Ada satu suara yang hilang
dari Beutong belakangan ini, dan mungkin tidak banyak orang menyadarinya karena
suara itu terlalu lembut untuk masuk berita: suara gemericik air sungai yang
mengalir jernih.
Dulu, sungai di kaki bukit Nagan Raya ini punya ritme sendiri. Pagi hari, perempuan-perempuan datang mencuci pakaian sambil bertukar cerita. Siang, anak-anak berenang sepulang mengaji, tertawa keras sampai suaranya memantul ke tebing. Sore, bapak-bapak menebar jala, berharap dapat ikan cukup untuk lauk malam. Airnya bening sampai dasar terlihat, dan sesekali, kalau beruntung, ada yang menemukan serpihan emas kecil terjebak di antara kerikil warisan alam yang sudah diketahui sejak generasi kakek buyut.
Sungai itu masih ada. Tapi
ritmenya sudah berubah total. Yang terdengar sekarang bukan lagi tawa
anak-anak, melainkan deru mesin diesel yang tidak pernah benar-benar berhenti,
siang atau malam. Warnanya bukan lagi bening, tapi cokelat pekat bercampur solar.
Dan alih-alih perempuan mencuci pakaian di tepiannya, yang berdiri di sana
sekarang ada banyak eksavator yang biasanya dipakai membangun gedung
bertingkat, kini mengeruk dasar sungai jengkal demi jengkal, mencari emas yang
tersembunyi di baliknya.
Ini bukan cerita fiksi. Ini
Beutong, hari ini.
Ketika Berkah
Berubah Jadi Jebakan
Kalau ditelusuri baik-baik,
cerita ini sebenarnya tidak dimulai dengan niat jahat. Mendulang emas bukan hal
asing bagi masyarakat di sini. Sudah sejak dulu, sebagian warga punya kebiasaan
mencari serbuk emas secara tradisional—cukup bermodal dulang kayu, disaring
perlahan di pinggir sungai, hasilnya jadi tambahan penghasilan yang tidak
mengganggu apa pun selain waktu luang mereka sendiri. Skalanya kecil, ritmenya
selaras dengan alam, dan sungai tetap bisa bernapas.
Yang berubah adalah skalanya.
Begitu alat berat masuk, semua berubah drastis. Apa yang dulu perlu
berhari-hari dikerjakan dengan tangan, sekarang bisa dilakukan dalam hitungan
jam. Hasilnya memang berlipat ganda—tapi begitu juga kerusakannya, jauh lebih cepat
dibanding kemampuan sungai untuk memulihkan diri.
Prosesnya sebenarnya sederhana
untuk dijelaskan: tanah dan lumpur disedot dari dasar sungai memakai mesin
pompa, disaring, lalu butiran emasnya dipisahkan. Tapi yang tertinggal jauh
dari sederhana. Kekeruhan yang tidak pernah reda karena sedimen terus-menerus
teraduk. Ceceran solar dari mesin yang beroperasi nyaris tanpa jeda. Dan
kemungkinan yang lebih menakutkan lagi—merkuri, bahan kimia yang kerap dipakai
memurnikan emas, yang sifatnya licik: tidak berbau, tidak terlihat, tapi
diam-diam mengendap di tubuh manusia bertahun-tahun sebelum akhirnya
menampakkan wujud aslinya lewat penyakit yang datang tanpa peringatan.
Yang membuat semua ini terasa
lebih pilu adalah siapa yang justru ikut ambil bagian di dalamnya. Warga yang
dulu menggantungkan hidup pada sungai—menangkap ikan, mengambil air untuk
keperluan sehari-hari—kini sebagian dari mereka justru turun tangan menambang.
Bukan karena mereka berhenti mencintai sungainya. Tapi karena logika yang
menyakitkan: kalau airnya sudah telanjur keruh, kalau ikannya sudah telanjur
berkurang, kenapa tidak sekalian saja ambil untung dari kerusakan yang sudah
terjadi?
Coba bayangkan seorang bapak, sebut
saja namanya Samsul, meski dia bisa jadi siapa saja di Beutong—yang sepuluh
tahun lalu masih bangga menyebut dirinya nelayan sungai. Setiap subuh dia turun
membawa jala, pulang sebelum matahari terlalu tinggi, dan hasil tangkapannya
cukup untuk dijual sedikit di pasar kampung, sisanya untuk lauk keluarga.
Sekarang, jala itu tergantung di sudut rumah, jarang disentuh, karena ikan yang
tersisa di sungai tidak lagi sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan untuk
mencarinya.
Samsul, seperti banyak
tetangganya, akhirnya memilih ikut bekerja di tambang milik toke setempat—bukan
karena bangga, tapi karena tidak melihat pilihan lain yang lebih masuk akal
secara ekonomi. Setiap kali ditanya, jawabannya selalu sama: "Airnya
memang sudah rusak duluan sebelum saya turun tangan. Jadi buat apa saya yang
menahan diri sendirian?"
Logika semacam ini terdengar
egois kalau didengar sepintas. Tapi begitu dipikirkan lebih dalam, itu
sebenarnya gejala dari sesuatu yang jauh lebih besar: ketika kerusakan sudah
terjadi lebih dulu akibat ulah pihak lain yang bermodal besar, korban pertama
justru sering kali ikut terseret menjadi bagian dari masalah, bukan karena
mereka jahat, tapi karena sistem yang ada tidak menyisakan jalan keluar yang
lebih baik.
Di titik inilah jebakan
sesungguhnya bekerja. Penambang biasanya dibiayai oleh pemodal—warga di sini
menyebutnya "toke" yang menanggung kebutuhan hidup selama mereka
bekerja di lokasi tambang. Sekilas terdengar adil: si penambang dapat
penghasilan cepat, si toke dapat emas. Tapi ini sebenarnya taruhan yang
timpang. Emas suatu hari akan habis. Sungai yang rusak, kalaupun bisa pulih,
butuh waktu yang jauh lebih panjang dari umur manusia yang menambangnya.
Ketika Amarah
Publik Menguap Begitu Saja
Ada satu babak dalam cerita
tambang emas di Aceh yang seharusnya jadi titik balik, tapi justru berakhir
jadi pengingat pahit tentang betapa rapuhnya perubahan yang hanya bersandar
pada kemarahan sesaat.
Menjelang Pemilu 2019, rencana
eksploitasi emas skala besar di Nagan Raya memicu gelombang protes yang jauh
lebih besar dari biasanya. Bukan cuma karena ancaman lingkungan, tapi juga
karena isu kepemilikan perusahaan yang dikaitkan dengan nama besar di panggung
politik nasional. Mahasiswa turun ke jalan bersama masyarakat, dalam jumlah
yang sampai membuat pekerja di lokasi tambang harus lari menyelamatkan diri
dari amukan massa.
Untuk sesaat, rasanya
perubahan besar sudah di depan mata. Tapi yang terjadi setelahnya justru
berbalik arah. Bukannya mereda, aktivitas ilegal di sekitar area itu malah kian
marak begitu gelombang protes surut. Energi kemarahan kolektif yang begitu besar
menguap tanpa jejak perubahan struktural yang berarti.
Ada pelajaran keras yang bisa
dipetik dari sini: kemarahan publik, sekuat apa pun, tidak otomatis
menghasilkan perubahan tanpa pengawasan yang konsisten dan membosankan
setelahnya. Demo adalah letupan emosi. Yang benar-benar dibutuhkan adalah
sesuatu yang jauh kurang dramatis—audit rutin, pelaporan berkala, perhatian
publik yang tidak berhenti begitu tagar di media sosial sudah tidak lagi ramai
dibicarakan.
Jaringan yang
Lebih Rapi dari Dugaan Kita
Ada anggapan umum bahwa
tambang ilegal adalah urusan orang-orang nekat yang bekerja sendiri-sendiri,
sembunyi-sembunyi dari kejaran aparat. Kenyataannya jauh lebih rumit.
Penelitian terbaru dari
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry menemukan bahwa aktivitas tambang ilegal di
Beutong sudah membentuk jaringan yang terorganisir rapi—mulai dari siapa yang
menyuplai bahan bakar, siapa yang mengoperasikan alat berat, sampai siapa yang
menampung dan menjual hasil emasnya ke toko-toko emas. Bahkan distribusi bahan
bakar minyak untuk menggerakkan alat berat ini disinyalir tidak lewat jalur
normal, melainkan lewat perantara khusus yang memastikan pasokan tetap mengalir
tanpa putus.
Yang menopang semua ini adalah
relasi yang oleh peneliti disebut "patron-klien"—istilah akademis
untuk sesuatu yang sebenarnya sudah lama akrab dalam keseharian kita sebagai
hubungan "bapak asuh". Si pemodal memberi perlindungan dan modal. Si
pekerja memberi loyalitas dan tenaga. Ketika ada razia, biasanya hanya pekerja
lapangan yang tertangkap, sementara jaringan di atasnya tetap utuh, siap
bangkit lagi begitu keadaan kembali aman.
Inilah sebabnya berbagai upaya
penertiban—dari patroli gabungan aparat sampai pemasangan spanduk larangan di
setiap desa—belum benar-benar menghentikan aktivitas ini. Yang ditangkap
hanyalah ranting, sementara akarnya tetap tertanam kuat di dalam tanah. Konon,
begitu satu titik tambang ditertibkan pagi hari, sore harinya operasinya sudah
berpindah beberapa ratus meter ke hilir, siap beroperasi lagi seolah tidak
terjadi apa pun.
Ketika Alam
Akhirnya Bicara
Ada satu momen yang mestinya
menjadi alarm keras bagi semua orang, tapi anehnya terasa cepat dilupakan:
banjir bandang yang menghantam Beutong Ateuh di penghujung 2025. Rumah rusak,
kebun hancur, dan sungai yang selama ini jadi sumber kehidupan berubah wujud
jadi ancaman yang datang tiba-tiba di tengah malam.
Banyak warga sendiri yang
menghubungkan bencana itu dengan hilangnya hutan akibat aktivitas tambang.
Ketika pepohonan di sekitar aliran sungai ditebangi demi membuka jalan bagi
alat berat, fungsi alami hutan sebagai penyerap air pun ikut lenyap. Air hujan
yang biasanya diserap perlahan oleh akar-akar pohon, kini langsung menghantam
tanah gundul dan meluncur deras menuju sungai—kombinasi sempurna untuk sebuah
bencana.
Yang menyayat hati, tak lama
setelah bencana itu, muncul lagi rencana dan aktivitas tambang baru di kawasan
yang persis sama. Seolah luka yang belum kering pun tak cukup jadi pelajaran.
Warga bersama komunitas adat sampai harus menempuh langkah yang tidak biasa:
mengirim surat langsung kepada Presiden untuk menyuarakan penolakan mereka.
Coba bayangkan posisi mereka
yang menulis surat itu. Bukan aktivis profesional yang terbiasa berhadapan
dengan birokrasi rumit, melainkan petani, ibu rumah tangga, dan tokoh kampung
yang sehari-hari sibuk dengan urusan ladang dan dapur. Ketika orang-orang
seperti ini merasa perlu menempuh jalur sejauh itu, itu adalah sinyal
keputusasaan yang seharusnya tidak diabaikan siapa pun yang punya kewenangan
untuk bertindak.
Racun yang
Diam-Diam Menunggu
Ada satu sisi dari cerita
tambang emas ilegal yang jarang benar-benar dipahami dalam obrolan sehari-hari:
bahaya sesungguhnya bukan pada air yang keruh, melainkan pada apa yang
tersembunyi di dalamnya.
Merkuri dan sianida punya
karakter yang licik. Mereka tidak langsung membunuh atau membuat orang sakit
seketika. Justru mereka menumpuk perlahan—di dalam ikan yang dimakan, di dalam
air yang diminum setiap hari, di dalam tubuh seorang ibu hamil yang tanpa sadar
mengonsumsi air yang sudah tercemar selama masa kehamilannya. Efeknya baru
terasa bertahun-tahun kemudian, ketika sudah terlambat untuk diperbaiki.
Ini bukan kekhawatiran yang
mengada-ada. Ada catatan dari Pulau Buru, Maluku, tempat limbah merkuri dan
sianida dari tambang emas ilegal disebut-sebut telah mencemari sumber air
sampai ke titik yang menyebabkan sejumlah bayi lahir dengan kecacatan, karena
ibunya mengonsumsi air tercemar selama mengandung. Kisah itu bukan cerita horor
untuk menakut-nakuti, melainkan pengingat nyata tentang apa yang bisa terjadi
ketika logam berat masuk ke rantai air yang dikonsumsi manusia setiap hari,
tanpa mereka sadari.
Situasi di Beutong membuat
kekhawatiran ini terasa lebih dekat, karena sungai di sana bukan hanya sumber
air minum, tapi juga sumber protein utama lewat ikan air tawar yang ditangkap
warga. Rantai pencemarannya berlapis: air tercemar, ikan ikut tercemar, lalu
manusia yang memakannya menanggung risiko yang sama. Ini siklus yang sunyi,
tidak sedramatis banjir bandang yang langsung jadi berita, tapi justru karena
kesunyiannya itulah ia sering terabaikan sampai dampaknya benar-benar tidak
bisa lagi disembunyikan.
Bukan Cerita
Kampung yang Berdiri Sendiri
Kalau kita melangkah sedikit
lebih jauh dari Beutong, ke Aceh Barat misalnya, pola yang sama terulang.
Konflik antara warga dan perusahaan tambang, kerugian ekonomi masyarakat akibat
rusaknya lahan perkebunan yang ditaksir mencapai hampir dua miliar rupiah, dan
pergeseran mata pencaharian dari petani menjadi penambang yang membuat sawah
dan kebun perlahan terbengkalai.
Barangkali yang paling penting
dipahami adalah ini: apa yang terjadi di Beutong bukan sekadar masalah lokal
yang bisa dianggap urusan orang jauh. Air tidak mengenal batas kecamatan.
Kerusakan daerah aliran sungai di satu titik bisa berdampak jauh ke wilayah
hilir, termasuk pesisir yang menerima aliran sedimentasi dan pencemaran dari
hulu. Ikan yang tercemar merkuri di satu tempat bisa saja berpindah tangan,
terjual, dan akhirnya sampai ke meja makan orang yang bahkan tidak pernah tahu
di mana Beutong berada di peta.
Ada juga sisi yang lebih
filosofis dari cerita ini. Apa yang terjadi di sungai kecil ini sebenarnya
cerminan dari persoalan yang jauh lebih besar dan universal—bagaimana manusia
modern kerap memandang alam sebagai sumber daya tanpa batas, sampai alam sendiri
yang memaksa kita berhenti lewat bencana. Pola ini berulang di banyak tempat:
tambang nikel di Sulawesi, deforestasi sawit di Kalimantan, penambangan pasir
ilegal di berbagai pesisir Indonesia. Beutong hanyalah satu babak dari kisah
besar yang sama, ditulis ulang di tempat berbeda dengan wajah-wajah yang
berbeda pula.
Dan kalau bicara soal emas
secara khusus, ada kemungkinan rantai pasoknya jauh lebih panjang dari yang
kita duga. Begitu emas hasil tambang ilegal sampai ke pengepul dan toko emas,
jejak asalnya nyaris mustahil dilacak. Bisa jadi perhiasan yang dipakai seseorang,
atau emas batangan yang disimpan sebagai investasi, punya jejak yang bermula
dari sungai yang rusak di tempat yang namanya bahkan belum pernah didengar
sebelumnya.
Mencari Jalan
yang Tidak Menyerah pada Keputusasaan
Wajar kalau di titik ini
muncul rasa pesimis. Kalau penegakan hukum saja tidak cukup, kalau amarah
publik sebesar apa pun bisa menguap tanpa bekas, lalu apa sebenarnya yang bisa
dilakukan?
Saya percaya jawabannya bukan
satu solusi ajaib, melainkan rajutan dari beberapa langkah yang saling
menguatkan.
Yang pertama, dan barangkali
paling mendasar, adalah menghidupkan kembali kearifan lokal yang sudah ada
sejak lama. Di Beutong Ateuh, ada lembaga adat bernama Pawang Uteun, semacam
penjaga hutan tradisional yang otoritas moralnya jauh lebih dekat dengan warga
dibanding aparat yang datang dan pergi. Menguatkan kembali peran mereka,
memberi mereka ruang dan dukungan nyata, bisa menjadi garis pertahanan pertama
yang lebih manusiawi dibanding sekadar spanduk larangan yang mudah diabaikan.
Yang kedua adalah menawarkan
jalan ekonomi yang benar-benar nyata, bukan sekadar wacana di atas kertas.
Selama alasan orang menambang adalah kebutuhan hidup, pendekatan represif tanpa
alternatif ekonomi hanya akan mendorong mereka kembali menambang begitu
pengawasan mengendur. Budidaya ikan dengan kolam tertutup yang tidak bergantung
pada kualitas air sungai, penanaman komoditas bernilai seperti pala dan kopi di
lahan yang mulai dipulihkan, hingga potensi ekowisata di kawasan hutan
Leuser—semua ini bisa jadi jalan yang jauh lebih berkelanjutan dibanding emas
yang cepat atau lambat pasti habis. Bayangkan Beutong beberapa tahun dari
sekarang, bukan lagi dikenal sebagai kawasan tambang liar, melainkan sebagai
tujuan wisata alam dengan sungai yang kembali jernih dan kopi lokal yang dijual
dengan harga premium karena cerita keberlanjutan di baliknya.
Yang ketiga adalah melibatkan
generasi muda sebagai mata dan telinga di lapangan. Sebuah kelompok pemuda yang
rutin memeriksa kualitas air, mendokumentasikan perubahan warna atau bau
sungai, lalu membagikannya secara terbuka, bisa menjadi bukti kuat yang
mendorong tindakan nyata—sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap sungai
kampung mereka sendiri. Ini jalan yang lebih realistis dibanding sekadar
berharap kebijakan datang dari atas. Perubahan kecil yang konsisten dari bawah
seringkali bertahan jauh lebih lama.
Yang keempat, penegakan hukum
harus berani menyasar akar, bukan sekadar ranting. Selama ini yang tertangkap
kebanyakan pekerja lapangan, sementara pemodal dan jaringan distribusinya tetap
aman di belakang layar. Padahal kalau ingin benar-benar efektif, yang harus
disasar justru rantai di baliknya: siapa yang menyuplai bahan bakar, siapa yang
menyediakan alat berat, ke mana emas itu akhirnya dijual. Ini memang butuh
keberanian lebih besar, karena rantai di atas biasanya juga punya koneksi dan
pengaruh yang lebih kuat. Tapi tanpa memutus rantai itu, penertiban akan terus
menjadi permainan kucing-kucingan yang melelahkan tanpa ujung.
Dan yang terakhir, mungkin
yang paling mendasar dari semuanya: menumbuhkan kembali rasa sayang pada alam
sebagai bagian dari diri sendiri, bukan sekadar objek yang bisa dikeruk sesuka
hati. Ini terdengar abstrak, tapi justru di situlah akar persoalannya berada.
Selama alam dipandang cuma sebagai sumber uang, akan selalu ada yang bersedia
mengambilnya, apa pun risikonya bagi orang lain. Dibutuhkan kesadaran yang
lebih dalam bahwa merusak sungai hari ini sama saja dengan mencuri masa depan
anak cucu sendiri—dan kesadaran semacam ini paling mudah tumbuh lewat bahasa
dan simbol yang sudah akrab dengan masyarakat setempat: tokoh adat, pengajian,
cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, bukan brosur formal yang berakhir
di tempat sampah.
Kalau Bukan
Kita, Siapa Lagi
Mungkin ada yang bertanya,
"tapi saya bukan pejabat, bukan aktivis, bukan orang yang punya wewenang
apa pun. Apa yang bisa saya lakukan selain membaca tulisan ini lalu
manggut-manggut prihatin?"
Pertanyaan itu jujur dan
wajar. Saya sendiri juga bukan orang yang punya kuasa untuk langsung
menghentikan satu pun alat berat di Beutong. Tapi ada hal-hal kecil yang, kalau
dilakukan oleh cukup banyak orang, bisa berubah jadi tekanan sosial yang
berarti.
Yang paling sederhana adalah
menyebarkan cerita ini lebih jauh. Terdengar remeh, tapi isu-isu lingkungan di
daerah yang jauh dari pusat pemberitaan sering tenggelam begitu saja karena
tidak cukup banyak orang yang tahu atau peduli. Semakin banyak yang mendengar
nama Beutong, semakin besar pula peluang lahirnya perhatian publik yang
bertahan lama, bukan sekadar letupan sesaat seperti yang pernah terjadi
menjelang Pemilu 2019.
Yang lain, kalau ada
kesempatan membeli hasil bumi dari Aceh—kopi gayo, pala, produk pertanian
lokal—dukungan semacam ini diam-diam ikut memperkuat argumen bahwa ada jalan
ekonomi lain selain menambang. Dan kalau kebetulan bekerja di dunia kebijakan,
riset, atau jurnalisme, isu ini butuh lebih banyak orang yang mau menggali
lebih dalam, bukan sekadar meliput sekali lalu berpindah topik.
Tapi barangkali yang paling
personal adalah ini: mulai dari cara kita sendiri memandang alam di sekitar
kita, di mana pun kita tinggal. Beutong hanyalah satu titik kecil di peta besar
krisis lingkungan yang jauh lebih luas. Kalau kita menunggu sampai persoalannya
persis terjadi di halaman rumah sendiri baru mau peduli, biasanya sudah
terlambat.
Sungai yang
Masih Menunggu untuk Diselamatkan
Tulisan ini bukan dimaksudkan
untuk menghakimi para penambang. Samsul dan orang-orang seperti dia bukan
penjahat—mereka hanyalah manusia biasa yang sedang berjuang menghidupi keluarga
dengan pilihan yang tersedia di depan mata, pilihan yang sudah dipersempit jauh
sebelum mereka sempat memilih. Yang pantas dipertanyakan bukan mereka,
melainkan sistem yang membuat merusak alam terasa lebih masuk akal secara
ekonomi dibanding menjaganya.
Beutong hari ini berdiri di
sebuah persimpangan, dan seperti kebanyakan persimpangan penting dalam hidup,
ia tidak datang dengan papan penunjuk arah yang jelas. Satu jalan mengarah pada
masa depan di mana sungai-sungainya terus dikeruk sampai tidak ada lagi yang
tersisa untuk diselamatkan. Di ujung jalan itu, mungkin, anak cucu warga
Beutong hanya akan mendengar cerita tentang sungai jernih dari mulut
kakek-nenek mereka—cerita yang lambat laun terdengar seperti dongeng, sesuatu
yang terlalu indah untuk pernah benar-benar nyata.
Jalan yang lain, jauh lebih
berat dan menuntut kesabaran bertahun-tahun, mengarah pada pemulihan. Di sana,
Pawang Uteun kembali punya wibawa untuk menjaga hutannya sendiri. Di sana,
kolam-kolam ikan menggantikan lubang-lubang bekas galian. Di sana, anak muda
yang dulu hanya menonton kerusakan kampungnya kini berdiri di tepi sungai bukan
untuk menambang, melainkan untuk menjaga—mencatat, melaporkan, mengingatkan.
Saya ingin kembali sejenak ke
gambaran di awal tulisan ini: seorang perempuan mencuci pakaian sambil bertukar
cerita, anak-anak yang tertawa keras sampai suaranya memantul ke tebing,
bapak-bapak yang pulang membawa ikan cukup untuk lauk malam. Gambaran itu bukan
nostalgia kosong. Ia adalah bukti bahwa kehidupan semacam itu pernah nyata di
Beutong, bukan sekadar imajinasi tentang masa lalu yang ideal. Kalau dulu
pernah ada, bukan mustahil suatu hari nanti bisa ada lagi—asalkan ada cukup
banyak orang yang memilih untuk tidak menyerah pada suara mesin diesel sebagai
satu-satunya kemungkinan masa depan sungai ini.
Emas mungkin berkilau, tapi
kilaunya sementara, dan ia tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka yang
mengorbankan sungainya untuk mendapatkannya. Sungai yang jernih, hutan yang
lebat, dan anak-anak yang bisa berenang dengan tenang tanpa rasa was-was—itu
adalah kekayaan yang jauh lebih berharga, sekaligus jauh lebih rapuh, karena
begitu hilang, ia tidak bisa dibeli kembali dengan logam apa pun.

0 komentar:
Post a Comment