Monday, April 20, 2020

Melacak Persebaran Virus Melalui Mesin Pencari

Pandemi global kini sedang marak dan menjadi isu yang sangat serius. Tahun baru ini punya warna baru dan bahkan sulit dilupakan oleh penduduk bumi. Pandemi COVID-19 sudah menyerang jutaan orang dari berbagai bangsa di dunia, bahkan sudah pada level zona merah.

Seakan menjadi sebuah ketakutan yang berkembang saat ini, ancamannya yang sudah menghantui dunia membuat penduduk bumi gelisah dan panik. Apalagi dengan bertambahnya kasus dan belum ditemukannya vaksin. Kemudian ada banyak berita hoaks dan teori konspirasi cocoklogi yang menakuti banyak orang. Dunia seakan dalam kekacauan besar....
Ada yang mirisnya adalah kesempatan ini menjadi pundi-pundi Adsense dan popularitas semu. Inilah yang terjadi sekarang, menjadi isu hangat terus menjadi headline pemberitaan dunia. Kata kunci pencariannya jadi trending beberapa pekan terakhir di mesin pencari. Bahkan semakin hari pencariannya terus meningkat.
Tugas paling dibutuhkan saat ini adalah melakukan tes massal dan melacak pergerakan manusia. Mengingat Indonesia punya begitu banyak masyarakat, bila terlambat akan jadi bencana besar. Melacak pergerakan penderita COVID-19 saja tidak cukup tapi juga melacak regional sebuah daerah. Makin spesifik maka semakin mudah dilakukan proses pengujian. Indonesia tergolong masih ketinggalan dalam proses pengujian sehingga masih sedikit yang terdeteksi.

Artinya ada banyak pasien yang tak terlacak bahkan berkeliaran bebas dan rentan menularkan dengan orang lain. Pertanda ini tidak baik karena akan terjadi ledakan penderita dalam waktu dekat, artinya pemerintah harus mengantisipasi hal tersebut sebelum menyebar lebih luas lagi.

COVID-19, Topik Utama di Tahun 2020
Tak ada yang menyangka tahun 2020 memberikan kejutan berarti, pandemi yang awalnya berasal dari di utara daratan China. Tepatnya Provinsi Hubei, Kota Wuhan jadi episentrum awal hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Tak ada negara yang luput, semua harus merasakan imbasnya. Saat pertama kali muncul ke media, Wuhan Peunomia tersebut membuat sejumlah negara waswas. Itu karena penyebaran dari manusia ke manusia, otomatis siapa saja tanpa gejala bisa tertular. Apalagi tergolong virus baru dari golongan SARS yang mengalami mutasi. 
Alhasil pencariannya di mesin pencari mendadak meroket, mulai dari mencari lokasi di mana Wuhan, apa itu virus hingga gejala yang ditimbulkan. Media sosial pun tak mau kalah dengan menampilkan kondisi di sana saat lockdown berlangsung. Artinya rasa penasaran membuat masyarakat dunia mencari tahu.

Hingga kemudian WHO menamai virus model baru tersebut dengan nama COVID-19. Setelah itu, dalam sekejap mampu menyebar ke seluruh dunia. Dunia yang dulunya hanya sebatas penasaran, kini menjadi waswas. Berbagai informasi coba digali, memang awalnya sedikit simpan siur. Bahkan jadi ladang hoaks  buat mereka yang tak bertanggung jawab.

Setelah trending tersebut, berbagai informasi hadir apalagi di era internet. Kita bisa mendapatkan informasi yang beragam sesuai dengan apa inginnya. Karena itulah butuh filter diri dalam menyerap itu semua, karena ada banyak informasi dari tulisan, gambar, bahkan video. Tak mampu saring sebelum sharing bisa menjadi ladang hoaks.

Baiklah... setelah kejadian tersebut, trafik dari pencarian Google meningkat drastis. Pencarian meningkat hingga 3.840 persen. Pastinya ini lonjakan yang sifatnya global, makin besar daerah tersebut kasus maka makin tinggi lonjakan trafik tersebut.

Pencarian paling fenomenal seperti cara “penyebaran virus corona” hingga “cara pencegahan corona”. Artinya saat itu masyarakat mulai waswas. Cara preventifnya dilakukan dengan mengetahui virus tersebut terdahulu. Gejala awal, bagaimana penyebaran hingga pencegahan andai saja masuk ke Indonesia. 
Memang awalnya masyarakat kita begitu apatis, ditambah lagi pemerintah yang menganggap sepele. Saat kasus pertama diumumkan. Saat itulah masyarakat panik, mulai dari panic buying, berita hoaks hingga konspirasi yang dibalut rapi oleh orang tak bertanggung jawab.

Pencarian Google mungkin bisa sedikit menjawab keraguan, meskipun ada banyak informasi yang kurang tepat. Akan tetapi dengan banyaknya konten yang baik dan dibutuhkan oleh pembaca, informasi bias tenggelam dari halaman pertama Google.

Ada sejumlah cara memang, pemerintah kini melakukan tes Swab terhadap orang yang diduga terjangkit COVID-19. Bila sebelumnya proses tracing dan tracking tergolong gampang, namun kini makin sulit karena mobilitas manusia yang begitu besar. Artinya pemerintah sudah telat dalam mengantisipasinya, penyebaran virus sudah pasti sangat cepat dan tak terkontrol.

Alasan itulah yang membuat butuh cara jitu dalam melacaknya. Mulai dari melakukan tracing, tracking, dan Big Data. Hanya saja cara ini tak cukup, karena interaksi manusia tidak sepenuhnya berhasil dikontrol. Bayangkan saja, seorang pedagang yang terpapar. Ia sudah berinteraksi dengan begitu pelanggannya, kontak langsung hingga akhirnya ia jatuh sakit.

Varian ini sangat sulit dilacak, apalagi si pedagang dan pembeli sama-sama tidak menggunakan masker. Otomatis penyebaran makin masif, cara tracing dan tracking seakan makin sulit. Ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Google Trends, Solusi Jitu Melacak Kebiasaan Pengguna
Selama ini Google Trends mungkin begitu identik dengan pencarian kata kunci buat konten kreator. Trends yang terjadi bulanan, mingguan atau bahkan harian jadi acuan mereka dalam membuat konten. Bahkan ia bisa mencari tahu seberapa banyak orang mencari kata kunci tersebut pada mesin pencarian.

Tak hanya mengacu pada Google saja, sebut saja Youtube selaku divisi yang membawahi menjadi pencarian alternatif pengguna internet. Semuanya mengacu pada Google Trends. karena mampu menampilkan beragam topik  yang sedang tren saat itu. Bahkan Google Trends mampu menurut hingga sebuah kota sekalipun dalam jangka waktu tertentu.

Kata kunci pencarian jadi acuan yang bisa dipakai di suatu negara dan bahasa. Ada banyak yang bisa digali dari informasi tersebut. Bagi para konten kreator seperti Blogger, kata kunci ini sangat berguna dalam referensinya dalam membuat konten. Makin banyak pencarian, otomatis makin banyak pengunjung yang datang di blognya.

Google selaku otoritas tertinggi pastinya punya semua data tersebut, apalagi kini Google sudah memiliki data center di Indonesia. Pencarian kunci yang ada di ruang lingkup Indonesia akan diproses dan menjadi acuan untuk saat ini.

Bahkan data tersebut bisa digunakan dalam melacak persebaran COVID-19. Pemerintah pun mulai kelabakan karena penyebarannya mulai tak terkontrol, melalui Big Data dari Google solusi ini bisa lengkap selain mengandalkan Tracing dan Tracking saja. Sejumlah kata kunci yang meningkat pencariannya dalam beberapa minggu terakhir: 

Seberapa tepatkah Google Trends perannya dalam Pandemi
Memang tidak terlalu akurat, karena pencarian saja tanpa mengacu data saja tak cukup. Ada banyak orang yang mengalami rasa takut berlebih bahkan di daerah yang belum terpapar COVID-19, sedangkan yang berada di zona merah masih merasa aman-aman saja.

Salah satunya apa yang Google terapkan dalam aplikasi bernama Google Flu Trends (GFT). Aplikasi ini punya peran khusus yaitu dalam mendata gejala Flu yang ada di masyarakat. Aplikasi ini lahir karena penyakit flu punya dampak berbahaya bagi masyarakat. Dalam dua dekade terakhir, Dunia sudah empat kali mengalami endemi hingga pandemi flu. Mulai dari SARS, Swine Flu, MERS, dan terbaru ada COVID-19.

GFT bertujuan dalam melakukan pemetaan terhadap lokasi flu. Hanya saja proses pemetaannya malah membingungkan karena muncul istilah lainnya yang tak ada kaitannya dengan flu tersebut. Apalagi GFT sulit mengelompokkan flu secara spesifik, ada begitu banyak flu bahkan flu bisa saja punya berapa turunan. Alhasil data dari GFT hanya digunakan sampel saja tapi tidak bisa mencari korban yang terpapar. Sama halnya dengan pencarian kata kunci di mesin pencari.

Metodenya cukup baik menurut saya, karena GFT mampu melacak alamat IP, volume pencarian sebuah kata kunci. Ini lebih baik angka dasar sebuah wabah hingga pada puncak pandemi. Hanya saja masih kurang akurat karena cakupannya begitu luas. Apalagi sangat bila virus sudah ada di tengah masyarakat, setiap korban yang sakit seakan merasakan gejala COVID-19 padahal hanya flu biasa. Atau bahkan tanpa gejala.

Nah... hasil tersebut nantinya akan dimasukkan pada Center for Disease Control (CDC) melalui proses monitoring flu pada laboratorium. Investasi Google pada hal ini cukuplah besar dan kompleks, meskipun masih kurang akurat. Ini sama saja pemerintah mencurigai semua warganya terpapar, sehingga proyek ini hanya sebatas riset ilmu semata.

Meskipun begitu, Google mencoba menyempurnakannya yaitu dengan menggunakan model ARGO atau AutoRegression with Google Search Data. Nah... dengan begitu data pencarian akan lebih fokus tanpa gangguan khususnya terkait pencarian pada penyakit tertentu. Khususnya dalam implementasi dengan data CDC, sehingga pasien atau bahkan orang tanpa gejala bisa terlacak dengan jelas. Pemerintah bisa menyiapkan tes di area tersebut atau karantina wilayah agar memperkecil ruang gerak virus.

Kolaborasi Google dan Apple dalam Menekan Pandemi
Selama ini kedua perusahaan ini sangat bersaing di dunia Big Data pengguna. Tapi persaingan ini coba dihilangkan sejenak khususnya mengenai urusan kemanusiaan dan kesehatan. Target utama dalam melakukan pelacakan mandiri terhadap riwayat kontak. Aplikasi ini memang dalam proses pengembangan dan akan diluncurkan di awal Bulan Mei.

Caranya adalah dengan menggunakan Bluetooth yang terhubung dengan ponsel pengguna. Pasti semua sudah tahu bahwa ekosistem terbesar ponsel saat ini dipegang oleh Android dan IOS. Kini mereka berkolaborasi agar pandemi tersebut bisa segera usai. 
Menggunakan pelacakan internet yang digunakan pengguna, saat interaksi dengan orang lain. Syaratnya ia harus menggunakan aplikasi serupa, mungkin saja ada anjuran agar pengguna menggunakan aplikasi serupa. Pelacakan akan dilakukan khususnya mereka yang saling berinteraksi, internet akan melakukan proses Tracking Key berupa kode unik melalui Bluetooth.

Nah... data tersebut akan tersimpan pada cloud ponsel pengguna, internet di sana akan mengirimkan data dari setiap interaksi. Tiap harinya ada namanya Daily Tracing Key berupa data berbentuk enkripsi. Google dan Apple selaku penyedia pun sudah bekerja sama dengan otoritas kesehatan negara tersebut. Ia akan menampilkan siapa saja si penderita positif COVID-19 melakukan kontak. 
Aplikasi tersebut akan memberikan sebuah arahan bagi pengguna lainnya agar menghindari pengguna positif. Pemberitahuan serupa pun diberikan pada korban supaya mengkarantina diri sampai tim medis datang ke rumahnya. Tujuannya agar memutuskan kontak dengan orang lainnya yang makin memperluas persebaran virus.

Hanya saja kekurangan aplikasi ini adalah memastikan pengguna menginstal aplikasi tersebut. Bisa melalui edukasi yang pemerintah berikan dan saat keluar rumah harus membawa ponsel untuk proses tracing saat interaksi dilakukan. Bila tidak, hasilnya sia-sia dan bahkan terus meningkat.

Indonesia Menekan COVID-19 dengan PeduliLindungi
Sejumlah negara dianggap berhasil melacak persebaran virus dengan aplikasi bluetoot, salah satunya China. Mereka punya aplikasi yang didesain langsung oleh anak perusahaan Alibaba yakni AliPay Health Pay menggunakan Big Data yang terkoneksi langsung pada sistem Alibaba dan pemerintah China. Data ini berguna dalam mengabarkan masyarakat lainnya dan media mengenai konfirmasi pasien positif di sana.

Bukan hanya Alipay Health Pay saja, ada aplikasi lainnya yang digunakan lebih luas dalam mengatasi COVID-19 yaitu Jian Kang Bao (sehat itu harta karun). Aplikasi yang terkoneksi langsung pada pusat data kesehatan di China. Proses mendaftarnya pun sangat mudah hanya bermodal KTP atau KK setiap pengguna. Langsung tersambung pada sistem Big Data yang ada di Jian Kang Bao.

Indonesia tak mau ketinggalan, selain sudah meleknya masyarakat juga ada banyak startup dan pengembangan dari anak negeri. Mereka bisa membuat aplikasi serupa, menyaingi buatan perusahaan raksasa teknologi dunia. Indonesia hadir dengan  PeduliLindungi.

Secara konsep hampir serupa, hanya saja aplikasi ini ditujukan dalam hal pergerakan pasien positif, kepada siapa saja ia berinteraksi bahkan jarang radius dengan orang lain tertera pada aplikasi ini. Jarak amannya adalah 2-5 meter, serta mencatat pergerakan ponsel lainnya berada di dekatnya. Ada kode unik sehingga privasi pengguna cukup terjaga berbentuk Barcode yang tertera di ponsel.

Prosesnya menggunakan Bluetooth, setiap pengguna yang dianggap positif nantinya akan mengirimkan kode identitasnya pada basis data pusat, sebelum nantinya akan ditindak oleh pihak medis. Memang aplikasi menggunakan Bluetooth tapi dengan penerapan rendah daya sehingga tak menguras baterai seperti untuk mengirim file atau bahkan terkoneksi dengan perangkat lainnya.

Lalu muncul pertanyaan, mengapa tidak langsung saja dengan internet? Sifat Bluetooth bisa digunakan secara offline sekalipun. Sehingga semua pengguna yang tidak memiliki kouta yang melakukan perjalanan tetap bisa terlacak.  Bahkan mengelompokkan yang mana PDP dan ODP. Ini sangat membantu khususnya bagi pasien yang tidak ingat riwayat kontak.
Terakhir tentu saja rasa aman, bila aplikasi yang menggunakan Bluetooth sudah pasti sangat berkaitan dengan privasi. Pelanggaran privasi bisa saja terjadi, otomatis data pengguna bisa terancam bahkan disalahgunakan. PeduliLindungi menjamin data pengguna tetap aman karena menggunakan enkripsi. Serta data hanya bisa diakses bila pengguna butuh pertolongan serta segera menghubung pihak medis.

Melacak melalui internet dan aplikasi kini sedang marak dilakukan, ini dianggap cukup efektif karena kebiasaan manusia yang menggunakan ponsel. Aktivitas mereka bisa menggambarkan segala hal, mulai dari pencarian kata, perpindahan lokasi hingga paling penting interaksi kepada siapa saja. Ini dianggap bisa menekan angka penyebaran bahkan melakukan penguncian virus pada lokasi yang tepat.

Memang teknologi tidak ada yang sempurna, tapi teknologi bisa membantu manusia menghilangkan pandemi lebih cepat. Agar kehidupan normal bisa kembali dimulai seperti sediakala. Semoga tulisan ini menginspirasi Anda dan Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer