Beberapa waktu ini saya merasakan satu hal yang
cukup pilu, ada banyak teman yang merasakan sakit padahal usianya masih muda
banget. Ada yang cuci darah, ada yang punya riwayat darah tinggi hingga asam
urat yang menjadi-jadi. Rasanya sakit yang dulu identik dengan orang usia
kepala lima, kini malah menyerah kepala tiga awal bahkan pertengahan kepala
dua.
Lalu kemudian membuat saya berpikir,
sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Kenapa semakin banyak orang yang masih muda justru
sudah harus berhadapan dengan masalah kesehatan yang cukup serius? Padahal di
usia seperti ini, mestinya kita masih sibuk memikirkan pekerjaan, mengejar
mimpi, jalan-jalan, atau sekadar nongkrong bersama teman tanpa harus terlalu
banyak memikirkan buat antre berobat di RS.
Saat usia muda, kita sering merasa tubuh masih
bisa diajak kompromi. Begadang semalam, besoknya masih bisa beraktivitas. Makan
sembarangan hari ini, besoknya juga tidak langsung terasa apa-apa. Jarang
olahraga berbulan-bulan pun seakan tidak memberikan dampak yang berarti.
Padahal, mungkin bukan tubuh kita yang baik-baik saja, tetapi tubuh kita yang
sedang menahan semuanya sambil menunggu waktunya untuk mengingatkan.
Masalahnya, kita sering baru sadar ketika tubuh sudah benar-benar memberikan sinyal. Mulai dari mudah lelah, berat badan yang terus bertambah, tidur yang tidak lagi nyenyak, sampai munculnya berbagai keluhan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Di saat seperti itu, kita baru mulai
bertanya-tanya, kenapa dulu tidak lebih peduli? Kenapa olahraga selalu ditunda,
kenapa makan tidak pernah dijaga, dan kenapa tidur selalu dianggap sebagai
sesuatu yang bisa dikorbankan demi pekerjaan atau kesenangan?
Masa Muda, Masa Mengabaikan Kesehatan
Ironisnya, usia muda justru sering menjadi masa
ketika kita paling tidak peduli dengan kesehatan. Saat tubuh masih kuat, justru
di situlah kita paling sering memaksanya bekerja tanpa banyak berpikir. Tidur
larut dianggap biasa, makan seadanya tidak masalah, jarang olahraga juga tidak
terasa sebagai persoalan. Toh, besok pagi tubuh masih bisa diajak bangun dan
beraktivitas seperti biasa. Kita pun merasa semuanya baik-baik saja.
Padahal, tubuh punya cara sendiri untuk mengingat
setiap kebiasaan yang kita lakukan. Ia mungkin tidak langsung protes ketika
kita sering begadang atau terlalu banyak makan dan jarang bergerak. Tapi bukan
berarti semuanya hilang begitu saja. Ada kebiasaan yang terus berulang,
menumpuk, lalu perlahan mulai meninggalkan dampaknya. Seakan membuat kita
sering tidak sadar adalah karena prosesnya berjalan pelan dan tidak selalu
memberikan tanda yang jelas.
Coba lihat orang-orang di sekitar kita. Dulu,
ketika mendengar ada orang yang terkena darah tinggi, diabetes, atau masalah
jantung, kita mungkin langsung membayangkan orang yang usianya sudah tua.
Sekarang ceritanya mulai berbeda. Ada teman yang belum genap tiga puluh tahun
sudah harus rutin memeriksa kesehatan, ada yang mulai menjaga makanan karena
kadar gula darahnya naik, bahkan ada yang harus menjalani pengobatan untuk
kondisi yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan akan dialami di usia semuda
itu.
Kita baru menganggap kesehatan penting setelah tubuh mulai memberikan peringatan. Sebelum itu, semuanya terasa seperti urusan nanti. Nanti kalau sudah menikah, nanti kalau sudah punya anak, nanti kalau sudah tidak sibuk bekerja, atau nanti ketika usia sudah mulai tua. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu kapan tubuh akan mulai meminta perhatian lebih. Bisa jadi saat kita merasa masih punya banyak waktu, sebenarnya tubuh sudah lebih dulu bekerja keras menanggung kebiasaan yang selama ini kita anggap sepele.
Mungkin karena itulah menjaga kesehatan sejak muda
menjadi penting. Bukan karena kita harus takut dengan penyakit atau hidup
dengan penuh kekhawatiran, tetapi karena kita tidak pernah tahu seperti apa
tubuh yang akan kita bawa dua puluh atau tiga puluh tahun lagi. Apa yang kita
lakukan hari ini mungkin belum terasa hasilnya sekarang, tetapi suatu hari
nanti kita akan hidup dengan konsekuensi dari kebiasaan yang kita bangun hari
ini.
Sedentary Lifestyle, Musuh dalam Diam Bagi
Anak Muda
Penyebab paling nyata di balik fenomena ini adalah
gaya hidup mager atau sedentary lifestyle. Banyak anak muda menghabiskan
sebagian besar waktunya duduk atau rebahan, entah di depan laptop untuk kerja
dan kuliah, atau di depan gawai untuk hiburan. Ini kedengarannya sepele, tapi
sebenarnya bahaya banget buat tubuh.
Tubuh kita memang didesain untuk banyak bergerak,
bukan untuk diam berlama-lama. Otot, sendi, jantung, hingga sistem peredaran
darah, semuanya bekerja optimal justru saat tubuh aktif. Ketika gerak menjadi
barang langka dalam keseharian, tubuh perlahan kehilangan fungsi optimalnya.
Kerusakan ini jarang terasa instan, ia menumpuk perlahan seperti karat yang
menggerogoti besi dari dalam, dan kita baru sadar ada masalah ketika gejalanya
sudah muncul ke permukaan.
Kini, sedentary lifestyle semakin sulit dihindari
adalah karena hampir semua kemudahan zaman sekarang justru mendukung kita untuk
tetap diam. Mau makan tinggal pesan lewat aplikasi tanpa perlu beranjak dari
kasur. Mau kerja, cukup buka laptop tanpa perlu banyak berpindah tempat. Mau
hiburan, tinggal buka layar dan scroll tanpa henti. Semua serba dekat, serba
instan, dan tanpa sadar kita kehilangan aktivitas fisik yang dulu terjadi
secara alami dalam rutinitas harian, seperti jalan kaki ke warung atau naik turun
tangga.
Efek dari gaya hidup semacam ini bukan cuma soal berat badan yang naik. Duduk terlalu lama secara terus-menerus terbukti berkaitan dengan menurunnya sensitivitas insulin, melemahnya otot punggung dan inti tubuh, hingga meningkatnya risiko nyeri sendi di usia yang seharusnya masih jauh dari kata rentan. Semua ini terjadi diam-diam, tanpa gejala mencolok, sampai akhirnya menumpuk menjadi masalah yang lebih besar.
Ironisnya, semakin canggih teknologi yang
memudahkan hidup kita, semakin sedikit pula alasan tubuh untuk bergerak. Dulu,
orang harus berjalan ke pasar, mencuci pakaian dengan tangan, atau naik turun
tangga karena belum ada lift, dan semua itu tanpa sadar menjadi bentuk
aktivitas fisik harian.
Sekarang, hampir semua pekerjaan itu bisa
diselesaikan sambil duduk atau bahkan sambil berbaring. Kemudahan ini bukan hal
yang perlu disesali, tapi perlu disadari, supaya kita bisa menggantinya secara
sengaja dengan aktivitas fisik lain yang setara.
Kebiasaan Buruk di Usia Muda, Akan Menetap
Seumur Hidup
Otak manusia, terutama di usia
remaja hingga dua puluhan awal, masih dalam fase yang sangat plastis.
Jalur-jalur saraf yang berkaitan dengan kebiasaan masih mudah dibentuk dan
diperkuat. Semakin sering kita mengulang sebuah perilaku di usia ini, entah itu
olahraga rutin atau justru rebahan tiap hari, semakin kuat pula perilaku itu
tertanam dan sulit diubah di kemudian hari.
Ini yang menjelaskan kenapa
orang yang terbiasa hidup sehat sejak muda cenderung mempertahankan gaya hidup
itu hingga tua, sementara orang yang terbiasa hidup serampangan akan kesulitan
luar biasa saat mencoba berubah di usia empat puluh atau lima puluh tahun.
Bukan karena mereka tidak punya kemauan, tapi karena kebiasaan lama sudah
begitu mengakar, seperti jalan setapak yang sudah terlalu sering dilalui hingga
menjadi jalan utama di dalam otak kita, sementara jalan baru menuju kebiasaan
sehat harus dibangun dari nol.
Maka dari itu, momentum terbaik untuk membangun
fondasi hidup sehat bukan nanti, bukan pula ketika dokter sudah memvonis ada
masalah, melainkan sekarang, selagi otak dan tubuh masih paling mudah diajak
beradaptasi. Semakin lama kita menunda, semakin besar juga usaha yang
dibutuhkan untuk membongkar kebiasaan lama dan menggantinya dengan yang baru.
Cara Saya Jaga Kesehatan Sampai Tua
Saya punya cara tersendiri dalam menjaga tubuh
tetap sehat, apalagi sudah memasuki kepala tiga. Jelas saya tak mau diantar
jeruk atau salak karena sedang sakit dan mendapatkan ucapan agar segera sembuh.
Saya jelas tidak mau itu terjadi pada saya. Bukan karena saya tidak suka jeruk
atau salak, tetapi saya lebih suka menikmatinya dalam kondisi sehat daripada
harus menerimanya ketika sedang terbaring sakitt
Salah satu cara yang saya lakukan adalah rutin
berolahraga. Saat ini saya berusaha menyempatkan diri pergi ke gym sekitar
empat hari dalam seminggu. Tidak selalu mudah memang, apalagi ketika pekerjaan
sedang banyak atau badan sedang malas diajak bergerak. Tapi kalau menunggu
sampai benar-benar punya waktu luang, rasanya olahraga tidak akan pernah
menjadi kebiasaan.
Latihan saya juga tidak hanya mengejar bentuk
tubuh. Saya mencoba mengombinasikan latihan kekuatan atau strength training
dengan latihan kardio. Di gym, saya lebih banyak melakukan latihan beban untuk
menjaga dan membangun kekuatan otot. Di hari lain, saya menyelinginya dengan
boxing sebagai salah satu bentuk kardio. Jadi, tubuh tidak hanya dilatih untuk
kuat, tetapi juga diajak untuk tetap aktif dan memiliki daya tahan yang baik.
Buat saya, olahraga sekarang bukan lagi sekadar
urusan ingin terlihat lebih berisi atau menjaga berat badan. Ada kesadaran yang
perlahan tumbuh bahwa otot, kekuatan, dan kebugaran yang saya bangun hari ini
mungkin akan sangat berguna ketika usia saya nanti tidak lagi muda. Saya ingin
tetap bisa naik gunung, jalan jauh, bepergian, atau sekadar melakukan aktivitas
sehari-hari tanpa harus terlalu bergantung kepada orang lain hanya karena tubuh
sudah tidak sanggup diajak bergerak.
Mungkin terdengar sederhana, tetapi saya melihat
olahraga sebagai salah satu bentuk investasi untuk diri sendiri. Saya memang
belum tahu akan seperti apa kondisi tubuh saya dua puluh atau tiga puluh tahun
lagi. Tapi setidaknya, saya ingin melakukan sesuatu dari sekarang agar ketika
usia itu datang, saya tidak menyesal karena dulu terlalu malas merawat tubuh
sendiri.
Pada akhir pekan, saya biasanya menyempatkan diri
untuk bersepeda atau hiking ke sejumlah gunung. Selain sebagai cara untuk
menikmati alam dan melepas penat setelah menjalani rutinitas selama sepekan,
aktivitas seperti ini juga menjadi latihan fisik tambahan. Hiking misalnya,
membuat saya harus berjalan berjam-jam dengan kondisi jalur yang tidak selalu
mudah. Tanjakan, turunan, dan medan yang berubah-ubah cukup menguras tenaga,
tetapi justru dari situ saya bisa merasakan sejauh mana tubuh masih mampu diajak
bekerja.
Buat saya, aktivitas seperti ini sangat membantu.
Latihan di gym membuat tubuh lebih kuat, boxing melatih kardio dan daya tahan,
sementara bersepeda dan hiking membuat kekuatan itu benar-benar digunakan dalam
aktivitas yang lebih panjang. Rasanya berbeda ketika kekuatan otot yang dilatih
di gym kemudian harus dipakai untuk menaklukkan tanjakan atau berjalan jauh di
jalur pendakian.
Mungkin inilah yang membuat saya sekarang lebih
menikmati olahraga. Saya tidak lagi melihatnya hanya sebagai kewajiban untuk
menjaga bentuk tubuh, tetapi sebagai cara untuk mempersiapkan diri menghadapi
usia yang terus berjalan. Saya ingin ketika nanti usia bertambah, tubuh masih
cukup kuat untuk membawa saya ke banyak tempat, bukan malah menjadi alasan
kenapa saya harus berhenti mengeksplorasi.
Kesehatan, Wujud Investasi yang Sering
Diabaikan
Saya suka menganalogikan
urusan kesehatan ini dengan urusan menabung uang. Semakin dini kita mulai
menabung, semakin besar pula hasil yang bisa dinikmati di kemudian hari, berkat
efek bunga berbunga yang terus terakumulasi seiring waktu. Prinsip serupa ternyata
juga berlaku untuk kesehatan. Setiap kebiasaan baik yang kita lakukan hari ini
sebenarnya sedang kita "tabung" untuk dinikmati hasilnya
bertahun-tahun kemudian.
Ada satu hal yang sering luput
dari perhatian banyak orang sudah rajin berinvestasi uang sejak muda, disiplin
menabung, membeli reksa dana, atau merintis bisnis, tapi lupa berinvestasi pada
kesehatannya sendiri. Akibatnya, begitu usia bertambah, tabungan yang susah
payah dikumpulkan selama bertahun-tahun malah habis untuk berobat, bukan untuk
dinikmati sebagaimana mestinya. Semua rencana pensiun yang sudah dirancang
matang, bisa buyar hanya karena tubuh tidak lagi sanggup menopang rencana
tersebut.
Sehat itu sebenarnya juga
bentuk investasi, bahkan bisa dibilang investasi paling mendasar sebelum
investasi lainnya. Saat orang-orang seusia kita mulai sakit-sakitan, harus
bolak-balik rumah sakit, atau harus membatasi banyak aktivitas karena kondisi
fisik yang menurun, kita yang sejak muda menjaga pola hidup masih bisa bebas
eksplorasi banyak hal di usia senja, berkat adanya tabungan kesehatan yang
dikumpulkan sejak muda.
Kita bisa tetap bepergian, tetap aktif bersama keluarga, dan tetap menikmati hasil kerja keras yang sudah dibangun bertahun-tahun, tanpa harus terkendala oleh tubuh yang sudah lebih dulu rapuh.
Sebaliknya, mengabaikan
kesehatan di usia muda sama saja dengan berutang pada tubuh sendiri. Utang itu
memang tidak langsung ditagih, tapi bunga pinjamannya terus berjalan, dan suatu
hari nanti, cepat atau lambat, tagihan itu pasti datang, biasanya dalam bentuk
yang jauh lebih menyakitkan dan mahal dibanding jika kita mencegahnya sejak
awal.
Kalau dipikir lebih jauh,
biaya untuk mencegah selalu jauh lebih murah dibanding biaya untuk mengobati.
Waktu tiga puluh menit sehari untuk olahraga, atau biaya tambahan sedikit untuk
memilih makanan yang lebih bergizi, tidak ada apa-apanya dibanding biaya rawat
inap, obat-obatan jangka panjang, atau waktu produktif yang hilang karena harus
berjuang melawan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.
Orang baru menyadari nilai dari pencegahan setelah merasakan sendiri mahalnya proses pengobatan.
Hidup Sehat Cukup Bergerak Rutin dan
Kurangi Gula Buatan
Kabar baiknya, hidup sehat
sebenarnya tidak harus serumit yang kita bayangkan. Tidak perlu langsung diet
ketat, beli berbagai macam suplemen, atau olahraga sampai badan remuk setiap
hari. Mulai saja dari hal-hal sederhana yang bisa dilakukan dan yang paling
penting, bisa dipertahankan. Karena percuma semangat olahraga tiga hari kalau
setelah itu kembali rebahan selama berminggu-minggu.
Salah satu yang paling mudah
adalah bergerak lebih banyak. Tidak harus selalu ke gym. Jalan kaki,
bersepeda, naik turun tangga, bermain bola, hiking, atau olahraga apa pun yang
kita sukai juga bisa menjadi pilihan. Rekomendasinya sekitar 150 menit
aktivitas fisik dalam seminggu, atau kalau dibagi rata kurang lebih 30 menit
selama lima hari. Kedengarannya tidak banyak, kan? Persoalannya sering kali
bukan pada durasinya, tetapi pada kemauan untuk benar-benar memulainya.
Selain bergerak, saya juga
mulai lebih memperhatikan apa yang masuk ke tubuh. Salah satunya adalah
mengurangi gula, terutama dari minuman manis yang sering kali kita konsumsi
tanpa merasa sedang makan gula dalam jumlah banyak. Es kopi susu, teh manis, minuman
kemasan, atau sekadar menambahkan beberapa sendok gula ke minuman memang terasa
sepele kalau hanya sekali. Tapi kalau hampir setiap hari, tentu ceritanya
berbeda.
Hal berikutnya yang menurut
saya tidak kalah penting adalah menjadikan olahraga sebagai kebiasaan,
bukan hukuman. Jangan olahraga hanya karena merasa bersalah setelah makan
banyak. Jangan juga baru lari ketika berat badan mulai naik. Kalau sudah
menjadi rutinitas, olahraga justru terasa seperti bagian dari kehidupan
sehari-hari. Bahkan ketika beberapa hari tidak melakukannya, tubuh sendiri
biasanya mulai terasa berbeda.
Saya juga belajar bahwa kita
tidak perlu menunggu punya waktu luang untuk mulai hidup sehat. Kalau menunggu
pekerjaan selesai, menunggu mood bagus, atau menunggu punya perlengkapan
olahraga lengkap, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar mulai. Jalan kaki
tiga puluh menit hari ini jauh lebih berarti daripada rencana olahraga dua jam
yang hanya tersimpan di kepala.
Lalu jangan lupakan tidur.
Percuma olahraga rutin kalau setiap malam masih tidur terlalu larut. Tubuh juga
butuh waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri setelah seharian diajak
bekerja. Sesekali memeriksa kondisi kesehatan juga bukan berarti kita sedang sakit.
Justru lebih baik tahu kondisi tubuh ketika masih baik-baik saja daripada baru
memeriksakannya ketika sudah muncul masalah.
Sebab kesehatan bukan dibangun dari satu keputusan besar, tetapi dari banyak keputusan kecil yang kita ulang terus-menerus. Konsisten itu perlu sekali karena kita bisa melakukan hal tidak disukai menjadi rutinitas baru.
Pada Akhirnya, Tubuh Ini Akan Kita Bawa
Sampai Tua
Kembali ke pertanyaan di awal
tulisan ini, sebenarnya kita tidak pernah tahu kapan tubuh mulai meminta
perhatian lebih. Bisa saja hari ini kita masih merasa kuat, masih bisa
begadang, makan sembarangan, duduk seharian, lalu besok kembali beraktivitas
seperti biasa. Tapi tubuh punya batas. Dan saya rasa, kita tidak perlu menunggu
sampai batas itu benar-benar terlewati untuk mulai peduli.
Saya sendiri juga masih jauh
dari kata sempurna. Masih ada hari ketika malas ke gym, masih ada makanan yang
sebenarnya tidak terlalu sehat tetapi tetap saya makan, atau tidur yang kembali
berantakan karena pekerjaan. Namun setidaknya sekarang saya mulai lebih sadar
bahwa kesehatan tidak bisa terus ditempatkan di urutan paling belakang. Ada
pekerjaan yang bisa ditunda, ada rencana yang bisa diubah, tetapi tubuh yang
sudah rusak tidak selalu bisa dikembalikan seperti semula.
Saya ingin tetap bisa naik
gunung ketika usia sudah tidak lagi muda. Masih bisa bersepeda, bermain bersama
keluarga, bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi, dan menjalani
hari tanpa terlalu banyak dibatasi oleh kondisi tubuh sendiri. Karena buat
saya, hidup panjang saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana kita
bisa tetap sehat dan mandiri ketika umur terus bertambah.
Mungkin itu sebabnya sekarang
saya lebih suka melihat olahraga bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai cara
sederhana untuk berterima kasih kepada tubuh sendiri. Empat hari di gym,
boxing, bersepeda, atau sesekali mendaki gunung mungkin terlihat seperti aktivitas
biasa. Tapi siapa tahu, semua yang kita lakukan hari ini sedang mempersiapkan
tubuh untuk menghadapi usia yang akan datang.
Pada akhirnya, kita semua sedang menua. Bedanya hanya bagaimana kita mempersiapkan diri untuk sampai ke sana. Jadi, kalau hari ini tubuh masih sehat, mungkin tidak ada salahnya mulai menjaganya sedikit lebih baik. Tidak harus langsung berubah drastis. Jalan kaki sebentar, mengurangi minuman manis, tidur lebih awal, atau mulai rutin berolahraga juga sudah cukup sebagai langkah pertama.
Karena tubuh ini hanya satu. Tidak ada versi cadangan. Dan jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya tubuh yang sehat setelah tubuh itu tidak lagi bisa diajak melakukan banyak hal.
Semoga tulisan ini menginspirasi
kita semua, akhir kata Have a Nice Days.








Mungkin itu kenapa Rasulullah menyampaikan jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu
ReplyDeleteAda lima perkara yang harus kita waspadai sebelum datang lima perkara
Jangan sampai kita masuk ke kategori yang yang menyesal karena mengabaikan soal waktu.
Mengabaikan nasa muda sebelum masa tua datang
Mengabaikan sehat sebelum masa sakit datang
Ada kata seandainya dulu lebih rutin bergerak, seandainya dulu tidak terlalu sering begadang, seandainya dulu lebih memperhatikan pola makan. Kata "seandainya" yang jadi garis besar sebagaimana yang dikemukakan Rasul di atas itu tadi jadi hal yang paling menyakitkan, karena berarti sebenarnya ada kesempatan untuk mencegah, hanya saja kesempatan itu tidak dimanfaatkan sejak dini.
Semoga kita tidak terlambat untuk segera memperbaiki diri, pola hidup dan kesehatan ini ya
Mas Iqbal, aku tuh kalau bisa balik ke masa muda, bakal lebih rutin olahraga. Tapi aku mulai rutin start itu tahun 2020. Dari tahunnya udah jelas kenapa yaa 😅. Pas covid.
ReplyDeleteJadi ceritanya, aku sempet shock, zaman covid itu banyaaak temen kantorku yang meninggal mas. Mereka itu bisa dibilang terlihat 'sehat'. Tapi ternyata pas kena covid, langsung komplikasi kemana2 Krn kebanyakan ada diabetes, ada sakit jantung, hipertensi, dan sakit paru. Yang mana semua penyakit itu kebanyakan ya dari pola hidup.
Makan berlemak Mulu, merokok, ga pernah workout dll.
Sejak itu aku langsung paksa badanku untuk olahraga. Awalnya dari YouTube, karena ga bisa kemana2 kan. Pokoknya gerak dulu, 15 menit tiap hari.
Tapi setelah badanku terbiasa, mulai deh bikin schedule yang terarah.
Sampah akhirnya sekarang ini jadwal gym ku 4x seminggu , 1 sampai 1.5 jam tiap latihan.
Kalau dulu aku maleeeees gerak, sekarang malah nagih. Tiap workout , capek memang, tapi ntah kenapa bahagia 😄.
Latihan otot, cardio dan yoga yang rutin aku lakuin . Sekarang ini pengennya ngelatih anak2 juga buat latihan. Biar ga males gerak .
Alhamdulillah nya hasil dari latihan, aku termasuk oke hasil gula darah, dan sebagainya. Palingan sekarang ini mau fokus ke makanan sih. Kalau lahh di rumah aku pasti banyakin serat dan protein. Tapi kalau sedang jadwal traveling, agak mudah tergoda Ama kuliner 🤣. Cuma aku imbangi untuk banyak jalan selama traveling