkan potongan harga, dan tidak ada pada pesaingnya.
Amazon dianggap sukses dalam pengembangan marketplace sehingga banyak startup dari berbagai negara yang meniru kesuksesan tersebut. Konsep yang sederhana, menarik pelanggan, dan tentunya mengedepankan teknologi.

Menjajal Bisnis dengan Teknologi
Kini Amazon terkenal dengan marketplace yang menjual berbagai produk yang dibutuhkan manusia, program aplikasi, TV berbayar hingga berbagai teknologi penunjang. Ada sejumlah yang Amazon lakukan untuk masa depan salah satunya melalui kecerdasan buatan, IoT dan Machine Learning pada proses kinerja. Ini membuat inovasi baru, bukan hanya sebatas mengirim barang saja atau diskon gila-gilaan.
Saat banyak marketplace lainnya bermain perang harga, Amazon malahan jual mahal. Mulai dari membeli gudang di lokasi dengan harga sangat mahal. Tujuannya adalah pelanggan bisa mendapatkan barang dengan lebih cepat dan mudah. Memang butuh biaya besar, tapi lama-kelamaan para kompetitor akan gigit jari dengan kebijakan yang Amazon buat. Inilah yang membuat mereka begitu digdaya di Amerika.

Kemudian proses bakar duit, selama ini bakar duit yang dilakukan oleh banyak marketplace adalah dengan memanfaatkan peristiwa tertentu. Katakan saja Black Friday Sale di Amerika, ada begitu banyak penawaran harga miring. Ini dimanfaatkan sekali oleh banyak marketplace saat ini bahkan sudah dikenal bukan hanya di Amerika. Pastinya menguras begitu banyak dana dari marketplace tersebut, tapi setelah hari itu lewat, trafik penjualan kembali menurun.

Beda halnya dengan proses bakar duit dalam konteks teknologi dan pengembangan riset. Ini dianggap punya efek jangka panjang. Pengguna lama-kelamaan akan merasa betah dengan teknologi, apalagi target Amazon adalah negara maju yang lebih mengedepankan teknologi dibandingkan harga.

Inovasi di bidang teknologi yang hadir pun tidak main-main, mulai dari mempekerjakan robot sebagai staf yang bekerja di gudang logistik. Tujuannya adalah menekan angka human error serta proses packing jadi lebih cepat dan rapi. Pengembangan AI dalam dukungan bisnis yang mampu menekan biaya pada sejumlah sektor dan membuat biaya jadi terjangkau.
Proses pengantar barang pun sangat modern dan tidak mengandalkan drone dan bahkan floating warehouse. Tujuannya mengurangi waktu pengiriman dan tentu saja emisi karbon, selama ini proses pengantar paket banyak menggunakan bahan bakar fosil. Drone yang dikembangkan Amazon menggunakan tenaga listrik, mampu membawa beban hingga 3 kg dengan jangkau hingga 24 km. Penerapan AI sangat kentara pada drone khususnya proses navigasi hingga sampai ke tujuan.

Penerapan teknologi yang paling menarik lainnya menurut saya adalah lahirnya Amazon Go. Peran AI, IoT hingga proses pembayaran peer to peer dimulai di sini. Tidak butuh lagi berbagai pelayan dan kasir yang harus berjaga di toko tersebut. Ini sangat cocok dengan masa pandemi karena bisa mengurangi interaksi antara kasir dan pelanggan.
Ada begitu banyak sensor yang ada di setiap sudut untuk mendeteksi pengguna saat masuk ke Amazon Go bertujuan mengetahui aktivitas belanja. Mesin akan tahu barang apa yang diambil dari rak dan mendeteksi harga, bila tidak jadi diambil dan diletakkan kembali ke rak, mesin akan menyadari barang tak jadi di beli. Semua ini mengandalkan Machine Learning dan sensor cerdas di dalam Amazon Go. Pengguna hanya bermodal mengunduh aplikasi Amazon Go dan terhubung ke kartu kredit untuk menagih jumlah belanjaan.

Makin nyaman di rumah saja dengan Amazon Echo, sebuah speaker yang bertransformasi menjadi sebuah asisten pribadi. Konsep yang diterapkan menyerupai Alexa yang menangkap suara dari penggunanya, asisten virtual bertugas mulai dari mengunci rumah secara IoT, asisten pribadi hingga sebagai hiburan layaknya Google Asisten.
Nah... uniknya Amazon Echo bisa bekerja sama dengan Amazon Keys khususnya dalam mengantarkan paket hingga ke dalam rumah. Tak hanya pilihan mengantarkan dengan drone, Amazon menciptakan Amazon Key khususnya mengantarkan paket saat tidak ada orang di rumah. Nantinya akan ada fitur Amazon Key yang terpasang di pintu rumah, pengantar paket bisa membuka rumah pelanggan dan meletakan pada tempat yang aman.

Bahkan bisa membuka pintu rumah dengan menggunakan Smart Key Home, siapa saja bisa mengakses rumah Anda dan kita bisa melakukan tracking. Bahkan mengunci rumah dari jarak jauh, Artinya Amazon sudah menerapkan konsep Smart Home dan IoT dalam pengembangan bisnisnya.

Inovasi di bidang Cloud melalui Amazon Web Services
Layanan Cloud Computing sangatlah besar prospeknya di masa depan, kita pun sudah memasuki era Big Data. Amazon pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dengan gebrakannya menciptakan Amazon Web Service (AWS). Ada banyak pesaing mulai dari Microsoft Azure, Google Cloud Platform hingga Alibaba Cloud.
Semuanya bersaing mencari pelanggan sebanyak-banyaknya, ini sebuah alasan karena di masa depan semuanya akan terhubung dengan internet. Mulai dari menyimpan data pribadi, blog pribadi, website online shop bahkan website perusahaan ternama. Makin banyak pengguna otomatis membuat proses akses jadi lebih berat dan lambat, AWS hadir dengan memberikan penawaran menarik dan buat cloud data pelanggan bisa aman dan diakses dengan cepat.

AWS tak sebatas itu saja, mereka juga melayani berbagai hal eksklusif lainnya dari layanan penyimpanan database hingga jaringan secara kredibel. Ada banyak pengguna yang mempercayakan Amazon dan mengenyampingkan nama besar cloud computing ternama lainnya.
Di Indonesia sendiri Amazon pun sangat getol berinvestasi khususnya di bidang Cloud Computing. Meskipun marketplace Amazon belum ada di tanah air, mereka banyak berinvestasi pada sejumlah startup potensial tanah air. Hadirnya data center sebagai bentuk Amazon dalam mengembangkan Cloud Computing di Indonesia. Investasi yang diberikan pun tidak tanggung-tanggung, hingga mencapai angkan US$ 2,5 miliar atau setara 35 triliun.

Amazon melihat potensi besar khususnya pengembangan data dan jasa konsultasi perusahaan di tanah air. Mulai dari skala UKM hingga perusahaan besar serta sektor publik jadi sasaran Amazon. Bagaimana, menarik bukan yang Amazon lakukan, apalagi melihat bertambahnya pengguna internet di Indonesia dan aktivitas bisnis. Ini jadi lahan mengembangkan data dan melihat prospek bisnis yang layak disasar Amazon di masa depan.

Lalu muncul pertanyaan, mengapa Amazon tidak terjun langsung ke Indonesia?
Indonesia negeri yang unik dan banyak perusahaan teknologi dunia berpikir dua kali untuk berbisnis di Indonesia, salah satunya di bidang marketplace dan on-demand service. Alasannya pertama karena kepercayaan pada startup lokal. Mungkin Anda pernah dengan kegagalan Uber atau tidak terlalu suksesnya Airbnb di tanah air.
Amazon sadar bila masuk ke Indonesia ia akan sulit bersaing, beda halnya dengan e-commerce asal China seperti Lazada, Alibaba, dan Shopee. Semua karena pengaruh pasar dan tentu saja harga, ini sebuah nilai jual menarik sebuah e-commerce dibandingkan mengedepankan teknologi. Selain itu daya beli online masih cukup rendah sehingga tidak terlalu menguntungkan.  Terakhir tentu saja faktor kepuasan jadi target utama Amazon, bukan hanya sebatas perang harga dalam menarik pelanggan.

Kecerdasan Buatan dan Amazon, Arah Mengubah Masa Depan
Kecerdasan buatan (AI) dianggap punya peran besar kin dan masa depan, Amazon sadar bisnisnya tidak hanya terpaku pada satu bidang usaha saja. Salah satunya yang cukup dikembangkan saat ini adalah konsep AI pada Amazon Web Services. Ada sejumlah kelebihan dan tentu saja pasar baru yang hadir di masa depan. Memang saat ini Machine Learning hanya sebagai simulasi saja, tapi Amazon membuat pengembangan dan kompetisi yang mengasahnya jadi lebih baik.
Untuk tahun kemarin saja, Amazon menghadirkan ketiga varian unik mulai dari AWS DeepRacer, AWS DeepLens, dan AWS DeepComposer. Konsepnya murni untuk penerapan Machine Learning lebih berkembang di masa depan bahkan ada kompetisi khusus yang melibatkan sejumlah Machine Learning bertarung.

Baiklah, saya mulai membahas AWS DeepRacer yang berupa mobil remote kontrol yang secara penuh menggunakan autonomos (mandiri) berbasis Machine Learning. Kemampuan yang dimiliki adalah kemampuan medeteksi objek di lintasan, kemampuan kapan menyalip lawan, dan tentu saja mengalahkannya untuk bisa sampai ke garis finish paling cepat.
AWS DeepRacer adalah mobil balap skala 1/18 yang dirancang untuk menguji model RL dengan membalap di trek fisik. Menggunakan kamera untuk melihat trek dan model penguat untuk mengontrol throttle dan kemudi, mobil menunjukkan bagaimana model yang dilatih dalam lingkungan simulasi dapat ditransfer ke dunia nyata.

Setiap Remote Control akan bersaing satu sama lain di lintasan yang sudah disediakan. Bahkan proyek ini akan tersedia tahun ini, menjadi remote control masa depan yang bisa mengontrol dirinya sendiri. Amazon juga mengadakan kompetisi dan menggandeng Daniel Ricciardo, Pembalap F1 dari pabrikan Renault dalam mempromosikan AWS DeepRacer.

Kemudian ada juga AWS DeepLens adalah kamera video aktif dalam pembelajaran pertama di dunia untuk pengembang dari semua tingkat keterampilan untuk mengembangkan keterampilan pembelajaran mesin mereka melalui tutorial visi komputer langsung, contoh kode, dan model pra-bangun.
Konsepnya sepenuhnya pada Deep Learning mandiri bermodal sebuah kamera SageMaker dalam berbagai mendeteksi objek dan aktivitas. Nantinya kamera Sagemaker akan terhubung pada perangkat komputer Anda dan akan melakukan proses screening mulai dari objek, makanan, hewan peliharaan, deteksi wajah dan kepala hingga pengembangan proyek komunitas.

Buat yang masih bingung, contoh sederhananya adalah berikut, katakan saja Anda punya hewan peliharaan seperti kucing. Aktivitasnya memang sulit ditebak apalagi saat di luar rumah, ia bisa keluar masuk jendela rumah. Untuk itu, DeepLens bisa mendeteksi wajah dan tentu saja aktivitasnya, salah satunya akses masuk dari jendela yang bekerja secara IoT.
Bila saja kucing atau hewan lain mencoba masuk, akan terhalang atau terkunci. Ini membuat pemilik rumah jadi aman. Lalu aktivitas kucing bisa terekam dan akan masuk ke dalam aplikasi AWS DeepLens. Menariknya lagi ini bisa membaca aktivitas unik hewan peliharaan Anda dan buat aman saat sedang bepergian keluar rumah.

Dan teknologi terakhir yang dikembangkan ialah AWS DeepComposer, alat ini berupa serupa dengan keyboard musikal pada umumnya, hanya saja ada sentuhan AI di dalamnya. Nantinya proses belajar yang melibatkan Machine Learning dalam menggabungkan skill kemampuan pengguna dengan keyboard kemudian hasilnya akan terkoreksi pada aplikasi Amazon.
Genre musiknya pun beragam sesuai selera pengguna, mulai dari Pop, Rock, Jazz, akustik, dan tentu saja EDM bisa. Prosesnya adalah dengan memainkan tuts pada keyboard, kemudian nada-nada tersebut akan tersimpan pada cloud Amazon. Machine Learning pun bisa mengubah nada tersebut dalam bentuk synth, bass, drum, atau gitar sesuai keinginan pengguna.
Baca juga: AI dan Gebrakan Besarnya di DuniaMusik

Bahkan para musisi bisa membuat kombinasi berbagai genre hanya dengan model tersebut. Machine Learning akan menyesuaikan pada keinginan sang musisi sesuai dengan selera. Satu hal lagi yang menurut saya cukup istimewa adalah semua orang akan menjadi diskriminator (pembeda) sedangkan AI jadi generator (pengubah) musik sesuai selera kita.

Sudah begitu banyak kolaborasi manusia dengan AI yang sebelumnya mengandalkan aplikasi khusus, hanya saja Amazon lahir dengan menggabungkan perangkat fisik (Keyboard) dengan cloud computing milik mereka. Pengguna bisa mengubah dan menyesuaikan musik sesuai dengan seleranya tanpa harus repot lagi memproduksi musik, sekaligus bisa bertambah produktif.

Itulah sejumlah yang inovasi yang Amazon lahirkan, akan lahir beragam pengembangan teknologi dan inovasi yang mereka berikan. Bahkan Jeff Bezos sering berkata pada direksi dan karyawannya, setiap 30 tahun usia perusahaan sangat berpeluang bangkrut. Apalagi kini usia Amazon hampir genap 26 tahun dan hanya punya waktu 4 tahun lagi. 

Cara bertahan di era modern ialah terus mempelajari keinginan pelanggan, salah satunyad dengan terus berinovasi dan tentu saja memuaskan pelanggan, sekaligus memperpanjang kejayaan sebuah perusahaan. Angka 30 tahun kejayaan setelah sebuah perusahaan itu hanya mitos dan Amazon berpeluang mematahkannya. 

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi dan akhir kata Have a Nice Days.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer