Saturday, December 26, 2020

Starlink, Internet Ngebut dari Luar Angkasa

 

Liburan di desa atau tempat terpencil memang mengasyikkan, menjauhkan manusia dengan segala hingar bingar dunia perkotaan dan jagat maya yang menyita pikiran. Hanya saja liburan di tempat seperti itu menyisakan sesuatu kebosanan dan ketinggalan informasi buat masyarakat perkotaan.

 

Sesuatu yang menyita pikiran tetap saja dibutuhkan khususnya akses internet di era modern. Lokasi pedesaan dan tempat terpencil punya kendala utama yaitu koneksi internet yang buruk. Masyarakat yang sudah lama berdiam diri di kota seakan ingin kembali ke habitatnya.

 

Rasanya internet sudah menjadi kebutuhan yang sulit dipisahkan. Mungkin liburan seakan lebih bermakna tanpa kehilangan segala informasi up to date yang ada di worldwide sekalipun. Masyarakat pedesaan pun serupa, mereka bisa mendapatkan akses internet sama baiknya di perkotaan.

 

Berkat internet seakan mampu menghilangkan jurang pemisah yang begitu jauh dari setiap masyarakat terutama di era digital. Kebutuhan yang rasanya sulit ditawar-tawar lagi, bukan hanya sebatas multimedia namun menjadi hajat hidup masyarakat modern. Itulah gambaran sebegitu mendesaknya kebutuhan internet yang kini dibutuhkan masyarakat global.

 

Di belahan bumi lain, kobaran api mengepul begitu besar, tanah di sekitar bergetar begitu keras. Sebuah roket luar angkasa baru saja lepas landas dari salah satu stasiun peluncuran. Roket raksasa itu pun perusahaan swasta bernama SpaceX, perusahaan yang sedang giat mengguncang dunia akhir-akhir ini.

 

Roket yang meluncur tersebut adalah Falcon 9, merupakan roket peluncur seri lanjutan milik SpaceX. Tugas utama dari Falcon tentu saja membawa berbagai tugas logistik terkait pengembangan misi luar angkasa. Tugas fenomenal roket ini terus bertambah dengan makin tingginya permintaan dari berbagai pengembangan bisnis milik SpaceX.

 

Tentu saja yang paling fenomenal adalah pengembangan konsep internet satelit konstelasi yang mereka beri nama dengan Starlink. Proyek ambisius ini seakan mampu menjawab segala kegundahan banyak orang terkait dengan internet. Mungkin masalah internet yang selama ini tidak tersalurkan dengan baik di daerah terpencil mampu dijawab oleh Starlink.

 

Internet untuk Semua Umat Manusia

Di era modern seperti saat ini, koneksi internet jadi sesuatu yang wajib. Berbagai perangkat elektronik seakan sudah terkoneksi dengan internet. Segala aktivitas seakan melibatkan internet, selain memudahkan juga mampu membuat ekonomi sebuah negara berkembang dengan pesat.

 

Negara maju di dunia sudah pasti punya penetrasi internet yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakatnya. Ada hubungan yang sangat besar antara penetrasi internet dengan kemajuan bangsa, apalagi saat ini dunia sudah memasuki Revolusi Industri 4.0.

 

Sebagai gambaran nyata, saat ini dunia dihuni lebih dari 7,7 miliar penduduk. Jumlah yang besar tersebut nyatanya baru 4,5 miliar saja yang baru terkoneksi dengan internet atau 60% total penduduk dunia. Total ada 40% atau sekitar 2,2 miliar lainnya yang belum mendapatkan akses tersebut.

 

Ada begitu banyak negara yang masih kesulitan internet, terutama negara berkembang dan negara yang masih tertinggal. Paling banyak ada di Asia dan Afrika dan sebagian di benua Amerika latin. Penetrasi internet hanya ada di perkotaan saja, sedangkan di daerah terpencil terasa begitu payah.

 

Lalu di Indonesia, selalu negara berkembang pun belum sepenuhnya mendapatkan akses internet memadai. Total ada 196,7 juta atau sekitar 73,7% penduduk yang sudah mendapatkan. Sedangkan lebih dari 70 juta lainnya belum mendapatkan internet yang layak.

Umumnya mereka datang dari kalangan yang hidup di daerah terpencil yang minim akses. Jangankan akses internet, untuk akses jalan dan listrik saja masih sulit. Sehingga ini menjadi tugas kita bersama dalam pemerataan internet di negeri tercinta.

 

Membangun koneksi yang menghubungkan ke seluruh Indonesia tergolong berat. Meskipun Indonesia sudah punya Palapa Ring yang membentang dari barat, tengah, dan timur Indonesia. Hanya saja koneksi tidak cukuplah baik di daerah dengan perkotaan. Ada saja kendala yang menghalangi internet yang ngebut di sejumlah wilayah tersebut.

 

Faktor dari kontur alam yang beragam dan medan menantang yang memisahkan setiap wilayah. Ini membuat BTS dan kabel serat optik tidak mampu optimal. Itu belum lagi di perairan yang sudah pasti jauh dari sinyal berdampak akses di laut sangat sulit.

 

Teknologi yang paling masuk akal dalam menjawab itu semua adalah internet berbasis satelit. Masalah medan yang sulit khususnya lokasi tak terjangkau oleh BTS selaku pemancar dari internet berbasis serat optik. Pada sistem internet satelit, lokasi bukan masalah karena ia terkoneksi langsung dengan satelit yang ada di orbit bumi. Bisa dibilang ini jadi jawaban internet bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. 


Masalah di sejumlah negara di dunia pun sama, medan yang sulit, kemampuan teknologi sebuah negara yang masih rendah hingga faktor politik membuat internet tidak bisa diakses oleh setiap orang. Adanya internet satelit bisa memutus sekat tersebut, khususnya dalam melihat dunia jadi lebih luas.

 

Itulah yang coba SpaceX hadirkan melalui ide dan misi besar mereka dalam mengembangkan internet satelit untuk semua bangsa tanpa terkecuali. Tentu saja dengan harga terjangkau dan kualitas internet stabil, sesuatu yang diidamkan banyak orang.

 

Internet Satelit Fenomenal Bernama Starlink

Peluncuran pesawat luar angkasa Falcon 9 nyatanya membawa misi penting. Setelah sebelumnya sukses mengantarkan dua astronaut ke ISS dalam kapsul Crew Dragon dengan selamat. Kini mereka kembali melanjutkan tugas dalam mengirimkan beda lainnya ke luar angkasa. Salah satunya adalah membawa begitu banyak satelit konstelasi yang diberi nama Starlink.

Bisa dibilang ini menjadi ladang uang SpaceX selain misi luar angkasa lainnya. Starlink bisa dibilang jadi pundi-pundi pemasukan rutin yang bisa SpaceX dapatkan di masa depan. Jadi membuat mereka begitu getol dalam mengembangkan satelit konstelasi di orbit rendah bumi.

 

Proyek ini bertujuan untuk memberikan akses internet full speed dengan harga terjangkau kepada seluruh masyarakat dunia. Sesuatu yang hanya bisa dinikmat di daerah perkotaan, namun kini bisa di mana saja melalui Starlink.

 

Bermodal dengan menghubungkannya dengan Receiver yang akan SpaceX sediakan pada layanan mereka. Starlink pun bukan hanya bermodalkan satu satelit saja yang mengitari orbit rendah bumi. Tapi jumlah mencapai 12 ribu unit yang saling berkomunikasi satu sama lain melalui pancaran sinar laser.

 

Mengurangi waktu jeda dan memungkinkan koneksi yang lebih cepat dengan latensi yang lebih sedikit. Andai bisa segera terwujud, maka seluruh penjuru dunia bisa terkoneksi dengan jaringan internet kecepatan tinggi.

 

Proses peluncuran ke orbit bumi dibutuhkan begitu banyak peluncuran yang melibatkan roket milik SpaceX, salah satunya Falcon 9. Ini bertujuan agar target tersebut bisa tercapai dan Starlink bisa beroperasi optimal di masa depan.

 

Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat pun telah memberikan izin kepada SpaceX untuk menempatkan 12 ribu satelit Starlink untuk mengorbit di Bumi yang rendah. Jumlah ini bahkan bisa bertambah banyak di masa depan karena SpaceX tidak sendirian di bisnis ini. Salah satu pesaingnya datang dari Amazon.

 

Semua mencakup begitu banyak konsumen yang ada di belahan dunia lainnya terutama akses internet cepat. Nantinya setiap satelit akan bekerja selama lima tahun sebelum digantikan dengan versi terbaru. Satelit yang habis masa pakai akan jatuh dan terbakar di orbit bumi sehingga mengurangi sampai luar angkasa.

 

Melihat Konsep Kerja Starlink

Sebagai salah satu perusahaan pionir dalam mengembangkan proyek satelit konstelasi luar angkasa. SpaceX dianggap punya konsep unik dalam menjalankan Starlink. Mulai dari proses peluncuran, peletakan satelit di orbit rendah bumi, jumlah satelit yang dimiliki hingga proses komunikasi satelit hingga bisa dinikmati masyarakat dunia.

 

Tugas pertama dalam meletakkan Starlink datang dari aksi wahana SpaceX Falcon 9, tugasnya adalah mengantarkan hingga 12 ribu satelit di orbit rendah. Dalam proses sekali pengantar bisa mencapai 60 satelit, berarti total mencatat ratusan penerbangan.

 

Ukuran satelitnya pun relatif kecil, hanya 250 kg dan akan hancur di luar angkasa saat masa pakainya selesai. Sebagai catatan, Starlink menjadi penyedia internet satelit pertama yang memanfaatkan orbit rendah Bumi yang mengorbit antara 540 km hingga 570 km di atas permukaan Bumi.

 

Alasan berada di orbit rendah bumi karena mengirimkan data jauh lebih cepat. Ini karena rendahnya latency hingga hanya 15 milidetik. Bandingkan ini dengan latensi internet satelit standar 594 hingga 624 milidetik. Pada proses pengujian kecepatan internet Starlink telah mencapai 100 Mbps dan angka terus bisa terus meningkat sampai hasil final yaitu hingga 1 Gbps.

 

Proses kerjanya adalah dengan kemampuan latency rendah dari internet satelit. Satelit-satelit ini terkoneksi satu dengan yang lain menggunakan laser untuk pin point data dari 1 belahan bumi ke belahan bumi lainnya. Total hingga 12 ribu unit yang membentuk seperti koordinat dalam mengirimkan sinyal ke bumi.


Kemudian pertunjukan di bumi dimulai, sudah ada provider yang menangkap sinyal tersebut. Mirip dengan konsep VSAT yang sebelumnya sudah pernah ada dalam sistem komunikasi. Nanti konsep lebih sederhana dan lebih cepat dalam proses koneksi ke bumi karena VSAT masih mengandalkan frekuensi radio.

 

Kemudian setiap pengguna akan memiliki set top box dalam menangkap koneksi internet. Sudah pasti internet tidak terhalang sedikit pun. Semuanya berada di atas langit sehingga proses latency jadi lebih cepat dibandingkan dengan internet serat optik yang butuh BTS.

 

Bagaimana Cara mendaftar ke Starlink internet?

Saat ini, Starlink memiliki 895 satelit operasional dengan pengguna yang masih terbatas pada versi beta saja. Terutama pelanggan tertentu di Amerika Serikat utara dan Kanada yang tinggal di antara garis lintang 45 dan 53 derajat utara.

 

Starlink mengklaim akan menawarkan layanan internet ke sebagian besar dunia pada tahun 2021. Nantinya internet satelit akan punya kecepatan unduhan lebih cepat dari 100 Mbps, yang cukup cepat untuk mendukung game online level Triple A dan proses streaming video hingga kualitas 4K.

 

Layanan internet satelit Starlink dapat mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia yang saat ini tanpa akses ke internet yang terjangkau. Ini juga akan mempengaruhi perjalanan jarak jauh, karena akan tersedia di pesawat dan kapal laut.

 

Lalu muncul pertanyaan, apa perbedaan mendasar dari serat optik yang lazim digunakan saat ini dalam proses transfer data di internet?

Sudah pasti setiap sistem punya kekuatan dan kelemahan masing-masing dalam menjangkau pelanggan. Segmentasi ini membuat perbedaan berarti. SpaceX melihat pemerataan internet menjadi alasan utama dan membuat akses di lokasi tertentu yang jauh dari manusia bisa sama lancar.

 

Beda dengan konsep serat optik yang butuh BTS dalam memperkuat jaringan seperti di darat. Sedangkan di laut mereka menggunakan kabel serat optik dalam menghubungkan antar pulau hingga benua. Makin banyak penduduk maka makin banyak BTS yang ada, terutama lagi 5G nantinya bila sudah berhasil diaplikasikan ke seluruh negara dunia.

 

Sedangkan internet satelit jelas tidak segarang internet serat optik terutama dalam kecepatan transfer data. Latency pada jaringan internet serat optik lebih rendah sehingga kita dapat menikmati internet yang cepat. Latency rendah disebabkan cahaya yang bergerak dalam serat optik berjalan lebih cepat dibandingkan gelombang radio yang ada pada internet satelit.

 Baca Juga: Space-X: Mending rakit Roket

Inilah yang membuat internet satelit kalah telak, namun kembali lagi ke tujuan utama SpaceX. Mereka inginnya pemerataan internet di seluruh lokasi di bumi melalui proyek Starlink. Makanya ini jadi alasan satelit internet berada di orbit bumi dalam menjangkau banyak wilayah. Untuk wilayah, internet satelit jelas menang tapi buat kecepatan jelas kalah cepat karena jaraknya hingga 500 km di atas permukaan bumi.

 

Sebut saja daerah sulit di dunia mulai dari wilayah pedalaman, Rig pengeboran di tengah laut, di dasar laut, di atas pesawat hingga wilayah yang baru saja berdampak bencana alam bisa dijangkau oleh satelit internet saat jaringan internet serat optik terganggu atau terbatas wilayah jangkauan.

 

Internet Satelit dan Berbagai Penolakan

Kini melihat langit penuh bintang-bintang tinggallah kenangan, kini yang tersisa hanyalah begitu banyak objek benda melayang dari Starlink dan wahana lainnya.

 

Segala inovasi yang SpaceX berikan melalui proyek visioner mereka nyata banyak mengalami penentangan. Khususnya dari para pemerhati lingkungan hingga para pengamat antariksa. Alasan utama karena begitu banyak satelit kecil yang diluncurkan di orbit bumi.

 

Jumlahnya tidak tanggung-tanggung yaitu 12 ribu unit, perlu dicatat bahwa itu baru dari satu perusahaan saja. Bahkan ada banyak pesaing serupa yang menawarkan inovasi terkait internet satelit, mulai dari Amazon melalui Project Kuiper, dan proyek lainnya seperti OneWeb serta LEO Telesat. Bisa jadi ada ratusan ribu satelit yang ada di orbit bumi nantinya.

 

Bagi para pengamat antariksa terkait dengan proses pengamatan bintang dan objek jauh di luar angkasa. Jumlah ini sangat banyak dan mengganggu, terutama sekali pantulan cahaya yang menyerupai bintang. Itu belum lagi dengan bentuk satelit Starlink menyerupai kereta api bisa dilihat dari bumi.

 Baca juga: Hyperloop, Kereta Secepat Peluru

Dampak lainnya adalah banyak satelit membuat bentuk rasi bintang akan berubah selamanya. Mungkin dulunya di malam hari kita melihat beragam rasi bintang nan indah di angkasa. Tapi kini rasi bintang itu harus tercampur aduk atau terhalangi oleh cahaya satelit Starlink.

 

Itu  belum lagi dengan sampah luar angkasa yang makin menumpuk. Memang SpaceX mengklaim bahwa usia pakai dari setiap satelit adalah lima tahun sebelum berganti dengan versi terbaru. Satelit yang tak terpakai akan keluar orbit dan jatuh ke bumi. Saat proses jatuh pun akan terbakar di atmosfer sehingga tak mencemari bumi terutama bahan yang terkandung dari satelit tersebut.

 

Berbagai penolakan tersebut nyatanya tidak menjadi masalah buat SpaceX malahan mereka mendapatkan izin dari Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat terkait dengan peluncuran Starlink. Meskipun dengan jumlah yang ditentukan dan syarat wajib terpenuhi. Landasan itulah yang membuat SpaceX sangat getol mewujudkan internet satelit dalam waktu dekat.

 

Proyek Tandingan dari Amazon

Namanya bisnis sudah pasti tidak menarik andai saja tidak ada pesaingnya. Dalam bisnis internet satelit, SpaceX tidak sendiri. Sudah ada nama besar dari Amazon dengan Project Kuiper, ada juga OneWeb dan LEO Telesat. Artinya ada banyak opsi dan pilihan harga yang bisa didapatkan pengguna internet global.

 

Pesaing yang sudah selangkah lebih maju adalah Amazon melalui Project Kuiper. Melalui anak perusahaannya Kuiper System, akan menerapkan konstelasi internet satelit broadband besar untuk menyediakan konektivitas internet di muka bumi.

 

Di dalam tim pada Project Kuiper pun tak main-main, ada nama Rajeev Badyal selaku mantan presiden direksi Starlink yang kaya pengalaman akan konstelasi satelit internet. Serta juga beragam tim insinyur dan ilmuwan bidang antariksa dalam Project Kuiper.

 

Urusan pendanaan pun bukan masalah, Amazon selaku perusahaan besar sudah pasti jor-joran mengenai masalah ini. Project Kuiper sendiri diinvestasikan dana pengembangan konstelasi satelit hingga US$ 10 miliar untuk tahapan awal. Jumlah ini akan terus bertambah andai misi ini membuahkan hasil.  

 

Total ada sebanyak 3.236 satelit yang direncanakan untuk konstelasi penuh untuk menyediakan internet broadband. Mencakup satelit berkinerja tinggi, gateway terestrial, teknologi penerima internet, dan berbagai terminal pelanggan. Beroperasi di 98 pesawat orbital dalam tiga area orbit bumi, masing-masing pada ketinggian masing-masing orbit yaitu: 590, 610, dan 630 km.

 

Nantinya akan menyediakan akses internet broadband di seluruh dunia yang terbatas internet. Project Kuiper akan memberikan layanan broadband berkecepatan tinggi dan latensi rendah ke tempat-tempat di luar jangkauan serat tradisional atau jaringan nirkabel.

 

Selain memberikan layanan ground station langsung kepada pelanggan, Project Kuiper juga akan memberikan solusi backhaul bagi operator nirkabel yang memperluas layanan LTE dan 5G ke wilayah baru yang tak terjangkau oleh internet serat optik.

 

Sedangkan OneWeb bekerja sama dengan INTELSAT dalam pengadaan konstelasi satelit internet. Sedangkan terkait dengan proses pengiriman satelit ke orbit, mereka bekerja sama dengan Airbus yang kini sedang getol mengembangkan wahana luar angkasa.

 

Terakhir adalah Telesat LEO yang punya beragam inovasi, mulai dari low latency, berbiaya murah, menjangkau semua wilayah di dunia, berpengalaman di dunia satelit hingga ramah lingkungan. Ini membuat Telesat LEO jadi salah satu pesaing berat Starlink di masa depan.

 

Itu sejumlah pesaing yang datang dari Starlink, mereka menawarkan beragam fitur, teknologi hingga perang harga terkait dengan satelit internet. Semuanya dikembalikan pada pelanggan selaku pihak yang merasakan faedah dari satelit internet. 

Terkait dengan masalah lingkungan dan mengganggu proses pengamatan bintang bagi para astronom. Ini kita kembalikan ke mereka dan regulator. Kita konsumen tidak punya kemampuan di ranah tersebut. Sisi positif dari sebuah teknologi memang rawan penolakan, namun saat sudah berhasil diaplikasikan. Nyata banyak memberikan manfaat buat banyak orang di masa depan.

 

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi Anda terkait dengan dunia antariksa dan perkembangan teknologi dunia. Akhir kata, Have a Nice Days...

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer