Sunday, March 31, 2024

Zenbook DUO (UX8406): Mendeskripsikan Dual-Screen Seutuhnya

Melihat kemajuan teknologi saat ini, seakan mengingatkanku pada memori masa kecil.....

 

Sejak kecil saya sangat menyukai beda kotak berbentuk visual. Ibu saya selalu bercerita mengenai masa kecil saya dan berucap: abang saat kecil sangat sama televisi, bila benda ini dihidupkan sumringah dan menangis bila dimatikan.

 

Asal benda kecil dihidupkan di ruang tamu, saya yang masih gelagat tidur mendadak bangun. Menyaksikan setiap apa yang muncul di sana, apabila itu berupa jajanan: siap-siap minta dibelikan. Sudah pasti kedua orang tua repot dibuatnya.

 

Beranjak di usia empat tahun, saya pun tinggal di rumah nenek karena orang tua mengharuskan bekerja di luar kota. Saat itu di kampung saat terbatas yang punya namanya kotak ajaib bernama TV. Kala itu, masih sangat akrab metode cangkok parabola hingga tentu saja anak-anak tetangga menumpang menonton di rumah.

Kala hari minggu pagi tiba, beragam tontonan hari minggu yang bikin candu. Ada puluhan tayangan kartu yang diputar dari sejak pagi buta hingga jelang siang hari. Anak-anak tetangga pada datang, fokus menyaksikan setiap tayangan hingga jelang siang. Saling bercerita mengenai episode kartun tersebut sembari mengingat-ingat memori di dalamnya.

 

Kotak ajaib bernama TV jadi penghibur kami para anak 90-an, berbeda saat ini begitu banyak perangkat dan media untuk bisa menyaksikan konten. Rasa dalam menikmati tontonan terasa syahdu saat itu, hanya dari kotak ajaib yang segede gaban dan berlayar kecil.

 

Memasuki masa sekolah lanjutan tingkat pertama...

Kala itu, Ayah saya membeli sebuah TV dengan ukuran jumbo saat itu  yaitu 36 inchi. Itu bertepatan dengan momen pagelaran sepak bola Euro 2004. Jadi sangat syahdu sembari melihat aksi-aksi pemain sepak bola dari bilik kotak ajaib. Ukurannya jelas sangat besar, terutama sekali membutuhkan ruang dalam meletakkannya. Namun itu bukanlah sebuah risau karena keseruannya akan dimulai.

TV berwarna kala itu menurut saya sangat menawan, di saat banyak TV masih punya perpaduan warna yang masih sedikit. Kami sekeluarga diberikan rezeki bisa memiliki TV berukuran besar dan punya warna yang cerah.

 

Perlahan saat beranjak dewasa, peran TV mulai tergantikan...

Memasuki masa SMA, warna gemerlap TV mulai tergantikan. Kala itu internet mulai masuk dan sejumlah warnet mulai hadir di sejumlah lokasi terutama di dekat sekolah. Tayangan TV yang monoton dan harus rebutan remote TV dengan saudara lainnya jelas membuat akses TV mulai tak leluasa.

 

Hingga akhirnya warnet jadi pelarian setelah habis pulang sekolah. Mengantre dan mengambil paket agar bisa berselancar di dunia maya. Tayang video yang sempat terlewatkan di TV bisa ditonton ulang di warnet dan tentu saja akses pribadi lebih leluasa selama durasi waktu penggunaan.

Di sinilah awal saya mengenal dunia menulis, membuat dairy online pertama dan tentu saja memperluas dunia bahwa ada banyak jendela lainnya yang bisa diakses. Sampai pada akhirnya masuk tahun 2010-an saya masuk ke bangku perkuliahan.

 

Di sini ada dunia yang berbeda, media informasi berupa TV dan PC dianggap terlalu publik terutama PC di warnet. Mengharuskan punya gadget yang sifatnya lebih mobile untuk dibawa ke mana saja. Terutama sekali dengan hadirnya serangan tugas kuliah.

 

Laptop Pertama, Awal Mula Mengeksplorasi Dunia

Akhirnya mengenyam bangku perkuliahan dan dibelikan laptop yang menunjang aktivitas. Di laptop tersebut saya bisa melakukan tugas tanpa takut paket kouta di warnet habis atau menonton tanpa harus rebutan seperti di TV. Bagi saya laptop merupakan alat device paling berharga terutama membuat tugas hingga menikmati konten.

 

Seakan ingat, Ibu saya kala itu merogoh kantong untuk membeli laptop. Saya masih ingat harga yang dibelikan kala itu seharga 6,6 jutaan di akhir tahun 2011-an. Saya berjanji dengan punya laptop akan lebih giat lagi, karena satu tahun pertama saya kuliah masih mengandalkan warnet dalam membuat tugas.

Makin banyaknya tugas mengharuskan punya laptop, akhirnya bisa terbeli. Warna merah dan tentu saja sangat ngejreng kala itu. Setiap hari dilap dengan baik agar selalu kinclong, saya pun menggunakannya untuk berbagai cairan, kain kasa hingga penyemprot debu karena inilah portable workstation pertama saya.

 

Sebagai gambaran, di zaman saat ini gadget ibarat busur dan pedang di zaman nenek moyang kita. Bila saja baterainya habis, lemot, ngeheng hingga rusak, rasanya kita tak berdaya seakan pedang kita tumpul. Itulah pentingnya perangkat yang tahan dalam menghadapi pekerjaan hingga jadi sarani hiburan serta refleksikan diri.

 

Meskipun kini sudah hadir ponsel dengan spesifikasi gahar sekalipun, perannya hanya sebatas komunikasi dan koordinasi sedang laptop perannya lebih dari itu semua.  Laptop adalah segalanya...

 

Tahun 2012 awal mulanya saya bisa memiliki Blog. Bermula dari hilangnya diary pribadi saya di Ruang Kuliah Umum. Ini menuntun saya untuk bisa menuliskan semua yang ada di kertas dan memindahkannya ke online. Teman saya Salman berkata: kenapa tidak ditulis di blog saja? Apalagi saat itu saya sudah punya perangkat yang mumpuni.

 

Sejak itulah saya menulis di blog, total sudah lebih dari 12 tahun lamanya, setiap minggunya update dari awalnya pembahasan remaja hingga akhirnya memantapkan diri membahas tentang pengetahuan dan teknologi masa depan. Total ada lebih dari 1000 tulisan di website dan sejumlah situs terkemuka. Itu belum terhitung dengan sejumlah jurnal internasional serta publikasi tulisan lain. Semuanya berkat laptop.

Seakan saya merasakan refleksi teknologi yang mengiringi hidup, ibarat menentukan yang paling nyaman dan sesuai dengan zaman. Bila masa kecil identik dengan TV, beranjak remaja dengan PC warnet dan di masa kini identik dengan portable workstation bernama laptop.

 

Merasakan Evolusi Laptop dalam Hidupku

Saya sudah menggunakan hampir 15 tahun dengan laptop, jelas waktu yang tidak sebentar. Ada banyak pengalaman dan perubahan drastis yang saya rasakan. Mulai dari laptop yang segede gaban beratnya, harus tidak bisa jauh dari colokan hingga yang punya resolusi Full HD yang mendukung penggunaan touchscreen.

 

Sejak awal mengenal laptop, saya memang kepincut dengan laptop seri bisnis. Hanya saja budget tidak mencukup dan mengharuskan menabung lama tapi yang terbeli hanya berupa laptop kentang (kemampuan tanggung).

Tapi tidak masalah, karena standar laptop saat itu saat awal masa perkuliahan tentunya punya kualitas minimal intel core i3 dengan sedikit gocekan maut dari NVIDIA. Bisalah buat diajak untuk menikmati konten dan sesekali diajak main bareng Pro Evolution Soccer.

 

Sering dengan tamatnya kuliah, laptop saya mulai bermasalah karena pengaruh usia. Mengharuskan ia untuk pensiun dini. Pada masa ini saya menyadari bahwa laptop mengalami perubahan, bila dulu layar TN sudah bisa dikatakan cukup. Perlahan layar beresolusi Full HD IPS jadi primadona, bisa diajak menyaksikan konten bahkan dari sudut sempit.

 

Saya sadar, laptop mengalami evolusi. Ukuran baterai juga bisa diajak digunakan selama seharian penuh. Apa itu colokan karena baterai yang digunakan tidak bisa dibongkar pasang lagi. Lalu urusan bobot, sangat wajar dulu laptop berada di kisaran bobot 2 kiloan. Namun makin ke sini, beratnya berat di 1,2 kg dan bahkan bisa di bawah 1 kg.

 

Selama mata saya memandang dan menyaksikan perubahan besar itu, hadir dari Perusahaan Global asal Taiwan, ASUS. Tidak main-main memang, inovasinya dimulai saat ultrabook pertama mereka di tahun 2011 yakni ASUS ZenBook UX21 dan ASUS ZenBook UX31. Rasanya ini baru awal karena laptop tipis dan ringan namun punya kemampuan komputasi dewa akan berseliweran di masa depan.

Ini terbukti, dan saya adalah salah satu pengguna dari seri Zenbook. Ia ibarat portable workstation namun menunjang segala pekerjaan. Tinggal bagaimana segmen ini makin berkembang dengan sejumlah produk. Kini ada banyak varian yang Zenbook hadirkan, makin terasa saat mereka berani melahirkan inovasi dari proyek revolusioner bernama Project Precog.

 

Transformasi Teknologi Berawal dari Cerita Fiksi

Semua teknologi yang hadir saat ini ibarat imajinasi dari orang terdahulu. Sebaliknya yang diimajinasi saat ini pada masa depan bisa saja jadi terwujud serupa. Melihat akan perubahan zaman yang sangat cepat, seakan mengingatkan saya pada buku yang terbit 40 tahun silam yakni Futuredays: A Nineteenth Century Vision of the Year 2000.

Karya dari ketiga penulis terkemuka yaitu  Isaac Asimov, Charles G. Waugh, dan Martin H. Greenberg. Pada buku ini seakan menampilkan koleksi cerita pendek dari abad ke-19 yang membayangkan masa depan, terutama tentang bagaimana orang-orang pada waktu itu memperkirakan dunia pada tahun 2000. Yups.. masa kini yang kita rasakan.

 

Penulis akan menumpah segala imajinasinya dari masa lalu, saat saat itu dan masa depan. Saat era Victoria yaitu di abad 19. Membayangkan bagaimana cara hidup dan teknologi yang diterapkan di manusia pada abad 21. Ada sejumlah teknologi canggih yang kita sering kita gunakan sekarang. Mulai dari pesawat terbang, telepon, TV, dan alat-alat yang belum ada pada zamannya.

Beberapa cerita mungkin terkesan kuno atau konyol bagi pembaca modern, namun demikian, buku ini memberikan pandangan yang menarik tentang bagaimana orang pada abad ke-19 memandang masa depan mereka.

 

Mungkin seperti itu juga saat anak cucu kita, saat kita sibuk dengan gadget yang kita pakai sekarang. Itu kesan bagi mereka sangat vintage dan ketinggalan zaman. Begitulah zaman dalam menilai perubahannya.

Ada salah satu gambar yang di sana menggambarkan orang sejak zaman dulu suka menikmati konten. Memang ide lahirnya ponsel belum ada, namun proyektor kala itu ibarat TV atau bahkan laptop portable berlayar besar. Imajinasi yang lumayan luar biasa namun jadi inspirasi para desainer dan enginer saat ini dalam merancang produk terbaik.

 

Laptop Pertama di Dunia, Tonggak Sejarah Portable Workstation

Beberapa tahun sebelum cerita bergambar Futuredays: A Nineteenth Century Vision of the Year 2000 yang terbit di pertengahan 1985. Tonggak sejarah tercipta di tahun 1981, laptop yang kita kenal kini lahir dan diberi nama dengan Osborne 1. Menghadirkan PC jinjing yang sebelumnya bersifat dinamis dan mengandalkan daya baterai.

 

Sekilas secara bentuk menyerupai bagian dari CPU pada sebuah komputer. Ada bukaan di bagian depan yang merupakan letak dari layar keyboard tentunya. Ukuran layar dari Osborne 1 relatif kecil, hanya 5 inchi saja (masih besar layar ponsel saat ini yang rata-rata di 6 inchi). Kapasitas RAM sebesar 64 KB (apa tak salah dengar), dibekali prosesor Zilog Z80 dan menggunakan sistem operasi yang bernama CP/M buatan dari Osborne Computer Corporation.

Lalu urusan berat, tentu beratnya diangka belasan kilo lebih tepatnya di 11 kg. Auto yang bawa ke mana-mana terasa bawa barbel 10 kg. Meskipun ukurannya yang besar dan berat, Osborne 1 dianggap sebagai tonggak penting dalam sejarah komputasi portabel dan menjadi contoh pertama dari apa yang kita kenal sebagai "laptop" hari ini.

 

Setelahnya, laptop makin berkembang cepat. Meskipun di medio 80 hingga 90-an laptop masih kurang peminatnya. Rata-rata pengembang menganggap PC adalah masa depan dalam teknologi. Peran laptop masih dianggap belum setangguh PC.

Inovasi terus berkembang dari yang berbentuk CPU menjadi bukaan seperti buku. Tepatnya sedekade tepatnya di tahun 1992. setelahnya saat IBM hadir dengan inovasinya. Layar yang bisa dibuka dan ditutup memungkinkan pengguna untuk dengan mudah membuka laptop dan mulai bekerja tanpa harus memasang layar tambahan atau merakit komponen-komponen secara manual.

 

Ini jadi cikal-bakal laptop yang bertahan hampir 30 tahun lamanya. Bahkan laptop saat ini merupakan gambaran konsep berupa bukaan laptop seperti buku.

 

Inovasi Hadir dari Kreativitas atas Kemajuan Teknologi Laptop

Zaman berkembang dengan pesat, berawal dari laptop yang hanya punya ukuran layar 5 inchi hingga kini punya layar maksimal hingga 17,3 inchi. Lalu dari ukuran yang segede gaban menjadi yang bobotnya di bawah 1 kg saja. Urusan performa jangan ditanya, terus meningkat dengan makin canggihnya komputasi laptop saat ini. Terakhir urusan layar, dari hanya layar hitam putih yang buram menjadi kualitas 4K.

Lompatan teknologi terus terjadi dan laptop dianggap portable station paling menarik dalam menyelesaikan tugas. Namun bagi saya pribadi yang menyukai estetika, saya rasa ada yang kurang selama ini. Laptop saat ini dituntun harus makin multitasking dalam komputasi. Ini mengharuskan ia punya layar tambahan dalam menunjang itu semua.

 

Bukan seberapa besar layar yang dimiliki, namun bagaimana ada layar tambahan yang sifatnya terkoneksi secara langsung pada sebuah laptop. Para desainer dan engineer berpikir keras, bagaimana mencoba mendisrupsikan gaya baru dalam penggunaan laptop.

 

Saat pertama sekali laptop menggunakan konsep bukaan pada buku yang menjadi standar industri laptop saat ini. Kini bagaimana dengan konsep yang serupa namun dengan sentuhan imajinasi, konsep laptop baru bisa hadir.

Saya rasa, seakan ini membawakan kita kembali pada cerita gambaran imajinasi dari cerita bergambar: Futuredays: A Nineteenth Century Vision of the Year 2000. Penulis buku ini tidak semuanya datang dari ahli seni, mereka hadir dari semua layar belakang ilmu.

 

Sebagai contoh pada buku Futuredays: A Nineteenth Century Vision of the Year 2000 karya Isaac Asimov. Ia adalah seorang penulis terkemuka dengan latar ilmu biokimia.  Meskipun begitu lama bergelut di bidang biokimia, ia punya segudang karya di bidang karya tulis fiksi ilmiah.

Namun ia butuh eksper yang ahli di bidang lainnya. Hingga akhirnya ia merekrut sahabat dekatnya yaitu: Charles G. Waugh serta Martin H. Greenberg. Peran mereka sangat krusial karena sebuah karya apalagi sifatnya fiksi ilmiah melibatkan banyak cabang ilmu dan implementasi visual.

 

Terakhir tentu saja adanya seorang ahli visual permodelan Jean-Marc Côté. Berawal dari sejumlah gambar yang ia buat untuk pameran dunia di Paris pada tahun 1900, yang menggambarkan bagaimana orang-orang pada masa itu membayangkan masa depan pada tahun 2000. Gambar-gambar tersebut mengilustrasikan berbagai konsep futuristik tentang teknologi, transportasi, dan kehidupan sehari-hari pada waktu itu.

 

Meskipun karya-karya Jean-Marc Côté tidak secara langsung terkait dengan buku "Futuredays", namun buku tersebut mungkin menggunakan gambar-gambar karya Côté atau ilustrasi serupa untuk menambahkan dimensi visual pada visi masa depan yang dijelaskan dalam cerita-cerita abad ke-19 yang terkumpul di dalamnya.

 

Inspirasi cerita Sains Fiksi pada Teknologi

Cerita di atas secara tak langsung mengingatkan saya mengenai dunia laptop. Ia berkembang pesat dimulai dari rasa kegundahan, saat awal mulanya komputer dianggap tidak cukup efektif. Hadirnya laptop dianggap lebih mudah dibawa ke mana saja.

 

Para desain berpikir bagaimana bentuk wujud komputer portable yang gampang dibawa. Para enginer berpikir bagaimana menciptakan motherboard, memasukkan layar hingga menyematkan prosesor pada sebuah bentuk kecil tersebut.

Lalu para marketing berpikir bagaimana cara mengubah anggapan pasar saat produk ini diluncurkan. Mereka berpikir bagaimana pasar bisa menyukainya dan tidak nyeleneh. Kolaborasi antara ketiganya seakan menghadirkan imajinasi liar desainer, kegigihan para engineer, dan tentu saja cara meyakinkan brilian dari sales marketing.

 

Sempurnakan bukan.. kolaborasi ini seakan memberikan disrupsi pada arah sebuah teknologi. Bagaimana laptop layar pertama hadir di awal 80-an. Lalu sedekade kemudian laptop dengan konsep menyerupai buku yang menjadi standar laptop saat ini.

 

Hingga akhirnya di tahun 2019, era baru dari konsep laptop baru lahir. Raksasa teknologi dari Taiwan, ASUS memberikan gebrakan baru. Menjadikan lokasi yang sebelumnya sebagai letak keyboard menjadi sebuah layar kecil.  ASUS ZenBook Pro Duo (UX581) adalah percobaan pertama dan layar kecil tambahan tersebut disebut dengan ScreenPad Plus.

Sebuah inovasi yang tentu saja adanya layar ScreenPad Plus memberikan lebih banyak ruang kerja untuk multitasking dan kreativitas tambahan, memungkinkan pengguna untuk menampilkan alat-alat atau aplikasi tambahan, atau bahkan untuk menampilkan konten yang berbeda secara bersamaan.

 

Versi pertama dari ASUS Zenbook Duo yang hadir jelas menarik perhatian dengan konsep laptop yang segar setelah hampir 30 tahun lamanya. Seakan mengubah cara pengguna dalam penggunaan laptop jadi lebih fleksibel.

 

Project Precog, Ide yang Melahirkan Konsep Baru Laptop

"Project Precog" yang dimiliki oleh ASUS adalah sebuah proyek yang sangat menarik. Ini adalah proyek konsep yang diperkenalkan oleh ASUS pada tahun 2018. Proyek ini merupakan demonstrasi dari konsep laptop ganda yang inovatif, yang memiliki dua layar yang dapat digunakan secara fleksibel.

 

Saya sangat ingat project ini pertama kali diperkenalkan pada pagelaran Computex di tahun 2018. Menghadirkan laptop dengan konsep desain Dual-Screen berwarna ungu kinclong milik ASUS. Seakan membuat pengguna bertanya-tanya, bagaimana ini laptop bisa digunakan optimal.

Tentunya pada perkenalan awalnya, menghadirkan layar responsif dengan cara penggunaan sedikit berbeda. Seakan pengguna diajarkan untuk beradaptasi pada cara baru menggunakan laptop Dual-Screen. Bahkan pada layarnya sudah pasti touchscreen dengan dukungan stylus sebagai media berkreasi dalam bekerja.

 

Pengembangan yang intensif ASUS lakukan tentunya pada segmen AI. Pada Project Precog seakan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mempelajari pola penggunaan dan memprediksi kebutuhan pengguna, seperti menyesuaikan mode daya atau memberikan rekomendasi berdasarkan konteks. Ini sesuai dengan saat ini, saat gempuran aplikasi AI yang mendukung beragam pekerjaan.

 

Sayangnya, hingga saat ini, "Project Precog" dari ASUS masih dalam tahap konsep dan belum tersedia secara komersial. Ia kan lahir pada waktu yang tepat dan siap mengejutkan pengguna laptop. Ternyata laptop bisa punya 2 layar toh.

 

Lalu muncul alasan, mengapa sih ASUS berani dan PD mengembangkan Project Precog?

Bagi saya pribadi, ini mirip dengan riset saat awal laptop pertama sekali berkembang. Kini riset sebuah laptop jauh dari kata siapa yang paling tipis, paling bertenaga, punya layar paling cerah ber-Refresh Rate tinggi.

 

Ini murni dalam menghasilkan inovasi dalam pengembangan layar dan juga kebutuhan layar ekstra. Ada banyak pekerjaan multitasking dan mengharuskan para pekerja, konten kreator, gamer hingga casual user mencoba pengalaman baru. Sekaligus menantang konvensi dan memberikan pengalaman baru kepada pengguna.

Urusan produktivitas jelas sangat meningkat, layar kedua akan digunakan pada pekerjaan lainnya tanpa harus mengecilkan atau memindahkan pada tab lainnya. Membuatnya cocok untuk para profesional yang membutuhkan ruang kerja yang fleksibel.

 

Memang ada kendala seperti pengguna daya yang boros, layar bisa gampang pecah hingga bagaimana memanajemen panas. Itulah yang telah berhasil ASUS pecahkan selama 5 tahun terakhir. Bahkan akan menjadi pasar baru di ranah laptop yang belum dirambah produsen lainnya. ASUS melihat peluang besar..

 

Segudang Potensi atas Lahirnya Laptop Dual Screen

Bagi enthusiasm use seperti saya, ini ibarat berkah. Saya yang bergelut di dunia konten sangat diuntungkan. Hadirnya laptop Dual-Screen seakan jadi layar tambahan tanpa harus terus-menerus beralih antara jendela. Bahkan pengguna akan dengan mudah memakainya tanpa mengurangi ukuran tugas atau aplikasi yang ditampilkan.

Para pekerja kreatif juga senang, apalagi yang berkutat sama desainer grafis atau editor video. laptop dual screen dapat membantu mereka memiliki ruang tambahan berkarya. Sejumlah tools yang bisanya tersembunyi dan harus ditekan untuk muncul, kini semuanya tersedia pada layar kedua.

 

Meloncat buat para pebisnis, ia akan mudah dalam melakukan proses presentasi yang melibatkan layar kedua. Ia dengan mudah bisa menggunakan satu layar untuk menunjukkan presentasi kepada klien sementara menggunakan layar lainnya untuk merujuk ke catatan atau data tambahan.

 

Terakhir untuk penggemar konten, saya rasa ini seperti surga. Pengguna akan merasakan pengalaman lebih imersif terutama dalam menikmati konten. Misalnya pada layar utama digunakan untuk menonton sedangkan layar kedua bisa digunakan untuk browsing, membalas email hingga bermain game.

 

Sangat menarik bila diwujudkan dan tentunya punya bobot yang enteng. ASUS jelas berpikir keras pada bagian ini, karena produk awal mereka sangat berat dan boros daya. Seiring dengan kemunculan ASUS Zenbook DUO (UX8406), bukti ASUS sudah menemukan ramuan khusus dalam merakit laptop Dual-Screen.

 

Bagi saya pribadi, saat ini saya sudah mencapai batas bahwa membutuh multi monitor tambahan. Mulai dari pekerjaan kantor yang mengharuskan berpindah tab. Kadang saya harus membagi menjadi dua layar yang tentu saja makin kelihatan kecil. Bisa dibayangkan bila Zenbook DUO (UX8406) yang punya 2 layar dimaksimalkan. Dalam sekali penggunaan, saya bisa membuat 4 tab sekaligus. Hemat waktu dan tak kelupaan baru pindah dari tab yang mana.

 

Saya membagi hari pada 3 fase waktu, 8 jam disisihkan buat bekerja lalu 8 jam yang dibawa dua menjadi masing-masing 4 jam sebagai waktu berkreasi dan menikmati konten. Sebagai gambaran, saat bekerja mode yang saya gunakan tak jauh-jauh dari skenario: buka aplikasi Microsoft Office, buka WhatsApp buat pantau dan koordinasi. Ada halaman lainnya yang bisa dibuka semisal ChatGPT hingga aplikasi musik Spotify. Pada Zenbook DUO (UX8406) semuanya bisa terangkum dalam satu layar saja tanpa berpindah-pindah.


Lanjut pada 4 jam yang jadi waktu saya berkreasi. Bisanya saat pulang kantor jelang malam hari. Saya menghabiskan buat menulis blog atau edit musik di Aplikasi FL Studio. Jelas pada aplikasi FL Studio, makin bagus saat punya 2 layar. Segala bentuk preset akan ada di layar kedua sehingga layar utama bisa fokus buat menuangkan ide. Menulis blog juga serupa, layar utama fokus dalam menuangkan ide sedangkan pada layar lainnya bisa jadi koordinasi dalam mencari bahan, menganalisis bahkan buat komunikasi.

Terakhir tentu saja 4 jam terakhir buat menikmati konten. Jelas ini membuatnya lebih maksimal, karena punya dua layar membuat kita bisa fokus menikmati konten di layar yang sangat besar. Makin menarik lagi tentunya, bisa nonton Youtube bisa sambil baca komentar, bisanya di laptop konvensional. Saat scrol ke bawah, tontonan kita bisa ketinggalan di atas.

 

Zenbook DUO (UX8406) sangat revolusioner, ibarat memahami keinginan pengguna yang butuh multitasking dan haus konten. Segmentasi baru yang bisa jadi role model baru.

 

ASUS Zenbook DUO (UX8406), Racikan Sempurna Dual-Screen Laptop

Menciptakan sebuah laptop jelas membuatkan formulasi dan riset panjang. Apa yang kita gunakan saat ini, merupakan hasil pengembangan 5 hingga 10 tahun lalu. Berhasil dikembangkan, diuji, dan sampai pada tahap produksi.

 

Layar, portabilitas, tangguh, dan nilai seni alasan pelanggan bisa memiliki sebuah produk. Sampai akhirnya ASUS Zenbook DUO (UX8406) hadir. Ada banyak aspek yang ditingkatkan dari pertama kali muncul dan diperkenalkan pada pengguna.

Pertama kali diperkenalkan, ASUS Zenbook DUO menggunakan ScreenPad Plus, ia seakan merenggut separuh dari bagian keyboard menjadi layar berukuran separuh dari laptop. Mengorbankan arm rest yang selama ini jadi area dalam membuat tangan tidak pegal dalam mengetik.

 

Pada varian selanjutnya, ASUS mencoba inovasi baru dengan memberikan Hinge yang mengangkat layar pada ScreenPad Plus. Pada versi sebelumnya, masalah panas jadi kendala yang saat digunakan sangat lama membuat suhu pada ScreenPad Plus membuat proses komputasinya melambat.

 

Sampai akhirnya versi final lahir, bagi saya seri ASUS Zenbook DUO paling sempurna adalah Zenbook DUO (UX8406) dan merupakan pengalaman ASUS dalam menciptakan layar sepenuhnya. Tak ada lagi screenPad Plus, malahan sekarang punya layar sama hebatnya dengan layar pertama dengan menggunakan  panel ASUS Lumina OLED 3K (2880 x 1800) 120Hz. Punya tingkat kecerahan hingga 500 nits, aspek rasio 16:1, serta bezel juga ultra-tipis dengan screen-to-body rasio hingga 91%.

Pada layarnya telah tersertifikasi Dolby Vision®, Pantone® Validated, dan memiliki color gamut 100% DCI-P3 untuk memastikan reproduksi warna terbaik dan akurat. Layar tersebut juga telah mengantongi sertifikasi VESA DisplayHDR™ True Black 500 dan mendukung teknologi touchscreen sehingga dapat digunakan bersama dengan stylus ASUS Pen 2.0 yang dapat memberikan input secara presisi.

 

Apakah dengan dua layar dan ditambah dengan keyboard detachable membuatnya tidak leluasa dibawa?

Jawabannya tidak, bila ketinggalan keyboard detachable berat dari Zenbook DUO (UX8406) berada di kisaran 1,39 kg dan bila digabungkan total beratnya saat dibawa yaitu hanya 1,7 kg. Cukup enteng untuk membawa sebuah laptop rasa monitor.

Keyboard Zenbook DUO (UX8406) juga dirancang untuk digunakan seharian berkat sistem cerdas yang memungkinkan laptop untuk menggunakan koneksi langsung ke laptop saat digunakan di Laptop Mode, Pada bagian engsel ada Pogo Pin yang membuat keyboard detachable akan melekat dengan erat bila digunakan pada mode laptop. Seakan ia bertransformasi seperti laptop umumnya saat layar keduanya tertutup. Sangat menarik buat saya.

 

Berbicara mengenai ketebalannya, Zenbook DUO (UX8406) cukup tipis yang berada di angka 14,6 mm. Namun punya segudang konektivitas pendukung seperti dengan 2x Thunderbolt 4 USB-C, 1x USB-A 3.2 Gen 1, 3.5mm audio jack, dan bahkan masih tersedia port HDMI 2.1. Lengkap banget ini.

 

Belajar Menggunakan Mode Laptop Masa Depan

Memiliki Zenbook DUO (UX8406) jelas menggambarkan skema pengguna laptop masa depan. Biar tidak kelihatan canggung, kita harus tahu dan belajar terlebih dahulu dari segala skema pengguna. Apalagi ada fitur yang disematkan bernama ScreenXpert yang memberikan pengalaman yang lebih intuitif ketika pengguna Zenbook DUO (UX8406). Penasaran bukan mode apa saja yang dibisa digunakan, cekidot:

Dual-Screen Mode: Inilah mode penggunaan yang paling membedakan Zenbook DUO (UX8406) dengan laptop lainnya. Mode ini memanfaatkan keberadaan layar kedua di Zenbook DUO (UX8406) secara penuh, yaitu dengan memosisikan laptop secara lebih tinggi menggunakan penyangga terintegrasi sehingga kedua layarnya dapat dilihat secara lebih nyaman. Penggunanya kemudian mengontrol Zenbook DUO (UX8406) menggunakan keyboard fisiknya secara nirkabel melalui koneksi Bluetooth.

 

Desktop Mode: Didesain untuk pengguna yang suka dengan layar vertikal, Desktop Mode di Zenbook DUO (UX8406) menawarkan dua layar vertikal yang diposisikan secara berdampingan. Mode ini sangat cocok untuk skenario penggunaan seperti menulis artikel, browsing, dan coding.

 

Laptop Mode: Cara ini membuat Zenbook DUO (UX8406) tampil layaknya laptop clamshell pada umumnya dengan satu layar aktif dan keyboard yang ditempatkan di atas layar keduanya. Mode penggunaan ini sangat cocok ketika Zenbook DUO (UX8406) digunakan di ruang terbatas seperti di dalam pesawat.

 

Laptop Mode with Virtual Keyboard: ASUS menghadirkan solusi bagi pengguna Zenbook DUO (UX8406) yang tidak ingin menggunakan keyboard fisiknya. Fitur pada ScreenXpert, dapat menghadirkan keyboard virtual dalam layout penggunaan yang berbeda-beda lengkap dengan touchpad virtual.

 

Sharing Mode: Mode paling unik di Zenbook DUO (UX8406) ini memungkinkan pengguna untuk berbagi layar dengan orang lain secara lebih mudah. Cukup buka layar laptop ini hingga 180° dan aktifkan mode ini. Kedua layarnya kini saling bertolak belakang sehingga memudahkan dua orang untuk berinteraksi secara langsung ketika menggunakan Zenbook DUO (UX8406).

Pada sejumlah skenario, Zenbook DUO (UX8406) memerlukan penyangga. Nah ASUS sudah memikirkan urusan ini dengan adanya Kickstand berbahan metal kokoh. Pada skenario penggunaan seperti Dual-Screen Mode dan Desktop Mode, Kickstand sangat berguna sebagai penopang. Saat dilipat pun, seakan menyatu dengan laptop. Para designer ASUS sangat memperhatikan estetika dan fungsi pada produknya.

 

Terus mode manakah yang paling saya suka bila punya Zenbook DUO (UX8406) ?

Hmmm.. semuanya menarik. Bagi saya ada 3 skenario pengguna yang sesuai aktivitas saya sebagai konten kreator dan budak korporat. Pada waktu diajak kerja fokus, Laptop Mode opsi paling baik. Namun saat ada pekerjaan yang mengharus menggabungkan dua data dan informasi sekalian, Desktop Mode paling enak, apalagi di atas meja yang agak leluasa buat bekerja.

Lalu pada saat bertemu klien dan diajak presentasi, tentunya Sharing Mode sangat membantu tanpa mengharuskan klien beriringan dengan saya. Sedangkan buat diajak santai, Dual-Screen Mode dan Laptop Mode with Virtual Keyboard paling ideal. Apalagi saat pekerjaan selesai, beuh. Syahdu banget buat menikmati konten dengan skenario ini.

 

Spesifikasi Kelas Wahid Zenbook DUO (UX8406)

Zenbook DUO (UX8406) sudah dilengkapi dengan spesifikasi yang mumpuni untuk mendukung pekerjaan berat sekalipun. Ia jadi laptop AI dengan dua layar bersertifikasi Intel® Evo™ Edition yang dibekali prosesor bertenaga AI, Intel® Core™ Ultra 7 155H terbaru.

 

Prosesor Intel® Core™ Ultra dilengkapi NPU yang hadir secara spesifik untuk memproses aplikasi yang menggunakan AI. Mampu membuat laptop ini tampil lebih gesit, lebih hemat daya, dan lebih pintar dalam memproses aplikasi berbasis AI.

Sebagai gambaranProsesor Intel® Core™ Ultra dioptimalkan untuk laptop premium canggih seperti pada Zenbook DUO (UX8406). Menampilkan arsitektur hibrida performa 3D, kemampuan AI canggih, dan tersedia dengan GPU Intel® Arc™ bawaan. Sekaligus menghadirkan keseimbangan optimal antara performa dan efisiensi daya untuk gaming, pembuatan konten, dan produktivitas di mana saja.

 

"Hadir dengan sistem operasi Windows 11, ASUS Zenbook DUO (UX8406) juga merupakan laptop berfitur Copilot untuk dukungan AI. Copilot di Windows 11 melengkapi keahlian dan kreativitas Anda dengan bantuan kecerdasan serta jawaban relevan”

 

Cukup dengan cara mengaktifkan ragam fitur berbasis AI di aplikasi MyAsus, dapat berjalan dengan baik berkat adanya NPU tanpa menguras daya secara berlebihan. Tentunya dengan dukungan kapasitas RAM 16GB LPDDR5X dan penyimpanan menggunakan SSD NVMe sebesar 1TB. 

 

Sementara itu, baterainya berkapasitas 75Wh yang membuat ia sangat awet digunakan dalam waktu lama tanpa dicharger. Sebagai gambaran, bila digunakan pada kondisi normal yang mengaktifkan kedua layar pada laptop ini. Ia bisa bertahan up to 8 jam, cukup banget buat diajak kerja produktivitas serta konten. Ibarat menggerakkan dua laptop namun punya daya yang irit.

 

Selain itu, prosesor Intel® Core™ Ultra 7 155H juga dibekali chip grafis Intel® Arc™ yang mampu menghadirkan performa hingga dua kali lipat dibandingkan dengan chip grafis terintegrasi di prosesor Intel® generasi sebelumnya.

Chip grafis Intel® Arc™ juga sudah didukung berbagai teknologi grafis modern seperti real-time ray tracing, Xᵉ Super Sampling, hingga DX 12 Ultimate dan Advanced Media Engine. Di Zenbook DUO (UX8406), Intel® Arc™ tidak hanya dapat mengakselerasi pemrosesan grafis, tetapi juga video encoding yang tentunya sangat penting untuk para konten kreator.

 

Selain itu, sudah dilengkapi Office Pre-Installed, agar Anda bisa nikmati semua manfaat dengan PC yang lengkap – PC sudah termasuk Office Home & Student 2021. Aplikasi Office versi lengkap (Word, Excel dan PowerPoint) memberikan semua fungsi yang dibutuhkan dan diharapkan oleh penggunanya."

 

Kesimpulan Akhir

Setelah kita ngomong panjang lebar, akhirnya sampai pada tujuan akhir yaitu kesimpulan. Buat saya pribadi, ASUS ZenBook Duo (UX8406) menyasar begitu banyak para pekerja dan eksekutif dengan mobilitas tinggi. Tentunya tetap trendi dan tentu saja menjadikan mereka ibarat lampu sorot saat laptopnya dibuka dan memulai kerja dan hiburan.

Zenbook DUO (UX8406) hadir dengan inovasi baru dengan dua layar yang mendukung multitasking dan produktivitas tinggi dengan kualitas layar OLED 3K yang bikin mata segar. Makin digdaya dengan prosesor Intel® Core™ Ultra 7 155H juga dibekali chip grafis Intel® Arc™ yang mampu diajak menjalankan aplikasi berat dan skema kerja kreatif.


Punya bobot yang enteng untuk dibawa ke masa saja dalam bekerja. Serta ada 5 mode pengguna yang bisa disesuaikan dengan beragam skenario bekerja. Rasanya Zenbook DUO (UX8406) menjadi role model Dual-Screen Laptop yang menjawab para pekerja kreatif, penikmat konten, dan bahkan eksekutif untuk bisa memiliknya.

Semoga tulisan saya ini menginspirasi kita semua. Akhir kata Have a Nice Days. Artikel ini diikutsertakan pada Blog Writing competition bersama www.didno76.com

 berikut ini spesifikasi lengkap dari ASUS Zenbook DUO (UX8406).


Produk

Zenbook DUO (UX8406MA)
   
CPU   
   
Intel®   Core™ Ultra 7 Processor 155H 1.4 GHz (24MB Cache, up to 4.8 GHz, 16 cores, 22   Threads) with Intel® AI Boost NPU   
   
Sistem   Operasi   
   
Windows 11 Home   
   
Memori   
   
16GB LPDDR5X   
   
Penyimpanan   
   
1TB M.2 NVMe™   PCIe® 4.0 Performance SSD   
   
Layar   
   
Dual 14-inch   ASUS Lumina OLED, 3K (2880 x 1800) 16:10, 120Hz, 0.2ms, 100% DCI-P3, PANTONE   Validated, 600nits, VESA CERTIFIED Display HDR True Black 500, Low Blue   Light, Anti-Flicker, Touchscreen with Stylus Support   
   
Grafis   
   
Intel® Arc™ Graphics   
   
Input/Output   
   
1x USB 3.2 Gen 1 Type-A, 2x   Thunderbolt™ 4 supports display / power delivery, 1x HDMI 2.1 TMDS, 1x 3.5mm   Combo Audio Jack   
   
Konektivitas   
   
Wi-Fi   6E(802.11ax) (Dual band) 2*2 + Bluetooth® 5.3   
   
Kamera   
   
FHD camera with IR and Ambient   Light Sensor function, support Windows Hello, support Windows Studio Effect   
   
Audio   
   
Smart Amp   Technology, Built-in speaker, Built-in array microphone, harman/kardon   certified   
   
Baterai   
   
75WHrs, 4S1P,   4-cell Li-ion   
   
Dimensi   
   
31.35 x 21.79   x 1.46 ~ 1.99 cm   
   
Bobot   
   
1.39 Kg (laptop)
   
0.3 Kg   (keyboard)   
   
Harga   
   
Rp33.999.000   
   
Garansi   
   
2 Tahun Garansi Global dan 1 Tahun ASUS VIP Perfect   Warranty   
   
Warranty    
   
2 Tahun Garansi Global dan 1 Tahun ASUS   VIP Perfect Warranty    
Share:

1 comment:

  1. bisa-bisanya ya ASUS ngerilis laptop sekeren ini, desainnya unik spesifikasinya pun juga masih sangat menarik, pantes nih kalau banyak yang melirik :D

    ReplyDelete

ROG Phone 8

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Part of EcoBlogger Squad

Part of EcoBlogger Squad