Sabtu, 06 Agustus 2016

Waspada, Jangan Termakan Berita Hoax


Menurut penelitian, hal yang pertama sekali yang dilakukan oleh anak muda saat bangun pagi adalah menge-check ponselnya dan melihat berapa banyak notifikasi yang masuk.

Zaman sekarang begitu gampang mendapatkan berita, cukup tinggal akses media online ternama dari gadget masing-masing, sosial media, hingga channel TV. Dalam sekejab, semua berita yang diinginkan hadir dalam genggaman. Mencolok banget dibandingkan zaman dulu, berhubung ngga lama lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan RI. Gue mau kita bernostalgia tentang masa itu.

Dahulu saat Indonesia baru berhasil memproklamirkan kemerdekaan, media seperti surat kabar dan radio masih berada di bawah kendali penjajah Jepang. Para pejuang mengakali dengan membuat pemancar radio, surat kabar tandingan serta menyebarkan melalui selebaran. Capek ya, itulah niat tulus pejuang kita terdahulu lakukan sehingga kini kita bisa goyang-goyang kaki sambil minum kopi tanpa harus jadi member Romusha.
Andai sosial media sudah ada kala itu, langsung deh komandan nanya begini kepada follower selaku pasukannya:

Lapor komandan!!! Menurut informasi yang beredar, para penjajah mulai mendekati markas. Oke, Segera Sebarkan!!! Jangan berhenti di kamu!

Yang siap ikutan menyerang penjajah RT dan yang nyalinya dan anu-nya kecil klik Like.

Biar gampang dicari tinggal bikin hastag #PejuangSejati #RelaMati #BambuRuncing

Karena akun komandannya ngga diproteksi, musuh ikutan stalking. Tak mau terkecoh, musuh melakukan taktik balas yakni dengan mengirim pasukan anak-anak alay joget di TV buat menyerang markas. #MisiBocor

Well... sekedar intermezzo, kembali judul pembahasan kita tentang berita hoax. Media yang semakin hari semakin gampang diakses. Ini dijadikan celah bagi orang-orang yang ngga bertanggung jawab untuk menyebarkan berita hoax yang sangat meresahkan masyarakat.

Sering kita dibuat kesal apalagi saat buka sosial media, banyak menyebarkan informasi hoax dari kelompok ataupun teman sendiri lalu menyebarkan kembali secara berantai (read: broadcast), nyeselin bukan. Setelah di check malah ngga benar lagi menyesatkan.

Sebelum sosial messager berkembang pesat, SMS jadi salah satu cara target melakukan penyebaran berita hoax salah satunya kisah dajjal yang ngga masuk akal:
Terdengar suara auman keras dajjal (memang dajjal udah jadi Singa Paddle Pop) yang menggema di mana-mana. Segera selamatkan diri anda, sanak keluarga dan teman anda dari fitnah keji dajjal. Sebarkan berita ini kepada teman-teman di kontak anda agar mereka selamat, jangan berhenti di anda.
Andai teman yang menerima SMS ngga punya pulsa buat ngirim lagi sms ke orang lain gimana? Jadi dia kena fitnah dajjal, duh teganya.

Ngga cuma berita hoax yang disebarkan tapi kadang banyak oknum yang memanfaatkannya buat modus penipuan, misalnya gini:

Modus Mama minta cucu pulsa saat disandera sindikat kartel obat bius internasional:
Ini mama lagi disandera sindikat kartel obat bius di wilayah Medellin, Kolumbia. Tolong kirim pulsa 50 rb segera. Jangan telepon/sms dulu. Nanti mama yang telepon balik, penting.
Contoh SMS ngehe seperti ini bukan hal yang asing banyak pihak yang dirugikan baik secara kepercayaan serta materi andai benar-benar jadi korban penipuan.

Lalu sejak SMS mulai turun pamornya, banyak yang beralih menyebarkan berita melalui sosial messager melalui broadcast. Selain lebih gampang tak perlu modal pulsa atau SMS sisa gratisan. Cukup modal nyari Wi-fi gratis, apalagi semakin banyak grup chat akan makin mudah menyebarkan berita hoax. Awas termakan berita hoax.....
Itulah kenapa broadcast kini jadi sesuatu yang ngga tulus, ngga mau ribet dan ngga sopan. Tanpa salam, datangnya tiba-tiba, dan kadang saat dibaca terlalu panjang mirip kayak pengantar obat tidur
Baru-baru ini gue dapat broadcast dari teman tentang pendaftaran sebagai peserta uji nyali dan hadiahnya lumayan gede. Di utamakan yang hafal surat kursi, bisa akting kesurupan dan jago menjerit. Gue menyanggupi dengan latihan kesurupan, Ternyata berita hoax-nya, pffft... gue ketipu.

Dan yang paling ngehe adalah yang ini, siapa sih yang menyebarkan hingga kita jadi bener-bener bego dan ikutan percaya. Bisa jadi karena yang mandi adalah kumpulan cewek-cewek manis di sungai. Mungkin daerah itu aliran PDAM belum masuk.
 
Jelas Pembodohan publik
Klik tombol 1 agar air sungainya bisa surut. Di mana hubungannya, sungguh benar-benar pembodohan publik. Tapi gue percaya karena bikin deg-degan dan ikutan menekan tombol 1. Berarti gue termasuk korban gambar hoax...

Nah sebagai pengalaman yang gue alamin, bisa teman-teman pembelajaran dan bisa memilah-milah mana yang layak dicerna dan mana yang layak diacuhkan. Sebenarnya guys, ngga sulit membedakan antara berita hoax dan berita realita. Yang sulit itu membedakan cinta yang tulus sama sebatas PHP, hehe.. maaf yang lagi baper. Baiklah apa sajakah itu, cekidot:

Pertama, Tanyakan langsung kepada pihak yang bersangkutan apakah itu perorangan atau kelompok. Melalui media sosialnya, media resmi hingga yang paling tepat kepada yang bersangkutan langsung. Jangan langsung termakan pemberitaan yang simpang siur, banyak oknum tak bertanggung jawab yang ingin tenar dari berita yang ia buat. Hanya ingin beritanya banyak dibaca, dapat duit, dan penyebarnya jadi tenar.

Kedua, penyebar berita hoax memulainya melalui broadcast, blog pribadi yang masih diragukan keabsahannya, dan forum bebas yang tak kompeten. Banyak pihak yang melakukan hal tersebut karena melalui media tersebut mereka ngga mengeluarkan biaya. Apalagi media ternama tak mau namanya tercoret oleh para pembaca karena mendapatkan informasi dari spekulasi yang ngga masuk akal untuk dicerna.

Ketiga, liat sumber beritanya apakah berita itu ada mencantumkan sumber yang jelas dan kompeten. Bisa dari nama penulisnya yang menjadi acuan merujuk bila berita yang disebarkan menjadi keraguan publik. Publik bisa mengkritisi sang penulis andai tulisan tersebut tak benar.

Keempat, menggunakan kata-kata ilmiah namun sebenarnya ngga ilmiah dan diragukan kebenarannya. Merujuk dari ilmuwan fiktif dan informasi dengan melabeli dari kampus ternama di dunia. Siapa sih yang ngga tertarik dari informasi dari ilmuwan dan kampus ternama namun ternyata beritanya hoax.

Ada baiknya check lebih lanjut, apalagi berupa jurnal ilmiah. Kini berita hoax yang menerjemahkan jurnal dan temuan dari ilmuwan terkemuka serba tanggung dan ngga nyambung. Lebih baik kita baca langsung dari sumbernya. Google pun sangat canggih dengan melengkapi berbagai ftur keren yang memudahkan dan keabsahannya terjamin seperti fitur scholar.google.com dan books.google.com

Kelima, Memakai istilah asing untuk menjebak pembaca karena istilah asing terlihat keren dan mudah dipercaya. Malahan artinya ngawur dan tak ada hubungan dengan berita yang disebarkan. Lebih baik check dengan teman-teman yang lebih memahami istilah tersebut sebelum menyebarkannya kembali.

