Selasa, 28 November 2017

Apa yang Didapat dari Curhat di Media Sosial?

Siapa sih yang tidak pernah curhat di media sosial?
Mulai dari curhatin masalah pribadi, masalah artis hingga masalah bangsa. Zaman saat ini sangat mudah mengapresiasikan diri sesuai keinginan. Berkat kolaborasi teknologi dan berbagai media sosial seakan semua jadi lebih mudah.

Hadirnya beragam platform media sosial makin memudahkan penggunanya untuk berbagi segala kegiatannya dari bangun tidur hingga tidur lagi. Bisa dibilang sudah menjadi gaya hidup sehari-hari termasuk salah satunya: Curhat. 
Sebelum adanya media sosial, mungkin media paling sering dipakai ialah media offline, mulai dari menulis di diary, di bawah kolong meja hingga halte penumpang. Kini semenjak adanya media sosial membuat orang gampang curhat, tak perlu lagi ke Polsek buat mengadukan keluhannya. 

Cukup instal aplikasi media sosial yang banyak berseliweran di app store, langsung bisa jadi sarana curhat. Mulai dari 140 karakter khas Twitter, Facebook yang bisa 63 ribu karakter sampai bisa melahirkan novel, dan Instagram dengan ciri khas foto dan caption.
 
Tak perlu curhat di Halte lagi
Memang semua pengguna punya hak menuliskan dan memosting apa saja yang ia mau di media sosial tanpa menyinggung orang lain. Tapi tetap saja harus membatasi diri dengan koridor tertentu salah satunya tak curhat colongan. Semua yang telah dilempar ke publik pastinya akan menjadi konsumsi publik juga, bukan hanya Anda tapi warganet.

Anak millenial saat ini erat dengan keterbukaan yang dihadirkan dari beragam media sosial yang terinstal di gawainya. Salah satu keterbukaan itu yaitu sering curhat colongan di media sosial. Sebenarnya banyak yang melatari anak millenial senang curhat di media sosial, berikut ini ulasannya.

Tak berani bertatap wajah, Media sosial dan teknologi makin membuat banyak orang yang tak PD-an berbicara langsung dengan tatap muka. Cara paling aman dan jauh dari rasa gugup ialah dengan melancarkan setiap percakapan dari balik layar gawainya masing-masing.
Lebih seru waktu chatting di dunia maya
Pasti kita sering melihat orang yang sangat asyik saat chat di dunia maya, namun saat ketemuan di dunia nyata malah tak seasyik seperti di dunia maya. Bisa jadi dia kehilangan auranya saat bertatap muka dan lebih PD chatnya melalui layar gawainya. 

Persoalan ini banyak terjadi pada generasi millenial saat ini, alasan lainnya mengapa banyak yang memanfaat media sosial untuk menutup dirinya yang begitu tak PD-an di dunia nyata tapi bagaikan harimau di dunia maya.

Tak punya teman dekat, Akibat terbiasa dengan pletokin jarinya di gawai setiap harinya, seakan mereka tak punya teman atau orang terdekat yang menemani saat senang dan susah. Akibatnya media sosial jadi alat yang paling tepat mencurahkan semua keluh-kesahnya, bahkan sampai masalah pribadi semua diumbar semuanya.

Cukup prihatin memang, melihat orang tak punya teman atau orang terdekat, karena orang terdekat punya solusi terhadap masalah yang Anda hadapi. Bukan media sosial yang seakan menciptakan banyak teman palsu.

Saat dalam keadaan senang, para teman di dunia maya mengapresiasikan mulai dari jumlah like, love, dan komentar pujian. Tapi saat kesulitan pun sama misalnya kata-kata:
Sabar dan tabah ya!!!GWS ya!!!
Kalimat itu tidak membuat diri Anda terasa lebih baik, namun melemahkan ikatan sosial antara manusia. Bukan lagi ikatan perbuatan tapi hanya terwakili oleh teks dan gambar doang. Ditambah dengan eksis di dunia maya, mereka akan mencari teman berdasarkan kuantitas bukan lagi kualitas. Akhirnya akan banyak teman, tetapi sangat sedikit yang memberikan kepedulian di dunia nyata.

Suka cari perhatian, Apapun yang ia alami saat ini merasa sangat disenangi saat mendapatkan empati dari orang lain. Misalnya dengan pura-pura sakit dengan foto infus yang menempel di salah satu lengan, seakan cara itu bisa menimbulkan rasa empati dan percaya dari orang lain. Mulai dari ucapan cepat sembuh, GWS, hingga sejumlah ucapan peduli lainnya dari orang lain.

Caper model lainnya saat mencari panggung di media sosial biar orang lain teralihkan. Media sosial kini melahirkan sejumlah seleb sesuai platform, yang menganggap segala tindak-tanduk hidupnya sang penting di mata orang lain. Padahal orang lain tidak peduli sedikit pun dengan kehidupan Anda, malahan bikin timeline media sosial orang lain dipenuhi drama hidupnya.

Wujud Balas dendam, Mau balas di dunia nyata tak berani dan dunia maya jadi pelampiasan paling mudah. Modal dengan buat akun palsu atau nyinyir dengan mode anonim. Mereka yang tak punya nyali memanfaatkan balas dendam dengan Mempermalukan tanpa ketahuan.

Bagi pelaku, cara ini paling aman dan lega khusus dalam setiap komentar miring dan menjatuhkan dari setiap postingan korban. Gampang kan?

Sebenarnya apa yang didapatkan dari curhat di media sosial?
Ada dua hal yang didapatkan dari curhat di media sosial menurut saya pribadi. Pertama waktu terbuang habis sia-sia sama yang kedua dapat nyinyiran balik dari orang lain.

Apalagi media sosial kini begitu banyak teman palsu atau menerima pertemanan dengan orang asing. Kenalan lalu janjian kemudian diculik dan ginjalnya dijual di pasar gelap.

Ada sejumlah efek tak baik yang didapatkan dari curhat di media sosial. Apa sajakah itu, berikut ulasannya:

Perasaan semakin emosional, Di saat mengunggah sesuatu postingan curhatan yang agak menimbulkan polemik jelas saja emosi datang di dalam diri. Itu semakin terus dilakukan hingga amarah itu hilang. Orang melihatnya pasti bingung dan ada juga yang ikutan emosi, apalagi postingan tersebut penuh kontroversial.
 
Ekspresi orang lain saat membaca timeline orang doyan curhat
Niat ingin menumpahkan keluh kesah yang ada di dalam hati, malah merembet ke mana-mana. Apalagi sifat penyampaian dilakukan secara anonim. Makin banyak yang tersinggung dan pasti ikutan emosi.

Membuka aib sendiri, Kebiasaan curhat di media sosial kadang jadi petaka lainnya terutama di saat galau. Orang lain akan menganggap anda sebagai orang yang pamer akan segala kegalauan. Pengguna lain jenuh dengan sikap yang Anda tunjukkan dan seakan membuka kelemahan sendiri.

Masalah yang sebenarnya kecil malah merembet jadi hal yang besar dan masalah pribadi malah menjadi konsumsi publik. Orang-orang yang tidak menyukai Anda di media sosial menjadikan hal tersebut sebagai bahan menjatuhkan diri Anda.

Makanya curhatlah kepada orang terdekat dan paling baik curhat sama sang pencipta via doa. Pasti jawabannya lebih baik dan hati jadi lebih tenang. Bukan curhat di media sosial.

Mengganggu timeline orang lain, Fungsi dasar media sosial awalnya untuk mengoneksi pertemanan. Makin ke sini media sosial jadi tempat mencari hiburan setelah capek di dunia nyata. Namun saat buka timeline malah dipenuhi curhatan dan nada marah-marah orang lain.

Siapa yang tidak tenang batinnya saat membaca, akibatnya mereka yang doyan curhat akan di benci di jagat dunia maya. Tak hanya itu saja, ia harus kehilangan teman karena sikapnya yang salah dalam menggunakan media sosial.

Muncul kesalahpahaman, Setiap ciutan atau postingan pasti setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda. Ada yang menganggap itu hanya gurauan semata, namun yang gampang terbakar kayak sumbu kompor pasti menganggap hal itu sensitif.

Saat ini membicarakan masalah yang sangat sensitif banyak pihak yang langsung panas. Apalagi mereka yang tak kenal Anda dengan jelas. Akibatnya ia men-screen shoot postingan Anda di media sosial dan menyebarkan ke khalayak ramai.

Nasibnya Anda mendapatkan hujatan dari banyak pihak atas kesalahpahaman yang Anda tulis. Jangan sampai karena sebuah postingan buat Anda kehilangan teman, pekerjaan, dan paling parah harus tiduran di lantai penjara.

Untuk lingkup teman di dunia maya pun seperti itu, terjadi perdebatan panjang dan ujung-ujungnya Anda dihapus dari pertemanan di dunia maya dan dunia nyata. Gara-gara salah paham, hubungan pertemanan berakhir dalam sekejap.

Bagaimana cara mengatasinya orang doyan curhat?
Curhat boleh saja, namun harus ada koridornya, harus ada pemahaman apa saja yang bisa dibagikan dan yang tidak. Karena media sosial saat ini menggambarkan diri Anda sebenarnya di dunia maya dan dunia nyata.

Ada sejumlah cara yang dapat mengatasi punya kolega atau bahkan diri sendiri dalam curhat yang tidak disalahartikan oleh orang lain. Berikut ini cara terhindar curhat berlebih di media sosial.

Mencoba menfilter diri, sang melakukan harus memikirkan dampak baik dan buruknya bagi diri sendiri dan orang lain terutama di media sosial. Mulai dari update status, upload gambar, dan mengomentari postingan orang lain.
 
Apa yang dishare dan komentari mencerminkan dirimu di media sosial
Sebaiknya coba tanyakan dahulu pada diri sendiri, apakah yang akan disampaikan berdampak besar nantinya bagi orang lain. Bila tidak, sebaiknya urungkan dibandingkan harus menerima konsekuensi berat nantinya. Mengingat saat ini sudah ada UU ITE yang mengawasi tindak tanduk dalam transaksi elektronik di internet.

Hidupkan interaksi dengan sesama, teknologi tak mampu menggantikan interaksi nyata sebenarnya, semuanya terlihat fana. Cobalah bersosialisasi dengan orang terdekat mengenai masalah yang dihadapi. Walaupun tidak mendapatkan jawaban terbaik, minimal mereka mendengar keluh-kesahmu.

Curhat yang berkualitas dan menghasilkan karya
Tidak ada yang salah dengan curhat, apalagi curhat sebagai bentuk kegundahan hati semua manusia dan dibutuhkan media buat menyalurkan itu semua. Namun cobalah curhat yang elegan dan kemudian jadi karya berharga.

Misalnya curhat pengalaman pribadi yang kemudian menelurkan karya tulis dan lalu diterbitkan menjadi sebuah buku. Curhat ilmuwan akan kegundahannya dan menghasilkan penemuan yang dapat mengubah dunia.

Karena berkat setiap energi negatif yang ada di dalam diri dapat dikeluarkan secara keren bukan hanya ingin terlihat beken. Bukan malah memancing kontroversi, harus viral, dan kadang harus menimbulkan reaksi negatif dari warganet.

Menjadikan Timeline Nyaman dan Aman
Media sosial yang kalian punya ibarat taman bunga, apa yang disukai harus terus dipupuk sedangkan yang mengganggu seperti gulma lebih baik diberanguskan. Terlepas itu teman dekat sekalipun, kita punya hak dalam menentukan siapa yang harus diikuti atau tidak karena media sosial ialah lingkup hidup kita di dunia maya.
Tak senang dengan akunnya, langsung unfollowTidak suka dengan fotonya, tak usah di-likeTidak menarik dengan postingannya, tidak usah di-share
Gampang bukan, yang ribet itu cuma permainan perasaan kita saja. Tidak menfollow, like dan sharenya bukan berarti tidak berteman di dunia nyata. Namun itu prinsip, karena setiap orang punya hak dalam menentukan yang menarik baginya di dunia maya.
 
Semua hak di tangan Anda siapa yang berhak diikuti
Berkat curhat membuat kita tetap waras tetapi harus mematuhi koridor di media sosial. Apa yang harus dan tidak, karena apa yang diposting dan dikomentari mencerminkan diri Anda bijak ataupun tidak di media sosial.

Punya pengalaman menarik tentang curhat di media sosial, silakan berbagi pengalamannya di kolom komentar. Semoga menginspirasi.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis