Tuesday, August 15, 2023

Kemerdekaan Langit Indonesia dari Karhutla

Angin kencang pembawa gelombang panas dan tahun ini gelombang panas bertahan cukup lama di Nusantara. Membuat suhu naik drastis, semuanya merasakan kepanasan. Keluar rumah jadi malas, malam pun harus ditemani oleh kipas angin atau pun AC.

 

Fenomena gelombang panas sebenarnya belum selesai, itu baru dampak awal. Ada beragam bencana lanjutan yang terjadi. Gelombang panas tersebut terjadi El-Nino yang cukup besar terjadi di tahun ini.

 

Fenomena El Niño dapat memiliki dampak signifikan terhadap cuaca dan iklim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dan dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko kebakaran hutan.

 

Awal mula yang paling dirasakan tentu saja kemarau ekstrem. Dampaknya selama periode El Niño dapat membuat vegetasi lebih rentan terhadap kebakaran, karena tanaman dan lahan menjadi lebih kering. Sedikit saja ada gesekan yang menimbulkan api. Ada ratusan hingga ribuan hektar lahan yang terbakar hebat hanya dalam hitungan jam.

 

Itu berlanjut dengan peningkatan suhu, lahan akan mudah terbakar dan manusia dan habitat akan merasakan peningkatan suhu yang ekstrem dalam waktu lama. Itu diperparah dengan pola curah hujan yang tak menentu.

 

El Niño dapat mengganggu pola curah hujan yang normal, menyebabkan variasi dan ketidakpastian dalam distribusi hujan. Beberapa wilayah dapat mengalami curah hujan yang lebih rendah dari biasanya, meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran.

 

Tentu saja, kondisi lahan gambut rentan. Sifatnya yang sensitif terhadap perubahan suhu dan curah hujan. El Niño dapat menyebabkan penurunan air permukaan di lahan gambut, membuatnya lebih rentan terhadap kebakaran yang sulit dikendalikan.

 

Alhasil ada banyak penyebaran asap. Ia mampu menghasilkan asap dan partikel halus yang dapat mencemari udara. Ini dapat menyebabkan masalah kesehatan pernapasan pada manusia serta mengganggu transportasi udara dan aktivitas ekonomi.

 

Hadirnya El Niño dapat memperburuk kondisi dan risiko kebakaran hutan di Indonesia. Upaya pencegahan, mitigasi, dan penanggulangan kebakaran harus ditingkatkan selama periode El Niño untuk melindungi lingkungan, kesehatan manusia, dan keberlanjutan ekosistem.

 

Indonesia dan Keragaman Hayati yang dimiliki

Sejak dulu Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati. Namun dalam beberapa dekade terakhir populasi spesies endemi terancam punah. Menurut data yang dimiliki Badan Pusat Statistika tahun 2017, jenis satwa yang terancam punah yaitu harimau Sumatera, gajah Sumatera, badak, banteng, owa, orang utan, bekantan, komodo, jalak bali, maleo, babi rusa, anoa, elang, tersitus, dan monyet hitam Sulawesi.

 

Sebagai catatan bahwa, Indonesia jadi negara No. 1 untuk jumlah mamalia (515 spesies) dan palma (400 spesies), No. 3 untuk reptil (600+ spesies), No. 4 untuk burung (1519 spesies) dan No. 5 untuk amfibi (270 spesies).  Itu bisa saja bertambah karena masih ada sejumlah spesies yang terdata secara keseluruhan.

Rata-rata jumlah dari masing-masing spesies tersebut di bawah 2000 ribu ekor. Hanya komodo yang tercatat masih ada 5.954 ekor pada tahun 2017. Apabila tidak di lindungi, maka satwa tersebut bisa terancam punah sepenuhnya pada tahun yang akan datang.

 

Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya adalah di samping memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia mempunyai areal tipe Indomalaya yang luas, juga tipe Oriental, Australia, dan peralihannya. Selain itu di Indonesia terdapat banyak hewan dan tumbuhan langka, serta hewan dan tumbuhan endemik.

 

Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia ini terlihat dari berbagai macam ekosistem yang ada di Indonesia, seperti: ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem padang rumput, ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem air tawar, ekosistem air laut, ekosistem sabana, dan lain-lain. Masing-masing ekosistem ini memiliki keanekaragaman hayati tersendiri.

 

Hutan di Indonesia merupakan bioma hutan hujan tropis atau hutan basah, dicirikan dengan kanopi yang rapat dan banyak tumbuhan liana (tumbuhan yang memanjat), seperti rotan. Tumbuhan khas Indonesia seperti durian, Mangga, dan Sukun di Indonesia tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi.

Di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa terdapat tumbuhan endemik Rafflesia. Tumbuhan ini tumbuh di akar atau batang tumbuhan pemanjat sejenis anggur liar, yaitu Tetrastigma. Bagaimana dengan wilayah Indonesia bagian timur? Apakah jenis tumbuhannya sama? Indonesia bagian timur, tipe hutannya agak berbeda. Mulai dari Sulawesi sampai Irian Jaya (Papua) terdapat hutan non-Dipterocarpaceae.

 

Hutan ini memiliki pohon-pohon sedang, di antaranya  beringin, dan matoa. Pohon matoa merupakan tumbuhan endemik di Irian. Selanjutnya fauna di Indonesia. Hewan-hewan di Indonesia memiliki tipe Oriental (Kawasan Barat Indonesia) dan Australia (Kawasan Timur Indonesia) serta peralihan.

 

Hewan-hewan di bagian Barat Indonesia (Oriental) yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama ada spesies mamalia yang berukuran besar, misalnya gajah, banteng, harimau, badak. Mamalia berkantung jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.

 

Lalu ada berbagai macam kera, misalnya: bekantan, tarsius, orang utan. Terakhir ada  hewan endemik, seperti: badak bercula satu, binturong, monyet, tarsius, dan kukang. Lalu pada jenis burung serupa juga misalnya saja jalak bali, elang Jawa, murai mengkilat, elang putih. Di Papua memiliki hewan mamalia berkantung, misalnya: kanguru, kuskus, dan burung Cenderawasih. Di Nusa Tenggara, terutama di pulau Komodo, terdapat reptil terbesar yaitu Komodo.

 

Bentang alam Indonesia mengikuti Garis Wallacea, Garis Weber dan Garis Lydekker. Adanya perbedaan ini membuat keanekaragaman hayati menjadi sangat tinggi. Inilah yang membuat Indonesia Bersama Brazil dan Zaire punya keanekaragaman hayati yang sangat besar.

 

Karhutla, Bukan Hanya Perubahan Iklim Tapi Ulah Kita

Sejak awal peradaban manusia dimulai, saat itulah bumi mulai dieksploitasi secara terus-menerus. Bila dulunya manusia mengeksploitasi bumi hanya sebatas keperluan bertahan hidup. Namun di era modern bumi dieksploitasi untuk kebutuhan bisnis dalam sekala besar dan masif.

 

Efeknya terlihat dengan banyaknya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Bila dulunya kayu yang digunakan manusia hanya itu kebutuhan dapur saja. Kini hutan kayu dibabat habis untuk kebutuhan industri skala besar dan bahkan menghilangkan begitu banyak lahan buat satwa liar di dalamnya.

 

Tahun 2019 bisa dibilang tahun yang kelam, dalam satu dekade terakhir kebakaran hutan di tahun 2019 jadi yang terparah. Malahan mengalahkan tahun 2019 yang disinyalir jadi terparah sepanjang sejarah Republik ini berdiri. Ada sebanyak 1,6 juta hutan dan lahan yang terbakar, menghasilkan begitu banyak karbon ke atmosfer, membunuh satwa hingga masalah pernapasan parah pada manusia.

 

Sering kali kita berpikir bahwa kejadian ini dianggap puncak musim kemarau yang terjadi di tengah tahun. Faktor seperti El-Nino dianggap sebagai salah satu pemicu kebakaran hebat di nusantara. Namun nyata itu hanya faktor semu dan kecil. Semua itu terjadi nyatanya ada pengaruh besar manusia di belakangnya. Mengubah lahan dengan cepat dan murah dari dan dengan cara membakar.

 

Bila ditotal dalam 5 tahun terakhir saja, ada 5,7 juta lahan yang terbakar dengan kerugian ditaksir hingga 73 triliun. Melepaskan miliaran zat karbon ke Atmosfer dan tentu saja menaikkan iklim global bila tak ditanggulangi secara tepat. Luas hutan yang terbakar itu bahkan mengalahkan kebakaran hutan yang ada di Amazon dan Australia di tahun 2020.

 

Memangnya di Indonesia, pulau apakah yang paling banyak mengalami karhutla?

Sumatera dan Kalimantan jadi yang terdepan menyumbang daerah yang terbakar. Sedangkan di Papua, Sulawesi, dan Jawa relatif sedikit karena berbagai hal. Papua dan Sulawesi masih minim aktivitas yang mengarah pada kebakaran hutan.

 

Di sana lebih identik dengan penambangan dan eksploitasi hasil alam. Sedangkan di Jawa dipengaruh dengan minimnya lahan yang bisa diubah oleh para perusahaan atau instansi yang terkait dalam eksploitasi lahan dan hutan.

 

Proses pemadamannya pun sangat sulit, apalagi ditambah medan yang jauh dan sulit menemukan sumber air membuat proses kebakaran lahan bisa berminggu-minggu untuk dipadamkan. Dapur asap gambut sangat sulit dipadamkan hanya mengandalkan air. Terkadang butuh rekayasa hujan buatan atau menunggu musim penghujan tiba.

 

Pernapasanku Sesak Akibat Karhutla

Kini di musim tertentu, langit dan udara berubah jadi putih. Bila di pagi hari terlihat seperti kabut sedangkan di malam hari terlihat bagaikan embun.  Dampaknya terlihat jelas dari terjadinya pencemaran udara yang menghasilkan asap, partikel halus, dan gas beracun seperti karbon monoksida (CO).

 

Efek lanjutan berupa gangguan Kesehatan, pemaparan jangka panjang terhadap asap dan partikel dari karhutla dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, seperti asma, bronkitis, dan infeksi saluran pernapasan atas. Bayi, anak-anak, dan orang tua lebih rentan terhadap dampak kesehatan ini.

 

Itu belum lagi dampak dari kerugian ekonomi, Karhutla dapat merusak tanaman pertanian, perkebunan, dan hutan yang digunakan untuk sumber daya kayu atau non-kayu. Ini dapat mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani, pekerja hutan, dan sektor pertanian.

 

Tak berhenti di situ saja, ada lingkungan yang rusak akibatnya. Mengganggu keanekaragaman hayati. Biodiversitas dapat hilang akibat kebakaran, mengancam spesies tumbuhan dan hewan yang khas dari wilayah tersebut.

 

Salah satunya adalah kerusakan lahan gambut, Lahan gambut adalah ekosistem penting yang menyimpan karbon dalam jumlah besar. Kebakaran di lahan gambut dapat melepaskan karbon dioksida ke atmosfer, berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim.

 

Ada banyak dari keanekaragaman hayati yang terancam. bahkan sampai pada tingkat kepunahan. Karhutla harus ditindak dengan tegas. Bila nantinya kita makin sulit bernapas dan harus duduk lama di rumah akibat asap yang merajalela.

 

Awal Mula Wabah berawal dari Rusaknya Hutan

Masalah wabah dan pandemi sering sekali dikaitkan dengan urusan medis saja. Nyatanya ada pemicu yang membuat banyak wabah zoonesis yang kemudian menular antar manusia. Apakah itu dari hewan dan tumbuhan, sifat manusia awal yang suka berburu berbagai binatang liar tak jarang membuat berbagai bakteri dan virus terkontaminasi ke manusia.

 

Penyakit itu kadang menyebar dari satu manusia yang memakan satwa liar ke manusia lainnya. Berdampak dengan banyaknya manusia yang harus jatuh sakit dan bahkan meninggal. Kala itulah wabah mulai muncul, nyatanya virus kadang dari hewan peliharaan yang dekat manusia.

 

Di era modern, satwa liar hidup secara soliter dan jauh dari manusia. Ada banyak aktivitas deforestasi yang berdampak pada satwa liar. Berdampak pada muncul virus baru yang menyerang manusia, kebanyakan adalah spesies langka atau hampir punah. Tepatnya, hewan dengan populasi yang terus menurun akibat eksploitasi manusia.

 

Di Asia tenggara sendiri, hal tersebut sempat terjadi di medio 90-an saat virus Nipah yang berasal dari kelelawar pemakan buah. Kelelawar yang masih disantap oleh sejumlah masyarakat pedalaman berdampak pada penyebaran virus Nipah. Efek kematian cukup tinggi hingga 75% kasus, namun berhasil diredam sebelum menjadi pandemi global.

 

Selanjutnya, menurut laporan Program Lingkungan PBB yaitu UNEP, menegaskan bahwa 60 persen penyakit menular yang diderita manusia berasal dari satwa. Angka itu bertambah hingga 75 persen jika memasukkan penyakit varian baru. Sudah pasti jauh berbahaya dan mematikan, semuanya terjadi dalam beberapa dekade terakhir.

 

Jenis satwa yang berbagi virus dengan manusia kebanyakan adalah spesies langka atau hampir punah. Tepatnya, hewan dengan populasi yang terus menurun dan kehilangan habitat akibat eksploitasi manusia. Belum lagi kebiasaan sejumlah masyarakat yang menyukai makanan ekstrem tersebut sebagai menu wajib kuliner mereka. Berdampak proses perpindahan virus bisa berlangsung sangat cepat.

 

Virus seperti Ebola berasal dari kelelawar pemakan buah, HIV berasal dari hewan simpanse di Afrika, flu burung  berasal dari unggas, Zika berasal dari nyamuk di daerah tropis di hutan hujan Brazil. Lalu MERS berasal dari unta di semenanjung Arab dan tentu saja SARS yang menjadi turunan Covid-19 yang berasal dari kelelawar.

 

Ada sejumlah kemunculan penyakit zoonesis tersebut nyata banyak sebabnya dari perubahan lingkungan atau gangguan ekologi dampak aktivitas manusia. Misalnya saja pengubahan hutan menjadi lahan pertanian, pembakaran hutan, menghilangkan sumber makanan satwa, dan lain sebagainya.

 

Skala yang terjadi bukan hanya satu wilayah saja, tapi meluas dan terjadi di seluruh dunia. Akibatnya terjadi benturan antar spesies yang menjadi korban. Misalnya satwa liar jumlahnya menipis dan cenderung punah. Sedangkan manusia bisa merasakan dampak tak kasat mata, salah satunya kontaminasi penyakit jenis baru.

 

Salah satu pangkal masalahnya adalah deforestasi. Hutan ditebas demi membuka lahan pertanian atau peternakan intensif. Habitat tergusur, memaksa satwa liar masuk jalan hidup manusia. Saat itulah tabrakan terjadi antara manusia dan satwa liar. Lalu juga hewan peliharaan kerap jadi penghubung perpindahan patogen dari satwa liar ke manusia.

 

Nantinya hewan tersebut bisa saja tertangkap, dipelihara atau bahkan disantap. Selamat datang virus baru, dalam sekejap menyebar dari sekedar wabah lalu membesar hingga sampai ke tahap ini. Inilah yang terjadi di akhir tahun 2019 saat pasar buah dan hewan di Kota Wuhan membawa virus yang membuat kita merasakan lebih dari 2 tahun menjaga jarak antar sesame manusia.

 

Cegah Karhutla Melalui Beragam Cara Tegas

Kebakaran sering kali digunakan untuk membersihkan lahan hutan atau lahan gambut untuk pertanian, perkebunan, atau pembangunan infrastruktur. Pembukaan lahan dengan metode pembakaran yang tidak terkontrol dapat dengan mudah memicu kebakaran yang merembet.

 

Ragam kegiatan ini berdampak besar pada karhutla secara lingkup kecil hingga cakupan besar yang bisa mencemari wilayah NKRI dan bahkan negara orang lain. Kegiatan yang dilakukan mulai dari praktik pembukaan lahan, aktivitas pertanian dan perkebunan, faktor alam seperti kekeringan serta perubahan iklim hingga tidak mematuhi larangan.



Kombinasi dari beberapa faktor di atas dapat menyebabkan karhutla. Jelas sangat dampak serius terhadap lingkungan, termasuk kerusakan hutan yang penting untuk keseimbangan ekosistem dan perubahan iklim global. Oleh karena itu, pencegahan dan penanggulangan karhutla merupakan hal yang sangat penting.

 

Harus ada sejumlah cara dalam mencegah dan memutusnya. Memang tidak bisa 100% bebas karhutla tapi ada sejumlah cara yang pemerintah, korporasi, dan Masyarakat lakukan. Mulai dari Penegakan hukum yang ketat. Adanya langkah-langkah tegas dalam penegakan hukum terhadap praktik pembakaran hutan dan lahan ilegal. Sanksinya tegas dan berat bagi yang melanggar.

 

Harus adanya pendidikan dan kesadaran masyarakat, cara ini berupa kampanye penyuluhan dan edukasi di sekolah-sekolah, media massa, dan komunitas dapat membantu mengubah perilaku dan mendorong partisipasi aktif dalam mencegah kebakaran. Serta adanya kolaborasi ini dapat memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan.

 

Pengembangan Teknologi dan Sistem Pemantauan: Penggunaan teknologi seperti satelit dan sistem pemantauan dapat membantu mendeteksi dini kebakaran hutan dan lahan. Informasi ini dapat digunakan untuk merespons secara cepat dan mengambil tindakan pencegahan lebih lanjut.

 

Praktik pertanian dan pengelolaan lahan yang berkelanjutan dapat membantu mengurangi risiko kebakaran. Pemberdayaan petani dan masyarakat lokal dalam penggunaan lahan yang bijaksana dapat mengurangi risiko kebakaran yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

 

Tak hanya itu saja disusul dengan program restorasi hutan dan lahan dapat membantu memulihkan area yang terdampak oleh kebakaran. Pemulihan ekosistem yang rusak dapat mengurangi risiko kebakaran di masa depan.

 

Konsep ini juga berbarengan dalam peningkatan kapasitas pemadam kebakaran. Andai saja di sejumlah titik tersebut terjadi kebakaran lahan. Petugas di sana bisa bersiap memadamkannya secara cepat.

 

Teknologi dalam Menyelamatkan Lahan Gambut

Pemantauan lahan gambut merupakan hal penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem gambut, mencegah terjadinya kebakaran, dan mengurangi dampak perubahan iklim. Teknologi modern telah membantu dalam mengembangkan cara-cara yang lebih efektif dan canggih dalam pemantauan lahan gambut.

 

Ini butuh perhatian lebih terutama gencarnya pembakaran hutan yang berdampak pada lahan gambut yang terus menipis. Pemantauan oleh manusia sering lolos dan baru disadari saat ribuan hektar lahan telat terbakar.

 

Memangnya bagaimana caranya?

Kolaborasi antara teknologi dan manusia adalah kekuatan besar dalam menjaga lingkungan. Cara ini cukup berguna saat ini terutama dalam memantau hutan yang sangat luas.

 

Misalnya paling baru adalah dengan cara Citizen Science dan Crowdsourcing. Dalam hal ini tentu saja melibatkan masyarakat atau relawan untuk mengumpulkan data melalui aplikasi dan platform online. Akan ada banyak cara memantau lahan gambut hingga pelosok secara efisien.

 

Ada banyak sensor yang bisa digunakan seperti saja sensor Jaringan Tanah. Tujuannya untuk mengukur suhu, kelembaban, dan kadar air dalam lahan gambut. Data dari sensor ini membantu pemantauan kondisi tanah secara langsung.

 

Apalagi sudah berkembang pesatnya teknologi IoT (Internet of Things). Setiap parameter jaringan sensor dan perangkat terhubung untuk memantau parameter penting seperti suhu, kelembaban, dan kualitas udara di lahan gambut.

 

Memangnya ada pemantauan secara jauh?

 

Jelas ada dan paling familiar adalah dengan penginderaan jarak jauh. Apakah itu menggunakan citra satelit atau drone. Metodenya dengan memantau luas lahan gambut, perubahan vegetasi, suhu permukaan, dan kelembaban. Serta juga bisa mengukur citra termal pada titik-titik panas yang akan menunjukkan kebakaran. Data yang didapatkan tentunya real-time tentang kondisi lahan gambut.

 

Semuanya teknologi tersebut terkoneksi dengan perangkat mobile yang memudahkan Masyarakat dan relawan bisa melakukan proses pencegahan dan pemadaman cepat. Data yang dikumpulkan dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang perubahan di lapangan.

 

Kombinasi dari berbagai teknologi ini dapat membantu pemantauan lahan gambut dengan lebih efektif, akurat, dan berkelanjutan. Pemantauan yang baik sangat penting untuk melindungi ekosistem lahan gambut yang rentan dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan yang serius.

 

Merdeka Penuh dari Karhutla, Cita-Cita Semua Masyarakat

Tak lama lagi Indonesia akan merayakan hari jadinya ke 78. Tantangan di era sangat ini makin banyak dan kompleks. Kemerdekaan kita miliki saat ini bukan lagi berjuang merampas kemerdekaan dari penjajah, namun kemerdekaan dalam hal lebih kompleks.

 

Salah satu yang paling mendasar tentu saja merdeka dalam mendapatkan udara bersih. Sesuatu yang kini sering jadi hambatan terutama saat musim kemarau tiba. Ada begitu banyak hutan dan lahan gambut yang terbakar.

 

Lahan yang terbakar menghasilkan polusi asap, membuat daya gerak masyarakat terhambat. Kita jadi tidak merdeka dan harus berdiam diri di rumah dalam waktu lama. Kemerdekaan kita bisa bepergian ke mana saja harus terhambat dengan di rumah saja atau bahkan memakai masker tebal saat keluar.

 

Tentunya akan ada banyak hal serupa yang akan dilakukan ke depan, pastinya banyak kejutan lainnya bersama Eco Blogger Squad. Apalagi membahas isu lingkungan tidak pernah ada habisnya, isu yang dulunya terlihat berat dan kaku, menjadi isu yang seksi dan menarik.

 

Penting bagi kita untuk terus berbagi konten tentang lingkungan dan memperkuat kesadaran lingkungan di masyarakat. Memulai hal kecil pada lingkungan berdampak besar dan Team up for Impact sudah melakukannya. Ayo jadi bagiannya.

 

Berbagai langkah telah diambil untuk mengatasi masalah ini dan mencapai "kemerdekaan" dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Upaya bersama dari semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, diperlukan untuk mencapai tujuan "Indonesia Merdeka dari Kebakaran Hutan dan Lahan".

Ayo bersama #BersamaBergerakBerdaya dalam hal #UntukmuBumiku dan tentunya Yuk #BersamaBergerakBerdaya menjaga hutan!"

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer