Senin, 17 Juli 2017

Pentingnya Menjaga Keamanan Privasi

Hampir setiap harinya kita berselancar di dunia maya, mulai dari membuka aplikasi Instant Messaging, mengecheck email pemberitahuan, situs berbagi video hingga mencari informasi di berbagai kanal kanal berita. Akses internet yang begitu mudah membuat hampir sebahagian besar generasi millenial menghabiskan waktunya menatap gadget masing-masing.

Jelas asyik...., hanya dari duduk menatap gadget saja, dalam sekejap serta satu waktu bisa mendapatkan segala informasi, membayar transaksi online, hingga stalking akun gebetan. Kalau ditarik beberapa dekade awal 2000-an atau akhir 90-an, semua masih terasa sulit dan butuh usaha keras.

Mau mencari informasi harus beli koran atau pergi ke pustaka letaknya jauh. Mau belanja  harus ke pasar sambil rebutan barang yang di mau dan mau tahu informasi tentang gebetan harus tanya sama temannya langsung.

Misalnya, untuk bisa mengetahui alamat orang disukai atau mendapatkan saja foto butuh usaha yang sangat keras. Harus tahu temannya siapa, tukaran diary hingga aksi gila mencuri foto gebetan di ruang tata usaha.

Zaman sekarang begitu gampang, cukup dengan mencari tahu nama dan dalam sekejap bisa bisa tahu sang gebetan  dan di sosial media mana ia eksis. Tinggal follow dan dalam sekejap bisa tahu semua tentang si dia dan bahkan aktivitas sehari-harinya.

Secara tak langsung batas privasi sudah tergerus, bila dahulu kita sangat takut dengan orang asing yang tidak dikenal. Kini berlomba untuk terkenal termasuk mengumbar masalah privasi kepada siapa pun.

Tidak semua orang yang jadi follower tahu tentang diri anda, bisa saja hater atau langsung menghukum anda. Misalnya foto atau perkataan anda yang kurang etis, karena dia tidak mengenal anda sepenuhnya. Salah satu cara dengan mengirim skrinshot ke orang lain dan akibatnya anda bisa saja malu hingga dibully hingga bermasalah dengan hukum.

Pihak yang paling sering dirugikan biasa kaum wanita, kasus yang paling sering menimpa adalah penyalahgunaan foto dan video di sosial media. Walaupun pria tidak menutup kemungkinan, khususnya pria yang kurang PD dengan penampilannya sehingga memakai foto orang lain yang terlihat tampan terutama menggaet para wanita lugu di dunia maya.

Untuk kasus kaum wanita sering dijadikan sebagai bahan konsumsi khususnya para lelaki. Tak hanya itu saja, pelaku sering kali memanfaatkan foto hasil curian dari skrinshot, save picture dan sebagainya. Bisanya digunakan untuk menggaet para korban, mereka yang tertipu nantinya akan diperas habis-habisan.

Internet membuat batas privasi yang makin sempit
Secara tak langsung internet mulai memasuki semua sendi kehidupan secara menyeluruh. Semua fokus menunduk pada gadgetnya masing-masing, panik saat baterainya lowbat dan pusing saat kouta paket habis. Itu makin parah dengan batas privasi mulai tergerus perlahan-lahan, malah  ada yang sengaja menyebarkan hal privasinya di dunia maya atau dari pihak ketiga.

Ada hal yang mengganjal yaitu saat ini yaitu masalah privasi bagi saya pribadi ini adalah masalah serius. Tak hanya itu saja, malahan dari kita sendiri yang membuka aibnya di sosial media atau grup chatting dengan bangganya. Bisa sebagai bahan tertawaan bersama atau untuk mencari simpatik hingga like yang banyak. Miris bukan!

Walaupun banyak instant messaging yang menggunakan fitur end to end encryption, tetap saja bisa disadap oleh orang tak bertanggung jawab untuk kepentingan umum. Apalagi pemerintah saat ini mulai memata-matai gerak-gerik orang yang mencurigai seperti terorisme hingga kasus makar di sosial media serta instant messaging caranya dengan melakukan aksi penyadapan. Kerja sama ini dinilai dapat membatasi nilai privasi pengguna akan privasi yang diawasi.

Privasi yang diumbar oleh penyedia layanan atau mengumpulkan data, saat ini banyak dari penyedia yang harus bekerja sama dengan pemerintah. Salah satu alasan kuat ialah masalah spionase dan terorisme. Padahal menurut penulis pribadi, masalah yang paling serius yaitu saat tidak ada sosial media yang dapat dipercaya secara penuh menjaga privasi penggunanya. 
Baca juga: Hati-Hati di Internet, Semua Bisa Terlacak

Pasti ingatan kita masih segar dengan kasus Wikileaks dan yang terbaru ialah Panama Paper. Bocornya sekian banyak data pemerintah dan para pesohor dunia dan disebarluaskan di dunia maya. Itu jelas privasi dan masalah keamanan data jadi hal serius.

Dahulu bagi sebahagian kita kenal dengan istilah “sahabat pena”. Paling surat yang dikirim hanya tukang pos tahu isi (bila dia iseng). Kini semua data pribadi bisa bocor dan tersebar bebas di internet. Siapa saja bisa mengaksesnya kapan saja dan di mana saja.

Ayo sedikit kita putar satu dekade ke belakang, saat pertama sekali ponsel layar sentuh hadir dan menjamah pengguna gadget. Saat itu mungkin tidak ada yang berpikir dengan ponsel yang notabennya hanya untuk menelepon dan SMS-an semata,

Sekarang dengan mudah bisa transfer duit hanya dari sekali pencet atau dari pesan tiket pesawat tak harus antre di loket pembayaran. Artinya teknologi memberi kemudahan dan juga permasalahan manusia saat ini yaitu ruang privasi yang begitu sempit.

Internet kini telah jadi kebutuhan banyak orang di Indonesia, itu didukung dengan besarnya akses internet di tanah air. Untuk di kawasan Asia Pasifik, Indonesia ialah negara yang paling doyan mengakses internet. Setidaknya masyarakat menghabiskan waktu sebanyak 181 hanya dari mengakses telepon seluler dalam sehari dan belum termasuk perangkat teknologi lainnya.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain yang ada di kawasan Asia Pasifik yang hanya rata-rata hanya menghabiskan 150 menit mengakses internet. Waktu sebanyak itu lebih banyak dihabiskan untuk mengakses jejaring sosial dan juga berita.

Tak hanya itu saja, berdasarkan riset yang dilakukan oleh We Are Social dan Hootsuite di tahun 2017. Pengguna internet di tanah air mengalami pertumbuhan pesat di angka 51% dalam kurun waktu hanya setahun. Jelas itu sebuah angka terbesar dibandingkan negara lain yang hanya berada di angka 10 %. Negara yang mendekati Indonesia hanya Filipina dan Meksiko yaitu di angka 27%.
Perangkat yang paling sering digunakan ialah perangkat mobile yaitu di angka 69% atau nomor 4 di dunia. Hanya kalah dengan Nigeria, India, dan Afrika Selatan yang masing-masing berada di angka 81%, 79%, dan 78%.
Yang paling banyak diakses ialah sosial media, angka tersebut mencapai 82,05%. Kalah jauh dengan mencari informasi dan berita di angka 73,5%. Selain itu internet juga digunakan sebagai saran liburan yaitu di angka 45,1% dan terakhir untuk mencari referensi hanya 35%.

Besarnya angka yang mengakses sosial media jelas menunjukkan masyarakat kita suka berbagi. Mulai dari chat, foto, dan video kepada sesama pada sejumlah sosial media. Akibatnya dengan mudah ditemukan kebiasaan pamer hingga mengangkat masalah privasi ke umum.

Coba ditilik kembali saat mengunduh dan menginstall aplikasi mumpuni di gadget anda. Maka secara tak langsung program aplikasi tersebut meminta izin anda untuk menyetujui persyaratan beberapa hal privasi, misanya data kontak, foto, lokasi, dan lain sebagainya.

Salah satu aplikasi yang paling getol membutuhkan dan mengetahui lokasi anda yaitu transportasi online. Mulai dari alamat rumah, lokasi bekerja hingga tempat anda bisa nongkrong. Padahal itu ruang privasi anda, namun di zaman millenial privasi lokasi jadi hal yang samar-samar dan semakin sempit lingkupnya.

Privasi yang mulai terbatas tersebut bisa digunakan sebagai data berharga bagi pemilik program, mulai dari lokasi anda, kegemaran anda misalnya dalam berbelanja hingga menjelajah ke berbagai video. Semua akan berkaitan sesuai minat anda.

Lalu anda pasti sering menerima SMS tidak jelas siapa pengirimnya. Walaupun peran SMS mulai mengecil setelah adanya instant messaging, ternyata sering digunakan oknum menyebalkan dan tidak bertanggung jawab. Kontak anda mungkin hanya diketahui oleh karib kerabat namun ini banyak oknum yang mengirim SMS tanpa permisi.

Misalnya di pagi hari kalian pasti membuka inbox SMS menemukan nomor tidak jelas, mulai menawarkan barang dan jasa semisalnya jasa sedot tinja hingga promo bubuk Abate. Jelas itu seperti spam pada email, jelas sangat berbahaya andai kontak anda telah tersebar luas hingga jatuh ke orang yang salah. Pelakunya ialah oknum tertentu mendapatkan nomor anda karena privasi nomor telepon dengan mudah ditemukan.

Kembali lagi kita mundur jauh ke belakang, dahulu untuk bisa mendapatkan nomor telepon orang yang anda suka susahnya minta ampun. Pertama sekali kalian atau orang tersebut harus memiliki telepon rumah.

Lalu punya buku telepon, dengan mencari nama kepala keluarga di rumah target. Itu menelepon kadang butuh keberanian, apalagi yang mengangkat telepon adalah orang tuanya.  Siap-siaplah menutup telepon karena ketakutan dengan suara orang tuannya.

Sekarang cukup mudah, dengan mengetahui nomor telepon maka kita langsung tahu dia menggunakan instant messaging apa saja seperti Whatsapp, Line hingga Telegram. Ada juga dengan mengikuti sejumlah akun sosial media dan dalam sekejap langsung tahu dan bertegur sapa.

Tak hanya itu saja, sejumlah aplikasi mengedepankan berbagai ekosistem setiap pengguna. Mulai dari yang suka curhat panjang bisa di Facebook, suka berkicau bisa di platform Twitter, upload foto di Instagram, dan yang suka musik bisa upload di Soundcloud.

Semua tak ada salah, apalagi sosial media jadi salah satu alat mengapresiasikan diri saat di dunia nyata ruang itu terlalu sempit. Namun banyak ruang-ruang privasi yang mulai dibuka secara blak-blakan di sosial media.

Akibatnya program punya akses semua privasi yang anda miliki yang kapan saja bisa saja bocor oleh orang yang tidak bertanggung jawab menggunakannya. Walaupun kita tidak disadap namun ada beberapa ruang privasi kita yang digerus oleh sejumlah aplikasi.

Pasti kalian tak asing dengan status galau tidak jelas, check in asal nongkrong di mana hingga foto bibir duckface di sosial media. Seakan dirinya sendiri yang membuka privasi dan aib ke banyak orang lain. Bisa saja semua informasi itu dimanfaatkan orang lain mulai dari bahan bully hingga aksi penculikan selanjutnya ginjalnya diambil. Hayo!! 
Baca juga: Jangan jadi Pengguna Sosial Media yang Kebablasan

Bagi kalian yang suka pamer di internet khususnya yang suka upload foto atau video di internet harus hati-hati. Sangat sulit atau tidak mungkin menghapusnya secara total, apalagi foto dan video yang kalian upload mendadak bertentangan atau dimanfaatkan orang lain. Banyak server yang menyimpan dan menduplikatnya, sebaiknya pertimbangkan dulu masak-masak dan bijak dalam menggunakan internet.

Internet punya ruang yang sangat luas dari masyarakat dunia menyebutkan dengan cyberspace. Ruang yang begitu besar tersebut membuat siapa saja pengguna bisa masuk tanpa memiliki akun sekalipun. Apalagi mesin pencari menghubungkan sejumlah sosial media di daftar pencaharian yang diinginkan.

Semua bisa masuk ke ruangan itu dan akun tersebut tidak di privasi sehingga siapa saja bisa masuk, tahu lebih banyak hingga mengambil data. Akibatnya ada orang usil yang mengambil untuk kepentingan pribadi tanpa mencantumkan sumber. Misalnya membuat akun palsu untuk menipu orang lain.

Nah... sebaiknya hati-hati di internet, apalagi internet bisa digunakan oleh siapa saja. Mulai dari bocah yang baru bisa berjalan hingga kakek rentan yang mulai bau tanah. Sebaiknya bijak dan terpenting menjaga batas privasi pada zonanya. Apa yang layak dibagikan atau tidak. 
Hidup itu butuhnya bukti bukan apresiasi semu hingga mengorbankan privasi.

Saya pribadi memprediksi manusia di masa depan akan kembali menutup rapat segala keterbukaan seperti saat ini. Faktor yang jadi alasan yaitu rasa jenuh hanya untuk mendapatkan apresiasi manusia lainnya termasuk mengekspos privasi secara berlebihan.

Nah... bagaimana pengalaman pribadi kalian tentang masalah privasi, silakan cerita anda di kolom komentar. Semoga menginspirasi.
Share:

6 komentar:

  1. terima kasih informasinya, sangat bermanfaat....

    BalasHapus
  2. Mantap gan, thanks untuk ilmunya...
    Privasi itu sangat penting guys bagi saya...

    BalasHapus
  3. Itulah alasannya harus ada batas privasi khususnya di sosmed

    BalasHapus
  4. Privasi memang hal penting yang harus dijaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas... Apalagi banyak orang kini yang sengaja mengumbarnya sebagai gaya hidup

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis