Tuesday, October 22, 2019

Leuweung Sancang, Paket Lengkap Jelajah Alam Garut

Sejak dulu Garut dan sekitarnya digambar bak negeri dongeng di atas pegunungan di Eropa Barat, Switzerland van Java. Itulah gambaran akan keelokannya hingga kini, hutan, persawahan, pantai, sungai hingga masyarakatnya begitu memesona.

Setiap jengkal objek wisata yang ada seakan menarik pengunjung untuk bisa menginjakkan kaki ke sana. Terbesit sebuah nama yang sejak dulu penuh dengan cerita dan panoramanya tetap terjaga, jauh dari tangan jahil yang mengubah ciptaan Sang Maha Kuasa. Tempat itu adalah Leuweung Sancang dan sejumlah cerita siap diukir andai bisa ke sana.

Mendengar nama Leuweung Sancang bagi masyarakat Garut seakan membuat bulu keduk bergidik ngeri. Cagar alam nan asri di sebelah selatan Garut memendam sejumlah kisah panorama dan mistis yang melegenda. Tak terkecuali para penikmat indah panorama pantai dan hutan hujan nan sejuk.

Lokasinya membuat siapa saja tertantang menyalurkan pengalaman jelajah alam dan hiking dalam satu paket lengkap. Nilai eksotisnya begitu kental, hutan rapat, pantai yang belum terjamah oleh manusia dan tentu saja gemercik air terdengar bak simfoni di sana.

Menjelajah alam siapa yang tak mau, menghabiskan akhir pekan dengan hiking dan bertualang ke dalam hutan. Merasakan aura ekowisata di dalamnya, Leuweung Sancang tak ada cela sedikit pun. Ia begitu sempurna buat siapa saja yang punya nyali dan tenaga, menjejakkan setiap tapak di cagar alam Leuweung Sancang.
Luasnya membentang seluas 2.157 hektar, tak termasuk bentangan perairan dan pantai hingga 1.150 ha. Menawarkan sesuatu yang menarik dalam satu paket jelajah cagar alam dari hutan tropis rapat dengan vegetasi tumbuhan keras, Hutan Mangrove dengan akar tunggal yang mencolok ke atas dan tentu saja pesona hutan pantai yang asri tanpa hingar-bingar manusia.

Suasananya seakan pengunjung sedang berada di sebuah Pulau terpencil yang kaya akan vegetasi. Pantulan warna merah maju dan warga hijau zamrud terlihat dari kejauhan, semua akibat jumlah beragam alga dan fitoplankton yang menyebar seakan memberikan warna-warni pada pantai saat diterpa sinar matahari.

Oh ini seakan sekeping alam surga dan seakan keindahan dunia ini hanya diperuntukkan buat pengunjung semata. Menjelajah alam sembari mengejar kepiting pantai yang mencoba bersembunyi dalam rumah lubangnya.

Di laut pun tak kalah lengkap dan menarik, beragam terumbu karang saling berbaris jadi tempat hidup biota ikan. Makin sempurna dan lengkap karena ada padang lamun dan hutan Mangrove. Semua seakan menyelamatkan daratan dari abrasi pantai dan menjaga cagar alam tetap seperti aslinya.

Cagar Alam dan Tempat Hidup spesies Langka
Kondisi alam yang masih sangat asri seakan menjadikan cagar alam di Hutan Leuweung Sancang bak laboratorium pembelajaran. Sebarannya yang begitu luas tersebut jadi area bermain satwa liar tanpa gangguan manusia.

Kicauan burung, jejak kaki kanan hewan herbivora, serta predator tertinggi di rantai makanan tak sungkan menampakkan diri Habitat hewan yang dilindung seperti Macan Tutul (Panthera pardus), banteng (Bos sondaicu), beragam jenis rusa (Cervus sp.) hingga merak (Payo muticus) hidup tentram di dalam cagar alam. Mereka tak takut akan gangguan pemburu yang masuk, karena hukum adat yang kuat sehingga buat Leuweung Sancang tetap terjaga.

Secara luas wilayah, Hutan Sancang masuk ke dalam Cagar Alam yang dilindungi oleh pemerintah. SK Menteri Pertanian No. 370/Kpts/Um/6/1978 jadi surat sah akan keberlangsungan akan cagar alam sejak pertama sekali dicetus di tahun 1978.

Hutan cagar alam tersebut terbagi jadi tiga wilayah yaitu dimulai dari hutan hujan tropis dengan kontur daratan rendah, hutan Mangrove, dan hutan pantai yang memberikan panorama menarik hingga dasar laut. Siapa pun yang datang seakan merasakan beragam potensi satu cagar alam dalam tiga paket sensasi.

Hutan, pantai, dan sungainya pun masih sangat asri dan bersih. Tak ditemukan aktivitas manusia mengganggu kelangsungan hewan di dalamnya. Hutan begitu rapat seakan membuat matahari sulit tembus ke dalamnya, pantai serta pasirnya memantulkan langit biru jernih, dan sungai seakan desirnya tak pernah kurang meskipun kemarau datang. Semua makhluk hidup di dalamnya tak perlu waswas saat paceklik tiba.
 Image result for rafflesia patma
Di tengah rindangnya hutan pun tersibak tumbuhan raksasa yaitu tumbuhan Rafflesia Patma. Arti Patma sendiri berarti bunga, diambil dari Bahasa Sunda. Bunga Rafflesia Patma termasuk satu dari 15 jenis Bunga Rafflesia yang ditemukan di Indonesia. Punya tinggi 25-30 cm dan punya warna jingga muda dengan lima kelopak penyusun. Hutan Leuweung Sancang jadi lokasi tepat ia tumbuh, jauh dari sorotan manusia.

Desir pantai dan Aneka Ekosistem di Leuweung Sancang
Meloncat ke arah hutan pantai, sensasi lainnya bisa dirasakan. Nyiur pepohonan Mangrove tertiup oleh hembusan angin pantai selatan, airnya tegak dari Mangrove bak pemecah gelombang pantai dari hantaman lautan samudra lepas.

Aneka pepohonan khas Hutan Mangrove tak sulit ditemui, mulai dari pedada, kijingkang, api-api, Pohoa Kaboa, hingga granat. Satwa liar khas Mangrove dengan mudah bisa terlihat jelas. Berbagai jenis primata, monyet ekor panjang, dan biawak.
 Image result for mangrove
Hutan Mangrove Leuweung Sancang bukan sebatas pentas hewan mamalia dan reptile besar. Tak jarang ada kicauan burung jantan yang sedang menggoda burung betina di dahan pohon lain. Kepiting Bakau, klomang, dan Ikan Glodok terlihat jelas sedang menjemur diri antara sela-sela akar Mangrove.

Pantai pun jadi panorama yang menggugah, seperti saya yang sejak dulu akrab dengan pantai. Apa yang disajikan oleh Leuweung Sancang begitu sempurna. Debur ombak yang kuat di antar tebing-tebing curam melahirkan gua-gua bawah laut di dekat tebing.

Salah satu bukti sahih adalah keberadaan Pulau berbatu Karang Gajah yang memikat. Pecahkan tebing yang dihantam gelombang setiap waktunya menghasilkan topografi alam buatan tangan alam. Saat suasana petang datang, pantulan cahaya matahari yang hendak kembali ke peraduan begitu indah.
Di lokasi lainnya, pantai landai dengan hamparan hutan pantai jadi daya tarik. Di satu sisi terdapat hamparan pantai luas dan di sisi lainnya akar Mangrove yang tersambung langsung ke lautan. Sama halnya sambung menyambung sungai dengan lautan.

Ekosistem pantai terasa lengkap dengan adanya tiga penyangga seperti Hutan Mangrove, Padang Lamun, dan tentu saja Terumbu Karang. Semuanya masih terasa lengkap dan dianggap sangat punya peran besar dalam menjaga pantai dari abrasi besar Samudra Hindia. 

Datang dan Melangkah ke Leuweung Sancang
Kawasan Leuweung Sancang masuk cagar alam yang dilindung dan segala aktivitas manusia berhubungan tindakan ilegal dilarang. Pengunjung dengan mudah akan menemui pamflet larangan akan tindakan ilegal tersebut. Pelaku yang nekat dan tertangkap akan diproses dengan hukum.

Lokasi Leuweung Sancang berlokasi di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut bagian selatan, Jawa Barat. Tak hanya itu saja, bisa diakses dari Pusat Kecamatan Pameungpeuk dan jaraknya hanya ± 20 km dari Kabupaten Garut. Sedangkan pengunjung yang ingin datang dari Kota Bandung, berjarak 180 km dan butuh waktu ± 3 jam perjalanan darat untuk tiba ke lokasi.

Pengunjung yang sudah jatuh hati akan panorama alam khas cagar alam, pasti akan rela jauh-jauh datang ke Leuweung Sancang. Pengalaman tak terlupakan di hari libur bersama karib sahabat atau bahkan keluarga jadi cara mengenal alam dari keelokan Leuweung Sancang.

Ragam pertunjukan tersebut dimulai dari proses tracking membelah hutan, bisa saja menyusuri pantai, dan merasakan objek tebing, dan bahkan Padang Savana. Aktivitas fotografi seakan tak boleh luput, ragam panorama dan satwa langka bisa saja diabadikan saat tak terduga.

Tak puas sehari, banyak pengunjung yang menjadikan hutan Leuweung Sancang sebagai lokasi penginapan. Memang ada sejumlah vila atau resort, tapi lokasinya tidak berada di tengah hutan serta harus merogok kocek cukup dalam. Andai pergi dalam jumlah kelompok besar, bermalam di dalam tenda dan permainan api unggun di malam hari terasa sangat spesial. Menunggu hari esok datang dan siap memulai petualangan baru.

Esok pagi setelah selesai menyingkap kemah, saat itulah terbesit merasakan sensasi lain. Mungkin saja itu memancing atau bisa saja berenang di segarnya air terjun atau memilih hangat air serta asinnya air laut.

Pendatang yang tiba di Leuweung Sancang tak sebatas hanya menghabiskan akhir pekan atau liburan mereka. Tak jarang penelitian dari tingkat mahasiswa, dosen hingga peneliti mancanegara datang ke sana. Mereka ingin tahu hutan hujan tropis di tanah Garut tersebut tetap terjaga hingga saat ini.

Jejak mitos dan legenda di Leuweung Sancang
Ada banyak sejarah yang ada di dalamnya, salah satu yang paling dikenal adalah kisah mitologi harimau putih nan buas. Perwujudan dari raja terakhir yang terkenal akan wibawanya dari kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi.  

Nama Leuweung Sancang sendiri sudah menjadi primadona yang begitu membuat bulu kuduk bergidik ngeri. Dalam harfiah kata, Leuweung punya arti hutan dalam Bahasa Sunda dan Sancang menggambarkan Raja nan Agung dan harum dari kerajaan Pajajaran. Ia lebih baik mengasingkan diri dibandingkan harus melalui pertumpahan darah.

Alkisah sanga raja terakhir mendadak hilang, meninggalkan kerajaan yang mulai goyah. Sang raja memilih pergi dan mengasingkan diri. Salah satu pilihannya adalah Hutan Leuweung Sancang. Di dalam legenda tersebut, sang raja benar-benar menghilang atau dalam Bahasa Sunda berarti nga-hyang bersama sejumlah prajurit pilihannya.

Sebelum menghilang, Sang Prabu Siliwangi meninggalkan sebuah mandat berharga. Bahkan hingga kini masyarakat Garut mengenalnya dengan Amanat Uga Wangsit Siliwangi. Pada salah satu petikan bunyi wangsit terseut tertulis: Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung yang artinya: (Kalau saja aku tidak menemaimu, lihat saja tingkah laku harimau).

Berbagai kisah legenda terdahulu seakan memberikan gambaran bahwa Leuweung Sancang punya cerita dan bahkan mitos. Keberadaan harimau putih disinyalir ada dan bahkan dipercayai oleh masyarakat. Ini membuat sejumlah orang berniat jahat atau bahkan ingin merusak Hutan Leuweung Sancang seakan berpikir dua kali untuk bisa melakukan niat tersebut.

Kearifan lokal tersebut seakan tetap terjaga dan bahkan menjadi cagar alam milik warga Garut yang diakui oleh dunia. Beragam ekosistem yang dimilikinya seakan terus terjaga dan menjadi daya tarik siapa pun untuk datang dan mengetahui isinya.

Memang sangat layak menggambarkan Garut bak Switzerland van Java seperti yang sudah disematkan sejak zaman kolonial dulu. Satu tempat yang begitu memesona adalah Leuweung Sancang, beragam panorama alam jadi satu paket dalam sekali kunjungan.
Akhir kata, Garut bahkan lebih dari Swiss, karena punya sesuatu yang jauh memikat. Dan itu adalah pantai dan desir ombak yang menyapu.

Have a nice day, semoga postingan ini memberikan inspirasi. Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Writingthon Jelajah Kota Garut.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Halo Penulis

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Berlangganan via Email