Thursday, December 6, 2018

Mengurangi Buangan Plastik, Cara Milenial Merawat Alam

Sudah pasti anak muda ingin tetap eksis di manapun ia berada, tangan sulit rasanya lepas dari gawai. Aktivitas macam update status, baca berita sampai sharing segala informasi sekitarnya. Itulah gambaran anak kekinian, lebih akrab disebut generasi milenial, generasi yang begitu kuat akan pengaruh teknologi. 

Lokasi mereka nongkrong tidak bisa lepas dari cafe atau kedai kopi. Suguhan minuman yang menggugah selera dan membangkitkan ide. Anak milenial terkenal dengan kreativitas dan inovatif, segelas kopi yang masih panas di ujung gelas memecahkan masalahnya.

Di daerah saya, Aceh sangat terkenal dengan suguhan lagi di daerah saya Aceh. Ada banyak makanan yang mampu menggoyangkan lidah, rasanya kadang cukup pedas untuk orang awam yang tidak terbiasa dengan taburan rempah-rempah. Memulihkan rasa pedas itu, air dari botol mineral jadi salah satu pilihan.

Mirisnya, ada begitu banyak botol plastik yang ada di atas meja kedai dan cafe setelah pengunjung pulang. Kemudian masuk ke dalam kantong sampah yang menggunung di tempat pembuangan sampah. Belum lagi yang dibuang sembarangan, menyumbat selokan kala musim hujan tiba.

Pemandangan tumpukan botol sampah bahkan bisa ditemui di pesisir pantai. Masih rendahnya kesadaran masyarakat yang rela membuang sampah botol plastik berbagai ukuran di pesisir. Tugas membersihkan sampah hanya diperuntukkan bagi pemilik usaha di pantai, sedangkan masyarakat masih ada yang membuang sampah sembarang.

Mungkin saja ingatan kita masih sangat segar dengan penemuan bangkai matinya Paus di sebuah pantai di Wakatobi. Tubuhnya yang mulai melemah, tak ada pilihan lain kecuali mencari perairan dangkal sampai akhirnya harus merenggang nyawa.

Ada fakta yang mengejutkan dalam penemuan Paus terdampar tersebut. Ada begitu banyak sampah ditemukan di lambungnya. Ada sebanyak 4 botol ditemukan di dalam lambung, dengan berat mencapai 150 gram dari total 5,9 kilogram dari beragam sampah plastik yang ditemukan peneliti di dalam lambung Ikan Paus.

Menurut data lembaga pecinta alam, ada 5-14 juta ton sampah yang hanyut di dalam laut. Sebagian besar sulit diuraikan alam dan butuh waktu lebih dari 400 tahun mengurai secara sempurna. Sejak pertama sekali plastik ditemukan dan digunakan dalam industri, belum ada yang terurai sempurna di alam. Bisa dibayangkan berapa banyak botol plastik yang ada di alam, mencemari dan bahkan mengganggu habitat hewan di lingkungannya.
Apalagi Aceh terkenal sebagai daerah migrasi begitu banyak ikan Paus dan habitat hewan laut lainnya. Penemuan berbagai Ikan Paus di tahun 2017 kemarin membuktikan perairan kita menjadi jalur pilihan mamalia terbesar itu. Sampah plastik bisa menjadi ancamannya saat berada di dekat perairan.


Di beberapa negara maju, konsumsi jumlah botol minum plastik mulai dibatasi jumlahnya. Ukurannya hanya pada ukuran tertentu dengan ukuran lebih besar. Mungkin kita sering melihat jajanan minum berukuran gelas, di sejumlah negara sudah dibatasi atau bahkan dihilangkan. Bahkan sedotan juga sudah hilangkan, karena berisiko besar andai hanyut di laut dan ditelan oleh makhluk laut.

Pada sebuah channel Youtube SeaTurtleBiologist yang diunggah beberapa tahun lalu. Memperlihatkan para ilmu para ilmuwan sedang berupaya untuk mengeluarkan sebuah sedotan plastik yang menyumbat hidung si penyu malang tersebut. Sungguh tragis dan berbahaya bagi banyak hewan laut lainnya, awalnya mereka kira makanan nyatanya itu jebakan plastik yang mengancam hidup mereka.

Pembatasan buangan sampah yang tidak berhasil ditampung dapat dilakukan oleh masyarakat. Membatasi jumlah plastik atau menggantinya dengan bahan yang mudah terurai jadi solusi. Hanya saja, masih belum ada bahan sintesis yang mudah larut di alam. Pilihannya hanya satu, membatasi jumlah konsumsi plastik. Selaku generasi milenial, ada beragam cara yang bisa diterapkan dalam membatasi sampah botol dan mengolah sampai menjadi barang berharga.

Jadi milenial yang paham dan peduli lingkungan
Anak muda punya peran besar dalam mengampanyekan peduli lingkungan. Mereka punya hal yang kreatif dan inovatif, dari gawai yang mereka pakai bisa lahir berbagai postingan untuk peduli lingkungan.

Kampanye dari sosial media jadi opsi yang anak milenial lakukan. Mulai dari postingan, tagar (#) peduli lingkungan, hingga menulis blog di dunia maya. Ini dijamin buat masyarakat sadar untuk menjaga lingkungan jadi lebih baik.
 Image result for green campaign
Penetrasi internet yang sudah hampir dinikmati berbagai kalangan cukup membantu menjaga alam. Ada begitu banyak isu tentang alam yang berhasil viral dan mendapatkan atensi besar dari masyarakat. Itu semua berkat tangan-tangan anak milenial yang tidak pernah diam mengampanyekan peran menjaga lingkungan.

Gaya hidup ramah lingkungan dengan Tumbler
Apa yang terbayang saat mendengarkan tumbler?
Botol minum plastik yang bisa digunakan berkali-kali, air yang diisi bisa bermacam-macam jenis air dan bahkan bisa menekan biaya pengeluaran. Ini masuk akal karena setiap harinya manusia butuh 8 gelas air yang setara dengan 2 liter air, jumlah ini bisa bertambah lagi buat yang punya aktivitas ekstra.
 
Toh... dengan membeli air botol mineral rata-rata 2 botol sehari dengan asumsi harga (Rp5.000). Itu artinya sebulan kita bisa menekan biaya sampai 150 ribu. Biaya itu bisa digunakan untuk keperluan lainnya dan bahkan mengurangi jumlah sampah botol. Andai saja ada begitu banyak anak muda yang beralih ke tumbler, itu bisa mengurangi jumlah sampah botol plastik.
Anak muda pakai tumbler itu cupu atau kekinian?
Jelas saja anak muda yang pakai tumbler itu kekinian dan sadar lingkungan. Hanya anggapan keliru yang mengatakan seperti itu. Ada banyak alasan yang bisa saya kemukakan. Misalnya saja penggunaan berulang kali yang tidak bisa digunakan pada botol mineral, penggunaan berulang kali atau pada suhu tinggi akan mengubah botol plastik termasuk membahayakan tubuh.

Itu tidak terjadi pada tumbler yang bisa digunakan berapa kali tanpa henti, pengguna hanya cukup membersihkannya. Kemudian tidak ada perubahan warna serta tumbler didesain tidak gampang peyot dan tahan pecah. Sedangkan secara ekonomi bisa menekan biaya dan kesehatan. Saat makan di warung, kualitas airnya bisa saja tidak baik. Adanya tumbler seakan bisa mengurangi efek seperti sakit perut karena air yang kita bawa dari rumah lebih higienis.

Menjelajah alam dan menjaga alam khas milenial
Beberapa bulan lalu saya punya pengalaman unik, menjelajah alam Leuser yang luas. Hamparan perbukitan, tebing curam, dan desir air dari bebatuan begitu syahdu. Saya mendapatkan kesempatan langka ini, menjelajah lokasi Taman Nasional Gunung Leuser yang jauh dari tangan manusia.

Salah satu desa destinasi ialah Agusen, desa di kaki Gunung Leuser yang begitu menakjubkan. Pemandangan yang menawarkan berbagai pengalaman. Mulai dari tebing curam menjulang, anak Sungai Alas yang begitu jernih hingga rapatnya hutan hujan tropis. 

Sebelum melakukan proses hiking dan camping, kami pun dibagikan tumbler kosong. Tidak diperkenankan untuk membawa botol plastik. Ada begitu besar pasokan air melimpah di alam, tak perlu takut dehidrasi karena dengan tumbler yang diberikan panitia. Peserta bisa mengambil air yang mengalir deras dari bebatuan cadas.

Ada hikmah yang bisa saya petik saat itu, tujuan utama panitia melakukan hal demikian adalah untuk kesadaran lingkungan. Penggunaan botol plastik berisiko besar dibuang oleh peserta yang ikut serta, sedangkan tumbler dengan secara bentuk dan nilai lebih berharga akan kecil kemungkinan dibuang peserta.

Selain itu, Desa Agusen sedang dalam proses mengampanyekan diri sebagai desa ekowisata. Salah satu spot yang ditawarkan adalah pemandian di Anak Sungai Alas. Kampanye lingkungan dengan melibatkan peserta akan mampu mempromosikan, sekaligus menjaga lokasi wisata bebas sampah. 
Lokasi yang masih bebas sampah botol
Kami juga punya berperan serta membersihkan sampah yang ditemui di sepanjang. Sering sekali sebuah lokasi wisata yang sudah populer akan rusak karena sedikitnya kesadaran dari pengunjung. Untuk itu dilakukan sosialisasi dengan terbatasnya minuman botol di sana dan diperbanyaknya tong sampah. Agar tetap menjaga alam Leuser dan Desa Agusen tetap asri bebas sampah.

Ide mengurangi botol plastik dengan tumbler jadi ide yang menarik. Mengubah stigma tumbler yang hanya digunakan oleh anak perempuan dan ibu rumah tangga. Tetapi semua kalangan, termasuk anak milenial. Bersama punya peran penting dalam menjaga alam dari sampah botol ke arah tumbler.

Botol plastik menjadi bahan kreatif
Bagaimana dengan jumlah botol plastik yang banyak mencemari lingkungan sekitar Anda?
Nah... banyak dari botol plastik tadi yang tidak dipakai. Kebanyakan dari botol plastik tadi dibawa ke tempat pembuangan akhir dan diolah menjadi barang barang. Nyatanya ada sejumlah cara kreatif yang bisa dicoba.

Salah satu pilihan adalah dengan mengubahnya menjadi seni ecobrick. teknik yang bisa menjadikan barang sampah yang ada di lingkungan seperti botol plastik jadi barang berharga. Cara membuatnya cukup mudah, hanya dengan memasukkan tumpukan plastik seperti plastik, bungkusan permen ke dalam plastik hingga padat dengan menggunakan tongkat.
Meskipun butuh usaha ekstra memasukkan tumpukan plastik ke dalam botol setelah mengutipnya berbagai lokasi yang jadi lokasi sampah botol plastik. Hasilnya terbalaskan dari kerajinan tangan yang dihasilkan. Dengan begitu kita sudah mengurangi zat buang sampah menghasilkan begitu banyak karbondioksida yang tertahan di atmosfer bumi. Zat karbondioksida yang biasanya dihasilkan dari beragam sampah plastik ke udara. Kini berhasil tertahan di  dalam rongga botol.  

Hasilnya ada beragam karya seni yang lahir, misalnya saja kesenian seperti bahan baku untuk furnitur, barang dekorasi hingga bahan baku membuat rumah. Anak milenial yang kreatif pastinya melihat ini sebagai ladang uang. Barang yang tidak terpakai dan bahkan tidak bernilai harganya dari sampah botol. Di sulap menjadi barang seni dengan nilai seni, kini giliran mereka memasarkan produk tersebut dari gawainya.

Mencintai alam, mempromosikan gaya hidup hijau, dan mengubah barang tak berguna jadi barang berharga dengan teknik Ecobrick. Segudang cara itu adalah satu dari sekian banyak cara anak muda pilih dalam menyayangi alam. Kini yang muda yang berkarya sembari menjaga alam sesuai anak milenial.

Semoga postingan ini menginspirasi kita semua dan Have a Nice Day.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer