Wednesday, August 9, 2023

Mengembalikan Rekah Senyum Anak Aceh

 

Matanya nanar, menatap pasien anak bibir sumbing di ruangan operasi rumah sakit. Ia pun sibuk minta ampun melihat pasien yang gugup dan menangis saat ingin di operasi. Satu sisi, ia mencoba menenangkan orang tua pasien yang berhasil dihimpunnya yang tersebar dari seluruh Aceh.

 

Mereka umumnya telah tiba beberapa hari di Kota Banda Aceh, tersebar luas hingga pelosok Aceh. Bahkan sebelumnya banyak orang tua yang belum pernah sampai ke Banda Aceh. Kini bisa tiba sembari membawa buah hati tercinta.

 

Rahmad saat itu begitu sibuk mengurusi pasien yang akan mendapatkan giliran operasi. Mulai dari berbicara dan menenangkan orang tua sang anak hingga berkomunikasi intens dengan para dokter yang terlibat dalam proses operasi bibir sumbing.

 

Sehari sebelumnya, anak-anak diharuskan puasa sebelum menjalani operasi. Ada banyak wajah tegang dari para orang tua. Apalagi sang anak yang masih kecil dan makin cepat dilakukan proses operasi bibir sumbing, makin bagus dan di saat ia besar. Bekasnya tak terlihat lagi.

 

Semuanya berakhir melegakan, saat anak-anak yang telah dioperasi sudah diperbolehkan pulang. Wajah cemas orang tua seakan berganti dengan rasa ceria. Anak-anak yang tadinya tidak perbolehkan makan selama beberapa waktu sebelum operasi kini bisa makan.

 

Kini tinggal menunggu proses kesembuhan dan melihat senyum dari anak-anak penderita bibir sumbing. Saat sembuh, sang bayi nantinya di kala besar, bekas operasinya akan hilang. Harus penanganan operasi cepat serta tindakan awal yang dilakukan oleh Rahmad seakan membantu orang tua sang anak.

 

Rahmad pun senangnya minta ampun karena tugasnya hari itu selesai. kini ia bergegas melakukan aksi serupa di tempat lainnya di Aceh. Ada banyak pasien lainnya yang butuh penanganan serupa. Ia pun bergegas melakukan misi lainnya

 

Perkenalan Awal dengan Rahmad Maulizar

Di awal perkenalan, saya pun sedikit ragu dengannya, wajahnya tidaklah asing karena desa tempatnya tinggal di Meulaboh tidak jauh dengan rumah saya. Kami berasal dari generasi yang sama dan cukup mengenal dia semenjak duduk di bangku sekolah.

Seakan saya langsung “klik” dan nyambung diajak ngobrol panjang tentang profesinya. Apalagi pekerja sebagai relawan bibir sumbing sedikit nyambung dengan pekerjaan saya yang bergelut dengan UKM.

 

Bila Rahmad rela blusukan ke dalam pelosok wilayah untuk mencari pasien bibir sumbing. Sedangkan saya blusukan ke daerah sembari mencari UKM potensial.

 

Itulah perkenalan singkat dengan dirinya kala itu, ia sangat antusias terhadap bibir sumbing yang ada di seluruh kecamatan/kota di Aceh. Namanya panjangnya Rahmad Maulizar dan usianya sebaya dengan saya.

 

Segala dedikasinya panjangnya seakan ia kenyang pengalaman menjadi seorang pekerja sosial. Pilihan yang sangat sulit saat ini, banyak orang yang memilih pekerja kantoran dengan bayaran besar sedangkan Rahmad memilih jalan berbeda yang baginya menyentuh batinnya.

 

Ini pun bercerita panjang tentang pengalaman getir di masa kecil, kelamnya bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa desanya hingga akhirnya ia bertemu dengan dr. Jailani yang mengoperasinya dan membuat ia tergerak mengubah anak yang sama sepertinya menjadi normal sedia kala.

 

Bibir Sumbing, dari Penyakit Takhayul hingga Korban Perundungan

Dulu Rahmad hanyalah anak kecil yang menderita bibir sumbing. Ia terlihat berbeda dengan anak seumurannya dan ini jadi celah ia mendapatkan tindakan perundungan. Menjadi berbeda di kalangan anak-anak jelas sesuatu yang tidak mengenakkan khususnya secara fisik.

 

Masa kecilnya sering mengalami tindakan perundungan hingga masa remaja. Permasalahannya karena ia sulit berbicara. Menjadi seorang yang menderita bibir sumbing jelas sesuatu yang tidak mengenakkan.

 

Setiap ucapan yang diucapkan jadi bahan olok-olokan, jelas saja ini membuat mentalnya lemah. Apalagi dulu, bibir sumbing dianggap sebagai sesuatu aib yang tidak bisa diubah. Bahkan di daerah pelosok jadi lebih liar anggapan orang.

 

Menurut orang tetua terdahulu, penyakit ini karena adalah takdir Ilahi yang sulit diperbaiki. Efeknya bagi seorang anak yang menderita, ia akan diasingkan dalam pergaulan. Ini tidak baik karena berpengaruh pada mental dan psikis sang anak, dan Rahmad mengalami hal tersebut.

 

Rahmad lebih banyak menyendiri dibandingkan harus bergabung dengan teman-temannya dan mengurung diri adalah sebuah pilihan. Bahkan asal ia bicara di sekolah, teman-temannya selalu saja mengolok-oloknya karena nada suaranya.

 

Masa kecil yang berat makin terasa saat gempa bumi dan tsunami menimpa tanah rencong Teuku Umar meluluhlantakkan Kota Meulaboh. Rahmad adalah salah satu korban yang berhasil selamat dari amukan itu. Menghancurkan desanya dan membuat banyak teman-teman masa kecilnya hilang ditelan gelombang tsunami. 

Namun di situlah titik baliknya, bagaimana saat bala bantuan dari nasional dan internasional berdatangan. Membantu dan membuat Aceh terbuka pada publik, dari sebelumnya hanya daerah konflik di ujung Indonesia menjadi daerah prioritas utama bantuan gempa bumi dan tsunami 2004.

 

Ada banyak NGO datang dan salah satunya adalah tindakan orang tuanya memberanikan diri mengantarkan anaknya yang sudah remaja untuk mengoperasi cacat bawaan di bibirnya. Ada banyak anak bibir sumbing di Aceh saat itu yang tak tertangani dan kini ada sejumlah yayasan yang membantu dalam proses operasi bibir sumbing.

 

Akhirnya orang tuanya mendapatkan informasi mengenai keberadaan Yayasan yang bergerak di bidang penanganan bibir sumbing di Banda Aceh. Namanya Smile Train, yayasan yang peduli lebih terhadap penderita bibir sumbing di seluruh dunia.

 

Dokter yang terlibat menangani Rahmad pun bedah bibir dan merekonstruksikan langit-langit di bibirnya, membantu mengubah bentuk bibirnya seperti orang normal. Perlahan bibir sumbingnya hilang setelah menjalani serangkaian operasi.

 

Memang ada penyesalan karena pita suaranya tetap tidak sesempurna layaknya orang dewasa umumnya. Karena ia dioperasi saat sudah beranjak dewasa, lebih baik saat masih balita. Selain bekasnya hilang, serta si anak tidak kesulitan dalam berbicara dan harus mengikuti terapi bicara.

 

Waktu yang ideal adalah di periode 8 – 9 bulan. Bila terlambat penanganannya, berakibat pada kemampuan berbicara sang anak tumbuh dewasa. Si anak harus mengikuti terapi berbicara lagi dan bisa menghambat komunikasinya dengan teman-temannya.

 

Proses untuk penyembuhan pada celah bibir dan langit-langit juga berlangsung cepat. Sehingga saat sang anak tumbuh dewasa, ia tidak mengetahui saat masih kecil pernah menderita kelainan bibir sumbing.

Batas terbaik adalah saat masa balita, karena akan sangat minim bekas jahitan operasi. Memang batas akhir adalah sebelum usia 21 tahun, saat pertumbuhan terhenti. Tetapi sang anak akan kesulitan dari kemampuan berbicara, proses operasi yang sangat sakit, dan bekas luka yang sulit dihilangkan

 

Pengalaman pelik yang dialami saat masih remaja tidak ingin terulang kembali pada anak-anak Aceh. Tekadnya bulat, jangan sampai cacat lahir dari bibir sumbing seakan membuat anak-anak kecil tersebut kehilangan teman dan masa bermainnya.

 

Tekad Mengembalikan Senyum Anak Aceh

Ajakan tersebut datang dari dokter bedah yang mengoperasinya kala remaja lalu. Ia adalah dr. Jailani, hatinya makin kuat terketuk karena banyak anak-anak yang dibiarkan sumbing hingga dewasa. Perkenalannya berawal dari yayasan Smile Train yang membawahi berbagai aksi bibir sumbing di seluruh dunia.

Bagi kebanyakan orang tua, bibir sumbing adalah fenomena penyakit bercampur aib. Apakah buat sang orang tua dan tentunya buat sang anak. Para orang tua sudah rela akan yang terjadi pada anaknya dan sebagai cobaan ilahi. Inilah yang membuat banyak penderita bibir sumbing tidak mendapatkan penanganan optimal hingga usia dewasa.

 

Menurut data, dari 8 dari 1000 angka kelahiran di Indonesia memunculkan bayi penderita bibir sumbing. Data tersebut ternyata makin membesar di Provinsi Aceh. rata-rata dari 100 kelahiran akan ada tiga kelahiran yang menderita bibir sumbing. Jumlah ini dinilai cukup besar karena banyak dari pasangan orang tua sang bayi datang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

 

Masalah ekonomi seakan banyak orang tua yang mengurungkan niatnya membawa ke rumah sakit. Akses rumah sakit yang dianggap sulit dan pastinya memerlukan biaya tak sedikit, bahkan untuk pemenuhan kebutuhan saja sulit.

 

Anak yang tidak dioperasi pada usia balita pun akan mengalami tekanan psikis dan emosi dari lingkungannya. Ia akan minder dalam kehidupan sosial karena penampilannya yang berbeda. Belum lagi tutur ucapannya yang sulit dimengerti dan diterima di lingkungannya.

 

Pada pasien bibir sumbing yang ringan hanya tampak seperti celah kecil di bagian bibir atas, sementara bibir sumbing berat dapat terjadi di dua bagian bibir atas lalu membentuk celah sampai ke lubang hidung dan langit-langit atas mulut hingga menyebabkan kesulitan proses menghisap saat menyusu, sukar menelan, dan gangguan proses pernapasan.

Bibir sumbing hanya bisa diperbaiki melalui tindakan operasi namun penanganan ini relatif mahal karena tergolong operasi dengan tingkat kesulitan tinggi. Bagi penderita bibir sumbing yang berasal dari keluarga tidak mampu tentu saja hal itu akan sangat memberatkan mereka dan berbagai program operasi gratis merupakan sebuah solusi untuk permasalahan mereka ini.

 

Profesi Relawan, Wujud Pahlawan di Era Modern

Kini relawan ibarat pahlawan di era modern. Mereka rela turun ke pelosok desa, menyusuri jalanan terjal, hujan badai hingga mencari alamat sang anak. Tujuannya begitu mulai:  mengembalikan senyum anak-anak penderita. Ada rasa emosional dan kelegaan yang sulit diungkapkan melalui setiap aksi yang Rahmad lakukan.

Ia bercerita, rela membagikan banyak kartu nama, brosur, selebaran hingga spanduk ke dalam pelosok Aceh. Panggilan pun datang tak mengenal waktu dan bahkan ia rela datang jauh-jauh ke sana hanya itu satu anak penderita bibir sumbing. Apakah itu malam hari sekalipun, saat informasi sudah jelas, ia langsung bergerak ke sana.

 

Seakan ia mencoba mencari anak-anak yang menderita bibir sumbing hingga ke pelosok. Mendatangi satu persatu ke lokasinya, ia tidak percaya hanya kabar burung atau foto saja. Namun ia melakukan mediasi ke kediaman pasien yang akan dilakukan tindakan penanganan.

 

Bahkan nomor ponsel beliau sudah tersebar hampir ke seluruh pelosok Aceh. Mulai dari Puskesmas, perempatan jalan, kedai kopi, hingga berkoordinasi dengan bidan andai saja ada bayi yang lahir dalam kondisi bibir sumbing.

Semua itu coba dilakukannya sebagai wujud dedikasinya pada pasien bibir sumbing tanpa pamrih. Ia rela blusukan dari desa ke desa dengan motornya, kondisi alam yang berubah-ubah hingga medan yang berat bukanlah tantangan berarti.

 

Rahmad pun bercerita. Bila ia mendapatkan informasi bayi yang terindikasi bibir sumbing dan akan dilakukan proses kunjungan untuk melihat sang bayi, perkembangannya hingga proses administrasi sebelum dan sesudah operasi. Sang orang tua pun tenang dengan segala administrasi yang sudah Rahmad lakukan.

 

Tindak dari aksi turun tangannya ini mampu membantu masyarakat pelosok termasuk dalam aspek kesehatan. Sesuatu yang jarang diperhatikan, namun Rahmad melihat ini sebagai bentuk kepedulian yang bermula dari mencari pasien bibir sumbing.

 

Banyak orang tua pasien yang anaknya punya masalah bibir sumbing yang takut berobat ke rumah sakit. Selain karena anggapan biaya yang mahal, proses administrasi yang berbelit-belit hingga menganggap bibir sumbing ialah takdir yang tidak dapat diubah.

Saat saya bertemu dengannya, esok harinya ia harus menempuh perjalanan jauh membelah laut ke Kabupaten Gayo Lues di bawah kaki Gunung Leuser. Jarak bukanlah sebuah kendala, saat ada informasi bayi lahir bibir sumbing. Rahmad seakan bergegas ke sana, meskipun begitu berat perjalanan yang harus dilalui ke sana.

 

Rahmad Maulizar dan Gerakannya bersama Smile Train

Semua itu berawal dari ajakan liar dari salah satu dokter bedah yang mengoperasinya  kala remaja. Beliau adalah Dokter Jailani, membuat ia mengambilkan keputusan krusial dan  menguras emosi. Setelah menyelesaikan studi di salah satu kampus di Aceh Barat tahun  2015, ia membulatkan tekat jadi pekerja sosial yang menguras tenaga dan pikiran.

Hatinya makin kuat terketuk karena banyak anak-anak yang dibiarkan sumbing hingga dewasa. Perkenalannya berawal dari yayasan Smile train yang membawahi berbagai aksi bibir sumbing di seluruh dunia.

 

Rahmad menjelaskan pada orang tua sang anak untuk Tak perlu khawatir karena dari proses pemeriksaan kesehatan hingga pasca operasi, proses menginap yang dilakukan di Rumah Sakit Malahayati, Banda Aceh misalnya terhadap pasien di luar Kota Banda Aceh.

 

Semuanya ditanggung oleh pihak Smile Train., sedangkan untuk melayani pelayan  operasi  bibir sumbing tersebut, pihaknya juga menyediakan rumah singgah  bibir sumbing Aceh kepada masing-masing keluarga yang datang dari berbagai pelosok Aceh.

 

Perkembangan pesat Smile Train, membuatnya hadir di sejumlah rumah sakit di Provinsi Aceh. Dulunya hanya berada di Kota Banda Aceh dan berlokasi di Rumah Sakit Malahayati. Kini telah ada dua tempat lainnya yang berlokasi di Rumah Sakit Umum Tengku Pekan (RSUTP) di Blang Pidie, Aceh Barat Daya.

Total sudah lebih 7.000 anak Aceh yang sudah dilakukan penanganan operasi bibir sumbing dan celah langit-langit. Proses operasi akan dilakukan oleh Dr. Jailani selaku dokter bedah plastik, dan beliau tergabung di dalam 300 dokter di Indonesia selaku mitra Smile Train.

 

Pengalaman Berharga yang Melambungkan Nama Rahmad Maulizar

Semua itu makin berharga saat ia berhasil diundang ke sebuah acara fenomenal di Kick Andy sebagai tokoh inspirasi. Rahmad berhasil dikenal oleh orang lain dan bahkan di Meulaboh tempat tinggalnya tidak ada pekerja sosial. Pekerjaan yang tidak seksi itu seakan mampu menolong dan menginspirasi banyak orang.

Semua itu makin berharga saat ia berhasil diundang ke sebuah acara fenomenal di Kick Andy sebagai tokoh inspirasi. Ia seakan mengubah kekurangan pada dirinya sebagai motivasi untuk mereka yang menderita penyakit serupa. Selain membanggakan Aceh, ia juga memberikan inspirasi dari segala kekurangan pada dirinya sebagai motivasi untuk mereka yang menderita penyakit serupa.

 

Berkat dedikasinya pada begitu banyak pasien bibir sumbing hingga pelosok negeri. Bahkan Rahmad bercerita dalam seminggu bisa mendapatkan 7 sampai dengan 15 anak hingga menyasar desa paling dalam di pelosok Aceh.

 

Sesuatu yang jarang ditemukan untuk saat ini dan Rahmad Maulizar tergolong pahlawan si Bibir Sumbing yang mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk Aceh dan Indonesia bebas bibir sumbing. Rahmad pun belum puas, ada banyak tugas lainnya yang harus ia lakukan tak hanya bidang kesehatan namun bidang lain yang menjangkau masyarakat.

 

Jasa besar Rahmad Maulizar sebagai pekerja sosial sangatlah besar. Berawal dari pengalaman buruk yang pernah mengalami gejala bibir sumbing, kemudian beliau turut serta jadi garda terdepan. Mencari dan membantu setiap anak-anak yang mengalami nasib serupa, mengembalikan senyum mereka yang pernah hilang.

 

Rahmad Maulizar, Tokoh Inspiratif Satu Indonesia Award Bidang Kesehatan

Meskipun Rahmad bukan datang dari pendidikan Kesehatan, namun pengalaman masa kecilnya membuat ia jadi salah satu relawan di bidang kesehatan khususnya dalam menghimpun pasien bibir sumbing.

 

Dedikasinya yang dilakukan selama hampir 15 tahun sejak 2008 seakan membuat Rahmad Maulizar mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Salah satunya datang dari Astra yang punya program unggulan Satu Indonesia Award.

Rahmad pun menyabet sebanyak 2 kali apresiasi dari Astra, mulai dari Satu Indonesia Award tingkat Provinsi di tahun 2019 dan Satu Indonesia Award Nasional di tahun 2021. Prestasi ini adalah satu dari sekian banyak prestasinya di bidang kesehatan.

 

Ada banyak kegiatan lainnya yang ingin ia lakukan selain dari bidang kesehatan. Saat ini yang paling rutin adalah kegiatan kepedulian pada kaum duafa. Rahmad kerap membagikan nasi bungkus pada setiap Jumat berkah yang digalang dari para dermawan.

 

Cara ini dianggap membantu, karena di Meulaboh masih banyak kaum duafa. Melalui cara membagikan nasi bungkus di sejumlah tempat, beliau juga giat ikut dalam kegiatan dalam mendata masyarakat miskin yang perlu dibantu.

 

Sebenarnya, aksi bibir sumbing hanyalah shortcut kecil yang bisa membawa pada perubahan besar lainnya. Rahmad pun bercerita bagaimana dari mengetahui desa sang anak bibir sumbing. Ia bisa mengetahui banyak hal tentang kondisi kampung dan berbagai kebutuhan yang selama ini jarang dijangkau oleh pemerintah pusat dan bahkan daerah.

 

Inilah yang membuat hati Rahmad Maulizar tergerak, ia mencoba bergerak lebih. Salah satu caranya dengan mencalonkan diri sebagai calon DPD RI dari regional Aceh. Koneksinya sebagai relawan dan tentu saja membuatnya tahu apa yang masyarakat inginkan.

 

Pengalamannya yang hampir 15 tahun jadi relawan yang blusukan ke semua wilayah. Seakan jadi kesempatan membantu negeri lebih banyak. Tak hanya bidang kesehatan tapi kesejahteraan masyarakat pelosok yang selama ini sering pemerintah abaikan.

 

Bilanya dulu ingin memberikan senyuman pada anak dan keluarga bibir sumbing. Kini jalan yang lebih besar coba ia raih. Melalui jadi wakil rakyat, wujudnya memberikan lebih banyak senyum dan kepercayaan besar padanya. Harus diketahui, bahwa kita semua adalah #SemangatMajukanIndonesia #KitaSATUIndonesia.

Semoga tulisan ini menginspirasi kita semua, nantinya semesta akan membalas semua lelah kita menjadi secercah harapan besar. Semoga tulisan ini menginspirasi.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Part of EcoBlogger Squad

Part of EcoBlogger Squad