Dalam dua bulan terakhir
sedang tren di sosial media yang begitu kencang. Sesekali saya melihat lewat di
lini masa, tren mengubah ala retro 80 an, Rambutnya mengembang, ada gradasi
ungu-jingga di latar belakang, dan cahaya gemerlap lampu sorot yang seakan
diambil dari kamera roll tempo dulu. Itulah tren yang lagi naik saat ini,
apakah sudah ikutan?
Seakan saya melihat hampir semua teman saya berbondong-bondong memakai pose tersebut. Seakan era 80-an terlahir kembali nan kece. Inilah yang sedang diinisiasikan aplikasi AI seperti ChatGPT biar semua pada ikutan. Caranya gampang, cukup dengan unggah satu foto, tulis prompt singkat, tunggu beberapa detik. Selesai. Dalam hati bergumam, wow kerennya kalo aku hidup di era itu seakan hidup di era orang tua terdulu sedang keren-kerennya.
Tak berapa lama kemudian, gambar
kamu download dan dibagikan di status sampai ke grup keluarga. Tapi ada satu
hal yang menarik yang sering tak disadari. Kita memberikan data diri kita
sebanyak mungkin secara cuma-cuma. Kita memberikan data diri kita sebanyak
mungkin secara cuma-cuma. Mulai dari wajah, foto pribadi, sampai hal-hal lain
yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Namanya juga lagi tren, siapa yang tidak tergoda
ikut mencoba? Apalagi hasilnya bagus, tinggal unggah, lalu tunggu teman-teman
ikut berkomentar. Tapi pernah tidak sih, kita berhenti sebentar dan berpikir,
sebenarnya foto yang kita unggah itu akan diapakan setelahnya? Atau
jangan-jangan, kita terlalu sibuk menikmati hasilnya sampai lupa memikirkan apa
yang terjadi di balik layar?
Satu Prompt, Setetes Air,
Sebuah Fenomena
Saat saya mendengarkan AI bekerja,
ada banyak air yang ia gunakan, Beberapa riset independen memperkirakan satu
prompt teks bisa memakan mulai dari hitungan tetes sampai setengah liter air,
tergantung jenis tugas dan model yang bekerja di baliknya. Saat saya mencari
tahu lebih jauh tentang cara kerja AI, ada satu hal yang cukup menarik
perhatian saya, yaitu air yang dibutuhkan untuk menjalankan teknologi ini.
Kita mungkin mengira AI hanya
bekerja di layar ponsel, padahal di baliknya ada pusat data dengan ribuan
server yang membutuhkan listrik dan sistem pendingin agar tetap bekerja
optimal. Dalam prosesnya, air juga bisa ikut digunakan, tergantung teknologi pendingin
dan lokasi pusat data tersebut.
Beberapa perkiraan yang sering
dibicarakan menyebutkan bahwa penggunaan AI bisa membutuhkan air mulai dari
hitungan tetes hingga ratusan mililiter untuk sebuah permintaan. Namun,
angkanya tidak bisa disamaratakan begitu saja. Jenis model, beratnya pekerjaan,
efisiensi pusat data, hingga cara menghitung konsumsi air bisa menghasilkan
angka yang berbeda-beda.
Meski begitu, ada satu hal
yang membuat saya berpikir. Kita bisa dengan mudah meminta AI mengubah foto
menjadi potret retro 80-an, membuat wajah terlihat seperti karakter film, atau
sekadar mencoba berbagai gaya yang sedang viral. Semuanya terasa praktis,
menyenangkan, dan nyaris tanpa usaha. Tinggal ketik prompt, tunggu sebentar,
lalu hasilnya bisa langsung dipamerkan ke media sosial.
Namun, pernahkah kita
berpikir bahwa kemudahan itu punya biaya yang tidak selalu terlihat?
Bayangkan jika satu permintaan
saja membutuhkan sumber daya untuk diproses, lalu jutaan orang melakukan hal
serupa dalam waktu yang hampir bersamaan. Tentu saja, satu foto AI tidak
serta-merta membuat air bersih di rumah kita berkurang. Persoalannya bukan
sesederhana itu. Perlu kita ingat, kebutuhan sumber daya bisa terus bertambah
ketika teknologi ini digunakan secara masif, sementara di sejumlah tempat,
masyarakat masih harus berhemat air untuk kebutuhan sehari-hari.
Di sinilah saya mulai
bertanya-tanya. Kita begitu mudah menghabiskan waktu mengikuti tren yang
mungkin hanya bertahan beberapa hari. Hari ini ramai foto retro 80-an, besok
mungkin ada tren baru yang membuat kita kembali mengunggah foto dan mencoba
berbagai prompt. Kita tertawa melihat hasilnya, membagikannya kepada teman,
lalu melupakannya begitu saja ketika tren berikutnya datang.
Tidak ada yang salah dengan
bersenang-senang. Saya pun mengerti mengapa banyak orang tertarik mencoba
hal-hal baru yang ditawarkan AI. Namun, rasanya sayang jika teknologi secanggih
ini hanya kita gunakan untuk mengikuti tren sesaat, tanpa pernah mencoba
memanfaatkannya untuk sesuatu yang lebih berarti. Apalagi ketika kita mulai
menyadari bahwa di balik kemudahan tersebut, ada listrik, air, dan sumber daya
lain yang ikut bekerja.
Satu
Tren AI dari Waktu Ke Waktu
Saat tren gaya retro memudar,
akan muncul tren lainnya misalnya saja tren karakter animasi tiga dimensi. Dulu
sempat heboh tren gibli yang menjadi ikonik di tahun 2025, kita ngga tahu tren
apa yang berlanjut. Tapi muncul sesuatu dalam benak saya, kita sering
menggunakan AI hanya buat status semata atau menjadi orang paling pertama
(FOMO).
Pola inilah yang membuat AI,
di tangan kebanyakan orang, jadi terasa seperti barang sekali pakai. Kita
membakar sumber daya komputasi yang tidak sedikit untuk kepuasan yang umurnya
hanya beberapa hari. Lalu bosan. Lalu pindah ke tren berikutnya. Siklus ini
berputar terus, dan setiap putarannya menumpuk konsekuensi yang tidak pernah
benar-benar kita lihat, karena semuanya terjadi jauh di balik layar.
Tidak ada yang salah sesekali
ikut bersenang-senang. Tapi ada satu pertanyaan yang layak kamu tanyakan pada
diri sendiri sebelum menekan tombol kirim berikutnya: apakah ini akan berarti
sesuatu lebih dari tiga hari ke depan, atau cuma ikut arus karena takut
ketinggalan?
Kenapa dia tidak dimaksimalkan
buat bekerja atau menjadi produktif, kita juga bisa menghasilkan income
lanjutan dari tren tersebut atau bahkan mencari celah lain karena AI kini makin
canggih dan tak terduga. Padahal, teknologi yang sama bisa kita manfaatkan
untuk mencari ide bisnis, menyusun strategi pemasaran, belajar keterampilan
baru, sampai menemukan peluang penghasilan tambahan.
Bahkan, kalau jeli melihat peluang, tren yang
awalnya hanya ramai di media sosial pun bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang
menghasilkan. Misalnya, membuka jasa pembuatan foto AI, membuat desain untuk
kebutuhan promosi, atau menawarkan jasa pembuatan konten bagi pelaku UMKM. AI
kini semakin canggih, dan peluang yang bisa kita gali pun semakin beragam.
Jadi, daripada hanya menjadi orang yang paling cepat mengikuti tren, kenapa
tidak sekalian belajar menjadi orang yang mampu memanfaatkan tren itu untuk menghasilkan
sesuatu yang lebih bernilai?
Yuk
Jadikan AI hanya sebagai Mainan, Tapi Partner Kerja dan Berkarya
Selama ini, kita mungkin lebih sering mengenal AI
sebagai teman untuk bersenang-senang. Mau mengubah foto menjadi karakter
animasi, membuat wajah terlihat seperti orang yang hidup di era 80-an, atau
sekadar mencoba tren yang sedang ramai, semuanya bisa dilakukan dengan mudah.
Tidak ada yang salah dengan itu. Sesekali mencari hiburan di tengah rutinitas
tentu menyenangkan. Namun, kalau kita hanya berhenti di situ, rasanya sayang
sekali. Kita punya teknologi yang kemampuannya terus berkembang, tetapi justru
lebih sering menggunakannya untuk sesuatu yang mungkin hanya ramai selama
beberapa hari.
Sebagai seorang blogger yang sudah cukup lama
menulis di lupadaratan.com, saya mulai merasakan sendiri bagaimana AI
bisa membantu pekerjaan sehari-hari. Ketika mencari ide tulisan, menyusun
kerangka artikel, atau mengembangkan sudut pandang yang belum terpikirkan, saya
bisa mengajaknya berdiskusi.
Bukan berarti semua jawaban AI langsung saya
gunakan begitu saja. Saya tetap perlu membaca ulang, memeriksa informasi, dan
menyesuaikannya dengan apa yang ingin saya sampaikan. Bagaimanapun, pengalaman
pribadi dan cara saya memandang suatu persoalan tetap menjadi bagian penting
dari tulisan. AI boleh membantu merapikan gagasan, tetapi cerita dan pemikiran
yang ingin saya sampaikan tetap harus datang dari diri sendiri.
Penggunaannya ternyata tidak berhenti di dunia
blogging. Saya juga memanfaatkan AI untuk membantu mengolah informasi seputar
bursa saham dan memahami analisis pasar. Ketika ingin mengevaluasi program
latihan, saya bisa menggunakannya untuk mendiskusikan pola latihan yang sesuai
dengan tujuan kebugaran saya. Bahkan, dalam pekerjaan kantor, AI bisa membantu
menyusun gagasan, merapikan dokumen, dan mempercepat pekerjaan administratif
tertentu. Di dunia akademik pun demikian. Saat mengedit naskah jurnal yang ditargetkan
ke jurnal Q2 atau mempelajari bahan kuliah S3, AI bisa menjadi teman diskusi
untuk menelaah struktur tulisan, memperjelas argumen, dan membantu memahami
konsep yang rumit. Tentu saja, hasilnya tetap perlu diperiksa. Informasi saham
bukan jaminan keuntungan, program latihan perlu disesuaikan dengan kondisi
diri, sedangkan naskah ilmiah dan bahan akademik membutuhkan ketelitian serta
verifikasi sumber. Bagi saya, AI paling berguna ketika membantu kita berpikir
lebih terarah, bukan ketika kita menyerahkan seluruh keputusan kepadanya.
Dari berbagai pengalaman itu, saya merasa bahwa
peluang penggunaan AI sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar mengikuti
tren di media sosial. Pelaku UMKM bisa menggunakannya untuk mencari ide promosi
dan memperbaiki deskripsi produk. Blogger bisa memanfaatkannya untuk
mengembangkan tulisan. Pekerja kantoran bisa menggunakannya untuk membantu
menyelesaikan tugas, sementara mahasiswa dan peneliti dapat menjadikannya alat
bantu untuk belajar dan mengembangkan gagasan.
Bahkan, keterampilan menggunakan AI bisa menjadi
modal untuk mencoba peluang penghasilan tambahan. Namun, AI bukan mesin ajaib
yang membuat kita langsung kaya atau selalu memberikan jawaban benar. Kita
tetap perlu belajar, memeriksa hasilnya, dan mengembangkan kemampuan sendiri.
Pada akhirnya, teknologi ini hanya alat; manfaat yang kita peroleh sangat
bergantung pada cara kita menggunakannya.
Jadi, menurut saya, tidak masalah sesekali ikut
tren dan membuat foto yang mengundang tawa. Hidup juga butuh hiburan. Namun,
jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar tren hingga lupa bahwa teknologi yang
sama bisa membantu kita belajar, bekerja, dan menghasilkan karya yang lebih
berarti. Sebagai blogger, pekerja, sekaligus orang yang masih terus belajar,
saya ingin memanfaatkan AI bukan hanya untuk menyelesaikan sesuatu dengan lebih
cepat, tetapi juga untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan kualitas pekerjaan.
Kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling
cepat mengikuti tren. Sesekali, cobalah menjadi orang yang mampu melihat
peluang di baliknya. Sebab, akan jauh lebih menarik jika beberapa tahun ke
depan kita bukan hanya mengingat foto AI yang pernah viral, tetapi juga
mengingat keterampilan, tulisan, pekerjaan, atau karya yang berhasil kita
bangun dengan bantuan teknologi yang sama.
Jangan
Cuma Menikmati, Pahami Juga Ongkosnya
Pernahkah kamu membayangkan, saat kita asyik mengubah foto menjadi wajah bergaya retro 80-an, ada mesin-mesin besar di suatu tempat yang terus bekerja tanpa henti? Kita cukup duduk santai, mengunggah foto, mengetik beberapa kalimat, lalu tersenyum melihat hasilnya. Kalau kurang puas, tinggal minta dibuat ulang.
Begitu mudah,
sampai-sampai kita lupa bahwa di balik beberapa detik yang kita nikmati itu,
ada listrik yang digunakan, server yang bekerja, dan dalam kondisi tertentu,
air yang dibutuhkan untuk membantu mendinginkan pusat data. Semuanya terjadi
jauh dari pandangan kita. Kita menikmati hasilnya, tetapi jarang memikirkan
ongkos yang menyertainya.
Saya jadi berpikir, selama ini kita begitu mudah menikmati hasilnya tanpa pernah benar-benar memikirkan ongkos di baliknya. Ketika membuat gambar AI, misalnya, kita bisa meminta perubahan berkali-kali hanya karena warna kurang cocok, rambut kurang mengembang, atau wajah belum terlihat seperti yang diinginkan. Tinggal tekan tombol, tunggu sebentar, lalu coba lagi. Tidak terasa sudah beberapa kali mengulang proses yang sama.
Memang, satu permintaan tidak serta-merta membuat air di rumah kita
berkurang atau menyebabkan kekeringan di suatu daerah. Namun, ketika jutaan
orang melakukan hal serupa, kebutuhan komputasi secara keseluruhan bisa
meningkat. Seberapa besar dampaknya terhadap air dan listrik? Jawabannya
bergantung pada banyak hal, mulai dari model AI hingga teknologi yang digunakan
pusat data.
Meski begitu, saya rasa
persoalan ini tidak seharusnya membuat kita merasa bersalah setiap kali
menggunakan AI. Teknologi ini juga punya banyak manfaat, mulai dari membantu
pekerjaan, mendukung penelitian, sampai membuka peluang baru bagi pelaku usaha.
Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan pengguna yang ingin mencoba sesuatu
yang menyenangkan, sementara konsumsi sumber daya juga sangat dipengaruhi oleh
keputusan perusahaan dalam membangun pusat data, memilih sistem pendingin, dan
mengelola kebutuhan energinya.
Perusahaan teknologi tentu
punya tanggung jawab besar untuk membuat operasional mereka lebih efisien dan
terbuka mengenai dampak lingkungannya. Di sisi lain, kita sebagai pengguna juga
bisa mulai membangun kebiasaan yang lebih bijak, tanpa harus berhenti menikmati
kemajuan teknologi.
Barangkali, langkah paling
sederhana adalah mulai bertanya kepada diri sendiri sebelum menggunakan AI:
apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau hanya sedang mengikuti tren?
Kalau memang ingin membuat gambar untuk hiburan, silakan saja. Kalau ingin meminta
bantuan AI untuk bekerja, belajar, atau berkarya, manfaatkanlah sebaik mungkin.
Tidak perlu menghindari setiap permintaan kecil, apalagi menganggap semua
penggunaan AI sebagai pemborosan.
Ada satu hal yang kita hindari
yakni kebiasaan menggunakannya tanpa berpikir, mengulang permintaan
terus-menerus tanpa alasan yang jelas, atau menganggap sumber daya di balik
layar seolah tidak ada batasnya. Sebab, menikmati teknologi seharusnya tidak
membuat kita lupa bahwa setiap kemudahan punya konsekuensi. Dan semakin canggih
teknologi yang kita gunakan, semakin penting pula bagi kita untuk memahami
bagaimana menggunakannya dengan bijak.
Tren AI Bisa Datang dan Pergi, tapi
Kreativitas Tetap Menetap di Dalam Diri
Pada akhirnya, tren AI akan
selalu berganti. Hari ini kita ramai-ramai mengubah foto menjadi wajah bergaya
retro 80-an, besok mungkin ada tren baru yang kembali membuat linimasa penuh
dengan gambar-gambar unik. Begitulah media sosial bekerja, selalu punya sesuatu
yang baru untuk membuat kita penasaran.
Saya sendiri tidak
mempermasalahkan jika sesekali kita ikut mencoba, apalagi kalau hasilnya bisa
membuat kita tertawa bersama teman atau keluarga. Namun, dari semua tren yang
datang silih berganti, saya mulai berpikir bahwa kemampuan AI sebenarnya jauh lebih
besar daripada sekadar mengubah penampilan di dalam foto. Sayang rasanya jika
teknologi secanggih ini hanya kita gunakan untuk mengikuti sesuatu yang mungkin
dilupakan beberapa hari kemudian.
Dalam keseharian, saya mencoba
memanfaatkan AI untuk hal-hal yang lebih beragam. Sebagai blogger di
lupadaratan.com, saya menggunakannya untuk berdiskusi tentang ide tulisan,
mencari sudut pandang, hingga membantu merapikan kalimat. Saya juga memanfaatkannya
untuk mengolah informasi seputar bursa saham dan analisis pasar, mendiskusikan
program latihan yang sesuai dengan tujuan kebugaran, serta menunjang pekerjaan
di kantor. Bahkan, ketika mengedit naskah jurnal yang ditargetkan ke jurnal Q2
dan mempelajari bahan kuliah S3, AI bisa menjadi teman diskusi yang membantu
saya memahami persoalan dengan lebih terarah.
Tentu saja, saya tidak menelan
semua jawabannya mentah-mentah. Informasi tetap perlu diperiksa, analisis perlu
dipertimbangkan kembali, dan keputusan tetap harus dibuat dengan penilaian
sendiri. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa AI bukan pengganti kreativitas,
melainkan alat yang bisa membantu kita mengembangkan apa yang sudah kita
miliki. Ia bisa memberikan banyak kemungkinan, tetapi kitalah yang menentukan
mana yang layak dikerjakan dan bagaimana mengubahnya menjadi sesuatu yang
bermanfaat.
Jadi, tidak perlu buru-buru
merasa ketinggalan tren baru. Nikmati saja jika memang
menyenangkan, tetapi jangan lupa bahwa kita juga punya kesempatan untuk
menciptakan sesuatu yang lebih berarti. Foto AI yang hari ini ramai dibagikan
mungkin akan tenggelam besok, tergantikan oleh tren lain yang tidak kalah
menarik. Sementara itu, tulisan yang kita hasilkan, pengetahuan yang kita
pelajari, pekerjaan yang kita selesaikan, dan pengalaman yang kita bagikan
kepada orang lain bisa meninggalkan jejak yang lebih panjang.
Saya ingin terus belajar
menggunakan AI bukan hanya untuk mengikuti perubahan zaman, tetapi ia bisa membantu buat bertumbuh dan terus berkaya. Karena pada ujungnya, teknologi boleh semakin pintar, tren boleh terus berganti, tetapi
kreativitas tetap membutuhkan manusia yang mau berpikir, mencoba, dan berani
memulai. Hanya modal dari satu prompt sederhana yang kita ketik,
justru lahir sesuatu yang masih kita syukuri bertahun-tahun kemudian.
Semoga tulisan ringan saya
menginspirasi kita semua, akhir kata. Have a Nice Days






0 komentar:
Post a Comment