Thursday, July 30, 2026

Emas dan Ketika Bumi Beutong Diekploitasi Tanpa Henti

Pertengahan tahun ini adalah waktu dari sekian lama setelah tak menjejakkan kaki di tanah Beutong, Nagan Raya. Ia jadi salah satu saksi kala gempa tsunami Aceh tahun 2004. Saya beserta keluarga mengungsi jauh ke sana, jauh dari pedihnya tsunami yang merenggut semuanya yang ada tanpa sisa.

Di sana kami menetap lama, hampir dua bulan lamanya sembari melihat Kota Meulaboh yang luluh lantak kembali berdenyut. Sebuah Kecamatan yang terbentang luas, ada indahnya hamparan sawah, air gunung yang dingin, hingga pegunungan yang sejuk terlihat dari jauh.

Ada satu suara yang hilang dari Beutong belakangan ini, dan mungkin tidak banyak orang menyadarinya karena suara itu terlalu lembut untuk masuk berita: suara gemericik air sungai yang mengalir jernih yang sering dimanfaatkan anak-anak di sana buat mandi, yang dimanfaatkan buat petani sebagai sumber aliran ke persawahan dan pertanian hingga hajat hidup banyak orang di hilir. Perlahan perannya mulai sirna, air jernih itu telah menghilang,

Dulu, sungai di kaki bukit Nagan Raya ini punya ritme sendiri. Pagi hari, perempuan-perempuan datang mencuci pakaian sambil bertukar cerita. Siang, anak-anak berenang sepulang mengaji, tertawa keras sampai suaranya memantul ke tebing.

Sore, bapak-bapak menebar jala, berharap dapat ikan cukup untuk lauk malam. Airnya bening sampai dasar terlihat, dan sesekali, kalau beruntung, ada yang menemukan serpihan emas kecil terjebak di antara kerikil warisan alam yang sudah diketahui sejak generasi kakek buyut.

Sungai itu masih ada. Tapi ritmenya sudah berubah total. Kini terdengar sekarang bukan lagi tawa anak-anak, melainkan deru mesin diesel yang tidak pernah benar-benar berhenti, siang atau malam. Warnanya bukan lagi bening, tapi cokelat pekat bercampur solar. Dan alih-alih perempuan mencuci pakaian di tepiannya, yang berdiri di sana sekarang ada banyak eksavator yang biasanya dipakai membangun gedung bertingkat, kini mengeruk dasar sungai jengkal demi jengkal, mencari emas yang tersembunyi di baliknya.

Ini bukan cerita fiksi. Ini Beutong, hari ini dan banyak daerah lainnya yang kaya akan emas di dalam perut bumi. Harga emas yang melonjak tinggi, seakan memberi dampak pada perut bumi Beutong.

Beutong dan Tanah Nagan yang Terlalu Kaya

Sejak lama, Beutong dikenal sebagai tanah yang kaya. Hutannya lebat, sungainya deras, dan di bawah semua itu tersimpan sesuatu yang berkali-kali membuat nama kecamatan kecil ini terdengar sampai jauh dari Aceh.

Beberapa tahun lalu tepatnya tahun 2015 sempat membuat geger. Kabar penemuan batu giok yang konon beratnya mencapai dua ton menyebar cepat dan membuat Beutong jadi buah bibir. Batu hijau itu mendadak menjadi cerita besar, dan kampung yang biasanya sunyi dari sorotan terasa penting untuk sesaat. Orang membicarakannya dengan mata berbinar, seolah tanah ini baru saja membuka satu lagi rahasia simpanannya.

Penemunya sadar bahwa di sela hutan Beutong, Nagan Raya menyimpan berbagai kekayaan alam yang tiada habisnya. Saat era giok mereda, di sana tetap berkilau khususnya penemuan emas dalam skala besar. Meskipun sempat terjadi pergolakan dari rakyat sekitar akan berdirinya pabrik pengolahan emas. Masyarakat merasa merekalah yang layak mengelolanya.

Waktu berlalu dan demam baru pun muncul, dan demam itu datang pada logam mulia lainnya yakni emas. Ketika harga emas dunia melambung dalam dua tahun terakhir, perhatian pelan-pelan berpindah. Giok tidak lagi jadi cerita utama.

Emas mengambil alih sebagai prioritas nomor satu, dan ada sesuatu yang getir dari cara itu terjadi: harga yang ditentukan di pasar-pasar jauh, di tempat yang mungkin tidak seorang pun pernah mendengar nama Beutong, terasa sampai ke tepi sungai ini dalam bentuk yang sangat konkret. Setiap kali grafik harga naik, mesin berderum lebih kencang. Sungai tidak tahu apa-apa soal harga emas, tapi dialah yang pertama membayar kenaikannya dengan segala aktivitas manusia yang di luar nalar.

Semua orang pun berbondong-bondong datang. Tidak ada angka pasti, dan justru itu bagian dari persoalannya, karena yang beroperasi di luar izin juga beroperasi di luar pencatatan. Tapi cerita yang beredar menyebut jumlah beko di Beutong mencapai ratusan, bahkan ribuan unit. Kalau angka itu mendekati kenyataan, bayangkan artinya: ribuan mesin raksasa, masing-masing meninggalkan lubang demi lubang di tubuh bumi.

Setiap bolongan adalah luka. Dan luka itu tidak sembuh begitu mesinnya berpindah ke titik berikutnya. Ia menganga, terisi air keruh, menjadi bekas yang akan bertahan jauh lebih lama dari ingatan siapa pun tentang siapa yang menggalinya.

Ada ironi lama yang terulang di sini, ironi yang dikenal di banyak daerah kaya sumber daya di dunia: tanah yang terlalu kaya sering kali justru menjadi tanah yang paling tidak beruntung. Giok dulu, emas sekarang. Komoditasnya berganti, tapi polanya bertahan. Setiap kali sesuatu di bawah tanah mendadak bernilai tinggi, tanahnya sendiri yang membayar harganya.

Ketika Berkah Berubah Jadi Jebakan

Kalau ditelusuri baik-baik, cerita ini sebenarnya tidak dimulai begitu saja. Mendulang emas bukan hal asing bagi masyarakat di sini. Sudah sejak dulu, sebagian warga punya kebiasaan mencari serbuk emas secara tradisional hanya dengan bermodalkan dulang kayu, disaring perlahan di pinggir sungai, hasilnya jadi tambahan penghasilan yang tidak mengganggu apa pun selain waktu luang mereka sendiri. Skalanya kecil, ritmenya selaras dengan alam, dan sungai tetap bisa bernapas.

Yang berubah adalah skalanya. Begitu alat berat masuk, semua berubah drastis. Apa yang dulu perlu berhari-hari dikerjakan dengan tangan, sekarang bisa dilakukan dalam hitungan jam. Hasilnya memang berlipat ganda namun memberikan kerusakan yang nyata buat sungai tanpa bisa ia memulihkannya.

Prosesnya sebenarnya sederhana untuk dijelaskan: tanah dan lumpur disedot dari dasar sungai memakai mesin pompa, disaring, lalu butiran emasnya dipisahkan. Tapi yang tertinggal jauh dari sederhana. Kekeruhan yang tidak pernah reda karena sedimen terus-menerus teraduk. Ceceran solar dari mesin yang beroperasi nyaris tanpa jeda.

Lalu bagi saya, ada kemungkinan yang lebih menakutkan lagi yakni merkuri, bahan kimia yang kerap dipakai memurnikan emas, yang sifatnya licik: tidak berbau, tidak terlihat, tapi diam-diam mengendap di tubuh manusia bertahun-tahun sebelum akhirnya menampakkan wujud aslinya lewat penyakit yang datang tanpa peringatan.

Semua terasa lebih pilu adalah siapa yang justru ikut ambil bagian di dalamnya. Warga yang dulu menggantungkan hidup pada sungai seperti menangkap ikan, mengambil air untuk keperluan sehari-hari, kini sebagian dari mereka justru turun tangan menambang. Bukan karena mereka berhenti mencintai sungainya. Tapi karena logika yang menyakitkan: kalau airnya sudah telanjur keruh, kalau ikannya sudah telanjur berkurang, kenapa tidak sekalian saja ambil untung dari kerusakan yang sudah terjadi?

Coba bayangkan seorang bapak, sebut saja namanya Samsul, meski dia bisa jadi siapa saja di Beutong, ia sepuluh tahun lalu masih bangga menyebut dirinya nelayan sungai. Setiap subuh dia turun membawa jala, pulang sebelum matahari terlalu tinggi, dan hasil tangkapannya cukup untuk dijual sedikit di pasar kampung, sisanya untuk lauk keluarga.

Sekarang, jala itu tergantung di sudut rumah, jarang disentuh, karena ikan yang tersisa di sungai tidak lagi sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan untuk mencarinya. Akhirnya ia ikut bekerja di tambang milik toke setempat bukan karena bangga, tapi karena tidak melihat pilihan lain yang lebih masuk akal secara ekonomi.

Setiap kali ditanya, jawabannya selalu sama: Airnya memang sudah rusak duluan sebelum saya turun tangan. Jadi buat apa saya yang menahan diri sendirian?

Logika semacam ini terdengar egois kalau didengar sepintas. Tapi begitu dipikirkan lebih dalam, itu sebenarnya gejala dari sesuatu yang jauh lebih besar: ketika kerusakan sudah terjadi lebih dulu akibat ulah pihak lain yang bermodal besar, korban pertama justru sering kali ikut terseret menjadi bagian dari masalah, bukan karena mereka jahat, tapi karena sistem yang ada tidak menyisakan jalan keluar yang lebih baik.

Di titik inilah jebakan sesungguhnya bekerja. Penambang biasanya dibiayai oleh pemodal yang warga di sini menyebutnya "toke" yang menanggung kebutuhan hidup selama mereka bekerja di lokasi tambang. Sekilas terdengar adil: si penambang dapat penghasilan cepat, si toke dapat emas.

Tapi ini sebenarnya taruhan yang timpang. Emas suatu hari akan habis. Sungai yang rusak, kalaupun bisa pulih, butuh waktu yang jauh lebih panjang dari umur manusia yang menambangnya.

Ketika Amarah Publik Menguap Begitu Saja

Ada satu babak dalam cerita tambang emas di Aceh yang seharusnya jadi titik balik, tapi justru berakhir jadi pengingat pahit tentang betapa rapuhnya perubahan yang hanya bersandar pada kemarahan sesaat.

Menjelang Pemilu 2019, rencana eksploitasi emas skala besar di Nagan Raya memicu gelombang protes yang jauh lebih besar dari biasanya. Bukan cuma karena ancaman lingkungan, tapi juga karena isu kepemilikan perusahaan yang dikaitkan dengan nama besar di panggung politik nasional. Mahasiswa turun ke jalan bersama masyarakat, dalam jumlah yang sampai membuat pekerja di lokasi tambang harus lari menyelamatkan diri dari amukan massa.

Untuk sesaat, rasanya perubahan besar sudah di depan mata. Tapi yang terjadi setelahnya justru berbalik arah. Bukannya mereda, aktivitas ilegal di sekitar area itu malah kian marak begitu gelombang protes surut. Energi kemarahan kolektif yang begitu besar menguap tanpa jejak perubahan struktural yang berarti.

Ada pelajaran keras yang bisa dipetik dari sini: kemarahan publik, sekuat apa pun, tidak otomatis menghasilkan perubahan tanpa pengawasan yang konsisten dan membosankan setelahnya. Demo adalah letupan emosi. Namun yang benar-benar dibutuhkan adalah sesuatu yang jauh kurang dramatis seperti audit rutin, pelaporan berkala, perhatian publik yang tidak berhenti begitu tagar di media sosial sudah tidak lagi ramai dibicarakan.

Jaringan yang Lebih Rapi dari Dugaan Kita

Ada anggapan umum bahwa tambang ilegal adalah urusan orang-orang nekat yang bekerja sendiri-sendiri, sembunyi-sembunyi dari kejaran aparat. Kenyataannya jauh lebih rumit.

Penelitian terbaru dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry menemukan bahwa aktivitas tambang ilegal di Beutong sudah membentuk jaringan yang terorganisir rapi. Itu semua dimulai dari siapa yang menyuplai bahan bakar, siapa yang mengoperasikan alat berat, sampai siapa yang menampung dan menjual hasil emasnya ke toko-toko emas.

Bahkan distribusi bahan bakar minyak untuk menggerakkan alat berat ini disinyalir tidak lewat jalur normal, melainkan lewat perantara khusus yang memastikan pasokan tetap mengalir tanpa putus. Ia menopang semua ini adalah relasi yang oleh peneliti disebut "patron-klien" istilah akademis untuk sesuatu yang sebenarnya sudah lama akrab dalam keseharian kita sebagai hubungan timbal balik.

Si pemodal memberi perlindungan dan modal. Si pekerja memberi loyalitas dan tenaga. Ketika ada razia, biasanya hanya pekerja lapangan yang tertangkap, sementara jaringan di atasnya tetap utuh, siap bangkit lagi begitu keadaan kembali aman.

Inilah sebabnya berbagai upaya penertiban dari patroli gabungan aparat sampai pemasangan spanduk larangan di setiap desa belum benar-benar menghentikan aktivitas ini. Mereka yang ditangkap hanyalah ranting, sementara akarnya tetap tertanam kuat di dalam tanah. Konon, begitu satu titik tambang ditertibkan pagi hari, sore harinya operasinya sudah berpindah beberapa ratus meter ke hilir, siap beroperasi lagi seolah tidak terjadi apa pun.

Ketika Alam Akhirnya Bicara

Ada satu momen yang mestinya menjadi alarm keras bagi semua orang, tapi anehnya terasa cepat dilupakan: banjir bandang yang menghantam Beutong Ateuh di penghujung 2025. Rumah rusak, kebun hancur, dan sungai yang selama ini jadi sumber kehidupan berubah wujud jadi ancaman yang datang tiba-tiba di tengah malam.

Banyak warga sendiri yang menghubungkan bencana itu dengan hilangnya hutan akibat aktivitas tambang. Ketika pepohonan di sekitar aliran sungai ditebangi demi membuka jalan bagi alat berat, fungsi alami hutan sebagai penyerap air pun ikut lenyap. Air hujan yang biasanya diserap perlahan oleh akar-akar pohon, kini langsung menghantam tanah gundul dan meluncur deras menuju sungai, sebuah kombinasi sempurna untuk sebuah bencana.

Melalui banyak beko yang jumlahnya diperkirakan ratusan hingga ribuan, tanah itu bukan hanya gundul, tapi juga berlubang di mana-mana, seperti kulit yang dicakar tanpa henti. Air hujan akan mengalir deras dari hulu ke hilir yang berdampak ke masyarakat yang ada di bawahnya.

Yang menyayat hati, tak lama setelah bencana itu, muncul lagi rencana dan aktivitas tambang baru di kawasan yang persis sama. Seolah luka yang belum kering pun tak cukup jadi pelajaran. Warga bersama komunitas adat sampai harus menempuh langkah yang tidak biasa: mengirim surat langsung kepada Presiden untuk menyuarakan penolakan mereka.

Coba bayangkan posisi mereka yang menulis surat itu. Bukan aktivis profesional yang terbiasa berhadapan dengan birokrasi rumit, melainkan petani, ibu rumah tangga, dan tokoh kampung yang sehari-hari sibuk dengan urusan ladang dan dapur. Ketika orang-orang seperti ini merasa perlu menempuh jalur sejauh itu, itu adalah sinyal keputusasaan yang seharusnya tidak diabaikan siapa pun yang punya kewenangan untuk bertindak.

Racun yang Diam-Diam Menunggu

Ada satu sisi dari cerita tambang emas ilegal yang jarang benar-benar dipahami dalam obrolan sehari-hari: bahaya sesungguhnya bukan pada air yang keruh, melainkan pada apa yang tersembunyi di dalamnya.

Merkuri dan sianida punya karakter yang licik. Mereka tidak langsung membunuh atau membuat orang sakit seketika. Justru zat berbahaya itu perlahan menghinggapi lambung ikan dan biota lainnya yang nantinya disantap manusia. Lalu di dalam air yang diminum setiap hari, di dalam tubuh seorang ibu hamil yang tanpa sadar mengonsumsi air yang sudah tercemar selama masa kehamilannya. Efeknya baru terasa bertahun-tahun kemudian, ketika sudah terlambat untuk diperbaiki.

Ini bukan kekhawatiran yang mengada-ada. Ada catatan dari Pulau Buru, Maluku, tempat limbah merkuri dan sianida dari tambang emas ilegal disebut-sebut telah mencemari sumber air sampai ke titik yang menyebabkan sejumlah bayi lahir dengan kecacatan, karena ibunya mengonsumsi air tercemar selama mengandung. Kisah itu bukan cerita horor untuk menakut-nakuti, melainkan pengingat nyata tentang apa yang bisa terjadi ketika logam berat masuk ke rantai air yang dikonsumsi manusia setiap hari, tanpa mereka sadari.

Situasi di Beutong membuat kekhawatiran ini terasa lebih dekat, karena sungai di sana bukan hanya sumber air minum, tapi juga sumber protein utama lewat ikan air tawar yang ditangkap warga. Rantai pencemarannya berlapis: air tercemar, ikan ikut tercemar, lalu manusia yang memakannya menanggung risiko yang sama. Ini siklus yang sunyi, tidak sedramatis banjir bandang yang langsung jadi berita, tapi justru karena kesunyiannya itulah ia sering terabaikan sampai dampaknya benar-benar tidak bisa lagi disembunyikan.

Bukan Cerita Kampung yang Berdiri Sendiri

Kalau kita melangkah sedikit lebih jauh dari Beutong, ke Aceh Barat misalnya, pola yang sama terulang. Konflik antara warga dan perusahaan tambang, kerugian ekonomi masyarakat akibat rusaknya lahan perkebunan yang ditaksir mencapai hampir dua miliar rupiah, dan pergeseran mata pencaharian dari petani menjadi penambang yang membuat sawah dan kebun perlahan terbengkalai.

Barangkali yang paling penting dipahami adalah ini: apa yang terjadi di Beutong bukan sekadar masalah lokal yang bisa dianggap urusan orang jauh. Air tidak mengenal batas kecamatan. Kerusakan daerah aliran sungai di satu titik bisa berdampak jauh ke wilayah hilir, termasuk pesisir yang menerima aliran sedimentasi dan pencemaran dari hulu. Ikan yang tercemar merkuri di satu tempat bisa saja berpindah tangan, terjual, dan akhirnya sampai ke meja makan orang yang bahkan tidak pernah tahu di mana Beutong berada di peta.

Ada juga sisi yang lebih filosofis dari cerita ini. Apa yang terjadi di sungai kecil ini sebenarnya cerminan dari persoalan yang kompleks saat manusia modern kerap memandang alam sebagai sumber daya tanpa batas, sampai alam sendiri yang memaksa kita berhenti lewat bencana. Pola ini berulang di banyak tempat: tambang nikel di Sulawesi, deforestasi sawit di Kalimantan, penambangan pasir ilegal di berbagai pesisir Indonesia. Beutong hanyalah satu babak dari kisah besar yang sama, ditulis ulang di tempat berbeda dengan wajah-wajah yang berbeda pula.

Begitu emas hasil tambang ilegal sampai ke pengepul dan toko emas, jejak asalnya nyaris mustahil dilacak. Bisa jadi perhiasan yang dipakai seseorang, atau emas batangan yang disimpan sebagai investasi, punya jejak yang bermula dari sungai yang rusak di tempat yang namanya bahkan belum pernah didengar sebelumnya.

Sungai yang Masih Menunggu untuk Diselamatkan

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menghakimi para penambang. Samsul dan orang-orang seperti dia bukan penjahat, mereka hanyalah manusia biasa yang sedang berjuang menghidupi keluarga dengan pilihan yang tersedia di depan mata, pilihan yang sudah dipersempit jauh sebelum mereka sempat memilih. Ada hal yang pantas dipertanyakan bukan mereka, melainkan sistem yang membuat merusak alam terasa lebih masuk akal secara ekonomi dibanding menjaganya.

Beutong hari ini berdiri di sebuah persimpangan, dan seperti kebanyakan persimpangan penting dalam hidup, ia tidak datang dengan papan penunjuk arah yang jelas. Satu jalan mengarah pada masa depan di mana sungai-sungainya terus dikeruk sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan.

Di ujung jalan itu, mungkin, anak cucu warga Beutong hanya akan mendengar cerita tentang sungai jernih dari mulut kakek-nenek mereka akan cerita yang lambat laun terdengar seperti dongeng, sesuatu yang terlalu indah untuk pernah benar-benar nyata.

Jalan yang lain, jauh lebih berat dan menuntut kesabaran bertahun-tahun, mengarah pada pemulihan. Di sana, Pawang Uteun kembali punya wibawa untuk menjaga hutannya sendiri. Di sana, kolam-kolam ikan menggantikan lubang-lubang bekas galian. Di sana, anak muda yang dulu hanya menonton kerusakan kampungnya kini berdiri di tepi sungai bukan untuk menambang, melainkan untuk dijaga bersama-sama.

Saya ingin kembali sejenak ke gambaran di awal tulisan ini. Saya seakan melihat kembali beberapa ibu yang sedang mencuci pakaian sambil bertukar cerita, anak-anak yang tertawa keras sampai suaranya memantul ke tebing, bapak-bapak yang pulang membawa ikan cukup untuk lauk malam. Gambaran itu bukan nostalgia kosong.

Ia adalah bukti bahwa kehidupan semacam itu pernah nyata di Beutong, bukan sekadar imajinasi tentang masa lalu yang ideal. Kalau dulu pernah ada, bukan mustahil suatu hari nanti bisa ada lagi asalkan ada cukup banyak orang yang memilih untuk tidak menyerah pada suara mesin diesel sebagai satu-satunya kemungkinan masa depan sungai ini.

Emas mungkin berkilau, tapi kilaunya sementara, dan ia tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka yang mengorbankan sungainya untuk mendapatkannya. Sungai yang jernih, hutan yang lebat, dan anak-anak yang bisa berenang di sore hari di sana adalah kekayaan yang jauh lebih berharga

Kita ingin melihat itu kembali, membuat masyarakat hidup sedia kala bukan hanya terbawa hawa nafsu semata. Semoga tulisan ini merefleksikan kita semua, akhir kata Have a Nice Days.

Share:

6 comments:

  1. Ya Allah, sedih sekali dengan kondisi saudara kita di Beutong ini. Terbayang bencana banjir bandang datang silih berganti itu ya memang karena hutan dan alamnya banyaj dikeruk, banyak ditebang habis-habisan tanpa memikirkan masa depan

    Apalagi merujuk ke penelitian terbaru dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry kalau aktivitas tambang ilegal di Beutong sudah membentuk jaringan yang terorganisir rapi—mulai dari siapa yang menyuplai bahan bakar, siapa yang mengoperasikan alat berat, sampai siapa yang menampung dan menjual hasil emasnya ke toko-toko emas.

    Beneran sudah terkoordinir ya. Masyarakat bisa apa jika pejabat sebenarnya ikut andil dalam aksi yang seharusnya dihindari ini

    Bahkan distribusi bahan bakar minyak untuk menggerakkan alat berat ini disinyalir tidak lewat jalur normal, melainkan lewat perantara khusus yang memastikan pasokan tetap mengalir tanpa putus. Sudah pasti itu dilindungi oknum kan?

    Lima hal yang bisa kita lakukan di artikel ini ini saya setujui. Semoga dengan keterlibatan dan kepedulian kita itu sedikitpun itu bisa ikut membantu menyuarakan sehingga nasib saudara kita di Nagan Raya, umumnya di wilayah yang sering terjadi bencana semoga lebih baik lagi. Aamiin

    ReplyDelete
  2. Luar biasa alam Aceh ini, kaya dengan Sumber daya alam, mineral dan alamnya juga masih asri.
    saya sering liat konten kreator asal aceh yang dalam videonya itu suka berburu batu dari sungai, dan luar biasanya ga perlu jalan jauh-jauh setiap berapa centimeter ada, dan batunya bagus-bagus, bukan cuma giok. disini ngga ada tuh tempat yang kayak gitu. batu di kali cuma adanya batu biasa aja.
    Kekayaan alam yang luar biasa banget, bikin saya pengen banget untuk bisa mengunjungi aceh.
    Semoga Aceh tetap lestari, terjaga alamnya, kalaupun bisa dimanfaatkan alamya semoga bijak menggunakannya, dan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat aceh semua.

    ReplyDelete
  3. Gambaran sungai Beutong dulu, tempat anak-anak berenang dan ibu-ibu mencuci, lalu kini berganti deru mesin diesel, benar-benar membuat sedih.

    Saya setuju dengan poin bahwa penambang kecil seperti Samsul bukan penjahat, melainkan korban sistem yang membuat merusak lebih menguntungkan daripada menjaga. Yang paling mengena bagi saya adalah soal kemarahan publik yang cepat menguap; pengawasan yang konsisten memang jauh lebih penting daripada sekadar demo sesaat.

    Ancaman merkuri yang diam-diam masuk lewat ikan dan air minum juga patut jadi perhatian serius. Semoga Beutong bisa pulih dan sungainya kembali jernih.

    ReplyDelete
  4. Baca tulisan ini hati langsung berasa miris dan teriris...sedih rasanya...keindahan dan harmoni alam yang dulu pernah ada kini tergantikan oleh keserakahan manusia...
    Hingga akhirnya rakyat sekitarnya yang tetap menjadi korban, mereka tidak seberapa menikmati hasilnya namun mereka yang paling banyak merasakan dampaknya, baik dampak alam maupun dampak kesehatan
    Di negeri ini rasa2nya rakyat biasa seperti kita ini tidak bisa berbuat banyak, selain hanya bisa menunggu sebuah perubahan yang kita idam2kan selama ini...
    Semoga para penguasa tidak hanya bisa mengeruk hasil bumi namun bisa bertanggung jawab dan mengembalikan kembali fungsi lahan yang mereka rusak

    ReplyDelete
  5. 18 tahun aku tinggal di Lhokseumawe, di tengah komplek perumahan minyak dengan fasilitas lengkap, listrik gratis, sekolah gratis, rumah sakit gratis, tapi saat kluar komplek, baru terlihat kondisi Aceh yang sebenarnya. Kemiskinan, kumuh, padahal kota ini luar biasa kaya 😭😭😭. Minyak, gas alam, uranium, emas.... Tapi yang dilakukan pemerintah hanya mengeruk semua, dan ga peduli dengan perkembangan Aceh 😭😭

    Apa ga cukup banjir bandang yang terjadi akhir 2025 kemarin yaaa. Itu aja belum selesai masalahnya, kok ya mereka yang di atas2 ini, masih aja mikirin keuntungan pribadinya 😭😭. Serakus itu apa napsu iblis nya... 😢😢.

    Jujur aku udah speechless mas... Udh ga tau apa lagi yang bisa menyadarkan pemerintah dan orang2 rakus yang menambang sana sini, baik legal atau ilegal. Yg ga peduli dengan warga lokal 😭.

    Sediiih banget liatnya... Ntah mana lagi yang mau mereka hancurkan.. Aceh, Kalimantan, Papua...

    ReplyDelete
  6. Sedih sekali dengan kenyataan bahwa Beutong semakin dikuras kekayaan alamnya, tanpa ada penyelamatan lingkungan yang tepat. Heran sekaligus geram, kenapa pihak pemodal selalu egois mengeruk kekayaan tanpaembetikan perawatan pada alam? Sudah paling benar, warga setempat mendulang emas secara tradisional hanya secukupnya untuk tambahan biaya hidup tanpa merusak alam.

    Pola yang sama acapkali terjadi di banyak tempat memang. Yang paling kaya, SDA berlimpah, maka akan di eksploitasi. Padahal, manusia amat sangat bergantung pada alam. Kalau alamnya rusak, timbul banyak masalah. Bahkan kehilangan mata pencaharian dan keamanan karena alam yang rusak rawan terjadi bencana dan lainnya. Ngeri sekali memang.

    ReplyDelete

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer