Saturday, December 15, 2018

Geliat Ekonomi Digital Indonesia yang Siap Mengguncang Dunia #Ecodigi


Demam Harbolnas masih terasa... Ada beragam barang yang dijual di sejumlah marketplace dan harganya kadang di luar akal sehat. Para pelanggan rela begadang dan sulit memalingkan matanya dari gawainya. Ada sejumlah kejutan di Harbolnas yang datang saat melihat promo besar-besaran tersebut.

Perang harga dan diskon besar-besar jadi hal yang menarik minat siapa saja, seakan sudah menjadi gaya hidup kini. Dulunya aktivitas berbelanja harus dilakukan di mall atau pasar malam, memburu barang yang diinginkan dalam kerumunan banyak orang. Siapa yang kuat saat midnight sale, ialah pemenang terhadap barang tersebut.

Zaman pun perlahan berganti cepat, era digital mengubah pola masyarakat dalam proses berbelanja dan transaksi jadi lebih mudah. Tidak perlu harus menunggu saling bertaruh memenangkan barang yang ingin di beli. 

Pengguna cukup dengan memperhatikan discount sale yang ditawarkan dari marketplace penyedia. Harganya jelas lebih murah dan cepat. Selamat datang, kita sekarang sudah memasuki era ekonomi digital. Belanja online mungkin adalah salah satu dari sekian banyak peran ekonomi digital yang sedang dibangun para pelaku usaha, komunitas masyarakat, dan tentu saja pemerintah. 

Di era ekonomi digital, sebuah bangsa yang tertinggal di era Industri 4.0 bukanlah negara yang tidak memiliki akses listrik dan air melainkan negara yang tidak punya akses internet. Tiga puluh tahun yang lalu, jika tidak ada aliran listrik, maka negara tersebut tidak memiliki harapan. Sekarang acuannya bukan lagi aliran listrik, melainkan koneksi internet. Akses internet yang terbatas dan buruk sama artinya menghilangkan kesempatan anak-anak muda untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan di jagat maya. 

Ungkapan itu tidak main-main, seperti yang pernah diucapkan Jack Ma dalam Forum IMF-Word Bank Annual Meeings 2018 yang tempo hari diselenggarakan di Indonesia. Ini menguatkan bahwa sebuah negara harus memikirkan peran besar internet dalam awal mula membangun ekonomi di zaman saat ini.

Peluang besar itu datang, Indonesia dinilai punya potensi digital yang sangat besar di bidang ekonomi digital. Faktor jumlah pengguna internet, jumlah penduduk, penetrasi internet yang membaik, menjamurnya e-commerce lokal, dan dukungan pemerintah seakan peluang itu begitu cerah. 
Image result for digital economy indonesia
sumber:katadata
Apalagi di tahun 2020 Indonesia menargetkan diri sebagai raksasa ekonomi digital di regional Asia Tenggara. Semua persyaratan itu sudah hampir layak, tinggal saja peran itu coba dijalankan sebagai semestinya para pelakunya yang bergelut di ekonomi digital.

Melihat awal mula perkembangan ekonomi digital
Awal mula kemunculan internet diawali pertama sekali saat perkembangan Web di era 90-an. Menyajikan sesuatu yang baru dalam proses pengadaan barang yang bisa dilihat di internet. Transformasi cepat itu mengubah sejumlah situs Web tadi menjadi saja startup berbasis e-commerce. Hingga kini ada banyak e-commerce dunia dan lokal yang menopang transaksi internet setiap detik.

Kini bisnis digital seakan memasuki segala lini, bukan hanya alur perdagangan barang saja (e-commerce), termasuk di dalamnya dunia hiburan film dan musik, layanan kesehatan, pendidikan, hingga jasa finansial. Laju ini jadi fondasi dasar ekonomi digital berkembang makin di semua lini.

Memasuki era Industri 4.0 jelas ada banyak sekali yang bersinggungan dengan internet. Perannya sangat krusial dalam kemajuan ekonomi digital, ada banyak penerapan teknologi mutakhir seperti teknologi fiber dan sistem jaringan terintegrasi yang menghubungkan segala aktivitas ekonomi dan produksi. 

Seakan tak ada lagi batas ruang dan waktu, teknologi seakan mampu menghapus batas-batas penggerak aktivitas ekonomi secara fisik. Teknologi terapan seperti on Demand Service, e-Commerce, Internet of Things (IoT), dan Financial Technology (Fintech), Artificial Intelligence (AI), Advanced Robotics, Virtual and Augmented Reality, dan Additive Manufacturing akan akrab dengan ekonomi digital.
Seakan memudahkan proses pelaksana ekonomi digital yang ditawarkan. Mau tidak mau Industri 4.0 seakan mendorong kolaborasi antara kepentingan manusia, lingkungan, dan kesejahteraan bersama.

Untuk bisa membangun pilih fondasi ekonomi digital yang baik, ada banyak pilar yang penting dibangun. Sedikitnya ada empat pilar yang perlu diperhatikan seperti persiapan pembangunan infrastruktur teknologi, penerapan konsep e-business, e-commerce yang bersaing, dan melibatkan peran UMKM lokal. 

Mengapa Indonesia begitu menguntungkan dalam ekonomi digital?
Peluang besar Indonesia dalam membangun ekonomi digital begitu terbuka. Segala persiapan sudah dipersiapkan pemerintah, pelaku usaha, serta peran dari masyarakat yang sangat antusias. Apalagi menurut data yang diungkapkan oleh McKinsey & Company, ada beberapa peran penting kenapa ekonomi digital sangat menguntung dan semua itu sedang dikembangkan oleh Indonesia, yaitu:

Keuntungan Finansial
Menurut data Hootsuite, Jumlah penduduk Indonesia yang menyentuh 265 juta dengan 132,7 juta pengguna internet aktif. Jelas saja ini sebuah pasar yang sangat menjanjikan khususnya di Asia Tenggara. Itu diperkuat dengan nilai daya konsumtif masyarakat Indonesia yang besar dan membaiknya akses internet di daerah rural.
Related image
Ini bak lahan basah buat industri e-commerce, apalagi di tahun 2022 diprediksi akan ada nilai valuasi mencapai US$200 Miliar. Meningkat jauh dibandingkan dengan sekarang yang nilainya masih di angka US$2,5 miliar.

Peluang kerja baru
Berkembangnya pasar e-commerce seakan mendatangkan berbagai pekerjaan baru yang belum ada sebelumnya. Mungkin dahulunya untuk memulai usaha dibutuhkan modal yang besar, misalnya saja ingin berdagang diharuskan memiliki toko fisik, izin usaha, hingga biaya lain yang begitu besar.

Kini dengan adanya e-commerce, para pelaku usaha yang datang dari UMKM bisa merintis kariernya dengan mudah. Di tahun 2022 ada sebanyak 26 juta pekerja baru dengan preferensi bekerja secara online.

Mereka hanya cukup membuat akun untuk mempromosikan barang dagangnya. Biayanya gratis kecuali bagi yang ingin membayar lapak premium, meskipun begitu biaya relatif kecil dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan dengan berdagang secara offline.

Biaya lebih terjangkau
Mungkin kasus ini sering kita jumpai saat belanja offline, harganya bahkan lebih mahal dibandingkan dengan harga yang ditemui pada marketplace. Ada beberapa faktor membuat harganya mahal, seperti biaya ongkos, biaya sewa toko, biaya pekerja, dan biaya lainnya. 

Biaya itu bisa terpangkas, sehingga jadi lebih murah dan mampu menekan pengeluaran para konsumen. Tidak harus repot-repot berbelanja berkeliling mall atau pergi keluar kota hanya untuk berbelanja. Sensasi digital ekonomi mampu memangkas biaya dan waktu menjadi lebih efisien. Barang yang Anda inginkan sudah diterima di depan pintu rumah.

Pemerataan kasta sosial
Peran digital ekonomi bisa lebih besar tanpa membedakan gender, ras, dan agama. Itu masuk akal karena seorang pembeli tidak mempermasalahkan sebuah penjual, beda dengan membeli secara offline yang rentan dengan hal seperti itu.

Faktanya jumlah pengguna wanita di digital ekonomi menjadi meningkat menjadi 35% dari sebelumnya hanya 15% saja para ritel tradisional. Termasuk bisnis yang ada di kota kecil, barangnya mampu bersaing secara lebih jauh tidak hanya dicicipi oleh kota asalnya. Akan tetapi bisa di luar kota atau bahkan mancanegara.

Sistem pembayaran yang cashless
Saat ini angka pembayaran tunai masih begitu tinggi yaitu 76%, penyebabnya karena financial inclusion yang masih rendah. Kini dengan ada banyak Fintech yang sudah bersertifikasi di OJK mendorong para pengguna beralih ke sistem cashless. Nantinya pengguna tidak harus kesulitan dalam transaksi di e-commerce karena sudah ada layanan Fintech.

Penerapan ini didukung dengan sangat baik oleh para marketplace yang menerima jasa cashless. Peran ini seakan melengkapi konsep digital ekonomi yang lebih cepat dan memudahkan banyak pihak. Sehingga Indonesia tidak tertinggal dengan konsep yang sudah begitu umum di negara tetangga.

Peran Aktif Pemerintah Mendukung Ekonomi digital 
Indonesia merupakan salah satu negara yang tingkat penetrasi penggunaan internet oleh masyarakatnya memiliki angka yang tinggi. Total 265 juta jiwa jumlah penduduk Indonesia, ada 13 2,7 juta jiwa atau sekitar 54,3% penetrasi pengguna internet tahun 2017. Ada 71 juta pengguna menggunakan perangkat pintar dalam mengakses informasi dan sosial media.

Mayoritasnya datang dari rentan usia yang sangat muda yakni usia 13 tahun hingga 18 tahun yang hampir 75,5% pengguna internet di tanah air serta golongan usia 19-34 menyusul di bawahnya. Rentan usia ini tergolong generasi milenial dan umumnya akses internet yang mereka gunakan dari ponsel pintar.

Menurut daya yang dihimpun dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) di tahun 2017. Cakupan internet masih didominasi di daerah urban yang mencapai 72,41%, daerah rural urban sekitar 49,49% dan rural hanya 48,25%. Ada sebesar 57,7% penetrasi internet datang dari Pulau Jawa dan angka itu tergolong kecil dibandingkan daerah lainnya.

Bagi para masyarakat urban, salah satu peran internet adalah mengakses e-commerce bak sebuah gaya hidup wajib saat ini. Ditambah dengan biaya konsumtif tapi kelas menengah menjadikan e-commerce bak kacang goreng. 
Jelas angka itu terus meningkat di tahun ini, apalagi mulai rampungnya program pemerintah dalam percepatan pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Proyek ini dikenal dengan Palapa Ring yang menjangkau 34 Provinsi dan 440 kota/kabupaten, sekaligus bentuk pemerataan internet di seluruh negeri. 

Apalagi saat ini kecepatan akses internet Indonesia jauh tertinggal dengan negara tetangga. Menurut data yang dihimpun dari Hootsuite tahun 2018, kecepatan internet rata-rata di tanah air adalah sekitar 9,82 Mbps. Masih jauh dari kecepatan rata-rata internet di dunia yang berada di kisaran 22,16 Mbps.


Rancang Program Palapa Ring akan menghubungkan sistem telekomunikasi nasional yang menggunakan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) dan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO). Membentang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Ini makin membuktikan pemerataan ekonomi digital tanah air, akses internet yang mudah, cepat dan murah jadi alasan akan ada banyak transaksi digital yang menyeluruh. Tidak peduli daerah tersebut menguntungkan atau tidak, yang penting harus terpenuhi akses internet. 

Itu diperkuat dari data McKinsey & Company tahun 2016 yang mengatakan ada lebih dari US$ 150 Miliar atau setara dengan 10% GDP di tahun 2025. Ada banyak alasan yang mendasari penelitian tersebut yaitu karena pada awal 2020 Indonesia sudah memasuki dunia digitalisasi. Serta pada tahun tahun 2030 ada 60% penduduk yang berada di usia produktif saat itu, serta ada 27% generasi muda. 

Jumlah penduduk kelas menengah saat itu meningkat drastis jumlahnya menjadi 135 juta dengan pendapatan mencapai US$3.600 (setara 50 juta). Makin mempermudah proses digital ekonomi karena penduduk kelas menengah menjadi konsumen dominan pada pasar e-commerce tanah air.

Salah satu yang diterapkan adalah mewabahnya startup yang menopang segala lini kebutuhan masyarakat tanah air. Menjamurnya startup baru ini akan memotivasi anak muda untuk berperan lebih aktif dalam proses membangun sistem serupa sekaligus memecahkan masalah yang ada di dalam masyarakat.

Sektor yang menjadi perhatian lebih dalam pengembangan digital ekonomi di masa depan yang sesuatu dengan keinginan pemerintah:

Mendukung kemajuan informasi digital, dalam hal ini pemerintah menekankan pembangunan fasilitas teknologi yang menunjang berbagai perangkat teknologi bekerja. Dengan kata lain pembangunan jaringan informasi menjadi jembatan penghubung dari setiap aktivitas perekonomian dan perdagangan digital.

Mendukung para wirausaha, para pelaku yang ada di dalamnya harus diberikan berbagai pelatihan yang membantunya mengembangkan inovasi dan kreativitas. Ada begitu banyak wirausaha yang terjun di dunia internet namun tidak mengetahui mekanisme yang tepat. Adanya pelatihan semacam sistem marketing, pelayanan pelanggan, hingga jaminan lainnya yang pemerintah berikan. 

Sehingga masyarakat tidak perlu was-was lagi dalam berwirausaha di bidang digital. Sesuai dengan target pemerintah yang menargetkan ada 1.000 technopreneur baru di 2020. Mereka siap bersaing dengan pemain lama dan menghasilkan valuasi bisnis hingga US$ 10 miliar.

Dukungan pada e-commerce, menjamurnya e-commerce milik lokal membuktikan Indonesia sudah berbicara banyak di pasar e-commerce. Saat ini ada sejumlah startup tanah air yang pendanaan hingga US$ 1 Miliar dan sudah masuk dalam Unicorn. Nama-nama seperti Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak menghiasi pemberitaan dunia akan dahsyatnya e-commerce milik anak negeri. Menunggu ada banyak startup baru yang bermekaran mengisi lini digital lainnya yang siap menggebrak.

Sudah pasti itu diuntungkan dengan pertumbuhan bisnis online yang begitu pesat, masyarakat Indonesia akan mendapatkan manfaat positif dalam perekonomian seperti pertumbuhan kesejahteraan, pertumbuhan lapangan kerja baru dan lain-lain. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi target pasar bisnis internasional, tetapi sebaliknya dapat menjadi pengusaha e-commerce yang mumpuni hingga menjangkau pasar luar negeri.

Mendukung keterbukaan digital, salah satu cara yang dilakukan pemerintah adalah dengan membuka akses kepada setiap individu untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing terhadap ekonomi digital.

Keterbukaan digital itu dilakukan dengan berbagai cara yang ditempuh pemerintah. Mulai dari pendidikan, pelatihan hingga keterampilan lainnya. Ia seakan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk terjun di dunia ekonomi digital tanpa terkecuali.

Memberdayakan para UMKM, hampir 60% dari sektor ekonomi rata-rata Produk Domestik Bruto (PBD) di tanah air berasal dari UMKM, perannya sangat sentral dalam ekonomi tanah air. Ada sebanyak 58 juta UMKM saat ini dan bila ekonomi mereka bisa berlipat ganda, ini akan sangat baik buat ekonomi bangsa.
Salah satu cara yang dilakukan pemerintah ialah mendukung UMKM terjun di bisnis ekonomi digital. Untuk masalah produktivitas, UMKM sudah cukup andal di bidang tersebut. Kini tinggal bagaimana membuat mereka masuk dalam industri e-commerce. 

Bila dahulunya hanya mengandalkan aplikasi chatting seperti Whatsapp dan Facebook. Kini para pelaku UMKM beranjak ke konsep aplikasi pada e-commerce. Pastinya ini seakan menghilangkan kesenjangan sosial yang ada serta memberikan kesempatan UMKM mendapatkan tempat lebih di e-commerce, peran keduanya tidak bisa dipisahkan.

Terakhir adalah menyediakan teknologi yang memudahkan akses dengan biaya terjangkau. Seperti jasa pengiriman yang cepat, murah, dan menjangkau semua daerah di pelosok negeri. Sektor UMKM lokal sangat perlu dipersiapkan dengan nyata, mengingat nilai total transaksi e-commerce tahun ini diprediksi mencapai 139 triliun. Hanya saja 60% barang yang terjadi dalam transaksi adalah barang impor.

Jelas ini pukulan telak, ruang yang sangat besar ini bisa diperkecil gapnya dengan meningkatkan mutu dan jumlah barang lokal. Sehingga aktivitas e-commerce di dalam negeri mampu didominasi para pelaku UMKM lokal. Tujuannya untuk menjadikan UMKM lokal sebagai rata di negerinya sendiri.

UMKM berbasis e-commerce sebagai landasan ekonomi digital
UMKM mampu membuat geliat e-commerce tanah air tetap tumbuh subur di tanah air. Perkembangan UMKM jadi salah satu tulang punggung di tengah gejala resesi sedang terjadi. Alasannya karena ada banyak pelaku bisnis e-commere tanah air datang dari latar belakang UMKM. 
Ekonomi digital bukan hanya sebatas jual beli barang dan jasa melalui internet saja. Ada banyak industri lainnya yang tak kalah penting dan mengambil kue besar pada kemajuan ini. Misalnya saja pihak layanan jasa yang punya peran besar di dalamnya, penyedia layanan, hingga produsen ponsel yang tak pernah henti-hentinya menghadirkan ponsel baru.

Alasan itulah mengapa butuh koordinasi dan regulasi yang baik dalam merangkul semua pihak tersebut dalam membangun ekonomi digital yang stabil Melalui pemerintah sudah berkolaborasi, mulai dari Kementrian Koordinator Bidang Ekonomi, Kemenkominfo, Kementrian terkait, dan tentu saja pelaku usaha yang aktif di e-commerce. 

Hambatan terbesar pengembangan ekonomi digital tanah air
Pada penerapan di lapangan, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan sehingga proses peralihan pada ekonomi digital masih membingungkan sejumlah pihak. Ada beberapa analisis yang menghambat proses ini berjalan secara optimal dan sekaligus mencari jalan tengahnya.

Proses pendanaan, masalah klasik ini sering mendera para pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya. Meskipun begitu ada banyak program pemerintah yang mendorong para UMKM dalam mendapatkan bantuan. Pada sistem ekonomi digital, pemerintah lebih mengedepankan pendanaan dalam bentuk pelatihan dan bimbingan berkelanjutan. Cara ini dinilai cocok dalam menilai pelaku usaha berkembang.

Masalah sistem perpajakan, pada masalah pajak pemerintah tidak akan membedakan atau perlakukan khusus pajak terhadap transaksi perdagangan melalui e-commerce dengan transaksi barang/jasa lainnya. Regulasi ini ditujukan supaya tidak ada sikap diskriminatif dalam netralisasi pajak.

Pemerintah juga sedang menerapkan pengembangan e-commerce lokal karena dinilai ada banyak UMKM di dalamnya. Serta menekan e-commerce asing yang menghambat e-commerce milik negeri, ini dirasa cukup membantu karena ada lahan digital ekonomi yang sangat besar di sana.

E-commerce asing akan diberlakukan pajak yang lebih ketat dan besar sehingga mereka lebih banyak berinvestasi dan membagi ilmunya pada e-commerce lokal. Salah satu contoh yang dilakukan pada negara Uni Eropa yang menerapkan pajak tinggi pada perusahaan besar seperti Google dan Facebook. Sehingga akan memudahkan proses pemasukan yang didapatkan oleh negara. 

Belum lagi Tiongkok yang melarang e-commerce asing berkembang di negaranya, tujuannya adalah memajukan e-commerce milik lokal. Cara inilah yang sedang dilakukan pemerintah sekaligus mengatur sistem perpajakan.

Perlindungan konsumen, awal mulanya kelahiran e-commerce sangat sering merugikan konsumen. Ada banyak barang yang sampai tidak sesuai (berbeda) dengan yang dikirimkan. Banyak para konsumen merasa was-was saat itu dan merasa banyak penjual online yang tidak jujur. Ini mendorong sejumlah e-commerce berbenah dengan menahan uang yang diberikan konsumen pada pedagang sebelum sebelum barangnya sampai dan ia setujui. 
Image result for consumer protection e-commerce
Melalui pemerintah juga ketat melalui regulasi yang ada pada Pasal 28 ayat 1 UU ITE tentang kerugian yang dialami konsumen. Sehingga kini sejumlah barang akan menjelaskan deskripsi produk, foto produk, dan reaksi dari konsumen lainnya. Jadi kini belanja online bukan menjadi tempat menakutkan untuk berbelanja tapi surga belanja untuk siapa saja.

Keamanan siber, celah pada sistem e-commerce sering dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk mengacaukan sistem e-commerce, mencuri data dan kartu kredit pelanggan. Sudah pasti pihak layanan e-commerce punya orang andal dibalik layar yang bisa menangkal aksi tersebut.

Bisa saja dengan melakukan proses monitoring, sistem keamanan berlapis, memperkuat proses Front end dan menjaga keamanan hosting serta backup data rutin. Sejumlah cara cepat yang dilakukan pihak e-commerce bisa meminimalisir serangan yang dilakukan dari penjahat siber. Sebuah e-commerce yang baik pasti punya sistem keamanan dan penanganan masalah yang cepat.

Infrastruktur komunikasi yang tersedia, Masalah ini sudah coba diatasi oleh pemerintah melalui Program Palapa Ring dan diharapkan selesai pada pertengahan tahun 2020. Segala sudah dipersiapkan dengan sangat matang, mulai dari hardware dan software yang menunjang semua aktivitas digital.

Masyarakat di tanah air bisa merasakan dampak yang dihasilkan dari pembangunan jaringan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) dan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO). Membentang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Untuk area Indonesia Timur, total panjang nya mencapai 4.450 KM, terdiri atas 3.850 KM kabel bawah laut dan 600 KM berupa landing point yang ada pada 15 titik pada 21 kota/kabupaten.

Kemampuan dari jaringan yang dibangun ini akan mendongkrak koneksi internet dari 100GB menjadi 160GB. Mengusung konsep ring dan dua pair (empat core) yang memudahkan akses telekomunikasi lancar di seluruh nusantara tanpa terkecuali.

Edukasi terhadap masyarakat, penerapan ekonomi digital masih banyak dianggap biasa saja oleh masyarakat. Masih sedikitnya pemain yang paham dalam penerapan teknologi, seakan menjadi sebuah kendala. Saat ini dalam satu juta populasi jumlah penduduk Indonesia, hanya ada 278 teknisi terampil teknologi digital. Angka ini tertinggal jauh dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam yaitu masing-masing sebanyak 1.834 dan 1.094 pada populasi serupa. 

Meskipun tergolong besar dengan di kawasan Asia Tenggara, penduduk Indonesia umumnya hanya sebagai user aplikasi semata. Sangat sedikit terdorong melahirkan sejumlah startup baru, dengan jumlah penduduk 265 juta bisa lahir lebih banyak perusahaan perintis lainnya yang mampu menjawab masalah di sekitar.

Salah satu solusi yang diterapkan pemerintah adalah dengan memasukkan konsep pelajaran coding dalam sekolah kejuruan serta penerapan teknologi. Bertujuan mengasah dan mengembangkan aplikasi digital yang dihasilkan anak muda untuk penunjang ekonomi di masa depan. 

Pemerintah juga mendukung penuh setiap startup yang lahir karya anak negeri dan punya konsep yang unik bisa bersaing dalam pasar ekonomi digital. Sebelumnya ada sudah banyak startup yang lahir dari bidang e-commerce dan travel. 

Di tahun 2018 menurut data survei dari A.T Kearney ada banyak investasi dari lokal maupun global yang masuk ke perusahaan startup tanah air. Umumnya didominasi pada bidang Fintech dan industri kesehatan, peluang yang cerah menjadi alasan karena persaingannya masih relatif kecil.
Image result for hootsuite digital in indonesia
e-commerce yang berkembang di awal tahun ini
Tak hanya itu saja, diharapkan di tahun berikutnya ada banyak startup yang lain sebagai pemerataan ekonomi dan pendidikan. Jadi sesuatu yang unik bermunculan startup di bidang pendidikan, itu didukung dengan besarnya gelontoran APBN di bidang pendidikan mencapai 20%. Di jamin akan ada banyak peluang ekonomi digital yang mendukung semua lini pelaku di dalamnya. 

Membangun ekonomi digital berlandaskan literasi digital
Penetrasi internet yang mulai merata nantinya harus didukung dengan literasi digital untuk semua kalangan masyarakat. Selain itu menjadi lahan menjanjikan dalam pengembangan ekonomi digital, masyarakat harus melek dan memilih mana informasi yang baik.

Arus informasi yang begitu besar kadang menjadi sesuatu yang menakutkan, bisa saja masyarakat bisa salah menggunakan bukan pas hal yang semestinya. Nantinya masyarakat bisa terbebas dari informasi yang benar bersifat hoax, penipuan, kejahatan siber, dan sebagainya. Sehingga bisa memanfaatkan internet secara tepat sasaran lagi produktif.
Itulah sejumlah cara pemerintah terapkan dalam menyongsong ekonomi digital. Rasanya bukan hal yang tidak mungkin di tahun 2020 Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. 

Pemerintah, pelaku usaha, dan tentu saja masyarakat sudah mempersiapkannya. Membangun ekonomi digital yang seakan tidak memberi batas kepada siapa saja berbisnis, sekaligus mempromosikan Indonesia sebagai raksasa ekonomi yang mengglobal. Kita tak sabar menunggu gebrakan besar itu, semua pihak harus bekerja sama mewujudkannya.

Semoga saja postingan ini mencerahkan kita semua sekaligus menyongsong ekonomi digital yang baik untuk semua elemen masyarakat. Have a Nice Day.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Halo Penulis

My photo

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Kumpulan Tulisan