Keenam, memakai bahasa terkesan orang yang menerimanya menjadi paranoid (read: ketakutan berlebih). Seperti yang gue jelasin di atas panjang lebar, kalimatnya pasti mengandung kata-kata nan kampret seperti ini:
Sebarkan jangan berhenti di kamu, ini semua untuk kebaikan umat kita. Duh ileh...!!!

Alur penyebar berita hoax:

Iseng ngga ada kerjaan > buat berita hoax > masyarakat percaya > masyarakat ikutan menyebarkan > si penyebar terkenal dan jadi artis

Dengan tingginya tingkat pengangguran yang memenuhi warung kopi, sambil bengong ngga ada kerjaan. Lagi ada pulsa lebih atau ada terkoneksi dengan jaringan Wi-fi gratis. Kesempatan mengarang berita hoax sekalian biar ada kerjaan.

Melihat keadaan masyarakat saat ini gampang susah dan gundah apalagi begitu banyak isu yang bisa dikembangkan jadi kesempatan oleh para pengangguran dan orang iseng. Apalagi di akhir zaman kini isu kiamat sudah dekat jadi isu yang sering diangkat.

Kemunculan Dajjal, Turunnya Nabi Isa, Matahari akan keluar dari sebelah barat, dan Touring bareng Yajuj dan Majuj.

Tak hanya menyebarkan berita hoax, tapi berupa informasi lamaran pekerjaan atau mau duit cepat. Saat dicheck ternyata modus penipuan untuk mencari mangsa. Kebayang ngga gimana perasaan orang yang ketipu. Sudah lelah mendapatkan informasi, mempersiapkan segala syarat, ternyata malah permainan dari pihak-pihak iseng. Ini harus di tindak tegas.

Harusnya yang bikin berita hoax dapat ganjarannya gini:

Isengan ngga ada kerjaan > bikin berita hoax > masyarakat skeptis > masyarakat mengadukan ke pihak berwajib > si penyebar masuk bui

Malah sebagai sanksi tegas, pemerintah melalui Kementrian Komunikasi dan Informatika melalui UU ITE (Informasi Teknologi Elektronik) pada pasal 28 menegaskan:

1)   Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian kepada konsumen dalam transaksi elektronik.

2)  Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golong (SARA).

Hayoo.... andai terbukti itu berita hoax yang tersebar sangat meresahkan orang lain. Siap-siap saja pelaku harus mendekam di balik jeruji besi dengan hukuman maksimal yakni 6 tahun dan denda maksimal adalah 1 Miliar. Serem juga ya, niat iseng-iseng ngerjain temen atau orang lain. Pihak yang menerima merasa dirugikan ngga terima dan melaporkan ke pihak berwajib, malamnya pelaku harus tidur di dinginnya lantai penjara.

Makanya ada baiknya pikir-pikir dulu sebelum menyebarkan informasi ke orang lain, karena informasi yang gampang didapatkan kini membuat kita harus makin jeli menyaring mana yang layak dibagikan dan mana yang layak dibuang.

So... pengalaman apa saja yang kamu rasakan saat mendapatkan berita hoax, cerita di bawah ini.

See You Agains, Guys....
Share:

2 komentar:

  1. Berita hoax tuh awalnya bikin terkejut, terus penasaran akhirnya dicheck sendiri. Ane pernah dapet berita hoax tentang lowongan kerja di taman safari gajinya 10juta/bulan tapi ngurus buaya. Dia nyertain link, dan persyaratan-persyaratan layaknya rekruitment. Akhirnya ane googling dan ternyata berita itu bohong. hahaha

    Artikelnya menarik gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untung aja hoax gan, kasihan bukan. Pas besoknya mau terima gaji perdana, hari ini malah tidur di dalam lambung buaya.

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis