Jumat, 14 September 2018

Jalan Panjang Si Raksasa Teknologi: Google


Tak ada yang menyangka dari sebuah garasi kecil di Kota Menlo Park, California jadi saksi kelahiran sebuah perusahaan teknologi paling berharga di kolong langit, namanya terdengar aneh saat itu namun begitu familiar kini. Google....

Mungkin masyarakat modern berpikir, bagaimana saat ini andai tidak ada Google. Ia seakan sudah memberikan segala macam akses teknologi buat memudahkan umat manusia. Mungkin saat kalian menguji internet yang ngadat, kata-kata yang terpikirkan pasti mengetik Google. Atau bahkan tidak tahu sesuatu, terucap kata: tanya saja sama Mbah Google.

Semua itu lahir dari ide dua orang lelaki paruh baya, Lary Page dan Sergey Brin yang menganggap ada proyek prestisius yang bisa mereka kembangkan khususnya dalam mesin pencari. Proyek itu berawal dari kolaborasi keduanya dalam pengembangan server mesin pencari milik kampus mereka, BackRub. Kedua mahasiswa pascasarjana Stanford University ini sangat antusias dengan proyek tersebut, walaupun masih skala kampus. Ia menganggap ini bisa diaplikasi secara global.

Di tahun 1997 mereka berdua sepakat mengganti nama BackRub yang sulit diucapkan menjadi Googol. Semua merujuk pada istilah matematika dalam pengucapan angka 1 yang diikuti 100 angka nol. Secara tak langsung angka nol menandakan bahwa informasi yang ada di Google kenal tidak ada batasnya seperti jumlah bilangan nol di belakangnya. Namun karena investor awal agak kesulitan dalam mengeja, Googol berubah menjadi Google di kemudian hari.

Ide awal tercetus karena menilai saat itu mereka sedang membahas topik potensi dalam tesis doktoral mereka. Page malah menyadari setiap komputer punya node dan setiap tautan punya halaman Web sebagai koneksi Node. Sebelumnya sudah adalah www (World Wide Web) yang menjadi sebuah grafik terbesar yang pernah dibuat dan jumlah terus meningkat. Page menyadari dan mempertimbangkan untuk membuat struktur tautan web yang mengarahkan ke laman web dalam hasil penelusuran.

Saat itu sudah ada 10 juta dokumen dari struktur web dengan begitu banyak tautan. Hanya saja belum ada tautan yang mampu mengumpulkan keseluruhan data dalam satu mesin pencarian baku. Memang sudah banyak mesin pencari saat itu, namun dinilai belum begitu optimal. Page menggandeng sobat dekatnya dengan Sergey Brin yang ia kenal di tahun 1995. Tujuan utama adalah memecahkan algoritma tersebut yang mungkin kita kenal dengan istilah PageRank.

Mungkin kita sudah akrab dengan sebuah artikel yang menarik dan populer akan berada di bagian atas sebuah PageRank. Sebuah itu berkat algoritma yang diterapkan dan membantu proses pencarian. Saat itu, sebuah situs yang paling pertama berada di atas dan bukan berdasarkan pencarian utama. Ini mendasari bahwa konsep yang ditawarkan Google sangat menarik dibandingkan dengan mesin pencarian saat itu.
Awal mula asam garam
Di masa pengembangan perusahaan perintis tersebut di musim semi 1998, tepatnya 4 September 1998. Karena dianggap meyakinkan dan punya prospek besar apalagi mereka baru saja menyiapkan studi pascasarjana. Terlintas di dalam pikiran untuk mengembangkan mesin pencari yang bersifat global dan mampu menggapai semua pengguna.
 Gambar terkait
Saat itulah, pilihan itu datang... Berawal dari garasi sempit milik teman mereka di Menlo Park, California. Susan Wojcicki yang di masa depan menjadi salah CEO Youtube dan mereka akuisisi. Tanggal 4 September 1998 begitu berarti dari sebuah g yang berada di sebuah kompleks perumahan. Page dan Brin memberanikan diri mendaftarkan perusahaan mereka berkat investasi pendanaan awal dari pendiri Sun Microsystems yaitu Andy Bechtolsheim sebesar $ 100.000.

Semenjak pendanaan awal tersebut, Google mengalami peningkatan pesat dan mampu menarik pengguna. Hingga akhirnya di tahun 2001, Page dan Brin mengajak mentor yang berpengalaman dalam membesut Google. Eric Schmidt orangnya, dengan segudang pengalamannya di bidang komputer serta pernah menjadi orang penting di Sun dan CEO di Nortel. Memang Google belum menjanjikan apa-apa, namun prospek besarnya membuat Schmidt kepincut luar bisa.
 Hasil gambar untuk larry page sergey brin
Saat itu Yahoo adalah raksasa terkalahkan di bidang mesin pencari. Belum lagi Yahoo Messenger yang menawarkan pengalaman sosial media. Google hanyalah mesin pencari kecil yang minim pengguna. Hanya ada kekuatan sakti buatan Page yang dikenal PageRank khususnya dalam proses pencarian di internet. Malahan lama kelamaan pencarian di Yahoo berhasil diinput dalam sistem Google dan membuatnya makin berkilau.

Sejak itu pula Eric Schmidt merekrut karyawan bernama Paul Buchheit yang bertugas menciptakan email. Tujuan utamanya adalah menjawab kebutuhan akan komunikasi dan penyimpanan internal perusahaan. Google tidak hanya hidup dari mesin pencari saja tetapi segala aspek koneksi pengguna, salah satunya dari email.

Sampailah pada 3 tahun kemudian, setelah pengujian berkali-kali Gmail diluncurkan tanggal 1 April 2004. Saat itu animo masyarakat sangat besar karena lebih bertenaga dibandingkan dengan YahooMail khususnya dalam tampilan dan kapasitas penyimpanan mencapai 1GB. Jelas angka itu sangat luar bisa dibandingkan saat itu hanya berkisar beberapa MB saja.

Di tengah geliat mengejutkannya, Yahoo mencoba mengakuisisi Google dengan harga $ 3 miliar di tahun 2002. Namun mereka menolak dan bahkan penawaran tersebut terlalu sedikit (estimasi saat itu harusnya $ 5 miliar). Seakan Yahoo menyerah dan membiarkan Google terus berkembang. Seakan waktu demi waktu Google yang membesar dan Yahoo mendadak mati hingga akhirnya harus dijual ke Verizon tahun 2017 seharga $ 2 miliar. Sungguh miris dan dunia berubah begitu cepat.

Google bisa maju berkat tampilan mesin pencari antarmuka yang ringkas dengan logonya. Kini setiap harinya ada perubahan sesuai dengan event atau hari besar. Hanya ada tombol Enter setelah memasukkan kata pencarian.
 Hasil gambar untuk google search
Walaupun begitu Google punya segudang data mencengangkan, ada 100 juta Gigabyte indeks pencarian, 20 juta km jalan yang sudah dipotret dengan lebih dari 40 triliun URL unik di web kini. Sangat jomplang dibandingkan 10 tahun lalu yang hanya ada 1 triliun URL unik di web, meningkat lebih 40 kali lipat.

Lalu di tahun 2008, Google mempekerjakan pengembang Mozilla Firefox dalam menciptakan perambatan Chrome yang bisa digunakan pada Windows dan iOS. Dalam sekejap popularitas Chrome meningkat mengalahkan Firefox, Internet Explorer, dan Safari. Malahan ada 60% pangsa web browser berhasil dikuasai oleh Google.

Googlepex dan markas kebesaran Google
Google pun beralih dari perusahaan startup rintisan level garasi sampai bisa memiliki kantor di daerah Palo Alto dan Silicon Valley bertaraf dunia. Semua berkat bertambahnya pendiri dan pekerja awal yang dulunya hanya melibatkan Page, Brin, Schmidt, dan Marissa Mayer.
 Gambar terkait
Di usia ke-5 ada lebih dari 1.000 pekerja yang harus diwadahi. Ditambah dengan kekuatan finansial Google membaik dengan banyaknya pendanaan jutaan dollar. Akhirnya di tahun 2003 mereka menyewa kompleks bangunan di 1600 Amphitheater Parkway yang dahulunya dimiliki oleh Silicon Graphics. Namanya kini kita kenal dengan Googleplex.

Akuisisi dan keberanian Google
Tak berhenti di situ, Google memang rutin melakukan akuisisi pada startup potensial dalam memperkuat pangsa produk mereka. Ada Youtube punya sobat mereka (Susan Wojcicki), Android, Motorola Mobility (divisi ponsel), Pyra Labs yang melahirkan Blogger, dan Keyhole Inc yang memberikan layanan Google Maps serta Google Earth di kemudian hari.
 Gambar terkait
Akuisisi paling berpengaruh alah Youtube, saat itu harga Youtube hanya $1,65 miliar dengan nilai yang terus meningkat. Mengalahkan penawaran sejumlah perusahaan seperti Microsoft, Viacom, dan Yahoo. Layanan video streaming tersebut saat ini menjadi layanan populer dan berpengaruh milik Google.

Walaupun begitu Google pernah tidak sukses dalam sebuah akuisisi produk. Mungkin Anda akrab dengan sejumlah produk gagal besutan mereka. Salah satunya adalah pabrikan ponsel bernama Motorola yang dibeli $12,4 miliar di tahun 2011.

Sejumlah produk yang diluncurkan Google seperti Moto X di kalangan High End hingga Moto G untuk kalangan low end tak sesuai ekspektasi. Motorola kalah dengan produk besutan Samsung yang menggunakan OS Android dan Iphone yang menggunakan IOS. Sampai pada akhirnya Motorola rela dilepas ke Lenovo di akhir tahun 2014. 

Produk buatan Google sendiri yang dianggap gagal adalah Google Plus (Google+). Produk ini merupakan pengembangan lanjutan setelah Google Buzz gagal. Kedigdayaan Facebook seakan membuat Google+ hidup segan mati tak mau. Walaupun begitu, Google tetap membiarkan Google+ hidup khususnya sebagai media sharing para pengguna.

Inovasi buat Google bertahan
Mungkin itulah yang membuat Google makin besar dan pesaingnya macam Yahoo mendadak mati. Google tidak pernah henti-hentinya dalam membuat beragam inovasi bagi pengguna. Saat ini saja Google punya sejumlah proyek yang lebih visioner misalnya pengembangan teknologi Virtual Reality. Konsep ini pernah diterapkan pada pada produk mereka Google Glass.

Tak berhenti di situ saja, ada proyek revolusioner seperti penyediaan internet di daerah-daerah terpencil bernama The Project Loon. Sistemnya dengan menerbangkan balon udara yang menyediakan wirelles gratis dengan tujuan peningkatan akses internet. Cara ini dinilai lebih efisien dibandingkan dengan menggunakan tiang pemancar yang membutuhkan biaya besar. Selain itu mampu meningkat akses internet di mana pun tanpa batas di muka bumi.
Gambar terkait
Proyek revolusioner yang sedang dikembangkan Google

Terakhir adalah pengembangan Self-Driving dan Drone yang menggunakan konsep Virtual Augusment Reality. Nantinya di masa depan akan banyak kendaraan publik serta pribadi  yang menggunakan konsep ini serta proses pengantar jasa menggunakan Drone.

Google kini sudah berubah dari hanya mesin pencari recehan di sebuah garasi kecil di Menlo Park, California menjadi raksasa teknologi dunia yang mampu merevolusi dunia. Sudahkah kalian buka Google hari ini?

Semoga postingan ini menginspirasi kita buat berinovasi dan mengubah wajah dunia salah satunya dengan teknologi.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Kumpulan Tulisan