Kalau nama Raja
Ampat disebut, yang muncul di kepala kebanyakan orang pasti laut. Air sebening
kaca, terumbu karang warna-warni, ikan berkelompok seperti awan yang bergerak,
atau kalau beruntung, pari manta melintas pelan di bawah perahu. Saya sendiri
begitu, setiap kali dengar nama itu, bayangan yang muncul selalu bawah laut,
bukan daratannya, apalagi hutan bakaunya.
Tapi ternyata, ada cerita lain yang jarang sampai ke brosur wisata. Cerita itu bukan datang dari kedalaman laut, melainkan dari balik pagar hijau rapat yang selama ini cuma dianggap pembatas antara darat dan laut: mangrove. Di sebuah kampung kecil bernama Friwen, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, hutan bakau justru jadi tempat lahirnya sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar pemandangan indah, yaitu ketahanan pangan.
Friwen sendiri
bukan kampung besar. Hanya sekitar 60 kepala keluarga tinggal di sana, di
sebuah pulau kecil yang untuk sampai ke kebun saja warganya harus menyeberang
selat dengan perahu. Tidak ada sorotan kamera turis di sini, tidak ada
rombongan snorkeling yang singgah. Tapi justru di tempat sekecil dan sesepi
inilah, sebuah eksperimen sosial yang jauh lebih besar dari ukurannya sedang
berlangsung, tentang bagaimana perempuan-perempuan kampung mengambil alih
tanggung jawab menyelamatkan alam sekaligus mengisi perut keluarga mereka
sendiri.
Mangrove yang Menjaga Laut dan Isi
Piring
Kalau dilihat
sekilas, mangrove memang hanya tampak seperti hutan yang tumbuh di batas antara
darat dan laut. Padahal, akar-akarnya yang rapat bekerja seperti ruang
pembibitan alami bagi larva ikan dan krustasea sebelum biota itu bergerak ke
perairan yang lebih terbuka. Guguran daunnya pun tidak berhenti menjadi sampah.
Ia berubah menjadi detritus, sumber energi penting dalam rantai makanan
pesisir.
Karena itu,
cerita tentang ketahanan pangan di Friwen sebenarnya tidak dimulai ketika
mama-mama menanam sayur atau mengolah buah aibon. Ceritanya dimulai jauh
sebelumnya, ketika mangrove masih mampu menyediakan habitat bagi ikan,
kepiting, dan kerang. Hutan yang sehat pada akhirnya ikut menentukan apa yang
tersedia di meja makan.
Mangrove juga
berfungsi menyaring sedimen dan polutan sehingga kualitas perairan tetap
terjaga. Di wilayah seperti Raja Ampat, hubungan itu terasa sangat dekat: hutan
di pesisir tidak berdiri sendiri dari laut. Kerusakan di daratan dapat berimbas
pada ruang hidup biota laut, dan pada akhirnya memengaruhi sumber protein
masyarakat.
Persoalannya
menjadi semakin rumit ketika perubahan iklim ikut masuk ke dalam cerita.
Kenaikan muka air laut dapat mengancam habitat pemijahan ikan dan krustasea,
cuaca ekstrem dapat mengganggu siklus produksi pangan, sementara intrusi air
laut berpotensi mengurangi ketersediaan air tawar untuk kebutuhan rumah tangga
dan pertanian. Artinya, menjaga mangrove bukan hanya soal menyelamatkan pohon,
tetapi juga memperkuat kemampuan kampung menghadapi perubahan yang datang dari
luar kendali mereka.
Panggilan Nurani yang Menepis Karier
Mapan
Cerita ini tidak
bisa dilepaskan dari sosok Loesye Fainsenem, atau akrab disapa Lusy. Perempuan
berusia 42 tahun ini sebenarnya pernah punya jalan hidup yang mapan, menjabat
sebagai Director of Sales di sebuah hotel ternama di Manokwari. Posisi yang
menjanjikan stabilitas, gaji baik, dan prestise, yang bagi kebanyakan orang
sudah cukup jadi alasan untuk bertahan seumur hidup.
Tapi ada yang
mengganjal. Di tengah rutinitas kerja kantoran itu, Lusy merasakan jarak antara
dirinya dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di sekitarnya. Sampai
akhirnya ia mengambil keputusan yang jarang berani diambil orang, meninggalkan
kariernya, dan menjawab apa yang ia sebut sebagai panggilan nurani.
Langkah itu
membawanya ke Friwen, kampung kecil yang bahkan bukan tanah kelahirannya
sendiri. Di sana, ia tidak datang sebagai orang luar yang membawa solusi instan
seperti kebanyakan proyek pemberdayaan pada umumnya. Ia lebih memilih duduk,
mendengar, dan belajar bersama warga. Dari situlah ia perlahan memahami bahwa
yang paling tahu persoalan mangrove dan pangan lokal bukan pihak luar,
melainkan mama-mama di kampung itu sendiri.
Cara pandang itu
yang kemudian diringkasnya sendiri dalam satu kalimat yang menurut saya jadi
semacam kunci dari keseluruhan gerakan ini: karena ada hutan, perempuan itu
hidup, dan ketika perempuan kuat, kampung dan bangsa pun ikut menjadi kuat.
Bukan kalimat kosong belaka, karena pada 2022, dedikasinya itu diganjar
penghargaan Women Champion dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, sebuah
pengakuan nasional atas kerja yang selama bertahun-tahun berjalan nyaris tanpa
sorotan media.
Ketika Mama-Mama Jadi Penjaga Rimba
Bakau
Kenapa harus
perempuan yang jadi ujung tombak? Pertanyaan itu wajar muncul, dan jawabannya
ternyata sederhana sekaligus masuk akal. Secara adat, kaum perempuan di Friwen
memang yang paling sering keluar masuk hutan dan mangrove, mencari bia atau
kerang, menanam ubi, atau sekadar mengumpulkan bahan makanan harian. Mereka
yang paling dekat dengan ekosistem itu, sehingga paling paham juga ketika
ekosistem itu mulai rusak.
Kerusakan yang
dimaksud bukan main-main. Data pemantauan kawasan yang dikenal masyarakat adat
sebagai hutan mangrove Doredor, kawasan yang dijaga turun-temurun oleh warga
Friwen sekaligus dikenal sebagai pusat pemijahan ikan di Selat Dampier,
mencatat bahwa dalam rentang sepuluh tahun, dari 2009 sampai 2019, tingkat
kerusakan mencapai 57 persen, atau setara 133 hektare dari total luasan 233
hektare.
Penyebab utamanya
sama seperti dugaan banyak orang, yaitu pemenuhan kebutuhan kayu untuk industri
pariwisata yang tumbuh pesat di Raja Ampat. Padahal bagi warga Friwen, mangrove
bukan sekadar pohon di pinggir pantai. Ia tempat ikan bertelur, tempat kepiting
berkembang biak, sekaligus penjaga kualitas air laut yang jadi sandaran hidup
nelayan.
Ironisnya,
kerusakan itu justru datang dari sektor yang sama-sama dianggap bisa
menyejahterakan warga, yaitu pariwisata. Homestay memang mendatangkan tamu dan
rupiah, tapi kalau dibangun dengan menebang mangrove tanpa perhitungan, yang
hilang justru fondasi hidup yang lebih mendasar, tempat ikan berkembang biak
dan tempat pangan lokal tumbuh. Lalu, siapa yang akhirnya sadar lebih dulu
bahwa ini tidak bisa dibiarkan?
Jawabannya,
lagi-lagi, mama-mama kampung. Dari keresahan itulah, sejak sekitar 2014,
mama-mama Friwen mulai bergerak sendiri, dengan dana dan tenaga swadaya. Kebun
mereka berada di seberang selat, di Pulau Gam, sehingga setiap kali menyeberang
untuk berkebun, mereka otomatis melintasi kawasan mangrove. Rute itu kemudian
jadi semacam jalur patroli tak resmi. Ketika berpapasan dengan orang yang
mencoba menebang mangrove, mama-mama tidak segan menegur langsung. Dan uniknya,
kalau sudah mama-mama yang turun tangan, laki-laki pun jadi segan. Lambat laun,
dengan cara sesederhana itu, kondisi mangrove yang tadinya rusak mulai pulih.
Keresahan yang
sama juga dirasakan warga Kampung Yenbeser di sebelahnya, sehingga pada 2018
kegelisahan bersama itu ditata jadi langkah yang lebih terstruktur, dimulai
dari pemetaan partisipatif dan identifikasi jenis mangrove di kawasan mereka
sendiri. Hasilnya cukup mengejutkan, tercatat ada 16 jenis mangrove sejati dan
28 jenis asosiasi yang tumbuh di kawasan itu. Dari pemetaan itu pula, pelatihan
mengolah mangrove sebagai bahan pangan lokal mulai digalakkan kembali, bukan
cuma mengandalkan ingatan para tetua.
Ketahanan Pangan Tidak Hanya Datang
dari Kebun
Ketika orang bicara pangan berbasis
mangrove, perhatian kita mungkin langsung tertuju pada buah yang bisa diolah
menjadi tepung. Padahal, sumber pangan dari ekosistem ini jauh lebih luas.
Mangrove yang sehat menyediakan habitat bagi kepiting bakau dan berbagai
moluska atau kerang yang menjadi sumber protein dan mineral bagi masyarakat
pesisir.
Di titik ini,
konservasi dan pangan kembali bertemu. Pemanfaatan kepiting dan kerang memang
dapat menjadi sumber pendapatan keluarga, tetapi hanya akan bertahan kalau
habitatnya tetap tersedia. Karena itu, rehabilitasi mangrove bukan pekerjaan
yang berdiri sendiri dari urusan ekonomi. Ia adalah investasi untuk menjaga
sumber pangan yang bisa dipanen berulang kali.
Mungkin ini pula
yang membuat pengalaman mama-mama Friwen menarik. Mereka tidak sedang memilih
antara hutan atau pangan. Mereka justru sedang merawat hutan supaya pangan
tetap tersedia, sekaligus mencari cara agar hasil hutan dan laut dapat memberi
nilai ekonomi tanpa menghabiskan sumber dayanya.
Dari Buah Pahit Menjadi Tepung
Kehidupan
Selagi merawat
mangrove, ternyata muncul kembali ingatan lama yang nyaris hilang. Para tetua
di Friwen bercerita, dulu ada buah mangrove bernama aibon, dari jenis
Bruguiera, yang jadi sumber pangan penting masyarakat pesisir. Konon, tradisi
mengolah buah ini sudah ada sejak abad ke-14. Tepung kering dari buah aibon
dulu jadi bekal andalan kalau warga harus bepergian jauh, karena tahan disimpan
bertahun-tahun tanpa rusak.
Sayangnya,
seiring masuknya bahan pangan dari luar kampung, tradisi itu perlahan
ditinggalkan. Kini, hanya segelintir orang tua yang masih ingat caranya,
sementara anak muda nyaris tidak ada yang tahu. Mengolah buah aibon jelas bukan
perkara instan. Buah ini tidak bisa langsung dimakan karena mengandung tanin
yang membuat rasanya pahit. Prosesnya panjang, mulai dari mengupas kulit,
merebus untuk mengurangi kadar tanin, lalu menumbuknya hingga menjadi tepung.
Dari sekitar lima
kilogram buah segar, hanya dihasilkan kurang lebih dua kilogram tepung. Tidak
efisien memang, tapi justru di situlah nilainya, karena tepung itu kemudian
bisa diolah jadi berbagai makanan modern, mulai dari mie, donat, kue kering,
sampai pizza. Bagi saya, ini bagian paling menarik dari keseluruhan cerita.
Sebuah tradisi pangan yang nyaris punah, dihidupkan kembali bukan dengan cara
nostalgia semata, tapi dikawinkan dengan selera masa kini. Warisan leluhur abad
ke-14 bertemu meja makan abad ke-21.
Menariknya, apa
yang terjadi di Friwen bukan kasus terisolasi. Di kampung lain di Raja Ampat,
seperti Yensawai, cerita serupa juga pernah muncul. Buah mangrove yang di sana
biasa disebut aiwon, juga sempat jadi andalan pangan masyarakat pesisir sebelum
akhirnya nyaris dilupakan seiring perubahan pola makan.
Ini menunjukkan
satu hal, bahwa pengetahuan tentang mangrove sebagai sumber pangan sebenarnya
pernah tersebar luas di sepanjang pesisir Raja Ampat, bukan cerita satu kampung
saja. Yang membedakan Friwen, mungkin, adalah keberanian mama-mama di sana
untuk tidak berhenti di romantisme masa lalu, tapi benar-benar menghidupkannya
kembali jadi produk yang bisa dijual dan dinikmati generasi sekarang.
Dari Aibon ke Ragam Pangan Lokal
Bahan tentang
ketahanan pangan mangrove juga memperlihatkan bahwa aibon dapat ditempatkan
sebagai bagian dari diversifikasi pangan, bukan sekadar pengganti tepung. Buah
Bruguiera gymnorrhiza dapat diolah menjadi bahan baku tepung sebagai substitusi
sumber karbohidrat lokal. Dalam pengembangan produk, olahannya dapat diarahkan
menjadi kue, keripik, dan berbagai camilan untuk pasar lokal.
Ada pula peluang
mengolah sari buah mangrove menjadi sirup atau minuman tradisional. Di sisi
lain, ekosistem mangrove yang terjaga dapat mendukung produk lain seperti madu
mangrove, dengan pemanfaatan nektar bunga sebagai sumber pendapatan alternatif.
Gagasan semacam ini penting karena semakin beragam produk yang bisa dihasilkan,
semakin kecil ketergantungan masyarakat pada satu jenis komoditas.
Pertanyaan yang
lalu muncul di kepala saya, kenapa pengetahuan seperti ini bisa nyaris hilang
padahal jelas-jelas berguna? Jawabannya mungkin bukan karena masyarakat lupa
begitu saja, tapi karena selama puluhan tahun tidak ada insentif untuk
mempertahankannya.
Ketika beras dan
mi instan bisa dibeli dengan mudah dari kapal yang singgah, mengolah buah aibon
yang makan waktu berjam-jam jelas kalah praktis. Yang membuat Friwen berbeda,
pengetahuan lama itu tidak sekadar dihidupkan kembali sebagai simbol identitas,
tapi dipaksa berhadapan dengan pasar hari ini, lewat menu donat dan pizza yang
jauh lebih relevan bagi lidah generasi muda dibanding bubur aibon polos ala
nenek moyang.
Ketika Negara Akhirnya Mendengar
Bertahun-tahun
bekerja swadaya tentu ada batasnya. Pada 2018, mama-mama dan pendamping mereka
memberanikan diri membentuk badan hukum bernama Perkumpulan Kawan Pesisir, yang
kini bekerja di dua kampung, Friwen dan Yenbeser. Filosofinya sederhana namun
dalam: merawat mimpi, menumbuhkan inspirasi.
Titik baliknya
datang pada 2022, ketika Kelompok Tani Mangrove Friwen-Yenbeser mengajukan
usulan Hutan Desa langsung di hadapan Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, Dr. Ir. Bambang Hendroyono, di sela kegiatan penanaman mangrove di
Yenatar, Pulau Gam. Kesempatan itu tidak disia-siakan.
Warga
menyampaikan permohonan yang selama ini mengganjal, yaitu status hukum atas
hutan yang sudah mereka tanam dan restorasi sendiri sejak 2019. Usulan itu
bahkan disebut mendukung agenda yang jauh lebih besar dari sekadar kepentingan
satu kampung, yaitu target nasional FOLU Net Sink 2030, dengan proyeksi serapan
karbon negatif hingga 140 juta ton CO2e.
Hasilnya, meski
butuh proses panjang, akhirnya membuahkan hasil konkret. Pada September 2024,
terbit Surat Keputusan Menteri LHK Nomor
SK.11608/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/9/2024, yang menetapkan Persetujuan Pengelolaan
Hutan Desa Kampung Friwen seluas 1.025,55 hektare. Bukan cuma angka luas
semata, SK itu juga membagi kawasan jadi tiga ruang kelola, yaitu Ruang Lindung
seluas 473,41 hektare, Ruang Pemanfaatan seluas 269,14 hektare, dan Ruang
Pemanfaatan berbasis Konservasi seluas 283 hektare. Sebuah pengakuan negara
atas kerja bertahun-tahun yang sebelumnya berjalan nyaris tanpa sorotan sama
sekali.
Lalu, apa yang
berubah setelah SK itu turun?
Banyak. Struktur
kelembagaan yang tadinya informal kini punya bentuk resmi, terdiri dari satu
Lembaga Pengelola Hutan Desa, empat Kelompok Usaha Perhutanan Sosial, satu
kelompok patroli, dan satu Kelompok Kerja Perempuan Perlindungan Mangrove,
lengkap dengan dokumen rencana kerja jangka panjang dan tahunan. Dengan status
hukum yang jelas, masyarakat mulai bisa bekerja sama dengan berbagai pihak.
Dinas Pertanian Kabupaten Raja Ampat, misalnya, memberi dukungan berupa alat
cultivator, pupuk, dan bibit tanaman.
Ruang Pemanfaatan
yang tadi disebut pun tidak dibiarkan kosong. Di sana, warga mengembangkan jasa
lingkungan seperti mangrove tracking, forest tracking, bird watching, hingga
wisata pasir timbul, diving, dan snorkeling, sementara hasil hutan bukan kayu diolah
jadi produk yang lebih beragam dari sekadar tepung aibon, mulai dari sabun cair
dan sabun padat berbahan mangrove, aneka anyaman tradisional dan suvenir,
sampai komoditi hortikultura lewat sistem agroforestry jangka menengah.
Hutan yang Dijaga dengan Aturan,
Bukan Sekadar Niat Baik
Status Hutan Desa
memberi fondasi yang penting, tetapi status hukum saja tidak otomatis membuat
ekosistem aman. Pengelolaan tetap membutuhkan aturan tentang ruang mana yang
harus dilindungi dan ruang mana yang boleh dimanfaatkan. Bahan pengelolaan
mangrove menekankan pentingnya pemetaan partisipatif, sehingga masyarakat ikut
menentukan batas kawasan inti dan zona pemanfaatan terbatas.
Logikanya
sederhana. Tidak semua bagian hutan harus dipanen, dan tidak semua bagian harus
ditutup sama sekali. Kawasan tertentu dapat dialokasikan untuk pemanfaatan buah
aibon atau biota laut, sementara kawasan yang sedang pulih perlu diberi ruang
untuk beristirahat. Dengan cara itu, kegiatan ekonomi tidak memotong fungsi
ekologis hutan primer.
Ada pula
pendekatan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat adat, yaitu penutupan
sementara terhadap pengambilan sumber daya pada periode tertentu. Dalam
kerangka pengawasan berbasis masyarakat atau sasi, aturan adat, tokoh
masyarakat, dan kesepakatan kampung dapat menjadi bagian dari mekanisme menjaga
stok pangan. Bahkan kawasan yang dianggap sakral dapat diperlakukan berbeda
dari kawasan pemanfaatan.
Restorasi pun
tidak cukup hanya dengan menanam bibit. Pemulihan hidrologi, termasuk
memperbaiki pola aliran air dan sistem pasang surut, menjadi bagian penting
agar mangrove dapat tumbuh secara alami. Bibit lokal juga perlu diidentifikasi
dan dilindungi karena kemampuan beradaptasinya lebih sesuai dengan kondisi
ekologis setempat. Lagi-lagi, masyarakat adat bukan sekadar penerima program,
tetapi bagian dari pemilik pengetahuan dan penjaga aset lingkungan itu sendiri.
Kopi Pertama di Tanah Surga Bahari
Salah satu bibit
yang didatangkan adalah kopi, dari Jember dan Jayapura. Ini bukan hal kecil,
karena inilah pertama kalinya dalam sejarah kawasan itu tanaman kopi ditanam di
Raja Ampat. Rencananya ada sekitar 5.000 bibit kopi yang akan ditanam di bawah
tegakan mangrove dan hutan produksi. Tiga sampai empat tahun lagi, kalau tumbuh
baik, Raja Ampat akan punya kopi sendiri untuk pertama kalinya.
Selain kopi untuk
jangka panjang, mama-mama juga memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam
sayur seperti kangkung dan bayam, sebagai jawaban kebutuhan jangka pendek. Ada
juga rencana menanam nanas, semangka, pepaya, jeruk, durian, langsat, mangga,
hingga alpukat. Logikanya sederhana, tapi di baliknya ada kesadaran ekologis
dan ekonomis yang kuat sekaligus, menjaga hutan agar pangan tetap ada, dan
menghadirkan pangan agar masyarakat punya kedaulatan atas perutnya sendiri.
Ada satu hal yang
menarik dari cara mama-mama membagi jenis tanaman ini. Tanaman jangka pendek
seperti sayur ditempatkan dekat rumah, supaya bisa dipanen setiap hari tanpa
harus menyeberang selat dulu. Sementara tanaman jangka menengah dan panjang
seperti buah-buahan dan kopi ditanam lebih jauh, di kebun seberang atau di
bawah tegakan mangrove dan hutan produksi. Susunan ini membuat setiap keluarga
selalu punya sesuatu untuk dipanen, entah hari ini, bulan depan, atau beberapa
tahun ke depan. Semacam kalender panen yang disusun sendiri oleh warga, tanpa
perlu konsultan pertanian dari luar untuk merancangnya.
Ekonomi yang Akhirnya Berputar di
Kampung Sendiri
Raja Ampat
dikenal sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia, dengan homestay-homestay
yang tumbuh subur di sepanjang pesisirnya. Tapi selama ini, banyak kebutuhan
homestay, termasuk sayur dan bahan pangan, harus didatangkan dari Sorong, kota
yang jaraknya tidak dekat. Ongkos mahal, waktu lama, dan yang paling ironis,
uang wisatawan yang datang ke Raja Ampat justru banyak mengalir keluar dari
Raja Ampat sendiri.
Di sinilah mimpi
besar mama-mama Friwen berpijak. Kalau kebun sendiri bisa memasok kebutuhan
homestay, tidak perlu lagi mendatangkan dari luar. Pasar sudah ada di depan
mata, tinggal bagaimana memenuhinya. Bahkan sudah ada semacam pembagian peran
yang disepakati bersama di kampung, tidak semua orang harus buka homestay, tapi
harus ada yang menopang kebutuhan homestay itu lewat sayur, buah, dan bahan
pangan lain.
Untuk memperkuat
itu, warga yang tergabung dalam kelompok Perhutanan Sosial, kini berjumlah
sekitar 35 mama-mama, terbagi dalam empat Kelompok Usaha Perhutanan Sosial,
yaitu pengelolaan mangrove, pertanian, kerajinan, dan jasa lingkungan yang
masih dalam tahap perencanaan. Mama-mama yang sudah berusia lanjut diarahkan
membuat kerajinan tangan seperti anyaman dan tikar, yang dijual sebagai cendera
mata khas Raja Ampat kepada wisatawan.
Kalau mau dilihat
dari angka, kontribusi perempuan di sini memang tidak main-main. Sekitar 80
persen peran aktif dalam pengelolaan kelompok usaha, mulai dari pengolahan
mangrove, agroforestry, kerajinan tangan, sampai patroli dan kelompok kerja
perlindungan mangrove, ada di tangan mama-mama. Mereka pula yang mengolah
produk mangrove jadi pangan lokal, membuat sabun mangrove, memproduksi minyak
kelapa dan VCO, sampai menjual sayur langsung ke homestay dan resort di sekitar
kampung.
Lebih luas lagi,
sekitar 90 persen perempuan di wilayah pesisir Raja Ampat memang menggantungkan
hidupnya pada sumber daya pesisir, entah lewat pangan, etnobotani, pasar
tradisional, pengambilan daun untuk tikar, berkebun, atau mencari ikan dan
kerang. Bukan berlebihan kalau dikatakan, tanpa peran perempuan, sumber daya
alam pesisir ini akan jauh lebih sulit dijaga.
Pembagian
kelompok seperti ini penting, karena tidak semua mama-mama punya tenaga yang
sama untuk turun ke kebun atau menyeberang ke mangrove setiap hari. Dengan
sistem ini, semua tetap punya peran, dari yang muda yang kuat mengangkut buah
aibon, sampai yang sepuh yang menganyam di teras rumah sambil mengawasi cucu.
Tidak ada yang merasa tertinggal, dan justru dari situ, rasa memiliki terhadap
program ini tumbuh lebih kuat, karena setiap orang tahu persis kontribusinya di
mana.
Pada Juli 2025,
digelar Festival Kerajinan hasil karya mama-mama Friwen, yang bahkan diikuti
mama-mama dari kampung tetangga. Hasilnya, total penjualan kerajinan dan
makanan olahan mencapai sekitar Rp20 juta dalam satu kali festival. Angka yang
mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang, tapi bagi kampung kecil
berpenduduk sekitar 60 kepala keluarga, itu bukti nyata bahwa ekonomi mulai
berputar di dalam komunitas sendiri, bukan sekadar lewat begitu saja bersama
rombongan turis yang datang dan pergi. Dukungan itu bahkan sudah masuk ke
anggaran resmi kampung, lewat alokasi dana desa sebesar 15 persen yang khusus
diperuntukkan bagi program Perhutanan Sosial Friwen.
Dari Produk Rumahan ke Rantai Pasok
Kampung
Di sinilah
tantangan berikutnya muncul. Produk mangrove tidak cukup hanya bisa dibuat; ia
harus punya kualitas, pasar, dan jalur distribusi. Pelatihan kurasi produk,
misalnya, dapat membantu memperbaiki kemasan dan rasa agar produk turunan
mangrove tidak berhenti sebagai oleh-oleh yang menarik di dalam kampung, tetapi
memiliki daya saing ketika masuk ke pasar yang lebih luas.
Model kelompok
usaha juga membuka ruang bagi perempuan untuk mengelola bisnis rumahan secara
kolektif, mulai dari menentukan harga hingga mengatur pesanan. Dengan jumlah
sekitar 35 perempuan yang terlibat dalam kelompok usaha, penguatan kapasitas
semacam ini dapat menjadi jembatan antara kegiatan konservasi dan pendapatan
rumah tangga.
Ekowisata menjadi
peluang lain. Mangrove tracking, wisata edukasi penangkapan ikan tradisional,
pemanenan komoditas mangrove secara berkelanjutan, sampai kuliner berbasis
pangan lokal dapat dibuat sebagai satu pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya
datang melihat alam, tetapi juga memahami bagaimana alam itu menopang kehidupan
masyarakat.
Tantangan yang
tidak kalah penting adalah logistik. Pulau-pulau kecil memiliki persoalan biaya
dan jarak ketika produk hendak dibawa ke pasar. Karena itu, pembangunan
infrastruktur distribusi, kerja sama dengan hotel, homestay, dan restoran,
serta pemasaran digital dapat membantu memendekkan jarak antara produsen di
kampung dan konsumen di luar Raja Ampat.
Kalau rantai ini
berhasil dibangun, homestay dan resort tidak hanya menjadi tempat menjual kamar
kepada wisatawan. Mereka juga bisa menjadi pasar tetap bagi sayur, buah, pangan
olahan, kerajinan, dan produk lokal lainnya. Uang yang dibawa wisatawan pun punya
peluang lebih besar untuk berputar di kampung, bukan langsung keluar bersama
barang yang didatangkan dari tempat lain.
Semua Tidak Berjalan Sendirian
Cerita Friwen
tentu tidak melulu soal swadaya tanpa bantuan dari luar. Sejak beberapa tahun
terakhir, ada kemitraan dengan The Asia Foundation lewat program bernama
PAPeDA, yang dijalankan bersama Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat. Bedanya,
pendampingan ini tidak berhenti pada sekadar memberi informasi soal skema
Perhutanan Sosial, tapi ikut mendorong perubahan dari tingkat kampung sampai
menarik perhatian pemerintah kabupaten.
Pada tahap PAPeDA
4 yang dijalankan di Kampung Friwen, fokusnya memperkuat pemahaman warga soal
skema Hutan Desa sebagai bagian dari menjaga ekosistem mangrove. Tahap
berikutnya, PAPeDA 5, memperluas cakupannya lagi, mulai dari penguatan
kelembagaan, peningkatan kapasitas usaha masyarakat, sampai membangun jejaring
dan mendorong dukungan kebijakan di level daerah.
Salah satu buah
dari proses ini adalah mulai munculnya pembicaraan soal Bantuan Keuangan
Ekologi sebagai bagian dari kebijakan fiskal Kabupaten Raja Ampat, semacam
insentif daerah untuk kampung-kampung yang serius menjaga ekosistemnya sendiri.
Uang dan pelatihan dari mitra luar berfungsi mempercepat sesuatu yang arahnya
sudah jelas ditentukan warga sendiri, bukan menentukan arah baru yang asing
bagi mereka. Barangkali ini juga yang membuat program semacam ini bertahan
lebih lama dibanding proyek-proyek pemberdayaan yang datang dan pergi begitu
saja begitu masa hibahnya habis.
Akhir Kata
Ada satu hal yang
terus terngiang setelah menelusuri cerita ini. Raja Ampat, yang selama ini
dikenal dunia karena keindahan bawah lautnya, ternyata menyimpan kekuatan lain
yang justru tumbuh di daratan, di balik rimpang-rimpang bakau yang dulu
dianggap sebelah mata.
Kekuatan itu ada
di tangan mama-mama yang tahu cara mengubah buah pahit jadi tepung yang bisa
disulap jadi pizza. Ada di keputusan seorang perempuan yang menanggalkan
seragam kerja kantoran demi sepatu bot berlumpur. Ada di keberanian menegur
langsung siapa pun yang coba merusak alam, tanpa menunggu aparat datang lebih
dulu.
Mungkin ini
pelajaran yang sering kita lupakan, bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus
dicari jauh-jauh lewat teknologi canggih atau kebijakan besar dari pusat.
Kadang, jawabannya sudah ada di halaman belakang kampung sendiri, tinggal
menunggu ada yang mau kembali mendengarkannya, seperti yang dilakukan mama-mama
Friwen pada rimba bakau mereka. Bagi mereka, hutan memang bukan sekadar bentang
alam hijau di antara pulau-pulau, melainkan ruang hidup, sumber penghidupan,
sekaligus warisan yang harus dijaga agar generasi berikutnya masih sempat
menikmatinya.
Semoga cerita
dari Friwen ini bisa jadi pengingat, bahwa menjaga alam dan mengisi perut bukan
dua hal yang harus dipilih salah satu. Keduanya bisa berjalan beriringan, asal
ada yang mau mulai dari langkah kecil, seperti menanam kembali sebatang
mangrove di pesisir yang nyaris gundul.
Seluruh proses
ini berjalan tanpa pernah menyingkirkan pariwisata sebagai musuh. Justru
sebaliknya, pariwisata dan pangan lokal di Friwen coba dirangkul jadi satu
ekosistem yang saling menopang. Wisatawan datang untuk laut, tapi lewat sayur
di piring makan mereka di homestay, tanpa sadar mereka juga ikut menopang
kebun-kebun mama-mama di seberang selat. Sebuah simbiosis yang jarang
terpikirkan, padahal masuk akal sekali kalau mau direnungkan lebih dalam.
Saya jadi
berpikir, mungkin selama ini kita terlalu sering menempatkan konservasi dan
ekonomi sebagai dua kutub yang berlawanan, seolah menjaga alam berarti harus
rela hidup miskin, atau sebaliknya, mengejar kesejahteraan berarti harus rela
mengorbankan hutan dan laut. Cerita Friwen membuktikan sebaliknya. Ketika
mangrove dijaga dengan sungguh-sungguh, ikan kembali banyak, kepiting kembali
ada, buah aibon kembali bisa dipanen, dan dari situ pula ekonomi kampung ikut
bergerak. Tidak ada yang perlu dikorbankan, asal ada kemauan untuk sabar
merawatnya dari nol, seperti yang sudah dilakukan mama-mama Friwen sejak 2014
hingga hari ini.
Saya menutup catatan ini dengan satu
bayangan sederhana. Suatu hari nanti, mungkin seorang wisatawan yang baru
selesai snorkeling di Selat Dampier akan duduk di sebuah homestay, memesan
pizza, tanpa tahu bahwa tepung yang dipakai berasal dari buah pahit yang dulu
hampir dilupakan, diproses oleh tangan mama-mama yang juga sama yang menjaga
hutan tempat ia baru saja berenang. Kalau itu benar-benar terjadi, berarti
lingkaran yang dirintis Friwen sejak lebih dari satu dekade lalu sudah sampai
pada tujuannya, menyambungkan laut, hutan, dan meja makan jadi satu cerita yang
sama.

0 komentar:
Post a Comment