Tepat pada 12 Juni 2026, saham SpaceX resmi melantai di NASDAQ
dengan kode sahamnya yakni SPCX. Hari itu juga, kapitalisasi pasarnya menembus
US$2,1 triliun, menjadikannya pencatatan saham perdana terbesar dalam sejarah
pasar modal. Angka yang nyaris tidak masuk akal untuk perusahaan yang dua
dekade lalu, Ide dari segelintur insinyur muda di gudang sewaan, mencoba
merakit roket dari nol dengan uang pribadi pendirinya hingga kini jadi
trilyuner pertama di dunia dan orang itu bernama Elon Musk.
Tapi justru di situlah bagian paling menarik dari cerita ini. Bagaimana sebuah ide yang dulu dianggap delusional oleh hampir semua orang di industri antariksa, bisa berakhir jadi perusahaan paling berharga yang pernah dicatatkan di bursa saham? Dan kenapa, di tengah semua pencapaian itu, misi paling ambisius SpaceX, mengirim manusia ke Mars, masih saja terdengar seperti fiksi ilmiah sampai hari ini dan yuk kita cari tahu bagaimana mimpi liar itu bisa bekerja.
Dari Uang PayPal ke Mimpi Antariksa
SpaceX, atau Space Exploration Technologies Corp,
didirikan pada 6 Mei 2002 oleh Elon Musk, seorang pengusaha yang baru saja kaya
raya setelah perusahaan pembayaran daringnya, PayPal, dibeli oleh eBay senilai
US$1,5 miliar. Musk memegang sekitar 11% saham di perusahaan itu, sehingga
bagiannya saja sekitar US$165 juta.
Untuk anak muda berusia awal 30-an, uang sebesar itu
sudah lebih dari cukup untuk pensiun dini tanpa perlu bekerja lagi seumur
hidup. Bila itu jatuh ke saya, pasti akan enaknya hidup berkecukupan sampai tua
karena sudah bebas secara finansial. Tapi Musk punya rencana lain. Sebagian
besar uangnya ia tanam ke sebuah perusahaan baru yang kini kita kenal sebagai
SpaceX, sisanya dipakai mendirikan Tesla.
Idenya terdengar nyaris konyol waktu itu: membangun roket
dari nol, di tengah industri yang selama puluhan tahun dimonopoli badan
antariksa pemerintah seperti NASA, ROSCOSMOS milik Rusia, dan CNSA milik
Tiongkok. Modal awal sekitar US$100 juta yang ia gelontorkan terdengar besar
untuk bisnis kebanyakan, tapi nyaris tidak cukup untuk sekadar membeli satu
unit roket bekas, apalagi membangun dari nol. Itu kegilaannya baru saja dimulai
Yang membuat ambisinya terasa lebih gila lagi, di awal
2000-an minat publik terhadap eksplorasi antariksa justru sedang surut. Tidak
ada lagi gegap gempita seperti era pendaratan manusia ke Bulan pada akhir
1960-an dan 1970-an. Bahkan muncul teori konspirasi yang menuduh pendaratan ke
Bulan itu hoaks belaka. Jadi ide dia dianggap sangat tak masuk akal, dari modal
yang terbatas hingga stigma bahwa pendaratan luar angkasa saat itu sering
diterpa isu miring.
SpaceX, dalam dokumen perencanaan awalnya, bahkan sudah
menyiapkan proyek bernama Mars Oasis, sebuah rencana mengirim laboratorium kaca
kecil ke Mars sebagai semacam rumah kaca pertanian mini, tujuannya semata untuk
membangkitkan kembali rasa penasaran publik terhadap luar angkasa. Artinya ia
memberikan wajah baru dunia akan dunia eksplorasi yang jauh lebih efisien.
Hampir semua nama besar di industri penerbangan antariksa
saat itu menanggapi ambisi Musk dengan skeptis, kalau bukan mencemooh
terang-terangan. Bagi mereka yang sudah puluhan tahun bekerja di NASA atau
kontraktor pertahanan raksasa seperti Boeing dan Lockheed Martin, gagasan
seorang pengusaha teknologi internet yang tidak punya latar belakang teknik
kedirgantaraan formal, membangun roket dari nol di sebuah gudang sewaan di El
Segundo, California.
Rasanya terdengar seperti proyek sampingan orang kaya
yang sedang bosan, bukan usaha serius yang layak diperhitungkan. Musk merekrut
sejumlah insinyur muda yang sebagian besar belum lama lulus, ditambah beberapa
veteran industri yang bersedia mengambil risiko keluar dari perusahaan mapan
demi bergabung dengan proyek yang dianggap nekat ini tersebut.
Hampir Bangkrut Sebelum Sempat Terbang
Jalan menuju roket pertama yang berhasil terbang jauh
dari mulus. Falcon 1, roket pertama buatan SpaceX, gagal pada percobaan
pertamanya di tahun 2006 akibat kebocoran bahan bakar yang memicu kebakaran tak
lama setelah lepas landas. Gagal lagi pada 2007, kali ini karena osilasi pada
mesin yang membuat wahana kehilangan kendali sebelum mencapai orbit.
Lalu gagal untuk ketiga kalinya pada Agustus 2008, akibat
masalah pada proses pemisahan tahap roket yang menyebabkan kedua bagian
bertumbukan di udara. Tiga kegagalan beruntun dalam tiga tahun membuat dana
perusahaan menipis drastis, dan banyak pihak di industri penerbangan antariksa
mulai meramalkan SpaceX akan tutup sebelum sempat membuktikan apa pun.
Musk sendiri belakangan mengaku tahun 2008 adalah titik
paling kelam dalam hidupnya, bukan cuma karena SpaceX nyaris bangkrut, tapi
Tesla juga sedang sekarat akibat krisis keuangan global. Untungnya, pada
percobaan keempat di bulan September 2008, Falcon 1 akhirnya berhasil mencapai
orbit.
Keberhasilan itu datang tepat pada waktunya, hanya beberapa minggu sebelum
dana perusahaan benar-benar habis. Tidak lama setelah itu, NASA memberikan
kontrak senilai lebih dari satu miliar dolar untuk misi pasokan logistik ke
Stasiun Luar Angkasa Internasional, sebuah suntikan dana yang menyelamatkan
SpaceX dari kebangkrutan total. Inilah awal mula SpaceX mulai dikenal dan
diyakini oleh banyak pihak atas prestasinya.
Memotong Mata Rantai dalam Pembuatan Roket
Setelah selamat dari masa krisis, SpaceX mulai membangun
keunggulan yang sebenarnya: cara berpikir ulang soal bagaimana roket seharusnya
dibuat. Selama puluhan tahun, industri antariksa global dijalankan dengan model
yang mirip rantai pasok ponsel, satu perusahaan merakit produk akhir, tapi
komponennya dipesan dari ratusan pemasok berbeda. Setiap perusahaan dalam
rantai itu mengambil margin keuntungan sendiri, sehingga biaya akhir membengkak
jauh dari biaya produksi sebenarnya.
SpaceX memilih jalan berbeda, ia membangun sebanyak
mungkin komponennya sendiri, dari mesin roket, badan pesawat, hingga perangkat
lunak kendali penerbangan. Hasilnya, sekitar 85% komponen roket SpaceX dibuat
secara internal. Strategi ini kemudian juga diterapkan di Tesla untuk produksi
baterai mobil listrik. Dengan model ini, biaya produksi roket bisa dipangkas
drastis dibanding kompetitor yang masih mengandalkan jejaring pemasok lama.
Contoh paling nyata ada pada mesin roket Merlin, yang
dirancang dan dirakit sepenuhnya di fasilitas SpaceX sendiri di Hawthorne,
California, sementara kompetitor lamanya, The United Launch Alliance, justru
selama bertahun-tahun mengandalkan mesin RD-180 buatan Rusia untuk roket Atlas
V miliknya.
Ketergantungan pada mesin asing ini bukan cuma soal
biaya, tapi juga risiko geopolitik, terutama setelah hubungan Amerika dan Rusia
memburuk pasca-aneksasi Crimea pada 2014. Efeknya membuat Kongres Amerika akhirnya
mendesak agar ULA mencari alternatif mesin buatan dalam negeri. Posisi SpaceX
yang sejak awal sudah mandiri dari pemasok luar negeri membuatnya tidak
terdampak oleh isu semacam itu, sekaligus menjadi salah satu argumen kuat di
balik kepercayaan pemerintah Amerika terhadap mereka.
Inovasi paling besar datang lewat konsep roket yang bisa
dipakai ulang, reusable rocket. Selama ini biaya terbesar dalam
peluncuran roket ada pada perangkat pendorong yang biasanya hanya dipakai
sekali, jatuh ke laut, lalu dibuang. SpaceX mulai menguji konsep pendaratan
kembali roket pendorongnya sejak September 2013. Banyak percobaan berakhir
dengan ledakan dan kerugian jutaan dolar, sampai akhirnya berhasil mendarat
dengan sempurna pada Desember 2015.
Dampaknya luar biasa. Pemerintah Amerika yang sebelumnya
membayar sekitar US$400 juta untuk satu peluncuran satelit militer lewat
kontraktor lama The United Launch Alliance, kini bisa mendapatkan layanan
serupa dari SpaceX dengan harga sekitar US$40 juta saja, sepersepuluh dari
biaya sebelumnya. Sejak itu, nama SpaceX melambung dan permintaan jasa
peluncurannya membanjir, bukan cuma dari pemerintah Amerika, tapi juga dari
negara lain dan operator satelit komersial di seluruh dunia.
Tumbuh Besar Lewat Manusia, Satelit, dan Mobil
Tesla yang Mengorbit Matahari
Untuk memahami betapa pentingnya pencapaian berikutnya,
perlu sedikit mundur ke 2011, tahun ketika NASA menghentikan program pesawat
ulang-alik mereka setelah tiga dekade beroperasi. Banyak hal yang menyebabkan
program ini berhenti, mulai dari membengkaknya dana operasional, hingga
kecelakaan besar yang merenggut nyawa astronaut terbaik sehingga ada desakan
publik menghentikan program tersebut
Sejak itu, satu-satunya cara astronaut Amerika bisa
mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional adalah menumpang kapsul Soyuz milik
Rusia, dengan harga yang terus naik dari sekitar US$30 juta per kursi di awal
kerja sama menjadi lebih dari US$80 juta per kursi pada pertengahan dekade
2010-an.
Ketergantungan ini bukan cuma soal biaya, tapi juga
simbol memalukan bagi negara yang dulu memenangkan perlombaan ke Bulan, kini
harus membeli tiket dari mantan rivalnya di Perang Dingin hanya untuk mengantar
astronautnya sendiri ke orbit rendah Bumi.
Memasuki dekade 2010-an, SpaceX mulai mendapat
kepercayaan lebih besar dari NASA untuk mengakhiri ketergantungan itu. Selain
kontrak logistik kargo, perusahaan ini juga memenangkan kontrak senilai US$3,1
miliar untuk mengembangkan kapsul yang mampu membawa astronaut, yang kini
dikenal sebagai Crew Dragon. Sebagai tambahan, SpaceX dibayar sekitar US$55
juta untuk setiap astronaut yang diterbangkan, jauh lebih murah dibanding tarif
Soyuz terakhir.
Pada 30 Mei 2020, Crew Dragon berhasil membawa dua
astronaut NASA, Doug Hurley dan Bob Behnken, ke Stasiun Luar Angkasa
Internasional, sebuah tonggak sejarah yang menandai era baru penerbangan
antariksa berawak oleh perusahaan swasta, sekaligus mengakhiri sembilan tahun
ketergantungan Amerika pada wahana milik negara lain untuk mengirim
astronautnya ke luar angkasa.
Dua tahun sebelumnya, pada 2018, SpaceX juga mencuri
perhatian dunia lewat peluncuran perdana Falcon Heavy, varian roket terbesar
mereka saat itu, yang membawa muatan tidak biasa: sebuah mobil Tesla Roadster
dengan boneka berpakaian astronaut duduk di kursi kemudi, dikirim mengorbit
Matahari.
Di bagian dasbornya tertulis sebuah pesan singkat: Made
in Human. Momen itu, meski terkesan sekadar gimik pemasaran, berhasil
menegaskan satu hal: SpaceX kini punya kapasitas mengangkut muatan dalam skala
yang sebelumnya hanya dimiliki badan antariksa negara besar.
Sebagai catatan, kapsul Crew Dragon dirancang jauh lebih
futuristik dibanding kapsul-kapsul lama era Apollo. Panel kendali fisik penuh
tombol diganti dengan layar sentuh berukuran besar, dan desain pakaian
astronautnya pun dibuat lebih modern dan ergonomis. Pendekatan desain semacam
ini, mengutamakan kesederhanaan antarmuka dan estetika yang lebih mirip produk
konsumer ketimbang peralatan militer, jadi salah satu ciri khas yang membedakan
SpaceX dari kontraktor antariksa lama.
Menjadi Kuda Beban: Falcon 9 dan Lonjakan
Kadensi Peluncuran
Sementara Starship masih bergelut dengan uji cobanya,
Falcon 9 justru sudah berubah jadi roket paling sering terbang dalam sejarah
penerbangan antariksa. Pada pertengahan dekade 2020-an, Falcon 9 mencatatkan
lebih dari 500 kali penerbangan secara akumulatif, sebuah rekor yang tidak
pernah didekati roket lain mana pun, termasuk roket-roket legendaris era Apollo
maupun pesawat ulang-alik NASA.
Jumlah peluncuran tahunannya pun melonjak tajam: dari 98
kali pada 2023 menjadi 170 kali pada 2025, dengan total massa muatan yang
diangkut ke orbit naik dari sekitar 1.210 ton menjadi 2.213 ton dalam periode
yang sama. Tapi ada detail menarik di balik angka itu yang jarang disorot
media: dari 165 peluncuran Falcon 9 sepanjang 2025, hanya 43 di antaranya
benar-benar untuk klien eksternal seperti operator satelit komersial, NASA,
atau Departemen Pertahanan Amerika. Sisanya, hampir tiga perempat dari seluruh
peluncuran, dipakai SpaceX sendiri untuk mengangkut satelit Starlink miliknya
ke orbit.
Pada akhir masa ini jumlah satelit Starlink yang
sudah beroperasi di orbit melampaui 9.600 unit, sebuah konstelasi yang jauh
lebih besar dibanding gabungan seluruh satelit komersial milik perusahaan lain
di dunia. Pola ini menunjukkan sesuatu yang penting soal arah bisnis SpaceX:
roket Falcon 9 yang dulu dibangun untuk melayani klien luar, kini sebagian
besar justru melayani kebutuhan internal perusahaan sendiri.
Pendapatan dari peluncuran komersial dan kontrak
pemerintah tetap penting, termasuk kontrak keamanan nasional senilai miliaran
dolar dari Pentagon dan badan intelijen Amerika, tapi fungsi utama Falcon 9
hari ini lebih mirip truk pengangkut internal ketimbang sumber pendapatan utama
yang berdiri sendiri.
Starlink dan AI: Dua Babak Baru yang Mengubah
Segalanya
Kalau sampai titik ini SpaceX masih bisa disebut murni
perusahaan roket, semuanya berubah setelah Starlink mulai diluncurkan secara
komersial. Proyek internet satelit yang awalnya cuma proyek sampingan ini
tumbuh jadi mesin uang utama perusahaan. Pada 2025, Starlink menyumbang sekitar
US$11,4 miliar atau 61% dari total pendapatan SpaceX, dengan margin keuntungan
yang lebih menyerupai perusahaan perangkat lunak ketimbang bisnis perangkat
keras konvensional.
Baca Juga: Internet Ngebut Bernama Starlink
Babak berikutnya datang lebih baru lagi: pada Februari
2026, SpaceX resmi merger dengan xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Musk
yang mengembangkan chatbot Grok dan menaungi platform media sosial X (dulu
Twitter). Merger ini menjadikan SpaceX bukan cuma perusahaan roket dan internet
satelit, tapi juga pemain kecerdasan buatan, lengkap dengan klaim potensi pasar
gabungan senilai US$28,5 triliun. Kombinasi tiga bisnis inilah yang akhirnya
membentuk SpaceX seperti yang kita kenal hari ini, sebuah konglomerasi luar
angkasa, telekomunikasi, dan AI sekaligus.
Colossus, Mesin di Balik Grok yang Juga
Menyulut Kontroversi
Jantung dari segmen AI ini adalah Colossus, sebuah pusat
data superkomputer yang dibangun xAI di bekas pabrik Electrolux di Memphis,
Tennessee. Kecepatan pembangunannya sendiri sudah luar biasa: dari konsep ke
operasional hanya butuh 122 hari, sebuah rekor yang menurut bos Nvidia, Jensen
Huang, biasanya butuh waktu sekitar empat tahun untuk proyek sekelas ini.
Konfigurasi awalnya memakai 100 ribu unit chip grafis
Nvidia H100, lalu dalam hitungan bulan digandakan jadi 200 ribu unit, dan terus
diperluas sampai gabungan chip H100, H200, dan GB200 di Colossus 1 dan 2
melampaui beberapa ratus ribu unit, dengan target jangka panjang menembus satu
juta unit chip.
Skala sebesar itu butuh listrik yang sama besarnya,
sekitar 250 megawatt hanya untuk fasilitas pertamanya, setara kebutuhan listrik
ratusan ribu rumah tangga. Karena sambungan listrik dari jaringan kota Memphis
pada awalnya hanya mampu memasok 8 megawatt, xAI memasang puluhan turbin gas
portabel untuk menambal kekurangannya sembari menunggu infrastruktur permanen
selesai dibangun.
Langkah inilah yang memicu masalah: kelompok advokasi
lingkungan seperti Southern Environmental Law Center dan organisasi NAACP
menuduh xAI mengoperasikan puluhan turbin gas tanpa izin resmi, melebihi jumlah
yang diizinkan regulator setempat. Mereka menyebut fasilitas ini berpotensi
jadi penyumbang emisi nitrogen oksida terbesar di Memphis, dengan warga
sekitar, yang mayoritas tinggal di kawasan dengan riwayat masalah kualitas
udara, mengeluhkan dampak kesehatan seperti gangguan pernapasan kronis.
Sengketa ini sampai berlanjut ke meja hijau. Departemen
Kehakiman Amerika bahkan turun tangan meminta pengadilan menolak gugatan NAACP,
dengan alasan operasi Grok di fasilitas Colossus dianggap mendukung kepentingan
yang disebut sebagai “misi penting negara”, sebuah pembelaan yang tidak biasa
untuk fasilitas komputasi milik perusahaan swasta.
Di tengah polemik itu, justru sebagian kapasitas Colossus
generasi pertama disewakan SpaceX kepada kompetitornya sendiri di bidang AI,
Anthropic, senilai US$1,25 miliar per bulan seperti yang sempat disinggung di
laporan keuangan segmen AI. Kombinasi antara ambisi ekspansi yang agresif,
kontroversi lingkungan yang belum tuntas, dan ketergantungan pendapatan pada
satu klien besar, menjadikan segmen AI ini sebagai bagian paling berisiko
secara reputasi dari seluruh bisnis SpaceX saat ini.
IPO, Klimaks dari 24 Tahun Perjalanan
Semua perjalanan panjang itu akhirnya bermuara pada satu
hari di pertengahan Juni 2026. SpaceX menetapkan harga IPO tetap di US$135 per
saham, dengan target valuasi US$1,75 hingga 1,77 triliun, sebuah keputusan
tidak biasa karena kebanyakan perusahaan memilih rentang harga, bukan angka
pasti.
Sebelum hari pencatatan resmi, antusiasme pasar sudah
terasa lewat kontrak berjangka abadi saham SPCX yang diperdagangkan di platform
kripto Hyperliquid, sempat menyentuh harga setara US$216 pada pertengahan Mei,
sebelum turun ke kisaran US$157 menjelang hari pencatatan akibat koreksi pasar
saham teknologi secara umum. Permintaan dari investor institusi dilaporkan jauh
melampaui jumlah saham yang ditawarkan, sehingga bank-bank penjamin emisi
sempat mempertimbangkan menaikkan harga penawaran sebelum akhirnya memutuskan
tetap di angka semula demi menjaga ruang kenaikan harga pada hari pertama
perdagangan.
Begitu lonceng pembukaan berbunyi, saham dibuka pada
US$150 dan ditutup di atas US$160 pada hari pertama perdagangan, naik hampir
20% dari harga penawaran, membawa kapitalisasi pasarnya melampaui US$2,1
triliun. Bahkan di sesi perdagangan setelah jam tutup bursa, harganya sempat
menyentuh hampir US$167, menunjukkan minat beli yang belum sepenuhnya
terpuaskan meski volume perdagangan hari itu sudah sangat besar.
Dari modal awal US$100 juta milik seorang anak muda yang
baru kaya dari menjual perusahaan rintisan pembayaran daring, menjadi
perusahaan publik senilai lebih dari dua triliun dolar, butuh waktu dua puluh
empat tahun, tiga kali nyaris bangkrut, dan ratusan roket yang meledak dalam
proses uji cobanya.
Hanya saja, status sebagai perusahaan publik tidak
otomatis berarti kendali penuh berpindah ke tangan investor luas. SpaceX
memakai struktur saham dua kelas, di mana saham Kelas A yang dijual ke publik
hanya punya satu suara per lembar, sementara saham Kelas B yang sebagian besar
dipegang Musk punya sepuluh kali lipat kekuatan suara.
Hasilnya, meski perusahaan ini hanya melepas sekitar 3,3%
dari total ekuitasnya ke publik dan investor ritel mendapat alokasi sampai 30%,
jauh di atas rata-rata IPO biasa yang hanya 5 sampai 10%, Musk tetap memegang
lebih dari 82% total hak suara begitu pencatatan rampung. Ia menjabat sekaligus
sebagai CEO, chief technology officer, dan ketua dewan komisaris, kombinasi
yang membuatnya praktis tidak bisa dipecat tanpa persetujuannya sendiri.
Tapi cerita ini belum selesai. Justru sekarang, di titik
nilainya paling tinggi sepanjang sejarah, SpaceX sedang mempertaruhkan masa
depannya pada dua hal yang masih jauh dari pasti: roket generasi barunya, dan
misi yang sejak awal jadi alasan perusahaan ini didirikan.
Lini Roket yang Sedang Dikembangkan Buat Masa Depan
Kalau Falcon 9 adalah roket yang sudah matang dan jadi
tulang punggung operasional SpaceX hari ini, Starship adalah proyek masa depan
yang sedang dipertaruhkan habis-habisan. Ukurannya saja sudah di luar nalar:
roket pendorong Super Heavy setinggi 71 meter dengan 33 mesin Raptor,
menghasilkan daya dorong sekitar 74 meganewton, lebih dari dua kali lipat daya
dorong roket Saturn V yang dulu membawa manusia ke Bulan. Ditambah bagian atas
Starship sepanjang 50 meter, total tinggi seluruh wahana mencapai 121 meter,
lebih tinggi dari Saturn V.
Pemilihan bahan bakarnya juga tidak sembarangan. Starship
menggunakan kombinasi metana cair dan oksigen cair, dipilih bukan cuma karena
efisien, tapi karena keduanya bisa diproduksi langsung di Mars dari karbon
dioksida dan air yang tersedia di sana. Dengan kata lain, sejak awal desainnya,
roket ini sudah dirancang dengan satu tujuan akhir yang sangat spesifik:
menjadi kendaraan yang bisa mengisi ulang bahan bakarnya sendiri di planet
lain.
Mesin Raptor yang menggerakkan Starship juga punya
keistimewaan teknis yang sering terlewat dari pemberitaan populer. Mesin ini
memakai siklus pembakaran bertingkat aliran penuh, atau full-flow staged
combustion, desain mesin roket paling rumit dan paling efisien yang pernah
dibuat manusia. Sebelum Raptor, konsep ini hanya pernah diuji di laboratorium
oleh insinyur Soviet pada era Perang Dingin dan satu proyek riset NASA, tapi
tidak satu pun yang benar-benar pernah terbang.
Keunggulan desain ini ada pada cara kedua jenis bahan
bakar dibakar sebagian lebih dulu secara terpisah sebelum digabungkan, sehingga
suhu komponen turbin bisa ditekan jauh lebih rendah dibanding desain
konvensional, memungkinkan mesin dipakai berulang kali tanpa cepat rusak,
sekaligus menghasilkan efisiensi bahan bakar yang lebih tinggi. SpaceX jadi
perusahaan pertama di dunia yang berhasil menerbangkan mesin dengan siklus ini,
sebuah pencapaian rekayasa yang diam-diam sama pentingnya dengan ukuran raksasa
Starship itu sendiri.
Seluruh pengembangan Starship berpusat di sebuah
fasilitas bernama Starbase, dibangun SpaceX sejak 2014 di semenanjung Boca
Chica, Texas, tepat di tepi kawasan konservasi satwa liar. Lokasi terpencil ini
sengaja dipilih agar SpaceX bisa menerapkan filosofi pengembangan yang disebut
sendiri sebagai “bangun sedikit, uji sedikit, gagal sedikit”, sebuah
pendekatan yang sangat berbeda dari cara kerja badan antariksa pemerintah yang
biasanya menghabiskan bertahun-tahun merancang di atas kertas sebelum berani
menguji perangkat fisik.
Ledakan demi ledakan prototipe yang sering viral di media
sosial bukan dianggap kegagalan oleh SpaceX, melainkan bagian dari proses
pengumpulan data yang dianggap lebih cepat dan lebih murah dibanding simulasi
komputer semata. Pihak SpaceX menyebutnya dengan istilah rapid unscheduled disassembly, atau secara harfiah berarti
pembongkaran cepat yang tidak terjadwal.
Perjalanan pengembangannya jauh dari mulus. Setelah
serangkaian uji terbang prototipe awal bernama Starhopper yang dilakukan dalam
jarak pendek pada 2019, SpaceX mulai menguji versi orbital penuh sejak 2023.
Penerbangan ketiga pada Maret 2024 berhasil menyalakan ketiga puluh tiga mesin
Raptor secara penuh untuk pertama kalinya. Penerbangan keempat di Juni 2024
mencatat pendaratan terkendali pertama di laut. Lalu pada Oktober 2024, dalam
penerbangan kelima, SpaceX berhasil menangkap kembali roket pendorongnya
menggunakan lengan mekanis raksasa di menara peluncuran, sebuah pencapaian yang
sebelumnya hanya ada dalam ilustrasi konsep.
Baca juga: Mending Rakit Roket ala SpaceX
Tapi kemajuan itu tidak linear. Penerbangan keenam pada
November 2024 gagal mendaratkan roket pendorongnya dengan mulus. Penerbangan
ketujuh pada Januari 2025 berakhir dengan pecahnya wahana di udara, menyebarkan
serpihan di atas Kepulauan Turks and Caicos. Penerbangan kedelapan pada Maret
2025 berhasil menangkap kembali roket pendorong untuk ketiga kalinya, tapi
bagian atas wahananya tetap gagal. Baru pada penerbangan kesepuluh di Agustus
2025, SpaceX berhasil mendemonstrasikan simulasi pelepasan satelit, langkah
penting menuju penggunaan Starship untuk mengangkut satelit Starlink generasi
baru yang lebih besar.
Yang paling baru, penerbangan kedua belas pada 22 Mei
2026 menandai debut versi terbaru wahana ini, disebut Starship V3. Bagian
atasnya berhasil mendemonstrasikan pelepasan muatan tiruan dan pendaratan
terkendali di Samudra Hindia, tapi roket pendorong Super Heavy-nya mengalami
kegagalan saat kembali dan jatuh di Teluk Meksiko. Badan Penerbangan Federal
Amerika, FAA, langsung memerintahkan investigasi sebelum SpaceX diizinkan
melanjutkan uji terbang berikutnya. Sampai akhir Mei 2026, total ada dua belas
kali uji terbang Starship, dengan tujuh dianggap berhasil dan lima berakhir
gagal.
Angka itu penting untuk dipahami investor maupun pembaca
awam: meski Starship sudah jadi simbol masa depan SpaceX dan dasar dari
sebagian besar narasi valuasi triliunan dolarnya, roket ini secara teknis masih
dalam tahap pengembangan aktif, bukan wahana operasional yang sudah matang
seperti Falcon 9. NASA sendiri menggantungkan misi pendaratan astronaut ke
Bulan lewat program Artemis pada kesiapan Starship sebagai modul pendaratan,
dengan target pendaratan berawak pada 2027, sebuah target yang sangat bergantung
pada seberapa cepat masalah-masalah teknis tersisa, termasuk transfer bahan
bakar antarpesawat di orbit, bisa diselesaikan.
Misi Masa Depan yang Tak Masuk Akal:
Menjadikan Manusia Spesies Multiplanet
Inilah bagian paling ambisius, dan paling sering molor,
dari seluruh cerita SpaceX: rencana mengirim manusia ke Mars. Sejak Musk
pertama kali mengumumkan target ini secara terbuka di forum Kongres
Astronautika Internasional tahun 2016, ia sudah berjanji bisa mendaratkan
wahana di Mars pada 2018.
Target itu lewat tanpa terwujud. Setahun kemudian
targetnya direvisi jadi 2022, lalu jadi 2024, kemudian jadi 2026. Pola ini
berulang hampir setiap dua tahun: Musk mengumumkan target ambisius sekitar lima
tahun ke depan, SpaceX membuat kemajuan signifikan tapi belum tuntas, tanggal
yang diumumkan terlewat tanpa misi terlaksana, lalu target baru diumumkan untuk
jendela peluncuran berikutnya.
Jendela peluncuran ke Mars sendiri memang terbatas.
Setiap 26 bulan, orbit Bumi dan Mars sejajar dalam konfigurasi yang
memungkinkan perjalanan antarplanet dengan bahan bakar paling efisien, dan
jendela itu hanya terbuka sekitar satu bulan. Pada perhitungan saat ini,
Starship akan melaju dengan kecepatan lebih dari 40 ribu kilometer per jam,
dengan waktu tempuh ideal sekitar enam bulan, meski SpaceX mengklaim bisa
dipersingkat menjadi sekitar dua bulan jika titik temu orbit dioptimalkan.
Rencana terbaru, yang diumumkan Musk pada Mei 2025,
menyebutkan SpaceX akan mengirim hingga lima Starship tanpa awak ke Mars pada
jendela peluncuran akhir 2026, membawa muatan kargo, sejumlah eksperimen sains,
dan bahkan beberapa robot humanoid Optimus buatan Tesla sebagai semacam
perwakilan awal di permukaan Mars, sekaligus uji coba apakah robot tersebut
bisa beroperasi secara mandiri di kondisi gravitasi dan suhu ekstrem Mars.
Baca juga: Mengenal Roket Starship
Kalau seluruh wahana berhasil mendarat dengan utuh, misi
berawak pertama digadang-gadang bisa menyusul sekitar 2028 hingga 2029. Musk
sendiri, dalam salah satu pernyataannya, mengakui peluang keberhasilan misi
2026 ini hanya sekitar lima puluh persen, sebuah pengakuan yang cukup jujur
mengingat rekam jejak target-target sebelumnya yang hampir selalu meleset.
Tapi seperti pola yang berulang sebelumnya, rencana ini
pun sudah mulai bergeser lagi. Pada awal Februari 2026, Musk secara terbuka
mengumumkan SpaceX mengalihkan prioritas utamanya ke pembangunan pangkalan di
Bulan, bukan Mars, dengan alasan target itu dianggap lebih realistis dicapai
dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, dibanding Mars yang menurutnya bisa
memakan lebih dari dua puluh tahun jika dikerjakan sebagai prioritas utama saat
ini.
Misi Mars tahun 2026 disebut masih ada dalam agenda
perusahaan, tapi bukan lagi menjadi fokus jangka pendek, dengan pembangunan
kota Mars yang sesungguhnya kini diperkirakan baru dimulai sekitar 2031 hingga
2033.
Skeptisisme semacam ini bukan tanpa alasan. Proyek lain
yang juga bergantung pada kesiapan Starship, misalnya misi dearMoon yang
melibatkan miliarder asal Jepang Yusaku Maezawa beserta delapan seniman untuk
mengorbit Bulan tanpa mendarat, awalnya dijadwalkan terbang pada 2023, tapi
terus tertunda mengikuti lambatnya kemajuan pengembangan wahana. Pola
keterlambatan yang sama juga membayangi target pendaratan berawak NASA di Bulan
lewat program Artemis, yang turut bergantung pada Starship sebagai modul pendaratannya.
Terlepas dari ketidakpastian jadwalnya, rencana teknis di
baliknya tetap layak dibahas karena menunjukkan betapa rumitnya misi ini
dibandingkan sekadar mendaratkan robot penjelajah seperti yang sudah dilakukan
NASA berkali-kali.
Sebelum manusia dikirim, SpaceX harus lebih dulu mengirim
kapal kargo tanpa awak yang membawa panel surya dan alat tambang, untuk
membangun fasilitas yang bisa memproses karbon dioksida dan air di Mars menjadi
oksigen dan metana lewat proses kimia bernama reaksi Sabatier, bahan bakar yang
nantinya dipakai astronaut untuk kembali ke Bumi.
Tantangan mendarat di Mars juga jauh lebih sulit
dibanding mendarat di Bulan atau Bumi. Atmosfer Mars terlalu tipis untuk
mengandalkan parasut, sehingga Starship harus melakukan manuver ekstrem bernama
belly flop, memutar badan wahana mendatar untuk memperlambat kecepatan,
lalu menyalakan kembali mesinnya di detik-detik akhir untuk berbalik posisi
tegak sesaat sebelum menyentuh permukaan. Satu kesalahan kecil dalam manuver
ini, apalagi jika sudah membawa penumpang manusia, bisa berakibat fatal.
Setelah pendaratan pun, tantangan belum selesai. Lokasi
pendaratan yang paling sering disebut dalam berbagai presentasi SpaceX adalah
Arcadia Planitia, sebuah dataran luas di belahan utara Mars yang diyakini
menyimpan cadangan es air dangkal di bawah permukaannya, sumber daya penting
untuk produksi bahan bakar dan air minum koloni. Permukiman awal kemungkinan
harus dibangun di bawah tanah atau dilindungi struktur tebal untuk menghadapi
badai debu dan radiasi yang jauh lebih intens dibanding di Bumi, mengingat Mars
tidak memiliki medan magnet pelindung yang kuat.
Tingkat radiasi kosmik di permukaan Mars diperkirakan
beberapa kali lipat lebih tinggi dibanding di Bumi, sehingga durasi tinggal di
permukaan tanpa perlindungan memadai berisiko meningkatkan kemungkinan kanker
dan kerusakan jaringan tubuh jangka panjang bagi penghuninya. Musk bahkan
pernah menyinggung kemungkinan memanfaatkan Boring Company, salah satu
perusahaannya yang lain yang bergerak di bidang pengeboran terowongan, untuk
membantu membangun struktur bawah tanah ini.
Soal pasokan makanan, rencana awalnya mengandalkan
makanan vakum seperti yang dipakai astronaut di Stasiun Luar Angkasa
Internasional, sebelum akhirnya membangun rumah kaca pertanian sendiri di sana,
sebuah konsep yang sebenarnya sudah tertanam sejak proyek Mars Oasis pertama
kali dirancang lebih dari dua dekade lalu.
Untuk pengiriman manusia pertama nanti, rencananya tidak
langsung mengangkut seratus penumpang sekaligus seperti kapasitas maksimal
Starship. Skema awal yang pernah diutarakan SpaceX justru jauh lebih hati-hati:
sekitar empat kapal akan diberangkatkan dalam satu rombongan, dua di antaranya
khusus logistik, dan dua lainnya membawa kru kecil. Tujuan utama rombongan
pertama ini bukan menjelajah, tapi semata membangun basis tempat tinggal paling
dasar serta menguji apakah pabrik bahan bakar berbasis reaksi Sabatier
benar-benar bisa beroperasi tanpa pengawasan ketat dari Bumi.
Baru setelah infrastruktur dasar ini terbukti berfungsi,
jumlah penumpang pada gelombang-gelombang berikutnya direncanakan meningkat
secara bertahap, dengan kendaraan penjelajah permukaan bertekanan khusus yang
dirancang berbeda dari wahana penjelajah Bulan, mengingat jarak tempuh dan
kondisi medan di Mars jauh lebih berat.
Satu studi independen yang dipublikasikan di jurnal
Nature pada 2024 bahkan mempertanyakan kelayakan teknis dari seluruh arsitektur
ini, menyebut bobot kering Starship terlalu besar sehingga kekurangan daya
dorong untuk benar-benar bisa kembali ke Bumi dari Mars, ditambah belum adanya
sistem pendukung hidup tertutup yang teruji, serta kebutuhan infrastruktur
penambangan air dan pembangkit listrik skala besar, kemungkinan berbasis tenaga
nuklir, yang belum mulai dikembangkan sama sekali.
Bagi sebagian ilmuwan, ini bukan sekadar tantangan teknik
biasa, tapi pertanyaan mendasar apakah arsitektur Starship memang dirancang
untuk misi semacam ini sejak awal, ataukah ambisi mengirim manusia ke Mars baru
menyusul belakangan setelah desain dasarnya sudah lebih dulu dipatok untuk
kebutuhan komersial di orbit Bumi.
Di sisi lain, tidak semua pihak di komunitas antariksa
seskeptis itu. Sejumlah mantan pejabat NASA yang ikut dimintai pendapat soal
rencana besar ini justru mengakui kerangka umum pendekatan SpaceX cukup masuk
akal, bahkan lebih sistematis dibanding rencana eksplorasi Mars yang pernah
disusun NASA sendiri, meski mereka tetap ragu soal ketepatan waktunya.
Perdebatan ini pada akhirnya mencerminkan jurang yang sering muncul antara visi
jangka panjang Musk yang ambisius dan kenyataan rekayasa yang harus diselesaikan
satu per satu, sebuah jurang yang selama ini selalu berhasil dipersempit
SpaceX, meski hampir tidak pernah secepat yang dijanjikan di awal.
Di luar urusan logistik kargo dan habitat awal, Musk juga
kerap menyinggung visi yang jauh lebih jauh ke depan: terraforming, atau
mengubah iklim Mars secara bertahap agar suatu saat layak huni tanpa perlu suit
antariksa. Idenya berkisar dari melepaskan gas rumah kaca buatan untuk
menghangatkan atmosfer tipis Mars, sampai usulan ekstrem yang pernah ia
lontarkan di televisi nasional Amerika, meledakkan hulu ledak nuklir di kutub
planet untuk mencairkan es dan melepaskan karbon dioksida yang terperangkap di
dalamnya.
Hampir seluruh komunitas ilmuwan planet menyebut ide ini
secara teknis nyaris mustahil dengan teknologi yang ada sekarang, mengingat
atmosfer Mars yang sudah sangat tipis tidak menyimpan cukup karbon dioksida
beku untuk menghasilkan efek pemanasan berarti, bahkan kalau seluruh cadangan
kutubnya dilepaskan sekaligus. Tapi gagasan semacam ini tetap rutin muncul
dalam presentasi publik Musk, menegaskan bahwa horizon waktu yang ia bayangkan
untuk Mars bukan dalam hitungan dekade, melainkan abad.
Jadi, Mustahil atau Cuma Soal Waktu?
Kalau saya menilik kembali seluruh perjalanan SpaceX,
dari anak muda dengan uang hasil jual startup yang nyaris bangkrut tiga kali,
sampai jadi perusahaan publik senilai lebih dari dua triliun dolar, satu hal
yang konsisten adalah pola yang sama berulang-ulang: target yang kelihatan
mustahil, kegagalan demi kegagalan di awal, lalu pencapaian yang akhirnya
mengubah cara pandang seluruh industri.
Falcon 1 nyaris membuat SpaceX bangkrut sebelum akhirnya
melahirkan Falcon 9 yang merevolusi biaya peluncuran roket dan kini sudah
terbang lebih dari 500 kali. Starhopper yang dulu cuma melompat beberapa puluh
meter kini berkembang jadi Starship, roket terbesar yang pernah dibuat manusia,
meski masih sering gagal di separuh percobaannya.
Pertanyaannya, apakah pola yang sama akan berulang untuk
misi Mars? Sejarah delapan tahun pengumuman target yang terus molor, dari 2018,
2022, 2024, sampai sekarang 2026 yang juga mulai diragukan dan digeser fokusnya
ke Bulan, menunjukkan bahwa optimisme Musk soal jadwal hampir selalu meleset
jauh dari kenyataan. Tapi di sisi lain, kemajuan teknis yang sebenarnya, mulai
dari roket yang bisa mendarat sendiri, satelit internet yang menjangkau seluruh
dunia, sampai kapsul yang membawa astronaut bolak-balik ke luar angkasa, juga
dulu pernah dianggap mustahil sebelum benar-benar terwujud.
Ada satu perbedaan penting antara fase sekarang dan
fase-fase sebelumnya yang patut dicatat: dulu, ketika Falcon 1 gagal tiga kali
berturut-turut, taruhannya cuma uang pribadi Musk dan segelintir investor awal
yang sadar betul risikonya. Sekarang, dengan status sebagai perusahaan publik
bernilai dua triliun dolar dan jutaan investor ritel yang ikut membeli saham
SPCX, sebagian besar tergoda justru oleh narasi Mars dan AI ketimbang angka
pendapatan Starlink yang lebih membumi, taruhannya menjadi jauh lebih luas.
Kalau target 2026 ini juga meleset, atau bahkan kalau uji terbang Starship
berikutnya kembali berakhir dengan ledakan seperti yang terjadi pada Mei lalu,
dampaknya tidak lagi cuma soal reputasi seorang pengusaha nyentrik, tapi bisa
menggerus kepercayaan pasar terhadap salah satu perusahaan paling berharga di
dunia.
Mungkin jawaban paling jujur adalah: misi ke Mars bukan
mustahil secara teknis, tapi jauh lebih lambat dan lebih mahal dari yang pernah
diakui Musk di depan publik. Dan untuk perusahaan yang kini bernilai lebih dari
dua triliun dolar, dengan investor yang sebagian besar membeli sahamnya karena
tergoda cerita kolonisasi planet merah, kesenjangan antara narasi dan realita
ini cepat atau lambat akan diuji oleh waktu, mungkin sesegera akhir tahun ini,
ketika jendela peluncuran Mars 2026 benar-benar terbuka.
Apa pun hasilnya, satu hal sudah pasti: perjalanan dari
gudang sewaan di El Segundo sampai lantai perdagangan NASDAQ sudah cukup
membuktikan bahwa ide yang dulu disebut gila, kadang memang butuh dua puluh
empat tahun, ratusan kegagalan, dan keberanian mempertaruhkan segalanya, untuk
akhirnya terbukti benar.
Semoga tulisan ini menginspirasi kita semua, akhir kata Have
a Nice Day.














0 komentar:
Post a Comment