Monday, March 21, 2016

Rakyat Aceh Berjiwa Raja


Melihat sejarah Aceh yang begitu panjang dan kaya akan nilai historis terutama sifat dan perilaku masyarakatnya membuat penulis berpikir sambil bertanya-tanya, orang Aceh agak beda yah dari kebanyakan masyarakat Indonesia?
Penulis sendiri merenungkan sambil meng-IYA-kan perbedaan orang Aceh yang ngga lazim dari masyarakat Indonesia lainnya. Bukan karena Aceh berada di ujung Pulau Sumatera, konflik berkepanjangan, tsunami dan juga penerapan syariat islam. Hal yang tadi sudah terlalu mainstream dan banyak orang ketahui, penulis mau sedikit perbedaan bahwa sifat rakyat Aceh umumnya masih kental unsur bangsawan dan tokoh agama.
 
Nah perbedaan apakah yang melatarbelakangi segala perbedaan sehingga rakyat Aceh umumnya punya sifat dan kepribadaan raja (bangsawan) dan tokoh agama, cekidot:

1.      Makan Pagi Komplet
Kebiasaan tak lazim pertama ialah makan pagi yang begitu lengkap beserta lauk pauk. Makanan pokok rakyat Aceh yang sama dengan masyarakat Indonesia lainnya yaitu beras, hanya saja rakyat Aceh makan nasi lebih dari 2 kali sehari yakni 3 kali sehari: Pagi hari, siang hari, dan malam hari. Itu pun belum termasuk dengan makanan pembuka lain yang umumnya disajikan sebelum makan pagi.

Menu pagi yang sangat komplet dan berat dengan makan siang dan malam hari, lauk pauk pendamping tidak hanya tahu dan tempe, melainkan daging, ikan ataupun ayam. Pengaruh makanan Aceh yang punya cita rasa bumbu yang kuat serta pedas membuat perut semakin nafsu melahap makanan yang ada di depan.

Kebiasaan unik ini yang membuat rakyat Aceh dirasa sedikit aneh apalagi bagi mahasiswa aceh yang merantau jauh dari kampung halaman akan merasakan dampak “tidak makan nasi komplet” di pagi hari. Bila daerah di Indonesia lain, makan pagi hanya sekedar roti, bubur ayam, nasi kucing (nasi porsi kecil), lontong dan di temani oleh minuman yang buat kamu semangat seharian.

Kebiasaan makan pagi komplet jadi cerminan spesial layaknya raja, itulah kenapa banyak rakyat Aceh merasa ada yang kurang dan ngga enak perut kalau ngga makan nasi pagi walaupun sudah disuguhkan berbagai macam makanan yang mengenyangkan perut.

2.      Suka Ditunggu
Sifat raja yang kuat melekat di rakyat Aceh ialah suka ditunggu dibandingkan harus menunggu. Kejadian seperti itu sering sekali penulis perhatikan dalam hal angkutan umum yang beroperasi di daerah. Selain menyediakan jasa antar jemput untuk ukuran minibus/sejenisnya, untuk angkutan umumnya yang melayani penumpang keluar kota pun selalu setia menunggu penumpangnya yang telat tiba ke terminal hingga dibela-belain buat ditelepon dan di sms-in oleh kernet atau supirnya sendirinya.

Pengalaman ini pernah berapa kali penulis alami saat hendak keluar kota dan akibat kebiasaan ngaret ditambah macet penulis telat tiba 30 menit ke terminal. Apa daya bila telat, tapi bus antar kota rela menunggu hanya untuk menunggu lama seorang penumpang yang teledor seperti penulis.

Bila anda berada di luar Aceh, antar siap-siap ditinggal bus yang on-time saat waktu keberangkatan tiba. Kayak pepatah kocak:
Rasain sopir bus gue tipu, sudah gue bayar tapi ngga gue naikin
Kebiasaan suka ditunggu juga terjadi pada angkutan umum yang beroperasi salah satunya labi-labi. Kendaraan umum yang sarat kenangan yang hanya ada di Aceh khususnya Banda Aceh kini jumlahnya semakin berkurang akibatnya mulai banyaknya kendaraan pribadi. Labi-labi mematok trayek yang dilalui beragam, bila harga dekat Rp 2.000 dan jauh Rp 5.000. Menurunnya jumlah penumpang yang dulunya kebanyakan berasal dari mahasiswa walaupun banyak trayek lain yang penumpangnya berasal dari luar/dalam kota Banda Aceh.

Para sopir labi-labi dengan rela menunggu penumpang yang lewat walaupun penumpang yang ditunggu belum tentu naik dan sesuai dengan trayek yang dilalui. Ini jadi sesuatu yang ngga mengenakan bagi penumpang yang sudah naik duluan dalam labi-labi dan harus menunggu lama untuk mencari penumpang. Walaupun begitu sifat ditunggu identik dengan rakyat Aceh, sebaiknya saat pergi keluar daerah ada baiknya sifat ditunggu diganti dengan duluan menunggu.

3.      Suka Ngaret
Sifat raja lain yang dimiliki raja adalah sering datang belakangan atau yang lebih afdal disebut ngaret (telat). Acara atau janji yang sudah ditetapkan misalnya pukul 14:00 WIB, akan tetapi satu jam kemudian barulah terlihat batang hidungnya.

Kebiasaan ngaret sudah menjadi budaya masyarakat kita yang tidak baik tapi semakin dilestarikan bersama banyaknya variasi alasan yang bisa dipakai. Dari: OTW, macet dan baru ingat ternyata ada janji atau acara jam segitu. Rendahnya menghargai waktu membuat kita akan diacuhkan oleh waktu pula dan banyak acara yang dilangsungkan molor atau ada janji yang melesat dari yang sudah dijanjikan.

Ngga cuma masyarakat Aceh saja yang ngaret tapi sudah menjadi rahasia umum masyarakat Indonesia doyan ngaret. Ada yang mengaitkan ngaret itu dipengaruhi minimnya menghargai waktu serta pengaruh iklim, negara tropis lebih doyan tidak tepat waktu (ngaret) dibandingkan dengan negara subtropis walaupun tidak bisa mengacu sepenuhnya pada iklim.

Pepatah: Raja tidak pernah telat hanya saja rakyat jelata dari terlalu cepat, harus segera dihilangkan dalam jiwa masyarakat Indonesia dan Aceh khususnya, daripada membuat orang yang telah membuat janji dan acara dengan kita merasa tidak dihargai serasa rakyat jelata. Ngga ada salahnya raja datang duluan agar rakyat antusias dan merasa dihargai. Bukan begitu?

4.      Gampang Marah Dan Ngga Mau Ngalah
Marah dan gampang tersinggung sifat yang ngga baik dan dimiliki oleh masyarakat Aceh. Kalau dirunut lebih jauh, sifat marah datangnya dari perilaku dan kepribadian masing-masing. Namun sifat rakyat Aceh yang gampang marah untuk hal-hal kecil sudah jadi sesuatu yang lumrah.

Selain itu sifat ngga mau mengalah dalam berdebat juga penulis singgung walaupun hal yang diperdebatkan hanya hal kecil dan hanya buang-buang waktu. Mengatakan sesuatu hal yang berlebihan tapi ngga bisa dipertanggung jawabkan adalah salah satu sifat orang Aceh.

Banyak teman penulis kenal yang punya sifat menantang dan mengatakan sesuatu yang berlebihan pada hal yang belum terjadi, sehingga bisa menumbuhkan rasa dendam yang tidak perlu. Berdebat dan saling tukar pendapat bisa dilakukan santun dan mengalah bukan berarti kalah tapi menghormati lawan. Sifat keras dan pemarah itu berbeda karena sifat keras rakyat Aceh dibutuhkan saat menentang hal yang bertentangan dengan adat dan agama.

5.      Kesukuan Tinggi
Rakyat Aceh dan mungkin beberapa suku dan daerah di Indonesia punya rasa kesukuan yang begitu tinggi, disebut dengan Primordialisme. Rasa kesukuan yang tinggi secara pandangan positif sangat menguntungkan suku kita sendiri seperti menjunjung tinggi bahasa lokal, adat, budaya, makanan dan juga keindahan alam yang wilayah kita miliki. Saat kita pergi ke tempat yang jauh dari daerah kita, masih tetap menjunjung apa yang suku/daerah kita miliki dalam bentuk rindu serta semakin cinta.

Sisi negatif dari sifat primordialisme adalah meremehkan atau mengecilkan suku/daerah lain yang menurut hemat penulis sedikit kurang dari suku kita. Apakah itu dari bahasa, budaya, adat, cita rasa masakan dan yang paling krusial keindahan alam. Segala kekurangan yang dimiliki oleh suku/daerah lain bisa kita syukuri dan sebagai pembelajaran agar tetap konsisten supaya tidak dikejar oleh dari suku/daerah yang dulunya kita anggap sebelah mata.

6.      Gengsi Tinggi
Iklan kendaraan dan gadget yang baru saja berseliweran di televisi, tak lama berselang langsung dimiliki oleh masyarakat Aceh. Langsung saja dipamerkan untuk menaikan taraf gengsi dan budaya konsumtif. Jarang sekali kita menemukan kendaraan terutama sepeda motor berusia di atas 5 tahun berseliweran di jalan raya. Namun kini pun kendaraan roda 4 pun ngga mau kalah yang masih berplat “putih” (baru) memenuhi jalan raya untuk menambah panjang daftar macet mengantre di jalan raya.

Tingkat gengsi yang tinggi pun merambah pada rendahnya minat rakyat Aceh yang hidup di perkotaan untuk naik angkutan umum ke sekolah, kampus, dan tempat kerja. Walaupun masih kurang sarana publik yang mendukung berupa pengadaan angkutan umum yang murah, aman, dan tidak ugal-ugalan. Apabila tersedia, penulis pun ngga menjamin masyarakat mau naik kendaraan umum dan menanggalkan kendaraan pribadi yang sarat akan gengsi.
Aduh naik angkutan umum repot dan harus tunggu lebih lama, ditambah lagi harus satu kendaraan dengan yang bau ketek dan keringatan
Beralih gengsi selanjutnya jumlah mahar yang dibayarkan buat para lelaki yang ingin meminang pujaan hatinya yakni Gadis Aceh yang terkenal akan kecantikan dan kesopanan membuat lelaki mana mau menolak untuk melamar. Tapi tunggu dulu, sejarah Aceh kental dengan peradaban dan percampuran ras dari berbagai bangsa seperti Arab, China, Eropa, dan Hindia sehingga menjadi istilah Aceh.

Pengaruh jiwa kebangsawanan yang besar berbanding lurus dengan gengsi yang ngga kalah besar. Mahar yang dipatok juga tergolong besar, apalagi para lelaki yang melamar umumnya baru memiliki modal hidup mandiri serba pas-pasan.
Untuk biaya pernikahan terdiri dari sepasang cincin kawin, seserahan tunangan dan pernikahan, mahar yang disetujui, uang hangus, uang kamar, dan yang terakhir adalah biaya resepsi. Haduh tekor!!

Lelaki yang melamar pun ngga mau gengsinya turun di mata calon mertua, sebagai buktinya nilai mahar yang tinggi dipatok oleh mertua langsung di-IYA-kan walaupun harus pinjam sana-sini. Tujuannya ngga lain adalah “gengsi”
"Di waktu tertentu gengsi harus dibuang jauh-jauh dan mementingkan realita karena ke depan banyak yang harus dihadapi dan kamu ngga pernah tau"

Hal itu juga tertanam erat oleh para lulusan sarjana muda yang banyak memilih pekerjaan yang sifatnya kerja santai, aman dari pemecatan, karier berjenjang, ada tunjangan, dan biaya pensiun. Pekerjaan itu ngga lain dan bukan adalah PNS (Pegawai Negeri Sipil). Saat PNS tidak dibuka, banyak sarjana muda tadi yang kelabakan dan menganggap pekerjaan lain terlalu berisiko.

Tuntutan yang begitu besar pun juga pengaruh kenapa banyak anak muda terutama kaum lelaki memilih jadi PNS, selain terbatasnya perusahaan besar di Aceh, sulitnya mencari modal usaha dan yang paling krusial adalah orang tua gadis yang dilamar paling gampang menerima calon menantunya yang PNS. Pekerjaan lain yang punya gaji lebih besar kadang sering diabaikan oleh calon mertua dan ngga mau anaknya kesusahan dan kelaparan kelak bila dipecat atau usahanya bangkrut. Sterotif itu hingga kini masih dipegang oleh tetua terdahulu. *Sedih dan Cemas*

7.      Gaya Hidup Mahal
Aceh merupakan provinsi paling ujung Indonesia adalah wilayah yang punya inflasi perekonomian cukup tinggi sama halnya dengan Papua. Selain itu biaya hidup yang begitu tinggi terutama yang berdomisili di Banda Aceh.  Tingginya permintaan pasar serta ditambah dengan sedikitnya barang yang tersedia memperparah inflasi.

Gaya hidup yang tinggi adalah ciri khas raja walaupun tidak semua rakyat Aceh kaya dan hidup berkecukupan, tapi akibat gaya hidup mahal membuat penghasilan rakyat Aceh banyak dihabiskan hanya untuk kebutuhan konsumsi daripada buat nabung.

Sisi positif tinggi biaya hidup di Aceh buat rakyat Aceh yang pergi merantau keluar Aceh terutama ke Pulau Jawa adalah tidak terkejut dengan makanan yang hal karena di Aceh biaya hidup cukup tinggi bila dirata-ratakan dengan biaya hidup di Pulau Jawa dan uang hasil kiriman terutama buat mahasiswa cukup untuk nabung dan jalan-jalan. Lumayan kan!!!!

Share:

2 comments:

  1. Jika sdh mencintai, pria aceh posesif dan agak sensitif. Sulit mengakui kesalahan, ttp sgt perhatian sampai hal detail

    ReplyDelete
  2. Enggak komitment, Mudian (mut mut an), tdk menepati janji, tdk bisa dipercaya, males, bekerja semaunya.

    ReplyDelete

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer