Jumat, 11 Maret 2016

Warkop dan Waktu Yang Terbuang

Warkop dan Waktu yang terbuang

Pagi ngopi, siang ngopi, beranjak sore ngopi lagi dan malam kembali ngopi. Budaya kece yang tidak bisa dipisahkan dari rakyat Aceh khususnya kaum Adam. Kebiasaan ngumpul bareng sembari mencicipi kopi serta aneka kudapan khas Aceh seperti Timphan, Asoe kaya, dan roti Samahani. Kopi Aceh terkenal dengan kenikmatan dan kekentalan yang ngga ada lawannya. Dibuat oleh barista handal dalam menyeduh dan menyaring kopi dan memindahkan ke gelas-gelas untuk segera diantarkan kepada pelanggan yang telah menunggu untuk segera dicicipi.

Kini di warkop mau pesan apa saja ada dengan cuman modal kopi segelas langsung bisa searching, browsing, dan download yang kamu mau berkat wi-fi masuk ke warkop-warkop. Dulu saat penulis masih seorang bocah ingusan dan kebetulan ayah penulis doyan banget ngopi. Bisa-bisa sehari tidak ngopi langsung ngga enak badan dan terasa kurang darah, seperti ada yang kurang. 

Penulis langsung dibawa ke warkop buat ngopi, siapa sih yang ngga senang apalagi bisa minum kopi dan makan kue khas Aceh sepuasnya ditemani koran olahraga sambil santai-santai goyangin kaki di atas kursi malas. Warkop dulu yang kesannya ngga ada dinding sehingga angin sepoi-sepoi yang adem di tengah cuaca yang panas terik di luar. #OhNikmatnya

Baca juga: Rakyat Aceh Berjiwa Raja

Perkembangan usaha bisnis warkop cukup pesat dan menjamur terutama di kota kelahiran penulis sulit dibendung. Dalam satu sisi Kota Banda Aceh yang sangat bergantung akan kemajuan ekonomi dari sentral jasa dan bisnis. Ini disadari banyaknya nilai bisnis yang tersaji dari bidang tersebut serta budaya Jiep Kupi (Ngopi) yang berakar oleh masyarakat Banda Aceh khususnya kaum adam.

Nah, kini penulis mau mengklarifikasikan perbedaan kontras antara genre warkop dulu vs sekarang, yaitu:

Warkop  Dulu
Warkop dulu umumnya dipenuhi orang tua yang setia dari pagi, jelang siang, jelang sore dan setelah isya mejeng di warkop yang sama. Bila dari teman-teman orang tua yang doyan ngopi ngga nonggol pasti ditanyain oleh komunitas duduk ngopi. Materi yang dibahas ngga jauh-jauh dari curhatan akan problematika hidup sehari-hari, mengkritisi pemerintah yang ngga pro terhadap rakyat hingga bini yang marah-marah melulu akibat kebanyakan nuntun. Nah warkop dulu punya andalan yang sudah jarang ditemukan di warkop modern yaitu “kursi malas dan koran berita lokal dan nasional update untuk hari itu”. Di jamin bikin lupa waktu, karena nilai seni tersendiri membolak-balik koran beda kesannya dengan melihat berita via gadget.

kursi malas

Warkop dulu punya andalan yang ngga kalah seru dari TV LCD dan Wi-fi, apakah itu?

Pasti di meja tersedia catur yang sebenarnya menyita banyak waktu serta menguras pikiran apalagi bila lawan tandingnya sebanding. Kan laki tanding bila lawannya sebanding!!! Pengunjung yang datang umumnya langganan setiap hari yang sudah begitu lama eksis di warkop itu, bila ada pengunjung lain yang datang pasti jumlahnya jarang dan cuman mampir sebentar bukan untuk tanding catur.
 
Jadi pengen ikutan tanding bareng
Warkop Kini
Hampir semua warkop punya akses wifi ngebut yang buat pelanggan lupa diri, tontonan keren yang tersedia ngga mengenal waktu semuanya seru dan up to date. Apakah itu di pagi hari, siang, dan malam hari tersaji melalui TV LCD di setiap sudut atau melalui layar tancap bila ada pertandingan bola seru yang ditayangkan baik akhir pekan, tengah pekan hingga highlight pertandingan.

Konsumen yang datang ngga hanya dari pengunjung setia tapi yang kebetulan lewat, sudah merasa nyaman serta pelanggan setia harian. Jumlah pengunjung yang heterogen ini yang buat suasana warkop lebih berwarna. Bisa jadi tempat yang mengadakan rapat, buat tugas buat anak kuliahan hingga ngecas gadget gratis tanpa dikenai biaya. Selain itu, dengan berkembangnya warkop berkonsep modern mampu menyerap tenaga kerja di tengah sulitnya mencari pekerjaan kini dari karyawan warkop, tukang parkir, pedagang asongan di dekat lokasi usaha warkop, SPG rokok hingga peminta sedekah.

Well...!!! Jadi bagusan warkop bergaya klasik tempo dulu atau bergaya modern kini?
Ini adalah penilaian relatif dan masing-masing punya konsumen yang butuh suasana dan kepentingan berbeda.

Muncul pertanyaan saat ini yang mana siapa banyak menyita waktu, apakah warkop konsep dahulu atau modern?
Sebenarnya sih jawabannya tergantung, tempat nongkrong apapun kalo udah bawaannya asik dan nyaman hingga lupa waktu serta lupa pulang ke rumah. Bedanya warkop tempo dulu ngga buka terlalu larut malam dan saat listrik padam di malam hari langsung segera tutup. Beda dengan warkop kini yang banyak buka 24 jam dan saat listrik padam bisa diakali dengan penerangan Genset.

Well.... problem yang terlalu bahaya dari menjamurnya warkop di Aceh khususnya di Banda Aceh menurut penulis, membuat efisiensi waktu berkurang akibat kebanyakan jiep kupi dan buat kantong jebol. Kebayang ngga bila paginya ngopi warkop dekat rumah, jelang siang ngopi lagi di kantin, jelang sore di warkop dan malam juga demikian. Jadi waktu belajar, kerja,  family time, dan kegiatan lain kapan? Masak asik ngopi melulu??

Ngga salah sih ngopi, selain menghilangkan penat setelah lelah beraktivitas dengan rehat sejenak dan bertemu dengan teman sejawat. Akan tetapi waktunya bisa sedikit dikurangi atau mempercepat ngopi. Kasihankan waktu produktif hilang di warkop dan berlanjut terus-terusan.

Anak-anak sekolah pun sudah ikut-ikutan ke warkop buat main game sepulang sekolahan bermodal gadget, pesan minuman, login wi-fi dan internetan sepuasnya. Dibandingkan harus ke warnet yang harus antri dan biayanya membengkak bila main kelamaan. Anak-anak tumbuh kembangnya ada baiknya diberi stimulus pentingnya belajar, bersosialisasi dengan lingkunganya. Bukan nongkrong dengan sebuah gadget sambil main game tanpa kontrol orang tua hingga lupa waktu setelah pulang sekolah.

Warkop jadi tempat penuh akan asap rokok dan jadi tempat ngga ramah buat paru-paru non-perokok. Pengalaman penulis yang ngga merokok merasakan dampak pulang dari warkop paru-paru terasa sesak apalagi bila warkop yang penulis kunjungi memiliki sirkulasi udaranya buruk. Pilihan terbaik ialah duduk di teras depan warkop sehingga sedikit terhindar dari menghirup asap rokok yang terbawa angin.
 
Larangan merokok di tempat umum salah satunya seperti di warkop sulit digubris oleh para pengunjung yang perokok. Kebayang ngga karena ada satu pengunjung yang merokok terus asapnya berputar-putar di warkop akibat sirkulasi yang buruk dan semua yang lagi ngopi pun menghirup asap rokok.  Petisi ngga merokok di ruang publik salah satunya kebijakan palingsulit diterapkan mengingat tinggi angka perokok kini dan rendahnya kesadaran.

Andai pemilik usaha warkop mau membatasi atau menyediakan ruangan khusus yang diperuntukkan buat pengunjung perokok. Anggapan orang awam bahwa ngopi sambil ngerokok itu jleb banget adalah salah besar. Andai waktu yang terbuang cukup banyak karena intensitas ngopi serta merokok dilakukan bersamaan, berarti kita rugi dua kali. Bener ngga?

Mengurangi ngopi dan nongkrong penulis rasa tidak menghilangkan budaya ngopi masyarakat Aceh yang telah mengakar kuat. Apalagi bila membatasi merokok di warkop untuk kebaikan pelanggan lainya. Ngopi jadi nikmat dan ngga ada lagi yang pulang warkop dadanya sesak serta banyak waktu lain bisa dimanfaatkan bukan cuman goyang-goyang kaki warkop untuk hal lebih berguna.

*Penulis mendapatkan inspirasi tulisan ini di warkop sambil memakai wi-fi warkop, berarti warkop manfaatnya sangat banyak*
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis