Rabu, 22 Maret 2017

Janganlah Jadi Pengguna Sosial Media yang Kebablasan

pengguna sosial media kebablasan

Beberapa waktu yang lalu jagat sosial media dihebohkan dengan seseorang lelaki paruh baya harus mengakhiri hidupnya disiarkan langsung via sosial media. Sontak membuat heboh atas perilaku korban. Fitur yang disematkan pada sosial media malah disalahgunakan oleh penggunanya dalam mengakhiri hidup.
Hal yang lebih menyesekkan lagi tak ada yang peduli sebelum korban merenggang nyawa. Ada beberapa kemungkinan, apa karena korban siaran langsung saat orang lain sibuk dengan pekerjaan atau malah pengguna lainnya apatis sama sekali. Padahal rentan waktunya cukup panjang untuk temannya atau kolega bisa membujuk pelaku berubah pikiran tidak melakukan hal serupa. 

Kejadiannya sudah terjadi dan buat kita harus menyadari banyak pengguna yang kebablasan dalam menggunakan sosial media. Segala fitur yang setiap waktu selalu di upgrade oleh sejumlah sosial media kadang malah disalahgunakan penggunanya.

Sosial media seakan memberi sekat akan dunia nyata yang semakin menjauh. Banyak orang tak merasa diperhatikan atau malah menjauhkan dirinya dengan dunia nyata, ia kemudian menjadikan dunia maya sebagai dunianya sebenarnya.

Kurangnya perhatian dari orang sekitar  bisa dari teman dan keluarga jelas membuat sebahagian orang mencari dunia lain yang lebih diperhatikan. Salah satunya yang paling gampang saat ini adalah via sosial media.

Bukan hal yang aneh saat banyak orang yang curhat dan marah-marah tak jelas tujuannya mendapatkan empati atau perhatian dari orang lain. Kasus korban yang kehilangan nyawa dianggap oleh koleganya seperti hal yang sudah menjadi santapan setiap hari. Alhasil banyak yang apatis dan baru mengetahui setelah korban merenggang nyawa.

Terus buat yang biasa curhat atau marah-marah di sosial media sebaiknya pertimbangkan matang-matang. Pertama,, orang lain tak peduli dan kedua pelaku akan malu di kemudian hari. Aibnya ia sebarkan sendiri dan jelas jadi olok-olokan orang lain, menyesal bukan! 
Baca juga: Sosial Media Bukan Sekedar Media Curhat dan Pamer

Mulai dari curhat hingga pamer aurat, seakan semua terasa lengkap. Bagi sebahagian orang ia ingin eksis dan dianggap oleh pengguna sosial media lainnya. Akan tetapi itu malah termasuk aksi yang kebablasan.

Siklus yang bisa dilakukan pengguna sosial media yang kebablasan fasenya mulai dari: 
Merasa tak diperhatikan > Curhat di sosial media > Berharap orang lain peduli > Pura-pura terlihat tegar dan bijak sangat menghadapi > Repeat agains

Setelah ditelusuri lebih lanjut persoalan yang dihadapi hanya hal recehan tapi merasa dirinyalah yang dapat ujian serba berat. Sedangkan orang lain yang tak mengeluh salah satunya di sosial media punya ujian lebih berat, tetapi berhasil mengatasinya tanpa curhat tak jelas.

Selain itu curhat di sosial media membuat orang lain yang belum kenal dengan anda bisa berpikir buruk. Sekarang sosial media ibarat portofolio seseorang di dunia maya, orang yang baru mengenal anda di dunia maya akan lebih banyak menilai dari sosial media.

Bahkan perusahaan saat ini menilai aktivitas karyawan baru dari gelagatnya di dunia maya. Mereka tak mau menerima karyawan yang doyan ngedumel tak jelas, nanti saat diterima malah keluh-kesah perusahaan dibeberkan secara gamblang di sosial medianya. Nah.. yang sering kali ditolak asal melamar kerja bisa jadi itu penyebabnya.

Pemerintah pun tak mau ketinggalan, dengan pemberlakuan UU ITE terhadap pengguna sosial media yang membandel terutama jempolnya susah dikontrol. Mulai dari menyebarkan fitnah, berita hoax dan provokasi. Ganjarannya cukup membuat pelakunya jera, misalnya paginya melanggar UU ITE, malamnya harus tidur di dinginnya lantai penjara hanya karena jempolnya yang latah. Hati-hati yang guys!

Fitur-fitur sosial media selalu menambahkan yang terbaru bisa dimanfaatkan buat hal berfaedah misalnya menyebar hal tak berguna seperti video orang lain musibah dan jadi tontonan massal. 
Baca juga: Media Rela Viral dari Pemberitaan Buruk Orang Lain

Pelaku kadang menganggap sebuah apresiasi andai berhasil memposting foto atau video dari musibah orang lain. Padahal ia seakan mengabaikan perasaan korban atau bahkan keluarganya hanya dianggap orang yang menviralkan musibah orang lain.

Penyebar berita hoax juga termasuk pengguna sosial media yang kebablasan terutama dalam menyerap informasi yang didapat. Banyak pengguna sosial media merasa bangga bisa menyebarkan ke orang lain paling cepat. Kadang ia lupa menganalisis berita tersebut benar atau hoax, akibatnya begitu banyak yang termakan berita hoax. 
Baca juga: Waspada, Jangan Sampai Termakan Berita Hoax

Hampir sama kasusnya dengan menviralkan berita, pelaku penebar berita hoax ingin mendapatkan popularitas dan juga mengalihkan isu yang berkembang saat ini. Ini jelas merugikan masyarakat dan bahkan mencuci otak.

Terakhir terlalu aktif di sosial media juga punya kesan tak baik, kecuali anda memang bekerja di bidang tersebut. Setiap saat update status, update stories, hingga swafotonya hingga memenuhi timeline. Orang lain akan menganggap hidupmu begitu membosankan dan lebih parah dianggap sebagai pengangguran karena tak ada kerjaan. Niat eksis malah dianggap narsis dan kegiatan di dunia nyata jadi terbengkalai.

Selaku pengguna yang cerdas, mari kita mengevaluasi sebaik mana bersosial media yang baik dan benar bukan yang kebablasan. Berbagi hal yang informatif dan edukatif itu lebih baik daripada curhat tak jelas.

Baiklah sebagai penutup, ingatlah!! karena curhat di sosial media tak memberi solusi tetapi malah jadi bahan tertawaan pengguna lainnya. So.. hati-hatilah bersosial media dan semoga tulisan ini memberikan pencerahan.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis