Monday, October 21, 2019

Langkah Maju Digitalisasi Koperasi Ala Milenial

Saat pertama sekali mendengarkan kata koperasi, langsung terbesit di kalangan awam koperasi hanyalah lembaga yang hanya mengawasi simpan pinjam, lembaga yang rawan dengan penipuan berkedok koperasi. Bahkan dianggap sebagai lembaga kelas dua jauh di bawah perbankan dalam urusan keuangan.  Sistemnya pun dianggap sudah ketinggalan zaman dan tak cocok di era digital.

Nyatanya koperasi bukan sebatas simpan pinjam semata, ada banyak jenis usaha yang dikembangkan seperti koperasi produsen, konsumen, dan serba usaha. Bahkan kini koperasi sudah banyak menerapkan konsep seperti aplikasi dan layanan khusus bak startup.

Dibutuhkan reformasi besar mengubah stigma tersebut dan koperasi makin searah dengan industri 4.0. salah satunya melalui Kementrian Koperasi dan UKM Indonesia merekrut para pendamping unggulan yang siap mengidentifikasi koperasi, memecahkan masalahnya, sistem keuangan, pembukuan hingga modernisasi ke arah Koperasi Digital.
Proses identifikasi terhadap koperasi aktif
Itu selaras dengan pekerjaan saya saat ini yang bergelut dengan dunia koperasi dan UKM sebagai seorang pendamping di kampung halaman saya, Aceh Barat. Pendamping bertugas dalam hal membina, mengawasi, dan mengontrol berbagai UKM dan koperasi.

Setiap tulisan dan bukti kunjungan lapangan para pendamping dalam laporan bak sebuah penyelamat. Materi yang diberikan berupa identifikasi koperasi, pengembangan pola syariah, sistem keuangan, proposal pengembangan bisnis koperasi, dan hingga digitalisasi koperasi. Segala keluh-kesah dan harapan mereka terpatri dengan rapi melalui paragraf demi paragraf di dalam laporan bulanan.

Potensi Koperasi di Setiap Daerah
Mengenal daerah pembinaan, saya mendapatkan kehormatan dalam proses pendampingan di kampung halaman, Aceh Barat. Terkenal dengan daerah Aceh yang terkenal akan beragam potensi ekonomi masyarakat. Mulai dari sektor kelautan, perikanan, pertanian, dan perkebunan. Peran koperasi sangat krusial dalam berbagai bidang seperti produsen, konsumen, pemasaran, jasa, simpan pinjam.  
Ada sebanyak 312 koperasi aktif yang tersebar 12 kecamatan di Aceh Barat dalam cakupan luas wilayah yang membentang hingga 2.900 KM persegi. Tapi masih banyak koperasi lainnya yang tidak terdata secara langsung atau memenuhi persyaratan koperasi aktif menurut KemenkopUKM. Tugas pendataan tersebut jadi bagian tugas dari pendamping lapang dalam pembinaan dan pendataan.

Para pendamping berjiwa muda dan energik dalam membina koperasi supaya bisa meningkatkan kualitas koperasi di daerahnya. Menjadi garda terdepan dalam berbagai sektor dari lapangan pekerjaan, pemberdayaan masyarakat, sumber inovasi, dan tentu saja neraca pembayaran melalui aktivitas usaha. Koperasi punya koneksi besar dalam menghimpun UMKM milik masyarakat yang sangat strategis.
Ada banyak persoalan klasik mendera koperasi yang harus diselesaikan oleh pendamping. Menghidupkan peran koperasi sebagai sentral ekonomi suatu kelompok masyarakat. Mandat dan pengaruh anggota di dalam koperasi mampu menjalankan roda usaha dan ekonomi bermodal dari simpanan pokok dan simpanan wajib.

Kini lembaran baru dimulai, koperasi yang sempat mati suri kembali dibangkitkan dan ditata ulang. Mulai dari bawah sistemnya, AD-ART koperasi, keanggotaan, hingga menghidupkan kembali usaha yang pernah dimiliki koperasi. Mengelola koperasi yang sehat dan bersaing secara modern mengikuti era industri 4.0.

Tugas Pendamping mengarahkan Koperasi berbasis ke arah digital
Di tahun kedua saya ingin tampil beda, bila dulunya lebih banyak berupa bincang-bincang dan penjelasan. Kini saya selalu membuat slide dan video presentasi sebagai bahan visual, supaya lebih mudah dicerna anggota koperasi binaan. Cara ini menurut efektif merangsang pengurus koperasi lebih tertarik berkembang ke arah digital sesuai zaman now
Tahapan dari pengembangan koperasi ke arah digital
Masyarakat pun mulai sadar dengan teknologi bisa mengubah cara berorganisasi. Bila dulunya hanya sebatas instant messaging atau pembukuan berbasis excel. Kini mulai menerapkan aplikasi dan sosial media dalam akses tanpa batas setiap anggota koperasi.

Sejumlah koperasi binaan juga diajarkan mahir menggunakan komputer, pada tahap awal dikhususkan pada bendahara dalam proses pembukuan keuangan koperasi. Supaya tidak harus lagi menginput data secara manual yang menghabiskan waktu dan bahkan berpotensi datanya keliru.

Baru-baru ini juga sesuai arah dari KemenkopUKM adalah pelaksanaan NIK (Nomor Induk Koperasi) terhadap sejumlah koperasi binaan. Tujuannya adalah digitalisasi data koperasi aktif yang ada di Indonesia.
Setiap koperasi akan memiliki NIK dan Sertifikat NIK yang sudah terdata dalam ODS (Online Data System) di KemenkopUKM. Setiap data tersebut akan terkoneksi dalam Big Data (Data besar) miliki Komenkop. Segala aktivitas perkoperasian terdata di bawah naungan KemenkopUKM secara real time.

Anggota atau masyarakat biasa dapat melihat kinerja sebuah koperasi di database KemenkopUKM. Apakah terdata secara resmi dan grade sertifikat koperasi tersebut. Ini bisa menghindari masyarakat dari penipuan berkedok koperasi, mulai dari Badan Hukum, lokasi koperasi, kepengurusan, jenis usaha hingga Grade-nya.
Standar utama dalam grade sebuat koperasi
sesuai penilaian KemenkopUKM
Berdayakan koperasi bersaing di Industri 4.0
Pemerintah pun tak mau ketinggalan dengan membuat cetak biru bernama Making Indonesia 4.0. Ada beberapa hal yang ditekankan dalam menghadapi industri 4.0 dari pemerintah. Pertama dengan memperkuat SDM khususnya yang berada di usia produktif. Kedua mengubah model arah pendidikan yang link and match dengan dunia industri. Terakhir ialah mengedepankan kolaborasi terhadap semua pihak dalam menghasilkan iklim kerja baru sesuai dengan zaman perubahan zaman.

Internet pun sudah menjangkau ke semua pelosok negeri, fokus utama adalah device, network, dan application. Device artinya para pengguna sudah melek dan menggunakan ponsel pintar dalam mengakses segala aktivitas perkoperasian. Network didukung dengan jaringan yang memadai hingga pelosok dan application  dihadirkan dalam mengakses aplikasi khusus milik koperasi.

Millenial dan daya tariknya kini pada koperasi
Koperasi sudah sangat lama hadir di Indonesia jauh sebelum kemerdekaan. Sejak pertama sekali diperkenalkan oleh Raden Aria Wirjaatmadja di tahun 1886. Kini koperasi sudah mengalami banyak proses pasang surut hingga sampai di era modernisasi.

Konsep koperasi berbeda dengan perusahaan karena bersifatnya tak terikat dan ingin selalu didengarkan. Ini jadi modal berharga menggaet generasi milenial berkecimpul di dalam koperasi. Terlebih lagi para milenial akan mendapatkan berbagai nilai-nilai koperasi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti sifat tolong menolong, bertanggung jawab, demokrasi, keadilan, dan solidaritas.
Segala faktor seakan menggambar satu visi antara koperasi dan generasi milenial. Kehadiran anak muda di dalam koperasi seakan bisa memodernisasi sistem yang dianut saat ini sesuai tren Koperasi Zaman Now. Layaknya startup tanpa harus mengandalkan suntikan investor dalam memulai usaha, cukup bermodal simpanan anggota dalam memajukan koperasi.

Berikut sejumlah cara dalam membuat koperasi punya nilai buat milenail dan generasi zaman now:
Peran besar koperasi dinilai sangatlah krusial di era saat ini, adanya terobosan baru dan mau berubah seakan buat napas koperasi tetap panjang. Tugas mulai tersebut salah satunya dilakukan oleh pendamping dalam membina koperasi tetap eksis dan menjadi magnet buat semua kalangan.

Semoga saja postingan ini bermanfaat dan have a nice day.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Halo Penulis

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Berlangganan via Email