Thursday, July 30, 2026

Emas dan Ketika Bumi Beutong diekploitasi Tanpa Henti

 

Ada satu suara yang hilang dari Beutong belakangan ini, dan mungkin tidak banyak orang menyadarinya karena suara itu terlalu lembut untuk masuk berita: suara gemericik air sungai yang mengalir jernih.

Dulu, sungai di kaki bukit Nagan Raya ini punya ritme sendiri. Pagi hari, perempuan-perempuan datang mencuci pakaian sambil bertukar cerita. Siang, anak-anak berenang sepulang mengaji, tertawa keras sampai suaranya memantul ke tebing. Sore, bapak-bapak menebar jala, berharap dapat ikan cukup untuk lauk malam. Airnya bening sampai dasar terlihat, dan sesekali, kalau beruntung, ada yang menemukan serpihan emas kecil terjebak di antara kerikil warisan alam yang sudah diketahui sejak generasi kakek buyut.

Sungai itu masih ada. Tapi ritmenya sudah berubah total. Yang terdengar sekarang bukan lagi tawa anak-anak, melainkan deru mesin diesel yang tidak pernah benar-benar berhenti, siang atau malam. Warnanya bukan lagi bening, tapi cokelat pekat bercampur solar. Dan alih-alih perempuan mencuci pakaian di tepiannya, yang berdiri di sana sekarang ada banyak eksavator yang biasanya dipakai membangun gedung bertingkat, kini mengeruk dasar sungai jengkal demi jengkal, mencari emas yang tersembunyi di baliknya.

Ini bukan cerita fiksi. Ini Beutong, hari ini.

Ketika Berkah Berubah Jadi Jebakan

Kalau ditelusuri baik-baik, cerita ini sebenarnya tidak dimulai dengan niat jahat. Mendulang emas bukan hal asing bagi masyarakat di sini. Sudah sejak dulu, sebagian warga punya kebiasaan mencari serbuk emas secara tradisional—cukup bermodal dulang kayu, disaring perlahan di pinggir sungai, hasilnya jadi tambahan penghasilan yang tidak mengganggu apa pun selain waktu luang mereka sendiri. Skalanya kecil, ritmenya selaras dengan alam, dan sungai tetap bisa bernapas.

Yang berubah adalah skalanya. Begitu alat berat masuk, semua berubah drastis. Apa yang dulu perlu berhari-hari dikerjakan dengan tangan, sekarang bisa dilakukan dalam hitungan jam. Hasilnya memang berlipat ganda—tapi begitu juga kerusakannya, jauh lebih cepat dibanding kemampuan sungai untuk memulihkan diri.

Prosesnya sebenarnya sederhana untuk dijelaskan: tanah dan lumpur disedot dari dasar sungai memakai mesin pompa, disaring, lalu butiran emasnya dipisahkan. Tapi yang tertinggal jauh dari sederhana. Kekeruhan yang tidak pernah reda karena sedimen terus-menerus teraduk. Ceceran solar dari mesin yang beroperasi nyaris tanpa jeda. Dan kemungkinan yang lebih menakutkan lagi—merkuri, bahan kimia yang kerap dipakai memurnikan emas, yang sifatnya licik: tidak berbau, tidak terlihat, tapi diam-diam mengendap di tubuh manusia bertahun-tahun sebelum akhirnya menampakkan wujud aslinya lewat penyakit yang datang tanpa peringatan.

Yang membuat semua ini terasa lebih pilu adalah siapa yang justru ikut ambil bagian di dalamnya. Warga yang dulu menggantungkan hidup pada sungai—menangkap ikan, mengambil air untuk keperluan sehari-hari—kini sebagian dari mereka justru turun tangan menambang. Bukan karena mereka berhenti mencintai sungainya. Tapi karena logika yang menyakitkan: kalau airnya sudah telanjur keruh, kalau ikannya sudah telanjur berkurang, kenapa tidak sekalian saja ambil untung dari kerusakan yang sudah terjadi?

Coba bayangkan seorang bapak, sebut saja namanya Samsul, meski dia bisa jadi siapa saja di Beutong—yang sepuluh tahun lalu masih bangga menyebut dirinya nelayan sungai. Setiap subuh dia turun membawa jala, pulang sebelum matahari terlalu tinggi, dan hasil tangkapannya cukup untuk dijual sedikit di pasar kampung, sisanya untuk lauk keluarga. Sekarang, jala itu tergantung di sudut rumah, jarang disentuh, karena ikan yang tersisa di sungai tidak lagi sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan untuk mencarinya.

Samsul, seperti banyak tetangganya, akhirnya memilih ikut bekerja di tambang milik toke setempat—bukan karena bangga, tapi karena tidak melihat pilihan lain yang lebih masuk akal secara ekonomi. Setiap kali ditanya, jawabannya selalu sama: "Airnya memang sudah rusak duluan sebelum saya turun tangan. Jadi buat apa saya yang menahan diri sendirian?"

Logika semacam ini terdengar egois kalau didengar sepintas. Tapi begitu dipikirkan lebih dalam, itu sebenarnya gejala dari sesuatu yang jauh lebih besar: ketika kerusakan sudah terjadi lebih dulu akibat ulah pihak lain yang bermodal besar, korban pertama justru sering kali ikut terseret menjadi bagian dari masalah, bukan karena mereka jahat, tapi karena sistem yang ada tidak menyisakan jalan keluar yang lebih baik.

Di titik inilah jebakan sesungguhnya bekerja. Penambang biasanya dibiayai oleh pemodal—warga di sini menyebutnya "toke" yang menanggung kebutuhan hidup selama mereka bekerja di lokasi tambang. Sekilas terdengar adil: si penambang dapat penghasilan cepat, si toke dapat emas. Tapi ini sebenarnya taruhan yang timpang. Emas suatu hari akan habis. Sungai yang rusak, kalaupun bisa pulih, butuh waktu yang jauh lebih panjang dari umur manusia yang menambangnya.

Ketika Amarah Publik Menguap Begitu Saja

Ada satu babak dalam cerita tambang emas di Aceh yang seharusnya jadi titik balik, tapi justru berakhir jadi pengingat pahit tentang betapa rapuhnya perubahan yang hanya bersandar pada kemarahan sesaat.

Menjelang Pemilu 2019, rencana eksploitasi emas skala besar di Nagan Raya memicu gelombang protes yang jauh lebih besar dari biasanya. Bukan cuma karena ancaman lingkungan, tapi juga karena isu kepemilikan perusahaan yang dikaitkan dengan nama besar di panggung politik nasional. Mahasiswa turun ke jalan bersama masyarakat, dalam jumlah yang sampai membuat pekerja di lokasi tambang harus lari menyelamatkan diri dari amukan massa.

Untuk sesaat, rasanya perubahan besar sudah di depan mata. Tapi yang terjadi setelahnya justru berbalik arah. Bukannya mereda, aktivitas ilegal di sekitar area itu malah kian marak begitu gelombang protes surut. Energi kemarahan kolektif yang begitu besar menguap tanpa jejak perubahan struktural yang berarti.

Ada pelajaran keras yang bisa dipetik dari sini: kemarahan publik, sekuat apa pun, tidak otomatis menghasilkan perubahan tanpa pengawasan yang konsisten dan membosankan setelahnya. Demo adalah letupan emosi. Yang benar-benar dibutuhkan adalah sesuatu yang jauh kurang dramatis—audit rutin, pelaporan berkala, perhatian publik yang tidak berhenti begitu tagar di media sosial sudah tidak lagi ramai dibicarakan.

Jaringan yang Lebih Rapi dari Dugaan Kita

Ada anggapan umum bahwa tambang ilegal adalah urusan orang-orang nekat yang bekerja sendiri-sendiri, sembunyi-sembunyi dari kejaran aparat. Kenyataannya jauh lebih rumit.

Penelitian terbaru dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry menemukan bahwa aktivitas tambang ilegal di Beutong sudah membentuk jaringan yang terorganisir rapi—mulai dari siapa yang menyuplai bahan bakar, siapa yang mengoperasikan alat berat, sampai siapa yang menampung dan menjual hasil emasnya ke toko-toko emas. Bahkan distribusi bahan bakar minyak untuk menggerakkan alat berat ini disinyalir tidak lewat jalur normal, melainkan lewat perantara khusus yang memastikan pasokan tetap mengalir tanpa putus.

Yang menopang semua ini adalah relasi yang oleh peneliti disebut "patron-klien"—istilah akademis untuk sesuatu yang sebenarnya sudah lama akrab dalam keseharian kita sebagai hubungan "bapak asuh". Si pemodal memberi perlindungan dan modal. Si pekerja memberi loyalitas dan tenaga. Ketika ada razia, biasanya hanya pekerja lapangan yang tertangkap, sementara jaringan di atasnya tetap utuh, siap bangkit lagi begitu keadaan kembali aman.

Inilah sebabnya berbagai upaya penertiban—dari patroli gabungan aparat sampai pemasangan spanduk larangan di setiap desa—belum benar-benar menghentikan aktivitas ini. Yang ditangkap hanyalah ranting, sementara akarnya tetap tertanam kuat di dalam tanah. Konon, begitu satu titik tambang ditertibkan pagi hari, sore harinya operasinya sudah berpindah beberapa ratus meter ke hilir, siap beroperasi lagi seolah tidak terjadi apa pun.

Ketika Alam Akhirnya Bicara

Ada satu momen yang mestinya menjadi alarm keras bagi semua orang, tapi anehnya terasa cepat dilupakan: banjir bandang yang menghantam Beutong Ateuh di penghujung 2025. Rumah rusak, kebun hancur, dan sungai yang selama ini jadi sumber kehidupan berubah wujud jadi ancaman yang datang tiba-tiba di tengah malam.

Banyak warga sendiri yang menghubungkan bencana itu dengan hilangnya hutan akibat aktivitas tambang. Ketika pepohonan di sekitar aliran sungai ditebangi demi membuka jalan bagi alat berat, fungsi alami hutan sebagai penyerap air pun ikut lenyap. Air hujan yang biasanya diserap perlahan oleh akar-akar pohon, kini langsung menghantam tanah gundul dan meluncur deras menuju sungai—kombinasi sempurna untuk sebuah bencana.

Yang menyayat hati, tak lama setelah bencana itu, muncul lagi rencana dan aktivitas tambang baru di kawasan yang persis sama. Seolah luka yang belum kering pun tak cukup jadi pelajaran. Warga bersama komunitas adat sampai harus menempuh langkah yang tidak biasa: mengirim surat langsung kepada Presiden untuk menyuarakan penolakan mereka.

Coba bayangkan posisi mereka yang menulis surat itu. Bukan aktivis profesional yang terbiasa berhadapan dengan birokrasi rumit, melainkan petani, ibu rumah tangga, dan tokoh kampung yang sehari-hari sibuk dengan urusan ladang dan dapur. Ketika orang-orang seperti ini merasa perlu menempuh jalur sejauh itu, itu adalah sinyal keputusasaan yang seharusnya tidak diabaikan siapa pun yang punya kewenangan untuk bertindak.

Racun yang Diam-Diam Menunggu

Ada satu sisi dari cerita tambang emas ilegal yang jarang benar-benar dipahami dalam obrolan sehari-hari: bahaya sesungguhnya bukan pada air yang keruh, melainkan pada apa yang tersembunyi di dalamnya.

Merkuri dan sianida punya karakter yang licik. Mereka tidak langsung membunuh atau membuat orang sakit seketika. Justru mereka menumpuk perlahan—di dalam ikan yang dimakan, di dalam air yang diminum setiap hari, di dalam tubuh seorang ibu hamil yang tanpa sadar mengonsumsi air yang sudah tercemar selama masa kehamilannya. Efeknya baru terasa bertahun-tahun kemudian, ketika sudah terlambat untuk diperbaiki.

Ini bukan kekhawatiran yang mengada-ada. Ada catatan dari Pulau Buru, Maluku, tempat limbah merkuri dan sianida dari tambang emas ilegal disebut-sebut telah mencemari sumber air sampai ke titik yang menyebabkan sejumlah bayi lahir dengan kecacatan, karena ibunya mengonsumsi air tercemar selama mengandung. Kisah itu bukan cerita horor untuk menakut-nakuti, melainkan pengingat nyata tentang apa yang bisa terjadi ketika logam berat masuk ke rantai air yang dikonsumsi manusia setiap hari, tanpa mereka sadari.

Situasi di Beutong membuat kekhawatiran ini terasa lebih dekat, karena sungai di sana bukan hanya sumber air minum, tapi juga sumber protein utama lewat ikan air tawar yang ditangkap warga. Rantai pencemarannya berlapis: air tercemar, ikan ikut tercemar, lalu manusia yang memakannya menanggung risiko yang sama. Ini siklus yang sunyi, tidak sedramatis banjir bandang yang langsung jadi berita, tapi justru karena kesunyiannya itulah ia sering terabaikan sampai dampaknya benar-benar tidak bisa lagi disembunyikan.

Bukan Cerita Kampung yang Berdiri Sendiri

Kalau kita melangkah sedikit lebih jauh dari Beutong, ke Aceh Barat misalnya, pola yang sama terulang. Konflik antara warga dan perusahaan tambang, kerugian ekonomi masyarakat akibat rusaknya lahan perkebunan yang ditaksir mencapai hampir dua miliar rupiah, dan pergeseran mata pencaharian dari petani menjadi penambang yang membuat sawah dan kebun perlahan terbengkalai.

Barangkali yang paling penting dipahami adalah ini: apa yang terjadi di Beutong bukan sekadar masalah lokal yang bisa dianggap urusan orang jauh. Air tidak mengenal batas kecamatan. Kerusakan daerah aliran sungai di satu titik bisa berdampak jauh ke wilayah hilir, termasuk pesisir yang menerima aliran sedimentasi dan pencemaran dari hulu. Ikan yang tercemar merkuri di satu tempat bisa saja berpindah tangan, terjual, dan akhirnya sampai ke meja makan orang yang bahkan tidak pernah tahu di mana Beutong berada di peta.

Ada juga sisi yang lebih filosofis dari cerita ini. Apa yang terjadi di sungai kecil ini sebenarnya cerminan dari persoalan yang jauh lebih besar dan universal—bagaimana manusia modern kerap memandang alam sebagai sumber daya tanpa batas, sampai alam sendiri yang memaksa kita berhenti lewat bencana. Pola ini berulang di banyak tempat: tambang nikel di Sulawesi, deforestasi sawit di Kalimantan, penambangan pasir ilegal di berbagai pesisir Indonesia. Beutong hanyalah satu babak dari kisah besar yang sama, ditulis ulang di tempat berbeda dengan wajah-wajah yang berbeda pula.

Dan kalau bicara soal emas secara khusus, ada kemungkinan rantai pasoknya jauh lebih panjang dari yang kita duga. Begitu emas hasil tambang ilegal sampai ke pengepul dan toko emas, jejak asalnya nyaris mustahil dilacak. Bisa jadi perhiasan yang dipakai seseorang, atau emas batangan yang disimpan sebagai investasi, punya jejak yang bermula dari sungai yang rusak di tempat yang namanya bahkan belum pernah didengar sebelumnya.

Mencari Jalan yang Tidak Menyerah pada Keputusasaan

Wajar kalau di titik ini muncul rasa pesimis. Kalau penegakan hukum saja tidak cukup, kalau amarah publik sebesar apa pun bisa menguap tanpa bekas, lalu apa sebenarnya yang bisa dilakukan?

Saya percaya jawabannya bukan satu solusi ajaib, melainkan rajutan dari beberapa langkah yang saling menguatkan.

Yang pertama, dan barangkali paling mendasar, adalah menghidupkan kembali kearifan lokal yang sudah ada sejak lama. Di Beutong Ateuh, ada lembaga adat bernama Pawang Uteun, semacam penjaga hutan tradisional yang otoritas moralnya jauh lebih dekat dengan warga dibanding aparat yang datang dan pergi. Menguatkan kembali peran mereka, memberi mereka ruang dan dukungan nyata, bisa menjadi garis pertahanan pertama yang lebih manusiawi dibanding sekadar spanduk larangan yang mudah diabaikan.

Yang kedua adalah menawarkan jalan ekonomi yang benar-benar nyata, bukan sekadar wacana di atas kertas. Selama alasan orang menambang adalah kebutuhan hidup, pendekatan represif tanpa alternatif ekonomi hanya akan mendorong mereka kembali menambang begitu pengawasan mengendur. Budidaya ikan dengan kolam tertutup yang tidak bergantung pada kualitas air sungai, penanaman komoditas bernilai seperti pala dan kopi di lahan yang mulai dipulihkan, hingga potensi ekowisata di kawasan hutan Leuser—semua ini bisa jadi jalan yang jauh lebih berkelanjutan dibanding emas yang cepat atau lambat pasti habis. Bayangkan Beutong beberapa tahun dari sekarang, bukan lagi dikenal sebagai kawasan tambang liar, melainkan sebagai tujuan wisata alam dengan sungai yang kembali jernih dan kopi lokal yang dijual dengan harga premium karena cerita keberlanjutan di baliknya.

Yang ketiga adalah melibatkan generasi muda sebagai mata dan telinga di lapangan. Sebuah kelompok pemuda yang rutin memeriksa kualitas air, mendokumentasikan perubahan warna atau bau sungai, lalu membagikannya secara terbuka, bisa menjadi bukti kuat yang mendorong tindakan nyata—sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap sungai kampung mereka sendiri. Ini jalan yang lebih realistis dibanding sekadar berharap kebijakan datang dari atas. Perubahan kecil yang konsisten dari bawah seringkali bertahan jauh lebih lama.

Yang keempat, penegakan hukum harus berani menyasar akar, bukan sekadar ranting. Selama ini yang tertangkap kebanyakan pekerja lapangan, sementara pemodal dan jaringan distribusinya tetap aman di belakang layar. Padahal kalau ingin benar-benar efektif, yang harus disasar justru rantai di baliknya: siapa yang menyuplai bahan bakar, siapa yang menyediakan alat berat, ke mana emas itu akhirnya dijual. Ini memang butuh keberanian lebih besar, karena rantai di atas biasanya juga punya koneksi dan pengaruh yang lebih kuat. Tapi tanpa memutus rantai itu, penertiban akan terus menjadi permainan kucing-kucingan yang melelahkan tanpa ujung.

Dan yang terakhir, mungkin yang paling mendasar dari semuanya: menumbuhkan kembali rasa sayang pada alam sebagai bagian dari diri sendiri, bukan sekadar objek yang bisa dikeruk sesuka hati. Ini terdengar abstrak, tapi justru di situlah akar persoalannya berada. Selama alam dipandang cuma sebagai sumber uang, akan selalu ada yang bersedia mengambilnya, apa pun risikonya bagi orang lain. Dibutuhkan kesadaran yang lebih dalam bahwa merusak sungai hari ini sama saja dengan mencuri masa depan anak cucu sendiri—dan kesadaran semacam ini paling mudah tumbuh lewat bahasa dan simbol yang sudah akrab dengan masyarakat setempat: tokoh adat, pengajian, cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, bukan brosur formal yang berakhir di tempat sampah.

Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi

Mungkin ada yang bertanya, "tapi saya bukan pejabat, bukan aktivis, bukan orang yang punya wewenang apa pun. Apa yang bisa saya lakukan selain membaca tulisan ini lalu manggut-manggut prihatin?"

Pertanyaan itu jujur dan wajar. Saya sendiri juga bukan orang yang punya kuasa untuk langsung menghentikan satu pun alat berat di Beutong. Tapi ada hal-hal kecil yang, kalau dilakukan oleh cukup banyak orang, bisa berubah jadi tekanan sosial yang berarti.

Yang paling sederhana adalah menyebarkan cerita ini lebih jauh. Terdengar remeh, tapi isu-isu lingkungan di daerah yang jauh dari pusat pemberitaan sering tenggelam begitu saja karena tidak cukup banyak orang yang tahu atau peduli. Semakin banyak yang mendengar nama Beutong, semakin besar pula peluang lahirnya perhatian publik yang bertahan lama, bukan sekadar letupan sesaat seperti yang pernah terjadi menjelang Pemilu 2019.

Yang lain, kalau ada kesempatan membeli hasil bumi dari Aceh—kopi gayo, pala, produk pertanian lokal—dukungan semacam ini diam-diam ikut memperkuat argumen bahwa ada jalan ekonomi lain selain menambang. Dan kalau kebetulan bekerja di dunia kebijakan, riset, atau jurnalisme, isu ini butuh lebih banyak orang yang mau menggali lebih dalam, bukan sekadar meliput sekali lalu berpindah topik.

Tapi barangkali yang paling personal adalah ini: mulai dari cara kita sendiri memandang alam di sekitar kita, di mana pun kita tinggal. Beutong hanyalah satu titik kecil di peta besar krisis lingkungan yang jauh lebih luas. Kalau kita menunggu sampai persoalannya persis terjadi di halaman rumah sendiri baru mau peduli, biasanya sudah terlambat.

Sungai yang Masih Menunggu untuk Diselamatkan

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menghakimi para penambang. Samsul dan orang-orang seperti dia bukan penjahat—mereka hanyalah manusia biasa yang sedang berjuang menghidupi keluarga dengan pilihan yang tersedia di depan mata, pilihan yang sudah dipersempit jauh sebelum mereka sempat memilih. Yang pantas dipertanyakan bukan mereka, melainkan sistem yang membuat merusak alam terasa lebih masuk akal secara ekonomi dibanding menjaganya.

Beutong hari ini berdiri di sebuah persimpangan, dan seperti kebanyakan persimpangan penting dalam hidup, ia tidak datang dengan papan penunjuk arah yang jelas. Satu jalan mengarah pada masa depan di mana sungai-sungainya terus dikeruk sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan. Di ujung jalan itu, mungkin, anak cucu warga Beutong hanya akan mendengar cerita tentang sungai jernih dari mulut kakek-nenek mereka—cerita yang lambat laun terdengar seperti dongeng, sesuatu yang terlalu indah untuk pernah benar-benar nyata.

Jalan yang lain, jauh lebih berat dan menuntut kesabaran bertahun-tahun, mengarah pada pemulihan. Di sana, Pawang Uteun kembali punya wibawa untuk menjaga hutannya sendiri. Di sana, kolam-kolam ikan menggantikan lubang-lubang bekas galian. Di sana, anak muda yang dulu hanya menonton kerusakan kampungnya kini berdiri di tepi sungai bukan untuk menambang, melainkan untuk menjaga—mencatat, melaporkan, mengingatkan.

Saya ingin kembali sejenak ke gambaran di awal tulisan ini: seorang perempuan mencuci pakaian sambil bertukar cerita, anak-anak yang tertawa keras sampai suaranya memantul ke tebing, bapak-bapak yang pulang membawa ikan cukup untuk lauk malam. Gambaran itu bukan nostalgia kosong. Ia adalah bukti bahwa kehidupan semacam itu pernah nyata di Beutong, bukan sekadar imajinasi tentang masa lalu yang ideal. Kalau dulu pernah ada, bukan mustahil suatu hari nanti bisa ada lagi—asalkan ada cukup banyak orang yang memilih untuk tidak menyerah pada suara mesin diesel sebagai satu-satunya kemungkinan masa depan sungai ini.

Emas mungkin berkilau, tapi kilaunya sementara, dan ia tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka yang mengorbankan sungainya untuk mendapatkannya. Sungai yang jernih, hutan yang lebat, dan anak-anak yang bisa berenang dengan tenang tanpa rasa was-was—itu adalah kekayaan yang jauh lebih berharga, sekaligus jauh lebih rapuh, karena begitu hilang, ia tidak bisa dibeli kembali dengan logam apa pun.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer