Sunday, April 26, 2020

Zoom, Ketiban Durian Runtuh Kala Pandemi

Nama Zoom seakan meroket dalam beberapa bulan terakhir, penerapan Work Form Home seakan jadi durian runtuh buat aplikasi  berbasis telekonferensi tersebut. Saat ada begitu banyak bisnis perusahaan merugi dan bangkrut, Zoom kecipratan banyak pengguna dan guyuran uang. Zoom mampu menghubungkan beragam manusia di berbagai tempat dari rumah mereka hanya dari aplikasi tersebut.

Larang keluar rumah oleh pemerintah di sejumlah negara membuat manusia mencari cara dalam berkomunikasi dan bahkan beraktivitas. Salah satunya adalah melalui aplikasi telekonferensi. Aplikasi yang sebelumnya cukup akrab tapi hanya dilakukan dalam keadaan mendadak dan terpisah jauh.


Menekan angka penyebaran virus adalah dengan physical distancing dan Work From Home. Memanglah pengalaman yang dirasakan tidaklah sama, selama masa darurat seperti saat ini tak ada pilihan lain. Semua yang dulunya biasa keluar rumah dalam bekerja dan beraktivitas mencari cara. Telekonferensi jawabannya, bahkan mendukung semua kalangan. Mulai dari anak sekolah, masyarakat biasa hingga korporat ternama untuk terhubung secara online.
Berapa tahun lalu, saat mendengarkan aplikasi telekonferensi harus membutuhkan PC dan laptop. Bentuknya tidak terlalu nyaman digunakan, kini beragam aplikasi telekonferensi hadir melalui ponsel pintar. Zoom hadir dengan tampilan antar muka sederhana bahkan mengalahkan sejumlah pesaingnya. Tahun 2020 mungkin adalah tahun mereka, pandemi ibarat durian runtuh buat perusahaan seumur jagung.

Eric Yuan dan Cita-cita Besarnya pada Video Telepon
Eric Yuan, nama yang berada di balik kepopuleran Zoom saat ini. Jauh sebelumnya ia sudah mempersiapkan aplikasi Zoom, tepatnya di tahun 2011. Ada banyak kisah yang menginspirasinya kala itu, saat belum ada ponsel pintar atau bahkan video call.
Bermula di tahun 1987 saat masih kuliah di China daratan, Eric Yuan harus terpisah jauh dengan sang pujaan istri yang kini jadi istrinya. Terpisah jauh bahkan butuh waktu hingga 10 jam perjalanan dengan menggunakan kereta api untuk hanya bisa berjumpa dengan pujaan hati. Kendala itulah yang membuat Eric selalu merenung saat naik kereta: 
"Andai saja ada video call yang menghubungkan manusia dari jarak jauh"
Sebagai seorang yang berkuliah di salah satu kampus berbasis teknologi, membuat ia berpikiran bisa menciptakan sebuah aplikasi memudahkan manusia. Bahkan melepaskan rasa rindu di mana pun itu, hanya saja teknologi tersebut masih sangat jauh bahkan sekedar telepon umum di China daratan.

Awal kisah baru dimulai saat Eric Yuan hijrah dan tinggal ke Amerika, menjadi divisi teknologi di sana. Tahun 1997 jadi awal dirinya dalam berkarier yaitu menulis kode di sebuah perusahaan bernama WebEX. Hingga akhirnya satu dekade selanjutnya dibeli oleh perusahaan Cisco dan berubah nama menjadi Cisco WebEx.

Fokus utamanya adalah mengembangkan dan menjual aplikasi web konferensi dan video konferensi dari berbagai seminar di dunia. Artinya mimpinya punya perusahaan sendiri ada di depan mata, bila sebelum masih berada di bawah afiliasi Cisco. Eric ingin mewujudkan aplikasi miliknya sendiri hingga akhirnya di tahun 2011 mimpi itu terwujud.

Awal Mula Zoom
Pengembangan yang dilakukan Cisco pada aplikasi web konferensi dan video konferensi sangat tidak menarik pelanggan. Makin lama, makin banyak pelanggan yang beralih dari Cisco WebEx. Eric Yuan yang kala itu sudah menjadi Vice Presiden seakan mencoba terobosan baru. Salah satunya dengan penerapan video konferensi menggunakan ponsel pintar, menggunakan PC sudah ketinggalan zaman.

Ide tersebut ditolak, seakan jadi jalan awal buat Eric mengambil keputusan untuk pergi. Mencoba apa yang ia rasa sangat berguna di masa depan, sekaligus mencoba mendirikan perusahaan sendiri. Memang jalan ini terasa berat, bermodal 40 insinyur yang ikut dengannya keluar dan mendirikan Zoom.
Hingga akhirnya Zoom berhasil meluncur pada aplikasi dalam bentuk Beta yaitu pada September 2012. Langkah awal tersebut terasa berat, mungkin ada tahu sendiri bagaimana kejamnya dunia startup berbeda jauh dengan perusahaan mapan tempat Eric bekerja seperti dulu.

Mencari investor sudah pasti sulitnya minta ampun, meyakinkan banyak orang mau menginvestasikan dananya pada perusahaan yang belum terbukti jitu. Bahkan kala itu sudah ada begitu banyak pesaing yang sudah mapan. Niat Eric dan Zoom mungkin hanya bermodal kebulatan tekad saja, selebihnya hanya keberuntungan dan keunikan produk mereka.

Zoom kala itu hadir beragam fitur unik di dalamnya, salah satunya bisa mengadakan rapat jarak jauh beranggota 15 peserta. Saat itu belum ada aplikasi yang bisa melakukan pertemuan sebanyak Zoom. Ini terlihat menarik karena saat itu tidak ada aplikasi sebanyak itu yang bisa melakukan telekonferensi.

Ledakan kehadiran ponsel pintar pada awal 2012 seakan membuat aplikasi Zoom cukup dinikmati. Bukan hanya untuk para korporat saja, organisasi hingga bahkan personal. Kualitas gambar yang baik dan stabil tanpa harus menggunakan PC membuat Zoom cukup sukses.
Awal mulanya pada investor ragu dengan Zoom, melihat kesuksesan kilat yang diraih Zoom seakan gelontoran dana mengalir pada Zoom. Nama besar seperti Qualcomm Ventures, Yahoo, Cisco, Facebook, Waze, Longitech, hingga Sequioa Capital ada dibalik pendanaan tersebut. Hanya butuh 4 tahun saja untuk menjadi salah satu Unicorn.

Cukup cepat, melihat dukungan besar dan integrasi yang datang dari berbagai perusahaan serta aplikasi lainnya. Hingga akhirnya pada 18 April 2019, Zoom berhasil IPO dan melantai di Nasdaq. Punya valuasi hingga US$ 35 juta dan bahkan jadi perusahaan yang cukup diperhitungkan di masa depan.
Bermula hanya bisa melakukan proses telekonferensi sebanyak 15 peserta, Kini Zoom terus berkembang lebih baik. Menawarkan fitur chat, kualitas video HD, fitur perekaman serta penjadwalan, mendukung beragam platform dan memuat 1.000 peserta. Ada sejumlah keunggulan yang ditawarkan Zoom dibandingkan pesaingnya seperti One-on-One Meetings, Group Video Conferences, dan tentu saja Screen Sharing.

Yuk Kenalan Lebih jauh dengan Zoom
Sebagai aplikasi yang sedang booming dan belum dikenal oleh banyak kalangan. Zoom menawarkan sejumlah fitur yang dianggap menggoda. Bagaimana tidak, pertumbuhan penggunanya cukup tinggi dibandingkan telekonferensi lainnya meskipun masih seumur jagung dan tidak berada di bawah perusahaan teknologi besar.
Konsep Zoom berbasis penyimpanan awan yang tak memberatkan perangkat pengguna dalam menyimpan data. Meskipun dilakukan secara online, Zoom bisa disaksikan kembali setelah proses konferensi berlangsung dalam bentuk video yang tersedia. Cukup membantu yang telat bergabung dan ketinggalan akan telekonferensi.

Nah... kemudian ada istilah penting pada aplikasi Zoom yakni Zoom Meeting dan Zoom Room. Bila Pada Zoom Meeting mengacu pada pertemuan yang menggunakan aplikasi Zoom. Artinya mereka yang terlibat dalam pertemuan baik aktif ataupun pasif. Modalnya hanya internet, Webcam pada ponsel dan tentu saja peserta pertemuan.

Namun bila Zoom Room sudah pada level premium, karena pada tahap ini perusahaan atau instansi bekerja sama dengan Zoom. Kerja sama ini berupa berlangganan fitur premium seperti hardware dan software untuk video konferensi. Sudah pasti dengan berlanggan akan ada biaya tambahan tergantung berapa banyak sesi dan waktu untuk konferensi. Serta juga ada pilihan mulai dari Zoom Free, Zoom Pro, Zoom Business, dan Zoom Business Enterprice.

Sebagai perusahaan yang khusus bergerak di bidang telekonferensi tersebut, harus punya fitur dan mendukung beragam perangkat. Mulai dari Video dan Audio kualitas HD sehingga kualitas gambar tetap bagus meskipun minim sinyal. Mendukung 1000 peserta dan 49 video. Adanya rekaman dan transkip setelah proses konferensi berlangsung yang tersimpan di dalam perangkat masing-masing pengguna.
Fitur lainnya seperti proses penjadwalan dalam memulai rapat bahkan menggunakan beragam akun seperti Outlook, Gmail, dan iCal. Proses interaksi pun juga mudah dalam mengobrol di dalam grup, bahkan sejumlah hal penting lainnya seperti riwayat percakapan, data yang terintegrasi, dan arsip tersimpan hingga jangka waktu 10 tahun. Terakhir tentu saja, sudah mendukung end-to-end encryption sehingga ada perlindungan pada kata sandi dan data pengguna.

Ramai-ramai bersaing dengan Zoom
Telekonferensi seakan jadi sebuah tren baru di masa depan tak sebatas masa pandemi. Manusia seakan begitu khawatir akan keamanan dirinya setelah pandemi lewat. Akan lebih banyak rapat yang dilakukan secara jarak jauh dibandingkan harus pergi dan bahkan terpapar virus.
Untuk saat ini sudah ada lebih 30 aplikasi telekonferensi yang ada saat ini, mendukung berapa perangkat OS hingga kualitas terbaik. Artinya ada begitu banyak yang bersaing dengan fitur yang ditawarkan. Larangan physical distancing jadi sebuah acuan bahwa video call jadi obat penawaran rindu, dari level komunitas, organisasi, hingga perusahaan berbonafide besar.

Sudah pasti aplikasi telekonferensi akan terus laku di saat ini, siapa yang tak tertarik dalam mengembangkan fitur tersebut. Mulai dari yang levelnya personal di perusahaan mereka hingga aplikasi yang siap bersaing dengan Zoom.

Sebut saja ada Skype, Microsoft Teams, Google Hangout Meet, dan terbaru Messenger Room buatan Facebook. Artinya mereka siap bersaing karena punya pendanaan tak terbatas dari perusahaan utama milik mereka. Selain itu ada banyak kelemahan besar yang ada di dalam Zoom yakni kini dipersoalkan oleh penggunanya yakni keamanan data. Siapakah yang berhasil menggoyang Zoom?

Masalah Keamanan, Celah yang Ditakuti Pengguna
Kesuksesan yang begitu cepat nyatanya memberikan sejumlah masalah, salah satunya urusan keamanan data pengguna. Saat ini sudah ada hampir 300 juta pengguna harian yang mana sebelum pandemi datang, hanya ada 10 juta pengguna harian. Ini ibarat loncatan besar buat Zoom, harga saham mereka meroket dan mendapatkan keuntungan bersih hanya dalam waktu singkat.

Tapi di tengah euforia tersebut, ada masalah keamanan yang jadi sorotan buat Zoom. Berbagai masalah tersebut mulai dikeluhkan oleh penggunanya. Zoom dianggap lalai dalam hal tersebut dan merugikan penggunanya. Masalah privasi jadi isu saat ini, mengingat Facebook pernah mengalami hal tersebut dan berdampak dengan turunnya pengguna.
Sejumlah masalah yang dihadapi Zoom memang tak sepelik Facebook karena tidak melalui pihak ketiga dan berbau politis. Masalah serius hanyalah keamanan dan pencurian data, seperti ekspos data yang dikirim ke Facebook tanpa pemberitahuan. Isu enkripsi yang hanya menggunakan Transport Layer Security (TLS) yang rentan buat data pengguna dicuri. Lalu ada juga ancaman malware yang bisa mengancam perangkat pengguna seperti komputer. Alhasil peretas bisa melakukan proses peretasan dengan komputer yang sering disebut Computer Zombie.

Masalah kebocoran data paling besar karena penerapan TSL pada sistem telekonferensi Zoom. Sebagai informasi, TLS hampir serupa dengan penerapan HTTPS (Hypertext Transfer Protocol Secure). Sesuatu yang sering kita temui pada web umumnya atau bahkan aplikasi berbasis web.
Kelemahannya adalah sangat mudah dimatai-matai oleh menyusup, apalagi telekonferensi bisa melibatkan perusahaan besar dalam mengambil kebijakan krusial. Penjahat bisa saja menjual data pengguna, memanipulasi data hingga bahkan membocorkan rahasia perusahaan tersebut ke publik. Seperti kasus Zoom yang ada begitu banyak data pengguna dijual di Dark Web.

Memang tak ada yang aman di internet dan sistem, semua acara cara buat meretasnya. Namun menghindari itu semua harus ada pengawasan ketat, di tengah ketenaran dan kepercayaan besar pengguna akan Zoom. Semua akan tercoreng bila ada banyak data pengguna yang bocor dan tersebar ke publik. Sedang para pesaing siap melakukan invasi pengguna dengan fitur baru, toh belum ada yang tahu kapan pandemi berakhir.

Jadi sangat terbuka peluang dalam berkompetisi dan bahkan jadi pilihan bila nantinya pandemi mereda. Salah satunya adalah penerapan end-to-end encryption yang diterapkan pada aplikasi instant messaging seperti Telegram dan Whatsapp. Model penerapan ini membuat percakapan dari setiap pengguna hanya mereka yang tahu, beda dengan TLS yang cukup rentan karena menyerupai HTTPS.
Hanya saja, penerapan end-to-end encryption sangat  sulit diterapkan karena telekonferensi melibatkan banyak anggota tamu bahkan hingga 1.000 orang. Bisa saja ada penyusup dari sekian banyak anggota tersebut. Serta end-to-end encryption sangat sulit melacak siapa saja yang berbicara dalam forum online tersebut. Apalagi banyak yang berbicara satu sama lain dan penerapan TLS dianggap cukup baik.

Saat ini hanya penyempurnaan berbagai fitur keamanan dari Zoom. Seperti melakukan pengumpulan informasi dasar seperti IP pengguna, detail OS, dan perangkat yang digunakan. Perlindungan sudah coba dikembangkan menjadi lebih baik dengan perlindungan berlapis untuk pengguna. Meskipun masih ada keraguan dari banyak pihak, tapi Zoom menyangkal bahkan tak menambang dan menjual data pengguna.

Bagaimana mana menurut Anda? Toh... bila merasa tak aman, ada banyak aplikasi telekonferensi yang tersedia untuk saat ini. Tinggal bagaimana Anda memilih dan pastikan anggota forum lainnya setuju. Semoga postingan ini memberikan inspirasi untuk kita semua mengenai dunia telekonferensi. Akhir kata, Have a Nice Days.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer