Pertengahan tahun ini
adalah waktu dari sekian lama setelah tak menjejakkan kaki di tanah Beutong,
Nagan Raya. Ia jadi salah satu saksi kala gempa tsunami Aceh tahun 2004. Saya
beserta keluarga mengungsi jauh ke sana, jauh dari pedihnya tsunami yang
merenggut semuanya yang ada tanpa sisa.
Di sana kami menetap lama, hampir dua bulan lamanya sembari melihat Kota Meulaboh yang luluh lantak kembali berdenyut. Sebuah Kecamatan yang terbentang luas, ada indahnya hamparan sawah, air gunung yang dingin, hingga pegunungan yang sejuk terlihat dari jauh.
Ada satu suara yang hilang
dari Beutong belakangan ini, dan mungkin tidak banyak orang menyadarinya karena
suara itu terlalu lembut untuk masuk berita: suara gemericik air sungai yang
mengalir jernih yang sering dimanfaatkan anak-anak di sana buat mandi, yang
dimanfaatkan buat petani sebagai sumber aliran ke persawahan dan pertanian
hingga hajat hidup banyak orang di hilir. Perlahan perannya mulai sirna, air
jernih itu telah menghilang,
Dulu, sungai di kaki bukit
Nagan Raya ini punya ritme sendiri. Pagi hari, perempuan-perempuan datang
mencuci pakaian sambil bertukar cerita. Siang, anak-anak berenang sepulang
mengaji, tertawa keras sampai suaranya memantul ke tebing.
Sore, bapak-bapak menebar
jala, berharap dapat ikan cukup untuk lauk malam. Airnya bening sampai dasar
terlihat, dan sesekali, kalau beruntung, ada yang menemukan serpihan emas kecil
terjebak di antara kerikil warisan alam yang sudah diketahui sejak generasi
kakek buyut.
Sungai itu masih ada. Tapi
ritmenya sudah berubah total. Kini terdengar sekarang bukan lagi tawa
anak-anak, melainkan deru mesin diesel yang tidak pernah benar-benar berhenti,
siang atau malam. Warnanya bukan lagi bening, tapi cokelat pekat bercampur
solar. Dan alih-alih perempuan mencuci pakaian di tepiannya, yang berdiri di
sana sekarang ada banyak eksavator yang biasanya dipakai membangun gedung
bertingkat, kini mengeruk dasar sungai jengkal demi jengkal, mencari emas yang
tersembunyi di baliknya.
Ini bukan cerita fiksi. Ini Beutong, hari ini dan banyak daerah lainnya yang kaya akan emas di dalam perut bumi. Harga emas yang melonjak tinggi, seakan memberi dampak pada perut bumi Beutong.
Beutong dan Tanah Nagan yang Terlalu Kaya
Sejak lama, Beutong
dikenal sebagai tanah yang kaya. Hutannya lebat, sungainya deras, dan di bawah
semua itu tersimpan sesuatu yang berkali-kali membuat nama kecamatan kecil ini
terdengar sampai jauh dari Aceh.
Beberapa tahun lalu
tepatnya tahun 2015 sempat membuat geger. Kabar penemuan batu giok yang konon
beratnya mencapai dua ton menyebar cepat dan membuat Beutong jadi buah bibir.
Batu hijau itu mendadak menjadi cerita besar, dan kampung yang biasanya sunyi
dari sorotan terasa penting untuk sesaat. Orang membicarakannya dengan mata
berbinar, seolah tanah ini baru saja membuka satu lagi rahasia simpanannya.
Penemunya sadar bahwa di
sela hutan Beutong, Nagan Raya menyimpan berbagai kekayaan alam yang tiada
habisnya. Saat era giok mereda, di sana tetap berkilau khususnya penemuan emas
dalam skala besar. Meskipun sempat terjadi pergolakan dari rakyat sekitar akan
berdirinya pabrik pengolahan emas. Masyarakat merasa merekalah yang layak
mengelolanya.
Waktu berlalu dan demam baru pun muncul, dan demam itu datang pada logam mulia lainnya yakni emas. Ketika harga emas dunia melambung dalam dua tahun terakhir, perhatian pelan-pelan berpindah. Giok tidak lagi jadi cerita utama.
Emas mengambil alih
sebagai prioritas nomor satu, dan ada sesuatu yang getir dari cara itu terjadi:
harga yang ditentukan di pasar-pasar jauh, di tempat yang mungkin tidak seorang
pun pernah mendengar nama Beutong, terasa sampai ke tepi sungai ini dalam bentuk
yang sangat konkret. Setiap kali grafik harga naik, mesin berderum lebih
kencang. Sungai tidak tahu apa-apa soal harga emas, tapi dialah yang pertama
membayar kenaikannya dengan segala aktivitas manusia yang di luar nalar.
Semua orang pun
berbondong-bondong datang. Tidak ada angka pasti, dan justru itu bagian dari
persoalannya, karena yang beroperasi di luar izin juga beroperasi di luar
pencatatan. Tapi cerita yang beredar menyebut jumlah beko di Beutong mencapai
ratusan, bahkan ribuan unit. Kalau angka itu mendekati kenyataan, bayangkan
artinya: ribuan mesin raksasa, masing-masing meninggalkan lubang demi lubang di
tubuh bumi.
Setiap bolongan adalah
luka. Dan luka itu tidak sembuh begitu mesinnya berpindah ke titik berikutnya.
Ia menganga, terisi air keruh, menjadi bekas yang akan bertahan jauh lebih lama
dari ingatan siapa pun tentang siapa yang menggalinya.
Ada ironi lama yang
terulang di sini, ironi yang dikenal di banyak daerah kaya sumber daya di
dunia: tanah yang terlalu kaya sering kali justru menjadi tanah yang paling
tidak beruntung. Giok dulu, emas sekarang. Komoditasnya berganti, tapi polanya
bertahan. Setiap kali sesuatu di bawah tanah mendadak bernilai tinggi, tanahnya
sendiri yang membayar harganya.
Ketika Berkah Berubah Jadi
Jebakan
Kalau ditelusuri
baik-baik, cerita ini sebenarnya tidak dimulai begitu saja. Mendulang emas
bukan hal asing bagi masyarakat di sini. Sudah sejak dulu, sebagian warga punya
kebiasaan mencari serbuk emas secara tradisional hanya dengan bermodalkan
dulang kayu, disaring perlahan di pinggir sungai, hasilnya jadi tambahan
penghasilan yang tidak mengganggu apa pun selain waktu luang mereka sendiri.
Skalanya kecil, ritmenya selaras dengan alam, dan sungai tetap bisa bernapas.
Yang berubah adalah
skalanya. Begitu alat berat masuk, semua berubah drastis. Apa yang dulu perlu
berhari-hari dikerjakan dengan tangan, sekarang bisa dilakukan dalam hitungan
jam. Hasilnya memang berlipat ganda namun memberikan kerusakan yang nyata buat
sungai tanpa bisa ia memulihkannya.
Prosesnya sebenarnya
sederhana untuk dijelaskan: tanah dan lumpur disedot dari dasar sungai memakai
mesin pompa, disaring, lalu butiran emasnya dipisahkan. Tapi yang tertinggal
jauh dari sederhana. Kekeruhan yang tidak pernah reda karena sedimen terus-menerus
teraduk. Ceceran solar dari mesin yang beroperasi nyaris tanpa jeda.
Lalu bagi saya, ada
kemungkinan yang lebih menakutkan lagi yakni merkuri, bahan kimia yang kerap
dipakai memurnikan emas, yang sifatnya licik: tidak berbau, tidak terlihat,
tapi diam-diam mengendap di tubuh manusia bertahun-tahun sebelum akhirnya
menampakkan wujud aslinya lewat penyakit yang datang tanpa peringatan.
Semua terasa lebih pilu
adalah siapa yang justru ikut ambil bagian di dalamnya. Warga yang dulu
menggantungkan hidup pada sungai seperti menangkap ikan, mengambil air untuk
keperluan sehari-hari, kini sebagian dari mereka justru turun tangan menambang.
Bukan karena mereka berhenti mencintai sungainya. Tapi karena logika yang
menyakitkan: kalau airnya sudah telanjur keruh, kalau ikannya sudah telanjur
berkurang, kenapa tidak sekalian saja ambil untung dari kerusakan yang sudah
terjadi?
Coba bayangkan seorang
bapak, sebut saja namanya Samsul, meski dia bisa jadi siapa saja di Beutong, ia
sepuluh tahun lalu masih bangga menyebut dirinya nelayan sungai. Setiap subuh
dia turun membawa jala, pulang sebelum matahari terlalu tinggi, dan hasil
tangkapannya cukup untuk dijual sedikit di pasar kampung, sisanya untuk lauk
keluarga.
Sekarang, jala itu
tergantung di sudut rumah, jarang disentuh, karena ikan yang tersisa di sungai
tidak lagi sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan untuk mencarinya. Akhirnya
ia ikut bekerja di tambang milik toke setempat bukan karena bangga, tapi karena
tidak melihat pilihan lain yang lebih masuk akal secara ekonomi.
Setiap kali ditanya, jawabannya selalu sama: Airnya memang sudah rusak duluan sebelum saya turun tangan. Jadi buat apa saya yang menahan diri sendirian?
Logika semacam ini
terdengar egois kalau didengar sepintas. Tapi begitu dipikirkan lebih dalam,
itu sebenarnya gejala dari sesuatu yang jauh lebih besar: ketika kerusakan
sudah terjadi lebih dulu akibat ulah pihak lain yang bermodal besar, korban
pertama justru sering kali ikut terseret menjadi bagian dari masalah, bukan
karena mereka jahat, tapi karena sistem yang ada tidak menyisakan jalan keluar
yang lebih baik.
Di titik inilah jebakan
sesungguhnya bekerja. Penambang biasanya dibiayai oleh pemodal yang warga di
sini menyebutnya "toke" yang menanggung kebutuhan hidup selama mereka
bekerja di lokasi tambang. Sekilas terdengar adil: si penambang dapat
penghasilan cepat, si toke dapat emas.
Tapi ini sebenarnya
taruhan yang timpang. Emas suatu hari akan habis. Sungai yang rusak, kalaupun
bisa pulih, butuh waktu yang jauh lebih panjang dari umur manusia yang
menambangnya.
Ketika Amarah Publik
Menguap Begitu Saja
Ada satu babak dalam
cerita tambang emas di Aceh yang seharusnya jadi titik balik, tapi justru
berakhir jadi pengingat pahit tentang betapa rapuhnya perubahan yang hanya
bersandar pada kemarahan sesaat.
Menjelang Pemilu 2019,
rencana eksploitasi emas skala besar di Nagan Raya memicu gelombang protes yang
jauh lebih besar dari biasanya. Bukan cuma karena ancaman lingkungan, tapi juga
karena isu kepemilikan perusahaan yang dikaitkan dengan nama besar di panggung
politik nasional. Mahasiswa turun ke jalan bersama masyarakat, dalam jumlah
yang sampai membuat pekerja di lokasi tambang harus lari menyelamatkan diri
dari amukan massa.
Untuk sesaat, rasanya
perubahan besar sudah di depan mata. Tapi yang terjadi setelahnya justru
berbalik arah. Bukannya mereda, aktivitas ilegal di sekitar area itu malah kian
marak begitu gelombang protes surut. Energi kemarahan kolektif yang begitu besar
menguap tanpa jejak perubahan struktural yang berarti.
Ada pelajaran keras yang
bisa dipetik dari sini: kemarahan publik, sekuat apa pun, tidak otomatis
menghasilkan perubahan tanpa pengawasan yang konsisten dan membosankan
setelahnya. Demo adalah letupan emosi. Namun yang benar-benar dibutuhkan adalah
sesuatu yang jauh kurang dramatis seperti audit rutin, pelaporan berkala,
perhatian publik yang tidak berhenti begitu tagar di media sosial sudah tidak
lagi ramai dibicarakan.
Jaringan yang Lebih Rapi
dari Dugaan Kita
Ada anggapan umum bahwa
tambang ilegal adalah urusan orang-orang nekat yang bekerja sendiri-sendiri,
sembunyi-sembunyi dari kejaran aparat. Kenyataannya jauh lebih rumit.
Penelitian terbaru dari
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry menemukan bahwa aktivitas tambang ilegal di
Beutong sudah membentuk jaringan yang terorganisir rapi. Itu semua dimulai dari
siapa yang menyuplai bahan bakar, siapa yang mengoperasikan alat berat, sampai
siapa yang menampung dan menjual hasil emasnya ke toko-toko emas.
Bahkan distribusi bahan
bakar minyak untuk menggerakkan alat berat ini disinyalir tidak lewat jalur
normal, melainkan lewat perantara khusus yang memastikan pasokan tetap mengalir
tanpa putus. Ia menopang semua ini adalah relasi yang oleh peneliti disebut
"patron-klien" istilah akademis untuk sesuatu yang sebenarnya sudah
lama akrab dalam keseharian kita sebagai hubungan timbal balik.
Si pemodal memberi
perlindungan dan modal. Si pekerja memberi loyalitas dan tenaga. Ketika ada
razia, biasanya hanya pekerja lapangan yang tertangkap, sementara jaringan di
atasnya tetap utuh, siap bangkit lagi begitu keadaan kembali aman.
Inilah sebabnya berbagai
upaya penertiban dari patroli gabungan aparat sampai pemasangan spanduk
larangan di setiap desa belum benar-benar menghentikan aktivitas ini. Mereka
yang ditangkap hanyalah ranting, sementara akarnya tetap tertanam kuat di dalam
tanah. Konon, begitu satu titik tambang ditertibkan pagi hari, sore harinya
operasinya sudah berpindah beberapa ratus meter ke hilir, siap beroperasi lagi
seolah tidak terjadi apa pun.
Ketika Alam Akhirnya
Bicara
Ada satu momen yang
mestinya menjadi alarm keras bagi semua orang, tapi anehnya terasa cepat
dilupakan: banjir bandang yang menghantam Beutong Ateuh di penghujung 2025.
Rumah rusak, kebun hancur, dan sungai yang selama ini jadi sumber kehidupan
berubah wujud jadi ancaman yang datang tiba-tiba di tengah malam.
Banyak warga sendiri yang
menghubungkan bencana itu dengan hilangnya hutan akibat aktivitas tambang.
Ketika pepohonan di sekitar aliran sungai ditebangi demi membuka jalan bagi
alat berat, fungsi alami hutan sebagai penyerap air pun ikut lenyap. Air hujan
yang biasanya diserap perlahan oleh akar-akar pohon, kini langsung menghantam
tanah gundul dan meluncur deras menuju sungai, sebuah kombinasi sempurna untuk
sebuah bencana.
Melalui banyak beko yang
jumlahnya diperkirakan ratusan hingga ribuan, tanah itu bukan hanya gundul,
tapi juga berlubang di mana-mana, seperti kulit yang dicakar tanpa henti. Air
hujan akan mengalir deras dari hulu ke hilir yang berdampak ke masyarakat yang
ada di bawahnya.
Yang menyayat hati, tak
lama setelah bencana itu, muncul lagi rencana dan aktivitas tambang baru di
kawasan yang persis sama. Seolah luka yang belum kering pun tak cukup jadi
pelajaran. Warga bersama komunitas adat sampai harus menempuh langkah yang tidak
biasa: mengirim surat langsung kepada Presiden untuk menyuarakan penolakan
mereka.
Coba bayangkan posisi
mereka yang menulis surat itu. Bukan aktivis profesional yang terbiasa
berhadapan dengan birokrasi rumit, melainkan petani, ibu rumah tangga, dan
tokoh kampung yang sehari-hari sibuk dengan urusan ladang dan dapur. Ketika
orang-orang seperti ini merasa perlu menempuh jalur sejauh itu, itu adalah
sinyal keputusasaan yang seharusnya tidak diabaikan siapa pun yang punya
kewenangan untuk bertindak.
Racun yang Diam-Diam
Menunggu
Ada satu sisi dari cerita
tambang emas ilegal yang jarang benar-benar dipahami dalam obrolan sehari-hari:
bahaya sesungguhnya bukan pada air yang keruh, melainkan pada apa yang
tersembunyi di dalamnya.
Merkuri dan sianida punya
karakter yang licik. Mereka tidak langsung membunuh atau membuat orang sakit
seketika. Justru zat berbahaya itu perlahan menghinggapi lambung ikan dan biota
lainnya yang nantinya disantap manusia. Lalu di dalam air yang diminum setiap
hari, di dalam tubuh seorang ibu hamil yang tanpa sadar mengonsumsi air yang
sudah tercemar selama masa kehamilannya. Efeknya baru terasa bertahun-tahun
kemudian, ketika sudah terlambat untuk diperbaiki.
Ini bukan kekhawatiran
yang mengada-ada. Ada catatan dari Pulau Buru, Maluku, tempat limbah merkuri
dan sianida dari tambang emas ilegal disebut-sebut telah mencemari sumber air
sampai ke titik yang menyebabkan sejumlah bayi lahir dengan kecacatan, karena
ibunya mengonsumsi air tercemar selama mengandung. Kisah itu bukan cerita horor
untuk menakut-nakuti, melainkan pengingat nyata tentang apa yang bisa terjadi
ketika logam berat masuk ke rantai air yang dikonsumsi manusia setiap hari,
tanpa mereka sadari.
Situasi di Beutong membuat
kekhawatiran ini terasa lebih dekat, karena sungai di sana bukan hanya sumber
air minum, tapi juga sumber protein utama lewat ikan air tawar yang ditangkap
warga. Rantai pencemarannya berlapis: air tercemar, ikan ikut tercemar, lalu
manusia yang memakannya menanggung risiko yang sama. Ini siklus yang sunyi,
tidak sedramatis banjir bandang yang langsung jadi berita, tapi justru karena
kesunyiannya itulah ia sering terabaikan sampai dampaknya benar-benar tidak
bisa lagi disembunyikan.
Bukan Cerita Kampung yang
Berdiri Sendiri
Kalau kita melangkah
sedikit lebih jauh dari Beutong, ke Aceh Barat misalnya, pola yang sama
terulang. Konflik antara warga dan perusahaan tambang, kerugian ekonomi
masyarakat akibat rusaknya lahan perkebunan yang ditaksir mencapai hampir dua
miliar rupiah, dan pergeseran mata pencaharian dari petani menjadi penambang
yang membuat sawah dan kebun perlahan terbengkalai.
Barangkali yang paling
penting dipahami adalah ini: apa yang terjadi di Beutong bukan sekadar masalah
lokal yang bisa dianggap urusan orang jauh. Air tidak mengenal batas kecamatan.
Kerusakan daerah aliran sungai di satu titik bisa berdampak jauh ke wilayah
hilir, termasuk pesisir yang menerima aliran sedimentasi dan pencemaran dari
hulu. Ikan yang tercemar merkuri di satu tempat bisa saja berpindah tangan,
terjual, dan akhirnya sampai ke meja makan orang yang bahkan tidak pernah tahu
di mana Beutong berada di peta.
Ada juga sisi yang lebih
filosofis dari cerita ini. Apa yang terjadi di sungai kecil ini sebenarnya
cerminan dari persoalan yang kompleks saat manusia modern kerap memandang alam
sebagai sumber daya tanpa batas, sampai alam sendiri yang memaksa kita berhenti
lewat bencana. Pola ini berulang di banyak tempat: tambang nikel di Sulawesi,
deforestasi sawit di Kalimantan, penambangan pasir ilegal di berbagai pesisir
Indonesia. Beutong hanyalah satu babak dari kisah besar yang sama, ditulis
ulang di tempat berbeda dengan wajah-wajah yang berbeda pula.
Begitu emas hasil tambang ilegal sampai ke pengepul dan toko emas, jejak asalnya nyaris mustahil dilacak. Bisa jadi perhiasan yang dipakai seseorang, atau emas batangan yang disimpan sebagai investasi, punya jejak yang bermula dari sungai yang rusak di tempat yang namanya bahkan belum pernah didengar sebelumnya.
Sungai yang Masih Menunggu
untuk Diselamatkan
Tulisan ini bukan
dimaksudkan untuk menghakimi para penambang. Samsul dan orang-orang seperti dia
bukan penjahat, mereka hanyalah manusia biasa yang sedang berjuang menghidupi
keluarga dengan pilihan yang tersedia di depan mata, pilihan yang sudah
dipersempit jauh sebelum mereka sempat memilih. Ada hal yang pantas
dipertanyakan bukan mereka, melainkan sistem yang membuat merusak alam terasa
lebih masuk akal secara ekonomi dibanding menjaganya.
Beutong hari ini berdiri
di sebuah persimpangan, dan seperti kebanyakan persimpangan penting dalam
hidup, ia tidak datang dengan papan penunjuk arah yang jelas. Satu jalan
mengarah pada masa depan di mana sungai-sungainya terus dikeruk sampai tidak
ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan.
Di ujung jalan itu,
mungkin, anak cucu warga Beutong hanya akan mendengar cerita tentang sungai
jernih dari mulut kakek-nenek mereka akan cerita yang lambat laun terdengar
seperti dongeng, sesuatu yang terlalu indah untuk pernah benar-benar nyata.
Jalan yang lain, jauh
lebih berat dan menuntut kesabaran bertahun-tahun, mengarah pada pemulihan. Di
sana, Pawang Uteun kembali punya wibawa untuk menjaga hutannya sendiri. Di
sana, kolam-kolam ikan menggantikan lubang-lubang bekas galian. Di sana, anak muda
yang dulu hanya menonton kerusakan kampungnya kini berdiri di tepi sungai bukan
untuk menambang, melainkan untuk dijaga bersama-sama.
Saya ingin kembali sejenak ke gambaran di awal tulisan ini. Saya seakan melihat kembali beberapa ibu yang sedang mencuci pakaian sambil bertukar cerita, anak-anak yang tertawa keras sampai suaranya memantul ke tebing, bapak-bapak yang pulang membawa ikan cukup untuk lauk malam. Gambaran itu bukan nostalgia kosong.
Ia adalah bukti bahwa
kehidupan semacam itu pernah nyata di Beutong, bukan sekadar imajinasi tentang
masa lalu yang ideal. Kalau dulu pernah ada, bukan mustahil suatu hari nanti
bisa ada lagi asalkan ada cukup banyak orang yang memilih untuk tidak menyerah
pada suara mesin diesel sebagai satu-satunya kemungkinan masa depan sungai ini.
Emas mungkin berkilau,
tapi kilaunya sementara, dan ia tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka
yang mengorbankan sungainya untuk mendapatkannya. Sungai yang jernih, hutan
yang lebat, dan anak-anak yang bisa berenang di sore hari di sana adalah kekayaan
yang jauh lebih berharga
Kita ingin melihat itu
kembali, membuat masyarakat hidup sedia kala bukan hanya terbawa hawa nafsu
semata. Semoga tulisan ini merefleksikan kita semua, akhir kata Have a Nice
Days.
.png)
.png)
.png)

.png)

Ya Allah, sedih sekali dengan kondisi saudara kita di Beutong ini. Terbayang bencana banjir bandang datang silih berganti itu ya memang karena hutan dan alamnya banyaj dikeruk, banyak ditebang habis-habisan tanpa memikirkan masa depan
ReplyDeleteApalagi merujuk ke penelitian terbaru dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry kalau aktivitas tambang ilegal di Beutong sudah membentuk jaringan yang terorganisir rapi—mulai dari siapa yang menyuplai bahan bakar, siapa yang mengoperasikan alat berat, sampai siapa yang menampung dan menjual hasil emasnya ke toko-toko emas.
Beneran sudah terkoordinir ya. Masyarakat bisa apa jika pejabat sebenarnya ikut andil dalam aksi yang seharusnya dihindari ini
Bahkan distribusi bahan bakar minyak untuk menggerakkan alat berat ini disinyalir tidak lewat jalur normal, melainkan lewat perantara khusus yang memastikan pasokan tetap mengalir tanpa putus. Sudah pasti itu dilindungi oknum kan?
Lima hal yang bisa kita lakukan di artikel ini ini saya setujui. Semoga dengan keterlibatan dan kepedulian kita itu sedikitpun itu bisa ikut membantu menyuarakan sehingga nasib saudara kita di Nagan Raya, umumnya di wilayah yang sering terjadi bencana semoga lebih baik lagi. Aamiin
Luar biasa alam Aceh ini, kaya dengan Sumber daya alam, mineral dan alamnya juga masih asri.
ReplyDeletesaya sering liat konten kreator asal aceh yang dalam videonya itu suka berburu batu dari sungai, dan luar biasanya ga perlu jalan jauh-jauh setiap berapa centimeter ada, dan batunya bagus-bagus, bukan cuma giok. disini ngga ada tuh tempat yang kayak gitu. batu di kali cuma adanya batu biasa aja.
Kekayaan alam yang luar biasa banget, bikin saya pengen banget untuk bisa mengunjungi aceh.
Semoga Aceh tetap lestari, terjaga alamnya, kalaupun bisa dimanfaatkan alamya semoga bijak menggunakannya, dan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat aceh semua.
Gambaran sungai Beutong dulu, tempat anak-anak berenang dan ibu-ibu mencuci, lalu kini berganti deru mesin diesel, benar-benar membuat sedih.
ReplyDeleteSaya setuju dengan poin bahwa penambang kecil seperti Samsul bukan penjahat, melainkan korban sistem yang membuat merusak lebih menguntungkan daripada menjaga. Yang paling mengena bagi saya adalah soal kemarahan publik yang cepat menguap; pengawasan yang konsisten memang jauh lebih penting daripada sekadar demo sesaat.
Ancaman merkuri yang diam-diam masuk lewat ikan dan air minum juga patut jadi perhatian serius. Semoga Beutong bisa pulih dan sungainya kembali jernih.
Baca tulisan ini hati langsung berasa miris dan teriris...sedih rasanya...keindahan dan harmoni alam yang dulu pernah ada kini tergantikan oleh keserakahan manusia...
ReplyDeleteHingga akhirnya rakyat sekitarnya yang tetap menjadi korban, mereka tidak seberapa menikmati hasilnya namun mereka yang paling banyak merasakan dampaknya, baik dampak alam maupun dampak kesehatan
Di negeri ini rasa2nya rakyat biasa seperti kita ini tidak bisa berbuat banyak, selain hanya bisa menunggu sebuah perubahan yang kita idam2kan selama ini...
Semoga para penguasa tidak hanya bisa mengeruk hasil bumi namun bisa bertanggung jawab dan mengembalikan kembali fungsi lahan yang mereka rusak
18 tahun aku tinggal di Lhokseumawe, di tengah komplek perumahan minyak dengan fasilitas lengkap, listrik gratis, sekolah gratis, rumah sakit gratis, tapi saat kluar komplek, baru terlihat kondisi Aceh yang sebenarnya. Kemiskinan, kumuh, padahal kota ini luar biasa kaya ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜. Minyak, gas alam, uranium, emas.... Tapi yang dilakukan pemerintah hanya mengeruk semua, dan ga peduli dengan perkembangan Aceh ðŸ˜ðŸ˜
ReplyDeleteApa ga cukup banjir bandang yang terjadi akhir 2025 kemarin yaaa. Itu aja belum selesai masalahnya, kok ya mereka yang di atas2 ini, masih aja mikirin keuntungan pribadinya ðŸ˜ðŸ˜. Serakus itu apa napsu iblis nya... 😢😢.
Jujur aku udah speechless mas... Udh ga tau apa lagi yang bisa menyadarkan pemerintah dan orang2 rakus yang menambang sana sini, baik legal atau ilegal. Yg ga peduli dengan warga lokal ðŸ˜.
Sediiih banget liatnya... Ntah mana lagi yang mau mereka hancurkan.. Aceh, Kalimantan, Papua...
Sedih sekali dengan kenyataan bahwa Beutong semakin dikuras kekayaan alamnya, tanpa ada penyelamatan lingkungan yang tepat. Heran sekaligus geram, kenapa pihak pemodal selalu egois mengeruk kekayaan tanpaembetikan perawatan pada alam? Sudah paling benar, warga setempat mendulang emas secara tradisional hanya secukupnya untuk tambahan biaya hidup tanpa merusak alam.
ReplyDeletePola yang sama acapkali terjadi di banyak tempat memang. Yang paling kaya, SDA berlimpah, maka akan di eksploitasi. Padahal, manusia amat sangat bergantung pada alam. Kalau alamnya rusak, timbul banyak masalah. Bahkan kehilangan mata pencaharian dan keamanan karena alam yang rusak rawan terjadi bencana dan lainnya. Ngeri sekali memang.