Monday, July 22, 2019

Libra, Sepak Terjang Facebook di Jagat Kripto

Tepat sebulan yang lalu Facebook memberi kejutan dengan meluncurkan mata uang kripto buatan mereka. Mata uang yang beri nama Libra seakan menggemparkan dunia, seakan denyut dunia kripto kembali menggema dibandingkan sebelum hampir tinggal nama.

Libra seakan memberi angin segar setelah hampir dua tahun volatilitas mata uang kripto yang turun ke nilai terendah. Setelah ledakan harga yang terjadi di tahun 2017, tak ada lagi kejutan yang timbul. Pasar lesu, seakan dunia kripto harus tutup buku. Pemain yang sudah menginvestasikan uangnya harus gigit jari, menunggu nyangkut begitu lama.

Libra hadir bak nestapa di tengah oase dunia digital aset yang menjadi anak tiri di berbagai bidang. Mark Zuckerberg selaku CEO Facebook seakan punya mimpi besar, ia seakan melihat blockchain sebagai teknologi masa depan. Khususnya dalam keuangan, gebrakan besar yang dilakukan Bitcoin dan banyak koin lainnya beberapa tahun lalu seakan membuat gempar dunia finansial.
Larangan dan kecaman seakan datang, menganggap blockchain melalui mata uang kripto bisa mengancam keuangan sebuah negara atau global. Sinar itu meredup, seakan Facebook melalui Mark Zuckerberg malahan membuat tim khusus mengkaji blockchain di bidang finansial.

Dua tahun adalah waktu yang cukup melalui pengembangan riset hingga akhirnya di bulan Juni lalu mata uang kripto buatan Facebook lahir. Ia bernama Libra, mirip dengan nama zodiak atau perlambang di dalam mitologi Yunani kuno yang berarti keadilan. Facebook ingin seperti tersebut, kini kesempatan itu sedang mereka rintis.

Sebenarnya, jauh sebelumnya Mark sudah punya niatan tersebut, mimpi itu sudah datang di tahun 2012 saat Facebook berhasil IPO (Initial Poin Offering) di pasar saham. Hanya saja saat itu teknologinya masih dianggap terlalu prematur. Hanya Bitcoin yang baru saja memulainya, dan itu hanya digunakan oleh komunitas kecil.

Mark punya keyakinan, kita bisa mengirimkan atau memindahkan uang seperti mengirim foto. Alasan tersebutlah yang membuat Facebook merekrut David Marcus, salah satu bekas presiden PayPal yang terkenal di bidang transaksi keuangan digital. Segala dipersiapkan dengan matang, salah satunya dengan melihat pasar yang bisa dicoba. India jadi pilihan Facebook karena punya menjadi pangsa terbesar perusahaan tersebut.
India punya pengguna terbesar dari produk Facebook (Messanger, WhatsApp, dan Instagram). Kini India punya penduduk mencapai 1,3 miliar yang baru 560 juta jiwa yang mendapatkan akses internet. Walaupun baru separuh, ini jadi modal awal dalam menguji sistem keuangan digital di India.

Salah satunya melalui produk Whatsapp, saat ini ada pengguna 464 juta pengguna dan jadi kesempatan Facebook menguji aplikasi WhatsApp Pay. Ia menggunakan salah satu sistem yang dikembangkan oleh pemerintah India yaitu UPI (Unified Payment Interface).
Whatsapp Pay yang sukses besar di India
Hasilnya sistem itu berjalan dengan sangat baik, ada banyak transaksi yang berhasil diproses dengan sangat cepat hingga 100 sampai 150 juta transaksi keuangan. Bahkan tersedia pada sejumlah bahasa lokal yang ada di India. Seakan Facebook ingin pasar yang lebih besar dan siap mengepakkan sayapnya secara global melalui Libra.

Facebook seakan tidak bermain sendiri, ia seakan mengajak para kroni-kroni bekerja sama. Meyakinkan pengguna dalam menggunakan mata uang buatannya. Institusi tersebut bersifat konvensional yang bertugas dalam melakukan desentralisasi setiap transaksi. Di bawah konsorsium bernama Libra Association yang berlokasi di Swiss.
Saat ini sudah ada 28 perusahaan besar yang punya reputasi sangat baik di berbagai bidang termasuk bidang finansial. Nama kesohor seperti PayPal, Visa, dan MasterCard. Seakan menjadi penjamin para pengguna akan menggunakan Libra. Rekam jejak panjang  di dunia finansial seakan menjamin para pengguna yang awal mulanya ragu atau bimbang terhadap Facebook.
Para konsorsium yang tergabung dalam Libra Assocition
Ada misi besar yang ada di dalam keinginan besar Facebook di dalam Libra, menjadikan diri sebagai cryptocurrency dalam perdagangan di dunia. Setelah sukses besar yang Bitcoin lakukan atau implementasi optimal dari WeChat dan ApplePay. Seakan ingin menjadikan Libra sebagai top leader selanjutnya di bidang finansial teknologi dan kripto.

Libra dianggap menjadi mesin uang Facebook yang selama ini hanya mengandalkan periklanan dari Facebook dan Instagram saja. Tahun depan Whatsapp pun sudah memiliki iklan dan di tambah pundi-pundi transaksi pengguna andai Libra berhasil diluncurkan.

Mengenal Libra lebih jauh
Tahun depan jadi waktu untuk Libra menunjukkan taringnya, tahun 2020 adalah waktu yang tepat sekaligus tahun ini menjadi tahun promosi akan konsep yang akan Libra terapkan. Ide tersebut tercetus melalui pemilik Facebook yang ia mengubah sistem pembayaran yang mudah dan cepat, seperti kita mengirimkan foto.
Libra pun adalah mata uang kripto baru meskipun saya menilai ia lebih mirip dengan Fintech yang marak beredar saat ini. Hanya saja Facebook menganggap Libra berjalan di atas konsep blockchain yang dipersiapkan dengan sangat matang.

Dalam hal ini Vice President Facebook, David A. Marcus malah ditugaskan langsung dalam mengembangkan proyek ambisius tersebut. Mengerahkan sebanyak 50 software enginering andal dalam membuat sistem Libra, sistemnya dinilai menjadi solusi pembayaran lintas batas yang dipatok sesuai dengan US Treasury Securities.

Libra pun berharap ini bisa terwujud meskipun penuh jalan yang terjal dan banyak negosiasi harus dilalui. Dengan konsep blockchain yang open source serta dianggap stabil dan dinaungi oleh lembaga khusus di dalamnya. Seakan mimpi mewujudkan transaksi yang mudah dan cepat tinggal menunggu waktu saja.
Malahan Libra dibuat terpisah dari Facebook dan berdiri di bawah naungan Libra Assocition yang tugasnya mengatur sistem keuangan kripto. Sehingga tidak ada campur tangan Facebook di dalamnya, sekaligus memperbaiki reputasi mereka yang buruk dalam sistem keamanan data. Berikut ulasan mengenai Libra:

Facebook yang menentang mengkhianati Janjinya
Beberapa tahun yang lalu Facebook jadi perusahaan terdepan yang menentang mata uang digital. Ia melarang ada iklan mengenai kripto di platform miliknya. Bagi Facebook, mata uang kripto tidak punya landasan hukum dan dinilai jadi ladang para penipu menjebak korbannya.
Pelarangan kripto yang dilakukan Facebook dan Google beberapa tahun lalu
Si pembuat koin akan membuat White Paper, mempromosikan koinnya di berbagai forum hingga menjelaskan Roadmap cara kerjanya. Ada iming-iming yang besar dan kemungkinan besar mata uang kripto tersebut sukses besar atau sebaliknya berakhir bunting.

Tahap akhir adalah ICO (Initial Coin Offering) yang menyerupai IPO (Initial Public Offering) di pasar saham. Akan banyak modal dari investor dan pengguna kripto yang didapatkan sebelum produk diluncurkan. Bila pada IPO ada penjamin yang berasal dari lembaga penjamin sedangkan padan ICO tidak ada.
Facebook menilai cara ini sangat rentan dengan tindakan kejahatan dan penipuan dalam meraut untung. Hanya saja kini Facebook terjun ke bisnis yang dulunya mereka cekal dan anggap hanya diisi para penipu dan scam. Libra punya konsep serupa dan bahkan bisa menggaet anggota yang cukup banyak hingga 1,7 miliar.

Ini seakan menentang kodrat mereka, malahan mereka menghimpun konsorsium sebagai penjamin bahwa Libra bisa diluncurkan. Seakan peluang besar blockchain dan mata uang kripto begitu seksi, sangat sulit Facebook melewatkan kesempatan ini. Bahkan ia sudah mempersiapkan dengan matang dan mata uang tersebut akan meluncur di tahun depan dengan nama “Libra”.

Apa Isi White Paper Libra?
Setiap mata uang kripto baru harus punya berbagai syarat, seperti White Paper, Tim pengembang hingga Roadmap coinnya. Dalam hal ini saya mencoba menjelaskan secara singkat dalam White Paper Libra, ada 12 halaman penjelasan Libra yang bisa dijelaskan pada pengguna.
Anda bisa mempelajari dan membacanya di situs resmi Libra. Setelah saya cerna ada sejumlah poin yang bisa dijelaskan di antaranya:

Libra tidak diketahui jumlahnya, di dunia mata uang kripto ada dua jenis kontrol pada setiap kripto. Ada yang menggunakan aset terbatas yang habis dalam proses minning. Sebagai contoh adalah Bitcoin yang dianggap emas digital, ia akan habis setelah jumlahnya berhasil di tambang.
Jumlahnya hanya 21 juta unit dan saat ini sudah ditambang sekitar 19,5 juta, dan baru habis diproduksi di tahun 2140. Sedangkan Libra berbentuk dollar digital yang jumlahnya tidak terbatas, tergantung pihak Libra yang mengontrol sesuai jumlah pengguna. Artinya cara ini rentan inflasi karena bisa saja regulator mencetak dalam jumlah banyak, berbeda dengan Bitcoin yang tidak akan inflasi karena jumlahnya terbatas.

Tidak punya algoritma, setiap mata uang kripto berjalan pada berbagai algoritmanya. Misalnya saja ada Algoritma SHA-256 pada Bitcoin. SHA merupakan singkatan dari (Secure Hash Algorithm). Sedangkan Libra tidak sebutkan berjalan dengan algoritma apa nantinya. Sudah jelas konsep sentralisasi dan Libra tidak punya Blok Reward yang biasa jadi buruan para minner.
Kelebihan yang saya tangkap adalah kemudahan yang ditawarkan karena bisa menggunakan akun dari Facebook, Whatsapp dan Instagram. Belum lagi sejumlah perusahaan yang bekerja sama di dalamnya. Pengguna akan punya e-Wallet yang dinamakan Calibra.

Pengguna yang tidak punya akun Facebook juga bisa menggunakan sehingga akan banyak pihak yang bisa terlibat dalamnya. Apalagi kini ada 2,3 miliar pengguna platform Facebook dan kroninya. Nantinya transaksi jadi mudah, cepat, dan aman meskipun tidak mengandalkan rekening bank.

Sentralisasi, Ada sebanyak 28 konsorsium yang tergabung di dalamnya, mulai dari perusahaan online berbasis tiket, transportasi online, game, hingga hiburan. Sehingga pengguna Libra akan mudah melakukan transaksi pada perusahaan tersebut. Berikut sejumlah perusahaannya dari bergerak di berbagai bidang seperti:
Bidang pembayaran: Mastercard, Visa, Mercado Pago, Paypal, PayU, dan Stripe
Bidang teknologi dan marketplace: Booking Holding, eBay, Facebook, Farfetch, Lyft, Spotify, dan Uber
Bidang telekomunikasi: Iliad dan Vodafone
Blockchain: Anchorage, Bison Trails, Coinbase, dan Xapo Holding Limited
Ventura Capital: Andreessen Horowits, Breakthrough Initiatives, Ribbit Capital, Thrive Capital, dan Union Square Ventures.
Lembaga non profit: Creative Destruction Lab, Kiva, Mercy Corps, dan Women’s World Banking.

Menerapkan konsep stablecoin, berbeda jauh dengan mata uang kripto lainnya yang fluktuatif dengan mengandalkan permintaan dan penawaran. Saat pasar lesu atau menguat, akan terjadi volatilitas yang sangat besar.
Secara ekonomi jelas ini sangat berbahaya dan Libra menerapkan konsep stablecoin mengandalkan khusus mata uang nyata saat ini. Bisa saja dengan Dollar, Euro, Poundsterling hingga Rupiah. Sehingga volatilitasnya relatif rendah dan aman buat proses transaksi belanja. Libra pun menarik dalam hal ini dibandingkan dengan Bitcoin yang lebih baik digunakan sebagai investasi.

Mengapa sistem finansial Blockchain begitu seksi?
Krisis ekonomi di pertengahan tahun 2008 seakan begitu pedih, sejumlah lembaga keuangan harus tumbang. Krisis keuangan dan kepercayaan melanda hampir seluruh negara Eropa dan Amerika. Seakan sistem berbasis sentral khas lembaga keuangan sangat rentan mengalami inflasi.
Di tengah keadaan yang begitu satir tersebut, datanglah seorang atau kelompok yang menamai dirinya Satoshi Nakamoto. Sesosok yang penuh misterius dan tidak diketahui hingga kini siapa di balik sistem tersebut. Ia seakan menampilkan sebuah White Paper sebanyak 12 lembar yang berisikan metode kerja dari mata uang tersebut.

Nama yang hadir sangatlah misterius dan mampu berdiri di tidak di atas sistem perbankan yang dianggap gagal. Membawa banyak penggunanya dalam masalah keuangan dan resesi ekonomi yang berkepanjangan. White Papernya berjudul: Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System.
Saat itulah konsep blockchain berkembang pesat khususnya di bidang finansial, karena tidak menggunakan bantuan bank. Konsepnya yang peer to peer yang mampu mendesentralisasikan berbasis basis data di dalam jaringan internet dengan sangat cepat, sehingga biaya transaksi menjadi sangat kecil.

Isu Keamanan yang Menghambat Sepak Terjang Facebook
Masih segar ingatan kita mengenai kasus Cambridge Analytica yang mengguncang negeri Paman Sam beberapa tahun lalu. Bak sebuah noda hitam akan bobroknya Facebook yang teledor dengan tidak menjaga data penggunanya dengan benar. Skandal bocornya data pengguna Facebook berawal dari bocornya aplikasi pihak ketiga yang sering berseliweran di Timeline Anda.
Semua itu berawal di tahun 2014, seorang peneliti bernama Aleksandr Kogan membuat aplikasi bernama This is My Digital Life. Aplikasi seperti kuis-kuis Facebook ini tidak hanya mengambil data 270 ribu data penggunanya saja, akan tetapi mengambil data teman-teman si pengguna tanpa perlu meminta izin. Mengakibatkan ada 50 juta data pengguna Facebook bocor ke ranah publik.
 Related image
Data yang bocor sebanyak itu kemudian digunakan oleh Cambridge Analytica untuk membantu kampanye Donald Trump. Tujuan utamanya menyebarkan konten-konten yang tepat kepada penduduk USA dan global sesuai data pribadi yang mereka dapatkan. Supaya nantinya mereka memberikan hak pilih Trump di tahun 2016 silam. Hasilnya Trump menang secara mengejutkan dan mengalahkan kandidat tunggal Partai Demokrat, Hillary Clinton.

Tak berhenti di situ saja, kemelut akan keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang dikenal dengan British Exit (Brexit) seakan punya peran besar Facebook di sana. Kampanye hitam hingga berbagai isu anti imigran di angkat ke sana. Kini Inggris berada di persimpangan, Brexit seakan membuat ekonominya menjadi sangatlah pelik.
 Image result for brexit facebook
Keputusan akhir harus segera diambil tahun ini, atas pilihan yang mereka perbuat beberapa tahun yang lalu. Isu yang bergulir kencang di Facebook seakan punya peran besar dalam keputusan skeptis Inggris tempo lalu sehingga membuat ekonomi mereka berada di kondisi yang tidak menguntungkan.

Banyak kabar angin yang berhembus segala transaksi yang melibatkan informasi pengguna Libra bukan hanya sekedar informasi transaksi saja. Akan tetapi menembus segala akses data terkait modal dan kekayaan pengguna. Bila saja dijual atau bocor akan sangat merugikan pengguna,  kepercayaan ini seakan membuat peluang Libra diluncurkan menipis.

Menakar Nasib Libra di Percaturan Blockchain
Kemunculan Libra saja tidak cukup, ia harus menghadapi berbagai polemik dan desakan dari banyak pihak. Semua tergantung lobi dan kepercayaan agar Libra bisa melenggang dengan sukses di masa depan. Berikut ini berbagai skenario yang akan terjadi apa Libra dan Facebook, cekidot:

Skenario pertama, Libra tidak jadi diluncurkan
Pembahasan akan Libra seakan sudah sampai ke kongres dan regulator, bahkan Presiden Donald Trump yang sejak dulu sangat anti dengan sistem cryptocurrency. Masalah terbesar yang datang adalah urusan privasi yang datang.

Segala cara dalam meyakinkan pengguna telah dilakukan oleh Facebook dengan menggandeng 28 konsorsium kenamaan. Malahan ada empat di antaranya yang sudah berpengalaman di bidang finansial. Hanya saja Kongres AS dan regulator bisa saja menolaknya dengan mentah-mentah ide yang telah dipersiapkan oleh Facebook.
Menunggu hasil akhir Kongres US
Bulan Juli ini diadakan kongres sekaligus perancangan undang-undang yang menghalau aksi perusahaan teknologi seperti Facebook. Apakah itu menjadi lembaga keuangan atau berafiliasi dengan institusi keuangan dengan tujuan tertentu. Isi RUU melarang membangun, memelihara, dan mengoperasikan aset digital. Bila melanggar, denda berat siap saja meluncur.

Faktor lain juga datang, dimulai dari alasan privasi, keamanan hingga stabilitas keuangan bangsa akan berpengaruh dari invasi yang dilakukan Facebook dan Libra. Semuanya jadi landasan kuat buat regulator dan Kongres AS memutuskan hasil akhir.

Andai Libra ditolak dan Facebook harus membayarkan denda kerugian atas kasus sebelumnya dengan biaya yang sangat besar. Alhasil Libra hanya sebuah proyek yang gagal direalisasikan oleh Facebook karena terhalang regulasi yang berlaku.

Skenario kedua, Libra berhasil diluncurkan akan tetapi dengan KYC
Peluang lainnya dari meluncurnya Libra adalah dengan mengikuti pedoman dari KYC dan AML. Muncul pertanyaan, sebenarnya apa itu KYC dan AML dalam sistem keuangan?

Konsep ini lahir khususnya dalam mengurangi tindakan pencucian uang aksi kejahatan di dunia finansial. KYC (Know-Your Customer) yang merujuk pada pengawasan ketat dan aksi penipuan yang marak terjadi. Salah satunya yang paling sering terjadi di mata uang kripto.

Kemudian ada juga istilah AML (Anti-Money Laundering) yang merujuk pada sejumlah aksi pencucian uang dalam berbagai model skema. Ini wajib diatur oleh regulator dan pemerintah negara setempat, dalam hal ini adalah pemerintah USA selaku perusahaan Facebook berdiri. Terakhir adalah dengan melakukan verifikasi ID terhadap para anggota yang tergabung di dalam Libra andai berhasil disahkan.
Pada kasus ini, para regulator akan setuju dengan struktur cadangan, hanya saja harus melihat bagaimana Roadmap dan Masterplan yang akan diterapkan. Khususnya yang bersifat pseudonimitas dalam Libra. Salah satu cara yang diambil oleh Libra dengan membatasi blockchain untuk proses transaksi yang berasal dari dompet digital (Calibra).

Ia akan diverifikasi oleh dengan ID pemerintah khususnya dalam mengurangi aksi AML. Hanya saja konsep ini seakan menghilangkan konsep blockchain yang bersifat mandiri tanpa intervensi pihak lainnya. Tergantung Facebook dan Libra menentukan bila nantinya berhasil disetujui.

Skenario ketiga, Libra meluncur tanpa KYC (baik untuk BTC)
Skenario ini yang paling diharapkan karena mirip dengan Bitcoin dan ribuan mata uang kripto lainnya. Sekedar informasi, hingga Bulan Juli ini, sudah ada sekitar 2.282 mata uang kripto yang sudah launching (pastinya akan terus bertambah jumlahnya). Hadirnya Libra seakan menjadi penguat kembali mata uang kripto yang sudah cukup lama “nyangkut”.
Konsep yang serupa dan dengan pengguna yang sangat besar dari tiga perusahaan (Facebook, Whatsapp, dan Instagram) seakan membuat dunia kripto kembali naik seperti yang terjadi di penghujung tahun 2017. Nantinya Libra Association akan membuat Libra menjadi open source yang berdiri sendiri tanpa campur tangan korporasi.

Konsepnya adalah desentralisasi dan setiap anggota punya peran yang besar dari Libra. Namun diragukan karena Facebook tidak akan melepaskan Libra begitu saja karena akan banyak perputaran uang yang dihasilkan oleh pengguna di masa depan.

Namun bila Facebook besar hati melepasnya, jelas Libra jadi sebuah prospek yang sangat menjanjikan. Perannya bisa saling menguntungkan dan melengkapi dengan berbagai mata uang kripto lainnya. Sehingga dunia blockchain yang berbasis finansial semakin ramai, tinggal pengguna yang memilih mana yang paling mudah dan cepat.

Skenario keempat, Libra meluncur tanpa KYC (buruk untuk BTC)
Faktor selanjutnya adalah kehadiran Libra berdampak buruk Bitcoin dan ribuan mata uang kripto lainnya. Libra yang nantinya diluncurkan patuh pada regulator dan mengancam konsep blockchain yang menggunakan sistem desentralisasi.

Alhasil, Libra tetap meluncur dengan konsep sentralisasi yang diatur oleh pemerintah. Sehingga yang berbeda dianggap ilegal. Otomatis Libra untung besar dengan hal tersebut karena mereka patuh dengan KYC dan AML. Beda dengan mata uang kripto yang dianggap rentan dan ilegal, sehingga nilai Libra mengalami kenaikan di pasar kripto sedangkan mata uang lainnya harus menjadi abu.
Itulah sejumlah prediksi yang bisa terjadi ke depan pada Libra. Kita tinggal menunggu hasil akhir, terpenting sebuah mata uang adalah urusan rasa aman, kepercayaan, dan regulasi yang sesuai dengan negara. Sehingga kasus resesi ekonomi yang terjadi di tahun 2008 tidak terulang kembali. Sistem berbasis blockchain dianggap sangat cocok dengan masa depan, tinggal menunggu implementasinya secara sempurna.

Libra dan Bitcoin, Apa Bedanya?
Bitcoin menjadi pionir selaku mata uang kripto pertama dunia, ia sudah melenggang selama satu dekade lamanya. Jauh meninggalkan Libra yang baru dalam proses pengajuan tahun ini dan akan diluncurkan di tahun depan.

Saat ini ada sekitar 2.282 mata uang kripto yang tercatat di market kripto. Bitcoin seakan jadi patokan karena punya valuasi yang sangat besar dibandingkan dengan mata uang kripto lainnya. Alasan itulah berikut sejumlah Head to Head dari kedua mata uang tersebut sehingga menjadi pembanding. Pengguna bisa memilih mana yang cocok untuk mereka, cekidot:
Perumpamaan Libra dan Bitcoin ibarat membandingkan Dollar/Euro/Rupiah dengan emas. Hanya saja berbentuk digital, sehingga konteks berbeda. Andai saja Libra berhasil diluncurkan tahun depan, proses transaksi lebih mudah menggunakan Libra karena nilainya relatif stabil (tidak fluktuatif) merujuk pada mata uang negara.

Lantaran Libra disokong oleh cadangan aset di dunia nyata, termasuk di dalamnya deposito bank dan surat berharga jangka pendek oleh pemerintah dan Libra sendiri. Harganya akan ditentukan oleh permintaan dan penawaran dari pasar, beda dengan Libra yang berada di bawah naungan Libra Association.
Sebelumnya konsep yang diterapkan oleh Libra lebih mirip dengan Ethereum dan Ripple, hanya saja keduanya bersifat desentralisasi murni. Kemudian Bitcoin lahir dari blockchain yang sifatnya desentralisasi, semua yang ada di jaringan bisa punya peran.

Segala akan tercatat Ledger book, sedangkan Libra menerapkan konsep kripto namun berbasis sentralisasi. Selain itu di Libra pengontrol jaringan disebut Network of Custodians, beda dengan jaringan blockchain seperti Bitcoin yang menyebutnya dengan Minner (penambang) yang mengontrol node.
Setiap 10 menit para minner berhasil menambang Bitcoin hasil dari pemecahan kode rumit sekaligus merilis informasi dalam bentuk cryptographic hash. Kemudian akan diverifikasi dengan pada smart contract dan dibukukan pada Ledger Book. Pada Libra proses verifikasi hanya berada di tangan anggota konsorsium, bukan semua pengguna.

Ada sebanyak 28 anggota (ditargetkan ada 100 anggota) mereka sebut konsorsium, nantinya akan punya peran dalam mengontrol segala transaksi. Secara rekam jejak dan pengalaman, para konsorsium adalah perusahaan dan perbankan ternama. Hanya saja itu tidak sesuai dengan prinsip dasar blockchain yang desentralisasi.

Mereka punya kontrol terhadap jaringan blockchain karena sudah membayar biaya sebesar US$ 10 juta terhadap kontrol pada Node (komputer). Jelas saja konsep ini hanya dikuasai oleh korporat besar dan orang kaya. Berbeda dengan konsep blockchain murni yang siapa saja bisa mengontrol Node.

Pilih mana, Investasi di Libra atau Bitcoin?
Andai saja Libra berhasil disahkan dan diluncurkan sesuai jadwalnya di tahun depan. Akan beragam pilihan investasi yang bisa kita pilih. Untuk investasi, semua tergantung preferensi setiap orang. Sudah pasti berbeda dan punya kedua-duanya akan lebih baik. Jangan lupa juga, ada banyak mata uang kripto lainnya yang potensial yang bisa diinvestasikan atau dibelanjakan.
Bagi saya pribadi, untuk investasi jangka panjang Bitcoin adalah aset yang sangat menarik. Volatilitasnya sangat menarik dan penuh kejutan, Anda bisa berinvestasi membelinya di harga terendah dan menjualnya di harga tertinggi.

Sedangkan Libra lebih baik digunakan pada transaksi sehari-hari yang cepat dan mudah. Ia akan terintegrasikan dengan sejumlah platform milik Facebook seperti Whatsapp dan Instagram. Serta sudah bisa melayani berbagai transaksi yang melibatkan 28 konsorsium di dalamnya.
Semua tergantung pilihan Anda
Tanpa harus keluar akun dan tinggal membeli, kemudahannya seperti mengirimkan foto atau membalas chat. Anda akan sangat terbantu dengan peran Libra dan Bitcoin, berinvestasi dan bertransaksi serba mudah dan murah. Kini tinggal membenahi kepercayaan, keamanan, dan regulasinya. Agar semua pihak bisa merasakan manfaat besar blockchain.

Semoga saja postingan ini bermanfaat untuk Anda, apabila ada yang ingin ditanyakan bisa di kolom komentar. Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Halo Penulis

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Berlangganan via Email